Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Laporan Dialog Antara Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia dengan Komisi VIII DPR-RI di Melbourne

Expand Messages
  • DS Adi Pratomo
      Laporan Dialog Antara Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia dengan Komisi VIII DPR-RI di Melbourne     Tulisan ini ditulis oleh rekan saya, Teguh
    Message 1 of 3 , May 2, 2011
    • 0 Attachment

       

      Laporan Dialog Antara Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia dengan Komisi VIII DPR-RI di Melbourne


       



       

      Tulisan ini ditulis oleh rekan saya, Teguh Iskanto ketika menghadiri dialog antara Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) dengan Komisi VIII DPR-RI di Ruang Bhinneka Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Melbourne pada tanggal 30 April 2011, Pukul 20.00 waktu setempat.

      Pembuka:

      Setelah bertahun2 menjadi WNI akhirnya kesampaian juga saya mendapat kesempatan utk dapat bertatap muka dan berdiskusi dengan para wakil rakyat. Terlebih tidak terasa sudah 9 tahun 10 bulan saya meninggalkan Indonesia, dan mungkin kesempatan ini adalah satu2nya kesempatan bagi saya utk bisa bertemu & bertatap muka langsung dengan para pejabat negara.

      Setelah terburu2 nyupir karena takut telat, akhirnya saya beserta istri sampai juga  di KJRI sekitar pukul 18:15 AEST, walhasil sesampainya di KJRI terlihat jelas pihak konsulat sudah mempersiapkan acara dengan matang. Makanan, kursi2 tamu beserta meja panelis utk pembicara, semua sudah disiapkan dengan rapi.  Waktu sudah menunjukan pukul 18:19 tapi belum juga terlihat tanda2 kedatangan para tamu yang ‘terhormat’, padahal di undangan tertulis acara akan dimulai pukul 18:00.

      Menunggu sang tamu datang :

      Sambil menunggu akhirnya saya menggunakan waktu yg ada utk sholat maghrib, bercengkerama & beramah tamah dengan kawan2. Di bagian depan terlihat banyak kamera & video dari beberapa media komunitas Indonesia di Melbourne. Berikut ada juga perwakilan Radio SBS Australia yg datang untuk meliput. Sementara beberapa kawan2 dari PPIA sudah siap dengan siaran internet radio langsung yg di sebarkan ke seluruh dunia via PPI Internasional, semua alat2 sudah di set & disiapkan.

      Seputar berita2 negatif yg ada di internet ttg rencana study banding anggota dewan, saya sebelumnya juga sudah di ingatkan oleh istri dan seorang kawan utk tidak menghakimi para anggota dewan. “Berikan mereka kesempatan utk menjelaskan alasan mereka, dan jangan pojokan mereka, mungkin ada sesuatu yg kita tidak tahu” , begitu saran yg saya dapatkan dan sayapun setuju utk menjadi lebih netral dan objektif, lagi pula “who are we to judge people anyway …”

      Akhirnya sang tamu datang juga :

      Setelah menunggu cukup lama, akhirnya sang tamu yang di tunggu2 datang juga, secara persis saya tidak melihat jam mungkin sekitar jam 18:50-19:00. Semua hadirin tampak antusias dan tidak terasa suasana ruangan Bhinneka di KJRI Melbourne menjadi tampak hidup karena semua orang mulai terlihat antusias. Beberapa anggota dewan bahkan ada yg mulai memperkenalkan diri secara personal & menyapa para hadirin satu persatu. Beberapa juga ada yg beramah tamah dengan staf KJRI.  Setelah beramah tamah sekitar 5-10 menit, staff KJRI mengumumkan utk memulai acara dengan hidangan makan malam terlebih dahulu. Pada mulanya saya sempat berpikir, wah ini sepertinya strategi dari KJRI utk meredam pertanyaan pertanyaan dari para hadirin, dengan membuat mereka kenyang dan mengantuk setelah makan … :) he he he

      Acara Dimulai :

      Setelah menikmati santap malam, akhirnya acara dibuka oleh Acting Consul General, Bpk Hadisapto Pambrastoro mewakili KJRI Melbourne. Bpk Hadi mencoba memaparkan  komposisi masyarakat Indonesia di Melbourne, yg lebih dari 50% umumnya diisi oleh pelajar. Sebelumnya juga hadirin di ingatkan bhw acara tanya jawab hanya akan dibatasi sampai pkl 21:00 mengingat jadwal kesibukan anggota tim komisi VIII keesokan harinya.

      Sementara dari pihak komisi VIII di wakili oleh juru bicaranya Bpk Abdul Kadir Karding (PKB), beliau memperkenalkan anggota tim study banding satu persatu dengan komposisi 6 orang anggota duduk di meja panelis yg terdiri dari perwakilan PDI-P, GOLKAR, PKS, PKB (Abdul Kadir Karding - Ketua Tim - Pembicara), GOLKAR & PD. Jumlah total  keseluruhan anggota komisi VIII yg datang pada study banding ini sekitar 11 orang.

      Beliau juga mencoba memaparkan, bidang kerja komisi VIII yg umumnya berkonsentrasi pd bidang :

      • Keagamaan ( mencakup didalamnya adalah : agama, pendidikan agama, masalah ahmadiyah, pluralisme & terorisme)
      • Penanggulangan bencana
      • Pemberdayaan perempuan & perlindungan anak
      • Kementerian sosial (diantaranya : masalah sosial, lansia, kemiskinan, orang cacat & anak jalanan)

      Di salah satu kesempatan beliau juga menjelaskan tujuan kedatangan ke Australia adalah untuk belajar mengenai upaya penanggulangan kemiskinan, diantaranya adalah  menyusun konsep rancangan untuk :

      • RUU Fakir Miskin
      • RUU Kebebasan & Perlindungan beragama
      • RUU ZIS (Zakat Infaq Shadaqah) - pengurangan pajak thd donasi
      • RUU Jaminan produk halal
      • RUU Keadilan dan kesetaraan gender
      • RUU Pendidikan yg dikelola masyarakat swasta

      Beliau juga menjelaskan mengapa Australia adalah negara yg di tuju :

      • Lebih dekat dibanding negara2 lain ( sehingga bisa mengurangi biaya )
      • Australia memiliki system jaminan sosial yg terstruktur dan mapan kalau meminjam kata2nya Bpk Karding : “Sistem yg luar biasa”
      • Salah satu negara yg sukses menerapkan prinsip multikulturalisme sampai pada tingkat pendidikan anak-anak.

      Sesi Pertanyaan :

      Setelah mendengar paparan tadi, saya cukup mengakui kalau Bpk Abdul Kadir Karding (PKB) , memiliki kemampuan komunikasi yg hebat, beliau mencoba ‘meredam’ suasana hadirin yg ada di ruang Bhinneka dengan ’lelucon-lelucon’ dan dengan paparan gaya bahasa yg lugas, tenang dan terstruktur. Mungkin ini sebabnya beliau terpilih menjadi ketua tim, karena kalau dari apa yang saya lihat secara pribadi beliaulah yg paling memiliki kemampuan ‘public speaking’ yg paling mencolok dibanding anggota2 yang lain. Karena kalau dilihat ada beberapa anggota yang hanya duduk di kursi panelis tanpa ada sepatah katapun yg keluar dari mulut mereka (selain memperkenalkan diri), ada yg hanya mencatat  dan ada pula yg hanya sesekali saja berkomentar. Kalau dilihat memang ‘all in all’, sepertinya adalah memang tugasnya Bapak Karding untuk ‘menjinakan’ para hadirin :)

      Pada saat sesi tanya jawab dimulai,  ada 3 penanya pertama (dari beberapa yg berusaha secara antusias)  :

      1. Bagus Nugroho (Mahasiswa Program S3 Bidang Aeronautics Melbourne University & Nano Tech dari Oxford University)

      Mengenai dana yg di keluarkan utk 11 anggota DPR yang pergi study banding ke Australia , menurut perhitungan sdr Bagus, jumlah dana yg di keluarkan adalah sekitar Rp. 811 juta, pertanyaan nya adalah mengapa sebesar itu ? bukankah itu  dana yg sangat besar utk dikeluarkan, mengingat tingkat efektifitas yg rendah dari hasil study banding.

