Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Marx-Engels tentang Kesadaran, Ideologi, dan Agama

Expand Messages
  • Rumah Kiri
    Marx-Engels tentang Kesadaran, Ideologi, dan Agama Oleh Perhimpunan Muda http://www.rumahkiri.net/ ... bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaan
    Message 1 of 1 , Jan 1, 2007
    View Source
    • 0 Attachment
      Marx-Engels tentang Kesadaran, Ideologi, dan Agama
      Oleh Perhimpunan Muda

      http://www.rumahkiri.net/

      "... bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaan mereka, tapi
      keberadaan sosial merekalah yang menentukan kesadaran mereka"


      (Karl Marx. Preface to The Critique of Political Economy, MESW vol.1
      h. 363)


      I

      Secara filosofis pengetahuan manusia bersumber dari pengalaman, entah
      pengalaman lahir maupun pengalaman batin. Pengetahuan bisa berasal
      dari pengalaman langsung dengan lingkungan sekitar ataupun dari
      pengalaman tidak langsung melalui sebuah proses perantaraan.
      Pengetahuan saya tentang `api itu panas' bisa diperoleh dari dua
      sumber, yaitu pengalaman langsung dengan menyentuh sendiri api
      sehingga kesan yang masuk ke dalam kesadaran kemudian menerakan
      `panas' sebagai predikat `api'; atau melalui pengalaman tidak langsung
      dengan mendengar cerita dari orang, membaca penjelasan dari buku, dan
      sebagainya. Semua pengetahuan hasil pengalaman itu tidak sama
      sifatnya. Pengalaman langsung bersifat lebih kuat, lebih hidup, dan
      lebih nyata karena dialami langsung. Sedangkan pengalaman tidak
      langsung kurang kuat, kurang hidup, dan seringkali samar-samar. Bagi
      saya yang belum pernah ke daerah bersalju tentu hanya akan memperoleh
      pengetahuan tentang salju dari pengalaman tidak langsung, entah itu
      dari cerita orang yang pernah pergi ke daerah bersalju, dari menonton
      televisi, atau membaca buku. Pengetahuan saya tentang salju yang
      dingin, lembut, dan ringan itu kurang meyakinkan karena bukan indra
      saya sendiri yang mengalami dingin, lembut, dan ringan. Jadi, sumber
      pengetahuan utama adalah pengalaman langsung bergumul dengan
      lingkungan hidup.


      Kesadaran kolektif yang nyata hanyalah kesadaran yang terbentuk dari
      pengalaman langsung orang-orang dalam `kolektif' tersebut dengan
      lingkungan hidupnya. Pengetahuan memang bisa dimasukkan oleh orang
      lain ke dalam kesadaran kita, tapi ketegasannya tidak akan sama dengan
      kesadaran yang diperoleh sendiri lewat pengalaman langsung kita.


      Kesan adalah sebentuk kesadaran yang diperoleh dari pengalaman
      langsung. Di samping kesan-kesan yang beraneka, ada pula gagasan
      (idea) yang adalah seperangkat konsepsi abstrak atas sesuatu. Dalam
      filosofi Marx, sumber pemahaman manusia terhadap diri dan
      lingkungannya berasal dari dua sumber, yaitu dari pengalaman langsung
      pelaku-pelaku kehidupan dan dari pengetahuan-terkumpul yang dialihkan
      atau diturunkan oleh masyarakat kepada warganya melalui berbagai
      lembaga sosialisasi seperti keluarga, sekolah, atau media massa.
      Pengetahuan-terkumpul ini umumnya berbentuk konsepsi atau hasil
      abstraksi atas kejadian, tindakan, atau sesuatu. Misalnya di abad
      feodal masyarakat mengenali konsep upeti. Upeti dipahami sebagai
      kewajiban hamba terhadap tuannya melalui penyampaian hasil kerja hamba
      di atas tanah yang diberikan oleh tuannya. Upeti adalah sebentuk
      hubungan antarorang dengan derajat kekuasaan yang timpang dengan
      perantara berupa barang atau jasa. Konsep upeti ini tidak dengan
      begitu saja dibentuk dan disebarkan. Konsep ini merupakan hasil proses
      panjang pergumulan dialektis antara kesadaran pelaku-pelaku kehidupan
      dengan kondisi material mereka yang juga terus berubah.
      Konsepsi-konsepsi abstrak sejenis ini (seperti kewajiban, pengabdian,
      kerja, dll.) berfungsi sebagai penuntun arah bagi semua warga
      masyarakat, entah yang menindas maupun yang tertindas.


      Manusia individual, untuk hidup dalam suatu masyarakat tertentu harus
      sadar akan norma-norma dan lembaga-lembaga sosial yang berlaku karena
      mereka harus mematuhinya. Untuk menjadi anggota suatu `sosial',
      individu harus disosialisasikan atau mempelajari dan menjadi terbiasa
      dengan segala hal yang menjadikannya `biasa' dalam kelompoknya. Dalam
      konsepsi Marx, selain manusia tidak bisa memahami diri sebagaimana
      adanya selain melalui sekumpulan gagasan yang kompleks, juga
      sekumpulan gagasan ini bisa saja tidak didasarkan pada kenyataan
      empiris dan berujung pada kesadaran palsu atas diri dan lingkungannya.


      Dalam banyak kasus, sistem sosial berlandaskan pada penindasan dan
      eksploitasi. Orang dibuat sadar untuk tidak menyadari landasan
      masyarakat tersebut ketika masyarakat hendak melanggengkannya. Oleh
      karena itu, perhatian Marx dan Engels terhadap sistem sosial
      pertama-tama bukan pada kepercayaan atau gagasan orang per orang,
      tetapi lebih pada keadaan yang menjadi tempat siapa yang menciptakan
      dan siapa yang menerima kepercayaan dan gagasan ciptaan tersebut
      karena produksi gagasan, konsepsi, dan kesadaran jalin-menjalin dengan
      kegiatan-kegiatan material dan hubungan material manusia yang disebut
      Marx sebagai `bahasa dari kehidupan nyata', yaitu kerja (Marx &
      Engels, The German Ideology, MSW, h. 164). Gagasan dan cita-cita
      manusia berasal dari pola-pola sosial yang dicipta sebelumnya.
      Konsepsi materialis atas sejarah tidak menampik kemampuan kreatif
      pikiran manusia, tetapi gagasan dan cita-cita bukanlah sesuatu yang
      lahir dengan sendirinya dari ruang kosong. "Bagaimanapun juga, manusia
      tidaklah mulai dengan `menemukan dirinya dalam sebuah hubungan
      teoritis terhadap sesuatu dari dunia luar'. Seperti setiap binatang,
      mereka mulai dengan makan, minum, dll., yakni, tidak dengan `menemukan
      diri mereka sendiri' dalam sebuah hubungan, tetapi dengan berperilaku
      secara aktif meraih sesuatu dalam dunia luar lewat tindakan mereka,
      lalu memuaskan kebutuhan mereka. Jadi, mereka memulainya dengan
      produksi". Lebih lanjut, Marx menyatakan: "dengan pengulangan proses
      ini kepemilikan atas barang-barang yang telah `memuaskan kebutuhan
      mereka' hadir sebagai kesan dalam otak mereka..." (Marx, Comment on
      Adolph Wagner, MSW, h. 581). Dari sinilah gagasan atas segala sesuatu
      bisa dipahami.


      Konsepsi materialis atas sejarah adalah upaya kritik atas pemikiran
      filosofis Hegel dan Hegelian Muda yang menempatkan gagasan sebagai
      kekuatan utama dalam sejarah. Mereka memandang kekuatan gagasan ini
      sama sekali terpisah dari proses-proses alamiah dari produksi dan
      reproduksi masyarakat. Menurut Marx dan Engels, gagasan harus dipahami
      sebagai hasil dari aktivitas orang-orang yang berkutat dengan proses
      kehidupan material dan menempatkan produksi gagasan sebagai sebuah
      aspek dari upaya pada umumnya dalam menciptakan kehidupan dalam alam.
      Meski demikian, harus ditekankan bahwa penolakan Marx dan Engels
      terhadap idealisme setara dengan penolakan mereka terhadap
      materialisme mekanistik seperti yang dianut kaum materialis Perancis
      dan Ludwig Feuerbach. Menurut Marx memang kondisi material kehidupan
      yang menjadi landasan gerak sejarah, tetapi itu bukan berarti bahwa
      manusia dan konsep-konsep yang mereka ciptakan untuk bergulat dengan
      dunia sekadar sebuah hasil otomatis atau hanya pantulan utuh dari
      kehidupan fisik. Kedudukan Marx dan Engels boleh dikatakan berada di
      antara idealisme dan materialisme makanistik.


