Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

ETOS KERJA KRISTEN (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Expand Messages
  • Denny Teguh Sutandio
    Etos Kerja Kristen oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div. Etos Kerja Kristen-1 (ringkasan khotbah 5 Desember 1999) Nats : Efesus 4:28 (2) Minggu lalu kita telah
    Message 1 of 1 , May 27, 2007
    • 0 Attachment
      Etos Kerja Kristen
       
       
      oleh :
      Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
       
       
       
      Etos Kerja Kristen-1
      (ringkasan khotbah 5 Desember 1999)
       
      Nats : Efesus 4:28 (2)
       
      Minggu lalu kita telah membicarakan tentang pengaruh dan konsep daripada Utilitarianisme yang sudah meracun sistem ekonomi, pekerjaan dan etos kerja di tengah dunia sehingga akibatnya banyak orang salah mengerti dalam menjalankan kerja. Seringkali kalau kita mendengar kalimat, "Jangan mencuri," kita hanya melihat aspek ketiganya saja yaitu aspek material bahwa mencuri hanya sebatas mengambil dompet orang lain, tetapi itu bukan yang Alkitab maksudkan. Mencuri adalah ketika saudara mengambil hak yang bukan hak saudara sehingga akhirnya itu menjadi pencurian, dengan mendapatkan sesuatu yang bukan milik kita tetapi kita miliki dengan cara yang tidak tepat dan tidak halal. Sehingga pencurian bukan sekedar mengutil tetapi justru masuk dalam satu aspek yang sangat mendasar dalam pemikiran Kristen.
       
      "Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan." Ini merupakan prinsip yang Alkitab katakan dan hari ini kita akan melanjutkan dengan aspek kedua yaitu, "Bekerja keraslah!" Disini kita harus balik pada pengertian etos kerja Kristen sesungguhnya yang terdapat dalam Kej 2:15 (prinsip ekonomi/ oikos-nomos), yaitu: "Tuhan Allah mengambil … untuk mengusahakan dan memelihara taman itu," yang kalau kita bandingkan dalam Kej 3:17-19, "… dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu." Pdt. Stephen Tong selalu mengatakan bahwa abad 20 merupakan abad yang bodoh karena menjalankan filsafat perusak yang dicipta di abad 19 tanpa koreksi dan secara kritis memperhatikan bahaya yang disodorkan. Salah satu bahaya yang disodorkan oleh filsafat abad 19 adalah Utilitarianisme (asas manfaat) oleh John Stuart Mill. Filsafat tersebut sangat bersifat hedonistik, mencari keuntungan pribadi dengan cara kenikmatan duniawi yang luar biasa ditutup dengan satu slogan yang sangat manis: "Marilah kita memperjuangkan manfaat terbesar bagi orang yang terbanyak."
       
      Maka Utilitarianisme memberikan bahaya yang besar, karena 1). Memicu prinsip egoisme dan mereka menyangkal konsep babwa manusia hakekatnya berdosa, cenderung melawan Allah, tidak suka pada kebenaran dan lebih suka merugikan orang daripada menjadi berkat. Konsep Utilitarianisme yang diterima diseluruh dunia membawa dampak terhadap globalisasi yang menghasilkan penghancuran dunia dan hari ini terjadi kerusakan ekonomi secara global. 2). Utilitarianisme menjadi perusak yang luar biasa karena akhirnya menjadi asas yang mengabsahkan pengusuran dan perugian bagi kaum minoritas. Alasan-alasan dengan menggunakan format mayoritas untuk menyingkirkan kelompok minoritas sehingga mereka tidak mempunyai hak dan kekuatan yang sama dengan kelompok mayoritas. Betapa bahayanya kalau konsep Utilitarianisme diterima oleh seseorang, karena itu akan mengorbankan orang lain dan menghancurkan kelompok lain. Konsep ini harus dikikis dari konsep pikiran manusia, ini harus kita kerjakan dan tularkan pada banyak orang sehingga pikiran kita tidak diracun oleh konsep tersebut. 3). Konsep utilitarian menjadi racun yang besar karena pada akhirnya menimbulkan satu konsep pencurian dengan menggunakan konsep risk and gain, makin besar resiko yang dilalui maka kita makin berhak untuk untung besar. Sehingga muncul konsep ditengah dunia kalau kita gagal akibat orang lain yang mencapai untung, maka itu memang resiko yang harus kita tanggung. Hal ini menimbulkan kerusakan moral dan etika kerja. Yang kuat yang akan menang sudah mensahkan kita boleh menipu orang lain dengan alasan bahwa resiko harus kita tanggung sendiri. Ini akibatnya dunia menjadi rusak didalam ekonomi karena tidak ada batasan moral terhadap hal tersebut.
       
      Setelah kita mengerti konsep tesebut, ada 3 hal dimana kita dapat memikirkan hal ini dengan lebih teliti, yaitu: 1). Etos kerja Kristen yang sesungguhnya dalam Alkitab. 2). Bagaimana kita melihat secara paradoks kondisi dari sebelum dan sesudah kejatuhan (antara natur dengan realita) sehingga kesadaran ini muncul dalam format yang sangat kuat di tengah kekristenan. Satu jiwa paradoks antara keharusan ideal yang Tuhan tetapkan dengan fakta realita yang berlawanan jauh daripada apa yang menjadi natur kerja. 3). Dengan mengerti bagaimana memparadokskan hal diatas maka kita dapat melawan 3 filsafat dunia yang sangat meracuni konsep kerja.
       
