Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Resume Pengamatan Hilaal Tua Ramadhan dan Hilaal Syawwal 1430 H

Expand Messages
  • Ma'rufin Sudibyo
    Sebelumnya mohon maaf yang sebesar-besarnya, karena kesibukan mudik-balik dan silaturahmi selama Hari Raya Idul Fitri 1430 H maka resume pengamatan hilaal ini
    Message 1 of 1 , Oct 1, 2009
    View Source
    • 0 Attachment
      Sebelumnya mohon maaf yang sebesar-besarnya, karena kesibukan mudik-balik dan silaturahmi selama Hari Raya Idul Fitri 1430 H maka resume pengamatan hilaal ini menjadi terlambat untuk diposkan. Mohon perkenannya.
       
      Hilaal Tua Ramadhan 1430 H

      1. Jumat pagi 18 September 2009 menjelang Matahari terbit (sunrise)

      Pengamat dan hasil :
      • Pak AR Sugeng (Klaten), hilaal tua tak terlihat, langit mendung.
      • Ma'rufin (Kebumen), hilaal tua tak terlihat, langit mendung.
      • Mas Iwan Kuswidi(Yogyakarta), hilaal tua tak terlihat, langit mendung.
      Hilaal Syawwal 1430 H

      1. Sabtu senja 19 September 2009 setelah Matahari terbenam (sunset)

      Pengamat dan hasil :
      • Pak Mutoha & tim BHR DIY (Parangkusumo DIY), hilaal tak terlihat, langit mendung, kontak via ponsel
      • Pak KH Ahmad Izzudin & tim gabungan Semarang (Masjid Agung Jawa Tengah), hilaal terlihat dengan mata telanjang dan alat optik (ada dokumentasi video), kondisi langit tak terdeskripsikan, kontak via ponsel
      • Pak Ibnu Zahid Aboel Muid & tim LFNU Gresik (Condrodipo Gresik), hilaal tak terlihat, langit berawan sebagian, kontak via ponsel
      • Pak Usman & tim BHR Aceh Utara (Lhokseumawe NAD), hilaal tak terlihat, langit mendung, kontak via ponsel
      • Pak Mahmud & tim BMKG (Pelabuhan Ratu Jabar), hilaal tak terlihat, langit cerah dengan awan tipis di horizon, kontak via email
      • Mas Yhonny Siregar (Bogor), hilaal tak terlihat, langit mendung, kontak via ponsel
      • Mas Iwan Kuswidi (Sragen), hilaal tak terlihat, langit cerah dengan awan rendah di horizon, kontak via email.
      • Pak Rahmad Zailani Kiki & tim (Jakarta), hilaal tak terlihat, langit mendung, kontak via ponsel
      • Pak Sumedi & tim BHR Purworejo (Purworejo), hilaal tak terlihat, langit mendung, kontak via ponsel
      • Pak Tusah Ihsanuddin & tim BHR Kebumen (Logending Kebumen), hilaal tak terlihat, langit mendung, kontak via ponsel.
      • Pak Khusnan & tim Unsyiq Wonosobo (Wonosobo), hilaal tak terlihat, langit mendung
      2. Minggu senja 20 September 2009 setelah Matahari terbenam (sunset)

      Pengamat dan hasil :
      • Ma'rufin (Malang Jatim), hilaal terlihat dengan alat optik tepat saat Matahari terbenam, langit berawan cirrus sebagian.
      • Pak Mutoha (Yogyakarta), hilaal terlihat dengan mata telanjang sesudah shalat maghrib, kondisi langit tak terprediksi.
      Pengamat lain dan hasilnya :
      • Tim rukyat Basmol (Jakarta Barat), hilaal terlihat dengan mata telanjang dan alat optik pada senja 19 September 2009, langit mendung, kontak via ponsel (catatan : klaim meragukan karena spot didekatnya dan citra satelit melaporkan langit Jakarta mendung total)
      • Tim rukyat Cakung (Jakarta Utara), hilaal terlihat dengan mata telanjang dan alat optik pada senja 19 September 2009, langit mendung, kontak via ponsel (catatan : klaim meragukan karena spot didekatnya dan citra satelit melaporkan langit Jakarta mendung total)
      • Tim rukyat Pelabuhan Ratu (Pelabuhan Ratu), hilaal terlihat dengan mata telanjang selama 1 menit pada senja 19 September 2009, langit cerah dengan awan tipis di horizon.
      Catatan : tim gabungan = tim bersama yang dikoordinasikan menkominfo dan terdiri dari unsur Departemen Agama, Observatorium Bosscha, TVRI, PT Telkom dan PT Telkomsel.

