Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Weblog paroki Sodohoa, Kendari - Gereja Santo Fransiskus Xaverius

Expand Messages
  • Tonny Sutedja
    Weblog Paroki Sadohoa - Kendari (Gereja Katolik Santo Fransiskus Xaverius) http://fxsadohoa.blogspot.com/ ________________________________
    Message 1 of 4 , Sep 30, 2011
    • 0 Attachment
      Weblog Paroki Sadohoa - Kendari (Gereja Katolik Santo Fransiskus Xaverius)





    • alexander yusup
       Website Paroki Curug - Gereja St. Helena link:  http://www.parokisantahelena.or.id   Salam & Doa Alexander Yusup Website Paroki Curug - Gereja St. Helena
      Message 2 of 4 , Oct 3, 2011
      • 0 Attachment
         Website Paroki Curug - Gereja St. Helena link:  http://www.parokisantahelena.or.id
         
        Salam & Doa
        Alexander Yusup






      • alexander yusup
        MENGENAL MARIA, SANG BUNDA ALLAH   Oleh: Hariawan Adji, O.Carm. PENGANTAR     Tulisan berjudul Maria Santa Bunda Allah ini bertujuan untuk memberikan
        Message 3 of 4 , Oct 16, 2011
        • 0 Attachment
          MENGENAL
          MARIA, SANG BUNDA ALLAH
           
          Oleh:
          Hariawan Adji, O.Carm.


          PENGANTAR
           
           
          Tulisan berjudul Maria Santa Bunda Allah ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai diri Maria dan perannya dalam karya keselamatan Allah, sebagaimana diketahui bahwa devosi kepada Maria yang tumbuh dan berkembang dengan pesat dalam masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa seringkali tidak dipahami dan ditempatkan secara tepat oleh umat beriman. Diharapkan dengan membaca tulisan ini umat beriman dapat menyadari peran Maria dalam karya keselamatan sehingga mereka dapat berdevosi secara benar.
          Tulisan ini terdiri dari empat bagian utama, yaitu Pendahuluan yang berisikan tentang keadaan pemahaman umat Katolik tentang Maria. Bagian kedua adalah Kesaksian Alkitabiah tentang Kebundaan Maria, yang berisikan ulasan kisah Maria sebagai bunda Yesus dalam Injil. Bagian ketiga berjudul Tradisi Gerejawi: Ajaran tentang Kebundaan Maria, yang berisi ulasan mengenai ajaran-ajaran resmi Gereja tentang Maria sebagai Bunda Allah1. Selanjutnya adalah bagian Pemahaman Ulang: Makna Kebundaan Maria, yang berisi tentang hasil analisis mengenai makna kebundaan Maria berdasarkan kisah Injil dan ajaran Gereja. Bagian kelima adalah bagian Refleksi Peran Maria Dlam Hdup Umat dan bagian yang terakhir adalah Penutup.
          Tulisan yang berjudul Maria Santa Bunda Allah ditujukan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai diri Maria dan perannya dalam karya keselamatan Allah melalui Yesus Kristus. Diharapkan dengan gambaran yang jelas ini, umat beriman akan dapat mengimani Yesus dan Maria secara tepat.