      2. Dirgayuza Setiawan (Wakil Ketua PPIA - Mahasiswa Jurusan Media )

      Yuza, mencoba menyangkal argumen Bpk Karding, yang mempertanyakan mengapa surat terbuka PPIA dikirimkan terlebih dahulu ke media dibanding langsung ke beliau : menurut Yuza, karena semua channel yg ada telah dicoba berikut mengakses website pribadi Bpk Karding yg ternyata berstatus ’suspended’. Dari website DPR-RI pun, tidak ada keterangan nomor kontak & alamat email yg bisa dihubungi. Karena itu Yuza menghubungi media utk meminta informasi.

      Seperti telah di ketahui sebelumnya dalam wawancara radio Australia di Canberra, Bpk Karding mengatakan bahwa alasan anggota DPR tidak mengunjungi daerah Northern Teritory (NT) adalah karena beliau menangkap adanya “sinyal2″  keengganan dari pemerintah Australia utk membolehkan anggota DPR pergi  ke NT. Dikarenakan menurut beliau issue penduduk miskin Aborigin di Australia adalah issue yg sensitif apalagi utk kunjungan perlemen asing. Pada saat yg sama Yuza mengatakan, hal yg sama tidak terjadi terhadap beberapa mahasiswa Indonesia yang sedang mengadakan penilitian di NT untuk mensurvei penduduk miskin, pemerintah Australia justru membantu dengan sepenuh hati. Hal yg menjadi pertanyaan Yuza adalah, “sinyal-sinyal” seperti apakah dan bagaimana cara menginterpretasikan sinyal yang ditangkap Bpk Karding sehingga jatuh pada kesimpulan bahwa pemerintah Australia enggan mengizinkan anggota DPR-RI pergi ke NT ?  Terlebih daerah NT adalah daerah dengan konsentrasi penduduk miskin terbanyak di Australia.

      Pertanyaan yg lain adalah, mengapa kunjungan yg di lakukan  hanya mampu menghubungi pejabat2 setingkat negara bagian, tapi tidak sampai pada tingkat pemerintah federal?  DPR cenderung dianggap tidak siap dalam menyiapkan bahan2 dan memilih narasumber ( kurangnya koordinasi & tidak tepat sasaran )  dan kalaupun ini memang sudah di persiapkan jauh2 hari, kenapa ada visa salah satu anggota tim Komisi VIII yg di tolak oleh pemerintah Australia ?

      3. Penanya ke-3 (lupa namanya, beliau sedang mengambil study S-2 bidang sosiology di Melbourne University)

      Beliau menanyakan ttg kerukunan hidup beragama terutama masalah perlakuan pemerintah terhadap pengikut Syi’ah di Indonesia.

      Sesi  Komisi VIII Menjawab ( Hadirin Mulai Gelisah/Gusar )  :

      Lagi2 saya harus akui kelihaian Bpk Abdul Kadir Karding untuk urusan ’skill’ public speaking, sepertinya beliau menguasai betul medan & trik utk mengulur2 waktu, salah satunya adalah dengan melambatkan tempo bicara, dan berbicara hal2 yg diluar konteks pembicaraan. Hal ini menyebabkan waktu yg tersisa tinggal sedikit. Beberapa kali Dirgayuza (Wakil Ketua PPIA) menginterupsi anggota komisi VIII untuk “straight to the point” pada pertanyaan yang ditanyakan.

      Beberapa anggota dewan yg diberi kesempatan utk menjawab bahkan ada yg bercerita tentang beberapa anak nya yg dulu pernah bersekolah di Melbourne, Australia. Secara pribadi menurut saya, jawaban2 yang diberikan lebih bersifat normatif dan tidak pada inti permasalahan dan cenderung berputar2. Apakah ini suatu kesengajaan utk mengulur2 waktu? Hanya Tuhan yg tahu…

      Karena jawaban tidak dirasakan mengena dan berputar2 utk hal2 yg tidak penting sementara waktu semakin sempit, banyak hadirin yg mulai melakukan interupsi sehingga suasana ruang garuda menjadi gaduh. Tidak hanya itu beberapa sesekali sudah mulai  terdengar suara cemoohan dan kata2 “huuuu…kecewaaaaa!!!”  dari para hadirin.

      Ketika mendekati pukul 21:00, pihak KJRI berusaha utk menutup sesi tanya jawab, dengan alasan kesibukan anggota dewan besok : which is Sunday of course ..:)   bukankah adalah hak kita sbg rakyat utk meminta / menanyakan hal2 yg di rasa perlu ke wakil rakyat kita di parlemen? Pada saat ini suasana makin riuh dan sudah ada hadirin yg berteriak2 langsung bertanya … tanpa moderator … :) terus terang suasana sudah sedikit agak kacau pada waktu itu. Bahkan ada beberapa yg langsung meninggalkan ruangan dan langsung pulang.

      Here comes the Bomb Shell …

      Salah satu kawan saya (pas saat sesi kacau) sempat berteriak … “Kenapa gak pakai teleconference aja sih Pak ?” pada saat itu, Bpk Karding menjawab : “Wah itu kan teknisnya terlalu rumit … ”   sontak mendengar jawaban tadi hadirin yg umumnya mahasiswa langsung tertawa … lalu ada lagi yg nyeletuk “Pak mau dibikinin account Skype sama saya nggak Pak ?”

      Trus ada beberapa anggota Komisi VIII, yg mengatakan, karena keterbatasan waktu  kawan2 bisa menghubungi kami lewat email. Tapi ketika serentak kami menanyakan apa alamat email beliau, yang keluar adalah … xxxx@... :) .  Beberapa hadirin termasuk saya tampak kesal dengan jawaban tsb, kemudian menanyakan , “Kami ingin alamat resmi bapak” , dan di balas dengan: “nanti ….nanti akan di berikan …. ”  pada saat ini penyiar radio PPI Internasional menginterupsi “Tolong di sebutkan saja pak disini , jadi semua orang bisa dengar …” , bahkan dengan tantangan itupun sepertinya mereka bapak2/ibu2 anggota Komisi VIII itu tidak tahu …apa alamat email resmi mereka …  saya lihat ada 1 orang staff ahli yg mendampingi komisi VIII sibuk bolak balik mencoba membagikan kartu nama ( yg itupun dalam kartu nama tersebut tercantum alamat imel Gmail & Yahoo ) …  ????

      Karena suasana panik dan makin riuh, salah seorang ibu (staff anggota komisi VIII) berteriak, ”  KALAU ADA YANG PERLU DITANYAKAN… SILAKAN SAJA KIRIM KE ALAMAT EMAIL  : KOMISI DELAPAN AT YAHOO DOT COM.. !!!! ”  pada saat itu .. tawa hadirin langsung pecah  .. saya sendiri geleng2 kepala dan sudah tidak tahu mau bicara apa lagi …

      Ada teman yg bilang : Wah kalo gitu mah gak usah jadi anggota DPR, anak saya yg masih kecil juga udah bisa bikin email yahoo sendiri … :)

      BTW: setelah acara selesai salah seorang kawan mencoba mengirim test mail (via BB) ke :

      - komisiviii@...

      - komisi8@...

      - komisidelapan@...

      - komisiviii@...

      - komisi8@...

