Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Interview Capres

Expand Messages
  • dkuntadi2002@yahoo.co.id
    Di awal acaranya, Mata Najwa, Metro TV, Rabu, 28 November 2012, host Najwa Shihab mengatakan, apakah bersedianya dan siapnya Rhoma Irama maju sebagai capres
    Message 1 of 10 , Dec 2, 2012
    • 0 Attachment
      Di awal acaranya, Mata Najwa, Metro TV, Rabu, 28 November 2012, host Najwa Shihab mengatakan, apakah bersedianya dan siapnya Rhoma Irama maju sebagai capres 2014 itu serius atau hanya suatu dagelan di akhir tahun?

      Dari mengikuti acara tersebut, menurut saya, ini termasuk dagelan di akhir tahun.
      Adegan layaknya dagelan terjadi ketika percakapan Najwa Shihab dengan Rhoma Irama itu memasuki topik kedua dan ketiga (terakhir), setelah di topik pertama berbicara soal latar belakang pencalonan dan kesediaannya dicalonkan sebagai capres 2014, yang sangat kental SARA-nya itu.
      Topik kedua itu adalah tentang isu-isu publik yang penting yang saat ini sedang ramai diperbincangkan dan menjadi kontroversi di masyarakat. Yakni soal subsidi BBM, APBN, dan pembubaran BP Migas.
      Sedangkan topik ketiga, tentang konsekuensi seseorang mau menjadi presiden, pejabat publik. Yakni,  harus siap dikritik, siap “ditelanjangi”, siap “dikupas,” bahkan sampai ke soal-soal pribadinya oleh publik.
      Najwa bertanya, apakah Rhoma mengikuti perkembangan isu-isu publik yang penting dan saat ini, yang  sedang ramai dibicarakan itu. Rhoma menjawab bahwa dia mengikutinya, tetapi tidak terlalu intens.
      Ketika Najwa bertanya kepada Rhoma Irama hal-hal yang sangat mendasar dan sederhana mengenai subsidi BBM, APBN, dan pembubaran BP Migas, Rhoma beberapa kali terlihat tergagap-gagap menjawabnya. Berkali-kali dia terlihat menjilat bibirnya. Tanda bahwa dia sedang sangat grogi, sampai mulutnya terasa kering. Kalau menjawab, tidak nyambung. Kelihatan sekali bahwa dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana dan umum dari Najwa Shihab tentang isu-isu publik yang penting itu, Rhoma tidak mampu menjawabnya dengan baik dan benar. Dia bahkan beberapakali berusaha mengeles, tetapi bukan nama najwa Shihab kalau tidak bisa mengejar terus, sehingga Rhoma pun beberapa kali terpojok oleh jawabannya sendiri. Rhoma Irama telah merasakan betapa panasnya  kursi panasnya Mata Najwa.
      Beberapakali Rhoma mengeles dari pertanyaan-pertanyaan Najwa,  dengan mengatakan, “Saya bukan ahli soal perminyakan,” “Untuk menjadi seorang presiden bukan berarti harus menjadi Superman yang mengerti semuanya,” “Ini ‘kan masih wacana sebagai capres. Belum capres. Nanti kalau sudah capres baru saya akan mendalaminya secara detail,” dan seterusnya.
      Najwa memotong gaya mengeles Rhoma itu dengan mengatakan, “Yang saya tanyakan itu hal-hal yang sederhana, yang umum-umum saja,” “Maka itu, saya tanyakan secara umum saja, global saja, tidak menanyakan sampai ke soal angka-angkanya, …”

      Tentang Subsidi BBM: Apakah anda setuju soal subsidi BBM, atau sebaiknya dikurangi secara bertahap?
      Rhoma: “Secara spesifik saya bukan ahli di bidang minyak …”
      Najwa: “Saya tidak bertanya secara spesifik, tetapi lebih pada apakah mendukung policy seperti itu? Dengan konsekuensi semakin memberatkan anggaran. Yang umum-umum saja, jawabnya.”
      Rhoma: “Juga, saya tidak dalam kapasitas untuk menjawab hal itu. Saya bukan ahli perminyakan. Bahwa seorang presiden bukan harus menjadi Superman untuk mengerti segala hal.”
      Najwa: “Maka itu, saya tidak meminta anda menjelaskan dengan angka-angka. Yang umum saja, yang global saja.”
      Rhoma pun menjawabnya soal orientasi kepada kemakmuran rakyat, segala hal bisa dilakukan.

      Tentang APBN: Sebagai seorang presiden anda harus mampu mengelola keuangan negara secara sehat. Menurut anda, bagaimana itu mengelola APBN secara sehat?
      Rhoma menjawabnya dengan menyebutkan Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 sebagai sumber pemikirannya, untuk diimplementasi selanjutnya dengan cara yang berbeda untuk setiap hal.
      Najwa: “Dalam konteks APBN, mengelola keuangan, apakah dalam porsi sekarang, 80 persen lebih banyak digunakan untuk belanja rutin: subsidi, gaji pegawai, biaya operasional. Sedangkan biaya modal hanya 10 persen Apakah itu ideal?”
      Dengan gugup Rhoma berkata, “Eee…ee… Saya belum bicara soal itu, ya …”
      Najwa: “Anda tidak melihat bahwa hal-hal ini penting diketahui, apabila kita benar-benar berniat membenahi negeri ini?”
      Rhoma mengeles, “Begini, begini, kita ‘kan baru dalam tahapan wacana capres. Belum sampai ke capres. Ada tahapan-tahapannya. Nanti pada tahapan itu baru kami mendalaminya secara detail dari pada persoalan-persoalan bangsa ini.”
      Najwa mengejarnya, “Tapi, tadi, bukan detail, dong, pertanyaan saya. Itu masih sesuatu yang sangat umum.”
      Rhoma kembali bicara soal UUD 1945. Semua itu berpatokan pada UUD 1945, katanya.

      Tentang Keputusan MK yang membubarkan BP Migas: Apakah itu keputusan yang tepat?
      Rhoma: “Mmmmm … saya belum bisa menilai itu secara kongkrit. Karena saya belum mendalami itu secara serius ….”
      Hati-hati bicara dengan Najwa Shihab, Karena setiap perkataan yang keluar dari mulutmu bisa dijadikan bumerang untuk “ menghantam” balik anda!
      Najwa: “Tetapi, memang anda akui bahwa anda belum detail dan masuk ke hal-hal yang umum seperti tadi, ya? … Dan merasa tidak penting untuk diketahui? (oleh karena itu belum mendalaminya secara serius)”
      Rhoma: “Maka itu, tadi saya katakan bahwa ini masih wacana … Masih wacana …”
      Najwa: “Masih wacana, tetapi anda mengatakan sudah siap untuk digadang-gadang. Berarti anda yakin akan bisa (menjadi presiden)?”
      Rhoma: “Saya rasa presiden itu punya think tank, punya kabinet, punya brain trust. Untuk bisa memecahkan berbagai masalah.”
      Najwa: “Tapi, harus dipastikan juga bahwa presiden tidak dikelabui anak buahnya.”
      Rhoma: “Yes, tentu saja.  Yang penting presiden itu punya misi, visi dan konsep yang jelas untuk mengelola negara ini dari berbagai aspek.
      Oh, jadi, rupanya menurut Bang Rhoma menjadi presiden itu tidak perlu pintar, tidak perlu tahu tentang hal-hal yang mendasar soal seperti subsidi BBM, APBN, dan sejenisnya, seperti yang diajukan oleh Najwa Shihab itu, ya? Yang penting ada para pembantunya, menterinya. Tapi, masa iya, pembantu-pembantunya itu jauh lebih pintar daripada presidennya sendiri? Kalau rapat-rapat kabient, misalnya,  bisa-bisa serba tidak nyambung pembicaraannya.
      Apakah iya, untuk mempunyai visi dan misi serta konsep yang jelas seorang presiden tidak harus mempunyai dasar pengetahuan dan wawasan yang cukup untuk itu?
      *
      Selesai “menguji” pengetahuan umum Rhoma Irama, Najwa beralih ke soal konsekuensi seseorang menjadi presiden. Antara lain siap “dikuliti”,  siap “ditelanjangi”, siap dibicarakan soal-soal pribadinya, bagaimana track record-nya diukur,  dan sebagainya.
      “Apakah anda siap untuk itu?” Tanya Najwa.
      “Siap,” jawab Rhoma, “Itu hal yang biasa. Hukum alam …”
      Najwa:  “Jadi, tidak apa-apa juga, kalau misalnya, saya bertanya hal-hal yang bersifat pribadi dari Abang, sekarang?”
      “Silakan!”
      “Abang berpoligami?”
      Airmuka Rhoma sejenak berubah, terdiam sesaat, kemudian dengan tersenyum sinis, dia menjawab, “Mmmm… Saya rasa ini bukan untuk konsumsi publik, dan anda mengerti itu.”
      Najwa: “Tadi, kan konteksnya sudah siap dikuliti hal-hal yang memang kaitannya kalau menjadi pejabat publik. Anda keberatan menjawab itu?”
      “Nggak juga, sih. Tapi publik kan tahu siapa saya?”
      “Berarti anda memang berpoligami …”
      “Kalau anda menanyakan itu, berarti anda nggak mengerti tentang saya!” Seru Rhoma sambil menunjuk-nunjuk Najwa.
      “Oke, sikap anda kemudian sudah bisa dipahami.”
      Mungkin karena merasakan hampir semua perntanyaannya dijawab oleh Rhoma Irama seperti jawaban murid SMP, atau bahkan SD, Najwa pun menanyakan, skill apa yang dimiliki oleh Rhoma Irama selain musik dan berkhotbah.
      Dibandingkan dengan pertanyaan tentang poligami, yang membuatnya tersinggung itu, seharusnya pertanyaan ini lebih patut membuat Rhoma tersinggung. Tetapi, ternyata tidak. Dengan mantap Rhoma menjawab bahwa dia ini sebetulnya dulu pernah kuliah di (Fakultas) Sosial Politik, — entah di perguruan tinggi mana, tidak disebutkan. Tetapi, dengan terus terang, dia bilang, “Saya dulu itu mahasiswa drop out.”
      Namun demikian, kata Rhoma, ketertarikannya dengan dunia politik itu sangat kuat. Terbukti dari kiprahnya di dunia ini mulai di tahun 1977 sampai dengan 1997. Sampai masuk Senayan (maksudnya ketika menjadi anggota DPR dari Golkar).
      *
      Lepas dari semua dialog antara Najwa dengan Rhoma itu, ada satu hal yang sebenarnya menjadi pertanyaan di dalam hati saya, kenapa kok kali ini Rhoma Irama tampil dengan berkacamata hitam? Kenapa di sepanjang acara Mata Najwa itu Rhoma Irama terus berkaca mata hitam? Apakah dia sedang sakit mata? Rasanya, kurang sopan kalau orang tampil di momen seperti ini, tampil di depan umum, disiarkan televisi, berbicara dengan orang, tidak melepaskan kacamata hitamnya.
      Kira-kira apa ya alasannya Rhoma berkacamata hitam itu?
      *
      Sampai di sini, kita kembali ke pertanyaan Najwa di awal acaranya itu: Apakah pencalonan dan kesediaan Rhoma Irama maju dalam pilpres 2014 itu serius, ataukah dagelan di akhir tahun?”
      Menurut anda?

      Powered by Telkomsel BlackBerry®
    • temunas@yahoo.com
      Seharusnya Rhoma ukur bayangan sepanjang badan TMN Powered by Telkomsel BlackBerry® ... From: dkuntadi2002@yahoo.co.id Sender: sdmmigas@yahoogroups.com Date:
      Message 2 of 10 , Dec 2, 2012
      • 0 Attachment
        Seharusnya Rhoma ukur bayangan sepanjang badan
        TMN
        Powered by Telkomsel BlackBerry®

        -----Original Message-----
        From: dkuntadi2002@...
        Sender: sdmmigas@yahoogroups.com
        Date: Sun, 2 Dec 2012 20:48:42
        To: sdmmigas@yahoogroups.com<sdmmigas@yahoogroups.com>
        Reply-To: sdmmigas@yahoogroups.com
        Subject: [sdmmigas] Interview Capres



        Di awal acaranya, Mata Najwa, Metro TV, Rabu, 28 November 2012, host Najwa Shihab mengatakan, apakah bersedianya dan siapnya Rhoma Irama maju sebagai capres 2014 itu serius atau hanya suatu dagelan di akhir tahun?

        Dari mengikuti acara tersebut, menurut saya, ini termasuk dagelan di akhir tahun.
        Adegan layaknya dagelan terjadi ketika percakapan Najwa Shihab dengan Rhoma Irama itu memasuki topik kedua dan ketiga (terakhir), setelah di topik pertama berbicara soal latar belakang pencalonan dan kesediaannya dicalonkan sebagai capres 2014, yang sangat kental SARA-nya itu.
        Topik kedua itu adalah tentang isu-isu publik yang penting yang saat ini sedang ramai diperbincangkan dan menjadi kontroversi di masyarakat. Yakni soal subsidi BBM, APBN, dan pembubaran BP Migas.
        Sedangkan topik ketiga, tentang konsekuensi seseorang mau menjadi presiden, pejabat publik. Yakni,  harus siap dikritik, siap “ditelanjangi”, siap “dikupas,” bahkan sampai ke soal-soal pribadinya oleh publik.
        Najwa bertanya, apakah Rhoma mengikuti perkembangan isu-isu publik yang penting dan saat ini, yang  sedang ramai dibicarakan itu. Rhoma menjawab bahwa dia mengikutinya, tetapi tidak terlalu intens.
        Ketika Najwa bertanya kepada Rhoma Irama hal-hal yang sangat mendasar dan sederhana mengenai subsidi BBM, APBN, dan pembubaran BP Migas, Rhoma beberapa kali terlihat tergagap-gagap menjawabnya. Berkali-kali dia terlihat menjilat bibirnya. Tanda bahwa dia sedang sangat grogi, sampai mulutnya terasa kering. Kalau menjawab, tidak nyambung. Kelihatan sekali bahwa dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana dan umum dari Najwa Shihab tentang isu-isu publik yang penting itu, Rhoma tidak mampu menjawabnya dengan baik dan benar. Dia bahkan beberapakali berusaha mengeles, tetapi bukan nama najwa Shihab kalau tidak bisa mengejar terus, sehingga Rhoma pun beberapa kali terpojok oleh jawabannya sendiri. Rhoma Irama telah merasakan betapa panasnya  kursi panasnya Mata Najwa.
        Beberapakali Rhoma mengeles dari pertanyaan-pertanyaan Najwa,  dengan mengatakan, “Saya bukan ahli soal perminyakan,” “Untuk menjadi seorang presiden bukan berarti harus menjadi Superman yang mengerti semuanya,” “Ini ‘kan masih wacana sebagai capres. Belum capres. Nanti kalau sudah capres baru saya akan mendalaminya secara detail,” dan seterusnya.
        Najwa memotong gaya mengeles Rhoma itu dengan mengatakan, “Yang saya tanyakan itu hal-hal yang sederhana, yang umum-umum saja,” “Maka itu, saya tanyakan secara umum saja, global saja, tidak menanyakan sampai ke soal angka-angkanya, …”

        Tentang Subsidi BBM: Apakah anda setuju soal subsidi BBM, atau sebaiknya dikurangi secara bertahap?
        Rhoma: “Secara spesifik saya bukan ahli di bidang minyak …”
        Najwa: “Saya tidak bertanya secara spesifik, tetapi lebih pada apakah mendukung policy seperti itu? Dengan konsekuensi semakin memberatkan anggaran. Yang umum-umum saja, jawabnya.”
        Rhoma: “Juga, saya tidak dalam kapasitas untuk menjawab hal itu. Saya bukan ahli perminyakan. Bahwa seorang presiden bukan harus menjadi Superman untuk mengerti segala hal.”
        Najwa: “Maka itu, saya tidak meminta anda menjelaskan dengan angka-angka. Yang umum saja, yang global saja.”
        Rhoma pun menjawabnya soal orientasi kepada kemakmuran rakyat, segala hal bisa dilakukan.