          BAB I
          PENDAHULUAN
           
           
          Umat Katolik Indonesia dikenal sangat devosional. Sasaran devosional umat Katolik Indonesia cukup beragam, namun yang utama dan seringkali dipilih adalah Maria.2 Ada bermacam-macam bentuk devosi kepada Maria, baik yang berbentuk doa-doa, antara lain: Rosario, Litani Maria, Novena Tiga Kali Salam Maria, Tujuh Duka Maria dan Iain-lain, maupun melalui kelompok-kelompok tertentu, misalnya Legio Maria, Gerakan Imam Maria (Senakel), ataupun ziarah, dan Iain-lain.
          Umat beriman, seringkali lupa bahwa dalam berdevosi kepada Maria, mereka tidak boleh lepas dari Yesus Kristus. Mereka seringkali beranggapan bahwa Maria adalah pengantara mereka kepada Allah, bahkan menganggap Maria sebagai sasaran doa mereka. Hal ini tampak dalam ungkapan-ungkapan doa yang mereka sampaikan secara spontan dalam doa-doa bersama. Sesuatu yang salah kaprah karena Maria bukanlah Allah yang menyelenggarakan dunia ini.3 Maria adalah Bunda Allah tetapi bukanlah Allah; ia adalah manusia biasa.4 Ini seringkali disalah-mengerti oleh umat. Maria juga bukanlah pengantara kepada Allah, karena Yesus Kristuslah adalah satu-satunya Pengantara Allah dan manusia.5
          Memang Maria sering diberi berbagai macam gelar yang seolah-olah memposisikan ia sebagai pengganti Kristus sebagai Pengantara satu-satunya. Gelar-gelar tersebut adalah Advocata (Pengacara) yang pertama kali digunakan oleh Ireneus dari Lyon (130-202), Auxiliarix (Pembantu) dan Auxiliarix (Penolong) yang kerap digunakan di Gereja Timur, dan Mediatrix (Pengantara), suatu gelar yang relatif baru yang dipromosikan oleh Kardinal Marcer, Belgia (1928).6 Gelar-gelar ini harus dipahami sedemikian rupa agar tidak merelatifkan peran Yesus sebagai satu-satunya Pengantara. Maria adalah pengantara dalam dan oleh Pengantara Yesus Kristus. Kepengantaraan Maria bukan antara Kristus dan manusia, dan bukan antara Allah dan manusia, seakan-akan ada dua Pengantara yaitu Yesus dan Maria, melainkan di dalam Kristus di antara Allah dan Manusia. Pengantaraan Maria tidak dapat berdiri sendiri dan lepas dari Puteranya, ia adalah pengantara karena ia adalah Bunda Allah.7
          Banyak umat Katolik Jawa memandang figur Maria seperti seorang dewi, khususnya dewi Sri yang dihormati dalam tradisi Jawa. Hal ini tampak sekali dalam lagu-lagu yang diciptakan untuk menghormati Maria yang memandang Maria sebagai sosok yang memiliki kuasa supranatural.8 Maria dalam konsep Katolik tidak sama dengan dewi Sri dalam konsep animisme-dinamisme Jawa. Maria bukanlah sosok pribadi yang ilahi dari dirinya sendiri. Inilah perbedaannya dengan dewi Sri dalam konsep Jawa yang adalah seorang dewi yang dari semula turun dari khayangan ke bumi dan kembali lagi ke khayangan setelah kematiannya di dunia. Pencampur-adukan konsep Katolik dan konsep animisme dinamisme Jawa dalam penghormatan kepada Maria tampak pula pada pola ziarah yang kerap dilakukan oleh umat beriman yang memandang suatu tempat bersifat keramat karena di sana bertahta Maria dalam suatu gua. Dalam tempat-tempat ziarah yang demikian, biasanya posisi Maria berada di pusat, sedangkan Yesus malahan menempati posisi di bawahnya.
          Hal yang sama terjadi juga di kalangan orang Katolik keturunan Tionghoa. Banyak di antara mereka menganggap figur Maria sama dengan figur dewi Kwan Im. Sebagaimana diketahui bahwa dalam agama Kong Hu Cu, dewi Kwan Im sangat dihormati dan dipuja sebagai dewi Welas Asih, yang perannya tidak jauh berbeda dengan peran Maria sebagai Bunda Penuh Kasih. Namun dua sosok perempuan pujaan ini sebenarnya sangat jauh berbeda. Dalam konsep agama Kong Hu Cu, Dewi Kwan Im adalah seorang manusia yang karena kesucian hidupnya akhirnya menjadi seorang dewi. Setelah menjadi seorang dewi, ia menjadi penolong manusia yang berkesusahan, baik manusia yang masih hidup di dunia ini maupun manusia yang telah hidup di alam lain setelah kematiannya. Ia menjadi dewi karena usaha kerasnya menjalani hidup suci di dunia ini.9 Sebaliknya dalam pandangan Katolik, Maria menjadi bunda Allah bukan karena dirinya sendiri. Maria memang hidup suci, namun bukan itu yang membuat ia menjadi Bunda Allah, melainkan karena Puteranya yang adalah Allah sendiri. Maria menjadi Bunda Allah, bukan karena dirinya sendiri tetapi karena hubungannya dengan Sang Putera.10
          Dari gambaran dua praktek penghormatan kepada Maria di atas dapat disimpulkan bahwa penghormatan terhadap Maria cenderung mengambil bentuk yang tidak sesuai11 dengan pandangan para Bapa Konsili Vatikan II.12 Dalam bentuk ini, Maria seolah-olah dipisahkan dari orang lain.13 Dia menjadi semacam dewi’ yang tidak dari dunia lagi. Seluruh hidup Maria seolah-olah satu rentetan mukjijat saja dan tugas Maria di surga sekarang adalah membagikan rahmat-rahmat yang pernah dikumpulkan oleh Puteranya dengan wafat dan kebangkitanNya. Maria seakan-akan adalah seorang dewi yang mandiri, yang dari kekuasaannya sendiri membagikan rahmat yang telah dikumpulkannya. Bentuk devosi yang demikian tidaklah tepat dan dapat mengaburkan makna devosi kepada Maria. Devosi kepada Maria baru mempunyai arti apabila diarahkan kepada Allah.14
          Kenyataan yang demikian tentu tidak dapat dibiarkan begitu saja, karena akan mengarah kepada pengkultusan Maria sebagai pribadi yang ilahi, menggantikan Puteranya, yang tentunya akan mengarah pula pada ajaran sesat. Semua kenyataan ini sebenarnya berawal dari ketidakpahaman umat beriman akan Maria sebenarnya dan bagaimana posisinya dalam karya keselamatan Allah yang diyakini oleh Gereja Katolik. Mereka perlu mendapat bimbingan agar dengan demikian mereka dapat memposisikan devosi kepada Maria secara tepat.