      Dalam Kej 2:15, sebelum manusia dicipta, Tuhan sudah menciptakan alam semesta dan isinya untuk menjadi tempat manusia berdayaguna dan manusia dicipta adalah untuk mengusahakan dan memelihara taman tersebut. Prinsip daripada Ekonomi (oikos-nomos), pengelolaan rumah tangga mengandung beberapa prinsip, yaitu: Pertama, Allah bekerja dan Ia menginginkan manusia yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah juga bekerja. Ketika kita melihat bagaimana Tuhan Yesus bekerja, Allah yang berinkarnasi adalah Allah yang menunjukkan contoh bekerja sehingga kita seharusnya malu kalau tidak bekerja. Tuhan mencipta kita bukan sejak dunia jatuh dalam dosa tetapi sejak dunia berada dalam kemurnian dan kebenaran untuk mengelola dan memelihara taman. Berarti sejak semula tidak ada natur apapun yang tidak menyetujui manusia harus bekerja dan ketika tidak bekerja maka kita sedang melanggar natur kita. Tetapi hari ini, natur ini terus dikikis perlahan-lahan supaya seolah-olah kita boleh terus dipermudah bahkan kalau mungkin tidak perlu bekerja. Terjadi satu kesalahan efek dari satu sikap dimana sebenarnya melalui perkembangan teknologi kita dapat mengerjakan lebih banyak hal sehingga tidak dikunci dengan pekerjaan yang dapat digantikan oleh mesin dan kita dapat mendayagunakan pikiran, tenaga untuk mengerjakan hal-hal yang membutuhkan bijaksana, kemampuan serta ketrampilan yang hanya dapat dikerjakan manusia sebagai mahkluk yang lebih tinggi daripada sekedar mekanik.
       
      Natur kerja yang Tuhan ingin manusia kerjakan harus selalu mengandung dua unsur yaitu mengusahakan dan memelihara sehingga ekonomi dapat berjalan dengan benar. Ekonomi modern sedang menghadapi tantangan besar karena menghadapi ketegangan antara dua beban besar, dimana disatu pihak gerakan rasionalisme dan perkembangan teknologi telah salah mengerti konsep mengusahakan menjadi satu citra eksplorasi yang liar luar biasa sehingga pemeliharaan tidak dikerjakan. Tetapi dilain pihak, ajaran New Age movement mengajarkan ‘back to nature’ dengan hanya memelihara tanpa mengembangkan alam. Memelihara tanpa mengusahakan alam merupakan perusakan pasif terhadap alam. Oikos-nomos didalamnya harus selalu megandung dua unsur yaitu mengembangkan dan memelihara, itulah yang disebut dengan etos kerja Kristen dan kedua hal itu harus dijalankan secara bersama (paradoks). Sehingga waktu saudara menjalankan apa yang Tuhan tuntut dalam Kej 2:15 maka saudara dapat dipakai Tuhan ditengah dunia untuk menyadarkan bagaimana mereka seharusnya bekerja.
       
      Dan yang kedua, natur kerja yang sudah ditata oleh Tuhan begitu rupa, menjadi satu natur yang seharusnya begitu indah dan dapat dikerjakan secara tepat, sekarang oleh manusia dirusak karena manusia melawan dan menghancurkan prinsip yang Tuhan tetapkan. Kalau sebelum manusia jatuh antara ideal dengan realita terjadi keselarasan yang sangat indah tetapi ketika manusia telah jatuh maka tingkat natur ideal menjadi senjang jauh dengan realita yang dihadapi. Bumi, tempat kita garap sudah tidak bersahabat lagi sehingga akhirnya segala pekerjaan yang seharusnya menjadi natur yang cocok dengan jiwa kita sekarang menjadi sesuatu yang sangat menyulitkan dan menyusahkan serta kerja keras dengan berpeluh sampai kita boleh mencapai apa yang kita mau kerjakan (Kej 3:17-19). Idealisme kerja yang Tuhan tanam di dalam diri manusia tidak hilang, tetapi realitanya sekarang bertentangan sama sekali dari fakta itu. Seringkali ketika kita menghadapi situasi seperti ini, hati kita mulai berontak karena disatu pihak natur kerjanya masih menuntut untuk mau bekerja tetapi begitu berhadapan dengan realita kesulitan yang begitu besar, hatinya mulai memberontak bahkan tidak rela karena faktanya begitu susah dan menyakitkan. Itu semua karena kita sedang mencoba melinierkan dan bukannya memparadokskan antara dua hal tersebut. Kalau kita kembali pada Firman Tuhan hari ini, kita tahu bahwa terjadi konflik antara idealisme dengan realita yang tidak kita selesaikan secara paradoks tetapi secara linier. Bagaimana realita yang begitu jelek dan ideal yang begitu indah digarap dan dipertemukan dalam perkembangan pertumbuhan sampai akhirnya mencapai apa yang harus kita kerjakan di dalam hidup kita. Kalau kita tidak mampu demikian maka akibatnya kita tidak mampu bekerja secara tepat di tengah dunia dan akhirnya konsep kerja kita berubah menjadi konsep materialis.
       
      Ini yang harus kita waspadai karena kalau hal ini terjadi maka langsung ada beberapa filsafat yang akan membuka mulutnya untuk menelan kita. 1). Hedonisme (filsafat Garfield). Garfield adalah satu figur yang sengaja disodorkan sebagai figur hedonisme modern yang selalu menyodorkan filosofi hedonostik dengan slogan dan penampilannya yang menggambarkan kemalasan kerja. 2). Utilitarianisme 3). Humanisme. Filsafat ini sengaja ditiupkan supaya akhirnya menimbulkan dampak orang ingin mendapatkan keuntungan secara membabi buta dan mendapatkan perlakuan yang sangat baik padahal ia tidak bekerja. Orang Kristen harus belajar menempatkan belas kasihan secara tepat. Berdasarkan etos kerja, seseorang berhak mendapatkan upahnya dan hidup secara layak. Dunia kita ini selalu mengalami penyimpangan dalam pola berpikir kerja karena filsafat dunia berusaha menyodorkan konsep-konsep yang tidak tepat dan tidak sesuai dengan kebenaran Firman. Bagaimana saudara dan saya, dengan jiwa dan sistem kerja yang kita pakai? Bagaimana saudara dan saya menjadi orang-orang yang dipakai Tuhan untuk bekerja di tengah dunia secara tepat serta bagaimana kita menularkan prinsip dan etos kerja kepada orang lain, sehingga banyak orang yang disadarkan bahwa cara kerja yang tidak beres akan merusak seluruh masyarakat. Cara kerja yang tepat, yang kembali kepada Firman adalah yang membawa kita kepada kebenaran. Amin.
       