        Tentang APBN: Sebagai seorang presiden anda harus mampu mengelola keuangan negara secara sehat. Menurut anda, bagaimana itu mengelola APBN secara sehat?
        Rhoma menjawabnya dengan menyebutkan Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 sebagai sumber pemikirannya, untuk diimplementasi selanjutnya dengan cara yang berbeda untuk setiap hal.
        Najwa: “Dalam konteks APBN, mengelola keuangan, apakah dalam porsi sekarang, 80 persen lebih banyak digunakan untuk belanja rutin: subsidi, gaji pegawai, biaya operasional. Sedangkan biaya modal hanya 10 persen Apakah itu ideal?”
        Dengan gugup Rhoma berkata, “Eee…ee… Saya belum bicara soal itu, ya …”
        Najwa: “Anda tidak melihat bahwa hal-hal ini penting diketahui, apabila kita benar-benar berniat membenahi negeri ini?”
        Rhoma mengeles, “Begini, begini, kita ‘kan baru dalam tahapan wacana capres. Belum sampai ke capres. Ada tahapan-tahapannya. Nanti pada tahapan itu baru kami mendalaminya secara detail dari pada persoalan-persoalan bangsa ini.”
        Najwa mengejarnya, “Tapi, tadi, bukan detail, dong, pertanyaan saya. Itu masih sesuatu yang sangat umum.”
        Rhoma kembali bicara soal UUD 1945. Semua itu berpatokan pada UUD 1945, katanya.

        Tentang Keputusan MK yang membubarkan BP Migas: Apakah itu keputusan yang tepat?
        Rhoma: “Mmmmm … saya belum bisa menilai itu secara kongkrit. Karena saya belum mendalami itu secara serius ….”
        Hati-hati bicara dengan Najwa Shihab, Karena setiap perkataan yang keluar dari mulutmu bisa dijadikan bumerang untuk “ menghantam” balik anda!
        Najwa: “Tetapi, memang anda akui bahwa anda belum detail dan masuk ke hal-hal yang umum seperti tadi, ya? … Dan merasa tidak penting untuk diketahui? (oleh karena itu belum mendalaminya secara serius)”
        Rhoma: “Maka itu, tadi saya katakan bahwa ini masih wacana … Masih wacana …”
        Najwa: “Masih wacana, tetapi anda mengatakan sudah siap untuk digadang-gadang. Berarti anda yakin akan bisa (menjadi presiden)?”
        Rhoma: “Saya rasa presiden itu punya think tank, punya kabinet, punya brain trust. Untuk bisa memecahkan berbagai masalah.”
        Najwa: “Tapi, harus dipastikan juga bahwa presiden tidak dikelabui anak buahnya.”
        Rhoma: “Yes, tentu saja.  Yang penting presiden itu punya misi, visi dan konsep yang jelas untuk mengelola negara ini dari berbagai aspek.
        Oh, jadi, rupanya menurut Bang Rhoma menjadi presiden itu tidak perlu pintar, tidak perlu tahu tentang hal-hal yang mendasar soal seperti subsidi BBM, APBN, dan sejenisnya, seperti yang diajukan oleh Najwa Shihab itu, ya? Yang penting ada para pembantunya, menterinya. Tapi, masa iya, pembantu-pembantunya itu jauh lebih pintar daripada presidennya sendiri? Kalau rapat-rapat kabient, misalnya,  bisa-bisa serba tidak nyambung pembicaraannya.
        Apakah iya, untuk mempunyai visi dan misi serta konsep yang jelas seorang presiden tidak harus mempunyai dasar pengetahuan dan wawasan yang cukup untuk itu?
        *
        Selesai “menguji” pengetahuan umum Rhoma Irama, Najwa beralih ke soal konsekuensi seseorang menjadi presiden. Antara lain siap “dikuliti”,  siap “ditelanjangi”, siap dibicarakan soal-soal pribadinya, bagaimana track record-nya diukur,  dan sebagainya.
        “Apakah anda siap untuk itu?” Tanya Najwa.
        “Siap,” jawab Rhoma, “Itu hal yang biasa. Hukum alam …”
        Najwa:  “Jadi, tidak apa-apa juga, kalau misalnya, saya bertanya hal-hal yang bersifat pribadi dari Abang, sekarang?”
        “Silakan!”
        “Abang berpoligami?”
        Airmuka Rhoma sejenak berubah, terdiam sesaat, kemudian dengan tersenyum sinis, dia menjawab, “Mmmm… Saya rasa ini bukan untuk konsumsi publik, dan anda mengerti itu.”
        Najwa: “Tadi, kan konteksnya sudah siap dikuliti hal-hal yang memang kaitannya kalau menjadi pejabat publik. Anda keberatan menjawab itu?”
        “Nggak juga, sih. Tapi publik kan tahu siapa saya?”
        “Berarti anda memang berpoligami …”
        “Kalau anda menanyakan itu, berarti anda nggak mengerti tentang saya!” Seru Rhoma sambil menunjuk-nunjuk Najwa.
        “Oke, sikap anda kemudian sudah bisa dipahami.”
        Mungkin karena merasakan hampir semua perntanyaannya dijawab oleh Rhoma Irama seperti jawaban murid SMP, atau bahkan SD, Najwa pun menanyakan, skill apa yang dimiliki oleh Rhoma Irama selain musik dan berkhotbah.
        Dibandingkan dengan pertanyaan tentang poligami, yang membuatnya tersinggung itu, seharusnya pertanyaan ini lebih patut membuat Rhoma tersinggung. Tetapi, ternyata tidak. Dengan mantap Rhoma menjawab bahwa dia ini sebetulnya dulu pernah kuliah di (Fakultas) Sosial Politik, — entah di perguruan tinggi mana, tidak disebutkan. Tetapi, dengan terus terang, dia bilang, “Saya dulu itu mahasiswa drop out.”
        Namun demikian, kata Rhoma, ketertarikannya dengan dunia politik itu sangat kuat. Terbukti dari kiprahnya di dunia ini mulai di tahun 1977 sampai dengan 1997. Sampai masuk Senayan (maksudnya ketika menjadi anggota DPR dari Golkar).
        *
        Lepas dari semua dialog antara Najwa dengan Rhoma itu, ada satu hal yang sebenarnya menjadi pertanyaan di dalam hati saya, kenapa kok kali ini Rhoma Irama tampil dengan berkacamata hitam? Kenapa di sepanjang acara Mata Najwa itu Rhoma Irama terus berkaca mata hitam? Apakah dia sedang sakit mata? Rasanya, kurang sopan kalau orang tampil di momen seperti ini, tampil di depan umum, disiarkan televisi, berbicara dengan orang, tidak melepaskan kacamata hitamnya.
        Kira-kira apa ya alasannya Rhoma berkacamata hitam itu?
        *
        Sampai di sini, kita kembali ke pertanyaan Najwa di awal acaranya itu: Apakah pencalonan dan kesediaan Rhoma Irama maju dalam pilpres 2014 itu serius, ataukah dagelan di akhir tahun?”
        Menurut anda?

        Powered by Telkomsel BlackBerry®

        ------------------------------------

        Yahoo! Groups Links
      • bambang supriyanto
        Bangsa ini sakit jiwa cukup parah. Saya prihatin, BS. Powered by Telkomsel BlackBerry® ... From: temunas@yahoo.com Sender: sdmmigas@yahoogroups.com Date:
        Message 3 of 10 , Dec 2, 2012
        • 0 Attachment
          Bangsa ini 'sakit jiwa' cukup parah.

          Saya prihatin,
          BS.
          Powered by Telkomsel BlackBerry®

          -----Original Message-----
          From: temunas@...
          Sender: sdmmigas@yahoogroups.com
          Date: Sun, 2 Dec 2012 23:43:33
          To: sdmmigas@yahoogroups.com<sdmmigas@yahoogroups.com>
          Reply-To: sdmmigas@yahoogroups.com
          Subject: Re: [sdmmigas] Interview Capres

          Seharusnya Rhoma ukur bayangan sepanjang badan
          TMN
          Powered by Telkomsel BlackBerry®

          -----Original Message-----
          From: dkuntadi2002@...
          Sender: sdmmigas@yahoogroups.com
          Date: Sun, 2 Dec 2012 20:48:42
          To: sdmmigas@yahoogroups.com<sdmmigas@yahoogroups.com>
          Reply-To: sdmmigas@yahoogroups.com
          Subject: [sdmmigas] Interview Capres



          Di awal acaranya, Mata Najwa, Metro TV, Rabu, 28 November 2012, host Najwa Shihab mengatakan, apakah bersedianya dan siapnya Rhoma Irama maju sebagai capres 2014 itu serius atau hanya suatu dagelan di akhir tahun?

          Dari mengikuti acara tersebut, menurut saya, ini termasuk dagelan di akhir tahun.
          Adegan layaknya dagelan terjadi ketika percakapan Najwa Shihab dengan Rhoma Irama itu memasuki topik kedua dan ketiga (terakhir), setelah di topik pertama berbicara soal latar belakang pencalonan dan kesediaannya dicalonkan sebagai capres 2014, yang sangat kental SARA-nya itu.
          Topik kedua itu adalah tentang isu-isu publik yang penting yang saat ini sedang ramai diperbincangkan dan menjadi kontroversi di masyarakat. Yakni soal subsidi BBM, APBN, dan pembubaran BP Migas.
          Sedangkan topik ketiga, tentang konsekuensi seseorang mau menjadi presiden, pejabat publik. Yakni,  harus siap dikritik, siap “ditelanjangi”, siap “dikupas,” bahkan sampai ke soal-soal pribadinya oleh publik.
          Najwa bertanya, apakah Rhoma mengikuti perkembangan isu-isu publik yang penting dan saat ini, yang  sedang ramai dibicarakan itu. Rhoma menjawab bahwa dia mengikutinya, tetapi tidak terlalu intens.
          Ketika Najwa bertanya kepada Rhoma Irama hal-hal yang sangat mendasar dan sederhana mengenai subsidi BBM, APBN, dan pembubaran BP Migas, Rhoma beberapa kali terlihat tergagap-gagap menjawabnya. Berkali-kali dia terlihat menjilat bibirnya. Tanda bahwa dia sedang sangat grogi, sampai mulutnya terasa kering. Kalau menjawab, tidak nyambung. Kelihatan sekali bahwa dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana dan umum dari Najwa Shihab tentang isu-isu publik yang penting itu, Rhoma tidak mampu menjawabnya dengan baik dan benar. Dia bahkan beberapakali berusaha mengeles, tetapi bukan nama najwa Shihab kalau tidak bisa mengejar terus, sehingga Rhoma pun beberapa kali terpojok oleh jawabannya sendiri. Rhoma Irama telah merasakan betapa panasnya  kursi panasnya Mata Najwa.
          Beberapakali Rhoma mengeles dari pertanyaan-pertanyaan Najwa,  dengan mengatakan, “Saya bukan ahli soal perminyakan,” “Untuk menjadi seorang presiden bukan berarti harus menjadi Superman yang mengerti semuanya,” “Ini ‘kan masih wacana sebagai capres. Belum capres. Nanti kalau sudah capres baru saya akan mendalaminya secara detail,” dan seterusnya.
          Najwa memotong gaya mengeles Rhoma itu dengan mengatakan, “Yang saya tanyakan itu hal-hal yang sederhana, yang umum-umum saja,” “Maka itu, saya tanyakan secara umum saja, global saja, tidak menanyakan sampai ke soal angka-angkanya, …”

          Tentang Subsidi BBM: Apakah anda setuju soal subsidi BBM, atau sebaiknya dikurangi secara bertahap?
          Rhoma: “Secara spesifik saya bukan ahli di bidang minyak …”
          Najwa: “Saya tidak bertanya secara spesifik, tetapi lebih pada apakah mendukung policy seperti itu? Dengan konsekuensi semakin memberatkan anggaran. Yang umum-umum saja, jawabnya.”
          Rhoma: “Juga, saya tidak dalam kapasitas untuk menjawab hal itu. Saya bukan ahli perminyakan. Bahwa seorang presiden bukan harus menjadi Superman untuk mengerti segala hal.”
          Najwa: “Maka itu, saya tidak meminta anda menjelaskan dengan angka-angka. Yang umum saja, yang global saja.”
          Rhoma pun menjawabnya soal orientasi kepada kemakmuran rakyat, segala hal bisa dilakukan.

          Tentang APBN: Sebagai seorang presiden anda harus mampu mengelola keuangan negara secara sehat. Menurut anda, bagaimana itu mengelola APBN secara sehat?
          Rhoma menjawabnya dengan menyebutkan Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 sebagai sumber pemikirannya, untuk diimplementasi selanjutnya dengan cara yang berbeda untuk setiap hal.
          Najwa: “Dalam konteks APBN, mengelola keuangan, apakah dalam porsi sekarang, 80 persen lebih banyak digunakan untuk belanja rutin: subsidi, gaji pegawai, biaya operasional. Sedangkan biaya modal hanya 10 persen Apakah itu ideal?”
          Dengan gugup Rhoma berkata, “Eee…ee… Saya belum bicara soal itu, ya …”
          Najwa: “Anda tidak melihat bahwa hal-hal ini penting diketahui, apabila kita benar-benar berniat membenahi negeri ini?”
          Rhoma mengeles, “Begini, begini, kita ‘kan baru dalam tahapan wacana capres. Belum sampai ke capres. Ada tahapan-tahapannya. Nanti pada tahapan itu baru kami mendalaminya secara detail dari pada persoalan-persoalan bangsa ini.”
          Najwa mengejarnya, “Tapi, tadi, bukan detail, dong, pertanyaan saya. Itu masih sesuatu yang sangat umum.”
          Rhoma kembali bicara soal UUD 1945. Semua itu berpatokan pada UUD 1945, katanya.

          Tentang Keputusan MK yang membubarkan BP Migas: Apakah itu keputusan yang tepat?
          Rhoma: “Mmmmm … saya belum bisa menilai itu secara kongkrit. Karena saya belum mendalami itu secara serius ….”
          Hati-hati bicara dengan Najwa Shihab, Karena setiap perkataan yang keluar dari mulutmu bisa dijadikan bumerang untuk “ menghantam” balik anda!
          Najwa: “Tetapi, memang anda akui bahwa anda belum detail dan masuk ke hal-hal yang umum seperti tadi, ya? … Dan merasa tidak penting untuk diketahui? (oleh karena itu belum mendalaminya secara serius)”
          Rhoma: “Maka itu, tadi saya katakan bahwa ini masih wacana … Masih wacana …”
          Najwa: “Masih wacana, tetapi anda mengatakan sudah siap untuk digadang-gadang. Berarti anda yakin akan bisa (menjadi presiden)?”
          Rhoma: “Saya rasa presiden itu punya think tank, punya kabinet, punya brain trust. Untuk bisa memecahkan berbagai masalah.”
          Najwa: “Tapi, harus dipastikan juga bahwa presiden tidak dikelabui anak buahnya.”
          Rhoma: “Yes, tentu saja.  Yang penting presiden itu punya misi, visi dan konsep yang jelas untuk mengelola negara ini dari berbagai aspek.
          Oh, jadi, rupanya menurut Bang Rhoma menjadi presiden itu tidak perlu pintar, tidak perlu tahu tentang hal-hal yang mendasar soal seperti subsidi BBM, APBN, dan sejenisnya, seperti yang diajukan oleh Najwa Shihab itu, ya? Yang penting ada para pembantunya, menterinya. Tapi, masa iya, pembantu-pembantunya itu jauh lebih pintar daripada presidennya sendiri? Kalau rapat-rapat kabient, misalnya,  bisa-bisa serba tidak nyambung pembicaraannya.
          Apakah iya, untuk mempunyai visi dan misi serta konsep yang jelas seorang presiden tidak harus mempunyai dasar pengetahuan dan wawasan yang cukup untuk itu?
          *
          Selesai “menguji” pengetahuan umum Rhoma Irama, Najwa beralih ke soal konsekuensi seseorang menjadi presiden. Antara lain siap “dikuliti”,  siap “ditelanjangi”, siap dibicarakan soal-soal pribadinya, bagaimana track record-nya diukur,  dan sebagainya.
          “Apakah anda siap untuk itu?” Tanya Najwa.
          “Siap,” jawab Rhoma, “Itu hal yang biasa. Hukum alam …”
          Najwa:  “Jadi, tidak apa-apa juga, kalau misalnya, saya bertanya hal-hal yang bersifat pribadi dari Abang, sekarang?”
          “Silakan!”
          “Abang berpoligami?”
          Airmuka Rhoma sejenak berubah, terdiam sesaat, kemudian dengan tersenyum sinis, dia menjawab, “Mmmm… Saya rasa ini bukan untuk konsumsi publik, dan anda mengerti itu.”
          Najwa: “Tadi, kan konteksnya sudah siap dikuliti hal-hal yang memang kaitannya kalau menjadi pejabat publik. Anda keberatan menjawab itu?”
          “Nggak juga, sih. Tapi publik kan tahu siapa saya?”
          “Berarti anda memang berpoligami …”
          “Kalau anda menanyakan itu, berarti anda nggak mengerti tentang saya!” Seru Rhoma sambil menunjuk-nunjuk Najwa.
          “Oke, sikap anda kemudian sudah bisa dipahami.”
          Mungkin karena merasakan hampir semua perntanyaannya dijawab oleh Rhoma Irama seperti jawaban murid SMP, atau bahkan SD, Najwa pun menanyakan, skill apa yang dimiliki oleh Rhoma Irama selain musik dan berkhotbah.
          Dibandingkan dengan pertanyaan tentang poligami, yang membuatnya tersinggung itu, seharusnya pertanyaan ini lebih patut membuat Rhoma tersinggung. Tetapi, ternyata tidak. Dengan mantap Rhoma menjawab bahwa dia ini sebetulnya dulu pernah kuliah di (Fakultas) Sosial Politik, — entah di perguruan tinggi mana, tidak disebutkan. Tetapi, dengan terus terang, dia bilang, “Saya dulu itu mahasiswa drop out.”
          Namun demikian, kata Rhoma, ketertarikannya dengan dunia politik itu sangat kuat. Terbukti dari kiprahnya di dunia ini mulai di tahun 1977 sampai dengan 1997. Sampai masuk Senayan (maksudnya ketika menjadi anggota DPR dari Golkar).
          *
          Lepas dari semua dialog antara Najwa dengan Rhoma itu, ada satu hal yang sebenarnya menjadi pertanyaan di dalam hati saya, kenapa kok kali ini Rhoma Irama tampil dengan berkacamata hitam? Kenapa di sepanjang acara Mata Najwa itu Rhoma Irama terus berkaca mata hitam? Apakah dia sedang sakit mata? Rasanya, kurang sopan kalau orang tampil di momen seperti ini, tampil di depan umum, disiarkan televisi, berbicara dengan orang, tidak melepaskan kacamata hitamnya.
          Kira-kira apa ya alasannya Rhoma berkacamata hitam itu?
          *
          Sampai di sini, kita kembali ke pertanyaan Najwa di awal acaranya itu: Apakah pencalonan dan kesediaan Rhoma Irama maju dalam pilpres 2014 itu serius, ataukah dagelan di akhir tahun?”
          Menurut anda?