          BAB II
          KESAKSIAN ALKITABIAH TENTANG KEBUNDAAN MARIA
           
           
          Maria memang tidak banyak ditampilkan dalam Kitab Suci. Beberapa ekseget Katolik mengatakan bahwa sebenamya sosok Maria telah ditampilkan dalam nubuat-nubuat Perjanjian Lama, misalnya dalam kisah pengusiran Adam dan Hawa dari taman Firdaus dimana Allah mengatakan akan mengadakan permusuhan antara ular dan perempuan, juga tentang Puteri Sion yang berbahagia dan lain-lain. Namun nubuat-nubuat tersebut tidak menampilkan sosok Maria sebagai seorang bunda, oleh sebab itu kesaksian akitabiah tersebut tidak dibahas dalam bagian ini. Selain itu beberapa ekseget Katolik juga mengatakan bahwa sosok Maria juga tampil dalam kitab Wahyu, namun sekali lagi dalam kitab tersebut sosok Maria tidak ditampilkan sebagai seorang bunda, dan oleh sebab itu kesaksian alkitabiah ini juga tidak menjadi pembahasan dalam bagian ini. Adapun yang menjadi pembahasan dalam bagian ini adalah kisah Maria dalam keempat Injil, karena dalam Injil-injil tersebut Maria ditampilkan sebagai bunda Yesus Kristus.16
           
          2.1.  Maria, bunda yang dilahirkan sebagai perempuan (Mat 1:1-17, Luk 3:23-38)
          Matius dan Lukas membuka Injil mereka dengan dafitar nama-nama yang disebut pohon keluarga. Lukas menuliskan pohon keluarga ini secara urut ke atas, sedangkan Matius menuliskannya secara urut ke bawah. Meskipun sifatnya yang monoton dan kering, pohon keluarga ini memiliki makna yang luas dan penting. Pohon keluarga ini menunjukkan bahwa Allah bukanlah suatu kekuatan alam ataupun suatu tata kosmis, melainkan Allah yang personal, meskipun tanpa nama, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. la adalah Bapa Tuhan Yesus Kristus.
          Dalam Matius, nama Maria diletakkan pada akhir pohon keluarga. Di antara orang Yahudi, pohon keluarga, biasanya hanya memuat nama-nama laki-laki, tapi dalam pohon keluarga Yesus, muncul nama perempuan, Maria. Maria di sini muncul sebagai referensi pada Yesus Kristus. Karena pada akhir dan puncak daftar tersebut adalah Yesus Kristus dan karena Kristus tidak dikandung tanpa Maria, maka Matius memasukkan nama Maria dalam daftarnya, Dengan cara ini keterlibatan Maria dalam Petjanjian Baru mulai pada akhir daftar pohon keluarga.
          Maria dalam daftar pohon keluarga tersebut berada di titik temu antara kemanusiaan dan Allah. Putera Allah menerima kodrat kemanusiaanNya dari Maria dan masuk ke dunia manusia melalui dia. Dengan demikian, Maria adalah perwakilan dari generasi-generasi sebelum dirinya dan pada saat yang sama ia adalah pintu masuk bagi generasi-generasi sesudahnya yang diselamatkan.
           
          2.2. Maria, bunda yang menerima kabar dari malaikat Tuhan (Luk 1:26-38)
          Saat hidup Maria yang paling agung adalah ketika Malaikat Gabriel memberi salam kepadanya: 'Salam, hai engkau yang penuh rahmat' dan meminta kepadanya untuk menjadi Bunda Allah, Maria tidak menginginkan gelar yang lain kecuali 'Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanMu itu!'. Berbeda dengan Hawa yang telah mengejar kekuasaan dan berkehendak merebut kebebasan mutlak dari Allah, dimana ia menjadi tidak taat dan mencelakakan seluruh umat manusia, Maria tidak menginginkan apa-apa di hadapan Allah, kecuali menjadi hamba yang rendah dan kecil. Itulah sebabnya Allah memandang dia. Maria tahu dirinya hanyalah makhluk, dan dengan demikian bergantung dalam segala hal pada Tuhan, dan ia berbahagia atas keadaannya itu. Maka ia selalu siap sedia untuk melaksanakan semua kehendakNya, bahkan kehendakNya yang paling kecil sekalipun. Dengan penuh perhatian ia mencari tanda-tanda yang paling kecilpun mengenai apa yang menjadi perkenan Allah dan selalu siap sedia patuh kepada perintah-perintahNya.
          Allah meluhurkan Maria dengan minta persetujuannya - bukan perihal suatu peristiwa yang teramat sederhana - namun sangat penting dan berpengaruh bagi dunia. Dan Maria menjawab dengan terbuka dan terus terang, dengan bertanya17 dan tidak ragu-ragu menyatakan perasaannya.18 Hanya tatkala ia sudah merasa puas karena telah mengerti apa yang diminta daripadanya, diberikannyalah persetujuannya akan apa yang diajukan oleh Allah. Ia bebas dan bertanggung jawab dalam pembicaraan dengan Allah. Dan dalam hal ini, ia memberikan teladan bagi semua orang Kristen di segala zaman.
           
