Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Fw: Terima Kasih yang tak terhingga

Expand Messages
  • linda .
    ... From: Leony Imelda To: Undisclosed-Recipient:;@mail.sentosagroup.com Sent: Friday, September 28, 2007 6:00:51 AM Subject: Fw:
    Message 1 of 1 , Sep 30, 2007
    • 0 Attachment


      ----- Forwarded Message ----
      From: Leony Imelda <leony-imelda@...>
      To: Undisclosed-Recipient:;@...
      Sent: Friday, September 28, 2007 6:00:51 AM
      Subject: Fw: Terima Kasih yang tak terhingga

      Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali


      Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil.
      Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning,
      dan punggung mereka menghadap ke langit.
      Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

      Suatu ketika, untuk demi membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis
      di
      sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri <?xml:namespace prefix =
      st1 ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" />lima puluh sen dari
      laci ayahku. Ayah segera menyadarinya kehilangan itu.
      Beliau membuat adikku dan aku berlutut didepan  tembok,
      dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
      Belian bertanya "Siapa yang mencuri uang itu?"
      Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara???..
      Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan,
      "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"
      Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku
      mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"

      Tongkat panjang itupun menghantam punggung adikku bertubi-tubi.
      Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau
      Kehabisan nafas.
      Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi,
      "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi
      yang
      akan kamu lakukan di masa mendatang? ...
      Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

      Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami.
      Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes
      pun.
      Dipertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung.
      Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan
      menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

      Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian
      untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut
      masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang
      adikku ketika ia melindungiku.

      Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.
      Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP,
      aku lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten.
      Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas
      propinsi.
      Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya,
      bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita
      memberikan hasil yang begitu baik......"
      Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas sambil bergumam,
      "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"

      Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah,
      saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku."
      Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya.
      "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya?
      Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan
      kamu berdua sampai selesai!"

      Dan begitulah  kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk
      meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka
      adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus
      meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang
      kemiskinan ini.
      "Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke
      universitas".

      Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan
      rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah
      mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik
      kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah.
      Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."
      Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan
      air mata bercucuran sampai suaraku hilang.

      Tahun itu, adikku berusia 17 tahun, Aku 20.
      Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku
      hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi,
      aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).

      Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, teman sekamarku masuk dan
      memberitahukan, " Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana !"
      Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan
      melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan
      pasir.
      Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku
      kamu adalah adikku?"
      Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku? Apa yang akan
      mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan
      menertawakanmu?"

      Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu
      debu-debu yang melekat pada adikku semuanya, dan tersendat-sendat aku
      berkata, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun
      juga! Kamu adalah
      adikku bagaimana pun penampilanmu..."

      Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu.
      Ia memakaikannya kepadaku, dan lulu menjelaskan, "Saya melihat semua
      Gadis kota memakainya, Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."
      Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam
      pelukanku dan menangis.

      Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
      Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah
      diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana.
      Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu,
      ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah
      kita!"
      Tetapi sambil tersenyum ia berkata, "Itu adalah adikmu yang pulang awal
      untuk
      membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia
      terluka ketika memasang kaca jendela baru itu?..."

      Aku berlari masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang
      kurus.
      Seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya
      dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak,
      tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu
      berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku
      bekerja dan..." Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan
      tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.

      Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.
      Ketika aku menikah, aku tinggal di kota . Banyak kali suamiku dan aku
      mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi
      mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun,
      mereka
      tidak akan tahu harus mengerjakan apa.
      Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja.
      Saya akan menjaga ibu dan ayah disini."

      Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku
      Mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan.
      Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.
      Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

      Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel,
      ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.
      Suamiku dan aku pergi menjenguknya.
      Melihat gips putih pada kakinya, saya  menggerutu,
      "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus
      melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka
      yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"
      Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya.
      "Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak
      berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita / gosip
      seperti
      apa yang akan diterima?"

      Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang
      sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"
      "Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku.

      Tahun  itu, ia berusia 30 dan aku 33.
      Adikku berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu.
      Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya,
      "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa ragu dan bahkan
      berpikir ia menjawab, "Kakakku."
      Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan
      Tidak dapat kuingat.
      "Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda.
      Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk  pergi
      ke sekolah dan pulang ke rumah.
      Suatu hari, Saya kehilangan sebelah dari sarung tanganku. Kakakku
      memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan
      sejauh itu.
      Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang
      begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya.
      Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya  masih hidup, saya akan menjaga
      kakakku dan baik kepadanya."

      Tepuk tangan membanjiri ruangan itu.
      Semua tamu memalingkan Perhatiannya kepadaku.
      Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar dari bibirku, sambil terbata bata
      aku berkata "Dalam hidupku, orang yang paling berhak menerima terima kasih
      yang tak berkesudahan adalah adikku."
      Dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, dan di depan kerumunan
      perayaan ini,
      air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.



      Shape Yahoo! in your own image. Join our Network Research Panel today!
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.