          Powered by Telkomsel BlackBerry®

          ------------------------------------

          Yahoo! Groups Links





          ------------------------------------

          Yahoo! Groups Links
        • hbs0603@yahoo.com
          Mas BS, sdh bs sy baca anotasinya..thanks ya mas... Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! ... From: bambang
          Message 4 of 10 , Dec 2, 2012
          • 0 Attachment
            Mas BS, sdh bs sy baca anotasinya..thanks ya mas...
            Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

            -----Original Message-----
            From: "bambang supriyanto" <bambang.supriyanto35@...>
            Sender: sdmmigas@yahoogroups.com
            Date: Mon, 3 Dec 2012 01:31:14
            To: <sdmmigas@yahoogroups.com>
            Reply-To: sdmmigas@yahoogroups.com
            Subject: Re: [sdmmigas] Interview Capres

            Bangsa ini 'sakit jiwa' cukup parah.

            Saya prihatin,
            BS.
            Powered by Telkomsel BlackBerry®

            -----Original Message-----
            From: temunas@...
            Sender: sdmmigas@yahoogroups.com
            Date: Sun, 2 Dec 2012 23:43:33
            To: sdmmigas@yahoogroups.com<sdmmigas@yahoogroups.com>
            Reply-To: sdmmigas@yahoogroups.com
            Subject: Re: [sdmmigas] Interview Capres

            Seharusnya Rhoma ukur bayangan sepanjang badan
            TMN
            Powered by Telkomsel BlackBerry®

            -----Original Message-----
            From: dkuntadi2002@...
            Sender: sdmmigas@yahoogroups.com
            Date: Sun, 2 Dec 2012 20:48:42
            To: sdmmigas@yahoogroups.com<sdmmigas@yahoogroups.com>
            Reply-To: sdmmigas@yahoogroups.com
            Subject: [sdmmigas] Interview Capres



            Di awal acaranya, Mata Najwa, Metro TV, Rabu, 28 November 2012, host Najwa Shihab mengatakan, apakah bersedianya dan siapnya Rhoma Irama maju sebagai capres 2014 itu serius atau hanya suatu dagelan di akhir tahun?

            Dari mengikuti acara tersebut, menurut saya, ini termasuk dagelan di akhir tahun.
            Adegan layaknya dagelan terjadi ketika percakapan Najwa Shihab dengan Rhoma Irama itu memasuki topik kedua dan ketiga (terakhir), setelah di topik pertama berbicara soal latar belakang pencalonan dan kesediaannya dicalonkan sebagai capres 2014, yang sangat kental SARA-nya itu.
            Topik kedua itu adalah tentang isu-isu publik yang penting yang saat ini sedang ramai diperbincangkan dan menjadi kontroversi di masyarakat. Yakni soal subsidi BBM, APBN, dan pembubaran BP Migas.
            Sedangkan topik ketiga, tentang konsekuensi seseorang mau menjadi presiden, pejabat publik. Yakni,  harus siap dikritik, siap “ditelanjangi”, siap “dikupas,” bahkan sampai ke soal-soal pribadinya oleh publik.
            Najwa bertanya, apakah Rhoma mengikuti perkembangan isu-isu publik yang penting dan saat ini, yang  sedang ramai dibicarakan itu. Rhoma menjawab bahwa dia mengikutinya, tetapi tidak terlalu intens.
            Ketika Najwa bertanya kepada Rhoma Irama hal-hal yang sangat mendasar dan sederhana mengenai subsidi BBM, APBN, dan pembubaran BP Migas, Rhoma beberapa kali terlihat tergagap-gagap menjawabnya. Berkali-kali dia terlihat menjilat bibirnya. Tanda bahwa dia sedang sangat grogi, sampai mulutnya terasa kering. Kalau menjawab, tidak nyambung. Kelihatan sekali bahwa dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana dan umum dari Najwa Shihab tentang isu-isu publik yang penting itu, Rhoma tidak mampu menjawabnya dengan baik dan benar. Dia bahkan beberapakali berusaha mengeles, tetapi bukan nama najwa Shihab kalau tidak bisa mengejar terus, sehingga Rhoma pun beberapa kali terpojok oleh jawabannya sendiri. Rhoma Irama telah merasakan betapa panasnya  kursi panasnya Mata Najwa.
            Beberapakali Rhoma mengeles dari pertanyaan-pertanyaan Najwa,  dengan mengatakan, “Saya bukan ahli soal perminyakan,” “Untuk menjadi seorang presiden bukan berarti harus menjadi Superman yang mengerti semuanya,” “Ini ‘kan masih wacana sebagai capres. Belum capres. Nanti kalau sudah capres baru saya akan mendalaminya secara detail,” dan seterusnya.
            Najwa memotong gaya mengeles Rhoma itu dengan mengatakan, “Yang saya tanyakan itu hal-hal yang sederhana, yang umum-umum saja,” “Maka itu, saya tanyakan secara umum saja, global saja, tidak menanyakan sampai ke soal angka-angkanya, …”

            Tentang Subsidi BBM: Apakah anda setuju soal subsidi BBM, atau sebaiknya dikurangi secara bertahap?
            Rhoma: “Secara spesifik saya bukan ahli di bidang minyak …”
            Najwa: “Saya tidak bertanya secara spesifik, tetapi lebih pada apakah mendukung policy seperti itu? Dengan konsekuensi semakin memberatkan anggaran. Yang umum-umum saja, jawabnya.”
            Rhoma: “Juga, saya tidak dalam kapasitas untuk menjawab hal itu. Saya bukan ahli perminyakan. Bahwa seorang presiden bukan harus menjadi Superman untuk mengerti segala hal.”
            Najwa: “Maka itu, saya tidak meminta anda menjelaskan dengan angka-angka. Yang umum saja, yang global saja.”
            Rhoma pun menjawabnya soal orientasi kepada kemakmuran rakyat, segala hal bisa dilakukan.

            Tentang APBN: Sebagai seorang presiden anda harus mampu mengelola keuangan negara secara sehat. Menurut anda, bagaimana itu mengelola APBN secara sehat?
            Rhoma menjawabnya dengan menyebutkan Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 sebagai sumber pemikirannya, untuk diimplementasi selanjutnya dengan cara yang berbeda untuk setiap hal.
            Najwa: “Dalam konteks APBN, mengelola keuangan, apakah dalam porsi sekarang, 80 persen lebih banyak digunakan untuk belanja rutin: subsidi, gaji pegawai, biaya operasional. Sedangkan biaya modal hanya 10 persen Apakah itu ideal?”
            Dengan gugup Rhoma berkata, “Eee…ee… Saya belum bicara soal itu, ya …”
            Najwa: “Anda tidak melihat bahwa hal-hal ini penting diketahui, apabila kita benar-benar berniat membenahi negeri ini?”
            Rhoma mengeles, “Begini, begini, kita ‘kan baru dalam tahapan wacana capres. Belum sampai ke capres. Ada tahapan-tahapannya. Nanti pada tahapan itu baru kami mendalaminya secara detail dari pada persoalan-persoalan bangsa ini.”
            Najwa mengejarnya, “Tapi, tadi, bukan detail, dong, pertanyaan saya. Itu masih sesuatu yang sangat umum.”
            Rhoma kembali bicara soal UUD 1945. Semua itu berpatokan pada UUD 1945, katanya.

            Tentang Keputusan MK yang membubarkan BP Migas: Apakah itu keputusan yang tepat?
            Rhoma: “Mmmmm … saya belum bisa menilai itu secara kongkrit. Karena saya belum mendalami itu secara serius ….”
            Hati-hati bicara dengan Najwa Shihab, Karena setiap perkataan yang keluar dari mulutmu bisa dijadikan bumerang untuk “ menghantam” balik anda!
            Najwa: “Tetapi, memang anda akui bahwa anda belum detail dan masuk ke hal-hal yang umum seperti tadi, ya? … Dan merasa tidak penting untuk diketahui? (oleh karena itu belum mendalaminya secara serius)”
            Rhoma: “Maka itu, tadi saya katakan bahwa ini masih wacana … Masih wacana …”
            Najwa: “Masih wacana, tetapi anda mengatakan sudah siap untuk digadang-gadang. Berarti anda yakin akan bisa (menjadi presiden)?”
            Rhoma: “Saya rasa presiden itu punya think tank, punya kabinet, punya brain trust. Untuk bisa memecahkan berbagai masalah.”
            Najwa: “Tapi, harus dipastikan juga bahwa presiden tidak dikelabui anak buahnya.”
            Rhoma: “Yes, tentu saja.  Yang penting presiden itu punya misi, visi dan konsep yang jelas untuk mengelola negara ini dari berbagai aspek.
            Oh, jadi, rupanya menurut Bang Rhoma menjadi presiden itu tidak perlu pintar, tidak perlu tahu tentang hal-hal yang mendasar soal seperti subsidi BBM, APBN, dan sejenisnya, seperti yang diajukan oleh Najwa Shihab itu, ya? Yang penting ada para pembantunya, menterinya. Tapi, masa iya, pembantu-pembantunya itu jauh lebih pintar daripada presidennya sendiri? Kalau rapat-rapat kabient, misalnya,  bisa-bisa serba tidak nyambung pembicaraannya.
            Apakah iya, untuk mempunyai visi dan misi serta konsep yang jelas seorang presiden tidak harus mempunyai dasar pengetahuan dan wawasan yang cukup untuk itu?
            *
            Selesai “menguji” pengetahuan umum Rhoma Irama, Najwa beralih ke soal konsekuensi seseorang menjadi presiden. Antara lain siap “dikuliti”,  siap “ditelanjangi”, siap dibicarakan soal-soal pribadinya, bagaimana track record-nya diukur,  dan sebagainya.
            “Apakah anda siap untuk itu?” Tanya Najwa.
            “Siap,” jawab Rhoma, “Itu hal yang biasa. Hukum alam …”
            Najwa:  “Jadi, tidak apa-apa juga, kalau misalnya, saya bertanya hal-hal yang bersifat pribadi dari Abang, sekarang?”
            “Silakan!”
            “Abang berpoligami?”
            Airmuka Rhoma sejenak berubah, terdiam sesaat, kemudian dengan tersenyum sinis, dia menjawab, “Mmmm… Saya rasa ini bukan untuk konsumsi publik, dan anda mengerti itu.”
            Najwa: “Tadi, kan konteksnya sudah siap dikuliti hal-hal yang memang kaitannya kalau menjadi pejabat publik. Anda keberatan menjawab itu?”
            “Nggak juga, sih. Tapi publik kan tahu siapa saya?”
            “Berarti anda memang berpoligami …”
            “Kalau anda menanyakan itu, berarti anda nggak mengerti tentang saya!” Seru Rhoma sambil menunjuk-nunjuk Najwa.
            “Oke, sikap anda kemudian sudah bisa dipahami.”
            Mungkin karena merasakan hampir semua perntanyaannya dijawab oleh Rhoma Irama seperti jawaban murid SMP, atau bahkan SD, Najwa pun menanyakan, skill apa yang dimiliki oleh Rhoma Irama selain musik dan berkhotbah.
            Dibandingkan dengan pertanyaan tentang poligami, yang membuatnya tersinggung itu, seharusnya pertanyaan ini lebih patut membuat Rhoma tersinggung. Tetapi, ternyata tidak. Dengan mantap Rhoma menjawab bahwa dia ini sebetulnya dulu pernah kuliah di (Fakultas) Sosial Politik, — entah di perguruan tinggi mana, tidak disebutkan. Tetapi, dengan terus terang, dia bilang, “Saya dulu itu mahasiswa drop out.”
            Namun demikian, kata Rhoma, ketertarikannya dengan dunia politik itu sangat kuat. Terbukti dari kiprahnya di dunia ini mulai di tahun 1977 sampai dengan 1997. Sampai masuk Senayan (maksudnya ketika menjadi anggota DPR dari Golkar).
            *
            Lepas dari semua dialog antara Najwa dengan Rhoma itu, ada satu hal yang sebenarnya menjadi pertanyaan di dalam hati saya, kenapa kok kali ini Rhoma Irama tampil dengan berkacamata hitam? Kenapa di sepanjang acara Mata Najwa itu Rhoma Irama terus berkaca mata hitam? Apakah dia sedang sakit mata? Rasanya, kurang sopan kalau orang tampil di momen seperti ini, tampil di depan umum, disiarkan televisi, berbicara dengan orang, tidak melepaskan kacamata hitamnya.
            Kira-kira apa ya alasannya Rhoma berkacamata hitam itu?
            *
            Sampai di sini, kita kembali ke pertanyaan Najwa di awal acaranya itu: Apakah pencalonan dan kesediaan Rhoma Irama maju dalam pilpres 2014 itu serius, ataukah dagelan di akhir tahun?”
            Menurut anda?

            Powered by Telkomsel BlackBerry®

            ------------------------------------

            Yahoo! Groups Links





            ------------------------------------

            Yahoo! Groups Links





            ------------------------------------

            Yahoo! Groups Links
          • Yuri Ouvaroff
            Kalau memang kemampuannya nyanyi ya nyanyi sajalah, kalau mau sinetron ya sinetron saja jangan berkiprah diranah lain yang akan memperbodoh penampilan diri,
            Message 5 of 10 , Dec 2, 2012
            • 0 Attachment
              Kalau memang kemampuannya nyanyi ya nyanyi sajalah, kalau mau sinetron ya sinetron saja jangan berkiprah diranah lain yang akan memperbodoh penampilan diri, naifnya negeri ini bila setiap Pilpres, kandidat calon Kepala Neg tidak terseleksi secara baik dan bijaksana. Kita merindukan pemimpin yang bisa mengubah NKRI menjadi mandiri, berdaulat dan bisa berbicara dan bertindak untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyatnya secara tegas berwibawa, bijaksana dan smart bukan pemimpin yang mencari popularitas dan kepentingan pribadi maupun golongan, apalagi hanya menjadi boneka sekelompok golongan.


              “Good to be important people but more important to be a good people”

              From: "temunas@..." <temunas@...>
              To: "sdmmigas@yahoogroups.com" <sdmmigas@yahoogroups.com>
              Sent: Monday, 3 December 2012, 6:43
              Subject: Re: [sdmmigas] Interview Capres

              Seharusnya Rhoma  ukur bayangan sepanjang badan
              TMN
              Powered by Telkomsel BlackBerry®

              -----Original Message-----
              From: dkuntadi2002@...
              Sender: sdmmigas@yahoogroups.com
              Date: Sun, 2 Dec 2012 20:48:42
              To: sdmmigas@yahoogroups.com<sdmmigas@yahoogroups.com>
              Reply-To: sdmmigas@yahoogroups.com
              Subject: [sdmmigas] Interview Capres



              Di awal acaranya, Mata Najwa, Metro TV, Rabu, 28 November 2012, host Najwa Shihab mengatakan, apakah bersedianya dan siapnya Rhoma Irama maju sebagai capres 2014 itu serius atau hanya suatu dagelan di akhir tahun?