          2.3. Maria, bunda yang mengunjungi Elisabet saudarinya (Luk 1:39-45)
          Setelah perawan Maria bersedia menjadi bunda Yesus dan mengandung dari Roh Kudus, ia berkunjung ke rumah Elisabet, sanaknya, yang tinggal di sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Mendengar salam itu, Elisabet penuh dengan Roh Kudus lalu berseru dengan suara nyaring: Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia yang telah percaya sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana.' 19 Mendengar pujian itu, Maria sama sekali tidak memprotes, seperti halnya ketika Malaikat Gabriel menghadap dan menyalami 'Salam Maria penuh rahmat'20. Hati Maria yang rendah hati tidak menolak kebenaran itu, ia tidak mencegah pujian itu, tetapi mengembalikannya kepada Allah segala sesuatu yang menjadi milik Allah dengan bermadah Magnificat21 Dalam madah itu Maria mensyukuri perbuatan-perbuatan baik Allah terhadapnya. Madah itu tidak hanya merupakan puji syukur pribadi namun merupakan pujian semesta. Maria memuliakan kemenangan-kemenangan Allah.
          Maria senantiasa lekat mendengarkan Allah yang bersabda kepadanya dalam Kitab Suci dan . dengan tanda-tanda yang diberikan kepadanya dalam hidupnya, tanda-tanda kehadiranNya dan kasihNya. Maria juga lekat mendengarkan bisikan batin, cara yang terkadang digunakan oleh Allah untuk menyatakan diri di dalam lubuk jiwa guna menyampaikan rencana-rencanaNya. Dan sejak saat Sabda Abadi Bapa menjadi daging dalam dirinya, Roh Maria lebih terpikat lagi kepada segala sesuatu yang dapat merupakan petunjuk hadirnya yang adikorati baginya, itulah sebabnya, perawan Maria bijak lestari itu selalu merenungkan dalam hatinya semua peristiwa dalam hidupnya baik ketika ia belum melahirkan sang Putera ke dunia, maupun pengalamannya bersama Sang Putera.
           
          2.4. Maria, bunda yang melahirkan Yesus di kandang Bethlehem (Luk 2:1-20, Mat 1:18-25)
          Maria melahirkan Puteranya di sebuah kandang dan membaringkannya di dalam palungan22 karena tidak ada lagi tempat bagi mereka di rumah penginapan. la adalah bunda jasmani dari Yesus karena dari jasmaninya telah lahirlah seorang manusia Yesus. Dengan melahirkan kemanusiaan Kristus, Maria menjadi bunda seluruh Pribadi Yesus dan tidak hanya bunda dari dagingNya saja. Kepada Putra Allah yang kekal, perawan Maria dapat berkata dengan sepenuh hati, 'Anakku, Engkau! Engkau telah kuperanakkan pada hari ini."23 Kebundaan Maria tidak hanya terbatas pada kebundaan menurut daging. Untuk itulah Maria telah dipanggil oleh Allah dan ia dapat saja menerima atau menolak tawaran itu secara sebebas-bebasnya. Perawan Maria memberikan ‘fiat’nya, persetujuannya, kesediaannya untuk mengikuti rencana Allah; kebundaannya sepenuhnya disepakatinya; ia mau untuk sepenuh-penuhnya bertanggungjawab. Ia tidak hanya mempersembahkan kepada Allah, tubuh yang teramat murni untuk membentuk tubuh Adam Baru; akan tetapi, berdasarkan pengetahuannya yang diperolehnya dari Kitab Suci, ia telah menyambut tanggung jawab untuk mengandung dan melahirkan Raja, ahli waris tahta Daud, Putera Allah sendiri, dan juga Hamba yang menderita' yang akan menjadi Penebus orang banyak. Kebundaan ilahi Maria, yang bukan dari darah atau keinginan laki-laki, tetapi dari Allah sendiri, tentulah juga merupakan kebundaan Rohani.
           
          2.5. Maria, bunda yang mengungsi ke Mesir bersama Puteranya dan Yosep (Mat 2:13-23)
          Herodes, karena takut akan kehilangan tahtanya oleh Raja yang Baru, segera memerintahkan pasukannya untuk mencari bayi Yesus dan membunuhNya. Sekali lagi Maria dan Yosep mengadakan perjalanan jauh. Jika dalam perjalanan sebelumnya bayi Yesus masih ada dalam kandungannya, sekarang ini bayi Yesus ada di atas pangkuannya dan dalam pelukannya. Maria dan Puteranya serta suaminya tinggal di negeri asing selama beberapa waktu sampai Herodes mati.24 Setelah itu mereka semua menempuh perjalanan jauh lagi kembali ke Nazaret di mana Maria dan Yosep mengasuh Yesus sampai Ia menjadi besar. Semua perjalanan-perjalanan yang melelahkan itu Maria dan Yosep lakukan demi keselamatan Puteranya, demi cinta mereka kepadaNya. Maria menghayati pengungsian, perjalanan ziarah Abraham, Ishak, Yakub dan bapa bangsa Yosep; ia merasakan terlebih dahulu sejarah perjalanan ziarah Gereja di bumi.25
           
          2.6. Maria, bunda yang diramal oleh Simeon (Luk 2:21-38)
          Hati seorang bunda pastilah akan kecut mendengar nubuat Simeon tentang Sang Putera: 'Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang',26 dan tentang dirinya sendiri: ‘dan suatu pedang kesedihan akan menembus jiwamu sendiri’.27 Maria pasti tidak asing dengan Kitab Suci, ia pasti mengetahui segala yang dinubuatkan oleh Yesaya tentang derita: 'Hamba Tuhan'.28 Tiap kali kepedihan hati datang menyerangnya, ia akan bertanya, ‘Inikah saat pedang yang dinubuatkan oleh Simeon?’. Tak seorang pun yang luput dari rasa kuatir dan takut di dunia ini dan Yesus tidak mengecualikan bundaNya. Yesus dengan demikian membuat bundaNya penuh pemahaman dan penyambutan terhadap semua orang yang hatinya gentar dan kemudian menumpahkan segala pedih perih hidup mereka di dunia kepada jiwa sang bunda yang senantiasa terancam pedang dan berdekatan dengan dia, dapat menemukan kembali ketenangan jiwa yang tabah dan kedamaian anak-anak Allah.
           
