Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

RH 17-31 Oktober 2010

Expand Messages
  • Leny
    Minggu, 17 Oktober 2010 : Minggu biasa ke duapuluh sembilan Mengenang Santo Ignatius, Uskup dari Antiokhia. Dia menerima penghukuman mati, dan dibawa ke Roma
    Message 1 of 5 , Oct 5, 2010

     

    Minggu, 17 Oktober 2010 : Minggu biasa ke duapuluh sembilan

    Mengenang Santo Ignatius, Uskup dari Antiokhia. Dia menerima penghukuman mati, dan dibawa ke Roma dimana dia meninggal sebagai martir (†107).

    Kel 17:8-13; Mzm 121; 2 Tim 3:14-4:2; Luk 18:1-8

     

    Kita semakin mendekati akhir dari tahun liturgi. Tahun ini telah menjadi masa dimana, dari hari Minggu ke hari Minggu berikutnya, kita telah dipimpin untuk merenungkan misteri Yesus. Minggu-minggu dan hari-hari yang kita lalui adalah seperti waktu memanggang roti, dikembangkan dengan ragi dari Firman Tuhan. Juga pada hari Minggu ini kita menerima karunia ini yang akan diteruskan di sepanjang kehidupan dan hari-hari kita. Bacaan Injil pada hari ini berisi sebuah perumpamaan singkat mengenai seorang janda yang terus menerus mengajukan permohonan, suatu kejadian yang biasa terjadi tidak hanya dalam adat kebiasaan pada masa Perjanjian Lama. Bahkan sampai pada hari ini, bukanlah merupakan hal yang tidak biasa bahwa beberapa orang yang sombong telah menyalahgunakan kekuasaan mereka untuk mengambil dari orang miskin sedikit harta yang mereka miliki. Kembali pada perumpamaan dalam bacaan Injil pada hari ini, sang hakim, dengan sikap yang adil dan tepat pada waktunya, seharusnya membela janda miskin tersebut, namun sebaliknya dia malah melakukan tindakan yang salah: dia tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun: “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun” (Luk 18:2). Bacaan ini menunjukkan kesombongan dari orang yang memiliki kekuasaan, yang seringkali terjadi dalam sejarah kehidupan kita. Sebelumnya nabi Yesaya juga telah mencela sikap mereka: “Celakalah mereka yang menentukan ketetapan-ketetapan yang tidak adil, dan mereka yang mengeluarkan keputusan-keputusan kelaliman, untuk menghalang-halangi orang-orang lemah mendapat keadilan dan untuk merebut hak orang-orang sengsara di antara umat-Ku, supaya mereka dapat merampas milik janda-janda, dan dapat menjarah anak-anak yatim!” (Yes 10:1-2).

    Pada saat ini dimulailah kisah yang diceritakan dalam perumpamaan tersebut. Apa yang akan dilakukan oleh janda miskin ini dalam situasi ketidakadilan yang sangat jelas ini?  Disamping segala hal lain di dunia Yahudi pada masa itu, wanita dalam situasi tersebut dilihat sebagai lambang dari kelemahan dan yang paling rentan terhadap penyiksaan atau pelecehan. Namun demikian, Tuhan membela para janda yang tidak lagi berada dibawah perlindungan para suami mereka. Bahkan, Tuhan seringkali disebut sebagai “pelindung bagi para janda” (Mzm 68:5). Namun demikian, wanita ini tidaklah menyerah dan pasrah terhadap ketidakadilan yang dia derita, tidak seperti banyak wanita lain yang biasanya bertindak seperti itu. Dia jelas merupakan seorang korban, tapi bukan korban yang menyerah terhadap keadaannya. Dengan berkeras, dia pergi kehadapan sang hakim dan meminta keadilan. Dia tidak hanya pergi sekali saja, tapi berkali-kali, dan dengan gigih dia tidak pernah lelah untuk meminta keadilan sampai sang hakim akhirnya memutuskan untuk mempertimbangkan kasusnya. “Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku." (Luk 18:4-5). Demikianlah perumpamaan itu akhirnya berakhir.

    Kesimpulan singkat yang diberikan oleh Yesus sangatlah penting. Pada awalnya hal ini tampak agak membingungkan, karena dia mempersamakan hakim dalam perumpamaan tersebut dengan Tuhan, tapi hal ini merupakan suatu paradoks yang pada kesempatan lain juga digunakan di dalam Injil untuk menghilangkan keraguan apapun dari pikiran kita: “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. (Ayat 6-8). Ya, Tuhan tidak akan membuat kita menunggu lama, tapi dia akan segera memberikan keadilan kepada kita dengan cepat (beberapa terjemahan menyebutkannya sebagai “tiba-tiba” atau “disaat yang paling tidak kamu bayangkan”), jika kita bertekun dalam doa kita. Memang benar, bahwa para orang yang percaya menemukan suatu kekuatan yang luar biasa dalam doa, suatu kekuatan yang mampu untuk merubah dunia. Mungkin kita semua adalah seperti janda miskin tersebut, lemah dan tidak memiliki kekuatan apapun, namun demikian, dengan bertekun dalam doa maka kelemahan ini akan menjadi suatu kekuatan yang berkuasa sama seperti yang terjadi pada janda tersebut yang pada akhirnya mampu menggerakkan kekerasan sang hakim.

    Namun sayangnya, sangatlah mudah bagi kita untuk jatuh kedalam ketidaksetiaan dan keraguan, membiarkan hal-hal duniawi, kekhawatiran kita dan keinginan kita akan rasa aman, menguasai diri kita dan membuat kita melupakan doa. Bacaan pertama dalam liturgi hari ini, diambil dari kitab Keluaran (17:8-13), yang menjadi suatu contoh dari “kekuatan yang datang dari hal yang tampak lemah” yaitu dari doa. Injil menunjukkan kepada kita gambaran mengenai Musa yang mengangkat tangannya ke arah Sorga sementara bangsa Israel berperang melawan orang Amalek di dataran Rafidim. Musa melambangkan semua orang dalam doa. Ketika dia berdoa, maka orang Israel menang, dan saat dia menurunkan tangannya, maka musuh menjadi lebih kuat. Harun dan Hur juga menolong Musa, masing-masing dari mereka berdiri disamping Musa untuk menopang tangannya sampai saat kemenangan tiba. Melalui doa yang tidak putus-putusnya maka kita orang yang percaya mampu menemukan dasar untuk membangun hidup kita dan suatu kota untuk semua umat, seperti yang telah dinyatakan dalam kitab Mazmur 127:1 : “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya”.

    Doa Hari Tuhan

     

     

    Senin, 18 Oktober 2010

    Mengenang St. Lukas, penginjil dan penulis dari kitab Kisah Para Rasul. Menurut sejarah, dia adalah seorang ahli pengobatan dan seorang pelukis.