      Terima kasih atas semua partisipasinya. Data-data telah kami catat dan Insya' Allah akan sangat berguna dalam histori, kajian dan penentuan kalender Hijriyyah di Indonesia. Dan kami tunggu lagi partisipasi serta laporannya dalam pengamatan hilaal tua Syawwal dan hilaal Zulqa'idah 1430 H mendatang.

      1 Syawwal 1430 H

      Secara teoritis, berdasarkan data hisab, pada Sabtu senja 19 September 2009 Bulan berada pada ketinggian yang cukup tinggi (yakni 5 - 6 derajat untuk kawasan Indonesia bagian barat) sehingga sangat berpotensi untuk bisa dilihat/diobservasi dalam spektrum cahaya tampak (yakni menggunakan mata telanjang ataupun alat optik yang dikalibrasikan dengan mata telanjang). Lag Bulan (yakni selisih antara terbenamnya Matahari hingga terbenamnya Bulan) bernilai + 27 menit, artinya Bulan terbenam 27 menit setelah terbenamnya Matahari. Nilai 27 menit ini merupakan limit nilai Lag untuk observasi hilaal di Indonesia berdasarkan database RHI. Sementara pada Minggu senja 20 September 2009 Bulan telah memiliki Lag + 27 + 52 = + 79 menit dan pada kondisi ini model visibilitas RHI menunjukkan Bulan akan terlihat sebagai sabit sebelum terbenamnya Matahari (karea batas maksimal Bulan terlihat sebagai sabit tepat saat Matahari terbenam adalah + 42 menit dengan menggunakan alat optik).

      Sebagai catatan, database RHI menunjukkan bahwa yang disebut hilaal adalah Bulan dalam fase sabit yang memiliki Lag + 27 hingga + 42 menit. Bulan dengan Lag > + 42 menit kami definisikan sebagai Bulan sabit saja (alias Moon crescent) sementara Bulan dengan Lag < + 27 menit kami definisikan sebagai Bulan gelap (darkmoon alias Mahaq)

      Meski demikian realitanya, dengan adanya fenomena osilasi Madden Julian (Madden Julian Oscillation / MJO) membuat tidak semua titik pengamatan bisa mengamati hilaal. Pada 19 September, dari 11 titik pengamatan dalam jejaring RHI hanya 1 yang bisa mengamati hilaal (9 %). Secara keseluruhan di Indonesia, dari 70 titik pengamatan hilaal, baik yang dikoordinasikan BHR-BHR Daerah maupun ormas-ormas Islam, hanya 2 yang bisa mengamati hilaal (2,8 %). Laporan pengamatan hilaal dari Basmol dan Cakung (keduanya di Jakarta) terpaksa harus ditolak karena hasil laporan bertentangan dengan kondisi meteorologis setempat seperti dilaporkan salah satu tik jejaring dan diperkuat dengan citra satelit yang menunjukkan Jakarta dan sekitarnya diliputi awan tebal pada saat itu.

      Demikian pula, fenomena osilasi Madden Julian (Madden Julian Oscillation / MJO) membuat Bulan sabit pada 20 September 2009 tidak bisa terlihat secara langsung begitu Matahari terbenam. Model visibilitas RHI menyarankan Bulan sabit sudah bisa dilihat 13 menit sebelum sunset, namun realitanya menunjukkan baru pada saat sunset-lah Bulan sabit teramati.