          2.7. Maria, bunda yang hidup bersama Yesus dan Yosep (Luk 2:39-40,51)
          Maria setia melaksanakan tugas sehari-hari. Kita tidak melihat adanya mukjizat dalam hidup Maria di bumi ini. Satu pun tidak. Ia tidak berbeda dengan wanita-wanita yang lain; pekerjaannya, kegembiraannya dan keprihatinannya dalam hidup sehari-hari sama saja dengan pekerjaan, kegembiraan dan keprihatinan bunda-bunda lain, yakni menjadi bunda rumah tangga yang baik, yang memelihara serta melayani anggota-anggota keluarganya. Pekerjaan-pekerjaan Maria itu biasa dan tidak membuatnya menonjol. Akan tetapi, semua itu dilakukan demi kebahagiaan Keluarga Kudus. Kesucian Bunda Maria mengajarkan perihal kesucian yang sejati, kesucian yang tampaknya tidak istimewa tetapi sesungguhnya merupakan kesucian yang heroik karena besarnya cinta kasih yang dituntutnya.
           
          2.8. Maria, bunda yang mencari Puteranya di Bait Allah (Luk 2:41-52)
          Pada suatu perayaan Paskah ketika Yesus berusia duabelas tahun, Maria bersama Yesus dan Yosep pergi berziarah ke Yerusalem, sebagaimana biasa mereka lakukan setiap tahunnya. Dalam perjalanan pulang, setelah beberapa hari berjalan, Maria dan Yosep baru menyadari bahwa Yesus tidak bersama mereka. Setelah mereka mencari-cari Ia di antara sanak keluarga dan tidak menemukannya, mereka memutuskan kembali ke Yerusalem. Maria begitu cemas kehilangan Puteranya dan ketika ia menjumpaiNya di Bait Suci, ia berkata kepadaNya,29 ‘Nak, mengapa Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.’30 Yesus menjawabnya, ‘Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?’31 Meski Maria tidak mengerti apa maksud jawaban Yesus, ia diam dan menyimpan semuanya dalam hatinya.32 Maria adalah ibu yang terbuka, yang mengungkapkan dan mengkomunikasikan perasaan hatinya kepada Puteranya. Ia tidak marah kepada Puteranya, namun hanya mencari kejelasan.
           
          2.9. Maria, bunda yang hadir dalam pesta di Kana (Yoh 2:1-11)
          Maria hadir di pesta perkawinan di Kana. Hamba Tuhan adalah juga hamba manusia. Di tengah-tengah pesta, temyata anggur habis. Barangkali ada orang yang melihat hal itu dan dalam hati mereka menyalahkan tuan rumah. Maria sebagai bunda rumah tangga yang penuh perhatian, membayangkan betapa malunya si empunya rumah dan betapa sedihnya mempelai berdua apabila mengetahui keadaan itu. Maria hendak menolong - walaupun tanpa mereka minta - maka ia menemui Yesus dan menyampaikan masalah itu kepadaNya: 'Mereka kehabisan anggur'. Pernyataan itu hanyalah pemberitahuan, Maria hendak menarik perhatian PuteraNya akan keadaan itu. Pernyataannya itu bukanlah permintaan; hanyalah suatu sentuhan halus, tetapi juga suatu doa sebab Maria percaya akan kuasa kebaikan Puteranya. Akan tetapi, Yesus seperti tidak ambil pusing. Ia tidak menolak, tetapi juga menganggap bahwa turun tangan Bunda Perawan belum tepat saatnya: 'Mau apakah engkau dari padaku, Bunda?, saatKu belum tiba.' Tidak ada percakapan lebih lanjut antara Putera dan Bunda. Tetapi wajarkah ada penundaan jika bunda meminta? Apalagi, adakah saat khusus untuk pernyataan kasih yang tak terbatas? Itulah sebabnya, Maria33 menemui para pelayan dan berkata, 'Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!' Dan airpun menjadi anggur. Demikian jasa Maria: berkat doanya Sang Penyelamat mengerjakan 'pertanda' pertama.
           
