Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

FW: [KMFH] ::: Rumah Jawa ::: Penghormatan bagi GSU

Expand Messages
  • Rio Wardhanu
    Tak kirim juga ahhh... ________________________________ From: kmfh_ugm@yahoogroups.com [mailto:kmfh_ugm@yahoogroups.com] On Behalf Of Rio Wardhanu Sent:
    Message 1 of 3 , Sep 1 12:30 AM
    • 0 Attachment

      Tak kirim juga ahhh…

       


      From: kmfh_ugm@yahoogroups.com [mailto:kmfh_ugm@yahoogroups.com] On Behalf Of Rio Wardhanu
      Sent: Friday, September 01, 2006 2:24 PM
      To: Janu Wiyanto; akhmad jazuli
      Cc: kmfh_ugm@yahoogroups.com
      Subject: [KMFH] ::: Rumah Jawa ::: Penghormatan bagi GSU

       

      23.45 wib        Jakal 20

       

      “Rumah Jawa”

       

      Masa sih Minke…Inikah hidupmu yang kau jalani. Berdiam di muka cermin oval, dengan setengah wajahmu yang berkilau oleh bohlam gas, setumpuk buku Nyi Ontosoroh dan asbak dua puntung kretek…

      Pagi senyap yang merengkuh jiwa, dalam remang cahya. Seteguk kopi ala Italia, bukan lagi masalah, tapi akan celaka bila subuh tak terjaga…

      Minke, kurasakan sepotong gaya hidupmu, tapi maaf, ini bukan tipeku.

       

      Ditulis di Rumah Jawa,

      Kediaman Mister Yan, WNA-Belanda

      Dusun Purwodadi, Jakal km 19.5

      9 Maret 2004

       

       

      +++

      Tulisan di atas dibuat saat bekerja pada salah satu tokoh hukum penting Negara Kesatuan Republik Indonesia : Garda Utama Siswadi.

      Plok..plok.. plok..

       

      ::…

      Bagaimanakah rasanya menjadi orang muda dengan semangat menggelegak, haus ilmu dan kepala bersih yang masih kinyis-kinyis, dihadapkan dengan persoalan-persoalan pelik yang segalanya baru pertama kali ditemuinya? Dari aliran-aliran pandangan dan berbagai kepentingan hidup bagi masa depan sang Orang Muda tersebut?

       

      Ya, sekilas bagi mahasiswa hukum, banyak sekali yang mengenal sosok Garda Utama Siswadi (GUS), dengan segala kekurangan-kekurang an-kekurangan dan kelebihannya. Tanpa disadari, saya pribadi memiliki satu bagian dari cara pandang dan bersikap yang terinspirasi dari Pola Bapak Pengacara satu itu.

      Contoh paling sederhana:

      Berpakaian hitam dan putih, mengikuti gaya berpakaian pengacara handal anglo-saxon (menurut GUS-yang belum terbukti secara ilmiah maupun mistis). Efek samping kebiasaan ini, membuat saya memiliki cara pandang baru, bahwa hitam-putih bukan hanya dipakai oleh mahasiswa ospek, laden-laden untuk resepsi dari tingkat dusun hingga Balai Manggala Wanabhakti, dan mahasiswa –jantungan ad hoc- yang sedang menghadapi pendadaran.

       

      Namun yang paling kentara dan terasa adalah kebebasan berbicara dengan berbagai cara-pose-intonasi dan mimic muka lainnya. Berdiskusi-berforum ria-berdemokrasi adalah makanan sehari-hari. .untuk memutuskan masalah dengan elegan, mulai dari memutuskan Koordinator lapangan hingga memutuskan apakah hadiah krupuk rambak kulit sapi asli..li..li. .dari orang biasa-bukan klien-bukan lawan- pantas dan layak untuk diterima-dikembalik an atau dibiarkan. Walaupun sebetulnya sembari memutuskan tersebut, setengah dari bungkus kerupuk rambak telah dimakan pada saat GSU tertidur..

      Berbicara dengan wajah serius, tangan ngupil, dan tangan satu lagi garuk-garuk –Tetot- (sensor), posisi bias jongkok, tidur, terlentang dan berbagai pose “hot!” lainnya, untuk membicarakan kebobrokkan hakim, panitera, pengacara  dan dedemit lainnya, dilanjutkan acara misuh-misuh dan terlontarlah kata-kata: “Paittttt…!”,…”Rusoooh!”…Lalu dengan gampangnya beralih mengenai hubungan percintaan Saudara Hendrik-Acil. .Jazz yang belum kawin2 juga (waktu itu), sambel Pecel Janu, dan cerita-cerita lainnya. Termasuk membahas apakah ada hubungannya antara durian dan asbak..! hahaha…

       

      GSU memang tak ada matinya..!

