Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Fw: 2 Sept

Expand Messages
  • Yohanes Samiran SCJ
    ... From: Rm Maryo To: Sent: Selasa, 01 September 2009 15:42 Subject: 2 Sept Juga di kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah
    Message 1 of 1 , Sep 1, 2009
    • 0 Attachment
      
      ----- Original Message -----
      From: Rm Maryo
      To:
      Sent: Selasa, 01 September 2009 15:42
      Subject: 2 Sept
       

      "Juga di kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus."(Kol 1:1-8; Luk 4:38-44)

       

      “Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka. Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: "Engkau adalah Anak Allah." Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias. Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus."Dan Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea” (Luk 4:38-44), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

       

      Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

      ·       Dukun cilik Ponari pernah termashyur: ribuan orang setiap hari berbondong-bondong minta pengobatan, dan akhirnya Ponari pun tidak dapat bebas lagi ke mana-mana, bahkan kelelahan dan kurang dapat bergaul dengan rekan-rekannya. Banyak orang telah disembuhkan oleh Yesus dari berbagai macam penyakit, dan mereka pun tergerak ‘berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka’. Namun Yesus menyadari bahwa Ia adalah Penyelamat Dunia, diutus untuk menyelamatkan seluruh dunia, bukan daerah atau wilayah tertentu saja, maka menanggapi usaha mereka untuk menahanNya, Ia berkata: “Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus”. Sebagai murid-murid atau pengikut Yesus kita semua dipanggil untuk meneladan Dia, yaitu tidak membatasi diri dalam rangka berbuat baik: kemanapun kita pergi dan dimanapun kita berada dipanggil untuk berbuat baik kepada sesama dan saudara-saudari kita, tanpa pandang bulu, SARA, usia, pengalaman, jabatan, fungsi, dst.. Apa yang disebut ‘baik’ juga berlaku secara universal, dimana saja dan kapan saja. Maka baiklah pertama-tama dan terutama kita perhatikan saudara-saudari kita yang sakit atau menderia bermacam-macam penyakit untuk kita tolong dalam proses penyembuhannya. Mereka yang sakit hati kita beri perhatian yang memadai, mereka yang sakit jiwa kita sapa dengan penuh kasih, mereka yang sakit akal budi kita dampingi dengan sepenuh hati, mereka yang sakit phisik kita obati, dst.. Kita semua dipanggil untuk menjadi ‘pewarta-pewarta kabar baik’ artinya dari diri kita masing-masing senantiasa terkabarkan atau tersiarkan apa-apa yang baik karena kita memang baik adanya.

      ·       “Kami selalu mengucap syukur kepada Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, setiap kali kami berdoa untuk kamu, karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Kristus Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus” (Kol 1:3-4), demikian sapaan awal Paulus dalam suratnya kepada umat di Kolose. Apa yang telah dilakukan oleh Paulus ini kiranya dapat kita tiru. Mengucap syukur dan berdoa bagi orang lain, itulah yang diharapkan dari kita semua. Kita selayaknya bersyukur ketika mendengar saudara-saudari kita hidup dalam kasih satu sama lain, sebagai perwujudan imannya kepada Tuhan. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk saling bersyukur dan berdoa satu sama lain. Sikap bersyukur dan berdoa hendaknya juga menjadi awal setiap perjumpaan kita dengan orang lain sebagai bukti bahwa kita sungguh beriman. Kebiasaan saling bersyukur dan berdoa ini kiranya selayaknya sedini mungkin ditanamkan pada anak-anak di dalam keluarga dan tentu dengan teladan dari orangtua atau bapak-ibu. Bersyukur kiranya dekat dengan berterima kasih, maka baiklah saya mengajak anda sekalian untuk mawas diri perihal ‘terima kasih’. Entah telah berapa kali kita mengatakan ‘terima kasih’ kepada orang lain, misalnya: ketika disapa menjawab ‘terima kasih’, ketika diberi sesuatu menjawab ‘terima kasih’, ketika dicium menjawab ‘terima kasih’, dst.. Entah apapun yang kita terima adalah perwujudan kasih orang lain kepada kita; dengan kata lain yang utama dan pertama-tama adalah kasih, bukan materi yang kita terima. Segala sesuatu yang ‘mendatangi’ kita adalah kasih. Entah telah berapa kali kita dikasihi/didatangi, mungkin sulit dihitung, maka selayaknya kita senantiasa hidup dengan bersyukur dan berterima kasih.

       

      “Aku ini seperti pohon zaitun yang menghijau di dalam rumah Allah; aku percaya akan kasih setia Allah untuk seterusnya dan selamanya. Aku hendak bersyukur kepada-Mu selama-lamanya, sebab Engkaulah yang bertindak; karena nama-Mu baik, aku hendak memasyhurkannya di depan orang-orang yang Kaukasihi!”

      (Mzm 52:10-11)

      Jakarta, 2 September 2009

             

       

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.