       
       
      Etos Kerja Kristen-2
      (ringkasan khotbah 12 Desember 1999)
       
      Nats : Efesus 4:28 (3); 2 Tes 3:1-15
       
      Beberapa saat ini kita terus memikirkan tentang bagaimana Kekristenan menegakkan prinsip etos kerjanya. Kekristenan adalah manusia yang secara natur dalam dirinya dicipta dengan jiwa dan natur bekerja, seperti dalam Alkitab dikatakan mengusahakan dan memelihara taman dan itu dijalankan secara seimbang. Hal itu sesuai dengan prinsip dasar ekonomi (oikos-nomos) yaitu bagaimana kita diberi akal budi dan kemampuan, dipanggil oleh Tuhan menjadi pengelola sehingga menyejahterakan semua bagian. Manusia diberi kuasa pengelolaan namun juga harus bertanggungjawab terhadap pemberi otoritas, sehingga ketika bekerja itu harus direlasikan dengan bertanggungjawab terhadap Tuhan. Ini yang menjadikan kita harus sadar posisi kita secara tepat.
       
      Waktu saya sedang mengumulkan hal ini, salah satu masalah yang paling serius dibicarakan dalam bagian ini adalah dalam II Tes 3 dimana seolah-olah Kekristenan menjadi agama yang penuh cinta kasih sehingga harus berbelas kasihan, memberikan segala sesuatu dan memperhatikan kemiskinan dengan luar biasa. Kekristenan memang merupakan agama cinta kasih tetapi itu tidak sedemikian saja dilakukan karena kita harus mengerti bagaimana memberi secara tepat. Sehingga Paulus mengingatkan dengan perkataan, "Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna" (II Tes 3:11). Dan dikatakannya pula, "…, jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." Saya rasa prinsip ini harus tegas sehingga kita mengerti bagaimana kita harus berdaya guna. Ketika mempersiapkan bagian ini, saya tertarik dengan satu buku yang ditulis dua orang Belanda, profesor bidang sosiologi dan sosial dari World Council of Churches (Dewan Gereja-gereja sedunia). Buku "Dibalik Kemiskinan dan Kemakmuran" (Beyond Poverty & Affluence) oleh Bob Goudzwaard & Harry de Lange diterbitkan Yayasan Kanisius, 1998. Di dalam membicarakan aspek kekayaan dan kemiskinan, mereka mengemukakan 6 paradoks permasalahan yang kita hadapi. Mereka membuka fakta 6 paradoks ditengah abad modern yang berkembang yang kelihatannya sangat bertentangan tetapi sebenarnya sangat terkait satu sama lain.
      1). Paradoks Kelangkaan. Ditengah kekayaan manusia yang seharusnya dapat dipakai untuk mengelola kesejahteraan manusia tetapi justru terjadi kelangkaaan yang bukan disebabkan oleh tidak adanya kekuatan mendayagunakan namun karena begitu banyak produksi yang diperlakukan secara tidak beres. Berjuta liter susu dibuang di sungai padahal banyak anak dalam kondisi kekurangan gizi dan membutuhkan susu. Demikian juga halnya dengan jeruk yang seharusnya dapat menjadi vitamin tanpa harus minum minuman yang mengandung bahan kimia tetapi itu semua dihancurkan demi harga produksi menjadi tidak murah. Ketika daya begitu besar, pada saat yang sama terjadi pengerusakan dan penghancuran sumber yang seharusnya dapat dipakai oleh manusia.
       
      2). Paradoks Kemiskinan. Ketika negera-negara adidaya semakin kaya, namun peningkatan kemiskinan persentasinya lebih besar daripada peningkatan incomenya karena hanya sekelompok orang yang bertambah kaya. Seperti yang pernah saya katakan bahwa jikalau tidak hati-hati maka di Indonesia akan tercipta generasi pengemis dan orang-orang yang menciptakan citra kemiskinan masa depan. Karena sistem, pola dari cara kerja atau kebijaksanaan pemerintah telah kehilangan harga diri sehingga menjadikan kita mudah menjadi pengemis. Sungguh paradoks karena disatu pihak kita melihat dunia semakin hari semakin sejahtera dan makmur namun kenyataannya tidak meniadakan jumlah pengemis yang semakin meningkat jumlahnya.
       
      3). Paradoks Sensitifitas Keperdulian. Disatu pihak harusnya setiap kita makin maju dan makmur, semakin memikirkan kesejahteraan orang lain tetapi justru sebaliknya, berpikir bagaimana dapat menggunakan dan memanipulasi orang lain. Karena etos dan format kerja yang dicipta begitu rupa dengan jiwa utilitarian yang begitu menguasai dan mencengkeram seluruh cara hidup kita.
       
      4). Paradoks Ketenagakerjaan. Disatu pihak banyak yang membutuhkan tenaga kerja tetapi dilain pihak tidak ada tenaga kerja yang memadai dan tidak adanya kesempatan bekerja karena tidak adanya kemampuan untuk pekerjaan yang dibutuhkan, sehingga pengganguran semakin meningkat. Disini persoalannya adalah bagaimana mendidik dan menuntut kualitas orang bekerja untuk masuk dalam garis manusia. Fakta yang harus kita lihat dimana berjuta tenaga kerja bekerja dalam kondisi non human karena seringkali mereka sengaja tidak diberikan kesempatan agar kualitas mereka meningkat supaya mereka dapat diatur dan dimanipulasi. Itu merupakan pemikiran yang sangat pragmatis dan mengakibatkan kerugian besar karena berarti mereka tidak mampu memikirkan kesejahteraan secara totalitas.
       