      Punya pengalaman berkesan lainnya dengan sosok kita satu ini?

       

      Janu, ingatkah Mister Yan?

      Mas Jazz juga kan ..

      masih inget?

       

      Salam kangen,

      Rio di kayumanis,

      0817 27 8822

      081 215 03040

       

      IKLAN HIT tanpa Disklovor:  “ Kalau yang gajinya lebih besar..Banyak! tapi kalau sambil kerja bisa untuk tidur siang? Cuma GSU tempatnya…!” (

                    Hahahahaha………….

    • Lia afrilies
      sekali berkunjung ke kediaman GSU .. nyaman .. sekali berbincang dan serasa kena tampar puluhan kali sampek KO hehehe .. mendengar kritikan yang sangat
      Message 2 of 3 , Sep 1 1:39 AM
      • 0 Attachment
        sekali berkunjung ke kediaman GSU .. nyaman .. sekali berbincang dan serasa kena tampar puluhan kali sampek KO hehehe .. mendengar kritikan yang sangat pueeddeeessss wah .. sampek ga iso ngomong wis, cuman nyengir doang .. untung di telpon jadi ga keliatan mukanya dah merah padam dan ga bisa berekspresi lagi meski cuma sebentuk senyum ..
        duh pengen banget bisa lagi ngobrol, meski dikritik abis2an, tapi tentu saja itu pelajaran yang sangat berarti .. masih kurang .. tapi bosku mengcancel "urusan"nya .. jadi ga bisa ketemu lagi deh .. bisa juga deng, pura-pura ketemu lagi sama bu .. duh lupa, translate kontrak huehehehe .. sukur2 ketemu GSU, asal ga kena charge ajah, dulu katanya mo d briefing, gratis karena lia temennya Hendrik huehehe ... best regard to mr Hendrik ..

        Rio Wardhanu <Rio.Wardhanu@...> wrote:
        Tak kirim juga ahhh…
         

        From: kmfh_ugm@yahoogroup s.com [mailto:kmfh_ ugm@yahoogroups. com] On Behalf Of Rio Wardhanu
        Sent: Friday, September 01, 2006 2:24 PM
        To: Janu Wiyanto; akhmad jazuli
        Cc: kmfh_ugm@yahoogroup s.com
        Subject: [KMFH] ::: Rumah Jawa ::: Penghormatan bagi GSU
         
        23.45 wib        Jakal 20
         
        “Rumah Jawa”
         
        Masa sih Minke…Inikah hidupmu yang kau jalani. Berdiam di muka cermin oval, dengan setengah wajahmu yang berkilau oleh bohlam gas, setumpuk buku Nyi Ontosoroh dan asbak dua puntung kretek…
        Pagi senyap yang merengkuh jiwa, dalam remang cahya. Seteguk kopi ala Italia, bukan lagi masalah, tapi akan celaka bila subuh tak terjaga…
        Minke, kurasakan sepotong gaya hidupmu, tapi maaf, ini bukan tipeku.
         
        Ditulis di Rumah Jawa,
        Kediaman Mister Yan, WNA-Belanda
        Dusun Purwodadi, Jakal km 19.5
        9 Maret 2004
         
         
        +++
        Tulisan di atas dibuat saat bekerja pada salah satu tokoh hukum penting Negara Kesatuan Republik Indonesia : Garda Utama Siswadi.
        Plok..plok.. plok..
         
        ::…
        Bagaimanakah rasanya menjadi orang muda dengan semangat menggelegak, haus ilmu dan kepala bersih yang masih kinyis-kinyis, dihadapkan dengan persoalan-persoalan pelik yang segalanya baru pertama kali ditemuinya? Dari aliran-aliran pandangan dan berbagai kepentingan hidup bagi masa depan sang Orang Muda tersebut?
         
        Ya, sekilas bagi mahasiswa hukum, banyak sekali yang mengenal sosok Garda Utama Siswadi (GUS), dengan segala kekurangan-kekurang an-kekurangan dan kelebihannya. Tanpa disadari, saya pribadi memiliki satu bagian dari cara pandang dan bersikap yang terinspirasi dari Pola Bapak Pengacara satu itu.
        Contoh paling sederhana:
        Berpakaian hitam dan putih, mengikuti gaya berpakaian pengacara handal anglo-saxon (menurut GUS-yang belum terbukti secara ilmiah maupun mistis). Efek samping kebiasaan ini, membuat saya memiliki cara pandang baru, bahwa hitam-putih bukan hanya dipakai oleh mahasiswa ospek, laden-laden untuk resepsi dari tingkat dusun hingga Balai Manggala Wanabhakti, dan mahasiswa –jantungan ad hoc- yang sedang menghadapi pendadaran.
         
