Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

2 Jan

Expand Messages
  • rm_maryo
    Membuka tali kasutNya pun aku tidak layak. (1Yoh 2:22-28; Yoh 1:19-28) Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa
    Message 1 of 4 , Jan 1, 2008
    • 0 Attachment
      "Membuka tali kasutNya pun aku tidak layak."
      (1Yoh 2:22-28; Yoh 1:19-28)

      "Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem
      mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk
      menanyakan dia: "Siapakah engkau?" Ia mengaku dan tidak berdusta,
      katanya: "Aku bukan Mesias." Lalu mereka bertanya kepadanya: "Kalau
      begitu, siapakah engkau? Elia?" Dan ia menjawab: "Bukan!" "Engkaukah
      nabi yang akan datang?" Dan ia menjawab: "Bukan!" Maka kata mereka
      kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada
      mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?"
      Jawabnya: "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun:
      Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya."
      Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi.
      Mereka bertanya kepadanya, katanya: "Mengapakah engkau membaptis,
      jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan
      datang?" Yohanes menjawab mereka, katanya: "Aku membaptis dengan
      air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal,
      yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya
      pun aku tidak layak." Hal itu terjadi di Betania yang di seberang
      sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis" (Yoh 1:19-28), demikian
      kutipan Warta Gembira hari ini.

      Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Basilius
      Agung dan Gregorius dari Nazianze , uskup dan pujangga Gereja, hari
      ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
      • Orang yang terkenal pada umumnya cenderung menjadi sombong,
      apalagi ketika yang bersangkutan sungguh menjadi `favorit' dalam
      percaturan hidup di masyarakat. Yohanes, dengan kehadiran dan
      ajarannya, telah menimbulkan kecemburuan tokoh-tokoh atau petinggi
      Yahudi seperti para imam dan orang-orang Levi karena ketenarannya,
      maka di antara mereka ada yang diutus untuk mempertanyakan siapa
      sebenarnya Yohanes itu. Mereka merasa tersaing oleh Yohanes. Dengan
      rendah hati Yohanes menanggapi pertanyaan mereka, bahwa ia hanya
      orang yang mempersiapkan jalan bagi Dia yang lebih besar,
      karena "membuka tali kasutNya pun aku tidak layak". Tanggapan
      Yohanes ini kiranya baik kita renungkan bersama, juga atau lebih-
      lebih bagi Yang Mulia para Uskup yang senantiasa menyatakan diri
      sebagai yang hina dina dalam doa-doanya. Sepak terjang atau langkah-
      langkah kita kiranya bagaikan pembantu rumah tangga yang sedang
      membersihkan rumah, halaman, kebun dst.. untuk menyambut kedatangan
      seorang tamu yang layak dihormati. Kita memiliki tugas perutusan
      untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan dalam diri sesama maupun
      lingkungan hidup kita, antara lain dengan menyelenggarakan gerakan
      kebersihan hati, jiwa, akal budi dan tubuh serta lingkungan hidup
      kita sendiri maupun orang lain. Maka seperti pembantu rumah tangga
      yang baik, yang mengurus dan merawat kebersihan lingkungan hidup,
      bekerja dengan tekun, rendah hati dan gairah, marilah kita dengan
      rendah hati mengatur dan merawat diri, pekerjaan dan lingkungan
      hidup kita sebersih mungkin. Apa yang bersih pada umumnya senantiasa
      menarik banyak orang untuk datang serta menikmatinya. Ingat:
      kebersihan adalah pangkal kesehatan atau keselamatan.
      • "Sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya
      apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan
      tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya"(1 Yoh 2:28).
      Pesan Yohanes ini hendaknya menjadi permenungan dan pegangan atau
      pedoman hidup dan cara bertindak kita. "Tinggal di dalam Kristus"
      berarti senantiasa hidup bersih, jujur, adil, penuh kasih, rendah
      hati, lemah lembut, sabar dan gembira serta bergairah. Orang yang
      hidup demikian kiranya tiada ketakutan apapun pada dirinya, meskipun
      harus menghadapi aneka ancaman, provokasi penyesatan, tipu daya
      kejahatan maupun sabotase-sabotase atau hambatan-hambatan. "Tinggal
      di dalam Kristus"juga berarti tidak malu dan tidak takut mengakui
      dan menghayati iman di dalam hidup sehari-hari, termasuk secara
      konkret mengaku diri sebagai murid atau pengikut Yesus Kristus,
      sebagai orang Kristen atau Katolik. Orang yang demikian ini ketika
      didatangi Tuhan secara khusus pada akhir hidupnya alias dipanggil
      Tuhan atau akan mati juga tidak takut dan gentar, melainkan dengan
      penuh penyerahan diri dan senyum menghadapi kematian. "Di dalam Dia
      kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh
      kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya"(Ef 3:12) , demikian pesan
      Paulus kepada umat di Efesus, yang juga salah pilih menjadi motto
      ketika saya mau ditahbiskan menjadi imam. Hidup atau mati adalah
      milik Tuhan, maka baiklah kita menghayati hidup senantiasa di dalam
      Tuhan, sesuai dengan kehendakNya dan secara konkret setia pada janji-
      janji yang pernah kita ikhrarkan seperti janji baptis, janji imamat,
      kaul, janji perkawinan, janji pelajar/pegawai, sumpah jabatan dst…
      Sekali lagi marilah tidak takut dan malu menghayati iman kepercayaan
      kita dalam hidup sehari-hari, agar kita tetap sehat wal'afiat, segar
      bugar dan selamat serta bahagia.