      - komisidelapan@...

      and guess what, none of them is working …!!! semua email test bouncing back ke sender , alias alamat yg di berikan tidak ada …!!!!

      lagi2 karena tidak puas, saya beserta istri & kawan2 mendekati ibu salah satu staff ahli pendamping anggota komisi VIII dalam kunjungan kerja ini, sambil menanyakan alamat resmi, saat itu beliau bilang : “Liat aja di website DPR nanti kan ada daftar masing2 komisi, nanti dari situ ada alamat imelnya “

      Lagi lagi, kita cek via HP , dan …ternyata tidak ada (kalau tidak percaya silakan cek sendiri ke www.dpr.go.id) , kalau begini mana yang benar ? kalau yang bekerja di DPR saja  tidak tahu alamat kontak resmi yg bisa di hubungi bagaimana orang lain ?? Dan jangan salah bahwa, 1 staff DPR memiliki 7 asisten (staf ahli),  *Unfortunately* sepertinya tidak satupun dari ke-7  asisten + beserta anggota DPR sendiri tahu alamat kontak resmi mereka  ??? Kalau utk yang sangat mendasar saja mereka tidak kompeten, bagaimana mereka akan membela kepentingan rakyat yang akan mereka wakili ???

      Bagaimana tidak, DPR RI, parlemen dari negara dengan jumlah penduduk ke-4 terbesar di dunia, parlemen dari negara anggota G-20 (negara dengan salah satu kekuatan ekonomi & pangsa pasar terbesar di dunia) serta mempunyai anggaran ber-triliun2 rupiah utk gedung baru, lengkap dgn fasilitas & tunjangan lainnya ….  masih memakai alamat email gratis utk kontak terhadap rakyat yg di wakilinya   … ????

      Tidakkah mereka berpikir, bhw parlemen kita akan menjadi bahan olok-olok parlemen Australia begitu melihat kartu nama dengan alamat imel dari Yahoo / Gmail ???

      Ketika ditanya alamat kontak mereka, umumnya mereka kebingungan menjawabnya, yg menurut saya sangat2 aneh bukan ??  bagaimana mereka mau mendengar aspirasi rakyat yang mereka wakili jika alamat kontak utk dihubungi pun mereka seperti kebingungan menjawabnya ??

      Setelah acara diskusi selesai, beberapa dari kami yg tidak puas, langsung menyerbu dan bertanya langsung ke anggota komisi VIII, ada dari beberapa diantara mereka tidak membawa kartu nama !!!   bagaimana mereka ingin memperkenalkan diri di hadapan anggota parlemen Australia jika kartu nama saja mereka tidak bawa, dan kalaupun ada, mereka mencantumkan alamat imel gratis (yahoo/gmail) sebagai alamat kontak mereka !!!

      Pada saat saya mencoba bertanya, ke Bpk Karding tentang kunjungan study banding : saya tanyakan, pak bukankah menjadi paradoks bagi DPR bahwa kunjungan study banding dalam rangka mengentaskan kemiskinan tapi di saat yg sama DPR menghambur2kan uang rakyat yg akan dientaskan kemiskinannya ???

      Ironis sekali memang ternyata, dan syukur …kalau bukan karena kesempatan ini, saya mungkin hanya bisa mendengar dari media massa tentang perilaku anggota DPR, tapi utk saat ini saya bisa melihat, mendengar & mengalaminya sendiri di depan mata.

      Saat itu kami sempat bingung dan bertanya ke salah satu staff senior KJRI : ” Pak apa memang sudah separah inikah keadaan institusi di negara kita ? ”  beliau menjawab ( dan mencoba berdiplomasi ) : “Maaf dik saya sendiri belum berkecimpung di dunia politik, mengenai komentar, saya pikir, adik bisa lihat sendiri apa yg terjadi tadi” … ( kayaknya beliau juga shock )

      Sebagai Penutup :

      BTW: Beberapa kawan sebelum pulang kita sempat bercanda “kayaknya abis malem ini kita bakal susah tidur nih … ” dan banyak yang geleng2 kepala sampai keluar pintu KJRI, sepertinya kita masih belum percaya dengan apa yg kita lihat.

      Entah mau dibawa kemana negara ini, jika para pemegang amanah-nya saja tidak kompeten di bidangnya.

      Dan memang ternyata benar, sampai sekarang pukul 6:30 pagi pun saya belum bisa tidur … :)

       

      Oleh: Teguh Iskanto

       

    • Rio Wardhanu
      Aku sih percaya sama DPR. Dikasih jalan jalan ya gapapa. Kasiyan capek kerja keras.. Soal alamat email, dan ga bawa kartu juga ga papa, manusia tak luput dari
      Message 2 of 3 , May 3, 2011
      • 0 Attachment
        Aku sih percaya sama DPR. Dikasih jalan jalan ya gapapa. Kasiyan capek kerja keras..

        Soal alamat email, dan ga bawa kartu juga ga papa, manusia tak luput dari alpa.

        Mahasiswa belum tahu rasanya jadi anggota DPR tapi DPR kayaknya uda pernah jd mahasiswa.

        Yang muda sebaiknya menghormati yg tua.


        *ngetik sambil mual-mual*

        twitter: @kopdang
        http://kopidangdut.org/


        From: DS Adi Pratomo <dsadipratomo@...>
        Sender: room99@yahoogroups.com
        Date: Tue, 3 May 2011 13:36:09 +0800 (SGT)
        To: <room99@yahoogroups.com>; <delapansatu99@yahoogroups.com>; <immawati.muslichah@...>
        ReplyTo: room99@yahoogroups.com
        Subject: [room99] Laporan Dialog Antara Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia dengan Komisi VIII DPR-RI di Melbourne

         

         

        Laporan Dialog Antara Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia dengan Komisi VIII DPR-RI di Melbourne


         



         

        Tulisan ini ditulis oleh rekan saya, Teguh Iskanto ketika menghadiri dialog antara Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) dengan Komisi VIII DPR-RI di Ruang Bhinneka Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Melbourne pada tanggal 30 April 2011, Pukul 20.00 waktu setempat.

        Pembuka:

        Setelah bertahun2 menjadi WNI akhirnya kesampaian juga saya mendapat kesempatan utk dapat bertatap muka dan berdiskusi dengan para wakil rakyat. Terlebih tidak terasa sudah 9 tahun 10 bulan saya meninggalkan Indonesia, dan mungkin kesempatan ini adalah satu2nya kesempatan bagi saya utk bisa bertemu & bertatap muka langsung dengan para pejabat negara.

        Setelah terburu2 nyupir karena takut telat, akhirnya saya beserta istri sampai juga  di KJRI sekitar pukul 18:15 AEST, walhasil sesampainya di KJRI terlihat jelas pihak konsulat sudah mempersiapkan acara dengan matang. Makanan, kursi2 tamu beserta meja panelis utk pembicara, semua sudah disiapkan dengan rapi.  Waktu sudah menunjukan pukul 18:19 tapi belum juga terlihat tanda2 kedatangan para tamu yang ‘terhormat’, padahal di undangan tertulis acara akan dimulai pukul 18:00.

        Menunggu sang tamu datang :

        Sambil menunggu akhirnya saya menggunakan waktu yg ada utk sholat maghrib, bercengkerama & beramah tamah dengan kawan2. Di bagian depan terlihat banyak kamera & video dari beberapa media komunitas Indonesia di Melbourne. Berikut ada juga perwakilan Radio SBS Australia yg datang untuk meliput. Sementara beberapa kawan2 dari PPIA sudah siap dengan siaran internet radio langsung yg di sebarkan ke seluruh dunia via PPI Internasional, semua alat2 sudah di set & disiapkan.