          2.10. Maria, yang bersama saudara-saudara Yesus mencariNya (Mrk 3:31-35); Mat 12:46-50; Luk 8:19-21)
          Kisah ini sering kali digunakan untuk menggambarkan Maria secara negatif. Apalagi dalam Mrk 3:20-21 dikatakan bahwa kaum keluarga Yesus menganggap Yesus tidak waras. Bahkan dalam Mrk 3:31-35, Maria ditampilkan seolah-olah ia tidak termasuk dalam keluarga baru Yesus yang didasarkan pada iman. Ini tidak berarti bahwa Maria dikucilkan dari keluarga Yesus yang baru itu, ini terbukti pada saat setelah kenaikan Yesus ke surga, Maria berada bersama-sama saudara-saudara Yesus dan para rasul, berkumpul bersama dan bertekun dengan sehati dalam doa bersama.34
          Pendapat lain mengatakan bahwa teks ini tidak bermaksud mendiskreditkan Maria dan saudara-saudaraNya, karena tema utama perikop ini bukanlah tentang kebundaan Maria tetapi tentang pemuridan. Dalam kisah itu Yesus ingin mengajarkan kepada para muridnya bahwa yang terpenting untuk menjadi keluarga Kristus adalah bukan status hubungan darah tetapi iman.35 Dengan perkataannya ini Yesus menyatakan bahwa semua orang dapat saja menjadi anggota keluargaNya, menjadi anak-anak dari Sang Allah Bapa.
           
          2.11. Maria, bunda yang dipuji bahagia (Luk 11:27-28)
          Seorang perempuan berteriak dari antara orang banyak: Berbahagialah ia yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau'. Ungkapan tersebut jelas menunjuk kepada Maria, sebagai bunda Yesus. Namun Yesus tidak menjawab ‘Ya’  melainkan berkata 'Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan memeliharanya'. Ungkapan Yesus ini bukan mau mengatakan bahwa Maria tidak layak disebut bahagia, melainkan hendak mengatakan bahwa Maria, bukan hanya seorang bunda jasmani bagi Yesus, tetapi juga salah seorang pengikutNya. Maria layak disebut bahagia bukan hanya karena ia adalah bunda kandung Yesus tetapi terlebih karena ia mengikuti Dia. Menurut para Bapa Gereja kebundaan rohani Maria - kerelaannya menyambut Kristus Penyelamat dalam jiwanya dengan iman - lebih penting daripada kebundaan jasmani Maria.36
           
          2.12. Maria, bunda yang berdiri di kaki salib Yesus (Yoh 19:25-27)
          Maria hadir saat Yesus tergantung di atas salib. Ia berdiri di samping murid yang dikasihi oleh Puteranya. Maria hadir pada puncak penderitaan Yesus. Ia tidak meninggalkan Puteranya yang ditinggalkan oleh banyak pengikutNya. Maria menjadi Bunda yang hadir pada awal dan akhir kehidupan Yesus di dunia. Pada saat yang penting dalam hidupNya itu, Yesus menyerahkan bundaNya kepada murid yang dikasihiNya. Dalam tradisi Katolik, hal ini diartikan Yesus yang memberikan bundaNya sebagai bunda rohani bagi murid-muridNya. Tidak dapat disangsikan tindakan ini merupakan pernyataan keprihatinan khusus dari Sang Putera bagi bundaNya, yang ditinggalkanNya dalam derita yang amat besar. Namun ‘Warisan’ Yesus yang diberikan dari atas salib ini membuka lebih banyak arti daripada keprihatinan tersebut. Dapat dikatakan bahwa kebundaan Maria terhadap manusia, yang sudah mulai muncul secara samar, kini dengan terang digambarkan dan ditentukan. Kebundaan itu bersumber pada akhir misteri Paska Sang Penyelamat. Maria, yang berada langsung dalam suasana yang melingkupi semua orang, diberikan kepada manusia sebagai bunda bagi setiap orang dan semua orang.
           

          BAB III
          TRADISI GEREJAWI: AJARAN GEREJA TENTANG MARIA38
           
           
          Dasar dari ajaran Maria Bunda Allah adalah kenyataan bahwa Yesus Kristus adalah Allah Manusia; siapa diri Maria, Sang Bunda Allah tidak dapat dipisahkan dari keAllah-Manusiaan Yesus. Ini berarti untuk memahami siapa diri Maria, Sang Bunda Allah, diperlukan pemahaman yang kuat akan ajaran tentang Yesus Kristus. Oleh sebab itu pembahasan dalam bagian ini diawali dengan pembahasan mengenai ajaran tentang Yesus Kristus dan kemudian berlanjut kepada pembahasan mengenai ajaran tentang Maria.
           