      Sekali lagi, kehidupan manusia hanya bisa dipahami dalam kaitannya
      dengan konsepsi-konsepsi yang mewujud dalam cara hidup dan pengalaman
      subjektif manusia. Kemunculan konsepsi ini tidak dengan begitu saja
      dari ketiadaan. Gagasan, kepercayaan, dan nilai-nilai muncul dari
      interaksi dialektis antara manusia dengan alam dan timbul dari sejarah
      interaksi tersebut. Sebagai misal konsepsi tentang kerja. Dalam
      masyarakat modern, konsepsi tentang kerja atau gagasan bahwa kerja
      adalah `sesuatu' yang bisa dijual-beli muncul sebagai hasil dari
      perkembangan ekonomi dan kemajuan teknis di kota-kota abad pertengahan
      Eropa. Kemudian konsepsi ini diambil sebagai gagasan dominan dalam
      masyarakat borjuis tentang `hakikat' kerja karena konsepsi tersebut
      membuat eksploitasi atas orang dalam kapitalisme menjadi mungkin.
      Meskipun pada intinya gagasan ini disebabkan oleh perkembangan ekonomi
      dan teknis dan kenyataannya adalah sebuah pantulan keliru atas
      hubungan sosial, si gagasan itu sendiri cukup `nyata' untuk bisa
      diyakini oleh orang-orang yang hidup dalam tatanan kapitalis, entah
      mereka yang berkedudukan sebagai penindas ataupun yang tertindas.
      Kedua pihak memandang kerja sebagai sesuatu yang `wajar'
      dijual-belikan. Kewajaran ini dibutuhkan untuk kegiatan-kegiatan
      praktis mereka menjalani kehidupan. Oleh karena itu ketika
      mengoperasikan gagasan ini, orang tidak sadar akan sebab-awal dominasi
      gagasan ini.


      Marx dan Engels sama sekali tidak antipati terhadap pentingnya
      gagasan, konsep, dan nilai-nilai dalam kehidupan manusia, tapi mereka
      menambahkan bahwa semua ini tidak muncul dari ruang kosong, dan ruang
      pertama yang harus dihadapi manusia adalah kehidupan materialnya yaitu
      produksi dan reproduksi kebutuhan materialnya. Kehidupan manusia
      adalah sejarah yang mengandung saling pengaruh yang kompleks antara
      berbagai faktor yang sebagian material dan sebagian lainnya mental
      (meski bermula dari material). Saling jumpa dan ketegangan
      antarkekuatan penggerak dalam sejarah ini oleh Marx biasa disebut
      dengan proses dialektika.


      Istilah dialektika dipinjam dari kosa kata filsafat Hegel meski
      digunakan dengan nuansa berbeda. Dialektika artinya bahwa proses gerak
      yang mencirikan sejarah manusia bukanlah perjalanan yang lancar-lancar
      saja, tapi sebuah perkembangan yang diramaikan oleh konflik dan
      kontradiksi yang menghantar pada penyelesaian sementara secara
      terus-menerus. Tidak ada yang tetap dalam dunia ini. Menurut Marx,
      dalam proses dialektika ini kesadaran juga mengambil peran yang
      penting tidak seperti yang selalu difitnahkan kepada Marx dan Engels
      sebagai seorang materialis kasar yang anti arti penting kesadaran.
      Kesadaran, atau sistem makna yang dengannya manusia memahami dunianya
      dan mewujud dalam gagasan, opini, atau keyakinan yang kita pegang,
      merupakan produk sosial. Kesadaran ini terwujud dari interaksi yang
      kompleks antarmanusia dalam sejarah dan dari hubungan antara manusia
      dengan alam seperti tanah, tumbuhan, binatang, atau tubuh fisik mereka
      sendiri. Hubungan-hubungan tempat terwujudnya gagasan ini tidaklah
      tetap, tapi berubah-ubah. Oleh karena itu, gagasan juga berubah-ubah
      sejalan dengan perkembangan teknologi, ragam produksi, dan
      lembaga-lembaga sosial yang merupakan sarana dalam kehidupan sosial.
      Tetapi perubahan ini tidaklah serta-merta. Ada berbagai proses yang
      rumit yang menghantar pada perubahan gagasan ketika kondisi
      materialnya sendiri sudah berubah.


      Karena perkembangan kekuatan-kekuatan produktif berujung pada
      bertambah kompleksnya pembagian kerja dalam masyarakat dan pembagian
      kerja ini memungkinkan melebarkan derajat ketidaksetaraan serta
      memunculkan kepemilikan pribadi, maka kesadaran pun menyesuaikan diri
      dengan kebutuhan praktis masyarakat yang terpilah-pilah ke dalam
      golongan-golongan yang bertingkat-tingkat ini. Dalam masyarakat akan
      ada banyak sistem gagasan sebanyak golongan yang ada. Karena
      lingkungan hidup anggota-anggota suatu golongan atau kelas biasanya
      tidak jauh berbeda, maka dialektika kesadaran dengan kondisi material
      suatu kelas memungkinkan terbentuknya kesadaran kolektif yang relatif
      sama. Kesadaran kolektif inilah yang dalam kehidupan sehari-hari
      menjadi panduan orang-orang bertindak terhadap lingkungan sosial dan
      materialnya. Di kalangan pemulung, sampah dipandang sebagai sumber
      uang. Dari pengalaman keseharian mereka menghadapi sampah-sampah dan
      berbagai hubungan sosial yang terkait dengan pemulungan sampah, para
      pemulung mempunyai kesadaran yang relatif sama tentang sampah dan
      berbagai hubungan sosial di sekitarnya. Kesadaran kolektif ini perlu
      untuk memahami dunianya. Jadi, kesadaran orang atas diri dan dunianya
      merupakan hasil proses dialektis antara kesadarannya semula dengan
      pengalaman langsung dan tidak langsung dengan lingkungan sosial dan
      material. Tetapi, sekali lagi, harus diinsafi bahwa pengalaman ini
      bukanlah pengalaman pribadi, tetapi kolektif karena manusia tidak
      hidup di ruang kosong tanpa pemikiran, keyakinan, pola hubungan, dan
      orang lain yang sudah `ada' sebelum seseorang itu sendiri sadar.



      II


      Meski istilah ideologi pertama kali digunakan setengah abad sebelum
      Marx menggagasnya secara berbeda, namun anggapan umum hampir selalu
      mengaitkan istilah ini dengan Marxisme. Destutt de Tracy
      memperkenalkan istilah ideologiste untuk mencirikan filsuf yang,
      seperti dirinya, mengembalikan ide-ide kepada kesan-kesan tempat ide
      berasal. Napoleon yang menganggap de Tracy beserta kelompoknya sebagai
      bahaya atau ancaman bagi kekaisarannya, memakai istilah ideologue
      dalam arti negatif untuk menyifatkan filsuf siapa saja bersama dengan
      simpatisan republik, dan lebih-lebih kelompok de Tracy yang
      berpandangan seperti kaum ideologiste tersebut (L. Bagus, Kamus
      Filsafat, Gramedia h. 306).


      Dalam bukunya Les éléments de l'ideologie (1801), Destutt de Tracy
      mendefinisikan `ilmu gagasan-gagasan' sebagai berikut: "Ilmu itu bisa
      disebut ideologi, jika orang hanya mengamati pokok masalahnya; tata
      bahasa umum, jika orang hanya mengamati metode-metodenya; dan logika,
      jika orang hanya engamati tujuannya. Apapun namanya, ilmu itu pasti
      memuat tiga bagian ini, karena yang satu tak bisa dijalankan secara
      memadai tanpa menjalankan juga dua yang lainnya. Ideologi tampak bagi
      saya sebagai istilah generis karena ilmu ide-ide mencakup baik
      ungkapan maupun turunannya" (K. Mannheim, Ideologi dan Utopia,
      Kanisius h. 112, fn.11). Jadi, boleh dibilang bahwa asal-usul istilah
      ideologi hanya berarti `ilmu tentang gagasan-gagasan'. Tujuan utama
      dari ilmu tentang gagasan ini adalah penolakan terhadap metafisika dan
      mencari dasar dari ilmu budaya pada dasar-dasar antropologis dan
      psikologis atau menfokuskan kajian tentang gagasan dengan menelisik
      sumber psikologisnya yang merupakan hasil cerapan atas lingkungan
      kehidupan manusia (ibid, h. 74).