        Namun yang paling kentara dan terasa adalah kebebasan berbicara dengan berbagai cara-pose-intonasi dan mimic muka lainnya. Berdiskusi-berforum ria-berdemokrasi adalah makanan sehari-hari. .untuk memutuskan masalah dengan elegan, mulai dari memutuskan Koordinator lapangan hingga memutuskan apakah hadiah krupuk rambak kulit sapi asli..li..li. .dari orang biasa-bukan klien-bukan lawan- pantas dan layak untuk diterima-dikembalik an atau dibiarkan. Walaupun sebetulnya sembari memutuskan tersebut, setengah dari bungkus kerupuk rambak telah dimakan pada saat GSU tertidur..
        Berbicara dengan wajah serius, tangan ngupil, dan tangan satu lagi garuk-garuk –Tetot- (sensor), posisi bias jongkok, tidur, terlentang dan berbagai pose “hot!” lainnya, untuk membicarakan kebobrokkan hakim, panitera, pengacara  dan dedemit lainnya, dilanjutkan acara misuh-misuh dan terlontarlah kata-kata: “Paittttt…!”,…”Rusoooh!”…Lalu dengan gampangnya beralih mengenai hubungan percintaan Saudara Hendrik-Acil. .Jazz yang belum kawin2 juga (waktu itu), sambel Pecel Janu, dan cerita-cerita lainnya. Termasuk membahas apakah ada hubungannya antara durian dan asbak..! hahaha…
         
        GSU memang tak ada matinya..!
        Punya pengalaman berkesan lainnya dengan sosok kita satu ini?
         
        Janu, ingatkah Mister Yan?
        Mas Jazz juga kan ..
        masih inget?
         
        Salam kangen,
        Rio di kayumanis,
        0817 27 8822
        081 215 03040
         
        IKLAN HIT tanpa Disklovor:  “ Kalau yang gajinya lebih besar..Banyak! tapi kalau sambil kerja bisa untuk tidur siang? Cuma GSU tempatnya…!” (
                      Hahahahaha………….


        Get your email and more, right on the new Yahoo.com

      • jenu jeni
        Khe..khe…khe…, menyeringai begitu aneh, itu adalah gayanya tertawa, yang entah kenapa, memaksaku untuk meniru. Saat Rio bercerita tentang GUS akupun
        Message 3 of 3 , Sep 3 3:08 AM
        • 0 Attachment
          Khe..khe…khe…, menyeringai begitu aneh, itu adalah gayanya tertawa, yang entah kenapa, memaksaku untuk meniru. Saat Rio bercerita tentang GUS akupun khe..khe..khe…. Cara tertawa yang sulit aku hilangkan hingga kini. Padahal kutahu, nggilani pol, pol nggilani.
           
          Tentang GUS, akupun juga punya cerita sendiri..
           
          Saat kuliah sulit kuterima adagium yang menghentak, yakni “meskipun langit runtuh hukum harus ditegakkan”. Meskipun langit runtuh kalo mafia peradilan masih ada ya hukum tetap tidak bisa ditegakkan. Kayaknya  adagium tersebut salah, hingga kiranya perlu aku buat adagium sendiri, “Meskipun hukum runtuh kebenaran dan keadilan niscaya harus tegak”. Kata “niscaya harus” memiliki arti pasti akan datang namun harus ada dulu upaya yang mendahului. Yakni upaya sungguh-sunguh untuk menegakan keadilan dan kebenaran dan bukannya menegakan hukum semata. Karena hukum hanyalah sekedar rule of game yang bisa diplintar-plintir sesuka hati. Sebelum kerja di GUS (Garda Utama Law Office), yang akhirnya bisa kupaksakan selama 2 tahun, aku kira adagiumku adalah pepesan kosong belaka.
           
          Ya, aku kuat (sekali) bekerja di GUS selama 2 tahun, telah sesuai dengan perjanjianku dengannya. I pay my bond. Tidaklah ringan menerima kata-kata “hujaman” yang diucapakan GUS dengan nada tinggi setiap hari. Konon semuanya tentang kebenaran dan keadilan. Tapi entah tentang apa sebenarnya. Dibutuhkan mental dan hati yang tebal untuk bekerja disana. Sebab jika tidak, menurutku, hati dan mental yang tipis bisa diterjang habis hingga berkeping-keping. Aku ada cerita dari para pendahuluku di GUS bahwa pernah ada anak yang bekerja disana, hanya kuat sehari, tak tahan dengan bentakkan dan gedoran tangan kaki di meja kayu diruang tamu. DAR!!  DER!! DOR!!...RUSUUH!!...BUSUK!!, itulah yang akan kau dengar bila kau disana. Dan jangan pernah mengelus dada, harus kau terima telak atau lawan sekalian. Ojo mung NELEK trus mlayu , mengeluarkan statement yang menentang trus ngeloyor pergi. Benar-benar nelek.
           