              Dari mengikuti acara tersebut, menurut saya, ini termasuk dagelan di akhir tahun.
              Adegan layaknya dagelan terjadi ketika percakapan Najwa Shihab dengan Rhoma Irama itu memasuki topik kedua dan ketiga (terakhir), setelah di topik pertama berbicara soal latar belakang pencalonan dan kesediaannya dicalonkan sebagai capres 2014, yang sangat kental SARA-nya itu.
              Topik kedua itu adalah tentang isu-isu publik yang penting yang saat ini sedang ramai diperbincangkan dan menjadi kontroversi di masyarakat. Yakni soal subsidi BBM, APBN, dan pembubaran BP Migas.
              Sedangkan topik ketiga, tentang konsekuensi seseorang mau menjadi presiden, pejabat publik. Yakni,  harus siap dikritik, siap “ditelanjangi”, siap “dikupas,” bahkan sampai ke soal-soal pribadinya oleh publik.
              Najwa bertanya, apakah Rhoma mengikuti perkembangan isu-isu publik yang penting dan saat ini, yang  sedang ramai dibicarakan itu. Rhoma menjawab bahwa dia mengikutinya, tetapi tidak terlalu intens.
              Ketika Najwa bertanya kepada Rhoma Irama hal-hal yang sangat mendasar dan sederhana mengenai subsidi BBM, APBN, dan pembubaran BP Migas, Rhoma beberapa kali terlihat tergagap-gagap menjawabnya. Berkali-kali dia terlihat menjilat bibirnya. Tanda bahwa dia sedang sangat grogi, sampai mulutnya terasa kering. Kalau menjawab, tidak nyambung. Kelihatan sekali bahwa dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana dan umum dari Najwa Shihab tentang isu-isu publik yang penting itu, Rhoma tidak mampu menjawabnya dengan baik dan benar. Dia bahkan beberapakali berusaha mengeles, tetapi bukan nama najwa Shihab kalau tidak bisa mengejar terus, sehingga Rhoma pun beberapa kali terpojok oleh jawabannya sendiri. Rhoma Irama telah merasakan betapa panasnya  kursi panasnya Mata Najwa.
              Beberapakali Rhoma mengeles dari pertanyaan-pertanyaan Najwa,  dengan mengatakan, “Saya bukan ahli soal perminyakan,” “Untuk menjadi seorang presiden bukan berarti harus menjadi Superman yang mengerti semuanya,” “Ini ‘kan masih wacana sebagai capres. Belum capres. Nanti kalau sudah capres baru saya akan mendalaminya secara detail,” dan seterusnya.
              Najwa memotong gaya mengeles Rhoma itu dengan mengatakan, “Yang saya tanyakan itu hal-hal yang sederhana, yang umum-umum saja,” “Maka itu, saya tanyakan secara umum saja, global saja, tidak menanyakan sampai ke soal angka-angkanya, …”

              Tentang Subsidi BBM: Apakah anda setuju soal subsidi BBM, atau sebaiknya dikurangi secara bertahap?
              Rhoma: “Secara spesifik saya bukan ahli di bidang minyak …”
              Najwa: “Saya tidak bertanya secara spesifik, tetapi lebih pada apakah mendukung policy seperti itu? Dengan konsekuensi semakin memberatkan anggaran. Yang umum-umum saja, jawabnya.”
              Rhoma: “Juga, saya tidak dalam kapasitas untuk menjawab hal itu. Saya bukan ahli perminyakan. Bahwa seorang presiden bukan harus menjadi Superman untuk mengerti segala hal.”
              Najwa: “Maka itu, saya tidak meminta anda menjelaskan dengan angka-angka. Yang umum saja, yang global saja.”
              Rhoma pun menjawabnya soal orientasi kepada kemakmuran rakyat, segala hal bisa dilakukan.

              Tentang APBN: Sebagai seorang presiden anda harus mampu mengelola keuangan negara secara sehat. Menurut anda, bagaimana itu mengelola APBN secara sehat?
              Rhoma menjawabnya dengan menyebutkan Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 sebagai sumber pemikirannya, untuk diimplementasi selanjutnya dengan cara yang berbeda untuk setiap hal.
              Najwa: “Dalam konteks APBN, mengelola keuangan, apakah dalam porsi sekarang, 80 persen lebih banyak digunakan untuk belanja rutin: subsidi, gaji pegawai, biaya operasional. Sedangkan biaya modal hanya 10 persen Apakah itu ideal?”
              Dengan gugup Rhoma berkata, “Eee…ee… Saya belum bicara soal itu, ya …”
              Najwa: “Anda tidak melihat bahwa hal-hal ini penting diketahui, apabila kita benar-benar berniat membenahi negeri ini?”
              Rhoma mengeles, “Begini, begini, kita ‘kan baru dalam tahapan wacana capres. Belum sampai ke capres. Ada tahapan-tahapannya. Nanti pada tahapan itu baru kami mendalaminya secara detail dari pada persoalan-persoalan bangsa ini.”
              Najwa mengejarnya, “Tapi, tadi, bukan detail, dong, pertanyaan saya. Itu masih sesuatu yang sangat umum.”
              Rhoma kembali bicara soal UUD 1945. Semua itu berpatokan pada UUD 1945, katanya.

              Tentang Keputusan MK yang membubarkan BP Migas: Apakah itu keputusan yang tepat?
              Rhoma: “Mmmmm … saya belum bisa menilai itu secara kongkrit. Karena saya belum mendalami itu secara serius ….”
              Hati-hati bicara dengan Najwa Shihab, Karena setiap perkataan yang keluar dari mulutmu bisa dijadikan bumerang untuk “ menghantam” balik anda!
              Najwa: “Tetapi, memang anda akui bahwa anda belum detail dan masuk ke hal-hal yang umum seperti tadi, ya? … Dan merasa tidak penting untuk diketahui? (oleh karena itu belum mendalaminya secara serius)”
              Rhoma: “Maka itu, tadi saya katakan bahwa ini masih wacana … Masih wacana …”
              Najwa: “Masih wacana, tetapi anda mengatakan sudah siap untuk digadang-gadang. Berarti anda yakin akan bisa (menjadi presiden)?”
              Rhoma: “Saya rasa presiden itu punya think tank, punya kabinet, punya brain trust. Untuk bisa memecahkan berbagai masalah.”
              Najwa: “Tapi, harus dipastikan juga bahwa presiden tidak dikelabui anak buahnya.”
              Rhoma: “Yes, tentu saja.  Yang penting presiden itu punya misi, visi dan konsep yang jelas untuk mengelola negara ini dari berbagai aspek.
              Oh, jadi, rupanya menurut Bang Rhoma menjadi presiden itu tidak perlu pintar, tidak perlu tahu tentang hal-hal yang mendasar soal seperti subsidi BBM, APBN, dan sejenisnya, seperti yang diajukan oleh Najwa Shihab itu, ya? Yang penting ada para pembantunya, menterinya. Tapi, masa iya, pembantu-pembantunya itu jauh lebih pintar daripada presidennya sendiri? Kalau rapat-rapat kabient, misalnya,  bisa-bisa serba tidak nyambung pembicaraannya.
              Apakah iya, untuk mempunyai visi dan misi serta konsep yang jelas seorang presiden tidak harus mempunyai dasar pengetahuan dan wawasan yang cukup untuk itu?
              *
              Selesai “menguji” pengetahuan umum Rhoma Irama, Najwa beralih ke soal konsekuensi seseorang menjadi presiden. Antara lain siap “dikuliti”,  siap “ditelanjangi”, siap dibicarakan soal-soal pribadinya, bagaimana track record-nya diukur,  dan sebagainya.
              “Apakah anda siap untuk itu?” Tanya Najwa.
              “Siap,” jawab Rhoma, “Itu hal yang biasa. Hukum alam …”
              Najwa:  “Jadi, tidak apa-apa juga, kalau misalnya, saya bertanya hal-hal yang bersifat pribadi dari Abang, sekarang?”
              “Silakan!”
              “Abang berpoligami?”
              Airmuka Rhoma sejenak berubah, terdiam sesaat, kemudian dengan tersenyum sinis, dia menjawab, “Mmmm… Saya rasa ini bukan untuk konsumsi publik, dan anda mengerti itu.”
              Najwa: “Tadi, kan konteksnya sudah siap dikuliti hal-hal yang memang kaitannya kalau menjadi pejabat publik. Anda keberatan menjawab itu?”
              “Nggak juga, sih. Tapi publik kan tahu siapa saya?”
              “Berarti anda memang berpoligami …”
              “Kalau anda menanyakan itu, berarti anda nggak mengerti tentang saya!” Seru Rhoma sambil menunjuk-nunjuk Najwa.
              “Oke, sikap anda kemudian sudah bisa dipahami.”
              Mungkin karena merasakan hampir semua perntanyaannya dijawab oleh Rhoma Irama seperti jawaban murid SMP, atau bahkan SD, Najwa pun menanyakan, skill apa yang dimiliki oleh Rhoma Irama selain musik dan berkhotbah.
              Dibandingkan dengan pertanyaan tentang poligami, yang membuatnya tersinggung itu, seharusnya pertanyaan ini lebih patut membuat Rhoma tersinggung. Tetapi, ternyata tidak. Dengan mantap Rhoma menjawab bahwa dia ini sebetulnya dulu pernah kuliah di (Fakultas) Sosial Politik, — entah di perguruan tinggi mana, tidak disebutkan. Tetapi, dengan terus terang, dia bilang, “Saya dulu itu mahasiswa drop out.”
              Namun demikian, kata Rhoma, ketertarikannya dengan dunia politik itu sangat kuat. Terbukti dari kiprahnya di dunia ini mulai di tahun 1977 sampai dengan 1997. Sampai masuk Senayan (maksudnya ketika menjadi anggota DPR dari Golkar).
              *
              Lepas dari semua dialog antara Najwa dengan Rhoma itu, ada satu hal yang sebenarnya menjadi pertanyaan di dalam hati saya, kenapa kok kali ini Rhoma Irama tampil dengan berkacamata hitam? Kenapa di sepanjang acara Mata Najwa itu Rhoma Irama terus berkaca mata hitam? Apakah dia sedang sakit mata? Rasanya, kurang sopan kalau orang tampil di momen seperti ini, tampil di depan umum, disiarkan televisi, berbicara dengan orang, tidak melepaskan kacamata hitamnya.
              Kira-kira apa ya alasannya Rhoma berkacamata hitam itu?
              *
              Sampai di sini, kita kembali ke pertanyaan Najwa di awal acaranya itu: Apakah pencalonan dan kesediaan Rhoma Irama maju dalam pilpres 2014 itu serius, ataukah dagelan di akhir tahun?”
              Menurut anda?

              Powered by Telkomsel BlackBerry®

              ------------------------------------

              Yahoo! Groups Links





              ------------------------------------

              Yahoo! Groups Links

              <*> To visit your group on the web, go to:
                  http://groups.yahoo.com/group/sdmmigas/

              <*> Your email settings:
                  Individual Email | Traditional

              <*> To change settings online go to:
                  http://groups.yahoo.com/group/sdmmigas/join
                  (Yahoo! ID required)

              <*> To change settings via email:
                  sdmmigas-digest@yahoogroups.com
                  sdmmigas-fullfeatured@yahoogroups.com

              <*> To unsubscribe from this group, send an email to:
                  sdmmigas-unsubscribe@yahoogroups.com

              <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
                  http://docs.yahoo.com/info/terms/



            • karyogoeno@yahoo.com
              THERLALOE !!! Siswanto Ideas for Life ... From: bambang supriyanto Sender: sdmmigas@yahoogroups.com Date: Mon, 3 Dec 2012
              Message 6 of 10 , Dec 2, 2012
              • 0 Attachment
                THERLALOE !!!
                Siswanto Ideas for Life

                -----Original Message-----
                From: "bambang supriyanto" <bambang.supriyanto35@...>
                Sender: sdmmigas@yahoogroups.com
                Date: Mon, 3 Dec 2012 01:31:14
                To: <sdmmigas@yahoogroups.com>
                Reply-To: sdmmigas@yahoogroups.com
                Subject: Re: [sdmmigas] Interview Capres

                Bangsa ini 'sakit jiwa' cukup parah.

                Saya prihatin,
                BS.
                Powered by Telkomsel BlackBerry®

                -----Original Message-----
                From: temunas@...
                Sender: sdmmigas@yahoogroups.com
                Date: Sun, 2 Dec 2012 23:43:33
                To: sdmmigas@yahoogroups.com<sdmmigas@yahoogroups.com>
                Reply-To: sdmmigas@yahoogroups.com
                Subject: Re: [sdmmigas] Interview Capres

                Seharusnya Rhoma ukur bayangan sepanjang badan
                TMN
                Powered by Telkomsel BlackBerry®

                -----Original Message-----
                From: dkuntadi2002@...
                Sender: sdmmigas@yahoogroups.com
                Date: Sun, 2 Dec 2012 20:48:42
                To: sdmmigas@yahoogroups.com<sdmmigas@yahoogroups.com>
                Reply-To: sdmmigas@yahoogroups.com
                Subject: [sdmmigas] Interview Capres



                Di awal acaranya, Mata Najwa, Metro TV, Rabu, 28 November 2012, host Najwa Shihab mengatakan, apakah bersedianya dan siapnya Rhoma Irama maju sebagai capres 2014 itu serius atau hanya suatu dagelan di akhir tahun?

                Dari mengikuti acara tersebut, menurut saya, ini termasuk dagelan di akhir tahun.
                Adegan layaknya dagelan terjadi ketika percakapan Najwa Shihab dengan Rhoma Irama itu memasuki topik kedua dan ketiga (terakhir), setelah di topik pertama berbicara soal latar belakang pencalonan dan kesediaannya dicalonkan sebagai capres 2014, yang sangat kental SARA-nya itu.
                Topik kedua itu adalah tentang isu-isu publik yang penting yang saat ini sedang ramai diperbincangkan dan menjadi kontroversi di masyarakat. Yakni soal subsidi BBM, APBN, dan pembubaran BP Migas.
                Sedangkan topik ketiga, tentang konsekuensi seseorang mau menjadi presiden, pejabat publik. Yakni,  harus siap dikritik, siap “ditelanjangi”, siap “dikupas,” bahkan sampai ke soal-soal pribadinya oleh publik.
                Najwa bertanya, apakah Rhoma mengikuti perkembangan isu-isu publik yang penting dan saat ini, yang  sedang ramai dibicarakan itu. Rhoma menjawab bahwa dia mengikutinya, tetapi tidak terlalu intens.
                Ketika Najwa bertanya kepada Rhoma Irama hal-hal yang sangat mendasar dan sederhana mengenai subsidi BBM, APBN, dan pembubaran BP Migas, Rhoma beberapa kali terlihat tergagap-gagap menjawabnya. Berkali-kali dia terlihat menjilat bibirnya. Tanda bahwa dia sedang sangat grogi, sampai mulutnya terasa kering. Kalau menjawab, tidak nyambung. Kelihatan sekali bahwa dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana dan umum dari Najwa Shihab tentang isu-isu publik yang penting itu, Rhoma tidak mampu menjawabnya dengan baik dan benar. Dia bahkan beberapakali berusaha mengeles, tetapi bukan nama najwa Shihab kalau tidak bisa mengejar terus, sehingga Rhoma pun beberapa kali terpojok oleh jawabannya sendiri. Rhoma Irama telah merasakan betapa panasnya  kursi panasnya Mata Najwa.
                Beberapakali Rhoma mengeles dari pertanyaan-pertanyaan Najwa,  dengan mengatakan, “Saya bukan ahli soal perminyakan,” “Untuk menjadi seorang presiden bukan berarti harus menjadi Superman yang mengerti semuanya,” “Ini ‘kan masih wacana sebagai capres. Belum capres. Nanti kalau sudah capres baru saya akan mendalaminya secara detail,” dan seterusnya.
                Najwa memotong gaya mengeles Rhoma itu dengan mengatakan, “Yang saya tanyakan itu hal-hal yang sederhana, yang umum-umum saja,” “Maka itu, saya tanyakan secara umum saja, global saja, tidak menanyakan sampai ke soal angka-angkanya, …”

                Tentang Subsidi BBM: Apakah anda setuju soal subsidi BBM, atau sebaiknya dikurangi secara bertahap?
                Rhoma: “Secara spesifik saya bukan ahli di bidang minyak …”
                Najwa: “Saya tidak bertanya secara spesifik, tetapi lebih pada apakah mendukung policy seperti itu? Dengan konsekuensi semakin memberatkan anggaran. Yang umum-umum saja, jawabnya.”
                Rhoma: “Juga, saya tidak dalam kapasitas untuk menjawab hal itu. Saya bukan ahli perminyakan. Bahwa seorang presiden bukan harus menjadi Superman untuk mengerti segala hal.”
                Najwa: “Maka itu, saya tidak meminta anda menjelaskan dengan angka-angka. Yang umum saja, yang global saja.”
                Rhoma pun menjawabnya soal orientasi kepada kemakmuran rakyat, segala hal bisa dilakukan.

