Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

2Juli

Expand Messages
  • i_sumarya
    Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan (Am 8:4-6.9-12; Mat 9:9-13) Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius
    Message 1 of 2 , Jul 1, 2010
    View Source
    • 0 Attachment
      "Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan"
      (Am 8:4-6.9-12; Mat 9:9-13)

      "Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (Mat 9:9-13), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
      Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Bernardino Realino dkk, para imam Yesuit, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
      • Orang-orang Farisi memang begitu menekankan peraturan sebagaimana tertulis dan kurang menghayati jiwa atau tujuan sejati dari peraturan. Hemat saya semua peraturan dibuat dan diundangkan berdasarkan kasih dan bertujuan mewujudkan kasih juga, dengan kata lain yang utama dan pertama-tama adalah kasih atau belas kasih bukan peraturan, formalitas, liturgy, dst.. Maka cukup menarik tanggapan Yesus atas kata-kata orang Farisi kepada para murid Yesus: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa". Kita semua yang beriman pada Yesus Kristus, dan kiranya secara khusus para imam/pastor, dipanggil untuk menjadi saksi dan teladan belas kasihan dalam hidup, kerja dan pelayanan kita dimanapun dan kapanpun. Memang yang lebih membutuhkan belas kasihan adalah mereka yang sakit atau berdosa, maka pertama-tama saya mengingatkan dan mengajak mereka yang berkarya bagi orang sakit, entah dokter, perawat dan petugas lainnya, untuk sungguh berbelas kasih kepada para pasien: melayani, merawat, memperlakukan para pasien dengan rendah hati, lemah lembut, penuh senyum, murah hati, dst… Para imam atau pastor kami dambakan juga menjadi teladan dan saksi dalam hal belas kasihan kepada umat yang dipercayakan untuk dilayani atau digembalakan: salurkan kasih pengampunan kepada mereka yang berdosa atau bersalah.
      • "Terimalah didikanku, lebih dari pada perak, dan pengetahuan lebih dari pada emas pilihan. Karena hikmat lebih berharga dari pada permata, apa pun yang diinginkan orang, tidak dapat menyamainya." (Am 8:10-11). Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita bersama. "Hikmat lebih berharga dari pada permata", inilah yang selayaknya menjadi pedoman atau tuntunan cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun. Pertama-tama kami ingatkan para orangtua yang memiliki anak-anak: hendaknya pendidikan anak-anak lebih diutamakan daripada kebutuhan yang lain. Pengalaman menunjukkan ketika orangtua memperhatikan pendidikan anak-anaknya maka berbahagia dan sejahtera masa depan anak-anak maupun orangtua sendiri. Wariskan kepada anak-anak nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan kehidupan bukan uang, emas, permata atau berlian. Kepada para pengambil kebijakan atau keputusan dalam hidup bersama, misalnya para anggota DPR dan kepala daerah maupun presiden, kami harapkan memberi anggaran yang memadai bagi program pendidikan anak-anak; tekankan lebih ke `spiritual dan human investment daripada material invesment'. Jangan bangga dengan bangunan gedung tinggi, ber-AC, dst.. sementara itu rakyatnya kurang terdidik, miskin dan amoral. Permata, uang, harta benda, dst.. dapat hilang dan musnah dalam waktu sesaat, tetapi dididikan nilai, keutamaan dan budi pekerti hemat saya akan abadi sampai mati. Secara umum kami berharap agar anak-anak dan generasi muda sungguh memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan berkembang yang memadai sesuai dengan tuntutan zaman. Maka kami berharap kepada orangtua, orang dewasa serta yang berkuasa, untuk memberi kemungkinan dan kesempatan tersebut; tidak memperhatikan pendidikan dan pembinaan anak-anak serta generasi muda berarti mau bunuh diri pelan-pelan alias masa depan suram.

