Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

3 Juni

Expand Messages
  • i_sumarya
    Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (2Tim 2:8-15; Mrk 12:28-34) Seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal
    Message 1 of 3 , Jun 1, 2010
      " Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri"
      (2Tim 2:8-15; Mrk 12:28-34)

      "Seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?" Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini." Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan." Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus" (Mrk 12:28-34), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

      Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Karolus Lwanga dkk, martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
      • Ada aneka hukum, peraturan atau tatanan dalam kehidupan bersama kita, hidup bermasyarakat, berbangsa, bernegara maupun beragama atau beriman. Landasan dan arah atau tujuan semua hukum, peraturan dan tatanan hemat saya adalah cintakasih, cintakasih kepada Tuhan dan sesama. Maka ketika Yesus menerima pertanyaan perihal `hukum manakah yang paling utama', Ia menjawab: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini". Maka marilah kita hayati hukum yang paling utama ini di dalam hidup dan kerja kita setiap hari, dimanapun dan kapanpun. Mengasihi dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan berarti dengan seutuhnya, total tanpa catatan kaki, yang memang mengandaikan hati, jiwa, akal budi dan tubuh yang sehat wal'afiat. Mereka yang sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi atau sakit tubuh kiranya akan mengalami kesulitan atau tantangan berat untuk mengasihi maupun dikasihi. Maka marilah kita usahakan dan jaga kesehatan hati, jiwa, akal budi dan tubuh kita, agar kita dapat saling mengasihi dengan baik. Para bapak-ibu atau suami-isteri kiranya memiliki pengalaman saling mengasihi dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan atau tubuh, yang antara lain memuncak dalam hubungan seksual, maka kami harapkan dapat menjadi contoh atau teladan dalam hidup saling mengasihi bagi anak-anaknya maupun orang lain di lingkungan hidupnya.
      • "Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan Allah, agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya. Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu"(2Tim 2:14-15). "Jangan bersilat kata", inilah pesan atau nasihat yang kiranya baik kita renungkan dan hayati. Orang yang senang bersilat kata pada umumnya adalah orang yang merasa diri pandai, para politikus, ahli hukum dst… Cintakasih pertama-tama dan terutama harus menjadi nyata dalam tindakan atau perilaku bukan dalam kata-kata atau silat lidah. Sekiranya harus berkata-kata pun hendaknya berkata dengan jujur, apa adanya, tanpa malu ketika harus mengakui dirinya sebagai yang bersalah. Jujur dalam berkata-kata berarti mengungkapkan apa yang ada di dalam hati, lubuk hati yang terdalam alias berkata sesuai dengan suara hati. Marilah kita ingatkan dengan rendah hati mereka yang suka dan sering bersilat lidah, memboroskan waktu dan tenaga tiada guna. Sekali lagi kami berharap kepada para orangtua maupun guru/pendidik untuk dapat menjadi teladan dalam hal kejujuran berkata-kata bagi anak-anak maupun para peserta didik. Kami ingatkan dan ajak anda sekalian untuk berhati-hati menanggapi orang yang suka bersilat lidah, omong besar atau berkata-kata manis untuk menipu, dst… Jangan mudah tergoda oleh aneka rayuan kenikmatan para penipu! Kami juga mengingatkan kita semua: hendaknya bangga terhadap pekerjaan dan tugas kita masing-masing, tentu saja pekerjaan atau tugas yang menyelamatkan atau membahagiakan diri kita sendiri maupun saudara-saudari kita.

      "TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati. Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya." (Mzm 25:8-10)
      Jakarta, 3 Juni 2010
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.