                Tentang APBN: Sebagai seorang presiden anda harus mampu mengelola keuangan negara secara sehat. Menurut anda, bagaimana itu mengelola APBN secara sehat?
                Rhoma menjawabnya dengan menyebutkan Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 sebagai sumber pemikirannya, untuk diimplementasi selanjutnya dengan cara yang berbeda untuk setiap hal.
                Najwa: “Dalam konteks APBN, mengelola keuangan, apakah dalam porsi sekarang, 80 persen lebih banyak digunakan untuk belanja rutin: subsidi, gaji pegawai, biaya operasional. Sedangkan biaya modal hanya 10 persen Apakah itu ideal?”
                Dengan gugup Rhoma berkata, “Eee…ee… Saya belum bicara soal itu, ya …”
                Najwa: “Anda tidak melihat bahwa hal-hal ini penting diketahui, apabila kita benar-benar berniat membenahi negeri ini?”
                Rhoma mengeles, “Begini, begini, kita ‘kan baru dalam tahapan wacana capres. Belum sampai ke capres. Ada tahapan-tahapannya. Nanti pada tahapan itu baru kami mendalaminya secara detail dari pada persoalan-persoalan bangsa ini.”
                Najwa mengejarnya, “Tapi, tadi, bukan detail, dong, pertanyaan saya. Itu masih sesuatu yang sangat umum.”
                Rhoma kembali bicara soal UUD 1945. Semua itu berpatokan pada UUD 1945, katanya.

                Tentang Keputusan MK yang membubarkan BP Migas: Apakah itu keputusan yang tepat?
                Rhoma: “Mmmmm … saya belum bisa menilai itu secara kongkrit. Karena saya belum mendalami itu secara serius ….”
                Hati-hati bicara dengan Najwa Shihab, Karena setiap perkataan yang keluar dari mulutmu bisa dijadikan bumerang untuk “ menghantam” balik anda!
                Najwa: “Tetapi, memang anda akui bahwa anda belum detail dan masuk ke hal-hal yang umum seperti tadi, ya? … Dan merasa tidak penting untuk diketahui? (oleh karena itu belum mendalaminya secara serius)”
                Rhoma: “Maka itu, tadi saya katakan bahwa ini masih wacana … Masih wacana …”
                Najwa: “Masih wacana, tetapi anda mengatakan sudah siap untuk digadang-gadang. Berarti anda yakin akan bisa (menjadi presiden)?”
                Rhoma: “Saya rasa presiden itu punya think tank, punya kabinet, punya brain trust. Untuk bisa memecahkan berbagai masalah.”
                Najwa: “Tapi, harus dipastikan juga bahwa presiden tidak dikelabui anak buahnya.”
                Rhoma: “Yes, tentu saja.  Yang penting presiden itu punya misi, visi dan konsep yang jelas untuk mengelola negara ini dari berbagai aspek.
                Oh, jadi, rupanya menurut Bang Rhoma menjadi presiden itu tidak perlu pintar, tidak perlu tahu tentang hal-hal yang mendasar soal seperti subsidi BBM, APBN, dan sejenisnya, seperti yang diajukan oleh Najwa Shihab itu, ya? Yang penting ada para pembantunya, menterinya. Tapi, masa iya, pembantu-pembantunya itu jauh lebih pintar daripada presidennya sendiri? Kalau rapat-rapat kabient, misalnya,  bisa-bisa serba tidak nyambung pembicaraannya.
                Apakah iya, untuk mempunyai visi dan misi serta konsep yang jelas seorang presiden tidak harus mempunyai dasar pengetahuan dan wawasan yang cukup untuk itu?
                *
                Selesai “menguji” pengetahuan umum Rhoma Irama, Najwa beralih ke soal konsekuensi seseorang menjadi presiden. Antara lain siap “dikuliti”,  siap “ditelanjangi”, siap dibicarakan soal-soal pribadinya, bagaimana track record-nya diukur,  dan sebagainya.
                “Apakah anda siap untuk itu?” Tanya Najwa.
                “Siap,” jawab Rhoma, “Itu hal yang biasa. Hukum alam …”
                Najwa:  “Jadi, tidak apa-apa juga, kalau misalnya, saya bertanya hal-hal yang bersifat pribadi dari Abang, sekarang?”
                “Silakan!”
                “Abang berpoligami?”
                Airmuka Rhoma sejenak berubah, terdiam sesaat, kemudian dengan tersenyum sinis, dia menjawab, “Mmmm… Saya rasa ini bukan untuk konsumsi publik, dan anda mengerti itu.”
                Najwa: “Tadi, kan konteksnya sudah siap dikuliti hal-hal yang memang kaitannya kalau menjadi pejabat publik. Anda keberatan menjawab itu?”
                “Nggak juga, sih. Tapi publik kan tahu siapa saya?”
                “Berarti anda memang berpoligami …”
                “Kalau anda menanyakan itu, berarti anda nggak mengerti tentang saya!” Seru Rhoma sambil menunjuk-nunjuk Najwa.
                “Oke, sikap anda kemudian sudah bisa dipahami.”
                Mungkin karena merasakan hampir semua perntanyaannya dijawab oleh Rhoma Irama seperti jawaban murid SMP, atau bahkan SD, Najwa pun menanyakan, skill apa yang dimiliki oleh Rhoma Irama selain musik dan berkhotbah.
                Dibandingkan dengan pertanyaan tentang poligami, yang membuatnya tersinggung itu, seharusnya pertanyaan ini lebih patut membuat Rhoma tersinggung. Tetapi, ternyata tidak. Dengan mantap Rhoma menjawab bahwa dia ini sebetulnya dulu pernah kuliah di (Fakultas) Sosial Politik, — entah di perguruan tinggi mana, tidak disebutkan. Tetapi, dengan terus terang, dia bilang, “Saya dulu itu mahasiswa drop out.”
                Namun demikian, kata Rhoma, ketertarikannya dengan dunia politik itu sangat kuat. Terbukti dari kiprahnya di dunia ini mulai di tahun 1977 sampai dengan 1997. Sampai masuk Senayan (maksudnya ketika menjadi anggota DPR dari Golkar).
                *
                Lepas dari semua dialog antara Najwa dengan Rhoma itu, ada satu hal yang sebenarnya menjadi pertanyaan di dalam hati saya, kenapa kok kali ini Rhoma Irama tampil dengan berkacamata hitam? Kenapa di sepanjang acara Mata Najwa itu Rhoma Irama terus berkaca mata hitam? Apakah dia sedang sakit mata? Rasanya, kurang sopan kalau orang tampil di momen seperti ini, tampil di depan umum, disiarkan televisi, berbicara dengan orang, tidak melepaskan kacamata hitamnya.
                Kira-kira apa ya alasannya Rhoma berkacamata hitam itu?
                *
                Sampai di sini, kita kembali ke pertanyaan Najwa di awal acaranya itu: Apakah pencalonan dan kesediaan Rhoma Irama maju dalam pilpres 2014 itu serius, ataukah dagelan di akhir tahun?”
                Menurut anda?

                Powered by Telkomsel BlackBerry®

                ------------------------------------

                Yahoo! Groups Links





                ------------------------------------

                Yahoo! Groups Links





                ------------------------------------

                Yahoo! Groups Links
              • jmarwondo@gmail.com
                Menurut primbon JOYOBOYO, negeri kita akan dipimpin oleh Satrio Piningit yg adil dan bijaksana. Sebelum Satrio Piningit muncul, Satria Bergitar muncul
                Message 7 of 10 , Dec 2, 2012
                • 0 Attachment
                  Menurut primbon JOYOBOYO, negeri kita akan dipimpin oleh Satrio Piningit yg adil dan bijaksana. Sebelum Satrio Piningit muncul, Satria Bergitar muncul duluan...lumayan buat hiburan.
                  Powered by Telkomsel BlackBerry®

                  -----Original Message-----
                  From: hbs0603@...
                  Sender: sdmmigas@yahoogroups.com
                  Date: Mon, 3 Dec 2012 02:48:46
                  To: <sdmmigas@yahoogroups.com>
                  Reply-To: sdmmigas@yahoogroups.com
                  Subject: Re: [sdmmigas] Interview Capres

                  Mas BS, sdh bs sy baca anotasinya..thanks ya mas...
                  Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

                  -----Original Message-----
                  From: "bambang supriyanto" <bambang.supriyanto35@...>
                  Sender: sdmmigas@yahoogroups.com
                  Date: Mon, 3 Dec 2012 01:31:14
                  To: <sdmmigas@yahoogroups.com>
                  Reply-To: sdmmigas@yahoogroups.com
                  Subject: Re: [sdmmigas] Interview Capres

                  Bangsa ini 'sakit jiwa' cukup parah.

                  Saya prihatin,
                  BS.
                  Powered by Telkomsel BlackBerry®

                  -----Original Message-----
                  From: temunas@...
                  Sender: sdmmigas@yahoogroups.com
                  Date: Sun, 2 Dec 2012 23:43:33
                  To: sdmmigas@yahoogroups.com<sdmmigas@yahoogroups.com>
                  Reply-To: sdmmigas@yahoogroups.com
                  Subject: Re: [sdmmigas] Interview Capres

                  Seharusnya Rhoma ukur bayangan sepanjang badan
                  TMN
                  Powered by Telkomsel BlackBerry®

                  -----Original Message-----
                  From: dkuntadi2002@...
                  Sender: sdmmigas@yahoogroups.com
                  Date: Sun, 2 Dec 2012 20:48:42
                  To: sdmmigas@yahoogroups.com<sdmmigas@yahoogroups.com>
                  Reply-To: sdmmigas@yahoogroups.com
                  Subject: [sdmmigas] Interview Capres



                  Di awal acaranya, Mata Najwa, Metro TV, Rabu, 28 November 2012, host Najwa Shihab mengatakan, apakah bersedianya dan siapnya Rhoma Irama maju sebagai capres 2014 itu serius atau hanya suatu dagelan di akhir tahun?

                  Dari mengikuti acara tersebut, menurut saya, ini termasuk dagelan di akhir tahun.
                  Adegan layaknya dagelan terjadi ketika percakapan Najwa Shihab dengan Rhoma Irama itu memasuki topik kedua dan ketiga (terakhir), setelah di topik pertama berbicara soal latar belakang pencalonan dan kesediaannya dicalonkan sebagai capres 2014, yang sangat kental SARA-nya itu.
                  Topik kedua itu adalah tentang isu-isu publik yang penting yang saat ini sedang ramai diperbincangkan dan menjadi kontroversi di masyarakat. Yakni soal subsidi BBM, APBN, dan pembubaran BP Migas.
                  Sedangkan topik ketiga, tentang konsekuensi seseorang mau menjadi presiden, pejabat publik. Yakni,  harus siap dikritik, siap “ditelanjangi”, siap “dikupas,” bahkan sampai ke soal-soal pribadinya oleh publik.
                  Najwa bertanya, apakah Rhoma mengikuti perkembangan isu-isu publik yang penting dan saat ini, yang  sedang ramai dibicarakan itu. Rhoma menjawab bahwa dia mengikutinya, tetapi tidak terlalu intens.
                  Ketika Najwa bertanya kepada Rhoma Irama hal-hal yang sangat mendasar dan sederhana mengenai subsidi BBM, APBN, dan pembubaran BP Migas, Rhoma beberapa kali terlihat tergagap-gagap menjawabnya. Berkali-kali dia terlihat menjilat bibirnya. Tanda bahwa dia sedang sangat grogi, sampai mulutnya terasa kering. Kalau menjawab, tidak nyambung. Kelihatan sekali bahwa dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana dan umum dari Najwa Shihab tentang isu-isu publik yang penting itu, Rhoma tidak mampu menjawabnya dengan baik dan benar. Dia bahkan beberapakali berusaha mengeles, tetapi bukan nama najwa Shihab kalau tidak bisa mengejar terus, sehingga Rhoma pun beberapa kali terpojok oleh jawabannya sendiri. Rhoma Irama telah merasakan betapa panasnya  kursi panasnya Mata Najwa.
                  Beberapakali Rhoma mengeles dari pertanyaan-pertanyaan Najwa,  dengan mengatakan, “Saya bukan ahli soal perminyakan,” “Untuk menjadi seorang presiden bukan berarti harus menjadi Superman yang mengerti semuanya,” “Ini ‘kan masih wacana sebagai capres. Belum capres. Nanti kalau sudah capres baru saya akan mendalaminya secara detail,” dan seterusnya.
                  Najwa memotong gaya mengeles Rhoma itu dengan mengatakan, “Yang saya tanyakan itu hal-hal yang sederhana, yang umum-umum saja,” “Maka itu, saya tanyakan secara umum saja, global saja, tidak menanyakan sampai ke soal angka-angkanya, …”

                  Tentang Subsidi BBM: Apakah anda setuju soal subsidi BBM, atau sebaiknya dikurangi secara bertahap?
                  Rhoma: “Secara spesifik saya bukan ahli di bidang minyak …”
                  Najwa: “Saya tidak bertanya secara spesifik, tetapi lebih pada apakah mendukung policy seperti itu? Dengan konsekuensi semakin memberatkan anggaran. Yang umum-umum saja, jawabnya.”
                  Rhoma: “Juga, saya tidak dalam kapasitas untuk menjawab hal itu. Saya bukan ahli perminyakan. Bahwa seorang presiden bukan harus menjadi Superman untuk mengerti segala hal.”
                  Najwa: “Maka itu, saya tidak meminta anda menjelaskan dengan angka-angka. Yang umum saja, yang global saja.”
                  Rhoma pun menjawabnya soal orientasi kepada kemakmuran rakyat, segala hal bisa dilakukan.

                  Tentang APBN: Sebagai seorang presiden anda harus mampu mengelola keuangan negara secara sehat. Menurut anda, bagaimana itu mengelola APBN secara sehat?
                  Rhoma menjawabnya dengan menyebutkan Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 sebagai sumber pemikirannya, untuk diimplementasi selanjutnya dengan cara yang berbeda untuk setiap hal.
                  Najwa: “Dalam konteks APBN, mengelola keuangan, apakah dalam porsi sekarang, 80 persen lebih banyak digunakan untuk belanja rutin: subsidi, gaji pegawai, biaya operasional. Sedangkan biaya modal hanya 10 persen Apakah itu ideal?”
                  Dengan gugup Rhoma berkata, “Eee…ee… Saya belum bicara soal itu, ya …”
                  Najwa: “Anda tidak melihat bahwa hal-hal ini penting diketahui, apabila kita benar-benar berniat membenahi negeri ini?”
                  Rhoma mengeles, “Begini, begini, kita ‘kan baru dalam tahapan wacana capres. Belum sampai ke capres. Ada tahapan-tahapannya. Nanti pada tahapan itu baru kami mendalaminya secara detail dari pada persoalan-persoalan bangsa ini.”
                  Najwa mengejarnya, “Tapi, tadi, bukan detail, dong, pertanyaan saya. Itu masih sesuatu yang sangat umum.”
                  Rhoma kembali bicara soal UUD 1945. Semua itu berpatokan pada UUD 1945, katanya.