      "Aku akan berpegang pada ketetapan-ketetapan-Mu, janganlah tinggalkan aku sama sekali. Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu"
      (Mzm. 119:8-10)
      Jakarta, 2 Juli 2010
    • I Sumarya
      “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya. (Am 2:6-10.13-16; Mat 8:18-22) “Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia
      Message 2 of 2 , Jun 30, 2012
      View Source
      • 0 Attachment
        “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya."
        (Am 2:6-10.13-16; Mat 8:18-22)
        Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: "Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: "Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka." (Mat 8:18-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
        Berreflkesi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
        ·   Yesus adalah Penyelamat Dunia dan memiliki tugas pengutusan untuk menyelamatkan seluruh dunia. Ia memang telah berusaha keras untuk berkeliling kemana-mana, namun Ia juga membutuhkan tenaga atau bantuan orang lain untuk meneruskan dan menyebarluaskan tugas pengutusanNya, dengan kata lain Ia membutuhkan orang-orang yang bersedia untuk menjadi pengikut atau muridNya. Pengajaran maupun kepribadianNya menyentuh dan mempesona banyak orang, maka cukup banyak orang akhirnya menjadi pengikutNya. Untuk menjadi pengikut Yesus harus dengan besar hati dan sukarela meninggalkan segala sesuatu atau segala yang dimilikiNya serta siap sedia untuk diutus kemanapun tanpa syarat. Dalam kisah hari ini ada seseorang ingin mengikuti Yesus, namun ketika menerima jawaban Yesus bahwa Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya, ia pun mengundurkan diri karena kelekatannya pada sesuatu yang tak dapat ditinggalkan. Alasan ‘menguburkan ayah’ atau melayat merupakan sesuatu yang tak mungkin dibantah, dengan kata lain merupakan alasan yang tak mungkin dapat dibicarakan atau didiskusikan. Itulah yang sering disebut sebagai kelekatan tak teratur. Maka dengan ini kami mendambakan anda sekalian yang menjadi pengikut Yesus Kristus untuk sungguh melepaskan diri dari aneka kelekatan yang tak teratur, entah itu berupa harta benda atau sifat pribadi atau kenikmatan-kenikmatan tertentu yang berlawanan dengan kehendak Allah. Menjadi pengikut Yesus Kristus harus bebas merdeka secara total.
        ·   Karena TUHANlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian. Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya, sambil menjaga jalan keadilan, dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia. Maka engkau akan mengerti tentang kebenaran, keadilan, dan kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik. Karena hikmat akan masuk ke dalam hatimu dan pengetahuan akan menyenangkan jiwamu;” (Ams 2:6-10). Jika kita sungguh secara total meninggalkan kelekatan-kelekatan tak teratur, maka kita akan mampu menerima anugerah Tuhan, yaitu “mengerti tentang kebenaran, keadilan dan kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik”. Kami percaya bahwa kita semua mendambakan untuk tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik dan kami berharap para orangtua maupun para pengelola dan pelaksana karya pendidikan/sekolah lebih mengutamakan agar anak-anak atau para peserta didiknya lebih tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik daripada pandai, cerdas secara spiritual daripada cerdas secara intelektual. Memang mendidik anak-anak atau peserta didik untuk tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik lebih sulit daripada mendidik agar lebih pandai. Jika orang sungguh memiliki kecerdasan spiritual alias baik, hemat saya kecerdasan-kecerdasan lainnya seperti kecerdasan intelektual, sosial, emosional, fisik dapat diusahakan dengan mudah. Kecerdasan spiritual merupakan landasan atau dasar kecerdasan-kecerdasan lainnya. Apa yang disebut dalam kutipan diatas, yaitu kebenaran, keadilan dan kejujuran hemat saya sungguh penting dan mendesak untuk kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini, mengingat kebohongan, ketidak-adilan dan korupsi masih merebak di sana-sini dan lebih sungguh memprihatinkan bahwa hal itu terjadi dalam diri para tokoh atau pemuka hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di negeri kita tercinta ini. Sekali lagi saya angkat salah satu usaha yang  hendaknya dikerjakan bersama-sama adalah peraturan dilarang menyontek di sekolah-sekolah, karena membiarkan para peserta untuk menyontek berarti mempersiapkan mereka untuk menjadi pembohong-pembohong dan koruptor-koruptor.
        "Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku, dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu, padahal engkaulah yang membenci teguran, dan mengesampingkan firman-Ku? Jika engkau melihat pencuri, maka engkau berkawan dengan dia, dan bergaul dengan orang berzinah. Mulutmu kaubiarkan mengucapkan yang jahat, dan pada lidahmu melekat tipu daya. Engkau duduk, dan mengata-ngatai saudaramu, memfitnah anak ibumu.Itulah yang engkau lakukan, tetapi Aku berdiam diri; engkau menyangka, bahwa Aku ini sederajat dengan engkau. Aku akan menghukum engkau dan membawa perkara ini ke hadapanmu” (Mzm 50:16-21)
        Ign 2 Juli 2012
         
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.