      Jauh di kemudian hari, Marx dan Engels menggunakan istilah ideologi
      dengan arti yang jauh berbeda dari istilah aslinya. Ideologi berarti
      ganda dalam pemikiran Marx. Pertama, ideologi sebagai kesadaran palsu
      atau bayangan realitas yang terbalik; dan kedua, ideologi sebagai
      seperangkat sistem gagasan. Dalam arti pertama, ideologi dikaitkan
      dengan gagasan-gagasan kelas dan upaya penyebarannya dalam kaitan
      dengan perjuangan kelas atau pelanggengan kekuasaan kelas tertentu.
      Karena ideologi dominan selalu adalah ideologi kelas berkuasa, maka
      titik perhatian Marx dan Engels adalah batasan ideologi sebagai
      jaringan konsep, perspesi, dan gagasan kelas berkuasa yang ditebarkan
      pada masyarakat awam yang dikuasai sebagai penyamar landasan nyata
      dari tatanan yang menindas. Ideologi dalam arti ini bersifat khusus.


      Dalam perumpamaan bangunannya tentang masyarakat, Marx dan Engels
      menempatkan seperangkat gagasan yang berlaku dalam suatu masyarakat
      yang dengan gagasan-gagasan tersebut individu-individu memahami dunia
      tempat mereka berinteraksi dengan alam dan individu lainnya di dalam
      suatu kehidupan kolektif, sebagai suprastruktur ideologi. Wujud-wujud
      suprastruktur ideologis dalam kehidupan sosial adalah kepercayaan,
      norma, moralitas, gagasan politik, dan nilai-nilai ideal. Ideologi
      dalam konteks ini lebih diartikan dalam konteks yang lebih luas:
      ideologi adalah seperangkat sistem gagasan. Itu saja. Tetapi,
      seperangkat sistem gagasan ini tidak muncul begitu saja dari
      ketiadaan. Gagasan-gagasan yang berlaku dalam suatu masyarakat
      merupakan hasil interaksi kompleks antara lingkungan dengan kesadaran.
      Dialektika antara kondisi material kehidupan manusia dengan kesadaran
      yang membentuk ideologi tidaklah sesederhana hubungan sebab akibat
      langsung seperti yang sering dituduhkan bahwa Marx adalah sesosok
      determinis ekonomi. Menurut Marx, ideologi tidak serta-merta mewujud
      secara langsung dari kondisi material. Jalan yang dilalui kesan-kesan
      hasil cerapan atas dunia material melalui alat indra hingga menjadi
      seperangkat gagasan kolektif begitu panjang dan berliku-liku.
      Perjalanan ini tidak lurus, tapi melalui gang-gang sempit dialektis
      antara dunia material yang menampakkan diri ke kesadaran manusia
      dengan kesadaran manusia itu sendiri yang sejak kehadirannya dalam
      dunia material dijejali berbagai konsep dan gagasan yang sudah
      terlebih dahulu ada. Dalam Tesis-tesis tentang Feuerbach yang ketiga,
      dengan indah Marx menulis: "Ajaran materialis bahwa manusia adalah
      hasil dari lingkungan dan asuhannya, dan oleh karenanya manusia yang
      berubah adalah hasil keadaan-keadaan dan pendidikan yang berubah, lupa
      bahwa lingkungan diubah oleh manusia dan bahwa pendidik itu sendiri
      perlu dididik." (Marx, Theses on Feuerbach, MSW, h. 156) Kesadaran
      tentang sesuatu tidaklah muncul begitu saja ke dalam pikiran manusia.
      Pikiran manusia juga tidaklah kosong melompong karena manusia menjadi
      manusia karena hidup dalam kolektif; dalam masyarakat yang mengolah
      lingkungan, baik lingkungan alam maupun lingkungan sosialnya. Ketika
      seseorang lahir, masyarakat tempatnya berada sudah lebih dulu
      mempunyai gagasan kolektif tentang sesuatu yang ada di sekitar mereka.
      Kondisi material tempat masyarakat tersebut hidup juga bukanlah
      kondisi yang sejak asali seperti itu, tapi merupakan hasil bentukan
      manusia juga dari generasi ke generasi. Seperti dalam mitos raja
      Midas, semua yang disentuh manusia akan bersifat manusia. Tak ada
      lingkungan atau kondisi yang alami selama ada manusia di situ.
      Semuanya adalah kondisi dan lingkungan manusia. Begitu pula kondisi
      material. Jadi, ideologi, sekali lagi, tidaklah muncul begitu saja
      dari kondisi material atau diciptakan secara sadar dari kekosongan
      oleh orang-orang tertentu yang memanfaatkannya demi keuntungan diri
      mereka. Pemikiran Marx tidak senaif itu. Marx tidak pernah bicara
      tentang manusia yang abstrak, tapi manusia menyejarah yang menjadi
      manusia karena hubungan dialektisnya dengan lingkungan dan dirinya
      dalam konteks tertentu. Jadi, mustahil Marx mengkonsepkan ideologi
      sebagai turunan langsung kondisi material begitu saja. Tepat kiranya
      perkataan Antonio Labriola, sesepuh Marxis Italia, yang menulis bahwa
      "hanya orang idiot yang bisa percaya bahwa moralitas setiap orang
      berhubungan langsung dengan situasi ekonominya. Kaitan antara keduanya
      sangat kompleks, kadang-kadang halus, seringkali sulit, dan tak selalu
      tampak" (dikutip R. Bellamy, Teori Sosial Modern perspektif Itali,
      LP3ES h.88).


      Memang ada kecenderungan untuk menempatkan suprastruktur-ideologi
      subordinat terhadap aspek infrastruktur. Yang pertama merupakan
      pantulan utuh dari yang kedua. Kecenderungan ini terutama tampak dalam
      pemikiran `murid-murid' pertama seperti Gregorii Plekhanov atau Karl
      Kautsky yang dalam kepustakaan Marxisme digolongkan ke dalam Marxisme
      Ortodoks. Kecenderungan mekanistis `murid-murid pertama' dan para
      pengikut mereka ini begitu masyur dan dianggap oleh musuh-musuh Marx
      sebagai ajaran Marx itu sendiri hingga Antonio Gramsci dengan kesal
      menamakan ajaran mereka sebagai "fatalisme positivis" atau "marxisme
      vulgar" yang mengabaikan penekanan Marx pada dialektika dan pentingnya
      kedudukan kesadaran manusia yang bersifat intensional. Pemikiran Marx
      yang menekankan kesatuan dialektis antara kesadaran dan kondisi
      material ini harus dicamkan terlebih dahulu sebelum berangkat ke
      konsepsi Marx tentang ideologi yang bersifat khusus atau gagasan
      dominan kelas tertentu yang menyamarkan kenyataan.


      Dalam bukunya Kemiskinan Filsafat, Marx menulis bahwa:
      "Kategori-kategori ekonomi hanyalah ungkapan-ungkapan teoritis,
      abstraksi-abstraksi dari hubungan-hubungan produksi sosial... Orang
      yang sama yang menetapkan hubungan-hubungan sosial sesuai dengan
      produktivitas material mereka juga menghasilkan prinsip-prinsip,
      gagasan-gagasan, kategori-kategori yang bersesuaian dengan
      hubungan-hubungan sosial mereka". Seperti sudah dibahas sebelumnya,
      bagi Marx, kondisi material paling mendasar dalam kehidupan manusia
      adalah produksi kebutuhan materialnya. Dalam masyarakat dengan
      pembagian kerja yang sudah berkembang, hubungan-hubungan produksi
      ditata sedemikian rupa dalam rangka produksi kebutuhan material
      masyarakat ini. Dari hubungan produksi ini kelas-kelas terbentuk.
      Hubungan terpenting manusia dengan alamnya adalah melalui kegiatan
      produksi. Ketika dalam hubungan produksi ini individu-individu
      terpilah ke dalam beragam kedudukan dan kesadaran dipengaruhi
      kedudukan dalam produksi ini, maka gagasan-gagasan orang-orang dalam
      suatu kelas tidak akan sama dengan gagasan-gagasan orang dari kelas
      lainnya.