                  Tentang Keputusan MK yang membubarkan BP Migas: Apakah itu keputusan yang tepat?
                  Rhoma: “Mmmmm … saya belum bisa menilai itu secara kongkrit. Karena saya belum mendalami itu secara serius ….”
                  Hati-hati bicara dengan Najwa Shihab, Karena setiap perkataan yang keluar dari mulutmu bisa dijadikan bumerang untuk “ menghantam” balik anda!
                  Najwa: “Tetapi, memang anda akui bahwa anda belum detail dan masuk ke hal-hal yang umum seperti tadi, ya? … Dan merasa tidak penting untuk diketahui? (oleh karena itu belum mendalaminya secara serius)”
                  Rhoma: “Maka itu, tadi saya katakan bahwa ini masih wacana … Masih wacana …”
                  Najwa: “Masih wacana, tetapi anda mengatakan sudah siap untuk digadang-gadang. Berarti anda yakin akan bisa (menjadi presiden)?”
                  Rhoma: “Saya rasa presiden itu punya think tank, punya kabinet, punya brain trust. Untuk bisa memecahkan berbagai masalah.”
                  Najwa: “Tapi, harus dipastikan juga bahwa presiden tidak dikelabui anak buahnya.”
                  Rhoma: “Yes, tentu saja.  Yang penting presiden itu punya misi, visi dan konsep yang jelas untuk mengelola negara ini dari berbagai aspek.
                  Oh, jadi, rupanya menurut Bang Rhoma menjadi presiden itu tidak perlu pintar, tidak perlu tahu tentang hal-hal yang mendasar soal seperti subsidi BBM, APBN, dan sejenisnya, seperti yang diajukan oleh Najwa Shihab itu, ya? Yang penting ada para pembantunya, menterinya. Tapi, masa iya, pembantu-pembantunya itu jauh lebih pintar daripada presidennya sendiri? Kalau rapat-rapat kabient, misalnya,  bisa-bisa serba tidak nyambung pembicaraannya.
                  Apakah iya, untuk mempunyai visi dan misi serta konsep yang jelas seorang presiden tidak harus mempunyai dasar pengetahuan dan wawasan yang cukup untuk itu?
                  *
                  Selesai “menguji” pengetahuan umum Rhoma Irama, Najwa beralih ke soal konsekuensi seseorang menjadi presiden. Antara lain siap “dikuliti”,  siap “ditelanjangi”, siap dibicarakan soal-soal pribadinya, bagaimana track record-nya diukur,  dan sebagainya.
                  “Apakah anda siap untuk itu?” Tanya Najwa.
                  “Siap,” jawab Rhoma, “Itu hal yang biasa. Hukum alam …”
                  Najwa:  “Jadi, tidak apa-apa juga, kalau misalnya, saya bertanya hal-hal yang bersifat pribadi dari Abang, sekarang?”
                  “Silakan!”
                  “Abang berpoligami?”
                  Airmuka Rhoma sejenak berubah, terdiam sesaat, kemudian dengan tersenyum sinis, dia menjawab, “Mmmm… Saya rasa ini bukan untuk konsumsi publik, dan anda mengerti itu.”
                  Najwa: “Tadi, kan konteksnya sudah siap dikuliti hal-hal yang memang kaitannya kalau menjadi pejabat publik. Anda keberatan menjawab itu?”
                  “Nggak juga, sih. Tapi publik kan tahu siapa saya?”
                  “Berarti anda memang berpoligami …”
                  “Kalau anda menanyakan itu, berarti anda nggak mengerti tentang saya!” Seru Rhoma sambil menunjuk-nunjuk Najwa.
                  “Oke, sikap anda kemudian sudah bisa dipahami.”
                  Mungkin karena merasakan hampir semua perntanyaannya dijawab oleh Rhoma Irama seperti jawaban murid SMP, atau bahkan SD, Najwa pun menanyakan, skill apa yang dimiliki oleh Rhoma Irama selain musik dan berkhotbah.
                  Dibandingkan dengan pertanyaan tentang poligami, yang membuatnya tersinggung itu, seharusnya pertanyaan ini lebih patut membuat Rhoma tersinggung. Tetapi, ternyata tidak. Dengan mantap Rhoma menjawab bahwa dia ini sebetulnya dulu pernah kuliah di (Fakultas) Sosial Politik, — entah di perguruan tinggi mana, tidak disebutkan. Tetapi, dengan terus terang, dia bilang, “Saya dulu itu mahasiswa drop out.”
                  Namun demikian, kata Rhoma, ketertarikannya dengan dunia politik itu sangat kuat. Terbukti dari kiprahnya di dunia ini mulai di tahun 1977 sampai dengan 1997. Sampai masuk Senayan (maksudnya ketika menjadi anggota DPR dari Golkar).
                  *
                  Lepas dari semua dialog antara Najwa dengan Rhoma itu, ada satu hal yang sebenarnya menjadi pertanyaan di dalam hati saya, kenapa kok kali ini Rhoma Irama tampil dengan berkacamata hitam? Kenapa di sepanjang acara Mata Najwa itu Rhoma Irama terus berkaca mata hitam? Apakah dia sedang sakit mata? Rasanya, kurang sopan kalau orang tampil di momen seperti ini, tampil di depan umum, disiarkan televisi, berbicara dengan orang, tidak melepaskan kacamata hitamnya.
                  Kira-kira apa ya alasannya Rhoma berkacamata hitam itu?
                  *
                  Sampai di sini, kita kembali ke pertanyaan Najwa di awal acaranya itu: Apakah pencalonan dan kesediaan Rhoma Irama maju dalam pilpres 2014 itu serius, ataukah dagelan di akhir tahun?”
                  Menurut anda?

                  Powered by Telkomsel BlackBerry®

                  ------------------------------------

                  Yahoo! Groups Links





                  ------------------------------------

                  Yahoo! Groups Links





                  ------------------------------------

                  Yahoo! Groups Links





                  ------------------------------------

                  Yahoo! Groups Links
                • afiatdj@yahoo.com
                  Nama negara Republik Dangdut , lagu kebangsaan Begadang ..., Lambang negara Gitar , Presiden: Rhoma Irama. Nama Kabinet Satria bergitar 1 DPR
                  Message 8 of 10 , Dec 3, 2012
                  • 0 Attachment
                    Nama negara "Republik Dangdut", lagu kebangsaan " Begadang"..., Lambang negara "Gitar", Presiden: Rhoma Irama. Nama Kabinet "Satria bergitar 1" DPR dibubarkan,..diganti dengan "Komunitas". dst dst
                    Powered by Telkomsel BlackBerry®

                    From: Yuri Ouvaroff <youvarovv@...>
                    Sender: sdmmigas@yahoogroups.com
                    Date: Sun, 2 Dec 2012 18:51:30 -0800 (PST)
                    To: sdmmigas@yahoogroups.com<sdmmigas@yahoogroups.com>
                    ReplyTo: sdmmigas@yahoogroups.com
                    Subject: Re: [sdmmigas] Interview Capres

                     

                    Kalau memang kemampuannya nyanyi ya nyanyi sajalah, kalau mau sinetron ya sinetron saja jangan berkiprah diranah lain yang akan memperbodoh penampilan diri, naifnya negeri ini bila setiap Pilpres, kandidat calon Kepala Neg tidak terseleksi secara baik dan bijaksana. Kita merindukan pemimpin yang bisa mengubah NKRI menjadi mandiri, berdaulat dan bisa berbicara dan bertindak untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyatnya secara tegas berwibawa, bijaksana dan smart bukan pemimpin yang mencari popularitas dan kepentingan pribadi maupun golongan, apalagi hanya menjadi boneka sekelompok golongan.


                    “Good to be important people but more important to be a good people”

                    From: "temunas@..." <temunas@...>
                    To: "sdmmigas@yahoogroups.com" <sdmmigas@yahoogroups.com>
                    Sent: Monday, 3 December 2012, 6:43
                    Subject: Re: [sdmmigas] Interview Capres

                    Seharusnya Rhoma  ukur bayangan sepanjang badan
                    TMN
                    Powered by Telkomsel BlackBerry®

                    -----Original Message-----
                    From: dkuntadi2002@...
                    Sender: sdmmigas@yahoogroups.com
                    Date: Sun, 2 Dec 2012 20:48:42
                    To: sdmmigas@yahoogroups.com<sdmmigas@yahoogroups.com>
                    Reply-To: sdmmigas@yahoogroups.com
                    Subject: [sdmmigas] Interview Capres



                    Di awal acaranya, Mata Najwa, Metro TV, Rabu, 28 November 2012, host Najwa Shihab mengatakan, apakah bersedianya dan siapnya Rhoma Irama maju sebagai capres 2014 itu serius atau hanya suatu dagelan di akhir tahun?

                    Dari mengikuti acara tersebut, menurut saya, ini termasuk dagelan di akhir tahun.
                    Adegan layaknya dagelan terjadi ketika percakapan Najwa Shihab dengan Rhoma Irama itu memasuki topik kedua dan ketiga (terakhir), setelah di topik pertama berbicara soal latar belakang pencalonan dan kesediaannya dicalonkan sebagai capres 2014, yang sangat kental SARA-nya itu.
                    Topik kedua itu adalah tentang isu-isu publik yang penting yang saat ini sedang ramai diperbincangkan dan menjadi kontroversi di masyarakat. Yakni soal subsidi BBM, APBN, dan pembubaran BP Migas.
                    Sedangkan topik ketiga, tentang konsekuensi seseorang mau menjadi presiden, pejabat publik. Yakni,  harus siap dikritik, siap “ditelanjangi”, siap “dikupas,” bahkan sampai ke soal-soal pribadinya oleh publik.
                    Najwa bertanya, apakah Rhoma mengikuti perkembangan isu-isu publik yang penting dan saat ini, yang  sedang ramai dibicarakan itu. Rhoma menjawab bahwa dia mengikutinya, tetapi tidak terlalu intens.
                    Ketika Najwa bertanya kepada Rhoma Irama hal-hal yang sangat mendasar dan sederhana mengenai subsidi BBM, APBN, dan pembubaran BP Migas, Rhoma beberapa kali terlihat tergagap-gagap menjawabnya. Berkali-kali dia terlihat menjilat bibirnya. Tanda bahwa dia sedang sangat grogi, sampai mulutnya terasa kering. Kalau menjawab, tidak nyambung. Kelihatan sekali bahwa dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana dan umum dari Najwa Shihab tentang isu-isu publik yang penting itu, Rhoma tidak mampu menjawabnya dengan baik dan benar. Dia bahkan beberapakali berusaha mengeles, tetapi bukan nama najwa Shihab kalau tidak bisa mengejar terus, sehingga Rhoma pun beberapa kali terpojok oleh jawabannya sendiri. Rhoma Irama telah merasakan betapa panasnya  kursi panasnya Mata Najwa.
                    Beberapakali Rhoma mengeles dari pertanyaan-pertanyaan Najwa,  dengan mengatakan, “Saya bukan ahli soal perminyakan,” “Untuk menjadi seorang presiden bukan berarti harus menjadi Superman yang mengerti semuanya,” “Ini ‘kan masih wacana sebagai capres. Belum capres. Nanti kalau sudah capres baru saya akan mendalaminya secara detail,” dan seterusnya.
                    Najwa memotong gaya mengeles Rhoma itu dengan mengatakan, “Yang saya tanyakan itu hal-hal yang sederhana, yang umum-umum saja,” “Maka itu, saya tanyakan secara umum saja, global saja, tidak menanyakan sampai ke soal angka-angkanya, …”

                    Tentang Subsidi BBM: Apakah anda setuju soal subsidi BBM, atau sebaiknya dikurangi secara bertahap?
                    Rhoma: “Secara spesifik saya bukan ahli di bidang minyak …”
                    Najwa: “Saya tidak bertanya secara spesifik, tetapi lebih pada apakah mendukung policy seperti itu? Dengan konsekuensi semakin memberatkan anggaran. Yang umum-umum saja, jawabnya.”
                    Rhoma: “Juga, saya tidak dalam kapasitas untuk menjawab hal itu. Saya bukan ahli perminyakan. Bahwa seorang presiden bukan harus menjadi Superman untuk mengerti segala hal.”
                    Najwa: “Maka itu, saya tidak meminta anda menjelaskan dengan angka-angka. Yang umum saja, yang global saja.”
                    Rhoma pun menjawabnya soal orientasi kepada kemakmuran rakyat, segala hal bisa dilakukan.

                    Tentang APBN: Sebagai seorang presiden anda harus mampu mengelola keuangan negara secara sehat. Menurut anda, bagaimana itu mengelola APBN secara sehat?
                    Rhoma menjawabnya dengan menyebutkan Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 sebagai sumber pemikirannya, untuk diimplementasi selanjutnya dengan cara yang berbeda untuk setiap hal.
                    Najwa: “Dalam konteks APBN, mengelola keuangan, apakah dalam porsi sekarang, 80 persen lebih banyak digunakan untuk belanja rutin: subsidi, gaji pegawai, biaya operasional. Sedangkan biaya modal hanya 10 persen Apakah itu ideal?”
                    Dengan gugup Rhoma berkata, “Eee…ee… Saya belum bicara soal itu, ya …”
                    Najwa: “Anda tidak melihat bahwa hal-hal ini penting diketahui, apabila kita benar-benar berniat membenahi negeri ini?”
                    Rhoma mengeles, “Begini, begini, kita ‘kan baru dalam tahapan wacana capres. Belum sampai ke capres. Ada tahapan-tahapannya. Nanti pada tahapan itu baru kami mendalaminya secara detail dari pada persoalan-persoalan bangsa ini.”
                    Najwa mengejarnya, “Tapi, tadi, bukan detail, dong, pertanyaan saya. Itu masih sesuatu yang sangat umum.”
                    Rhoma kembali bicara soal UUD 1945. Semua itu berpatokan pada UUD 1945, katanya.

                    Tentang Keputusan MK yang membubarkan BP Migas: Apakah itu keputusan yang tepat?
                    Rhoma: “Mmmmm … saya belum bisa menilai itu secara kongkrit. Karena saya belum mendalami itu secara serius ….”
                    Hati-hati bicara dengan Najwa Shihab, Karena setiap perkataan yang keluar dari mulutmu bisa dijadikan bumerang untuk “ menghantam” balik anda!
                    Najwa: “Tetapi, memang anda akui bahwa anda belum detail dan masuk ke hal-hal yang umum seperti tadi, ya? … Dan merasa tidak penting untuk diketahui? (oleh karena itu belum mendalaminya secara serius)”
                    Rhoma: “Maka itu, tadi saya katakan bahwa ini masih wacana … Masih wacana …”
                    Najwa: “Masih wacana, tetapi anda mengatakan sudah siap untuk digadang-gadang. Berarti anda yakin akan bisa (menjadi presiden)?”
                    Rhoma: “Saya rasa presiden itu punya think tank, punya kabinet, punya brain trust. Untuk bisa memecahkan berbagai masalah.”
                    Najwa: “Tapi, harus dipastikan juga bahwa presiden tidak dikelabui anak buahnya.”
                    Rhoma: “Yes, tentu saja.  Yang penting presiden itu punya misi, visi dan konsep yang jelas untuk mengelola negara ini dari berbagai aspek.
                    Oh, jadi, rupanya menurut Bang Rhoma menjadi presiden itu tidak perlu pintar, tidak perlu tahu tentang hal-hal yang mendasar soal seperti subsidi BBM, APBN, dan sejenisnya, seperti yang diajukan oleh Najwa Shihab itu, ya? Yang penting ada para pembantunya, menterinya. Tapi, masa iya, pembantu-pembantunya itu jauh lebih pintar daripada presidennya sendiri? Kalau rapat-rapat kabient, misalnya,  bisa-bisa serba tidak nyambung pembicaraannya.
                    Apakah iya, untuk mempunyai visi dan misi serta konsep yang jelas seorang presiden tidak harus mempunyai dasar pengetahuan dan wawasan yang cukup untuk itu?
                    *
                    Selesai “menguji” pengetahuan umum Rhoma Irama, Najwa beralih ke soal konsekuensi seseorang menjadi presiden. Antara lain siap “dikuliti”,  siap “ditelanjangi”, siap dibicarakan soal-soal pribadinya, bagaimana track record-nya diukur,  dan sebagainya.
                    “Apakah anda siap untuk itu?” Tanya Najwa.
                    “Siap,” jawab Rhoma, “Itu hal yang biasa. Hukum alam …”
                    Najwa:  “Jadi, tidak apa-apa juga, kalau misalnya, saya bertanya hal-hal yang bersifat pribadi dari Abang, sekarang?”
                    “Silakan!”
                    “Abang berpoligami?”
                    Airmuka Rhoma sejenak berubah, terdiam sesaat, kemudian dengan tersenyum sinis, dia menjawab, “Mmmm… Saya rasa ini bukan untuk konsumsi publik, dan anda mengerti itu.”
                    Najwa: “Tadi, kan konteksnya sudah siap dikuliti hal-hal yang memang kaitannya kalau menjadi pejabat publik. Anda keberatan menjawab itu?”
                    “Nggak juga, sih. Tapi publik kan tahu siapa saya?”
                    “Berarti anda memang berpoligami …”
                    “Kalau anda menanyakan itu, berarti anda nggak mengerti tentang saya!” Seru Rhoma sambil menunjuk-nunjuk Najwa.
                    “Oke, sikap anda kemudian sudah bisa dipahami.”
                    Mungkin karena merasakan hampir semua perntanyaannya dijawab oleh Rhoma Irama seperti jawaban murid SMP, atau bahkan SD, Najwa pun menanyakan, skill apa yang dimiliki oleh Rhoma Irama selain musik dan berkhotbah.
                    Dibandingkan dengan pertanyaan tentang poligami, yang membuatnya tersinggung itu, seharusnya pertanyaan ini lebih patut membuat Rhoma tersinggung. Tetapi, ternyata tidak. Dengan mantap Rhoma menjawab bahwa dia ini sebetulnya dulu pernah kuliah di (Fakultas) Sosial Politik, — entah di perguruan tinggi mana, tidak disebutkan. Tetapi, dengan terus terang, dia bilang, “Saya dulu itu mahasiswa drop out.”
                    Namun demikian, kata Rhoma, ketertarikannya dengan dunia politik itu sangat kuat. Terbukti dari kiprahnya di dunia ini mulai di tahun 1977 sampai dengan 1997. Sampai masuk Senayan (maksudnya ketika menjadi anggota DPR dari Golkar).
                    *
                    Lepas dari semua dialog antara Najwa dengan Rhoma itu, ada satu hal yang sebenarnya menjadi pertanyaan di dalam hati saya, kenapa kok kali ini Rhoma Irama tampil dengan berkacamata hitam? Kenapa di sepanjang acara Mata Najwa itu Rhoma Irama terus berkaca mata hitam? Apakah dia sedang sakit mata? Rasanya, kurang sopan kalau orang tampil di momen seperti ini, tampil di depan umum, disiarkan televisi, berbicara dengan orang, tidak melepaskan kacamata hitamnya.
                    Kira-kira apa ya alasannya Rhoma berkacamata hitam itu?
                    *
                    Sampai di sini, kita kembali ke pertanyaan Najwa di awal acaranya itu: Apakah pencalonan dan kesediaan Rhoma Irama maju dalam pilpres 2014 itu serius, ataukah dagelan di akhir tahun?”
                    Menurut anda?

