Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

2 Des

Expand Messages
  • I Sumarya
    Jadilah kepadamu menurut imanmu. (Yes 29:17-24; Mat 9:27-31) “Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil
    Message 1 of 5 , Dec 1, 2011
    • 0 Attachment
      "Jadilah kepadamu menurut imanmu."
      (Yes 29:17-24; Mat 9:27-31)
      “Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: "Kasihanilah kami, hai Anak Daud." Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: "Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?" Mereka menjawab: "Ya Tuhan, kami percaya." Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: "Jadilah kepadamu menurut imanmu." Maka meleklah mata mereka. Dan Yesus pun dengan tegas berpesan kepada mereka, kata-Nya: "Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini." Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu” (Mat 9:27-31), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
      Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
      ·   Orang buta matanya memang memiliki kerugian besar, karena tidak dapat melihat dan menikmati keindahan ciptaan-ciptaan Tuhan, entah itu manusia, binatang maupun tumbuh-tumbuhan. Maka kiranya ia memiliki kerinduan atau dambaan dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan dua orang buta yang mengikuti Yesus dan akhirnya berseru-seru dan berkata kepadaNya:”Kasihanilah kami, hai Anak Daud”. Karena iman mereka, maka mereka pun menerima anugerah penyembuhan dari Tuhan dan “meleklah mata mereka”. Marilah dengan rendah hati kita hayati bahwa kita pun juga tidak dapat melihat segala sesuatu dengan jelas karena terhalang oleh aneka bentuk egoisme dan semangat materialistis, sehingga kita hanya melihat samar-samar tentang keindahan dan kemuliaan ciptaan-ciptaan Tuhan. Dengan kata lain marilah kita mawas diri apakah kita sungguh hidup dan bertindak dijiwai oleh iman kita, artinya bersama dan bersatu dengan Tuhan kita hidup dan bertindak, melihat segala sesuatu yang ada di lingkungan hidup kita. Dalam dan dengan iman kita hayati bahwa Tuhan senantiasa berkarya dalam ciptaan-ciptaanNya di dunia ini. “Jadilah kepadamu menurut imanmu”, demikian sabda Yesus, kepada dua orang buta yang mohon penyembuhan, kepada kita semua yang  beriman kepadaNya. Apa dambaan dan kerinduan kita? Marilah kita usahakan dalam dan dengan iman, dengan demikian akan menjadi kenyataan. Dengan dan dalam iman berarti kita bekerja keras, 100% mengerahkan kekuatan untuk mewujudkan dambaan atau kerinduan dan 100% mengandalkan diri pada rahmat Tuhan.
      ·   Orang-orang yang sesat pikiran akan mendapat pengertian, dan orang-orang yang bersungut-sungut akan menerima pengajaran” (Yes 29:24), demikian kata-kata penghiburan Tuhan melalui hambaNya, nabi Yesaya, kepada bangsanya yang mengalami kesulitan, yang tersesat dan bersungut-sungut. Memang pada umumnya orang yang tersesat akan mudah mengeluh, menggerutu dan bersungut-sungut, demikian juga orang-orang yang mengalami kesulitan atau menghadapi masalah, hambatan dan tantangan. Pengertian, pengajaran, pencerahan dan kekuatan akan dianugerahkan kepada kita jika kita dengan rendah hati membuka diri pada Penyelenggaraan Ilahi. Penyelenggaraan Ilahi menjadi nyata atau menggejala antara lain dalam diri orang-orang yang berkehendak baik, maka marilah kita buka diri kita terhadap aneka sentuhan, sapaan dan bantuan orang-orang yang berkehendak baik ketika kita sedang mengadapi masalah, tantangan, kesulitan atau hambatan. Orang-orang yang berkehendak baik lebih banyak jumlahnya daripada yang berkehendak jahat dan ada di mana-mana. Hendaknya kita juga tidak membatasi diri dalam kehendak baik dari orang-orang yang seagama, sesuku , seras atau sebangsa saja, melainkan seluruh umat manusia tanpa pandang bulu atau SARA. Dengan kata lain di masa Adven ini kita diajak untuk mawas diri perihal hidup persaudaraan atau persahabatan kita: apakah kita bersaudara atau bersahabat dengan siapapun. Ingatlah dan sadari bahwa yang kita nantikan kedatanganNya adalah Penyelamat Dunia: Ia akan datang untuk menyelamatkan dunia seisinya. Kita siapkan kedatanganNya dengan membangun dan memperdalam hidup dalam persaudaraan atau persahabatan sejati. Dalam persaudaraan dan persahabatan sejati kita akan memperoleh aneka pengertian dan pengajaran yang berguna bagi keselamatan dan kebahagiaan hidup atau jiwa kita.
      “Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN
       (Mzm 27:13-14)
      Ign 2 Desember 2011
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.