      Dalam Ideologi Jerman Marx dan Engels menyatakan bahwa:
      "Gagasan-gagasan kelas penguasa di sepanjang kisah sejarah manusia
      merupakan gagasan penguasaan, yaitu: kelas yang menguasai kekuatan
      material dalam masyarakat, pada saat yang sama menguasai kekuatan
      intelektualnya juga. Kelas yang menguasai alat-alat produksi material
      pada akhirnya juga mengendalikan alat produksi mental, sehingga
      gagasan dari mereka yang tidak menguasai alat produksi mental tunduk
      padanya. Gagasan-gagasan yang berkuasa tiada lain adalah ekspresi
      ideal dari hubungan material yang dominan; hubungan material dominan
      yang dipahami sebagai gagasan; ketika hubungan yang membuat suatu
      kelas menjadi kelas penguasa atas yang lain, maka gagasannya merupakan
      gagasan dominansi...." (Marx & Engels, The German Ideology, MS h.101).
      Kesadaran kelas tertentu yang berkuasa tidak hanya hidup dalam lingkup
      kelas tersebut. Perembesan kesadaran oleh kelas berkuasa
      mengembangbiakkan kesadaran palsu tidak hanya dalam kelas yang
      ditindas tetapi juga dalam kesadaran kelas yang menindas. Ideologi ini
      menyembunyikan sumber asali dominasi dan proses-prosesnya dari
      kesadaran kaum tertindas dan membuat segala sesuatu tanpak wajar-wajar
      saja seperti tidak terjadi apa-apa. Mengapa mayarakat memerlukan semua
      ini? Seperti yang dibahas oleh Marx dengan cukup rumit dalam Kapital
      II, berlangsungnya segala sesuatu dalam suatu ragam produksi
      mensyaratkan adanya reproduksi kondisi yang memungkinkan produksi
      dalam ragam produksi tersebut. Reproduksi kondisi produksi merupakan
      kewajiban utama agar produksi seperti yang sedang berlangsung tetap
      berjalan. Karena manusia memahami segala hal di sekitarnya, termasuk
      berbagai hubungan-hubungan produksi melalui kesadarannya, maka perlu
      ada pelanggengan kesadaran kolektif yang menuntun tindakan-tindakan.
      Lalu, karena kelas yang menguasai berada dalam kedudukan yang
      memungkinkan mereka memperoleh keuntungan dari hubungan-hubungan
      sosial yang ada, maka sudah sewajarnya kesadaran kelas tersebutlah
      yang tersebarluaskan ke dalam kesadaran kolektif masyarakat.


      Kelas-kelas dan hubungan di antaranya tidak pernah dibiarkan telanjang
      seperti apa adanya. Dominasi kelas tertentu terhadap kelas-kelas
      lainnya bisa dikaburkan di belakang kabut mistifikasi oleh ideologi
      yang mewajarkan atau bahkan, dalam masyarakat pra-kapitalis,
      mengeramatkan hubungan subordinasi dan penghisapan tenaga kerja di
      dalamnya. Dalam masyarakat feodal Eropa, misalnya, seluruh tatanan
      terlingkup oleh suatu pandangan dunia universal yang didasarkan pada
      agama Kristen. Dunia dipandang sebagai sesuatu yang diatur oleh Tuhan
      demi kebahagiaan manusia. Semesta alam ditata secara hirarkis. Di atas
      alam ada supra-alam atau alam yang lebih tinggi tempat Tuhan dan
      mahluk-mahluk supra-manusia tinggal. Tuhan menduduki kursi utama dan
      di bawah-Nya ada malaikat yang juga mengenal jenjang hirarki. Dunia
      merupakan pantulan dunia supra ini. Di dunia juga ada hirarki. Setiap
      orang mempunyai tempat sendiri-sendiri yang disediakan baginya. Paling
      atas adalah rohaniwan yang karena bersifat keagamaan selalu dipandang
      lebih tinggi daripada golongan lain yang bersifat duniawi. Kemudian
      ada penguasa duniawi, yaitu para raja, bangsawan, dan prajurit. Di
      luar dua golongan tersebut Tuhan telah membuat pemilahan-pemilhan
      berdasarkan kewajiban-kewajibannya di dunia. Ada petani yang mengolah
      lahan untuk memenuhi kebutuhan pangan dirinya dan kelas-kelas lainnya.
      Ada juga pengrajin yang membuat perkakas, senjata, dan barang-barang
      kebutuhan sekuder. Juga ada pedagang. Kesadaran bahwa seseorang
      merupakan bagian dari suatu tata kosmis yang diciptakan dan dipelihara
      Tuhan, maka kolektivitas dipandang lebih penting daripada individu.
      Seseorang memperoleh kedudukannya berkat hubungan sosial tempat ia
      merupakan bagiannya: keluarganya, kotanya, bangsanya, negerinya, dan
      seterusnya. Oleh karena itu tidak heran bahwa individu-individu
      memanggul beban `nama baik keluarga', `nama baik kota' dan seterusnya
      dalam setiap tindakannya. Selain itu, karena tatanan ini bersifat
      religius, maka tatanan ini disifati abadi. Tuhan telah menghendakinya
      demikian, maka seterusnya harus pula tetap demikian adanya. Moralitas
      yang berkenaan dengan hubungan antarorang dan berkembang pada masa
      feodal selalu merujuk pada pandangan dunia ini. Konsep pengabdian,
      takdir ilahi, kesalehan, dan kewajiban yang dilembagakan dalam
      hubungan-hubungan sosial membuat penghisapan kelas berkuasa terhadap
      kelas tertindas menjadi samar atau bahkan tak tampak. Semua tampak
      wajar-wajar saja, tidak hanya di mata kaum tertindas tapi juga bagi
      kelas penindas.


      Dalam kesadaran yang dilandasi pandangan dunia seperti ini,
      golongan-golongan yang menghendaki perubahan dan yang
      mempertahankannya melakukannya dalam nama Tuhan dan tidak jarang
      diiringi dengan kekerasan. Gerakan perlawanan oleh kelas-kelas yang
      mempunyai kepentingan atas perubahan ini mau-tidak-mau harus
      diselubungi oleh gagasan-gagasan keagamaan. Seperti sudah dibahas
      dalam bagian terdahulu, analisis Engels terhadap gerakan-gerakan
      protes dan pemberontakan dalam abad pertengahan menemukan bahwa semua
      gerakan-gerakan tersebut membawa kritik-kritik keagamaan. Misalnya
      dalam penentangan penghisapan kaum petani dan pedagang oleh golongan
      rohaniwan, gagasan seperti `penyimpangan dari jalan sejati Tuhan',
      `kembali ke masa Yesus', sering menjadi seruan perlawanan (lih. F.
      Engels, The Peasant War in Germany, FLPH-Moscow).


      Marx memahami ideologi sebagai bagian dari suprastruktur. Ideologi
      tidak sama dengan kesadaran. Juga, ideologi tidak diartikan
      semata-mata sebagai praktek-praktek simbolik atau gagasan-gagasan yang
      bersifat kultural seperti tersirat dalam konsep `sistem budaya' dalam
      kepustakaan antropologi atau dalam konsep `representasi kolektif'
      seperti dalam kosa-kata sosiologi Durkheim. Konsep ideologi yang
      digunakan Marx bersifat kritis dalam arti ada aspek kritik di
      dalamnya. Marx melihatnya dari sudut pandang ilusi dan mistifikasi.
      Tetapi bukan berarti bahwa konsep `tuhan' atau `kerja' bukan merupakan
      kenyataan sosial yang mempengaruhi perilaku manusia. Konsep
      `kerja-sebagai-komoditi' merupakan abstraksi atau hasil rekayasa
      kapitalisme modern, tetapi meskipun memiliki objektivitas tertentu,
      konsep ini adalah ilusi dalam arti merupakan reifikasi (pembendaan)
      hubungan-hubungan sosial yang pada dasarnya menyembunyikan gambaran
      sesungguhnya dari hubungan produksi kapitalis, yaitu eksploitasi dan
      pencurian nilai lebih.


      Satu alasan mengapa sulit melihat hubungan erat antara kondisi-kondisi
      kehidupan material dan suprastruktur ideologi adalah bahwa
      ideologi-ideologi itu memberikan ilusi untuk mengimbangi ketimpangan
      dan kekurangan dalam kehidupan material. Akibatnya, meskipun ideologi
      itu mencerminkan kondisi material dan hubungan-hubungan produksi dalam
      masyarakat, cerminan itu seringkali sangat menyimpang atau dalam
      istilah Marx sebagai "suatu kesadaran-dunia yang terbalilk" (Marx,
      Sumbangan pada Kritik atas Filsafat Hegel tentang Hukum, MEA h.48).
      Ketika ideologi-ideologi dirasukkan ke dalam kesadaran subjektif
      melalui berbagai saluran sosialisasi, individu-individu menemukan
      dirinya tidak mampu menyadari kepentingan mereka sesungguhnya.
      Artinya, mereka gagal melihat hubungan yang begitu dekat antara
      kurangnya pemenuhan kebutuhan manusiawi mereka, ketidakpuasan, dan
      penderitaan di satu pihak dan tatanan sosial-ekonomi serta
      kondisi-kondisi material tempat mereka terlibat di dalam dinamikanya
      di pihak lain. Hasilnya adalah kesadaran palsu.