                    Powered by Telkomsel BlackBerry®

                    ------------------------------------

                    Yahoo! Groups Links





                    ------------------------------------

                    Yahoo! Groups Links

                    <*> To visit your group on the web, go to:
                        http://groups.yahoo.com/group/sdmmigas/

                    <*> Your email settings:
                        Individual Email | Traditional

                    <*> To change settings online go to:
                        http://groups.yahoo.com/group/sdmmigas/join
                        (Yahoo! ID required)

                    <*> To change settings via email:
                        sdmmigas-digest@yahoogroups.com
                        sdmmigas-fullfeatured@yahoogroups.com

                    <*> To unsubscribe from this group, send an email to:
                        sdmmigas-unsubscribe@yahoogroups.com

                    <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
                        http://docs.yahoo.com/info/terms/



                  • Saebani Hardjono
                    Andai kita yg diwwwcri Matanya Najwa, apa kiranya kita bisa menjawab secara berbeda dibanding bang OIRM ya. Kalo tidak, berarti kita juga termasuk kelompok yg
                    Message 9 of 10 , Dec 3, 2012
                    • 0 Attachment
                      Andai kita yg diwwwcri Matanya Najwa, apa kiranya kita bisa menjawab secara berbeda dibanding bang OIRM ya. Kalo tidak, berarti kita juga termasuk kelompok yg dikatakan P BS.

                      Mnrt ilmu Psy, bila ada ssor sakit jiwa bukan karena kelainan fungsional, mk yg menyebabkan sakit itu lingkungannya. Nah menyimak yg dikatakan P BS, ini lbh memprihatinkan, krn yg sakit bukan ssor melainkan Bangsa. Klo dicari penyebab sakitnya, mnrt hemat saya tak jauh2 dari azab YME, krn tak lagi diindahkannya aturan dan kehendak Nya..

                      Obat penyembuhnya?...bertobatlah wahai Bangsaku...jangan...se-mena2...jangan se-kena2..jangan se-mua2...jangan ber-pura2...jangan ber-hura2..jangan ber-gila2...jangan suka memfitnah...jangan suka menjarah...jangan suka serakah...mari kita menengadah...mari kita bersedekah...mari kita berserah...kita perbaiki niat... kita perbaiki sikap...kita perbaiki martabat...kita rengkuh kemuliaan...kita perkuat kepedulian...kita ikat persaudaraan...banyak yang harus kita lakukan...banyak yang harus kita tinggalkan...banyak yang harus kita mohonkan...SATU KATA...insaflah...

                      shardjono

                      2012/12/3 bambang supriyanto <bambang.supriyanto35@...>
                      Bangsa ini 'sakit jiwa' cukup parah.

                      Saya prihatin,
                      BS.
                      Powered by Telkomsel BlackBerry®

                      -----Original Message-----
                      Subject: Re: [sdmmigas] Interview Capres

                      Seharusnya Rhoma  ukur bayangan sepanjang badan
                      TMN
                      Powered by Telkomsel BlackBerry®

                      -----Original Message-----
                      From: dkuntadi2002@...
                      Sender: sdmmigas@yahoogroups.com
                      Date: Sun, 2 Dec 2012 20:48:42
                      To: sdmmigas@yahoogroups.com<sdmmigas@yahoogroups.com>
                      Reply-To: sdmmigas@yahoogroups.com
                      Subject: [sdmmigas] Interview Capres



                      Di awal acaranya, Mata Najwa, Metro TV, Rabu, 28 November 2012, host Najwa Shihab mengatakan, apakah bersedianya dan siapnya Rhoma Irama maju sebagai capres 2014 itu serius atau hanya suatu dagelan di akhir tahun?

                      Dari mengikuti acara tersebut, menurut saya, ini termasuk dagelan di akhir tahun.
                      Adegan layaknya dagelan terjadi ketika percakapan Najwa Shihab dengan Rhoma Irama itu memasuki topik kedua dan ketiga (terakhir), setelah di topik pertama berbicara soal latar belakang pencalonan dan kesediaannya dicalonkan sebagai capres 2014, yang sangat kental SARA-nya itu.
                      Topik kedua itu adalah tentang isu-isu publik yang penting yang saat ini sedang ramai diperbincangkan dan menjadi kontroversi di masyarakat. Yakni soal subsidi BBM, APBN, dan pembubaran BP Migas.
                      Sedangkan topik ketiga, tentang konsekuensi seseorang mau menjadi presiden, pejabat publik. Yakni,  harus siap dikritik, siap “ditelanjangi”, siap “dikupas,” bahkan sampai ke soal-soal pribadinya oleh publik.
                      Najwa bertanya, apakah Rhoma mengikuti perkembangan isu-isu publik yang penting dan saat ini, yang  sedang ramai dibicarakan itu. Rhoma menjawab bahwa dia mengikutinya, tetapi tidak terlalu intens.
                      Ketika Najwa bertanya kepada Rhoma Irama hal-hal yang sangat mendasar dan sederhana mengenai subsidi BBM, APBN, dan pembubaran BP Migas, Rhoma beberapa kali terlihat tergagap-gagap menjawabnya. Berkali-kali dia terlihat menjilat bibirnya. Tanda bahwa dia sedang sangat grogi, sampai mulutnya terasa kering. Kalau menjawab, tidak nyambung. Kelihatan sekali bahwa dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana dan umum dari Najwa Shihab tentang isu-isu publik yang penting itu, Rhoma tidak mampu menjawabnya dengan baik dan benar. Dia bahkan beberapakali berusaha mengeles, tetapi bukan nama najwa Shihab kalau tidak bisa mengejar terus, sehingga Rhoma pun beberapa kali terpojok oleh jawabannya sendiri. Rhoma Irama telah merasakan betapa panasnya  kursi panasnya Mata Najwa.
                      Beberapakali Rhoma mengeles dari pertanyaan-pertanyaan Najwa,  dengan mengatakan, “Saya bukan ahli soal perminyakan,” “Untuk menjadi seorang presiden bukan berarti harus menjadi Superman yang mengerti semuanya,” “Ini ‘kan masih wacana sebagai capres. Belum capres. Nanti kalau sudah capres baru saya akan mendalaminya secara detail,” dan seterusnya.
                      Najwa memotong gaya mengeles Rhoma itu dengan mengatakan, “Yang saya tanyakan itu hal-hal yang sederhana, yang umum-umum saja,” “Maka itu, saya tanyakan secara umum saja, global saja, tidak menanyakan sampai ke soal angka-angkanya, …”

                      Tentang Subsidi BBM: Apakah anda setuju soal subsidi BBM, atau sebaiknya dikurangi secara bertahap?
                      Rhoma: “Secara spesifik saya bukan ahli di bidang minyak …”
                      Najwa: “Saya tidak bertanya secara spesifik, tetapi lebih pada apakah mendukung policy seperti itu? Dengan konsekuensi semakin memberatkan anggaran. Yang umum-umum saja, jawabnya.”
                      Rhoma: “Juga, saya tidak dalam kapasitas untuk menjawab hal itu. Saya bukan ahli perminyakan. Bahwa seorang presiden bukan harus menjadi Superman untuk mengerti segala hal.”
                      Najwa: “Maka itu, saya tidak meminta anda menjelaskan dengan angka-angka. Yang umum saja, yang global saja.”
                      Rhoma pun menjawabnya soal orientasi kepada kemakmuran rakyat, segala hal bisa dilakukan.

                      Tentang APBN: Sebagai seorang presiden anda harus mampu mengelola keuangan negara secara sehat. Menurut anda, bagaimana itu mengelola APBN secara sehat?
                      Rhoma menjawabnya dengan menyebutkan Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 sebagai sumber pemikirannya, untuk diimplementasi selanjutnya dengan cara yang berbeda untuk setiap hal.
                      Najwa: “Dalam konteks APBN, mengelola keuangan, apakah dalam porsi sekarang, 80 persen lebih banyak digunakan untuk belanja rutin: subsidi, gaji pegawai, biaya operasional. Sedangkan biaya modal hanya 10 persen Apakah itu ideal?”
                      Dengan gugup Rhoma berkata, “Eee…ee… Saya belum bicara soal itu, ya …”
                      Najwa: “Anda tidak melihat bahwa hal-hal ini penting diketahui, apabila kita benar-benar berniat membenahi negeri ini?”
                      Rhoma mengeles, “Begini, begini, kita ‘kan baru dalam tahapan wacana capres. Belum sampai ke capres. Ada tahapan-tahapannya. Nanti pada tahapan itu baru kami mendalaminya secara detail dari pada persoalan-persoalan bangsa ini.”
                      Najwa mengejarnya, “Tapi, tadi, bukan detail, dong, pertanyaan saya. Itu masih sesuatu yang sangat umum.”
                      Rhoma kembali bicara soal UUD 1945. Semua itu berpatokan pada UUD 1945, katanya.

                      Tentang Keputusan MK yang membubarkan BP Migas: Apakah itu keputusan yang tepat?
                      Rhoma: “Mmmmm … saya belum bisa menilai itu secara kongkrit. Karena saya belum mendalami itu secara serius ….”
                      Hati-hati bicara dengan Najwa Shihab, Karena setiap perkataan yang keluar dari mulutmu bisa dijadikan bumerang untuk “ menghantam” balik anda!
                      Najwa: “Tetapi, memang anda akui bahwa anda belum detail dan masuk ke hal-hal yang umum seperti tadi, ya? … Dan merasa tidak penting untuk diketahui? (oleh karena itu belum mendalaminya secara serius)”
                      Rhoma: “Maka itu, tadi saya katakan bahwa ini masih wacana … Masih wacana …”
                      Najwa: “Masih wacana, tetapi anda mengatakan sudah siap untuk digadang-gadang. Berarti anda yakin akan bisa (menjadi presiden)?”
                      Rhoma: “Saya rasa presiden itu punya think tank, punya kabinet, punya brain trust. Untuk bisa memecahkan berbagai masalah.”
                      Najwa: “Tapi, harus dipastikan juga bahwa presiden tidak dikelabui anak buahnya.”
                      Rhoma: “Yes, tentu saja.  Yang penting presiden itu punya misi, visi dan konsep yang jelas untuk mengelola negara ini dari berbagai aspek.
                      Oh, jadi, rupanya menurut Bang Rhoma menjadi presiden itu tidak perlu pintar, tidak perlu tahu tentang hal-hal yang mendasar soal seperti subsidi BBM, APBN, dan sejenisnya, seperti yang diajukan oleh Najwa Shihab itu, ya? Yang penting ada para pembantunya, menterinya. Tapi, masa iya, pembantu-pembantunya itu jauh lebih pintar daripada presidennya sendiri? Kalau rapat-rapat kabient, misalnya,  bisa-bisa serba tidak nyambung pembicaraannya.
                      Apakah iya, untuk mempunyai visi dan misi serta konsep yang jelas seorang presiden tidak harus mempunyai dasar pengetahuan dan wawasan yang cukup untuk itu?
                      *
                      Selesai “menguji” pengetahuan umum Rhoma Irama, Najwa beralih ke soal konsekuensi seseorang menjadi presiden. Antara lain siap “dikuliti”,  siap “ditelanjangi”, siap dibicarakan soal-soal pribadinya, bagaimana track record-nya diukur,  dan sebagainya.
                      “Apakah anda siap untuk itu?” Tanya Najwa.
                      “Siap,” jawab Rhoma, “Itu hal yang biasa. Hukum alam …”
                      Najwa:  “Jadi, tidak apa-apa juga, kalau misalnya, saya bertanya hal-hal yang bersifat pribadi dari Abang, sekarang?”
                      “Silakan!”
                      “Abang berpoligami?”
                      Airmuka Rhoma sejenak berubah, terdiam sesaat, kemudian dengan tersenyum sinis, dia menjawab, “Mmmm… Saya rasa ini bukan untuk konsumsi publik, dan anda mengerti itu.”
                      Najwa: “Tadi, kan konteksnya sudah siap dikuliti hal-hal yang memang kaitannya kalau menjadi pejabat publik. Anda keberatan menjawab itu?”
                      “Nggak juga, sih. Tapi publik kan tahu siapa saya?”
                      “Berarti anda memang berpoligami …”
                      “Kalau anda menanyakan itu, berarti anda nggak mengerti tentang saya!” Seru Rhoma sambil menunjuk-nunjuk Najwa.
                      “Oke, sikap anda kemudian sudah bisa dipahami.”
                      Mungkin karena merasakan hampir semua perntanyaannya dijawab oleh Rhoma Irama seperti jawaban murid SMP, atau bahkan SD, Najwa pun menanyakan, skill apa yang dimiliki oleh Rhoma Irama selain musik dan berkhotbah.
                      Dibandingkan dengan pertanyaan tentang poligami, yang membuatnya tersinggung itu, seharusnya pertanyaan ini lebih patut membuat Rhoma tersinggung. Tetapi, ternyata tidak. Dengan mantap Rhoma menjawab bahwa dia ini sebetulnya dulu pernah kuliah di (Fakultas) Sosial Politik, — entah di perguruan tinggi mana, tidak disebutkan. Tetapi, dengan terus terang, dia bilang, “Saya dulu itu mahasiswa drop out.”
                      Namun demikian, kata Rhoma, ketertarikannya dengan dunia politik itu sangat kuat. Terbukti dari kiprahnya di dunia ini mulai di tahun 1977 sampai dengan 1997. Sampai masuk Senayan (maksudnya ketika menjadi anggota DPR dari Golkar).
                      *
                      Lepas dari semua dialog antara Najwa dengan Rhoma itu, ada satu hal yang sebenarnya menjadi pertanyaan di dalam hati saya, kenapa kok kali ini Rhoma Irama tampil dengan berkacamata hitam? Kenapa di sepanjang acara Mata Najwa itu Rhoma Irama terus berkaca mata hitam? Apakah dia sedang sakit mata? Rasanya, kurang sopan kalau orang tampil di momen seperti ini, tampil di depan umum, disiarkan televisi, berbicara dengan orang, tidak melepaskan kacamata hitamnya.
                      Kira-kira apa ya alasannya Rhoma berkacamata hitam itu?
                      *
                      Sampai di sini, kita kembali ke pertanyaan Najwa di awal acaranya itu: Apakah pencalonan dan kesediaan Rhoma Irama maju dalam pilpres 2014 itu serius, ataukah dagelan di akhir tahun?”
                      Menurut anda?