        Seputar berita2 negatif yg ada di internet ttg rencana study banding anggota dewan, saya sebelumnya juga sudah di ingatkan oleh istri dan seorang kawan utk tidak menghakimi para anggota dewan. “Berikan mereka kesempatan utk menjelaskan alasan mereka, dan jangan pojokan mereka, mungkin ada sesuatu yg kita tidak tahu” , begitu saran yg saya dapatkan dan sayapun setuju utk menjadi lebih netral dan objektif, lagi pula “who are we to judge people anyway …”

        Akhirnya sang tamu datang juga :

        Setelah menunggu cukup lama, akhirnya sang tamu yang di tunggu2 datang juga, secara persis saya tidak melihat jam mungkin sekitar jam 18:50-19:00. Semua hadirin tampak antusias dan tidak terasa suasana ruangan Bhinneka di KJRI Melbourne menjadi tampak hidup karena semua orang mulai terlihat antusias. Beberapa anggota dewan bahkan ada yg mulai memperkenalkan diri secara personal & menyapa para hadirin satu persatu. Beberapa juga ada yg beramah tamah dengan staf KJRI.  Setelah beramah tamah sekitar 5-10 menit, staff KJRI mengumumkan utk memulai acara dengan hidangan makan malam terlebih dahulu. Pada mulanya saya sempat berpikir, wah ini sepertinya strategi dari KJRI utk meredam pertanyaan pertanyaan dari para hadirin, dengan membuat mereka kenyang dan mengantuk setelah makan … :) he he he

        Acara Dimulai :

        Setelah menikmati santap malam, akhirnya acara dibuka oleh Acting Consul General, Bpk Hadisapto Pambrastoro mewakili KJRI Melbourne. Bpk Hadi mencoba memaparkan  komposisi masyarakat Indonesia di Melbourne, yg lebih dari 50% umumnya diisi oleh pelajar. Sebelumnya juga hadirin di ingatkan bhw acara tanya jawab hanya akan dibatasi sampai pkl 21:00 mengingat jadwal kesibukan anggota tim komisi VIII keesokan harinya.

        Sementara dari pihak komisi VIII di wakili oleh juru bicaranya Bpk Abdul Kadir Karding (PKB), beliau memperkenalkan anggota tim study banding satu persatu dengan komposisi 6 orang anggota duduk di meja panelis yg terdiri dari perwakilan PDI-P, GOLKAR, PKS, PKB (Abdul Kadir Karding - Ketua Tim - Pembicara), GOLKAR & PD. Jumlah total  keseluruhan anggota komisi VIII yg datang pada study banding ini sekitar 11 orang.

        Beliau juga mencoba memaparkan, bidang kerja komisi VIII yg umumnya berkonsentrasi pd bidang :

        • Keagamaan ( mencakup didalamnya adalah : agama, pendidikan agama, masalah ahmadiyah, pluralisme & terorisme)
        • Penanggulangan bencana
        • Pemberdayaan perempuan & perlindungan anak
        • Kementerian sosial (diantaranya : masalah sosial, lansia, kemiskinan, orang cacat & anak jalanan)

        Di salah satu kesempatan beliau juga menjelaskan tujuan kedatangan ke Australia adalah untuk belajar mengenai upaya penanggulangan kemiskinan, diantaranya adalah  menyusun konsep rancangan untuk :

        • RUU Fakir Miskin
        • RUU Kebebasan & Perlindungan beragama
        • RUU ZIS (Zakat Infaq Shadaqah) - pengurangan pajak thd donasi
        • RUU Jaminan produk halal
        • RUU Keadilan dan kesetaraan gender
        • RUU Pendidikan yg dikelola masyarakat swasta

        Beliau juga menjelaskan mengapa Australia adalah negara yg di tuju :

        • Lebih dekat dibanding negara2 lain ( sehingga bisa mengurangi biaya )
        • Australia memiliki system jaminan sosial yg terstruktur dan mapan kalau meminjam kata2nya Bpk Karding : “Sistem yg luar biasa”
        • Salah satu negara yg sukses menerapkan prinsip multikulturalisme sampai pada tingkat pendidikan anak-anak.

        Sesi Pertanyaan :

        Setelah mendengar paparan tadi, saya cukup mengakui kalau Bpk Abdul Kadir Karding (PKB) , memiliki kemampuan komunikasi yg hebat, beliau mencoba ‘meredam’ suasana hadirin yg ada di ruang Bhinneka dengan ’lelucon-lelucon’ dan dengan paparan gaya bahasa yg lugas, tenang dan terstruktur. Mungkin ini sebabnya beliau terpilih menjadi ketua tim, karena kalau dari apa yang saya lihat secara pribadi beliaulah yg paling memiliki kemampuan ‘public speaking’ yg paling mencolok dibanding anggota2 yang lain. Karena kalau dilihat ada beberapa anggota yang hanya duduk di kursi panelis tanpa ada sepatah katapun yg keluar dari mulut mereka (selain memperkenalkan diri), ada yg hanya mencatat  dan ada pula yg hanya sesekali saja berkomentar. Kalau dilihat memang ‘all in all’, sepertinya adalah memang tugasnya Bapak Karding untuk ‘menjinakan’ para hadirin :)

        Pada saat sesi tanya jawab dimulai,  ada 3 penanya pertama (dari beberapa yg berusaha secara antusias)  :

        1. Bagus Nugroho (Mahasiswa Program S3 Bidang Aeronautics Melbourne University & Nano Tech dari Oxford University)

        Mengenai dana yg di keluarkan utk 11 anggota DPR yang pergi study banding ke Australia , menurut perhitungan sdr Bagus, jumlah dana yg di keluarkan adalah sekitar Rp. 811 juta, pertanyaan nya adalah mengapa sebesar itu ? bukankah itu  dana yg sangat besar utk dikeluarkan, mengingat tingkat efektifitas yg rendah dari hasil study banding.

        2. Dirgayuza Setiawan (Wakil Ketua PPIA - Mahasiswa Jurusan Media )

        Yuza, mencoba menyangkal argumen Bpk Karding, yang mempertanyakan mengapa surat terbuka PPIA dikirimkan terlebih dahulu ke media dibanding langsung ke beliau : menurut Yuza, karena semua channel yg ada telah dicoba berikut mengakses website pribadi Bpk Karding yg ternyata berstatus ’suspended’. Dari website DPR-RI pun, tidak ada keterangan nomor kontak & alamat email yg bisa dihubungi. Karena itu Yuza menghubungi media utk meminta informasi.

        Seperti telah di ketahui sebelumnya dalam wawancara radio Australia di Canberra, Bpk Karding mengatakan bahwa alasan anggota DPR tidak mengunjungi daerah Northern Teritory (NT) adalah karena beliau menangkap adanya “sinyal2″  keengganan dari pemerintah Australia utk membolehkan anggota DPR pergi  ke NT. Dikarenakan menurut beliau issue penduduk miskin Aborigin di Australia adalah issue yg sensitif apalagi utk kunjungan perlemen asing. Pada saat yg sama Yuza mengatakan, hal yg sama tidak terjadi terhadap beberapa mahasiswa Indonesia yang sedang mengadakan penilitian di NT untuk mensurvei penduduk miskin, pemerintah Australia justru membantu dengan sepenuh hati. Hal yg menjadi pertanyaan Yuza adalah, “sinyal-sinyal” seperti apakah dan bagaimana cara menginterpretasikan sinyal yang ditangkap Bpk Karding sehingga jatuh pada kesimpulan bahwa pemerintah Australia enggan mengizinkan anggota DPR-RI pergi ke NT ?  Terlebih daerah NT adalah daerah dengan konsentrasi penduduk miskin terbanyak di Australia.

