Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Update - Banten

Expand Messages
  • Adhie Hariyadi
    Bapak Ibu anggota Task Force Yth, Mohon maaf atas periode kekosongan yang cukup panjang dalam memberikan update. Pada tanggal 29-30 April yang lalu, bapak
    Message 1 of 10 , May 4, 2010
      Bapak Ibu anggota Task Force Yth,

      Mohon maaf atas periode kekosongan yang cukup panjang dalam memberikan update.

      Pada tanggal 29-30 April yang lalu, bapak wakil gubernur provinsi Banten beserta SKPD terkait berkenan melakukan kunjungan ke Pulau Peucang - Taman Nasional ujung Kulon. Dalam kunjungan in beliau menyampaikan dukungan terhadap program konservasi badak dan program rhino rescue yang akan dimulai dengan upaya persiapan daerah gunung Honje sebagai fasilitas sanctuary. Dalam kunjungan ini bapak Wakil gubernur juga meminta SKPD terkait untuk dapat membantu konservasi dengan membantu upaya peningkatan kapasitas masyarakat di sekitar daerah zone penyangga khususnya yang akan dijadikan daerah suaka badak.

      Saat ini bapak Ir. Agus Priambudi MSc, Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon sedang menyusun waktu untuk pelaksanaan acara seremonial peluncuran program Rhino Rescue di Provinsi Banten. Sementara itu, WWF dan IPB sedang menerapkan metode analisis spasial menggunakan pemodelan GIS untuk melakukan kajian kesesuaian habitat untuk menentukan lokasi di luar TN Ujung Kulon untuk membentuk populasi kedua (2nd Habitat) secara obyektif. Beberapa lokasi di Jawa dan Sumatra akan dianalisis menggunakan metode ini.

      Demikian update ini saya sampaikan,

      Salam,

      Adhi R Hariyadi
      Sekretariat - Moderator mailing list RTF
    • widodoramono@yahoo.com
      Dear P. Adhi Hariadi, (cc. RTF) Trimakasih atas update. Yang perlu ditambahkan mestinya juga presentasi YABI tentang JRS dan upaya spasial modeling habitat
      Message 2 of 10 , May 4, 2010
        Dear P. Adhi Hariadi, (cc. RTF)
        Trimakasih atas update. Yang perlu ditambahkan mestinya juga presentasi YABI tentang JRS dan upaya spasial modeling habitat bukankah sudah kita mulai dgn Second habitat assessment bulan Juni tahun lalu? Salam

        Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!


        From: "Adhie Hariyadi" <AHariyadi@...>
        Date: Wed, 05 May 2010 11:45:04 +0700
        To: <rhino_taskforce@yahoogroups.com>
        Subject: [rhino_taskforce] Update - Banten

         

        Bapak Ibu anggota Task Force Yth,

        Mohon maaf atas periode kekosongan yang cukup panjang dalam memberikan update.

        Pada tanggal 29-30 April yang lalu, bapak wakil gubernur provinsi Banten beserta SKPD terkait berkenan melakukan kunjungan ke Pulau Peucang - Taman Nasional ujung Kulon. Dalam kunjungan in beliau menyampaikan dukungan terhadap program konservasi badak dan program rhino rescue yang akan dimulai dengan upaya persiapan daerah gunung Honje sebagai fasilitas sanctuary. Dalam kunjungan ini bapak Wakil gubernur juga meminta SKPD terkait untuk dapat membantu konservasi dengan membantu upaya peningkatan kapasitas masyarakat di sekitar daerah zone penyangga khususnya yang akan dijadikan daerah suaka badak.

        Saat ini bapak Ir. Agus Priambudi MSc, Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon sedang menyusun waktu untuk pelaksanaan acara seremonial peluncuran program Rhino Rescue di Provinsi Banten. Sementara itu, WWF dan IPB sedang menerapkan metode analisis spasial menggunakan pemodelan GIS untuk melakukan kajian kesesuaian habitat untuk menentukan lokasi di luar TN Ujung Kulon untuk membentuk populasi kedua (2nd Habitat) secara obyektif. Beberapa lokasi di Jawa dan Sumatra akan dianalisis menggunakan metode ini.