      5). Paradoks Waktu. Makin kita mempunyai kemampuan teknologi yang mengefisienkan waktu namun kita bukan semakin kelebihan waktu tetapi justru kekurangan waktu dan semakin kekurangan kemampuan untuk menata waktu. Alkitab menuntut keseimbangan bekerja secara tepat. Yang pertama, Kekristenan menuntut kita memberikan waktu untuk melayani dan mencurahkan pikiran bagi Tuhan (Ef 4:1-16). Kedua, Tuhan memanggil kita untuk dikirim kembali ke dalam dunia, bekerja, menghasilkan buah dan menjadi contoh. Ketiga, bagaimana kita menjadi orang yang hidup sepadan ditengah keluarga sehingga mampu melayani Tuhan, bekerja serta memberikan kesaksian yang baik ditengah keluarga (Ef 5). Ini kembali pada pengertian kita tentang apa itu kerja, bagaimana kerja yang tepat dan diseimbangkan dengan pelayanan, keluarga serta semua aspek yang lain.
       
      6). Paradoks Kesehatan. Ketika negara makin maju, ternyata penyakit juga semakin banyak. Kemajuan teknologi, perkembangan sosial masyarakat tidak menjadikan manusia bertambah sehat. Goudzwaard & de Lange menyatakan 3 problem utama yang menyebabkan terjadinya keenam hal diatas, yaitu: 1). Kemiskinan. 2). Ketenagakerjaan, 3). Environment (lingkungan). Namun saya sangat tidak setuju dengan solusi yang sangat humanis yang mereka kemukakan yaitu, "Mari kita kembali pada inti Ekonomi, man and his needs (manusia dan kebutuhannya)." Sebab Firman Tuhan mengajarkan bagaimana saya bertanggungjawab dihadapan Allah mengelola alam semesta demi kesejahteraan manusia. Kalau manusia hanya memikirkan kebutuhannya maka yang menjadi pusat adalah manusia dan itu akan merusak seluruh system karena yang terjadi adalah saling berbenturnya kebutuhan yang akhirnya menjadi titik terciptanya destruksi dan tidak adanya penyelesaian apapun.
       
      Selanjutnya, bagaimana kita menurunkan format Kristen yang seharusnya di dalam bekerja? Kembali pada Kej 2:15 dan Ef 4:28 yang kemarin kita pelajari yaitu mari kita mulai bekerja keras memikirkan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya dan mengerjakannya dengan tangan kita sendiri supaya dapat menjadi berkat bagi orang lain. Dengan demikian citra kerja Kristen :
      1). God Centre Work (kerja yang berorientasi kepada Allah) dan bukan kepada diri, uang, kenikmatan serta sekularisme atau keduniawian. Mari kita mulai berpikir mengubah paradigma total, yang berarti mengubah dari format dasarnya menjadi: "Segala sesuatu adalah dari Allah, kepada Allah, dan untuk Allah, bagi Allah kemuliaan untuk selama-lamanya." Sehingga bagaimana bagaimana kita bekerja dan mulai studi hingga mulai menyelesaikan dan sampai masuk ke dunia kerja memikirkan pekerjaan apa yang Tuhan bebankan kepada kita itulah yang akan kita genapkan. Sekalipun mungkin beban begitu besar namun kita mempunyai kekuatan untuk menerobos dan tidak mudah patah karena itu dikerjakan bukan demi kepentingan kita sendiri.
       
      2). Orientasi kerja berada di dalam tanggung jawab dan bukan hasil. Seringkali waktu kita bekerja dan sekolah selalu orientasinya pada hasil dan akibatnya kita tidak mungkin mencapai ketenangan. Dalam Alkitab dikatakan bahwa berikanlah kepada kami makanan kami yang secukupnya hari ini, sehingga disini kita belajar bagaimana dapat bersandar, tahu mana bagian Tuhan dan bagian kita.
       
      3). High Quality Effort (perjuangan mencapai kualitas tertinggi yang mungkin kita capai). Orang Kristen tidak pernah diajar untuk berbanding dengan orang lain, semangat kerja mengejar mutu yang tertinggi yang kita mampu perjuangkan, tidak pernah takut susah dan mau berkembang mencapai titik maksimal, itu yang harus kita munculkan. Kalau kita berhenti, kecuali itu merupakan titik maksimal maka itu berarti kita sangat tidak bertanggungjawab untuk setiap talenta yang Tuhan berikan.
       
      4). Truth Ethics (etika yang sejati). Truth ethics adalah panggilan kerja Kristen. Orang Kristen bukan hanya sekedar semangat kerja keras tetapi dalam Ef 4 dikatakan "melakukan pekerjaan baik" berarti pekerjaan itu harus mencapai kualitas etik tertentu yaitu kalau ketiga hal yaitu tujuan, motivasi dan caranya baik. Ini merupakan satu prinsip yang penting di dalam cara bekerja! Karena kalau orang Kristen bekerja namun tidak dapat menjadi garam ditengah dunia kerja, maka seperti dalam Alkitab dikatakan, kalau garam asinnya telah hilang maka tinggal dibuang dan diinjak orang.
       
      5). Altruistic Consideration (pertimbangan altruistik/ memikirkan berkat bagi orang lain). Berpikir bahwa apa yang Tuhan percayakan kepada kita juga harus disalurkan pada orang lain karena baik otak, kemampuan, kesempatan, harta dan segala sesuatu adalah dari Tuhan. Sehingga dikatakan ketika kita bekerja keras melakukan pekerjaan baik dengan tangan kita, supaya kita dapat dan dimampukan oleh Tuhan untuk memberi bagi mereka yang membutuhkan di dalam kekurangan.
       