    Luk 1:1-14. Santo Lukas

    Pada hari ini kita merayakan kenangan akan Santo Lukas, penulis dari kitab Injil ketiga dan juga kitab Kisah Para Rasul. Sebagai seorang murid dari Paulus, yang disebutkan dalam surat yang kedua kepada Timotius (4:11). Lukas mengumpulkan dalam tulisannya kesaksian dari para rasul tentang Tuhan dan juga komunitas yang pertama, terutama komunitas yang didirikan oleh Paulus. Dia mengkomunikasikan kepada kita mengenai pertumbuhan dari komunitas para murid, yang merasa tertarik akan belas kasih Yesus, akan kasihnya kepada mereka yang miskin dan sakit, dan juga akan cintanya yang tidak terbatas yang menjangkau semua orang. Lukas telah menjadi bukti dari mukjizat kasih yang sampai pada hari ini, melalui tulisannya, terus menyembuhkan hati banyak orang. Injil, yang menceritakan tentang apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Yesus, dan Kisah Para Rasul, yang menceritakan tentang pertistiwa yang terjadi dalam komunitas Kristiani dari Yerusalem sampai Roma merupakan suatu kesaksian hidup dari sejarah Gereja, yang digerakkan oleh Roh Kudus dan tidak merasa takut dalam sikap percaya kepada Tuhan dan juga dalam mengkomunikasikan kabar baik sampai ke ujung bumi.

    Doa Bersama Para Rasul

     

     

    Selasa, 19 Oktober 2010

    Wahyu 6:9-17. Meterai yang kelima dan keenam

    Anak domba tersebut terus membuka meterai, yaitu untuk menyatakan arti yang lebih mendalam dari sejarah manusia. Ketika meterai yang kelima dibuka, maka tampaklah barisan para martir, yaitu “mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki”. Mereka berada “dibawah mezbah”, disamping Yesus. Mungkin sebagai tanggapan dari gambaran ini maka mezbah dalam basilika Kristiani kuno dibangun di atas tempat dimana tubuh para martir dikuburkan, dan di setiap altar yang ada masih berisi jenasah para santa dan martir pada jaman ini.  Ketika Kain membunuh Abel dalam kitab Kejadian, Tuhan sendiri yang berkata: “Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah!” (Kej 4:10). Kita diingatkan akan jutaan martir dari abad ke duapuluh : para uskup, pendeta, para pria dan wanita yang beriman dan setia yang berasal dari berbagai kepercayaan Kristiani yang berbeda-beda, yang memberikan kesaksian mereka sampai harus menumpahkan darah mereka sendiri. Suara mereka menjangkau sampai ke altar di Sorga. Bahkan walaupun suara tersebut seringkali tidak dihiraukan, bahkan oleh kita sekalipun, namun Tuhan telah mendengarkan mereka. Dan oleh karena darah mereka itulah maka sejarah umat manusia pada abad ke dua puluh tidak jatuh secara total kedalam jurang iblis dan kematian. Mereka berdiri di hadapan kita dan menyinari jalan kita.  Mereka mengingatkan kepada kita bahwa “hal menjadi martir” yaitu “memberikan hidup bagi orang lain” merupakan inti dari Injil dan oleh karena itu juga merupakan inti dari kehidupan setiap murid. Kesaksian mereka membuat Gereja pada akhir milenium kedua ini menjadi seorang martir lagi, sama seperti Gereja yang ada pada permulaan milenium yang pertama. Nyanyian mereka merupakan panggilan universal bagi seluruh dunia untuk bertobat, untuk meninggalkan kekerasan, untuk berjalan di jalan perdamaian dan untuk merubah ketidakpedulian menjadi kasih, ketidakadilan menjadi kemurahan hati, dan kebencian menjadi pengampunan. Meterai yang keenam menunjukkan apa yang akan terjadi kepada umat ciptaan, dan terlebih lagi kepada mereka yang menciptakan kekerasan jika pertobatan ini tidak terjadi: maka akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan matahari menjadi hitam dan bulan menjadi merah, dan bintang-bintang di langit berjatuhan ke atas bumi, langit akan menyusut dan gunung-gunung dan pulau-pulau akan tergeser dari tempatnya. Tidak ada satu hal pun, bahkan juga pemerintah, yang akan mampu untuk melindungi kita dari ledakan keadilan Tuhan ketika Dia menyinari setiap sisi gelap dari kehidupan seseorang dengan cahaya siang. Mereka akan berseru meminta pertolongan dan perlindungan dengan sia-sia. “Hari Tuhan” akan datang, hari dimana Tuhan akan bertindak dalam sejarah, hari yang dinyanyikan oleh sang nabi (Amos 5:16-20). Ini bukan hanya hari “murka Tuhan”, tapi ini juga hari anak domba “yang lembut dan rendah hati” (Mat 11:29). Bahkan Kristus sendiri tampak sebagai seorang hakim yang keras. Sang rasul mempertanyakan siapakah yang mampu untuk berdiri tegak di hadapan Tuhan. Injil Matius mengatakan kepada kita bahwa mereka yang mampu berdiri tegak adalah mereka yang selalu mengarah kepada kasih. Mereka akan mendengar Tuhan berkata: “ketika Aku haus, kamu memberi aku minum”.

    Doa Maria, Bunda Allah

     

     

    Rabu, 20 Oktober 2010

    Wahyu 7:1-8. Seratus empat puluh empat ribu

    Dengan dibukanya meterai yang keenam, sang rasul memperoleh suatu penglihatan baru: dia melihat empat malaikat yang berdiri pada keempat penjuru bumi (dalam kosmologi kuno, bumi dilihat sebagai suatu bidang segi empat) dan mereka menahan keempat angin bumi. Seakan-akan mereka menahan dilepaskannya hari “murka besar”. Dengan segera seorang malaikat lain muncul – malaikat yang membawa meterai Allah, yang datang dari Timur dan menunda “waktu akhir”. Kita bisa mengatakan bahwa belas kasih Tuhan telah menunda “waktu akhir” untuk menyelamatkan mereka yang ditakdirkan untuk mendapat keselamatan dari kehancuran yang direncanakan oleh iblis. Sebelum “waktu akhir” Tuhan telah mengirimkan malaikat untuk memeteraikan dahi mereka yang akan diselamatkan oleh tandanya yaitu “tav” (huruf T), huruf terakhir dari alfabet Ibrani yang biasanya digunakan sebagai suatu tanda tangan.  Ini merupakan “tanda tangan” Tuhan pada anak-anaknya: kekuasaan iblis tidak dapat lagi menyentuh mereka. Yehezkiel juga bernubuat mengenai hal ini ketika dia menyebutkan tentang huruf T (“tav”) yang akan dituliskan pada dahi dari orang-orang Israel yang tidak menyembah berhala selama masa tragis kehancuran Yerusalem (Yeh 9:4): yang akan membuat mereka diselamatkan. Yohanes kemudian melihat kelompok orang pertama yang akan mendapatkan “tanda”. Mereka datang dari kedua belas suku Israel. Gambaran yang kompleks dari angka seratus empat puluh empat ribu ini sebenarnya merupakan suatu simbol : hal ini menandakan kepenuhan, kesempurnaan dan totalitas. Kita dapat membandingkan kelompok yang pertama ini dengan perjanjian pertama: Tuhan telah memilih mereka sebagai miliknya selamanya. Ini merupakan misteri keselamatan dari umat Israel. Dari pandangan ini, umat Kristiani dan Yahudi dapat menanti bersama sang Mesias yang akan menyelamatkan kita dari kuasa iblis dan membawa kita ke dalam sorga yang berisi kedamaian yang penuh dan pasti.