      Sebenarnya, istilah kesadaran palsu bukanlah buatan Marx tapi Engels.
      Dalam suratnya kepada F. Mehring tertanggal 14 Juli 1893, Engels
      menjelaskan kaitan erat antara `fakta-fakta ekonomi' dengan
      konsep-konsep politik, hukum, dan konsep-konsep ideologis pada umumnya
      yang merupakan turunan dari yang pertama. Engels menulis: "Ideologi
      adalah sebuah proses yang terjadi oleh pemikir secara sadar; memang
      benar, tetapi dengan sebuah kesadaran palsu." (Engels to Mehring, MESW
      vol2 h. 497) Maksudnya, dorongan yang membuatnya menghasilkan
      pemikiran, konsep, dan segala macam gagasan, tidak dipahami dan tidak
      diupayakan untuk dipahami si penggagas. Dalam kesadaran si penggagas,
      kekuatan pendorong yang dibayangkannya keliru atau palsu. Misalnya
      seorang nabi yang menganggap gagasan perlunya perubahan sosial dengan
      membangkitkan perlawanan terhadap golongan yang menindas golongan lain
      berasal dari wahyu atau perintah ilahiah. Padahal, senyatanya adalah
      bahwa gagasan tersebut muncul dari interaksi nyata mereka dengan
      kondisi sosial-ekonomi masyarakatnya. Atau misal lain adalah
      konsep-konsep normatif jaman feodal seperti pengabdian, harga diri,
      kepatuhan pada orang yang berkedudukan tinggi, dibayangkan para
      ideolog masa itu sebagai perintah tuhan. Karena gambaran tentang dunia
      ilahi juga hirarkis dengan tuhan berada di tingkatan teratasnya, maka
      dunia manusia yang mengenal hirarki adalah cerminan dunia ilahi
      sehingga perubahannya akan mendatangkan murka ilahi.


      Di dalam perumpamaan bangunannya, Marx menempatkan suprastruktur
      ideologis satu kamar dengan suprastruktur politis. Peran negara dengan
      segala perangkatnya adalah mewakili kepentingan kelas yang berkuasa
      atau golongan yang dominan. Perangkat negara mencakup organisasi
      pemerintahan, tentara, polisi, pengadilan, penjara, peraturan
      perundang-undangan, dan sebagainya. Semua perangkatus ini ada sebagai
      pendukung berlanjutnya penegakan kepentingan kelas dominan dengan
      segala gagasannya. Misalnya, dalam suatu formasi sosial-ekonomi yang
      memerlukan berlanjutnya tatanan melalui tegaknya lembaga kepemilikan
      pribadi, negara akan mengesahkan peraturan yang keras terhadap setiap
      pencuri. Seorang ibu yang karena anaknya hampir mati kelaparan bisa
      dipenjara karena mencuri sepotong roti meskipun ia mencurinya dari
      seorang kapitalis kaya yang uangnya berlebih sehingga bisa memberi
      makan orang sekampung. Negara menyelenggarakan lembaga seperti polisi,
      pengadilan, dan penjara untuk memastikan hukum ini dijalankan.
      Pelanggaran hukum merupakan ancaman abadi di dalam masyarakat yang
      terpilah antara segelintir penghisap dan begitu luar-biasa banyaknya
      golongan terhisap. Oleh karena itu, keberadaan lembaga negara dengan
      perangkatnya yang kuat sehingga mampu memaksakan peraturan dan
      menghancurkan setiap penyimpangan terhadapnya.


      Di samping negara yang menggunakan perangkat kekerasan untuk
      memaksakan kepatuhan, ada perangkat pengendalian sosial lain yang
      lebih `halus', yaitu perangkat ideologis. Golongan yang berkuasa juga
      menguasai suprastruktur ideologis masyarakat dengan tujuan yang sama
      dengan negara meski dengan cara berbeda, yaitu pembujukan. Di setiap
      jaman sejak manusia mengembangkan lembaga negara, selalu ada
      penguasa-penguasa ideologis di samping penguasa-penguasa politis.
      Rohaniwan, filsuf, penyair, dan guru-guru membantu mengendalikan
      golongan tertindas dengan mengembangkan gagasan-gagasan mengenai yang
      benar dan yang salah. Gagasan-gagasan ideal yang disebarluaskan
      bergantung pada ragam produksi dan kepentingan kelas dominan di
      dalamnya. Pada masa feodal, pertanian manorial merupakan kekuatan
      produktif utama dan semua tanah dikuasai bangsawan atau gereja. Hampir
      semua hubungan sosial ditata dalam kaitannya dengan pertanian feodal
      ini. Kelas-kelas penguasa mempertahankan milik dan kekuasaannya dengan
      tentara sekaligus moralitas. Oleh karena itu, tidak mengejutkan bila
      pegangan moral pada masa itu menekankan ketaatan pada gereja,
      kesetiaan dan kepatuhan prajurit pada bangsawannya, serta kehormatan
      berdasarkan golongan.


      Dalam kapitalisme industri modern, kapitalis membutuhkan sejumlah
      besar pasokan pekerja yang mudah berpindah-pindah dan diganti-ganti.
      Pekerja jenis ini adalah orang-orang yang hanya mempunyai sedikit
      sekali ikatan di luar keluarga batihnya dan orang yang mau-tidak-mau
      harus menjual tenaga kerjanya sendiri kepada orang lain untuk memenuhi
      kebutuhan hidupnya. Kapitalisme membutuhkan orang-orang yang bebas
      menjual tenaga kerjanya dan orang-orang yang bebas membelinya. Oleh
      karena itu, tidak mengagetkan bila semboyan moral modern adalah
      kebebasan individual. Para filsuf, agamawan, penyair, atau ilmuwan
      menawarkan nilai moral ideal ini karena nilai ini mengabdi pada
      perekonomian industri modern. Seperti rekan-rekan mereka di jaman
      feodal, mereka meyakinkan diri mereka dan khalayak ramai bahwa
      nilai-nilai moral ini adalah kebenaran abadi dan merupakan sifat dasar
      kehidupan manusia sejak asali hingga akhir masa. Semua yang
      berseberangan dengan tatanan nilai ini dianggap sebagai penyimpangan
      dan tidak wajar. Penyebarluasan, perembesan, dan pelanggengan
      nilai-nilai ideal ini belum tentu dilakukan secara sadar untuk
      mendukung tatanan ekonomi. Dalam istilah kontemporer, proses ideologis
      yang menghasilkan kacamata khusus sehingga semua orang melihat
      segalanya sebagai sesuatu yang wajar disebut pewacanaan. Wacana yang
      `mendisiplinkan' individu-individu sehingga menjadi `masyarakat' tiada
      lain adalah suprastruktur ideologis yang kemunculannya tidak bisa
      lepas dari kondisi material masyarakat, meski harus ditekankan bahwa
      hubungan keduanya begitu rumit dan berbelit-belit.


      Ideologi atau pandangan-pandangan mendalam dan tidak disadari dari
      kelas dominan dalam masyarakat harus dibedakan dari
      keyakinan-keyakinan lain yang dianut dalam cara yang khusus guna
      memanipulasi atau membentuk opini-opini mereka yang bukan anggota
      kelompok kelas penguasa. Berbeda dengan propanganda, ideologi adalah
      sistem pemikiran dan keyakinan yang digunakan oleh kelas berkuasa
      untuk menjelaskan pada diri mereka sendiri bagaimana sistem sosial
      mereka berjalan dan apa prinsip-prinsip yang diajukannya. Ideologi ada
      bukan sebagai fiksi tetapi sebagai `kebenaran' dan bukan hanya
      kebenaran pembuktian tetapi kebenaran moral. Memperoleh keuntungan
      sebesar-besarnya dari pengeluaran sekecil-kecilnya bukan fiksi, tapi
      kebenaran moral dalam masyarakat kapitalis. Penyimpangan dari prinsip
      ini berarti ketidakwajaran.