      "Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan
      perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-
      Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.TUHAN telah
      memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan
      keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa."(Mzm 98:1-2)

      Jakarta, 2 Januari 2008
    • Romo maryo
      “Membuka tali kasutNya pun aku tidak layak. (1Yoh 2:22-28; Yoh 1:19-28)   “Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus
      Message 2 of 4 , Jan 1, 2009
      • 0 Attachment

        “Membuka tali kasutNya pun aku tidak layak."

        (1Yoh 2:22-28; Yoh 1:19-28)

         

        “Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: "Siapakah engkau?" Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: "Aku bukan Mesias." Lalu mereka bertanya kepadanya: "Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?" Dan ia menjawab: "Bukan!" "Engkaukah nabi yang akan datang?" Dan ia menjawab: "Bukan!" Maka kata mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?" Jawabnya: "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya." Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. Mereka bertanya kepadanya, katanya: "Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?" Yohanes menjawab mereka, katanya: "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak." Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis” (Yoh 1:19-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

         

        Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Basilus Agung dan Gregorius dari Nazianze, Uskup dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

        ·   Dalam warta gembira hari ini ditampilkan Yohanes Pembaptis, yang kehadiran dan pelayanannya menimbulkan diri hati beberapa imam dan orang-orang Lewi, karena banyak orang lebih tertarik kepadanya. Mereka irihati karena banyak pengikut mereka berbalik ke Yohanes Pembaptis, maka mereka mengirim utusan untuk menanyakan jati diri Yohanes Pembaptis, apakah ia adalah Mesias yang dijanjikan. Menanggapi pertanyaan tersebut dengan rendah hati Yohanes menjawab: “Aku bukan Mesias…Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak”. Yohanes boleh dikatakan sebagai yang terkenal serta populer di kalangan bangsanya, namun ia dengan rendah hati menyatakan jati dirinya. Apa yang dinnyatakan oleh Yahanes ini juga dinyatakan oleh para uskup atau gembala, seperti Basilius Agung dan Gregrorius yang kita rayakan hari ini, yaitu sebagai ‘hamba yang hina dina’. Para uskup boleh dikatakan sebagai yang terpilih dan terbaik serta tersuci di antara umat di wilayah keuskupan mereka, yang mereka gembalakan. Jika yang terpilih dan terbaik begitu merendahkan diri alias rendah hati, maka kiranya kita semua juga dipanggil untuk rendah hati dalam cara hidup dan cara bertindak kita.  Rendah hati adalah sikap yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya” (Prof.Dr.Edi Sedyawati: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997  hal 24). Rendah hati merupakan keutamaan dasar, yang mendasari keutamaan-keutamaan lainnya, maka marilah kita saling rendah hati dalam kehidupan kita bersama dimanapun dan kapanpun.

        ·   Maka sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya” (1Yoh 2:28), demikian kutipan dari surat Yohanes. Kita semua dipanggil untuk setia ‘tinggal di dalam Kristus’, bersahabat denganNya dan dengan demikian meneladan cara bertindakNya serta melaksanakan semua perintah-perintah atau sabda-sabdaNya, sehingga kita senantiasa di dalam Dia dan bersama dengan Dia.  Bersama dan bersatu dengan Tuhan tidak perlu takut dan malu menghadapi aneka tantangan dan hambatan kehidupan beriman atau beragama, juga sewaktu-waktu dipanggil.Tuhan atau meninggal dunia, didatangi Tuhan secara khusus dan pribadi. Tantangan dan hambatan untuk setia menghayati iman, panggilan dan tugas pengutusan pada masa kini dimana-mana dan setiap waktu ada di hadapan kita semua, mengingat dan memperhatikan masih maraknya aneka bentuk kemerosotan moral hampir di semua bidang kehidupan. Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya.” (Ef 3:12), demikian kesaksian Paulus kepada umat di Efesus, yang secara kebetulan juga menjadi motto saya ketika ditabhiskan menjadi imam 25 tahun lalu. Ia (Tuhan) senantiasa menyatakan atau menghadirkan Diri dalam berbagai macam tantangan dan hambatan, antara lain dapat kita lihat dan hayati dalam aneka apa yang baik, indah, luhur dan mulia di balik tantangan dan hambatan tersebut. Marilah kita imani dan hayati juga nasihat ini: “Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” (Fil 1:6)