    Doa bersama orang kudus

     

    Kamis, 21 Oktober 2010

    Wahyu 7:9-17. Memakai jubah putih, dan memegang daun-daun palem di tangan mereka

    Penglihatan yang ketiga muncul dihadapan Yohanes. Di tempat sebelumya terdapat komunitas Israel pada masa lalu, maka sekarang muncul suatu kumpulan besar orang banyak, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa. Sementara umat Israel Tuhan secara teliti dihitung suku demi suku, maka kumpulan besar orang ini” yang tidak dapat terhitung banyaknya” hanya disebutkan sebagai istilah untuk menunjukkan totalitas universal: kumpulan besar orang banyak tersebut merupakan anggota dari semua orang di bumi. Dengan penglihatan ini, Yohanes menyatakan rencana besar Tuhan bagi sejarah umat manusia: penglihatan ini menyatakan Gereja universal sebagai suatu tanda dari, dan suatu cara untuk, mempersatukan seluruh umat manusia. Pertama umat Israel dan sekarang Gereja merupakan alat yang dipilih oleh Tuhan untuk mempersatukan kembali seluruh umat di bumi dalam suatu persatuan yang misterius namun nyata. Oleh karena hal inilah maka Gereja tidak dapat hidup bagi dirinya sendiri. Tuhan ingin agar Gereja tetap ada sehingga Gereja dapat menjadi suatu ragi untuk persatuan seluruh dunia. Ini merupakan suatu tanggung jawab bagi seluruh Gereja dan bagi setiap komunitas Kristiani, dan jelas hal ini juga berlaku bagi setiap murid. Kita semua dipanggil untuk membawa rencana keselamatan universal ini menjadi nyata bagi semua umat manusia di seluruh bumi. Barisan para murid Yesus hadir di hadapan kita; mereka “akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga” (Mat 8:11) seperti yang telah dikatakan oleh Yesus. Ya, orang-orang ini akan berdiri di hadapan Tuhan dan Kristus, mengenakan jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka seolah-olah untuk menyambut suatu festival yang besar dan agung. Mereka menghadapi penyiksaan dan mereka juga mengorbankan diri mereka sendiri tanpa menahan apapun; dan sekarang mereka berada di dalam kemuliaan. Mereka memberikan pujian yang sempurna di hadapan takhta, suatu liturgi abadi yang berisi pujian seperti yang dilakukan di bait Allah di Sion. Dari takhtanya yang tinggi, Tuhan membentangkan kemahnya yang suci di atas mereka, untuk merubahkan komunitas dari orang-orang pilihan kedalam baitnya yang hidup, dimana dia akan hadir dan menyatakan dirinya (ayat 15). Dalam pendahuluan untuk Injil yang keempat, Firman Tuhan yang mendirikan kemah di antara para pria dan wanita melalui tubuhnya (Yoh 1:14); sekarang orang-orang yang diselamatkan ini, yang bersama-sama dengan Kristus akan menjadi bait Allah. Paulus berkata: “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1 Kor 3:16). Kehidupan dari mereka yang diselamatkan sekarang telah menjadi penuh: “Mereka tidak menjadi lapar atau haus; angin hangat dan terik matahari tidak akan menimpa mereka, sebab Penyayang mereka akan memimpin mereka dan akan menuntun mereka ke dekat sumber-sumber air” demikian yang dituliskan oleh Nabi Yesaya (Yes 49:10). Kita yang masih menjadi pejiarah di bumi dapat terlebih dahulu merasakan kepenuhan ini setiap kali kita menyambut pimpinan Tuhan atas hidup kita.

    Doa Gereja

     

    Jumat, 22 Oktober 2010

    Mengenang Maria Salome, ibu dari Yakobus dan Yohanes, yang mengikuti Tuhan sampai ke salib dan menempatkan dia di dalam kubur.

    Wahyu 8:1-5. Meterai yang ketujuh

    Setelah tiga penglihatan yang menyertai peristiwa dibukanya meterai yang ke enam, meterai yang ketujuh juga sekarang telah terbuka. Terdapat kesunyian yang besar di sorga (selama setengah jam): ini merupakan kesunyian yang mendahului penjelmaan Tuhan. Nabi Zefanya juga menyebutkan tentang kesunyian ini ketika dia menuliskan : “Berdiam dirilah di hadapan Tuhan ALLAH! Sebab hari TUHAN sudah dekat. Sungguh TUHAN telah menyediakan perjamuan korban dan telah menguduskan para undangan-Nya.” (Zef 1:7). Keributan yang berasal dari kesombongan, kegaduhan dari keegoisan, dan suara-suara dari pemikiran yang dangkal dan kepura-puraan harus berdiam diri dihadapan Tuhan. Hal ini jelas merupakan suatu kesunyian secara eksternal, tapi yang lebih penting lagi, hal ini juga merupakan suatu kesunyian internal: kesunyian hati dan pikiran yang memungkinkan kita untuk mendengarkan Tuhan saat dia berbicara kepada kita. Selama masa kesunyian ini, sebenarnya tujuh sangkakala diberikan kepada tujuh malaikat di sorga. Kesunyian itu tampaknya telah terganggu untuk sementara, tapi kita tidak boleh melupakan bahwa menunggu merupakan bagian yang penting dari sikap mendengarkan. Seorang malaikat mendekati mezbah sorga, seakan-akan untuk melakukan suatu ritual pengorbanan malam; sang imam akan menyalakan pedupaan dan membakar kemenyan dan asap kemenyan akan naik ke tempat tinggi. Ini merupakan gambaran yang jelas dari doa para orang yang percaya yang akan naik mencapai Tuhan. Sang pemazmur menyanyikan : “Biarlah doaku adalah bagi-Mu seperti persembahan ukupan, dan tanganku yang terangkat seperti persembahan korban pada waktu petang” (Mzm 141:2). Semua doa dari semua orang yang percaya dikumpulkan bersama dalam asap dupa yang naik ini, bersama dengan tangisan dan permohonan dari mereka yang miskin dan lemah, mereka yang sendirian dan putus asa: mereka semua naik menuju sorga Tuhan. Hal ini adalah doa yang tidak putus-putusnya kepada Tuhan untuk turut campur tangan dan merubah sejarah kekerasan yang terus menggoncangkan dunia dan membuat banyak kehidupan menjadi pahit. Dengan suatu gerakan yang tiba-tiba sang malaikat mengambil pedupaan tersebut dan mengisinya dengan api dari mezbah dan melemparkannya ke bumi. Kesunyian dan pujian digantikan oleh suara yang mengerikan dari “bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi”. Doa tersebut telah mencapai mezbah sorga dan Tuhan turut campur tangan untuk melawan iblis. Doa tidak pernah tidak menghasilkan sesuatu. Bahkan sesungguhnya doa merupakan senjata yang terkuat yang dimiliki oleh orang yang percaya untuk melawan iblis dan merubahkan arah yang menyedihkan dari sejarah umat manusia. Api yang dilemparkan ke bumi merupakan penghakiman Tuhan yang membakar iblis, tapi hal ini juga merupakan cahaya bagi mereka yang benar saat mereka melihat ledakan ilahi masuk ke dalam dunia.