        Pertanyaan yg lain adalah, mengapa kunjungan yg di lakukan  hanya mampu menghubungi pejabat2 setingkat negara bagian, tapi tidak sampai pada tingkat pemerintah federal?  DPR cenderung dianggap tidak siap dalam menyiapkan bahan2 dan memilih narasumber ( kurangnya koordinasi & tidak tepat sasaran )  dan kalaupun ini memang sudah di persiapkan jauh2 hari, kenapa ada visa salah satu anggota tim Komisi VIII yg di tolak oleh pemerintah Australia ?

        3. Penanya ke-3 (lupa namanya, beliau sedang mengambil study S-2 bidang sosiology di Melbourne University)

        Beliau menanyakan ttg kerukunan hidup beragama terutama masalah perlakuan pemerintah terhadap pengikut Syi’ah di Indonesia.

        Sesi  Komisi VIII Menjawab ( Hadirin Mulai Gelisah/Gusar )  :

        Lagi2 saya harus akui kelihaian Bpk Abdul Kadir Karding untuk urusan ’skill’ public speaking, sepertinya beliau menguasai betul medan & trik utk mengulur2 waktu, salah satunya adalah dengan melambatkan tempo bicara, dan berbicara hal2 yg diluar konteks pembicaraan. Hal ini menyebabkan waktu yg tersisa tinggal sedikit. Beberapa kali Dirgayuza (Wakil Ketua PPIA) menginterupsi anggota komisi VIII untuk “straight to the point” pada pertanyaan yang ditanyakan.

        Beberapa anggota dewan yg diberi kesempatan utk menjawab bahkan ada yg bercerita tentang beberapa anak nya yg dulu pernah bersekolah di Melbourne, Australia. Secara pribadi menurut saya, jawaban2 yang diberikan lebih bersifat normatif dan tidak pada inti permasalahan dan cenderung berputar2. Apakah ini suatu kesengajaan utk mengulur2 waktu? Hanya Tuhan yg tahu…

        Karena jawaban tidak dirasakan mengena dan berputar2 utk hal2 yg tidak penting sementara waktu semakin sempit, banyak hadirin yg mulai melakukan interupsi sehingga suasana ruang garuda menjadi gaduh. Tidak hanya itu beberapa sesekali sudah mulai  terdengar suara cemoohan dan kata2 “huuuu…kecewaaaaa!!!”  dari para hadirin.

        Ketika mendekati pukul 21:00, pihak KJRI berusaha utk menutup sesi tanya jawab, dengan alasan kesibukan anggota dewan besok : which is Sunday of course ..:)   bukankah adalah hak kita sbg rakyat utk meminta / menanyakan hal2 yg di rasa perlu ke wakil rakyat kita di parlemen? Pada saat ini suasana makin riuh dan sudah ada hadirin yg berteriak2 langsung bertanya … tanpa moderator … :) terus terang suasana sudah sedikit agak kacau pada waktu itu. Bahkan ada beberapa yg langsung meninggalkan ruangan dan langsung pulang.

        Here comes the Bomb Shell …

        Salah satu kawan saya (pas saat sesi kacau) sempat berteriak … “Kenapa gak pakai teleconference aja sih Pak ?” pada saat itu, Bpk Karding menjawab : “Wah itu kan teknisnya terlalu rumit … ”   sontak mendengar jawaban tadi hadirin yg umumnya mahasiswa langsung tertawa … lalu ada lagi yg nyeletuk “Pak mau dibikinin account Skype sama saya nggak Pak ?”

        Trus ada beberapa anggota Komisi VIII, yg mengatakan, karena keterbatasan waktu  kawan2 bisa menghubungi kami lewat email. Tapi ketika serentak kami menanyakan apa alamat email beliau, yang keluar adalah … xxxx@... :) .  Beberapa hadirin termasuk saya tampak kesal dengan jawaban tsb, kemudian menanyakan , “Kami ingin alamat resmi bapak” , dan di balas dengan: “nanti ….nanti akan di berikan …. ”  pada saat ini penyiar radio PPI Internasional menginterupsi “Tolong di sebutkan saja pak disini , jadi semua orang bisa dengar …” , bahkan dengan tantangan itupun sepertinya mereka bapak2/ibu2 anggota Komisi VIII itu tidak tahu …apa alamat email resmi mereka …  saya lihat ada 1 orang staff ahli yg mendampingi komisi VIII sibuk bolak balik mencoba membagikan kartu nama ( yg itupun dalam kartu nama tersebut tercantum alamat imel Gmail & Yahoo ) …  ????

        Karena suasana panik dan makin riuh, salah seorang ibu (staff anggota komisi VIII) berteriak, ”  KALAU ADA YANG PERLU DITANYAKAN… SILAKAN SAJA KIRIM KE ALAMAT EMAIL  : KOMISI DELAPAN AT YAHOO DOT COM.. !!!! ”  pada saat itu .. tawa hadirin langsung pecah  .. saya sendiri geleng2 kepala dan sudah tidak tahu mau bicara apa lagi …

        Ada teman yg bilang : Wah kalo gitu mah gak usah jadi anggota DPR, anak saya yg masih kecil juga udah bisa bikin email yahoo sendiri … :)

        BTW: setelah acara selesai salah seorang kawan mencoba mengirim test mail (via BB) ke :

        - komisiviii@...

        - komisi8@...

        - komisidelapan@...

        - komisiviii@...

        - komisi8@...

        - komisidelapan@...

        and guess what, none of them is working …!!! semua email test bouncing back ke sender , alias alamat yg di berikan tidak ada …!!!!

        lagi2 karena tidak puas, saya beserta istri & kawan2 mendekati ibu salah satu staff ahli pendamping anggota komisi VIII dalam kunjungan kerja ini, sambil menanyakan alamat resmi, saat itu beliau bilang : “Liat aja di website DPR nanti kan ada daftar masing2 komisi, nanti dari situ ada alamat imelnya “

        Lagi lagi, kita cek via HP , dan …ternyata tidak ada (kalau tidak percaya silakan cek sendiri ke www.dpr.go.id) , kalau begini mana yang benar ? kalau yang bekerja di DPR saja  tidak tahu alamat kontak resmi yg bisa di hubungi bagaimana orang lain ?? Dan jangan salah bahwa, 1 staff DPR memiliki 7 asisten (staf ahli),  *Unfortunately* sepertinya tidak satupun dari ke-7  asisten + beserta anggota DPR sendiri tahu alamat kontak resmi mereka  ??? Kalau utk yang sangat mendasar saja mereka tidak kompeten, bagaimana mereka akan membela kepentingan rakyat yang akan mereka wakili ???

        Bagaimana tidak, DPR RI, parlemen dari negara dengan jumlah penduduk ke-4 terbesar di dunia, parlemen dari negara anggota G-20 (negara dengan salah satu kekuatan ekonomi & pangsa pasar terbesar di dunia) serta mempunyai anggaran ber-triliun2 rupiah utk gedung baru, lengkap dgn fasilitas & tunjangan lainnya ….  masih memakai alamat email gratis utk kontak terhadap rakyat yg di wakilinya   … ????

        Tidakkah mereka berpikir, bhw parlemen kita akan menjadi bahan olok-olok parlemen Australia begitu melihat kartu nama dengan alamat imel dari Yahoo / Gmail ???

        Ketika ditanya alamat kontak mereka, umumnya mereka kebingungan menjawabnya, yg menurut saya sangat2 aneh bukan ??  bagaimana mereka mau mendengar aspirasi rakyat yang mereka wakili jika alamat kontak utk dihubungi pun mereka seperti kebingungan menjawabnya ??

        Setelah acara diskusi selesai, beberapa dari kami yg tidak puas, langsung menyerbu dan bertanya langsung ke anggota komisi VIII, ada dari beberapa diantara mereka tidak membawa kartu nama !!!   bagaimana mereka ingin memperkenalkan diri di hadapan anggota parlemen Australia jika kartu nama saja mereka tidak bawa, dan kalaupun ada, mereka mencantumkan alamat imel gratis (yahoo/gmail) sebagai alamat kontak mereka !!!