          3.1. Ajaran tentang Kristus sebagai Dasar Ajaran tentang Maria
          'Allah begitu mencintai manusia, sehingga la menyerahkan Putera TunggalNya.'39 Inti dari pemyataan iman ini adalah pengutusan Putera Allah untuk mengambil bagian dalam sejarah manusia. 'Ketika tiba waktunya, Allah mengutus PuteraNya dilahirkan oleh seorang perempuan'40 demikian kata Paulus. Penjelmaan ini merupakan dasar kekristenan. Sabda yang dari semula bersama Allah dan adalah Allah menjelma menjadi manusia.41 Mulai saat penjelmaan itulah orang yang sebelumnya tidak dapat melihat Allah dapat melihat Allah melalui Putera TunggalNya.
          Penjelmaan adalah misteri Pribadi Kedua dari Tritunggal Mahakudus, misteri Yesus Kristus sebagai Allah dan manusia, misteri keberadaannya sebagai Allah Manusia. Pengertian ‘penjelmaan’ menunjuk pada bagaimana Sabda menjadi manusia; dan oleh sebab itu berarti suatu karya di mana Allah mengambil kodrat manusia dalam rahim seorang perempuan, mengangkatnya dan menyatukannya dengan Pribadi ilahi yang kedua. Dalam penjelmaan tersebut dua kodrat yang sangat berbeda, kodrat Allah dan kodrat manusia, berpadu.42 Sebagai Putera Allah yang menjadi daging dari daging Maria,43 Yesus Kristus merupakan hasil perpaduan personal dari dua kodrat yang berbeda ini.
          Perpaduan antara kodrat ilahi dan kodrat insani ini disebut persatuan hipostasis, yang artinya menyatu tetapi tidak bercampur. Yesus Kristus adalah baik Allah dan manusia yang bersatu. Sebagai Allah, la sehakekat dengan Bapa sebelum adanya waktu dan sebagai manusia yang dilahirkan dalam waktu dan sehakekat dengan ibunya. la adalah Allah yang sejati dan juga seorang manusia yang sejati, dengan jiwa yang lasional dan daging manusia.44 la setara dengan Bapa dalam keilahianNya tetapi la lebih rendah daripada Bapa dalam kemanusiaanNya.45 Meskipun la adalah Allah dan manusia, la bukanlah dua tetapi satu. la adalah satu, bukan karena keilahianNya diubah menjadi daging, tetapi karena kemanusiaanNya diilahikan. la adalah satu, bukan karena percampuran antara yang ilahi dan yang manusiawi, tetapi karena la adalah satu Pribadi.46
          Kristus adalah manusia sejati, ia satu ras dengan Adam. la memiliki kodrat kemanusiaan yang lengkap dan nyata, termasuk memiliki tubuh yang nyata sebagaimana manusia pada umumnya. Kodrat kemanusiaanNya lengkap dengan segala potensi dari indera dan sistem tubuh. Selain itu juga Ia memiliki pikiran spiritual dan kehendak manusiawi. Ia dilahirkan sebagai seorang manusia sejati dari seorang ibu manusia. Kodrat kemanusiaan yang lengkap dan sempurna ini bukanlah pribadi yang berbeda dari Pribadi ilahi sebagai Sang Sabda. Kodrat kemanusiaan Yesus adalah kodrat manusiawi dari Pribadi ilahi. Perpaduan ini juga bukanlah percampuran dua kodrat dan bukan pula setengah manusia setengah Allah; melainkan suatu perpaduan yang tidak terpikirkan oleh manusia.
          Kodrat itu bukanlah suatu pribadi. Sang Sabda mengangkat kodrat manusia, kodrat yang sama dengan kodrat manusia pada umumnya. Pengangkatan kodrat manusia oleh Sang Sabda ini tidak mengakibatkan perubahan pada Sang Sabda. Oleh sebab itu kodrat kemanusiaan Yesus dimiliki dan menjadi milik Pribadi Sang Sabda. Tidak ada perubahan dalam kodrat yang diangkatNya karena kodrat tersebut ada dalam Pribadi Sang Sabda dan bukannya berada dalam kodrat ilahi.47
          Kekristenan merupakan kabar baik karena didasarkan pada kenyataan historis bahwa Allah mengutus PuteraNya untuk bersatu dengan manusia. Dengan mengambil hakekat yang bukan diriNya dan tanpa kehilangan hakekatNya, suatu keajaiban terjadi di dunia, yaitu Allah Manusia.48 Keajaiban ini berarti bahwa Putera Allah yang abadi sekarang menampakkan kemuliaan Allah di hadapan manusia. Dalam Putera yang menjadi daging, manusia melihat Allah yang tidak tampak dan mengalami kasih Allah yang tidak pernah dilihatnya. Para Bapa Gereja Yunani menyebut hal ini sebagai ‘perkawinan’ Allah dan manusia. Sebagaimana pasangan pengantin, mereka tidak lagi dua melainkan satu daging. Dengan demikian dalam diri Yesus ada misteri ‘perkawinan’ sempurna antara Allah dan manusia dalam satu pribadi Putera Allah. Perpaduan ini begitu nyata sehingga Yesus memberitahu Filipus yang berharap melihat Bapa Yesus, ‘Dengan melihat Aku, engkau melihat Bapa'.49
           