    Doa Salib Suci

     

    Sabtu, 23 Oktober 2010

    Wahyu 8:6-13. Empat sangkakala yang pertama

    Setelah tujuh surat dan dibukanya tujuh meterai maka sekarang terdapat tujuh sangkakala. Dalam bahasa Injil, sangkakala bukan hanya merupakan suatu alat liturgi, tapi juga suatu lambang yang menandakan ledakan keadilan Tuhan kedalam sejarah umat manusia. Sama seperti pada keempat meterai yang pertama, empat sangkakala yang pertama juga digambarkan dalam empat peristiwa yang berbeda. Gambaran yang dramatis yaitu berbagai bencana yang dilepaskan pada umat manusia dan juga ciptaan, menyatakan kekerasan dari penghakiman Tuhan. Kebrutalan yang dilakukan oleh manusia terhadap manusia yang lain di setiap sudut bumi dan juga kekerasan yang terus menimbulkan korban tidak menemukan Tuhan yang jauh dan tidak tergerak. Setiap halaman Injil menunjukkan Tuhan kepada kita sebagai Tuhan yang penuh kasih dan kadang-kadang secara dramatis terlibat dalam peristiwa sejarah dan kehidupan dari para umatnya. Kita harus secara tekun menimbang dan menyaring tindakan kita; kata-kata kita juga merupakan subyek dari penghakiman Tuhan, seperti yang telah diingatkan oleh Yesus kepada kita di dalam Injil. Sikap kita yang kurang berpikir, kepura-puraan kita, ketidakpedulian kita, kemalasan dan keburukan kita telah diuntai ke dalam satu rantai dengan suatu konsekuensi yang serius. Kita mungkin tidak menyadari akan kejahatan yang diakibatkan dari tindakan-tindakan kita. Betapa seringnya hal ini terjadi! Tindakan yang jahat seringkali merupakan suatu hal yang dangkal, dalam arti bahwa orang-orang melakukan hal-hal yang jahat, bahkan hal-hal yang mengerikan secara mudah dan tanpa pemikiran apapun. Kita tidak memikirkan akan konsekuensi dari tindakan kita kepada orang lain ataupun kepada diri kita sendiri. Tapi bayangan tersebut tidak akan berkuasa atas seluruh kaki langit; hanya sepertiga dari cahaya siang yang menjadi gelap. Masih terdapat waktu untuk membuat keputusan yang dapat merubahkan hidup kita dan mengalihkan penghakiman yang menggantung atas kita. Seekor burung nasar terbang di tengah langit dan berkata dengan suara nyaring sebanyak tiga kali ,” Celaka!” ini merupakan seruan Injil yang memanggil kita untuk merubah cara-cara kita dan mengarahkan hidup kita kepada Tuhan.

    Doa Vigili

     

     

    Minggu, 24 Oktober 2010: Minggu biasa ke-tiga puluh

    Sir 35:12-14.16-18; Mzm 34; 2 Tim 4:6-8.16-18; Luk 18:9-14

    “Doa orang miskin menembusi awan, dan ia tidak akan terhibur sampai mencapai tujuannya”. Kata-kata dari Kitab Sirakh ini (35:17) yang mengawali liturgi pada hari Minggu ini memberikan kepada kita suatu pesan yang merupakan kelanjutan dari apa yang telah kita dengar pada hari Minggu yang lalu: yaitu bahwa doa adalah suatu cakrawala dimana Firman Tuhan masuk ke dalam kita. Tidak hanya doa yang kita panjatkan itu harus dilakukan dengan tekun, seperti yang terjadi pada kisah tentang janda yang miskin, tapi juga sikap kita dalam berdoa merupakan hal yang penting. Penginjil Lukas (18:9-14) memulai kisahnya dengan suatu perumpamaan yang sangat terkenal mengenai orang Farisi dan pemungut cukai yang sama-sama pergi ke bait Allah untuk berdoa. Lukas menulis suatu alasan dari kisah perumpamaan ini, untuk memperjelas tujuan kisah ini: “Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini”.

    Sesungguhnya, perumpamaan ini menceritakan tentang suatu situasi yang seringkali kita hadapi sendiri. Setiap dari kita, jauh di dalam hati kita, memiliki suatu penilaian yang tinggi bagi diri sendiri, namun demikian dengan suatu kecenderungan untuk bersikap kritis terhadap orang lain. Dan, saya percaya bahwa saat ini merupakan suatu kesempatan yang tepat untuk menekankan hal ini dalam masa kita karena sekarang ini telah menjadi terlalu mudah bagi kita untuk mengarahkan telunjuk kita pada orang lain tanpa melihat ke dalam diri kita sendiri. Pemikiran yang salah dan penyimpangan juga muncul karena lingkungan kita seringkali mengijinkan atau memberikan toleransi terhadap hal tersebut. Tidak diragukan lagi bahwa kejatuhan dari sikap dasar moral secara umum merupakan tanggung jawab dari kita juga, walaupun mungkin dalam berbagai tingkat yang berbeda, dan sangat sulit bagi kita untuk bisa bebas sepenuhnya dari hal tersebut.

    Oleh karena itu perumpamaan pada hari Minggu ini sangatlah relevan pada masa sekarang ini. Sangat jelas bahwa banyak orang percaya bahwa diri mereka lebih benar daripada orang lain. Kita dapat mengatakan bahwa “bait Allah” dari dunia ini penuh dengan orang-orang yang “menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain”. Orang Farisi itu yang berdiri tegak di hadapan altar dan bersyukur kepada Tuhan atas kehidupan baik yang dia jalani, tidaklah berada seorang diri. Mayoritas dari kita juga turut berdiri menyertai dia. Orang Farisi tersebut memiliki banyak hal untuk disombongkan, yang akan sulit untuk dibuktikan oleh orang banyak. Dalam tindakan yang dia lakukan, mungkin dia tampak sebagai contoh. Bahwa dia pergi ke bait Allah merupakan suatu tindakan yang baik. Juga merupakan hal yang baik bahwa dia tidak bersembunyi di belakang dekat pintu seperti yang seringkali dilakukan oleh banyak orang dan masih sering dilakukan sampai pada hari ini di banyak tempat di gereja-gereja kita. Selain itu, apa yang dikatakan oleh orang Farisi tersebut di dalam bait Allah adalah benar: dia bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan dia juga berbeda dari pemungut cukai yang berdiri di belakang. Bahkan terlebih lagi, dia juga berpuasa dua kali seminggu dan memberikan sepersepuluh dari penghasilannya sebagai persembahan. Hal-hal ini bukan merupakan hal kecil dan tidak semua orang mampu untuk melakukannya. Memang sungguh benar bahwa dia harus bersyukur kepada Tuhan. Dengan demikian, tampaknya tidak ada yang salah dengan apa yang dia lakukan.

    Sedangkan mengenai pemungut cukai tersebut, banyak hal yang harus dikatakan, tapi tidak dengan cara yang sama seperti yang dilakukan oleh orang Farisi tersebut. bahwa dia berdiri jauh-jauh bukanlah merupakan suatu hal yang patut dicontoh dan pastinya karena suatu alasan tertentu maka dia tidak berani menengadah ke langit. Selain itu pasti dia juga memiliki alasan sehingga dia memukul dirinya. Dia menyebut dirinya sendiri sebagai orang berdosa, dan memang benar bahwa dia adalah orang berdosa. Singkatnya, dia adalah orang yang tidak dapat kita sebutkan sebagai orang yang benar. Namun dia menyadari hal tersebut dan dia bertobat. Disinilah terletak alasan yang dapat memutar balikkan penilaian dalam perumpamaan tersebut. Yesus jelas mengatakan bahwa tindakan yang telah kita lakukan tidak diperhitungkan oleh Tuhan, namun apa yang bernilai adalah perubahan hati kita.