         

        “Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa. Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!” (Mzm 98:1-4)

         

        Jakarta, 2 Januari 2009



        Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik.
        Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang!
      • i_sumarya
        Membuka tali kasutNya pun aku tidak layak. (1Yoh 2:22-28; Yoh 1:19-28) Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa
        Message 3 of 4 , Dec 31, 2009
        • 0 Attachment
          "Membuka tali kasutNya pun aku tidak layak."
          (1Yoh 2:22-28; Yoh 1:19-28)

          "Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: "Siapakah engkau?" Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: "Aku bukan Mesias." Lalu mereka bertanya kepadanya: "Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?" Dan ia menjawab: "Bukan!" "Engkaukah nabi yang akan datang?" Dan ia menjawab: "Bukan!" Maka kata mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?" Jawabnya: "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya." Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. Mereka bertanya kepadanya, katanya: "Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?" Yohanes menjawab mereka, katanya: "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak."Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis." (Yoh 1:19-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
          Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Basilius Agung dan Gregorius dari Nazianze hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
          • Hari ini kepada kita ditampilkan tokoh Yohanes Pembaptis, yang dengan rendah hati mempersiapkan jalan bagi Penyelamat Dunia. Ia dinilai atau dipandang sebagai seorang nabi besar, namun dibandingkan dengan Sang Penyelamat Dunia, Yesus, dirinya bukan apa-apa, maka ia bersaksi "Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.". Sikap mental Yohanes Pembaptis ini kiranya baik kita tiru dan hayati juga dalam hidup dan bertindak kita setiap hari, sebagai orang beriman, khususnya kita yang beriman kepada Yesus, Penyelamat Dunia. Kita semua dipanggil untuk dengan rendah hati mempersiapkan jalan bagi Tuhan, artinya melalui atau dengan cara hidup dan cara bertindak kita, kita dapat menjadi petunjuk jalan bagi orang lain untuk semakin beriman, semakin suci, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, Yang Ilahi. Mereka yang melihat atau kena dampak cara hidup dan cara bertindak kita tergerak untuk semakin beriman, semakin berbudi pekerti luhur. "Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya"(Prof Dr. Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Kami berharap kepada mereka yang berpengaruh dalam kehidupan bersama di tingkat atau ranah kehidupan apapun, misalnya orangtua, pemimpin, ketua, pejabat, dst. dapat menjadi saksi atau teladan dalam hal penghayatan keutamaan kerendahan hati.
          • "Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus?" (1Yoh 2:22). Yohanes Pembaptis dengan jujur mengakui dirinya bukan Penyelamat yang didambakan banyak orang, melainkan hanya menyiapkan jalan bagiNya: ia percaya bahwa "Yesus adalah Kristus', Yesus adalah Penyelamat Dunia. Sebagai orang Kristen atau Katolik kita percaya bahwa Yesus adalah Penyelamat Dunia, maka marilah kepercayaan kita itu kita hayati dalam hidup sehari-hari, antara lain dengan menghayati ajaran atau sabda Yesus maupun meneladan cara bertindakNya, sebagaimana diwartakan dalam dan melalui Kitab Suci. Jika kita tidak menghayati ajaran atau sabda Yesus maupun meneladan cara bertindakNya berarti kita adalah pendusta, mengakui diri sebagai orang Kristen atau Katolik tetapi cara hidup maupun cara bertindaknya tidak sesuai dengan ajaran Yesus. Mungkin kita semua tidak sempurna dalam menghayati ajaran maupun meneladan cara bertindak Yesus, maka baiklah kita saling membantu dan mengingatkan satu sama lain. "Di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu -- dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta -- dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia"(1Yoh 2:27). Kita tidak mau saling mengajar, melainkan saling mengingatkan dengan rendah hati. Yang juga diharapkan dari kita adalah keterbukaan satu sama lain, dalam rangka menghayati keterbukaan kita terhadap Penyelenggaraan Ilahi, kehendak Tuhan, bisikan Roh Kudus.