      6). Menjadi berkat buat seluruh alam semesta. Bagaimana kita bekerja mendayagunakan dan mengembangkan seluruh budidaya dan potensi alam untuk kesejahteraan seluruh alam. Sehingga kerja Kristen merupakan kerja yang memikirkan 6 aspek yang menjadikan seluruh cara kerja dari mulai studi hingga bekerja akan diberkati sehingga kita mempunyai keunikan dalam bekerja. Mungkin tidak mudah mendobrak konsep yang bertahun-tahun saudara pegang, tetapi saya minta setiap kita mempunyai jiwa mengubah konsep tersebut, berproses satu langkah demi satu langkah maju, mengubah cara kerja, hidup pelayanan dan seluruh inti utama dari kerja dan studi kita supaya boleh kembali untuk kemuliaan Tuhan. Amin.
       
       
       
      Etos Kerja Kristen-3
      (ringkasan khotbah 13 Februari 2000)
       
      Nats : Efesus 4:28
       
      Hari ini kita akan melanjutkan mengumulkan satu ayat yang saya harap dapat menjadi ciri yang membentuk mentalitas dan ethos kerja kita sebagai seorang anak Tuhan. “Orang yang men­­­curi, janganlah ia mencuri lagi tetapi baik­lah ia bekerja keras, dan melakukan pekerjaan baik de­­­­ngan tangannya sen­diri, supaya ia da­pat membagikan sesuatu kepada orang yang berkeku­rang­­­an.” Berhenti mencuri, seperti be­berapa minggu yang lalu telah kita bahas, bu­kan sekedar se­per­­ti maling yang mencuri barang, dan bukan ber­arti pula bahwa orang yang be­kerja keras pasti bu­­­­kan pencuri. Sebab ada juga pen­cu­ri yang mencuri dengan teknologi canggih dan  bekerja ke­ras dengan jam kerja yang kadangkala lebih panjang dari­ orang yang be­ker­ja secara umum di kan­­­­tor-kantor, sehingga dengan demikian mereka justru tidak bermoral da­lam tugas dan etika ker­ja­nya. Oleh sebab itu, etos kerja merupakan upaya bagaimana kita mengerti ha­kekat kerja yang se­­sungguhnya, dan kita tidak cukup hanya melihat secara fenomena tetapi ha­rus masuk ke­da­­lam mo­tivasi dari kerja yang sesungguhnya.
       
      Salah satu hal yang begitu menyentuh ke­tika merenungkan ayat ini, saya mem­ba­yang­­kan Pdt. Stephen Tong waktu kemarin me­mim­pin ra­pat. Seorang yang berusia 60 tahun de­ngan be­­ban yang begitu besar dan be­rat, namun mampu bekerja de­­­­ngan penuh semangat, dan se­telah ia men­da­pat berkat maka berkatnya ia bagi. Bekerja keras, ti­dak ta­kut su­sah dan be­­­ra­ni meng­a­lami pengorbanan de­mi mengerjakan pekerjaan baik dengan ta­ngan­­nya sen­­diri untuk meng­­ha­sil­kan sesuatu. Hal kedua yang saya belajar kemarin adalah di­ma­na kita mengumulkan ba­­gai­ma­na ge­­­re­ja meng­ha­dapi moralitas ja­man? Kalau kita menghadapi si­­tuasi seperti ini, maka ba­gai­ma­na kita masih dapat mengumul­kan panggilan iman kristen kita? Ke­­­kristenan termasuk teo­­logi Re­for­med bukan me­ru­pa­kan doktrin yang hanya di­otak tetapi teologi yang mau me­nya­tu­kan pe­nger­ti­an esen­­­sial iman Kristen yang ha­rus diterapkan di dalam ke­hi­dup­an. Dan hari ini kita akan me­li­hat ba­­gai­mana etos kerja itu dibicarakan. Kita sekarang hidup di­tengah terpaan slogan-slo­gan yang sa­­­ngat humanis, egois dan hedonistik yang disodorkan di de­pan diri kita yaitu tidak mau kerja atau hidup susah tetapi mau hidup nikmat sehingga akibatnya kita menjadi orang yang hidup se­per­ti Garldfield.
      Apa sebenarnya etika ker­ja? Kalau di Alkitab dikaitkan antara jangan mencuri dengan pe­­­­­kerjaan baik, berarti disini kita me­lihat adanya etika kerja di dalam kerja. Sonny Keraf, di bagian be­­­lakang bukunya yang berjudul “Etika Bis­nis (tuntutan dan relevansinya),” mengatakan, “Etika bis­­­­­nis adalah tuntutan bah­wa bisnis harus beretika mutlak tidak dapat ditawar jika bisnis ingin ber­kem­­­­­bang dan lestari.” Ka­limat itu sangat tepat, namun sayang di dalam solusinya ia tidak mem­­be­ri­­­­­kan pe­nye­le­sai­an yang tuntas sekalipun ia sangat berusaha menguraikan dari aspek ke­kris­ten­an. Sehingga disini saya merasakan pentingnya kita lebih ta­jam lagi melihat bagaimana etika da­lam satu kehidupan itu merupakan satu kemutlakan. Dan ka­­lau kita masuk di dalam sa­tu etos ker­­ja maka etika kerja merupakan syarat mutlak yang ti­dak boleh ditiadakan atau menjadi hete­ro­nom (tidak boleh tergantung pada individu). Ketika saudara mengabaikan tuntutan etika dan mo­ral­itas da­lam hidup saudara, itu akan menjadi ekses saudara menghancurkan orang lain dan yang pa­­­ling pa­rah menghancurkan diri sendiri tanpa disadari. Etika sekarang justru digeser menjadi eti­ka relatif, yaitu baik dan jahatnya jika hal itu diperhitungkan merugikan orang lain. Se­lama tidak me­­­­­­rugikan orang lain maka seolah-olah itu menjadi hak kita un­tuk me­la­kukan dan mengembang­kan apa saja. In­do­ne­sia ha­­­ri ini me­ngalami kerusakan seperti ini karena kita tidak mempunyai mo­­­­­­ralitas dan ke­mu­tlak­an hu­kum. Kalau dunia sudah mulai masuk dalam semangat dan cara ber­pi­­­­­kir de­mi­­kian, ma­ka betapa rusaknya seluruh cara penyelesaian ini. Dosa yang su­dah diker­ja­kan, pe­langar­an hu­kum dan perusakan etika ketika satu kali saudara lakukan, ingatlah bahwa hari itu saudara se­dang mengalami ke­ru­gi­an yang terlalu besar karena saudara sedang mencacatkan se­­­­­­­­jarah hidup­ yang tidak akan per­nah dapat dihapus kembali, karena itu sudah ditandai dengan tan­­­­­da ke­­kekalan di da­lam dosa. Ketika Paulus be­gi­tu giat meng­­­aniaya orang Kristen maka se­te­lah bertobat se­ja­rah cacatnya tidak per­­nah dapat di­­ha­­­­pus ha­­bis dari sejarah hidupnya, sehingga se­­tiap kali ia pergi ke satu kota di­cu­rigai wa­lau­pun ia su­­dah mencoba membuktikan bahwa ia me­­la­­yani se­­­cara sung­guh-sungguh. Se­hing­ga di­sini etika me­ru­pa­­kan tuntutan tegar yang harus kem­ba­­li di­­te­ngah ke­­hidupan Kristen.
       