    Perumpamaan ini jelas merupakan suatu pelajaran tentang doa, tapi terlebih lagi hal ini merupakan suatu pelajaran tentang sikap seperti apa yang harus kita miliki di hadapan Tuhan. Dosa orang Farisi tersebut tidak ada hubungannya dengan tindakan religiusnya (dia dengan teliti mempelajari semua hukum taurat), tapi karena kesombongannya, rasa keyakinan dirinya, pemikirannya yang sempit dan kejahatannya yang membuat dia meremehkan dan menghakimi sang pemungut cukai sebagai orang berdosa. Kita dapat melihat dosa orang Farisi tersebut dalam penghakimannya yang tidak berbelas kasih terhadap sang pemungut cukai. Orang Farisi tersebut pergi ke bait Allah bukan untuk meminta pertolongan ataupun mengajukan suatu permohonan untuk diampuni. Namun, dia merasa menjadi orang yang sangat benar untuk memberikan persembahan kepada Tuhan; hatinya penuh dengan dirinya sendiri.

    Sang pemungut cukai, walaupun dia telah mencapai suatu tingkat keberhasilan yang cukup tinggi dan cukup berada dalam hidupnya – bahkan mungkin pekerjaannya membuat dia ditakuti oleh banyak orang -  menyadari bahwa dia merupakan orang yang sangat membutuhkan. Dia pergi ke bait Allah tidak dengan tangan yang penuh melainkan dengan tangan yang kosong, dia tidak memberikan suatu persembahan namun dia mengajukan suatu permohonan. Sikapnya dihadapan Tuhan adalah seperti seorang pengemis yang meminta sedekah (pada kesempatan ini kita mencoba untuk mengingat bahwa pengemis yang diam di depan gereja melambangkan kondisi kita di hadapan Tuhan, seperti yang dituliskan oleh Santo Agustinus). Bagi sang penginjil, pemungut cukai tersebut merupakan model dari orang percaya yang sejati. Mereka tidak bergantung pada diri mereka sendiri ataupun pada pekerjaan mereka, bahkan walaupun pekerjaan itu pantas dipuji sekalipun, namun mereka hanya bergantung kepada Tuhan saja. Sekali lagi Injil memberikan suatu paradoks kepada kita: “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." (Luk 18:14). Selain itu ada juga tertulis: “sebab mereka yang miskin mencari Tuhan,” bukan mereka yang merasa benar. Pada hari ini Injil memberikan kebenaran dan kebijaksanaan yang mendalam ini untuk kita renungkan.

    Doa Hari Tuhan

     

     

    Senin, 25 Oktober 2010

    Wahyu 9:1-12. Sangkakala yang kelima

    Ketika malaikat yang kelima meniup sangkakalanya, Yohanes melihat sebuah “bintang” yang jatuh dari langit ke atas bumi; ini adalah malaikat yang telah mendapatkan anak kunci menuju lobang jurang maut, yang berisi air kemelut yang mengancam mahluk ciptaan. Sang malaikat membuka pintu dari lobang jurang maut tersebut dan dari dalamnya bencana yang baru muncul, seolah-oleh untuk menegaskan kenyataan bahwa iblis tidak memiliki kekuasaan penuh yang menyeluruh, bahkan walaupun kehadiran iblis yang menghancurkan di dunia jelas tetap menjadi suatu misteri yang besar. Sekumpulan belalang muncul dari dalam lobang dan merusak bumi dengan kekuatannya yang beracun dan menghancurkan. Dalam penggambaran yang fantastis, kita dapat melihat gambaran dari suatu peperangan dimana kereta kuda dan pengendaranya mengamuk dan menghancurkan. Belalang-belalang ini tidak merusak rumput-rumput ataupun pohon-pohon, namun mereka menyiksa para umat manusia yang tidak setia dan penuh dosa yang tidak memakai meterai Allah di dahinya. Ini merupakan penghakiman Tuhan yang jatuh pada mereka yang melakukan kejahatan dan membuat hidup menjadi suatu penghukuman yang kejam: “Dan pada masa itu orang-orang akan mencari maut, tetapi mereka tidak akan menemukannya, dan mereka akan ingin mati, tetapi maut lari dari mereka.   (Ayat 6). Kitab Ayub juga mengingatkan akan mereka “yang menantikan maut, yang tak kunjung tiba, yang mengejarnya lebih dari pada menggali harta terpendam” (Ay 3:21). Ini merupakan keputusasaan yang dirasakan oleh mereka yang merasa benci akan kehidupan mereka sendiri. Tapi rasa kehilangan arti yang mendorong orang untuk melakukan tindakan terburu nafsu, kekosongan yang menghantui banyak orang dalam masyarakat kita, termasuk juga para kaum muda, bukan merupakan suatu hal yang terjadi secara kebetulan; ini merupakan pekerjaan dari pangeran kejahatan, “malaikat jurang maut”, yang menangkap dalam jaringnya mereka yang membiarkan diri mereka ditarik masuk dan yang seringkali tidak memiliki siapa-siapa yang sungguh-sungguh mau menolong mereka. “Malaikat jurang maut” berdiri di depan bala tentara yang besar dari mahluk yang aneh ini, dan dia menyandang nama yang kejam, yang diberikan dalam bahasa Ibrani dan Yunani yaitu “Abadon” yang berarti kerajaan maut,  dan “Apolion” yang berarti “penghancur”. Malaikat dari kematian spiritual ini mengingatkan kepada kita akan apa yang telah kita baca dalam Injil Kebijaksanaan Salomo: “Tetapi karena dengki setan maka maut masuk ke dunia, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu” (Keb2:24). Namun demikian, kemenangan iblis itu terbatas; kemenangan ini tidaklah sempurna dan pasti. Namun hanya bertahan selama lima bulan saja (ayat 5), dalam suatu waktu yang terbatas. Suatu catatan terakhir memperingatkan bahwa belalang-belalang ini merupakan yang pertama dari tiga “celaka” yang dinyatakan oleh burung nasar yang misterius yang muncul pada saat sangkakala yang keempat ditiup. (Wahyu 8:13)

    Doa bagi orang miskin

     