          3.2. Dari Ajaran tentang Kristus Menuju ke Ajaran tentang Maria
          Gereja para rasul dan para martir awali menghayati kepenuhan Kristus ini. ‘Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan’ demikian kata Paulus.50 Pada masa itu mereka tidak perlu mendefinisikan kebenaran iman ini dalam bentuk ajaran karena suara para rasul masih menggema dan otoritas mereka menjamin isi iman tersebut. Namun akhimya muncullah bidaah-bidaah. Kebenaran yang pertama kali dipertanyakan adalah tentang komunikasi diri ilahi: apakah Kristus adalah Putera Allah yang sesungguhnya sehingga Allah benar-benar memberikan diriNya kepada manusia? Seandainya ya, apakah la benar-benar mengosongkan diriNya dan mengambil kodrat manusia seutuhnya sebagaimana manusia lain kecuali dalam hal dosa, atau perpaduan antara Putera Allah dengan kodrat manusia terjadi secara tidak langsung dan hanya sebagian sifatnya, sehingga Kristus adalah benar-benar Putera Allah Bapa di surga dan bukan Putera seorang perempuan di bumi?
          Jawaban yang jelas atas tiga pertanyaan ini muncul setelah bidaah-bidaah ini51 mulai menampakkan pengaruhnya di antara umat beriman. Arius menolak keilahian seutuhnya dari Kristus. Konsili ekumenis yang pertama menegaskan bahwa Kristus adalah ‘Allah dari Allah, Allah benar dari Allah benar dan satu dengan Bapa’. Kemudian pada abad keempat, bidaah Apollinaris menolak kemanusiaan seutuhnya dari Kristus. Mereka menjelaskan bagaimana Logos menggantikan posisi jiwa manusia dari tubuh yang diambilNya dari Maria. Gereja secara bulat menolak pandangan ini dan menegaskan kembali kemanusiaan sepenuhnya dari Sang Sabda. Bidaah yang ketiga dimunculkan oleh Nestorius yang tidak mau mengakui bahwa Sang Sabda yang abadi telah menyatu secara personal dengan kemanusiaanNya.52 Konsili ekumenis ketiga di Efesus53 menyatakan bahwa Sang Sabda telah menyatukan diriNya secara hypostasis (kath'hypostasiti) daging yang dijiwai oleh jiwa rasional, menjadi manusia seutuhnya dan disebut Putera Manusia.54 Oleh sebab itu para Bapa Gereja tanpa ragu-ragu menyebut Maria, sang Perawan Suci, sebagai Bunda Allah.55
          Manfaat dari ajaran ini terutama tampak setelah satu abad dari saat ditetapkannya. Untuk menghormati Kristus dan untuk menjaga kebenaran ajaran inkarnasi, serta untuk menjaga kebenaran iman tentang kemanusiaan Putera Abadi, konsili Efesus menetapkan Santa Perawan Maria sebagai Bunda Allah.56 Gelar ini sebenarnya sudah lama ada dalam tradisi Gereja, tetapi kemudian diangkat kembali oleh konsili. Gelar ini ditetapkan untuk menjaga kebenaran iman akan Yesus Kristus. Gelar tersebut menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah sungguh-sungguh Allah; gelar tersebut juga menampakkan bahwa Yesus adalah Manusia, karena Maria adalah manusia. Gelar tersebut juga menunjukkan perpaduan antara dua realitas yang berbeda, realitas ilahi dan realitas manusiawi, yaitu Allah dan manusia. Sebagaimana Maria ketika hidup di dunia ini memelihara dan menjaga secara personal Putera ilahinya, dengan menyandang gelar ‘Bunda Allah’ ini ia menjadi penjaga kebenaran akan hakekat Puteranya. Pada saat bidaah-bidaah menyatakan bahwa Puteranya bukanlah Allah atau bukan manusia yang sesungguhnya, atau dalam kasus Nestorius, bahwa Ia tidak sungguh-sungguh menyatu dengan kemanusiaan, Gereja memproklamirkan bahwa Maria adalah Bunda Allah.57 Gelar ini dapat menumpas semua bidaah-bidaah yang mempersoalkan kodrat Yesus Kristus.
          Dalam upaya menolak bidaah-bidaah tersebut, Gereja tidak hanya mengakui dan memperdalam kebenaran akan Kristus, tetapi juga memuliakan bundaNya. Dalam menjawab bidaah-bidaah yang merendahkan Sang Putera, Gereja menghormati bundaNya. Gereja melihat bahwa gambaran akan kebundaan ilahi Maria adalah implikasi nyata dari iman Gereja akan Kristus dan bahwa kebundaan ilahi ini mencerminkan iman akan Kristus. Iman kepada Allah tidak dapat dinyatakan tanpa iman akan Maria sebagai Bunda Allah.
          Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa kemuliaan Maria bukanlah bagi dirinya sendiri, tetapi bagi Putera ilahinya dan GerejaNya. Oleh sebab itu pada saat pengesahan ajaran Maria Diangkat ke Surga, pada tahun 1950, Paus Pius XII menyatakan: ‘Keuntungan besar bagi kemanusiaan dari pengesahan ini adalah bahwa Maria akan membawa umat kepada kemuliaan Tritunggal Mahakudus.’
           
          3.3. Konsekuensi iman akan Maria sebagai Bunda Allah58
                      Iman akan Maria sebagai Bunda Allah membawa berbagai konsekuensi penting pada iman. mengenai siapa dan apa peran Maria. Maria sebagai Bunda Allah tentunya tidak sama dengan manusia-manusia yang lain, meski ia secara kodrati adalah manusia. Sebagai Bunda Allah, ia tentunya telah dipersiapkan oleh Allah sendiri. Sebagai Bunda Allah konsekuensi pada diri Maria, adalah:
           
          3.3.1. Maria, Bunda Perawan
          Penjelmaan tidak terjadi tanpa persiapan. Penjelmaan baru terjadi setelah melalui proses yang panjang. Ada tiga tahap, pertama-tama Allah berbicara kepada leluhur Israel di masa lampau melalui para Nabi dan dengan berbagai cara.59 Penjelmaan terjadi setelah pewahyuan Allah kepada Abraham dan keturunannya. Penjelmaan pada diri Yesus Kristus merupakan puncak dari suatu rentetan peristiwa perwujudan kasih Allah kepada manusia, mulai dari Abraham, Ishak dan Yakub pada masa Perjanjian Lama.60
        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.