      Yang kedua, Etika tidak boleh dipermainkan. Etika merupakan satu tuntutan yang mut­lak ha­­rus kita kerjakan karena etika menyangkut tata hidup seseorang yaitu ba­gai­ma­na ia hidup be­­­­relasi dengan sesama, alam dan Tuhan. Ketika kita hidup di dalam sa­tu ta­tan­an nor­ma etika ma­­ka disitu dapat dan mutlak akan terjadi perbedaan kon­sep dan per­sep­­si ka­re­na ada dua pihak yang akan mencapai satu tuntutan etika yang ber­beda. Dan ka­lau kita berdiri diatas satu re­lati­fi­tas kon­sep dimana re­­lasi ha­rus terjadi di dalam kon­sep etika ma­ka mau tidak mau kita harus mem­­­­­pu­nyai stan­dar mut­lak dan ada satu kemutlakan se­jati yang ha­rus kita terima. Yang berhak me­­­­­nentukan saudara baik atau jahat bukanlah manusia tetapi harus firman yang menghakimi dan men­jadi patokan da­ri semua unsur serta penilaian etika yang harus di­ker­ja­kan di tengah dunia. Ini ada­lah dua basis pe­­­ngertian dasar di dalam kita membicarakan etika. Ba­gaimana kita melihat eti­ka tentang per­main­­­an Falas dan Saham pada jaman ini dimana itu me­rupakan perusakan cara ker­ja yang tidak be­­­­res dan tidak ada bedanya dengan membuka kasino se­banyak-banyaknya. Te­ta­pi justru cara ker­­­­ja dan etika moral seperti ini yang dipromosikan be­gi­tu besar di dunia termasuk da­lam uni­ver­si­­­tas Kristen. Kalau kita memikirkan hal seperti ini ma­ka bagaimana kekristenan mem­­­punyai nilai yang se­ja­ti di dalam membicarakan masalah mo­ral. Bekerjalah keras! Disini ti­dak ada prinsip per­­ju­­di­an ditengah kekristenan, dan ini prinsip ke­ras yang ditekankan oleh firman. Tan­pa kerja ke­ras ma­­ka tidak ada hasil yang boleh dicapai.
       
      Standar kembali kepada firman menjadi basis etika yang menentukan apa yang benar dan itu menjadi satu titik tolak didalam seluruh pola pikir kita. Ketika kita mulai membicarakan eti­ka, maka disini kunci pertama yang dikatakan Paulus yaitu, “Bekerja keras.” Pekerjaan baik harus di­­­­sertai dengan bekerja keras sebab me­nyangkut beberapa aspek: 1). Effort (upaya/ kesungguh­an). Kalau kita mencari pekerjaan yang tidak susah, tidak perlu tenaga dan otak serta meng­­ha­sil­kan uang banyak maka itu pas­ti bad work/evil work. Ketika Kristus datang ke tengah dunia, Ia ta­hu bah­­wa per­jalanan hidupnya adalah perjalanan Via Dolorosa (jalan salib). Dan dari sejak mu­­lai pe­­la­­­yan­annya Yesus dengan sikap tegas mau bekerja keras dari pagi hari sebelum ma­taha­ri terbit hing­­­­ga malam hari ketika matahari sudah terbenam dan akhirnya hingga na­ik ke kayu sa­lib. Orang yang tidak mem­pu­nyai jiwa kerja (perjuangan) tidak akan pernah hidup dan kalau terus di­pak­sa­kan ma­ka ia akan menjadi pelaku ke­jahatan. Kalau kita punya otak dan pe­nger­­tian yang baik ma­ka bagaimana kita dibangun mentalitasnya se­hingga mempunyai se­ma­ngat ker­ja yang beres dan mempunyai jiwa tidak ta­kut susah untuk bekerja dan menghasilkan se­suatu yang baik dengan tangan kita.
       
