Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

6 Kekalahan Pertamina dibanding Petronas (Just FYI)

Expand Messages
  • Marcel Winokan
    6 Kekalahan Pertamina dibanding Petronas  http://www.merdeka.com/uang/dahlan-akui-kekalahan-pertamina-dibanding-petronas.html Persaingan antara Indonesia
    Message 1 of 1 , Mar 6, 2013
      6 Kekalahan Pertamina dibanding Petronas
      Persaingan antara Indonesia dengan Malaysia bukan hal baru. Persaingan ketat tidak hanya terjadi di ranah sepak bola, tapi juga di lini bisnis.
      Sebut saja persaingan di industri minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO). Indonesia dan Malaysia adalah dua negara penyuplai minyak sawit terbesar dunia. Belakangan, persaingan makin panas setelah pemerintah Malaysia membebaskan bea keluar CPO. Sementara Indonesia memutuskan tidak mengikuti kebijakan tersebut.
      Persaingan juga terjadi di lini bisnis minyak dan gas (migas). Di Indonesia, PT Pertamina (Persero) berjaya setelah perusahaan migas asal Malaysia, Petronas, memutuskan menutup 15 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang beroperasi di Indonesia.
      Terlepas dari itu, menarik melihat peta persaingan antara dua perusahaan tersebut. Direktur of Indonesia Center for Green Economy Darmawan Prasodjo melihat, kinerja Pertamina justru kalah jauh dibandingkan perusahaan asal Malaysia tersebut.
      "Pertamina tertinggal jauh jika harus dibandingkan dengan Petronas," tegas Darmawan kepada wartawan di Jakarta, Senin (4/3).
      Darmawan melihat kekalahan tersebut bukan salah Pertamina. Dia melihat, kesalahan ada di pemerintah yang selalu ketergantungan terhadap lifting minyak untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
      Dia mencatat, ada beberapa poin atau indikator kekalahan Pertamina dibandingkan Petronas. Berikut catatan tersebut:
      1. Fokus kinerja
      Darmawan melihat, kekalahan utama Pertamina dibandingkan Petronas adalah fokus kinerja. Akibatnya, Petronas memiliki pasar yang lebih besar dibandingkan Pertamina.
      "Pertamina hanya berorientasi pada profit, sedangkan Petronas memiliki orientasi pada pertumbuhan pasar," katanya.
      2. Profit
      Keuntungan yang diperoleh pemerintah dari pemberian profit Pertamina hanya 10 persen yang dikembalikan ke Pertamina untuk investasi.
      Sedangkan, Petronas diberikan 70 persen dari keuntungan yang diberikan ke negara untuk diinvestasikan kembali.
      "Pertamina kurang dari 10 persen profit diinvestasikan kembali ke Pertamina, sedangkan Petronas 70 persen dari profit diinvestasikan kembali ke Petronas," kata dia.
      3. Belanja modal
      Pertamina saat ini hanya memiliki belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar USD 10 miliar atau Rp 9,5 triliun sedangkan Petronas memiliki capex 9 kali lipat dari Pertamina yang mencapai USD 91 miliar.
      "Artinya Pertamina kekurangan capital yang kronis sedangkan Petronas memiliki capital yang cukup untuk mendukung pertumbuhan," tegas dia.
      4. Produksi minyak
      Dalam hal produktivitas, Pertamina juga kalah jauh dibandingkan Petronas. padahal, dari sisi potensi, di Indonesia lebih besar dibandingkan Malaysia.
      Pertamina memiliki 148 sumur. Dari jumlah tersebut, Pertamina hanya mampu memproduksi 200 barel per hari per sumur.
      Petronas punya sumur tidak lebih dari 10 sumur. Tapi produksinya lebih dari 100.000 barel per hari per sumur.
      5. Setoran ke negara
      Tingginya produksi minyak berpengaruh pada setoran ke negara. Pertamina hanya menyetor Rp 7,7 triliun setiap tahunnya. Kontribusinya hanya 1,6 persen dari APBN.
      Sedangkan Petronas mampu menyetor hingga Rp 190 triliun. Ini setara 40 persen APBN Malaysia.
      6. Manajemen
      Manajemen Pertamina dinilai tidak punya ruang untuk merespons dinamika dan peluang pasar. Sementara manajemen Petronas mampu merespons dinamika pasar dan peluang pasar.
      Baca juga:
      Kinerja Pertamina kalah jauh dibanding Petronas
      Dahlan: Karen tetap jadi Dirut Pertamina
      Pertamina bersiap olah sampah Bantargebang jadi listrik
      Gagal ekspansi minyak, Pertamina justru rambah sepak bola dunia
      Selain AC Milan, Pertamina juga bakal sponsori tim Liga Inggris
       
      Dahlan: Karen tetap jadi Dirut Pertamina
      Menteri BUMN Dahlan Iskan memutuskan untuk memperpanjang Galaila Karen Agustiawan sebagai Direktur Utama Pertamina. Masa jabatan Karen telah berakhir pada Maret ini.
      "Karen kita perpanjang. RUPS sudah diselenggarakan lima hari yang lalu. Sudah ada surat perpanjangannya," ujar Dahlan kepada wartawan, Selasa (5/3).
      Dahlan mengaku pada surat perpanjangan tersebut tidak ada batasnya. "Kemarin calonnya cuma bu Karen," ujar dia.
      Menurut Dahlan, alasan perpanjangan Karen menjadi Dirut Pertamina karena kinerja Karen cukup bagus. "Mungkin banyak yang tidak puas, tapi cukup bagus. Belum seperti Petronas tapi laba sudah cetak rekor," kata Dahlan.
      Selain itu, Karen juga dinilai mempunyai ambisi untuk mencapai produksi migas hingga 800.000 barel setara minyak per hari. "Ini biar tidak terguncang-guncang. Supaya ada stabilitas di manajemen," kata dia.
       [rin]
      Dahlan akui kekalahan Pertamina dibanding Petronas
      Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengakui, hingga saat ini PT Pertamina belum bisa menyaingi perusahaan minyak asal Malaysia, Petronas. Dahlan beralasan, kinerja Petronas lebih unggul karena mendapatkan fasilitas dan perhatian penuh dari negaranya. Kondisi ini berbeda dengan Pertamina.
      "Aturan negara kan mendukung Petronas, sementara pertamina hampir sama dengan perusahaan minyak yang lain," ucap Dahlan di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (5/3).
      Namun Dahlan tidak putus asa. kekalahan dalam hal produksi minyak akan dikejar. Mantan dirut PLN ini menargetkan produksi minyak Pertamina mencapai 800.000 barel per hari. Saat ini, Pertamina baru mampu memproduksi 500.000 barel per hari.
      "Caranya dengan brigade 300K, isinya anak muda semua dan mereka akan mendayagunakan sumur-sumur Pertamina agar lebih produktif. Biaya sudah ada dan cara sudah ditemukan. Mereka akan berusaha keras produksi minyak pertamina," jelas Dahlan.
      Dengan program ini, Dahlan sesumbar bisa mengurangi impor minyak Indonesia sebesar 300.000 barel per hari. "Ini bisa Mengurangi impor juga," tutupnya.
       [noe]
       +++++++++++++++++++++++++++
      Just FYI. Salam damai & kasih.
      May GBU all n family.
      MW.
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.