      Ideologi mempunyai fungsi penjelasan yang tepat sama dalam semua
      formasi sosial. Samir Amin telah menunjukkan bahwa ideologi-ideologi
      dari formasi-formasi sosial perupetian secara khas adalah agama-agama.
      Wewenang penuh lembaga kependetaan membenarkan adanya kekuasaan
      duniawi termasuk wewenang bagi akumulasi surplus dan surplus ini pada
      gilirannya digunakan untuk mendukung lembaga-lembaga keagamaan.
      Pandangan-pandangan ini mengesahkan rezim yang ada (S. Amin, Class and
      Nation, Monthly Review h. 52).


      III

      Gagasan Marx dan Engels tentang fungsi ideologi yang mengganti dan
      menyesatkan pandangan orang atas kehidupan ini sangat jelas dalam
      analisis Marx tentang agama. Menurut Marx, tekanan agama tradisional
      pada dunia transenden, non-material, dan harapan pada kehidupan
      setelah kematian membantu mengalihkan perhatian orang dari penderitaan
      nyata dan kesulitan dalam kehidupan mereka. Sudah masyur kiranya
      pandangan Marx bahwa agama adalah sekumpulan khayal; atau lebih
      tepatnya khayalan-khayalan yang berdampak sangat jahat. Agama adalah
      contoh ideologi yang paling ekstrim. Agama adalah suatu sistem
      kepercayaan yang bertujuan sekadar memberi alasan (atau ijin) untuk
      mempertahankan hal-hal yang ada di dalam masyarakat berjalan sesuai
      dengan kepentingan para penindas. Seperti dengan lugas dinyatakan Marx
      bahwa "Agama adalah teori umum dunia ini... logikanya dalam bentuk
      yang populer... sanksi moralnya, penggenapannya yang sangat penting,
      landasan penghiburan dan pembenaran yang umum. Agama adalah perwujudan
      khayal manusia karena manusia tidak memiliki kenyataan. Karena itu,
      perjuangan melawan agama secara tidak langsung adalah perjuangan
      melawan dunia yang aroma spiritualnya adalah agama." (K. Marx, Towards
      a critique of Hegel's Philosophy of Right: introduction, MSW h.63-4)


      Di tempat yang sama juga Marx menulis bahwa "Penderitaan keagamaan
      sekaligus merupakan suatu pernyatan mengenai penderitaan yang
      sesungguhnya dan suatu protes menentang penderitaan yang sesungguhnya.
      Agama adalah keluh-kesah mahluk tertindas, sentimen suatu dunia yang
      tak berperasaan, dan jiwa dari keadaan-keadaan tak berjiwa. Agama
      adalah candu rakyat" (ibid h.64). Marx jelas menganggap agama sebagai
      perwujudan dari ketertindasan, penderitaan, dan pembenaran atas
      tatanan sosial yang ada. Kesimpulan Marx bahwa agama adalah candu
      rakyat tidak boleh disama dengan anggapan umum kaum radikal lain bahwa
      agama adalah candu bagi rakyat. Perbedaan konsepsi Marx `agama adalah
      candu rakyat' dengan gagasan `agama adalah candu bagi rakyat' terletak
      pada asal-muasal. Bila yang terakhir menekankan bahwa agama merupakan
      buatan sengaja kelas tertentu untuk menipu rakyat tertindas, maka
      pandangan Marx menekankan bahwa agama muncul dari suatu kondisi
      material tertentu. Agama berlaku atas masyarakat bagaikan candu yang
      meringankan penderitaan tapi tidak menghilangkan keadaan-keadaan yang
      memunculkan penderitaan tersebut. Karena itu agama semata-mata
      menenangkan orang dan memungkinkan mereka menerima keadaan sosial
      tempat mereka hidup dengan harapan akan adanya suatu kehidupan di
      kemudian hari ketika semua penderitaan dan kesengsaraan akan lenyap
      untuk selama-lamanya. Bila kemudian agama dimanfaatkan oleh kelas
      penindas untuk melanggengkan tatanan sosial yang menguntungkan mereka,
      itu lain soal. Yang ditekankan Marx dalam teks di atas adalah bahwa
      gagasan keagamaan berakar dalam keadaan material masyarakat bukan dari
      wahyu atau gagasan kreatif yang muncul begitu saja karena ilham
      ilahiah tanpa adanya dialektika antara kesadaran dengan lingkungan.


      Agama adalah fenomena universal dalam arti bahwa semua masyarakat
      mempunyai cara-cara berpikir dan pola-pola bertindak yang memenuhi
      syarat untuk disebut agama. Ketika membincangkan agama, maka akan
      tampak bahwa sebagian unsurnya berada dalam suprastruktur ideologis
      dan sebagian lagi berada dalam tataran struktur sosial. Yang termasuk
      ke dalam unsur-unsur ideologis antara lain lambang-lambang, citra,
      kepercayaan, dan nilai-nilai tertentu yang dengan semua ini manusia
      memahami dan menafsirkan keberadaan mereka di dunia. Yang termasuk ke
      dalam unsur-unsur struktur sosial antara lain peribadatan, pemilahan
      orang-orang ke dalam kedudukan-kedudukan tertentu yang terkait dengan
      gagasan keagamaan, dan ritual-ritual. Pembahasan Marx dan Engels atas
      agama juga terpilah ke dalam dua aspek agama; agama sebagai sistem
      ideologi dan agama sebagai lembaga sosial. Sebagai ideologi, agama
      berfungsi sebagai seperangkat sanksi moral, khayal, penghibur atas
      kondisi ketidakadilan, penyelubung kenyataan, dan pembenar
      ketidaksetaraan. Dengan pandangan seperti ini jelas Marx menempatkan
      agama dalam konteks sosial-historis. Oleh karena itu, Marx menjelaskan
      gejala-gejala keagamaan dengan mempertimbangkan kondisi material
      tempat gejala tersebut muncul. Artinya, agama harus dipahami hanya
      dengan mengkaji hubungan antara agama sebagai wujud ideologi dengan
      kehidupan sosial-ekonomi dalam suatu babak sejarah tertentu. Hubungan
      ini tentu saja tidak sederhana. Marx sama sekali menghindari
      penjelasan mekanis dalam menggambarkan hubungannya.


      Selain menempatkan agama sebagai sebentuk ideologi yang digunakan oleh
      kelas dominan untuk menyamarkan kenyataan dan mengendalikan
      kelas-kelas terhisap, Marx dan Engels juga menjelaskan agama secara
      empiris dalam wujud analisis pertarungan kelas dalam suatu kurun waktu
      tertentu. Penekanannya bukan pada ideologi kelas dominan atau
      pandangan dunia pada suatu babak sejarah tertentu, tapi lebih pada
      pemilahan masyarakat ke dalam kelas-kelas dan pertarungan di antara
      kelas-kelas tersebut. Perlakuan terhadap gejala keagamaan ini
      mengungkapkan bahwa setiap kelas sosial mengusung ideologi tersendiri
      yang menampilkan kepentingan kelasnya masing-masing. Pendekatan kedua
      ini muncul misalnya dalam karya Engels Mengenai Sejarah Kekristianian
      Awal (1894-6, MEA h.335-366) tentang asal-muasal agama Kristiani dan
      The Peasant War In Germany (1871) tentang pemberontakan-pemberontakan
      petani di jaman feodal.


      Secara tidak langsung Engels menyatakan bahwa bentuk agama awal umat
      manusia bersifat alamiah dan spontan. Kemunculan negara dan pendetalah
      yang memunculkan agama sebagai lembaga penipuan dan pengeliruan. Dalam
      masyarakat kesukuan agama tidak terpisah dari kekerabatan dan ekonomi.
      Penaklukan Roma terhadap masyarakat kesukuan, menghancurkan kebebasan
      komuniti sekaligus sistem keagamaannya. Pada masa kekaisaran Roma
      muncul kelas-kelas. Komuniti yang ditaklukkan harus membayar upeti
      atau menjadi budak. Para pendeta merupakan bagian dari kelas penghisap
      yang mengebawahi orang-orang taklukan. Dalam masyarakat berlapis
      seperti inilah agama Kristiani muncul. Menurut Engels agama Kristiani
      "asal-muasalnya sebuah gerakan rakyat tertindas: ia mula-mula muncul
      sebagai agama kaum budak dan para budak yang telah beremansipasi, dari
      rakyat miskin yang terampas dari semua hak, dari rakyat-rakyat yang
      ditaklukkan atau dibubarkan oleh Roma" (Engels, Ibid h. 335).