       
      2). Good work is an Quality (bekerja adalah menginginkan hasil yang terbaik untuk di­per­­­­­sembahkan kepada Tuhan). Aristoteles mengatakan, “Very difficult to find out what is good.” Ke­­­­­cuali kembali kepada standar sejati daripada kebajikan karena tidak ada kebajikan yang me­­ma­­­­­­dai. Seperti dalam Mat 19:16-26 Yesus menjawab orang muda yang kaya dengan menga­ta­kan, “Hanya Satu yang baik.” Di tengah dunia yang prag­ma­­tis ha­ri ini kita seringkali bekerja de­ngan sembarangan dan semangat pragmatis yang begitu menguasai kita, dimana semua ti­dak me­­mi­­­­­kir­kan ba­gai­­­mana untuk men­capai kualitas yang memadai. Tuhan menuntut kita be­ker­­ja de­ngan kualitas mak­­simum yang Ia bebankan kepada kita dan masing-masing kita di­beri kualitas yang ber­beda oleh Tuhan. Sehingga kualitas di mata Tuhan bukan diperbandingkan dengan orang la­in te­tapi berapa yang dituntutkan kepada kita, itu yang harus kita penuhi. Dengan demikian se­ti­ap kita me­­mikirkan yang terbaik yang dapat kita kerjakan di hadapan Tuhan.
       
       
      3). Good Work is a Result (hasil). Pekerjaan baik bukan sekedar perjuangan lalu meng­idam­­­­­kan sesuatu yang terbaik tetapi akhirnya tidak dilakukan sama sekali. Seharusnya kita sadar akan anugerah keselamatan yang diberikan Tuhan dengan harga yang sangat mahal dan peker­ja­an baik yang Ia limpahkan kepada kita sehingga apa yang kita kerjakan seharusnya kita per­tang­gung­­­jawabkan kembali kepada Tuhan. Dan kesadaran itulah yang dapat membuat kita untuk tidak ber­­­­henti bekerja keras. Selama Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita untuk bekerja ma­­­­ka ingatlah bahwa kerja itu anu­gerah yang Tuhan percayakan dan apabila Tuhan mau ambil ma­­­­­­ka dalam tempo satu haripun itu semua dapat lenyap. Saya harap apa yang menjadi contoh dan per­gu­mul­an para tokoh firman dan sejarah, seperti: John Calvin, dsb. dapat mendorong kita un­tuk berani mengarap dengan baik apa yang Tuhan per­ca­ya­kan kepada kita.
      Pekerjaan baik merupakan bagian daripada tuntutan moral yang harus kita kerjakan de­­­­ngan keras. Disinilah kita melihat bahwa pekerjaan baik dikaitkan kedalam diri kita, dan ka­dang­­­­kala kita dapat terjebak masuk kedalam dua konsep yang berbahaya sekali: 1). Kita dapat me­n­­­jadi work alko­holic (orang yang gila kerja dan kalau tidak bekerja, ia akan mati). Dan work alko­­holic dapat menimbulkan satu dampak atau timbal balik dimana seolah manusia tidak perlu ker­­ja sehingga hal itu mengakibatkan dampak yang sangat negatif serta menghancurkan seluruh ke­­­­seimbangan. Paulus memberikan gambaran yang sangat cermat dengan mengatakan, “Bekerja ke­­­ras untuk melakukan pekerjaan baik.” Dan dua unsur itu tidak boleh dilepaskan. Yesus membe­ri­­­kan contoh yang indah, “BapaKu bekerja sampai hari ini dan itu alasannya Aku bekerja juga.” Se­­­hingga pe­ker­­jaan manusia gambarkan sebagai miniatur pola yang harus kem­ba­li kepada Tri­tung­­gal sebagai dasarnya. Seorang tokoh yang pernah belajar teologi namun menjadi atheis dan ak­hirnya gila yaitu Friedrich W. Nietzsche (abad 19), seorang filsuf yang terkenal dengan istilah The dead of God Theology dimana di dalam seluruh bukunya ia berjuang keras untuk membunuh Allah se­ca­ra konsep. Namun satu hal yang dikatakannya dalam konsep tersebut adalah dimana eti­ka me­ru­pakan satu ilmu untuk menghimbau manusia supaya mempunyai moralitas tuan dan bu­­kan mo­ra­litas budak atau hamba. Sehingga etika bukan berarti kita didikte, dijepit dan di­mati­kan dan aki­bat­nya tidak mempunyai pilihan ya atau tidak. Seperti dalam Yoh 8 dikatakan bahwa di dalam ke­­ta­atan, kebebasan kita kerjakan secara bertanggungjawab. Begitu kebebasan kita di­cabut oleh Tuhan, maka saat itulah kita berada dalam keterjepitan yang dikatakan oleh Agustinus, non posse non peccare (tidak dapat tidak berdosa), yang artinya ia mau tidak mau berada dalam be­­lenggu do­sa dan yang paling parah, kita kehilangan seluruh kebebasan tersebut. Mari kita kem­ba­li pada prin­sip bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik sehingga cara kerja kita sungguh-sung­guh bertanggungjawab dihadapan Tuhan. Dan suatu ketika kita dapat berkata ke­pa­da Tuhan bah­wa ini yang telah saya kerjakan dihadapan Tuhan dan saya pertanggungjawabkan se­­­mua ini diha­da­panNya. Barangsiapa sudah berada di dalam Tuhan maka ia pasti dimampukan un­­tuk menger­ja­kan­nya, sekalipun banyak kesulitan yang akan dihadapi. Mari kita bersama-sama me­­­­ngerja­kan­nya dengan penuh bertanggungjawab di hadapan Tuhan. Amin.
       
       
       
      Etos Kerja Kristen-4
      (ringkasan khotbah 20 Februari 2000)
       
      Nats : Efesus 4:28.
       