    Selasa, 26 Oktober 2010

    Wahyu 9:13-21. Sangkakala yang keenam

    Sangkakala yang keenam menyatakan tentang tingkat penyebaran dari penghukuman tersebut yang mempengaruhi bumi. Bencana yang lain juga telah membawa penderitaan ke bumi, tapi orang-orang tidak pernah berhenti memuja berhala atau melakukan hal-hal yang jahat. Malaikat yang keenam ini melepaskan bala tentara pembasmi yang menyerang dengan keras. Empat malaikat yang terikat dekat sungai besar Efrat tersebut melambangkan bahaya yang selalu datang kepada bangsa Israel melalui sungai tersebut; dari sungai itulah keluar bala tentara yang akan menguasai mereka. Ini merupakan suatu tempat yang berarti kehancuran (menurut sejarah yang ada setelah itu, tempat itu juga telah menjadi suatu tempat munculnya Antikristus). Saat kitab Wahyu ini dituliskan, sungai Efrat merupakan tanda perbatasan antara kerajaan Romawi dan Partia: suatu tempat yang penuh dengan ketakutan dan ketegangan. Dalam salah satu kitab Apokrifa, yaitu kitab Henokh, dapat dibaca bahwa “dan pada hari-hari itu para malaikat akan kembali dan melemparkan diri mereka sendiri ke timur pada orang-orang Parthia dan orang-orang Media...mereka akan mengusik raja-raja, agar roh ketidaktenangan datang atas mereka....dan mereka akan naik dan menginjak-injak tanah mereka yang dipilih-Nya.” Bala tentara yang menghancurkan yang berbaris keluar dari sungai Efrata tampaknya melambangkan sejumlah tentara yang tidak terhitung banyaknya  (Baik para tentara yang terorganisir dan efisien dari negara-negara kaya dan juga para tentara yang tidak beraturan dari negara-negara miskin) yang masih memancing kekerasan dan menumpahkan darah dari para orang yang tidak berdosa di banyak bagian di dunia pada masa kini. Berapa banyak konflik yang masih terjadi di planet kita ini! Sungguh mencolok bahwa setiap kali, sang rasul hendak menunjukkan wujud dari suatu hukuman yang kejam, maka dia akan menggambarkannya sebagai sekumpulan bala tentara yang akan berperang. Perang tidak pernah membawa keuntungan pada bangsa apapun. Dalam perang, setiap orang kalah, bahkan juga mereka yang percaya bahwa mereka telah menang. Pada kenyataannya bibit kebencian dan balas dendam akan terus ditabur. Disamping bencana yang diakibatkan oleh peperangan, umat manusia terus mengikuti pemikiran dari iblis: inilah yang dimaksudkan dengan perkataan “mereka tidak bertobat dari pada pembunuhan, sihir, percabulan dan pencurian” (ayat 20-21). Penegasan dari “ego” seseorang dalam setiap ukuran kehidupan menimbulkan suatu suasana yang dapat mendukung terjadinya perang. Orang banyak, kelompok-kelompok dan bangsa-bangsa yang ingin membela kepentingan mereka sendiri sekali lagi akan memilih konflik dan melupakan bencana yang dibawa oleh setiap peperangan. Lebih daripada yang terjadi pada masa lalu, para orang yang percaya pada masa kini memiliki tanggung jawab untuk membuat kasih dan perdamaian tumbuh dan memotong akar kejahatan yang tumbuh dan berkembang di dalam hati manusia.

    Doa Maria, Bunda Allah

     

     

     

    Rabu, 27 Oktober 2010

    Mengenang peristiwa bersejarah yaitu pertemuan di Asisi (1986), ketika Yohanes Paulus II mengundang perwakilan dari seluruh umat Kristiani dari berbagai kepercayaan dan juga dari berbagai agama besar di seluruh dunia untuk berdoa bagi perdamaian.

    Wahyu 10:1-7. Malaikat dan tujuh guruh

    Sangkakala yang ketujuh akan ditiup, setelah enam sangkakala sebelumnya telah melepaskan iblis dan menimbulkan kehancuran dan bencana dari hembusannya. Tapi sangkakala yang ketujuh masih tidak dapat didengar. Yohanes menghentikan gambaran tersebut dan menceritakan penglihatan dari malaikat lain yang turun dari sorga. Ini adalah malaikat yang berbeda dari malaikat yang lain; bahkan dia tampaknya ditandai oleh suatu kemuliaan yang tidak biasa. Pelangi ada di atas kepalanya, tanda dari perjanjian Tuhan dengan umat manusia di bumi, yang dinyatakan kepada Nuh setelah peristiwa air bah. Mukanya sama seperti matahari. Kakinya bagaikan tiang api, dan satu kaki berada di atas laut sementara kaki yang lainnya berada di atas bumi: dia berkuasa atas seluruh ciptaan. Dia adalah Mesias, dan dia muncul sebagai Tuhan dari sejarah. Dalam tangannya ia memegang sebuah gulungan kitab kecil, yaitu Injil. Bersama dengan Putranya, Tuhan telah turut ambil bagian dalam sejarah umat manusia – yang telah dihancurkan oleh pangeran kejahatan – dan membawa keselamatan dan perdamaian. “kitab kecil” tersebut tidaklah tertutup ataupun tidak dapat dilihat; namun kitab tersebut “terbuka”, dan setiap orang dapat melihatnya. Ini adalah sebuah gulungan kitab kecil (Istilah Yunani menyebutkan yang sangat kecil dari yang sangat kecil: “gulungan kitab kecil”); mungkin tampaknya gulungan kitab ini tidak berarti, tapi sebenarnya kitab tersebut sangat kuat dengan kuasa dari Mesias. FirmanNya adalah seperti bunyi guruh yang menggoncang dunia. Dihadapan tragedi dari sejarah, dihadapan krisis yang menyiksa dunia pada permulaan milenium yang baru ini, sang rasul memperlihatkan kepada kita penglihatan mengenai malaikat yang turun dari sorga dan memberikan “gulungan kitab kecil” ini. Injil sungguh merupakan kekuatan dari para orang yang percaya kepadanya; ini merupakan Firman Tuhan yang sejati. Malaikat tersebut kemudian memberikan peringatan: “Tidak akan ada penundaan lagi!” Ya, kita tidak dapat lagi menunda-nunda pilihan kita, kita tidak dapat lagi menunggu sampai besok untuk membuat keputusan kita tentang Tuhan, dan kita juga tidak usah menunggu orang-orang yang lain. Kita harus mendengarkan suara Tuhan dan menyambutnya di dalam hati kita pada hari ini. Ini merupakan misi yang dimiliki oleh umat Kristiani. Dan hal ini harus dilakukan pada setiap generasi, termasuk generasi kita sendiri. Ini merupakan tugas yang sama dengan yang diberikan kepada Yohanes di Patmos: untuk menyambut “gulungan kitab kecil”, Firman Tuhan yang pasti, untuk menuliskannya dengan hidupnya, dan untuk mengkomunikasikannya kepada semua wanita dan pria pada masa hidupnya.
    Doa bersama orang kudus

     

    Kamis, 28 Oktober 2010

    Mengingat rasul Simon dari Kanaan, yang disebut orang Zelot, dan Yudas yang juga diberi nama Tadeus.