      Kaum tertindas Roma ini mencari keselamatan dan jalan keluar dari
      kemiskinan dan penghisapan. Menurut Engels, jalan penyelamatan itu
      tidak ada di dunia ini. Agama Kristiani menaruh keselamatan dari
      perbudakan dan kemiskinan di luar kehidupan dunia, yaitu keselamatan
      ruhaniah yang berfungsi sebagai penghibur kesadaran orang tertindas
      dan menjaga mereka dari keputusasaan. Menurut Engels, di antara
      ratusan nabi pada kurun waktu itu hanya pendiri Kristiani yang
      mencapai sukses. Perlu ditekankan bahwa ada perbedaan besar antara
      Kristiani awal yang menekankan kembalinya Yesus Kristus untuk kedua
      kalinya dalam waktu dekat dengan keyakinan gereja Kristen mapan
      setelah Konsili Nicea 325 M menjadikan agama Kristiani sebagai agama
      negara yang diakui Kekaisaran Romawi.


      Dalam kepustakaan antropologi satu kajian sejarah tentang asal-muasal
      agama Kristiani diberikan oleh Marvin Harris dalam bukunya Cows, Pigs,
      Wars, and Witches (1974). Menurutnya Kekristenan dilahirkan oleh suatu
      kurun revolusioner saat munculnya gerakan-gerakan mesianisme militer
      Yahudi menentang pendudukan Romawi atas Palestina.


      Bangsa Palestina kuno sudah sejak lama berada di bawah penguasa luar,
      yaitu sejumlah kekaisaran asing dari Babilonia, Persia, hingga Romawi.
      Di bawah kekuasaan Romawi yang sudah ada di Palestina bertahun-tahun
      sebelum maupun sesudah masa hidup Yesus Kristus, kebanyakan orang
      Yahudi berada dalam ketertindasan dan eksploitasi. Palestina adalah
      korban kelaliman penjajahan yang brutal. Sebagian besar penduduk
      adalah petani tanpa lahan, tukang-tukang upahan, pelayan, dan budak.
      Di luar kelas-kelas terhisap ini terdapat sejumlah kecil elit pemuka
      agama, tuan tanah, dan pedagang yang hidup berlimpah kemewahan. Para
      petani dibebani pajak-pajak berat dan berbagai kerja paksa pada
      tuan-tuan tanahh. Korupsi administrasi dan inflasi meraja-lela.
      Akibatnya, timbul kebencian sangat dalam dari para petani Galilea
      terhadap aristokrat Yerusalem. Dalam kondisi inilah, mesianisme
      militer Yahudi berkembang. Banyak orang mengaku sebagai mesias yang
      akan membebaskan Palestina dari ketertindasan rakyat dan membangun
      Kerajaan Tuhan di bumi. Menurut Harris, sebagai tambahan pada
      pewartaan religius tentang Kerajaan Tuhan, para mesias ini terlibat
      dalam kegiatan-kegiatan militer yang dirancang mewujudkannya. Tidak
      sedikit mesias mengorganisasi tentara dan memerangi pasukan Romawi.
      Catatan sejarah Yahudi mengisahkan dua peperangan besar melawan
      pasukan Romawi. Pertama terjadi pada 68-73 M, dan yang kedua terjadi
      pada tahun 132-136 M (prks. E.J Dumont, Kisah Hidup Bangsa Yahudi,
      Masaseni).


      Yesus adalah satu dari sekian banyak mesia Yahudi yang muncul di
      Palestina untuk membebaskan rakyat tertindas dari penghisapan dan
      eksploitasi Romawi. Berseberangan dengan bayangan awam tentang Yesus
      Sang Raja Damai, Harris menjelaskan bahwa Yesus sesungguhnya
      berkegiatan selaras dengan tradisi semua mesianisme militer Yahudi.
      Menurut Harris "Yesus dan para pengikutnya tidak melalukan apa pun
      yang membedakan mereka dari anggota-anggota gerakan mesianik-militer
      yang baru muncul. Mereka malah merangsang sekurang-kurangnya satu
      konfrontasi kekerasan. Mereka menyerbu ke pekarangan kuil besar dan
      menyerang secara fisik para pedagang yang mempunyai izin melakukan
      tukar-menukar mata uang sehingga para peziarah asing dapat membeli
      hewan kurban. Yesus sendiri menggunakan cambuk selama peristiwa ini."
      (S.K Sanderson, Makrososiologi, Rajawali h. 534).


      Pertanyaannya, bila Yesus adalah seorang mesias militer Yahudi,
      mengapa dalam perkembangan berikutnya ajaran dan tindakannya dipandang
      bersifat damai? Harris menandaskan bahwa hal ini terjadi karena adanya
      penafsiran ulang yang sangat pilih-pilih mengenai pikiran dan
      perbuatan Yesus sesungguhnya. Menurut Harris, setelah kekuatan Yahudi
      terkalahkan dalam perang mesias tahun 68-73 M, maka orang-orang
      Kristen Yahudi mulai menafsir ulang kemesiasan Yesus. Tafsir ulang ini
      merupakan keharusan bila berkaca pada kegagalan perang mesianis mereka
      melawan Romawi. Menurut Harris: "Akibat dari perang mesianik yang
      tidak berhasil itu, maka segera menjadi suatu keharusan praktis bagi
      orang-orang Kristen untuk menolak bahwa kepercayaan mereka telah
      muncul dari kepercayaan Yahudi terhadap seorang mesias yang akan
      meruntuhkan Kekaisaran Romawi. Orang-orang Kristen Yahudi siap
      bergabung dengan orang-orang bukan Yahudi yang telah memeluk agama
      untuk meyakinkan orang-orang Romawi bahwa mesias mereka berbeda dari
      mesias-mesias bandit-fanatik yang telah menimbulkan perang dan yang
      terus akan menimbulkan keonaran. Orang-orang Kristen, tidak seperti
      orang-orang Yahudi, adalah orang-orang yang cinta damai, tak bersalah,
      dan tidak mempunyai ambisi sekuler" (ibid h. 535).


      Dari ulasan di atas dapat dikatan bahwa di satu sisi, penafsiran ulang
      ajaran dan tindakan Yesus yang memunculkan kesan damai memungkinkan
      berkurangnya tekanan-tekanan terhadap kelompok Kristiani oleh
      penguasa. Di sisi lain, penekanan aspek ruhaniah dan tafsir pewartaan
      Kerajaan Tuhan di bumi sebagai bersifat spiritual memberi penenang
      yang menguatkan kaum tertindas dari penderitaan yang mereka alami.
      Kedua sisi Kristiani yang damai ini mewujud dalam bentuk keyakinan
      akan turunnya Yesus untuk kedua kalinya ke bumi membawa damai.


      Dalam Mengenai Sejarah Kekristianian Awal, Engels membandingkan
      kemunculan gerakan keagamaan Kristiani awal dengan kemunculan
      gerakan-gerakan perlawanan kaum tertindas dalam tradisi Islam di
      Afrika Utara. Engels mencatat kesamaan antara kemunculan agama
      Kristiani dengan pemberontakan Mahdi di Sudan yang berlatar ketegangan
      antarlapisan sosial yang senjang. (Engels, op.cit h.336-7)


      Analisis kelas Engels atas agama juga dibahas dalam Perang Petani di
      Jerman (1871). Karya ini boleh dikatakan sebagai karya sejarah klasik
      yang menyuruk ke dalam abad ke-16 dan ke-17. Dalam karya ini Engels
      berupaya menjelaskan asal-muasal pemberontakan petani dan kaum
      pedagang di Jerman awal abad ke-16. Engels menunjukkan bahwa
      pemberontakan yang berlatar gerakan keagamaan masa itu sungguh-sungguh
      melibatkan kepentingan kelas ekonomi.


      Pada masa itu, menurut Engels, Agama Katolik merupakan ideologi
      dominan yang menyajikan perpaduan segala hal dan dukungan utama
      terhadap dominasi tuan tanah feodal. Oleh karena itu, perlawanan
      terhadap feodalisme dan tatanan sosial-politik secara terus-menerus
      ditafsirkan sebagai bidah keagamaan. Meskipun pelapisan kelas pada
      kurun waktu itu sangat kompleks dan masing-masing memiliki kepentingan
      masing-masing yang tak jarang saling bertentangan, tapi Engels
      menyatakan bahwa dalam perjuangan pada waktu itu terbentuk tiga
      kelompok kepentingan. Pertama, unsur Katolik konservatif yang berusaha
      mempertahankan tatanan feodal. Kelompok ini mencakup penguasa gereja
      yang tiada lain tuan-tuan tanah dan kaum bangsawan feodal kota yang
      kaya. Kedua, ada unsur reformis yang mencakup kelas borjuis yang
      sedang tumbuh pesat di kota-kota Jerman selatan serta segelintir
      bangsawan dan raja yang berkepentingan atas tanah-tanah gereja. Martin
      Luther merupakan tokoh panutan kelompok ini. Lewat kritik tajamnya
      terhadap berbagai praktek feodal dalam Gereja Katolik, Luther
      menyuarakan kepentingan kelas-kelas yang tertindas dalam tatanan
      feodal, terutama borjuis kota dan petani. Mulanya Luther mendukung
      pemberontakan petani, tapi kemudian setelah memperoleh kemenangan
      melawan gereja, kelompoknya malah menindas petani. Ketiga, ada
      kelompok revolusioner yang didukung petani dan penduduk miskin kota
      yang yang menyuarakan kesetaraan semua orang seperti masa awal
      Kristiani. Tokoh kelompok ketiga ini adalah Thomas Munzer (Engels, The
      Peasant War, h. 53-78).