        Pada saat saya mencoba bertanya, ke Bpk Karding tentang kunjungan study banding : saya tanyakan, pak bukankah menjadi paradoks bagi DPR bahwa kunjungan study banding dalam rangka mengentaskan kemiskinan tapi di saat yg sama DPR menghambur2kan uang rakyat yg akan dientaskan kemiskinannya ???

        Ironis sekali memang ternyata, dan syukur …kalau bukan karena kesempatan ini, saya mungkin hanya bisa mendengar dari media massa tentang perilaku anggota DPR, tapi utk saat ini saya bisa melihat, mendengar & mengalaminya sendiri di depan mata.

        Saat itu kami sempat bingung dan bertanya ke salah satu staff senior KJRI : ” Pak apa memang sudah separah inikah keadaan institusi di negara kita ? ”  beliau menjawab ( dan mencoba berdiplomasi ) : “Maaf dik saya sendiri belum berkecimpung di dunia politik, mengenai komentar, saya pikir, adik bisa lihat sendiri apa yg terjadi tadi” … ( kayaknya beliau juga shock )

        Sebagai Penutup :

        BTW: Beberapa kawan sebelum pulang kita sempat bercanda “kayaknya abis malem ini kita bakal susah tidur nih … ” dan banyak yang geleng2 kepala sampai keluar pintu KJRI, sepertinya kita masih belum percaya dengan apa yg kita lihat.

        Entah mau dibawa kemana negara ini, jika para pemegang amanah-nya saja tidak kompeten di bidangnya.

        Dan memang ternyata benar, sampai sekarang pukul 6:30 pagi pun saya belum bisa tidur … :)

         

        Oleh: Teguh Iskanto

         

      • DS Adi Pratomo
        Coba di add aja alamat email itu di facebook. Tapi agak susah mengharapkan mahasiswa jaman sekarang. Semuanya sibuk nonton Opera van Java atau Bukan Empat mata
        Message 3 of 3 , May 3, 2011
        • 0 Attachment
          Coba di add aja alamat email itu di facebook. Tapi agak susah mengharapkan mahasiswa jaman sekarang. Semuanya sibuk nonton Opera van Java atau Bukan Empat mata (lengkap dengan gaya muter2 tangannya itu)

          Tapi kalo dibilang anggota DPR itu gaptek saya ndak setuju, lha wong bisa buka konten porno melalui link yang dikirimkan lewat email kok




          --- Pada Sel, 3/5/11, Rio Wardhanu <kopdang@...> menulis:

          Dari: Rio Wardhanu <kopdang@...>
          Judul: Re: [room99] Laporan Dialog Antara Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia dengan Komisi VIII DPR-RI di Melbourne
          Kepada: room99@yahoogroups.com
          Tanggal: Selasa, 3 Mei, 2011, 4:51 AM

           

          Aku sih percaya sama DPR. Dikasih jalan jalan ya gapapa. Kasiyan capek kerja keras..

          Soal alamat email, dan ga bawa kartu juga ga papa, manusia tak luput dari alpa.

          Mahasiswa belum tahu rasanya jadi anggota DPR tapi DPR kayaknya uda pernah jd mahasiswa.

          Yang muda sebaiknya menghormati yg tua.


          *ngetik sambil mual-mual*

          twitter: @kopdang
          http://kopidangdut.org/


          From: DS Adi Pratomo <dsadipratomo@...>
          Sender: room99@yahoogroups.com
          Date: Tue, 3 May 2011 13:36:09 +0800 (SGT)
          To: <room99@yahoogroups.com>; <delapansatu99@yahoogroups.com>; <immawati.muslichah@...>
          ReplyTo: room99@yahoogroups.com
          Subject: [room99] Laporan Dialog Antara Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia dengan Komisi VIII DPR-RI di Melbourne

           

           

          Laporan Dialog Antara Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia dengan Komisi VIII DPR-RI di Melbourne


           



           

          Tulisan ini ditulis oleh rekan saya, Teguh Iskanto ketika menghadiri dialog antara Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) dengan Komisi VIII DPR-RI di Ruang Bhinneka Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Melbourne pada tanggal 30 April 2011, Pukul 20.00 waktu setempat.

          Pembuka:

          Setelah bertahun2 menjadi WNI akhirnya kesampaian juga saya mendapat kesempatan utk dapat bertatap muka dan berdiskusi dengan para wakil rakyat. Terlebih tidak terasa sudah 9 tahun 10 bulan saya meninggalkan Indonesia, dan mungkin kesempatan ini adalah satu2nya kesempatan bagi saya utk bisa bertemu & bertatap muka langsung dengan para pejabat negara.

          Setelah terburu2 nyupir karena takut telat, akhirnya saya beserta istri sampai juga  di KJRI sekitar pukul 18:15 AEST, walhasil sesampainya di KJRI terlihat jelas pihak konsulat sudah mempersiapkan acara dengan matang. Makanan, kursi2 tamu beserta meja panelis utk pembicara, semua sudah disiapkan dengan rapi.  Waktu sudah menunjukan pukul 18:19 tapi belum juga terlihat tanda2 kedatangan para tamu yang ‘terhormat’, padahal di undangan tertulis acara akan dimulai pukul 18:00.

          Menunggu sang tamu datang :

          Sambil menunggu akhirnya saya menggunakan waktu yg ada utk sholat maghrib, bercengkerama & beramah tamah dengan kawan2. Di bagian depan terlihat banyak kamera & video dari beberapa media komunitas Indonesia di Melbourne. Berikut ada juga perwakilan Radio SBS Australia yg datang untuk meliput. Sementara beberapa kawan2 dari PPIA sudah siap dengan siaran internet radio langsung yg di sebarkan ke seluruh dunia via PPI Internasional, semua alat2 sudah di set & disiapkan.

          Seputar berita2 negatif yg ada di internet ttg rencana study banding anggota dewan, saya sebelumnya juga sudah di ingatkan oleh istri dan seorang kawan utk tidak menghakimi para anggota dewan. “Berikan mereka kesempatan utk menjelaskan alasan mereka, dan jangan pojokan mereka, mungkin ada sesuatu yg kita tidak tahu” , begitu saran yg saya dapatkan dan sayapun setuju utk menjadi lebih netral dan objektif, lagi pula “who are we to judge people anyway …”

          Akhirnya sang tamu datang juga :

          Setelah menunggu cukup lama, akhirnya sang tamu yang di tunggu2 datang juga, secara persis saya tidak melihat jam mungkin sekitar jam 18:50-19:00. Semua hadirin tampak antusias dan tidak terasa suasana ruangan Bhinneka di KJRI Melbourne menjadi tampak hidup karena semua orang mulai terlihat antusias. Beberapa anggota dewan bahkan ada yg mulai memperkenalkan diri secara personal & menyapa para hadirin satu persatu. Beberapa juga ada yg beramah tamah dengan staf KJRI.  Setelah beramah tamah sekitar 5-10 menit, staff KJRI mengumumkan utk memulai acara dengan hidangan makan malam terlebih dahulu. Pada mulanya saya sempat berpikir, wah ini sepertinya strategi dari KJRI utk meredam pertanyaan pertanyaan dari para hadirin, dengan membuat mereka kenyang dan mengantuk setelah makan … :) he he he

          Acara Dimulai :

          Setelah menikmati santap malam, akhirnya acara dibuka oleh Acting Consul General, Bpk Hadisapto Pambrastoro mewakili KJRI Melbourne. Bpk Hadi mencoba memaparkan  komposisi masyarakat Indonesia di Melbourne, yg lebih dari 50% umumnya diisi oleh pelajar. Sebelumnya juga hadirin di ingatkan bhw acara tanya jawab hanya akan dibatasi sampai pkl 21:00 mengingat jadwal kesibukan anggota tim komisi VIII keesokan harinya.