    Wahyu 10:8-11. Gulungan kitab itu dimakan

    Kita berada di peristiwa utama dalam kitab Wahyu. Saat melihat ke arah sang malaikat (Mesias) yang memegang “gulungan kitab kecil” di tangannya, Yohanes mendengar sebuah suara yang meminta dia untuk pergi dan mengambil gulungan tersebut dari tangan sang malaikat. Dia melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh sang anak domba, yang mengambil gulungan kitab tersebut dari tangan Dia yang duduk di atas takhta (Wahyu 5:7). Tapi, jika sang domba tersebut bergerak atas kehendak sendiri, untuk menunjukkan kekuasaannya yang penuh, maka Yohanes harus menanti perintah: “Pergilah, ambillah gulungan kitab”. Kita selalu membutuhkan seorang malaikat untuk memperlihatkan kepada kita apa yang harus kita lakukan dan bagaimana cara melakukannya. Kita semua perlu mendapat undangan untuk “mengambil gulungan kitab". Keselamatan tidak datang dari diri kita sendiri, ataupun dari usaha kita atau kerja keras kita; namun keselamatan itu datang karena kita mendengarkan Injil. Dan untuk membuat kita menjadi lebih mudah mendengarkan Injil, maka ada para saudara dan saudari yang menolong kita untuk mengerti arti yang lebih dalam dari apa yang tertulis didalam Injil tersebut. Firman Tuhan tidak dapat dibaca oleh seseorang yang berjalan sendiri dan terpisah dari komunitas para orang yang percaya. Sama seperti orang juga tidak dapat membaptis dirinya sendiri (tidak ada yang dapat menjadi orang Kristiani sendirian), maka tidak seorangpun dapat mendengarkan Firman Tuhan jika dia berada diluar dari Gereja. Kita harus selalu mendengarkan malaikat dan mendengarkan dia lagi. Yohanes mendengar suara yang juga mengatakan : “Ambillah dan makanlah dia!” Injil harus didengarkan, diikuti, dimengerti, dihafalkan, dibaca dan dibaca kembali, dilihat dan dilihat kembali, sama seperti yang akan kita lakukan terhadap harta kita yang paling berharga. Mengulangi gambaran yang digunakan oleh Yohanes, kita dapat mengatakan bahwa Injil tersebut tidak hanya perlu ditelan; tapi harus dicerna. Keselamatan kita dan keselamatan dunia bergantung pada kitab kecil tersebut. Ini merupakan perkataan yang “manis seperti madu”, karena ini merupakan “surat cinta Tuhan kepada kita,”demikian yang dikatakan oleh Bapa. Tapi ini juga merupakan kata-kata yang “pahit” saat turun ke dalam perut, yaitu, saat kata-kata tersebut masuk ke dalam kehidupan kita. Firman ini memperbaiki dan mengarahkan hidup kita;  memotong dan membangun, meminta dan menegur. “rasa pahit” ini diperlukan untuk menarik kita dari keegoisan kita dan menolong kita untuk tumbuh sesuai dengan rupa Kristus.

    Doa Gereja

     

    Jumat, 29 Oktober 2010

    Wahyu 11:1-14. Dua saksi

    Kita masih berada di dalam peristiwa ditiupnya sangkakala yang keenam. Kepada Yohanes diberikan sebatang buluh untuk mengukur Bait Suci Allah; namun demikian buluh tersebut, sama seperti tongkat pengukur yang digunakan untuk mengukur Bait Allah yang baru yaitu Gereja, adalah tubuh Kristus. Dalam gambaran ini kita dapat membuat suatu undangan untuk mengenali siapa yang merupakan bagian dari komunitas Kristiani, mereka yang merasakan bahwa Gereja adalah keluarganya. Gereja bukanlah suatu hal yang tanpa nama, ataupun suatu kelompok yang berbeda. Dan sebaliknya para orang yang percaya akan mengenali komunitasnya, yaitu keluarga iman darimana dia berasal. Kita tidak dapat menjadi orang Kristiani seorang diri, dan kita tidak dapat menyelamatkan diri kita sendiri. Tuhan tidak mau menyelamatkan umat manusia secara individual, tapi dengan mengumpulkan mereka bersama-sama sebagai umatnya. Ini merupakan kisah dari umat Israel dan juga kisah dari Gereja; namun demikian keduanya juga menjadi pelayan keselamatan bagi seluruh umat dan bangsa. Gereja dipanggil untuk menghabiskan hidup dan tenaganya bagi keselamatan seluruh dunia. Terdapat suatu pemikiran yang tidak bisa dihentikan mengenai universalitas pada hati Gereja. Jika setiap individu Kristiani semakin membuka hati mereka kepada seluruh dunia, maka dia akan lebih lagi turun ke kedalaman misteri Gereja. Oleh karena itulah, sifat dari komunitas para orang yang percaya menentang segala sikap yang hanya berpaling kepada diri sendiri, segala sikap mengutamakan diri sendiri dan segala sikap individualisme. Dan oleh karena itulah Gereja ditentang oleh dunia yang membuat keegoisan menjadi hukumnya dan kasih bagi diri sendiri menjadi aturan bagi hidupnya. Hal ini juga yang terjadi pada masa Yohanes, dan hal ini juga yang terjadi di sepanjang abad ke dua puluh. Gereja tidak dapat sepenuhnya “menyesuaikan” dirinya dengan dunia; namun sebagai akibatnya, Gereja akan selalu mendapat “penganiayaan” sampai pada menderita nasib yang sama seperti gurunya, yaitu Kristus. Dua saksi yang muncul tersebut merupakan penjelmaan dari hal ini. Mungkin Yohanes mengacu pada rasul Petrus dan Paulus,  yang jatuh sebagai martir di Roma, suatu “kota besar”. Dalam hal apapun, dua saksi tersebut melambangkan Gereja, seluruh komunitas dari para orang yang percaya. Mereka mengajarkan Injil di Roma – ibu kota kerajaan – dimana mereka akhirnya menjadi martir. Mereka mengikuti Tuhan secara seksama, sampai membuktikan kasih mereka kepadaNya dengan darah yang mereka tumpahkan. Tapi kematian dan makam bukanlah tujuan akhir mereka. Seperti yang tampak dalam penglihatan sureal Yehezkiel tentang tulang-tulang kering yang mendapatkan kembali daging dan kehidupan melalui nafas roh Tuhan (Yeh 37), maka demikian juga kebangkitan dibuat menjadi nyata dalam tubuh kedua martir tersebut. Pengalaman yang mereka alami, seperti yang juga terjadi pada Gereja, telah mengikuti kembali pengalaman yang dialami oleh Yesus sendiri. Wafat seperti Kristus, maka mereka juga akan bangkit bersama dengan dia, menyatakan kemuliaan mereka kepada dunia. Mereka juga akan “diangkat” kedalam sorga. Yesus sendiri telah berkata kepada sang Bapa:” Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku” (Yoh 17:24).

    Doa Salib Suci

     