      Engels mencatat Munzer sebagai penyebar Injil yang berdakwah di daerah
      pedalaman. Pekerjaannya sukses. Dia meramalkan dekatnya kedatangan
      masa seribu tahun kedamaian bagi kaum miskin dan Hari Pengadilan bagi
      golongan masyarakat yang bobrok, terutama kalangan gereja dan tuan
      tanah yang korup. Sebagaimana gerakan-gerakan pembebasan mileniar
      seperti Waldensis dan Albigensis di abad ke-12 dan ke-13, Munzer
      menyuarakan tuntutan pembebasan ketertindasan kaum tani. Munzer
      menyebarkan sebentuk komunisme. Di antara tuntutan gerakan keagamaan
      pimpinan Thomas Munzer itu adalah hak memilih pendeta, penghapusan
      pajak dan perbudakan, pemulihan hak-hak tanah komunal, dan
      dilenyapkannya pengadilan yang sewenang-wenang. Gerakan Munzer ini
      sempat mengenyam keberhasilan namun kemudian runtuh. Kesimpulan
      Engels, Munzer adalah perwujudan kelas proletar yang belum berkembang
      sepenuhnya dan pada kurun tersebut revolusi belum siap dengan
      gagasan-gagasan yang benar.


      Engels jelas melihat agama berfungsi sebagai ideologi kelas. Agama
      adalah patokan kebenaran moral atas kepentingan kelas. Kelas tuan
      tanah, penguasa gereja dan bangsawan feodal, mewujudkan kepentingan
      kelas melalui agama Katolik yang memelihara hirarki dalam masyarakat
      yang dipandang sebagai ketentuan Tuhan di bumi. Tindakan-tindakan
      mereka untuk melenyapkan semua gerakan yang menghendaki terhapusnya
      hirarki dan terwujudnya kehidupan sama rata sama rasa dibenarkan oleh
      gagasan keagamaan yang mereka anut. Kelas borjuis kota dan bangsawan
      yang berkepentingan mengambil tanah-tanah gereja menyerang berbagai
      praktek keagamaan Katolik sebagai berlawanan dengan semangat
      kesetaraan manusia dalam Kristen. Gagasan bahwa hubungan manusia
      dengan Tuhan harus melalui perantara, yaitu para pastur yang mewakili
      Bunda Gereja, dicampakkan sebagai penyelewengan. Manusia harus
      berhubungan langsung dengan Tuhan. Itulah janji keselamatan Kristiani.
      Individualisme sebagai nilai borjuis diangkat ke tingkat keagamaan.
      Kepentingan kelas menjadi agama; Protestanisme. Di samping agama-agama
      kelas dominan tersebut, petani dan kaum miskin kota mewujudkan
      kesadaran kelasnya melalui gerakan ratu adil Kristiani yang hendak
      mewujudkan masyarakat Kristiani sejati seperti dalam masa Yesus ketika
      semua orang hidup dalam kesetaraan dan persaudaraan. Tidak ada hirarki
      dan penghisapan. Tujuan ini dibenarkan oleh keyakinan bahwa Yesus
      mengajarkan kesetaraan semua manusia dihadapan-Nya. Atau kepercayaan
      bahwa Yesus datang ke dunia untuk membebaskan kaum tertindas dan
      menyingkirkan kaum lalim.


      Teori agama Marx dan Engels menunjukkan bahwa agama bukan gejala
      sosial yang tunggal. Sisi-sisinya beragam. Sebagai lembaga yang khas
      manusia, memahami agama tidak mungkin terlaksana dengan abai terhadap
      konteks sejarahnya. Bagi Marx, melepaskan kiritk agama dari kritik
      konteks materialnya, hampir serupa dengan omong kosong. Kritik
      terhadap agama tanpa kritik terhadap tatanan sosial tempat agama
      tersebut tumbuh hanya menceburkan diri ke dalam pertarungan melawan
      bayangan. Kritik Marx ini ditujukan kepada filsuf-filsuf Jerman
      seperti Ludwig Feuerbach dan Max Stirner yang puas dengan revolusi
      pemikiran saja.


      Bila Marx dan Engels muda menjelaskan gejala keagamaan dengan melihat
      konteks sosial-historisnya, tidak demikian halnya dengan Engels di
      masa tua dan para Marxis ortodoks seperti Karl Kautsky atau Paul
      Lafargue. Alih-alih menerapkan `konsepsi materialis atas sejarah'
      terhadap agama, kaum Marxis ortodoks menjiplak antropolog evolusionis
      klasik yang menjelaskan asal-mula agama dan moralitas sebagai gejala
      alamiah-psikologis. Dalam tulisannya Ludwig Feuerbach dan Akhir
      Filsafat Klasik Jerman (1886), Engels menyatakan bahwa gagasan tentang
      roh dan keabadian muncul dari upaya intelektual untuk memahami
      hantu-hantu mimpi dan kematian. Tuhan, menurut Engels, pertama muncul
      dari pempribadian kekuatan-kekuatan alam (MESW vol.2). Dalam karyanya
      Anti-Dühring (1878), dengan nada sama Engels mendasarkan diri pada
      gagasan Muller, Tylor, dan Feuerbach bahwa seluruh agama: "tiada lain
      adalah pantulan khayal dalam pikiran manusia terhadap
      kekuatan-kekuatan di luar dirinya yang mengendalikan kehidupan
      sehari-hari mereka, suatu pantulan pikiran tempat kekuatan-kekuatan
      bumi mengambil bentuk kekuatan-kekuatan adikodrati." (Engels,
      Anti-Duhring, Hastamitra h. 420). Lebih lanjut, persis seperti teori
      agama E.B. Tylor, Engels menyatakan bahwa "Pada permulaan sejarah,
      agama adalah kekuatan alam yang mula-mula dipantulkan pikiran, dan
      melalui evolusi selanjutnya mengalami pempribadian yang beragam dalam
      masyarakat yang berbeda-beda... tetapi tidak lama sebelumnya,
      berdampingan dengan kekuatan alam, kekuatan sosial mulai
      aktif—kekuatan yang membenturkan manusia yang sama asingnya dengan
      yang pertama kali tidak dapat dijelaskan... masih dalam tahap
      selanjutnya, seluruh sifat kealaman dan sosial dari berbagai Tuhan
      diubah ke dalam Tuhan yang Mahakuasa, yang tidak lain adalah abstraksi
      dari manusia abstrak. Itulah asa-usul monoteisme" (ibid, h. 421).


      Penjelasan gejala ketuhanan seperti ini jelas terpengaruh berbagai
      teori antropologi klasik tentang evolusi gagasan ketuhanan, terutama
      dari E.B. Tylor. Menurut Bloch, kecenderungan di kalangan Marxis
      setelah kematian Marx (1883) hingga 1917 memang menunjukkan kuatnya
      pengaruh perkembangan ilmu-ilmu evolusionistik. Tokoh-tokoh
      evolusionis seperti Herbert Spencer, Charles Darwin, atau E.B. Tylor
      tampak begitu merasuk ke dalam pemikiran `Engels tua' dan para Marxis
      awal (M. Bloch, Marxism and Anthropology, Oxford h. 99).



      Catatan:

      MESW (Marx-Engels Selected Works. 2 Volume. Moscow: Foreign Laguange
      Publishing House, 1962)

      MSW (Karl Marx Selected Works, editor: David McLellan. Oxford: Oxford
      University Press, 1985)

      MS (Marx Selection, editor Allen W.. Wood. Macmillan Publishing
      Company, 1988)

      MEA (Marx-Engels tentang Agama, Institut Marxisme, Jakarta: Hasta
      Mitra,2000)
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.