      Dengan demikian 1 Syawwal 1430 H telah dimulai pada Sabtu senja 19 September 2009 saat sunset, atau secara gampangnya dikatakan 1 Syawwal 1430 H = Minggu 20 September 2009, berdasarkan pada teramatinya hilaal dalam observasi dan dikomparasikan dengan hisab model visibilitas RHI. Dan 29 Syawwal 1430 H bertepatan dengan 18 Oktober 2009

      Periode Sinodis

      Untuk lunasi Syawwal 1430 H ini, periode sinodis Bulan bernilai 29 hari 10 jam 49 menit. Harus diingat, ini adalah periode sinodis yang aktual, sementara angka 29 hari 12 jam 44 menit sebagaimana yang terpublikasikan secara luas sebenarnya (dan menjadi dasar bagi sistem kalender 'urfi) merupakan periode sinodis rata-rata. 

      Anomali Waktu Pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1 Syawwal 1430 H

      Meski data hisab hakiki bittahqiq (yang diakui paling akurat) menunjukkan 1 Syawwal 1430 H bertepatan dengan Minggu 20 September 2009 dan ini ditunjang pula oleh hasil rukyat, namun ada juga yang melaksanakan shalat Idul Fitri di luar waktu tersebut. Berikut beberapa anomali yang berhasil dicatat :
      • Jama'ah thariqah Naqsyabandiyah Padang Sumbar, melaksanakan shalat Idul Fitri pada Jumat 18 September 2009 dengan menggunakan dasar hisab urfi sistem putaran golek limo.
      • Jama'ah an-Nadhir Gowa Sulsel, melaksanakan shalat Idul Fitri pada Sabtu 19 September 2009 dengan menggunakan dasar pengamatan pasang naik air laut.
      • Jama'ah al-Muhdlor & Ainul Yaqin Jombang Jatim, melaksanakan shalat Idul Fitri pada Sabtu 19 September 2009 dengan menggunakan dasar hisab 'urfi.
      • Jama'ah thariqah Naqsyabandiyah Kholidiyah Jombang Jatim, melaksanakan shalat Idul Fitri pada Senin 21 September 2009 dengan menggunakan dasar rukyatul hilaal Sabtu 19 September 2009 dengan mata telanjang yang gagal mengamati hilaal di seluruh pos pengamatan (yang terletak di Jawa Timur), sehingga diputuskan untuk istikmal.
      • Masyarakat Islam Kejawen (Aboge), melaksanakan shalat Idul Fitri pada Selasa 22 September 2009 dengan menggunakan dasar hisab 'urfi sistem Aboge (tahun alif jatuh pada hari Rabu pasaran Wage).
      Anomali ini ada yang sudah berlangsung sejak lama (berpuluh tahun), ada juga yang baru terjadi seperti pada jama'ah an-Nadhir. Menjadi tantangan bagi ahli falak syar'ie untuk melakukan edukasi dan mempersuasi anomali tersebut sehingga bisa merubah paradigma ke arah sistem yang lebih tepat. Dari sisi kuantitas, terkecuali jama'ah thariqah Naqsyabandiyah Kholidiyah yang mencapai 5.000-an orang, komunitas-komunitas tersebut adalah beranggotakan sedikit orang (misalnya seperti Naqsyabandiyah Padang, yang hanya beranggotakan 35 orang), sehingga terjadinya anomali tidak perlu diperbesarkan.

      Event Khusus

      Tak ada event khusus terkait Bulan dan Matahari dalam Syawwal 1430 H.
       
      Catatan
      • Dokumentasi hilaal penentuan 1 Syawwal 1430 H sampai saat ini masih dipegang oleh tim Semarang c.q. pak K.H. Ahmad Izzudin, pak Hendro Setyanto, pak Dani dll.
      Penutup

      Atas nama saya pribadi, dan mewakili rekan-rekan pengurus LP2IF RHI, dengan ini menghaturkan ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawwal 1430 H. Taqabballahu minna wa minkum, ja'anallahu wa iyyakum minal 'aidzin wal faidzin. Mohon maaf atas semua kesalahan dan kekhilafan yang telah dilakukan selama ini.

      Salam,


      Ma'rufin

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.