          Sementara dari pihak komisi VIII di wakili oleh juru bicaranya Bpk Abdul Kadir Karding (PKB), beliau memperkenalkan anggota tim study banding satu persatu dengan komposisi 6 orang anggota duduk di meja panelis yg terdiri dari perwakilan PDI-P, GOLKAR, PKS, PKB (Abdul Kadir Karding - Ketua Tim - Pembicara), GOLKAR & PD. Jumlah total  keseluruhan anggota komisi VIII yg datang pada study banding ini sekitar 11 orang.

          Beliau juga mencoba memaparkan, bidang kerja komisi VIII yg umumnya berkonsentrasi pd bidang :

          • Keagamaan ( mencakup didalamnya adalah : agama, pendidikan agama, masalah ahmadiyah, pluralisme & terorisme)
          • Penanggulangan bencana
          • Pemberdayaan perempuan & perlindungan anak
          • Kementerian sosial (diantaranya : masalah sosial, lansia, kemiskinan, orang cacat & anak jalanan)

          Di salah satu kesempatan beliau juga menjelaskan tujuan kedatangan ke Australia adalah untuk belajar mengenai upaya penanggulangan kemiskinan, diantaranya adalah  menyusun konsep rancangan untuk :

          • RUU Fakir Miskin
          • RUU Kebebasan & Perlindungan beragama
          • RUU ZIS (Zakat Infaq Shadaqah) - pengurangan pajak thd donasi
          • RUU Jaminan produk halal
          • RUU Keadilan dan kesetaraan gender
          • RUU Pendidikan yg dikelola masyarakat swasta

          Beliau juga menjelaskan mengapa Australia adalah negara yg di tuju :

          • Lebih dekat dibanding negara2 lain ( sehingga bisa mengurangi biaya )
          • Australia memiliki system jaminan sosial yg terstruktur dan mapan kalau meminjam kata2nya Bpk Karding : “Sistem yg luar biasa”
          • Salah satu negara yg sukses menerapkan prinsip multikulturalisme sampai pada tingkat pendidikan anak-anak.

          Sesi Pertanyaan :

          Setelah mendengar paparan tadi, saya cukup mengakui kalau Bpk Abdul Kadir Karding (PKB) , memiliki kemampuan komunikasi yg hebat, beliau mencoba ‘meredam’ suasana hadirin yg ada di ruang Bhinneka dengan ’lelucon-lelucon’ dan dengan paparan gaya bahasa yg lugas, tenang dan terstruktur. Mungkin ini sebabnya beliau terpilih menjadi ketua tim, karena kalau dari apa yang saya lihat secara pribadi beliaulah yg paling memiliki kemampuan ‘public speaking’ yg paling mencolok dibanding anggota2 yang lain. Karena kalau dilihat ada beberapa anggota yang hanya duduk di kursi panelis tanpa ada sepatah katapun yg keluar dari mulut mereka (selain memperkenalkan diri), ada yg hanya mencatat  dan ada pula yg hanya sesekali saja berkomentar. Kalau dilihat memang ‘all in all’, sepertinya adalah memang tugasnya Bapak Karding untuk ‘menjinakan’ para hadirin :)

          Pada saat sesi tanya jawab dimulai,  ada 3 penanya pertama (dari beberapa yg berusaha secara antusias)  :

          1. Bagus Nugroho (Mahasiswa Program S3 Bidang Aeronautics Melbourne University & Nano Tech dari Oxford University)

          Mengenai dana yg di keluarkan utk 11 anggota DPR yang pergi study banding ke Australia , menurut perhitungan sdr Bagus, jumlah dana yg di keluarkan adalah sekitar Rp. 811 juta, pertanyaan nya adalah mengapa sebesar itu ? bukankah itu  dana yg sangat besar utk dikeluarkan, mengingat tingkat efektifitas yg rendah dari hasil study banding.

          2. Dirgayuza Setiawan (Wakil Ketua PPIA - Mahasiswa Jurusan Media )

          Yuza, mencoba menyangkal argumen Bpk Karding, yang mempertanyakan mengapa surat terbuka PPIA dikirimkan terlebih dahulu ke media dibanding langsung ke beliau : menurut Yuza, karena semua channel yg ada telah dicoba berikut mengakses website pribadi Bpk Karding yg ternyata berstatus ’suspended’. Dari website DPR-RI pun, tidak ada keterangan nomor kontak & alamat email yg bisa dihubungi. Karena itu Yuza menghubungi media utk meminta informasi.

          Seperti telah di ketahui sebelumnya dalam wawancara radio Australia di Canberra, Bpk Karding mengatakan bahwa alasan anggota DPR tidak mengunjungi daerah Northern Teritory (NT) adalah karena beliau menangkap adanya “sinyal2″  keengganan dari pemerintah Australia utk membolehkan anggota DPR pergi  ke NT. Dikarenakan menurut beliau issue penduduk miskin Aborigin di Australia adalah issue yg sensitif apalagi utk kunjungan perlemen asing. Pada saat yg sama Yuza mengatakan, hal yg sama tidak terjadi terhadap beberapa mahasiswa Indonesia yang sedang mengadakan penilitian di NT untuk mensurvei penduduk miskin, pemerintah Australia justru membantu dengan sepenuh hati. Hal yg menjadi pertanyaan Yuza adalah, “sinyal-sinyal” seperti apakah dan bagaimana cara menginterpretasikan sinyal yang ditangkap Bpk Karding sehingga jatuh pada kesimpulan bahwa pemerintah Australia enggan mengizinkan anggota DPR-RI pergi ke NT ?  Terlebih daerah NT adalah daerah dengan konsentrasi penduduk miskin terbanyak di Australia.

          Pertanyaan yg lain adalah, mengapa kunjungan yg di lakukan  hanya mampu menghubungi pejabat2 setingkat negara bagian, tapi tidak sampai pada tingkat pemerintah federal?  DPR cenderung dianggap tidak siap dalam menyiapkan bahan2 dan memilih narasumber ( kurangnya koordinasi & tidak tepat sasaran )  dan kalaupun ini memang sudah di persiapkan jauh2 hari, kenapa ada visa salah satu anggota tim Komisi VIII yg di tolak oleh pemerintah Australia ?

          3. Penanya ke-3 (lupa namanya, beliau sedang mengambil study S-2 bidang sosiology di Melbourne University)

          Beliau menanyakan ttg kerukunan hidup beragama terutama masalah perlakuan pemerintah terhadap pengikut Syi’ah di Indonesia.

          Sesi  Komisi VIII Menjawab ( Hadirin Mulai Gelisah/Gusar )  :

          Lagi2 saya harus akui kelihaian Bpk Abdul Kadir Karding untuk urusan ’skill’ public speaking, sepertinya beliau menguasai betul medan & trik utk mengulur2 waktu, salah satunya adalah dengan melambatkan tempo bicara, dan berbicara hal2 yg diluar konteks pembicaraan. Hal ini menyebabkan waktu yg tersisa tinggal sedikit. Beberapa kali Dirgayuza (Wakil Ketua PPIA) menginterupsi anggota komisi VIII untuk “straight to the point” pada pertanyaan yang ditanyakan.

          Beberapa anggota dewan yg diberi kesempatan utk menjawab bahkan ada yg bercerita tentang beberapa anak nya yg dulu pernah bersekolah di Melbourne, Australia. Secara pribadi menurut saya, jawaban2 yang diberikan lebih bersifat normatif dan tidak pada inti permasalahan dan cenderung berputar2. Apakah ini suatu kesengajaan utk mengulur2 waktu? Hanya Tuhan yg tahu…

          Karena jawaban tidak dirasakan mengena dan berputar2 utk hal2 yg tidak penting sementara waktu semakin sempit, banyak hadirin yg mulai melakukan interupsi sehingga suasana ruang garuda menjadi gaduh. Tidak hanya itu beberapa sesekali sudah mulai  terdengar suara cemoohan dan kata2 “huuuu…kecewaaaaa!!!”  dari para hadirin.