    Minggu, 30 Oktober 2010

    Wahyu 11:15-19. Sangkakala yang ketujuh

    Setelah serangkaian peristiwa panjang yang mengikuti ditiupnya sangkakala yang keenam (Wahyu 9:13-21), hembusan sangkakala yang ketujuh sekarang telah meresmikan kerajaan Mesias. Rasul Paulus pernah mengatakan :” Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya.” (1 Kor 15:25). Yesus telah mengalahkan iblis dan kematian. Keduapuluh empat tua-tua muncul kembali, yaitu mereka semua yang merupakan orang yang benar dari Perjanjian lama dan baru. Dalam liturgi agung pada hari ucapan syukur, mereka melakukan ritual yang sama dengan yang kita rayakan setiap hari Minggu; mereka tersungkur menyembah Allah dan bersyukur padanya atas keselamatan yang telah dia berikan kepada dunia. Sebenarnya adalah Ekaristi, yang merupakan arti yang sebenarnya dari ucapan syukur: “kami mengucap syukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa, yang ada dan yang sudah ada”. Mereka tidak lagi mengatakan “yang akan datang”, seperti yang kita lakukan sekarang, karena disini kita telah mencapai kepenuhan waktu. Tuhan muncul sebagai hakim dan juru selamat, dia yang “membinasakan barangsiapa yang membinasakan bumi” dan “memberi upah kepada hamba-hamba-Mu, nabi-nabi dan orang-orang kudus dan kepada mereka yang takut akan nama-Mu, kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar”. Dan tiba-tiba tampaklah tabut perjanjian-Nya, “yang tersuci dari yang paling suci” yang tersembunyi dari padangan manusia oleh sebuah kain tebal, dan sekarang telah dapat dilihat untuk direnungkan oleh mereka yang mendapat keselamatan. Misteri dan kebesaran Tuhan jelas masih tetap ada, seperti yang diperlihatkan oleh kilat, dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat yang mengingatkan kita akan pencerahan Tuhan yang dapat dilihat di bumi, dan terutama kita juga mengingat peristiwa yang terjadi di gurun Sinai (Kel 19:19).  Peristiwa ini juga mengingatkan kita akan pencerahan yang terjadi pada hari Jumat Agung, seperti yang dituliskan oleh Matius: “Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.” (Mat 27:51-52). Kristus telah membuat bagi para muridnya suatu bangsa yang suci dan suatu imamat kerajaan yang memiliki suatu jalan langsung kepada Tuhan dari surga dan bumi.

    Doa Vigili

     

    Minggu, 31 Oktober 2010: Minggu biasa ke – tiga puluh satu

    Keb.Salomo 11:22-12:1; Mzm 145; 2 Tes 1:11-2:2; Luk 19:1-10 

    Bagian dari Injil yang telah kita dengarkan membawa kita masuk kedalam kota Yerikho bersama-sama dengan Yesus. Perjalanan ini tidak dilakukan dengan suatu cara yang tidak terpikirkan dan terburu-buru, seperti yang biasanya terjadi di kota-kota kecil yang terletak di pinggiran kota ini, atau seperti yang seringkali terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita yang kacau di kota-kota kita sendiri, dimana kita mungkin hanya akan berhenti jika terdapat kemacetan. Bahkan walaupun tujuannya adalah Yerusalem, namun Yesus berjalan untuk bertemu dengan orang-orang, untuk menolong orang yang membutuhkan, untuk menyembuhkan mereka yang sakit, dan untuk menghibur mereka yang bersedih. Dia berjalan di jalan-jalan di kota tersebut, tapi sesungguhnya yang dia inginkan adalah untuk melintasi jalan menuju hati, jalan yang paling pribadi dan kadang-kadang tetap tersembunyi bahkan bagi mereka yang dekat dengan kita sekalipun.

    Yerikho, yang merupakan salah satu kota yang paling kuno di dunia, merupakan suatu oasis yang subur yang dikelilingi oleh gurun, dan letaknya yang dekat dengan sungai Yordan telah membuat kota ini menjadi tempat cukai yang penting. Disini tinggal seorang kepala pemungut cukai yang bernama Zakheus. Dia mungkin merupakan seorang pengusaha yang mendapat kepercayaan dari pemerintah setempat untuk mengatur seluruh aktivitas fiskal di daerah tersebut. Posisi yang dia miliki telah memungkinkan dia untuk menimbun suatu kekayaan yang cukup besar, dan mungkin tidak selalu dilakukan dengan cara yang benar. Kita dapat membandingkan Zakheus, salah satu dari orang yang cukup penting di kota kecil Yerikho tersebut, dengan hakim yang kejam dan kaya yang telah diceritakan oleh penulis Injil kepada kita pada bab 18, tapi Zakheus mungkin adalah pendosa yang lebih besar.

    Zakheus, yang merasa tertarik akan antusiasme dari orang banyak, juga ingin melihat Yesus pada saat dia berjalan melintasi kota. Tapi karena badannya pendek, dia tidak dapat melihat Yesus, karena orang banyak tersebut. Hal ini bukan hanya merupakan suatu masalah tentang ukuran tubuh seseorang. Orang banyak tersebut, atau lebih tepat jika dikatakan, suasana kota yang gaduh dan kacau tersebut tidak suka melihat Yesus. Dan Zakheus tidak berada di atas kumpulan orang banyak ini, sama seperti tidak ada dari kita yang berada di atas atau diluar dari mentalitas umum yang biasa dimiliki oleh mayoritas orang banyak. Kita semua juga terlalu terikat dengan hal-hal di bumi, terlalu memikirkan diri kita sendiri atau harta milik kita sehingga kita juga tidak dapat melihat Yesus saat dia lewat. Dan tidaklah cukup bagi kita untuk berusaha berjingkat-jingkat , tapi tetap berdiri di tempat awal kita berdiri. Zakheus harus berlari ke depan, meninggalkan orang banyak dibelakang dan memanjat sebuah pohon. Dan orang banyak tersebut bukan hanya mereka yang berada di luar kita; seringkali hati kita juga dipenuhi dengan pikiran dan kekhawatiran yang tidak memungkinkan kita untuk pergi keluar dari diri kita sendiri, tapi yang membuat kita tetap tunduk dan menjadi budak dari ego kita sendiri. Ya, terdapat suatu kumpulan orang banyak di dalam hati setiap dari kita yang harus kita keluarkan. Dan pohon yang dapat dipanjat itu dapat berupa seorang teman, seorang pastur, suatu masa untuk merenung yang harus kita usahakan, dan komunitas Kristiani itu sendiri: semua hal ini dapat menjadi suatu penolong untuk membawa kita keluar dari jalan buntu yang seringkali harus kita hadapi karena kesalahan kita sendiri.

    Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan melihat Zakheus. Dia segera berkata kepada Zakheus:”Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." Bayangkanlah rasa malu dan keheranan dari Zakheus yang telah menanggung resiko untuk dipermalukan asal saja dia dapat melihat Yesus. Pada kali ini tidak terulang kembali  peristiwa yang terjadi pada orang kaya yang pergi dengan sedih. Namun sebaliknya, Zakheus “segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.” Injil selalu bergegas, Injil bergegas untuk melihat dunia berubah, Injil bergegas agar mereka yang lemah dan sakit dapat ditolong. Dan jika ada orang yang berkata “ tapi sangatlah sulit untuk berubah” atau “sungguh kelihatannya tidak mungkin untuk merubah kehidupan di sekitar kita”, maka Zakheus memberikan suatu contoh kepada kita. Setelah pertemuan dengan Yesus, dia merubah sikapnya dan berkata:”Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin”. ini merupakan suatu janji yang sangat realistis; Zakheus tidak berkata “semua milikku akan kuberikan”, namun dia berkata” setengah dari milikku:” dia menetapkan batas yang akan dia ambil dan berusaha memenuhi batas tersebut. Kita dapat mengatakan bahwa hal ini menunjukkan kepada kita suatu cara yang realistis untuk mengevaluasi keadaan sesesorang sebelum memutuskan untuk merubahnya, dimulai dari tempat dimana kita berada. Kita juga yang merupakan orang biasa, dapat menemukan ukuran nyata bagi diri kita sendiri dan melakukannya. Dengan cara ini maka keselamatan dapat masuk ke dalam hidup kita.

    Doa Hari Tuhan

     

     

Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.