                      Powered by Telkomsel BlackBerry®

                      ------------------------------------

                      Yahoo! Groups Links





                      ------------------------------------

                      Yahoo! Groups Links





                      ------------------------------------

                      Yahoo! Groups Links

                      <*> To visit your group on the web, go to:
                          http://groups.yahoo.com/group/sdmmigas/

                      <*> Your email settings:
                          Individual Email | Traditional

                      <*> To change settings online go to:
                          http://groups.yahoo.com/group/sdmmigas/join
                          (Yahoo! ID required)

                      <*> To change settings via email:
                          sdmmigas-digest@yahoogroups.com
                          sdmmigas-fullfeatured@yahoogroups.com

                      <*> To unsubscribe from this group, send an email to:
                          sdmmigas-unsubscribe@yahoogroups.com

                      <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
                          http://docs.yahoo.com/info/terms/


                    • Marcel Winokan
                      Bang Rhoma yang saya hormati.. Jangan salahkan turis pakai bikini.. Mereka mencari kehangatan matahari.. Di pantai kebanggaan negeri ini.. Untuk itu tolonglah
                      Message 10 of 10 , Dec 11, 2012
                      • 0 Attachment
                        Bang Rhoma yang saya hormati..
                        Jangan salahkan turis pakai bikini..
                        Mereka mencari kehangatan matahari..
                        Di pantai kebanggaan negeri ini..
                        Untuk itu tolonglah dipahami..
                        Tak mungkin berjemur pakai dasi..

                        Bang Rhoma yang saya hormati..
                        Mulailah introspeksi diri..
                        Kelak kau temukan kebenaran sejati..
                        Jangan banyak teori..
                        Apalagi merasa suci..
                        Engkau sendiri berpoligami..
                        Kami anak pantai Bali..
                        Terbiasa dengan pemandangan begini..
                        Biarpun rambut warna-warni..
                        Kami masih punya nurani..
                        Tak pernah ada syahwat menari..

                        Bang Rhoma yang saya hormati..
                        Silahkan engkau datang kemari..
                        Nikmati alam anugerah ilahi..
                        Kami sambut dengan suka hati..
                        Surfing pun akan kami ajari..
                        Meluncur di atas ombak tinggi..
                        Akan tetapi..
                        Janganlah engkau pelototi..
                        Kalau ada bodi seksi..
                        Apalagi sampai birahi..

                        Bang Rhoma yang saya hormati..
                        Mereka jangan dicaci maki..
                        Apalagi dituduh ****ografi..
                        Semua itu keindahan tubuh yang alami..
                        Dari negeri Sakura sampai Chili..
                        Semuanya ada disini..
                        Mereka tidak mencari sensasi..
                        Tapi menghilangkan kepenatan sehari-hari..
                        Jangan fanatik budaya Arab Saudi..
                        Ingatlah budaya Indonesia asli..
                        Sensual tapi penuh arti..
                        Jika kau paksa terapkan di Bali..
                        Semua itu akan jadi basi..

                        Bang Rhoma yang saya hormati..
                        Jika engkau sudah datang kemari..
                        Satu hal yang saya peringati..
                        Meski ada turis cantik sekali..
                        Janganlah kau jadikan istri..
                        Karena istrimu sudah banyak sekali...

                        From: "hbs0603@..." <hbs0603@...>
                        To: sdmmigas@yahoogroups.com
                        Sent: Monday, December 3, 2012 9:48 AM
                        Subject: Re: [sdmmigas] Interview Capres

                        Mas BS, sdh bs sy baca anotasinya..thanks ya mas...
                        Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

                        -----Original Message-----
                        From: "bambang supriyanto" <bambang.supriyanto35@...>
                        Sender: sdmmigas@yahoogroups.com
                        Date: Mon, 3 Dec 2012 01:31:14
                        To: <sdmmigas@yahoogroups.com>
                        Reply-To: sdmmigas@yahoogroups.com
                        Subject: Re: [sdmmigas] Interview Capres

                        Bangsa ini 'sakit jiwa' cukup parah.

                        Saya prihatin,
                        BS.
                        Powered by Telkomsel BlackBerry®

                        -----Original Message-----
                        From: temunas@...
                        Sender: sdmmigas@yahoogroups.com
                        Date: Sun, 2 Dec 2012 23:43:33
                        To: sdmmigas@yahoogroups.com<sdmmigas@yahoogroups.com>
                        Reply-To: sdmmigas@yahoogroups.com
                        Subject: Re: [sdmmigas] Interview Capres

                        Seharusnya Rhoma  ukur bayangan sepanjang badan
                        TMN
                        Powered by Telkomsel BlackBerry®

                        -----Original Message-----
                        From: dkuntadi2002@...
                        Sender: sdmmigas@yahoogroups.com
                        Date: Sun, 2 Dec 2012 20:48:42
                        To: sdmmigas@yahoogroups.com<sdmmigas@yahoogroups.com>
                        Reply-To: sdmmigas@yahoogroups.com
                        Subject: [sdmmigas] Interview Capres



                        Di awal acaranya, Mata Najwa, Metro TV, Rabu, 28 November 2012, host Najwa Shihab mengatakan, apakah bersedianya dan siapnya Rhoma Irama maju sebagai capres 2014 itu serius atau hanya suatu dagelan di akhir tahun?

                        Dari mengikuti acara tersebut, menurut saya, ini termasuk dagelan di akhir tahun.
                        Adegan layaknya dagelan terjadi ketika percakapan Najwa Shihab dengan Rhoma Irama itu memasuki topik kedua dan ketiga (terakhir), setelah di topik pertama berbicara soal latar belakang pencalonan dan kesediaannya dicalonkan sebagai capres 2014, yang sangat kental SARA-nya itu.
                        Topik kedua itu adalah tentang isu-isu publik yang penting yang saat ini sedang ramai diperbincangkan dan menjadi kontroversi di masyarakat. Yakni soal subsidi BBM, APBN, dan pembubaran BP Migas.
                        Sedangkan topik ketiga, tentang konsekuensi seseorang mau menjadi presiden, pejabat publik. Yakni,  harus siap dikritik, siap “ditelanjangi”, siap “dikupas,” bahkan sampai ke soal-soal pribadinya oleh publik.
                        Najwa bertanya, apakah Rhoma mengikuti perkembangan isu-isu publik yang penting dan saat ini, yang  sedang ramai dibicarakan itu. Rhoma menjawab bahwa dia mengikutinya, tetapi tidak terlalu intens.
                        Ketika Najwa bertanya kepada Rhoma Irama hal-hal yang sangat mendasar dan sederhana mengenai subsidi BBM, APBN, dan pembubaran BP Migas, Rhoma beberapa kali terlihat tergagap-gagap menjawabnya. Berkali-kali dia terlihat menjilat bibirnya. Tanda bahwa dia sedang sangat grogi, sampai mulutnya terasa kering. Kalau menjawab, tidak nyambung. Kelihatan sekali bahwa dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana dan umum dari Najwa Shihab tentang isu-isu publik yang penting itu, Rhoma tidak mampu menjawabnya dengan baik dan benar. Dia bahkan beberapakali berusaha mengeles, tetapi bukan nama najwa Shihab kalau tidak bisa mengejar terus, sehingga Rhoma pun beberapa kali terpojok oleh jawabannya sendiri. Rhoma Irama telah merasakan betapa panasnya  kursi panasnya Mata Najwa.
                        Beberapakali Rhoma mengeles dari pertanyaan-pertanyaan Najwa,  dengan mengatakan, “Saya bukan ahli soal perminyakan,” “Untuk menjadi seorang presiden bukan berarti harus menjadi Superman yang mengerti semuanya,” “Ini ‘kan masih wacana sebagai capres. Belum capres. Nanti kalau sudah capres baru saya akan mendalaminya secara detail,” dan seterusnya.
                        Najwa memotong gaya mengeles Rhoma itu dengan mengatakan, “Yang saya tanyakan itu hal-hal yang sederhana, yang umum-umum saja,” “Maka itu, saya tanyakan secara umum saja, global saja, tidak menanyakan sampai ke soal angka-angkanya, …”

                        Tentang Subsidi BBM: Apakah anda setuju soal subsidi BBM, atau sebaiknya dikurangi secara bertahap?
                        Rhoma: “Secara spesifik saya bukan ahli di bidang minyak …”
                        Najwa: “Saya tidak bertanya secara spesifik, tetapi lebih pada apakah mendukung policy seperti itu? Dengan konsekuensi semakin memberatkan anggaran. Yang umum-umum saja, jawabnya.”
                        Rhoma: “Juga, saya tidak dalam kapasitas untuk menjawab hal itu. Saya bukan ahli perminyakan. Bahwa seorang presiden bukan harus menjadi Superman untuk mengerti segala hal.”
                        Najwa: “Maka itu, saya tidak meminta anda menjelaskan dengan angka-angka. Yang umum saja, yang global saja.”
                        Rhoma pun menjawabnya soal orientasi kepada kemakmuran rakyat, segala hal bisa dilakukan.

                        Tentang APBN: Sebagai seorang presiden anda harus mampu mengelola keuangan negara secara sehat. Menurut anda, bagaimana itu mengelola APBN secara sehat?
                        Rhoma menjawabnya dengan menyebutkan Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 sebagai sumber pemikirannya, untuk diimplementasi selanjutnya dengan cara yang berbeda untuk setiap hal.
                        Najwa: “Dalam konteks APBN, mengelola keuangan, apakah dalam porsi sekarang, 80 persen lebih banyak digunakan untuk belanja rutin: subsidi, gaji pegawai, biaya operasional. Sedangkan biaya modal hanya 10 persen Apakah itu ideal?”
                        Dengan gugup Rhoma berkata, “Eee…ee… Saya belum bicara soal itu, ya …”
                        Najwa: “Anda tidak melihat bahwa hal-hal ini penting diketahui, apabila kita benar-benar berniat membenahi negeri ini?”
                        Rhoma mengeles, “Begini, begini, kita ‘kan baru dalam tahapan wacana capres. Belum sampai ke capres. Ada tahapan-tahapannya. Nanti pada tahapan itu baru kami mendalaminya secara detail dari pada persoalan-persoalan bangsa ini.”
                        Najwa mengejarnya, “Tapi, tadi, bukan detail, dong, pertanyaan saya. Itu masih sesuatu yang sangat umum.”
                        Rhoma kembali bicara soal UUD 1945. Semua itu berpatokan pada UUD 1945, katanya.

                        Tentang Keputusan MK yang membubarkan BP Migas: Apakah itu keputusan yang tepat?
                        Rhoma: “Mmmmm … saya belum bisa menilai itu secara kongkrit. Karena saya belum mendalami itu secara serius ….”
                        Hati-hati bicara dengan Najwa Shihab, Karena setiap perkataan yang keluar dari mulutmu bisa dijadikan bumerang untuk “ menghantam” balik anda!
                        Najwa: “Tetapi, memang anda akui bahwa anda belum detail dan masuk ke hal-hal yang umum seperti tadi, ya? … Dan merasa tidak penting untuk diketahui? (oleh karena itu belum mendalaminya secara serius)”
                        Rhoma: “Maka itu, tadi saya katakan bahwa ini masih wacana … Masih wacana …”
                        Najwa: “Masih wacana, tetapi anda mengatakan sudah siap untuk digadang-gadang. Berarti anda yakin akan bisa (menjadi presiden)?”
                        Rhoma: “Saya rasa presiden itu punya think tank, punya kabinet, punya brain trust. Untuk bisa memecahkan berbagai masalah.”
                        Najwa: “Tapi, harus dipastikan juga bahwa presiden tidak dikelabui anak buahnya.”
                        Rhoma: “Yes, tentu saja.  Yang penting presiden itu punya misi, visi dan konsep yang jelas untuk mengelola negara ini dari berbagai aspek.
                        Oh, jadi, rupanya menurut Bang Rhoma menjadi presiden itu tidak perlu pintar, tidak perlu tahu tentang hal-hal yang mendasar soal seperti subsidi BBM, APBN, dan sejenisnya, seperti yang diajukan oleh Najwa Shihab itu, ya? Yang penting ada para pembantunya, menterinya. Tapi, masa iya, pembantu-pembantunya itu jauh lebih pintar daripada presidennya sendiri? Kalau rapat-rapat kabient, misalnya,  bisa-bisa serba tidak nyambung pembicaraannya.
                        Apakah iya, untuk mempunyai visi dan misi serta konsep yang jelas seorang presiden tidak harus mempunyai dasar pengetahuan dan wawasan yang cukup untuk itu?
                        *
                        Selesai “menguji” pengetahuan umum Rhoma Irama, Najwa beralih ke soal konsekuensi seseorang menjadi presiden. Antara lain siap “dikuliti”,  siap “ditelanjangi”, siap dibicarakan soal-soal pribadinya, bagaimana track record-nya diukur,  dan sebagainya.
                        “Apakah anda siap untuk itu?” Tanya Najwa.
                        “Siap,” jawab Rhoma, “Itu hal yang biasa. Hukum alam …”
                        Najwa:  “Jadi, tidak apa-apa juga, kalau misalnya, saya bertanya hal-hal yang bersifat pribadi dari Abang, sekarang?”
                        “Silakan!”
                        “Abang berpoligami?”
                        Airmuka Rhoma sejenak berubah, terdiam sesaat, kemudian dengan tersenyum sinis, dia menjawab, “Mmmm… Saya rasa ini bukan untuk konsumsi publik, dan anda mengerti itu.”
                        Najwa: “Tadi, kan konteksnya sudah siap dikuliti hal-hal yang memang kaitannya kalau menjadi pejabat publik. Anda keberatan menjawab itu?”
                        “Nggak juga, sih. Tapi publik kan tahu siapa saya?”
                        “Berarti anda memang berpoligami …”
                        “Kalau anda menanyakan itu, berarti anda nggak mengerti tentang saya!” Seru Rhoma sambil menunjuk-nunjuk Najwa.
                        “Oke, sikap anda kemudian sudah bisa dipahami.”
                        Mungkin karena merasakan hampir semua perntanyaannya dijawab oleh Rhoma Irama seperti jawaban murid SMP, atau bahkan SD, Najwa pun menanyakan, skill apa yang dimiliki oleh Rhoma Irama selain musik dan berkhotbah.
                        Dibandingkan dengan pertanyaan tentang poligami, yang membuatnya tersinggung itu, seharusnya pertanyaan ini lebih patut membuat Rhoma tersinggung. Tetapi, ternyata tidak. Dengan mantap Rhoma menjawab bahwa dia ini sebetulnya dulu pernah kuliah di (Fakultas) Sosial Politik, — entah di perguruan tinggi mana, tidak disebutkan. Tetapi, dengan terus terang, dia bilang, “Saya dulu itu mahasiswa drop out.”
                        Namun demikian, kata Rhoma, ketertarikannya dengan dunia politik itu sangat kuat. Terbukti dari kiprahnya di dunia ini mulai di tahun 1977 sampai dengan 1997. Sampai masuk Senayan (maksudnya ketika menjadi anggota DPR dari Golkar).
                        *
                        Lepas dari semua dialog antara Najwa dengan Rhoma itu, ada satu hal yang sebenarnya menjadi pertanyaan di dalam hati saya, kenapa kok kali ini Rhoma Irama tampil dengan berkacamata hitam? Kenapa di sepanjang acara Mata Najwa itu Rhoma Irama terus berkaca mata hitam? Apakah dia sedang sakit mata? Rasanya, kurang sopan kalau orang tampil di momen seperti ini, tampil di depan umum, disiarkan televisi, berbicara dengan orang, tidak melepaskan kacamata hitamnya.
                        Kira-kira apa ya alasannya Rhoma berkacamata hitam itu?
                        *
                        Sampai di sini, kita kembali ke pertanyaan Najwa di awal acaranya itu: Apakah pencalonan dan kesediaan Rhoma Irama maju dalam pilpres 2014 itu serius, ataukah dagelan di akhir tahun?”
                        Menurut anda?

                        Powered by Telkomsel BlackBerry®

                        ------------------------------------

                        Yahoo! Groups Links





                        ------------------------------------

                        Yahoo! Groups Links





                        ------------------------------------

                        Yahoo! Groups Links





                        ------------------------------------

                        Yahoo! Groups Links

                        <*> To visit your group on the web, go to:
                            http://groups.yahoo.com/group/sdmmigas/

                        <*> Your email settings:
                            Individual Email | Traditional

                        <*> To change settings online go to:
                            http://groups.yahoo.com/group/sdmmigas/join
                            (Yahoo! ID required)

                        <*> To change settings via email:
                            sdmmigas-digest@yahoogroups.com
                            sdmmigas-fullfeatured@yahoogroups.com

                        <*> To unsubscribe from this group, send an email to:
                            sdmmigas-unsubscribe@yahoogroups.com

                        <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
                            http://docs.yahoo.com/info/terms/





                      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.