      Saudara, ketika merenungkan ayat yang relatif pendek ini, saya melihat satu hal yang be­­­­gitu agung didalam seluruh prinsip ekonomi Kristen yang Paulus ungkapkan. Di­mana di­­ka­ta­kan, “Orang yang mencuri, ja­ngan­lah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan me­laku­kan pe­ke­r­­­­jaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat mem­bagikan sesuatu kepa­da orang yang berkeku­rang­an.” Kalau kalimat ini hanya sampai pada ‘me­­la­ku­kan pekerjaan yang ba­ik de­ngan ta­ngan­nya sendiri,’ maka ni­lai tambah ekonomi Kristen be­lum terlihat secara tuntas. Di­­ da­lam­­­­­nya memang sudah terdapat satu prinsip yang be­gitu penting dimana kalau seseorang ti­dak be­­­­ker­­ja maka sewajarnyalah ia tidak usah ma­kan (secara ka­­sarnya). Itu kalimat yang di­ung­kap­kan oleh Alkitab de­ngan begitu tegas bah­wa Tuhan meng­­­­­inginkan kita bekerja dan de­ngan de­mikian ki­ta boleh menghasilkan nilai se­ba­gai crown of the univers (mahkota ciptaan). Orang du­nia juga mem­­punyai filsafat yang sa­ma dalam hal ini sehingga akhirnya menjadi satu pe­nger­ti­an umum yang dianggap sa­ngat po­sitif di dunia.
       
      Secara dunia kalau kita be­kerja dan akhirnya menghasilkan sesuatu, ma­ka itu­lah yang di­katakan hasil je­rih payah dan mi­lik­ kita sehingga kita boleh mempergunakan dan me­nik­­matinya. Na­mun disini kita me­­­lihat bahwa Paulus justru mengkontraskan bagian pembu­ka de­­ngan bagian ter­­akhir dari ayat ter­­­sebut, karena disitulah titik balik daripada paradigma hi­dup dan kerja kita. Jus­tru ketika kita telah men­­dapatkan se­suatu biarlah didalam hati kita ada ke­inginan untuk ber­ba­gi dengan mereka yang ber­ada di­dalam kesulitan. Inilah yang di­sebut de­ngan jiwa altruistik dan bu­kannya jiwa egoistik. Di­da­­­lam du­nia etika dikontraskan an­tara se­mangat egoistik dengan altruistik. Semangat egois­tik ada­­­­lah semangat dimana orang mau men­cari kepentingan diri sen­diri. Tetapi justru dalam Alkitab dikatakan, “Se­­­bab se­gala se­su­atu adalah da­ri Dia, dan oleh dia, ke­pada dia, bagi Dialah kemuliaan untuk se­la­­­ma-lamanya, Amin.” Maka disini terjadi satu kontras an­tara semangat yang mau men­cari ke­pen­­ting­an diri sen­­­diri de­­ngan jiwa yang mau memper­hati­kan dan menjadi berkat bagi orang lain. Disinilah saya merasakan keagungan yang Tuhan beri­kan dan ini menjadikan se­lu­­ruh dari­­pada prinsip iman Kristen mengerti pekerjaan dibangun se­­­­ca­ra tuntas. Mari kita mu­lai me­lihat me­ngapa ki­ta dituntut oleh Tuhan mempunyai altruistik action se­­hingga setelah ki­ta be­kerja dan men­da­pat sesuatu kita mempunyai ke­kuatan untuk ber­ba­­­­gi de­ngan orang-orang yang berke­sulit­an. Be­tapa indahnya kalau ke­kristen­an mempunyai se­ma­­­ngat se­­perti ini!
       
      Di sini ada beberapa alasan mengapa aksi altruistik ini bukan se­kedar opsi te­ta­pi me­­­­ru­­pa­­­kan kewajaran hidup Kristen, yaitu:
      1). Kita harus sadar bahwa apapun yang ada pa­da ki­­ta se­ca­ra hakekatnya bukan milik kita tetapi harta yang di­percayakan Tuhan ke­pada kita. Firman Tuhan da­lam Ef 2:8-10 menjelaskan dengan tegas bahwa kita diciptakan dalam Kristus Yesus un­tuk me­la­kukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, su­­paya kita hidup di­­­­da­lam­nya. Maka kalau saudara dan saya da­pat bekerja di­da­lam ja­lur Tuhan, itu merupakan anuge­rah yang Tuhan persiapkan bagi kita, dan sebaliknya kalau kita meng­­­hasilkan se­sua­tu itu anugerah yang harus dikembalikan kepada Tuhan. Seperti da­lam prin­­­sip perum­pa­ma­an talenta, ke­­tika Tuhan memerintahkan kita bekerja maka Ia mem­berikan per­­­lengkapan ker­ja yang cukup dan ta­len­ta bagi kita untuk bekerja. Dalam konteks saat itu, sa­tu talenta bukan merupakan angka yang ke­cil karena berkisar antara 5 juta (se­be­lum dolar na­ik) dan itu merupakan modal yang cu­kup ba­gi ki­ta untuk menghasilkan suatu usaha. Se-mua yang kita mililki baik tenaga, ke­pan­dai­an/otak dan ke­­sempatan studi me­ru­pa­kan anuge­rah Tuhan dan jikalau Tuhan tidak memberikan ta­lenta itu ke­pa­da saudara ma­ka ti­dak mung­kin saudara dapat bekerja. Beberapa saat yang lalu ke­tika terjadi ka­sus Mata­ram, saya men­de­­­ngar ada orang yang dalam satu hari seluruh hartanya ha­bis terbakar se­hing­ga ia hanya da­­­pat keluar dengan apa yang menempel di badannya dan se­dikit apa yang ia da­pat bawa. Ka­­dang saya memikirkan, mung­­­­­kinkah kita mempunyai konsep pikir­an po­se­sif (pe­m

      (Message over 64 KB, truncated)
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.