          "Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa. Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!" (Mzm 98:1-4)
          Jakarta, 2 Januari 2010
        • I Sumarya
          “Membuka tali kasutNya pun aku tidak layak. (1Yoh 2:22-28; Yoh 1:19-28) “ Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus
          Message 4 of 4 , Dec 31, 2011
          • 0 Attachment
            Membuka tali kasutNya pun aku tidak layak."
            (1Yoh 2:22-28; Yoh 1:19-28)
            “ Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: "Siapakah engkau?" Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: "Aku bukan Mesias." Lalu mereka bertanya kepadanya: "Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?" Dan ia menjawab: "Bukan!" "Engkaukah nabi yang akan datang?" Dan ia menjawab: "Bukan!" Maka kata mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?" Jawabnya: "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya." Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. Mereka bertanya kepadanya, katanya: "Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?"Yohanes menjawab mereka, katanya: "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak." Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis” (Yoh 1:19-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
            Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Basilius Agung dan Gregorius dari Nazianze, Uskup dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sbb.:
            ·   Yohanes Pembaptis termasuk nabi besar, dan ia memberi kesaksian tentang Penyelamat Dunia, Yesus Kristus, bahwa ia tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Dia. Yang terbesar di dalam Gereja Katolik, Paus dan para Uskup, juga menghayati diri sebagai yang kecil dan senantiasa menyatakan diri sebagai hamba yang hina dina. Dengan rendah hati para Gembala kita berusaha melayani umat Allah, maka baiklah kita sebagai umat juga berusaha hidup dan bertindak dengan rendah hati serta saling melayani satu sama lain. Maka tak jemu-jemunya saya mengangkat arti rendah hati: “Rendah hati ialah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun dalam kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Kita juga baru saja mengenangkan Penyelamat Dunia yang datang dengan rendah hati, yang melepaskan kebesaranNya dan menjadi sama dengan manusia kecuali dalam hal dosa. Menghayati rendah hati memang antara lain berusaha untuk menjadi sama dengan yang lain, tentu saja yang berusaha menjadi sama adalah mereka yang lebih tinggi atau besar, bukan yang kecil dan rendah berusaha menjadi sama dengan yang lebih besar dan tinggi. “Turba”/turun ke bawah alias menunduk untuk melihat ke bawah, itulah yang hendaknya kita lakukan atau hayati terus menerus, lebih-lebih bagi mereka yang berada di atas. Turun ke bawah untuk mengunjunji atau mendatangi serta menyapa mereka dalam dan dengan  cintakasih, rendah hati dan lemah lembut.
            ·   “ Maka sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya.” (1Yoh 2:28). Percaya kepada Tuhan serta tidak malu menghayati hidup dalam kesatuan dengan dan bersama Tuhan dalam hidup sehari-hari itulah yang hendaknya menjadi jati diri kita sebagai orang beriman. Percaya kepada Tuhan berarti tidak mengandalkan diri pada manusia maupun ciptaan-ciptaan lainnya, dan senantiasa melihat dan menghayati kehadiran dan karya Tuhan dalam ciptaan-ciptaanNya, entah itu manusia, binatang maupun tanaman. Kehadiran dan karya Tuhan dalam ciptaan-ciptaanNya antara lain nampak atau mengejala dalam apa yang baik, indah, mulia, luhur dalam ciptaan-ciptaan tersebut. Jika kita mampu melihat dan menghayati kehadiran dan karya Tuhan dalam ciptaan-ciptaanNya, maka dengan sendirinya kita juga tak akan malu menghayati kebersamaan atau kesatuan denganNya alias melakukan apa yang baik, mulia, indah dan luhur. Hendaknya tidak malu berbuat baik serta tidak takut, karena apa yang kita lakukan pasti akan menarik, mempesona dan memikat orang-orang yang berkehendak baik, dan mereka yang berkehendak baik lebih banyak daripada mereka yang berkehendak jelek atau jahat. Pada saat kedatanganNya yang khusus, yaitu ketika Ia memanggil kita untuk kembali ke sorga atau meninggal dunia, kita pun juga dengan terbuka dan senang hati  menyambutNya. Dengan kata lain jika kita sungguh hidup bersama dan bersatu dengan Tuhan setiap hari alias senantiasa melakukan apa yang baik, maka sewaktu-waktu kita dipanggil Tuhan kita siap dan tak takut. Marilah kita senantiasa berbuat baik atau melakukan apa yang baik kapan pun dan dimana pun.
            “Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa. Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita.Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!” (Mzm 98:1-4)
            Ign 2 Januari 2012
          Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.