          Kembali tentang adagiumku. Di pertengahan 2005 kantor GUS, mewakili tiga warga kelurahan Demangan, meluncurkan gugatan di PTUN Jogja kepada Walikota jogja yang mengeluarkan IMBB (Izin pada SYSM meski dokumen AMDAL-nya belum selesai. Kala itu aku masih kerja di GUS, sebelum aku pindah kerja ke Jakarta mencari peruntungan yang wajar. Oleh GUS, Aku ditunjuk sebagai koordinator kasus SYSM. Juru gugat adalah Zahru Arqom, S.H., asisten paling setia tinggal dikantor GUS hingga akhirnya buka kantor sendiri. Advokat gendut yang gaya bicara dan gesturnya plek mirip GUS. Itu kata para klien lho.
           
          Perkara SYSM menurutku berat. Disamping gratisan (prodeo), pembuktiannya tidak simple, membutuhkan puluhan stringer, dan 5-6 rekan GUS untuk melakukan tugas spay. Hampir setiap malam menjelang hari peluncuran dokumen legal di PTUN full team kena titah lembur dari GUS. Termasuk GUS sendiri. Tidak bisa tidak. Dan ingat ini adalah perkara prodeo, jangan berharap uang banyak darinya. Apalagi ditiap dokumen legal kami mengutip salah satu ayat Al-Quran, yang intinya menghimbau agar manusia jangan membuat kerusakan dimuka bumi. Kami telah mengusung nilai-nilai langsung dari Tuhan. Kalo mau mengabdi sama tuhan ojo njaluk duit, ning njaluk pahala lan ridha.
           
          Di penghujung perkara, dalam putusannya, PTUN Jogja menyatakan kami kalah. Kekalahan yang memedihkan. Bagaimana tidak, hakim memang menyatakan Pemkot Jogja memang melanggar hukum dalam penerbitan IMBB itu karena tanpa AMDAL, namun ketiga warga yang kami wakili dinyatakan tidak memiliki hak gugat. Sehingga amar putusannya berbunyi gugatan kami ditolak (seharusnya, dalam istilah hukum dinyatakan tidak diterima). Pun saat kami banding kami tetap kalah.
           
          Berdasarkan ilmu dari GUS, kekalahan semacam itu wajar dalam penegakan hukum di Indonesia , mungkin juga didunia. Bahwa kehebatan argumentasi hukum, kesempurnaan alat bukti tidak berbanding lurus dengan putusan akhirnya. Apakah dibalik kemenangan tersebut ada kong-kalikong antara penguasa-hakim-pengusaha, mengingat pihak SYSM pernah menawari penggugat sebuah ruko, asal tidak melanjutkan perkaranya. Entahlah, kami tidak mau ber-su’uzhon. Kalo itu memang ada, biar Allah yang membalas kearoganan mereka. Itu hanya terucap dihatiku dan tidak di kantor GUS. Bagi GUS yang penting sebagai Lawyer kita tidak boleh jadi  liar and harus amanah meskipun gratis, apalagi untuk membela kebenaran.  
           
           
          Minggu lalu, 16 Agustus 2006, aku balik ke Jogja menghadiri resesepsi teman. Kulewati jalan Solo no. 14-15 dimana bangunan  SYSM, Saphir Yogya Super Mall, tetap angkuh berdiri meski tubuhnya telah remuk dihantam gempa jogja yang terjadi beberapa bulan lalu. Kulihat beberapa pegawai membereskan sisa reruntuhan. Tampaknya SYSM belum bisa beroprasi meski sebenarnya ia telah soft opening pada september 2005. Apakah Tuhan murka atas kearagonan Three mas-kenthir (penguasa-hakim-pebisnis). Entahlah. Yang jelas, kalo boleh menyimpulkan, dulu saat berpekara hukum yang runtuh. Sekarang mereka yang runtuh, bukan oleh hukum tapi oleh gempa, oleh tangan Tuhan. Tinggal keadilan yang tegak. Benarkah meskipun hukum runtuh kebenaran dan keadilan niscaya harus tegak?
           
          Depok, 3 September 2006 .
           


          Get your own >web address for just $1.99/1st yr. We'll help. Yahoo! Small Business.
        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.