          Ketika mendekati pukul 21:00, pihak KJRI berusaha utk menutup sesi tanya jawab, dengan alasan kesibukan anggota dewan besok : which is Sunday of course ..:)   bukankah adalah hak kita sbg rakyat utk meminta / menanyakan hal2 yg di rasa perlu ke wakil rakyat kita di parlemen? Pada saat ini suasana makin riuh dan sudah ada hadirin yg berteriak2 langsung bertanya … tanpa moderator … :) terus terang suasana sudah sedikit agak kacau pada waktu itu. Bahkan ada beberapa yg langsung meninggalkan ruangan dan langsung pulang.

          Here comes the Bomb Shell …

          Salah satu kawan saya (pas saat sesi kacau) sempat berteriak … “Kenapa gak pakai teleconference aja sih Pak ?” pada saat itu, Bpk Karding menjawab : “Wah itu kan teknisnya terlalu rumit … ”   sontak mendengar jawaban tadi hadirin yg umumnya mahasiswa langsung tertawa … lalu ada lagi yg nyeletuk “Pak mau dibikinin account Skype sama saya nggak Pak ?”

          Trus ada beberapa anggota Komisi VIII, yg mengatakan, karena keterbatasan waktu  kawan2 bisa menghubungi kami lewat email. Tapi ketika serentak kami menanyakan apa alamat email beliau, yang keluar adalah … xxxx@... :) .  Beberapa hadirin termasuk saya tampak kesal dengan jawaban tsb, kemudian menanyakan , “Kami ingin alamat resmi bapak” , dan di balas dengan: “nanti ….nanti akan di berikan …. ”  pada saat ini penyiar radio PPI Internasional menginterupsi “Tolong di sebutkan saja pak disini , jadi semua orang bisa dengar …” , bahkan dengan tantangan itupun sepertinya mereka bapak2/ibu2 anggota Komisi VIII itu tidak tahu …apa alamat email resmi mereka …  saya lihat ada 1 orang staff ahli yg mendampingi komisi VIII sibuk bolak balik mencoba membagikan kartu nama ( yg itupun dalam kartu nama tersebut tercantum alamat imel Gmail & Yahoo ) …  ????

          Karena suasana panik dan makin riuh, salah seorang ibu (staff anggota komisi VIII) berteriak, ”  KALAU ADA YANG PERLU DITANYAKAN… SILAKAN SAJA KIRIM KE ALAMAT EMAIL  : KOMISI DELAPAN AT YAHOO DOT COM.. !!!! ”  pada saat itu .. tawa hadirin langsung pecah  .. saya sendiri geleng2 kepala dan sudah tidak tahu mau bicara apa lagi …

          Ada teman yg bilang : Wah kalo gitu mah gak usah jadi anggota DPR, anak saya yg masih kecil juga udah bisa bikin email yahoo sendiri … :)

          BTW: setelah acara selesai salah seorang kawan mencoba mengirim test mail (via BB) ke :

          - komisiviii@...

          - komisi8@...

          - komisidelapan@...

          - komisiviii@...

          - komisi8@...

          - komisidelapan@...

          and guess what, none of them is working …!!! semua email test bouncing back ke sender , alias alamat yg di berikan tidak ada …!!!!

          lagi2 karena tidak puas, saya beserta istri & kawan2 mendekati ibu salah satu staff ahli pendamping anggota komisi VIII dalam kunjungan kerja ini, sambil menanyakan alamat resmi, saat itu beliau bilang : “Liat aja di website DPR nanti kan ada daftar masing2 komisi, nanti dari situ ada alamat imelnya “

          Lagi lagi, kita cek via HP , dan …ternyata tidak ada (kalau tidak percaya silakan cek sendiri ke www.dpr.go.id) , kalau begini mana yang benar ? kalau yang bekerja di DPR saja  tidak tahu alamat kontak resmi yg bisa di hubungi bagaimana orang lain ?? Dan jangan salah bahwa, 1 staff DPR memiliki 7 asisten (staf ahli),  *Unfortunately* sepertinya tidak satupun dari ke-7  asisten + beserta anggota DPR sendiri tahu alamat kontak resmi mereka  ??? Kalau utk yang sangat mendasar saja mereka tidak kompeten, bagaimana mereka akan membela kepentingan rakyat yang akan mereka wakili ???

          Bagaimana tidak, DPR RI, parlemen dari negara dengan jumlah penduduk ke-4 terbesar di dunia, parlemen dari negara anggota G-20 (negara dengan salah satu kekuatan ekonomi & pangsa pasar terbesar di dunia) serta mempunyai anggaran ber-triliun2 rupiah utk gedung baru, lengkap dgn fasilitas & tunjangan lainnya ….  masih memakai alamat email gratis utk kontak terhadap rakyat yg di wakilinya   … ????

          Tidakkah mereka berpikir, bhw parlemen kita akan menjadi bahan olok-olok parlemen Australia begitu melihat kartu nama dengan alamat imel dari Yahoo / Gmail ???

          Ketika ditanya alamat kontak mereka, umumnya mereka kebingungan menjawabnya, yg menurut saya sangat2 aneh bukan ??  bagaimana mereka mau mendengar aspirasi rakyat yang mereka wakili jika alamat kontak utk dihubungi pun mereka seperti kebingungan menjawabnya ??

          Setelah acara diskusi selesai, beberapa dari kami yg tidak puas, langsung menyerbu dan bertanya langsung ke anggota komisi VIII, ada dari beberapa diantara mereka tidak membawa kartu nama !!!   bagaimana mereka ingin memperkenalkan diri di hadapan anggota parlemen Australia jika kartu nama saja mereka tidak bawa, dan kalaupun ada, mereka mencantumkan alamat imel gratis (yahoo/gmail) sebagai alamat kontak mereka !!!

          Pada saat saya mencoba bertanya, ke Bpk Karding tentang kunjungan study banding : saya tanyakan, pak bukankah menjadi paradoks bagi DPR bahwa kunjungan study banding dalam rangka mengentaskan kemiskinan tapi di saat yg sama DPR menghambur2kan uang rakyat yg akan dientaskan kemiskinannya ???

          Ironis sekali memang ternyata, dan syukur …kalau bukan karena kesempatan ini, saya mungkin hanya bisa mendengar dari media massa tentang perilaku anggota DPR, tapi utk saat ini saya bisa melihat, mendengar & mengalaminya sendiri di depan mata.

          Saat itu kami sempat bingung dan bertanya ke salah satu staff senior KJRI : ” Pak apa memang sudah separah inikah keadaan institusi di negara kita ? ”  beliau menjawab ( dan mencoba berdiplomasi ) : “Maaf dik saya sendiri belum berkecimpung di dunia politik, mengenai komentar, saya pikir, adik bisa lihat sendiri apa yg terjadi tadi” … ( kayaknya beliau juga shock )

          Sebagai Penutup :

          BTW: Beberapa kawan sebelum pulang kita sempat bercanda “kayaknya abis malem ini kita bakal susah tidur nih … ” dan banyak yang geleng2 kepala sampai keluar pintu KJRI, sepertinya kita masih belum percaya dengan apa yg kita lihat.

          Entah mau dibawa kemana negara ini, jika para pemegang amanah-nya saja tidak kompeten di bidangnya.

          Dan memang ternyata benar, sampai sekarang pukul 6:30 pagi pun saya belum bisa tidur … :)

           

          Oleh: Teguh Iskanto

           

        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.