        Demikian update ini saya sampaikan,

        Salam,

        Adhi R Hariyadi
        Sekretariat - Moderator mailing list RTF


      • agus priambudi
        Yth. Pak Adhi, Terima kasih banyak atas komunikasi dan dukungannya.  Memang dengan kunjungan Bapak Wagub Banten lebih terasa dan berdampak lanjut positif. 
        Message 3 of 10 , May 4, 2010
          Yth. Pak Adhi,

          Terima kasih banyak atas komunikasi dan dukungannya.  Memang dengan kunjungan Bapak Wagub Banten lebih 'terasa' dan berdampak lanjut positif.  Sejak itu, beberapa Kadis/ka badan lebih fokus dan 'menggandeng' kita dan masyarakat sekitar untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat sekitar TNUK. Dukungan Pemerintah Propinsi Banten, juga Pemerintah Kabupaten Pandeglang, juga sudah lebih jelas lagi diketahui bagi kita sekalian dalam usaha-usaha penyelamatan badak jawa. 

          Khusus untuk launching program Rhino Rescue, yg tadinya direncanakan antara tanggal 5 - 7 Mei, tp berubah, karena bapak Wagub menghendaki di lokasi JRS (saya kurang paham mengapa Bapak Wagub ketika itu menjadi lebih antusias dilaksanakan launching di lokasi JRS).  Jika di lokasi JRS itu, perlu kesiapan lebih banyak (diantaranya kepastian waktu Ibu Gub dan Bapak Dirjen PHKA, serta hal-hal teknis lainnya).  Lebih sederhana lagi jika launchingnya di Pandeglang atau di Serang.

          Kemarin, Selasa 4 Mei, kami dapat konfirmasi kesediaan waktu Ibu Gub Banten yaitu antara tanggal 24-27 April, atau awal Juni (antara tanggal 1 - 10 Juni) untuk launching Rhino Rescue.  Selanjutnya kami akan berkonsultasi dengan Bapak Dir KKH dan Bapak Sekditjen PHKA mengenai waktu launching tersebut, selain mendapatkan surat beliau sebagai pemberitahuannya kepada Ibu Gub Banten.

          Demikian dulu pak Adhi, terima kasih.

          Salam,

          Agus Priambudi.

          NB: dengan Pak Dody, sy Jum'at bertemu Bapak Bibhab dan Pak Inov, yang akan mengetahui rencana Inventarisasi Badak jawa.  Jika Pak Adhi berkenan ikutan, dengan senang hati, silahkan.





          --- Pada Rab, 5/5/10, Adhie Hariyadi <AHariyadi@...> menulis:

          Dari: Adhie Hariyadi <AHariyadi@...>
          Judul: [rhino_taskforce] Update - Banten
          Kepada: rhino_taskforce@yahoogroups.com
          Tanggal: Rabu, 5 Mei, 2010, 11:45 AM

           

          Bapak Ibu anggota Task Force Yth,

          Mohon maaf atas periode kekosongan yang cukup panjang dalam memberikan update.

          Pada tanggal 29-30 April yang lalu, bapak wakil gubernur provinsi Banten beserta SKPD terkait berkenan melakukan kunjungan ke Pulau Peucang - Taman Nasional ujung Kulon. Dalam kunjungan in beliau menyampaikan dukungan terhadap program konservasi badak dan program rhino rescue yang akan dimulai dengan upaya persiapan daerah gunung Honje sebagai fasilitas sanctuary. Dalam kunjungan ini bapak Wakil gubernur juga meminta SKPD terkait untuk dapat membantu konservasi dengan membantu upaya peningkatan kapasitas masyarakat di sekitar daerah zone penyangga khususnya yang akan dijadikan daerah suaka badak.

          Saat ini bapak Ir. Agus Priambudi MSc, Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon sedang menyusun waktu untuk pelaksanaan acara seremonial peluncuran program Rhino Rescue di Provinsi Banten. Sementara itu, WWF dan IPB sedang menerapkan metode analisis spasial menggunakan pemodelan GIS untuk melakukan kajian kesesuaian habitat untuk menentukan lokasi di luar TN Ujung Kulon untuk membentuk populasi kedua (2nd Habitat) secara obyektif. Beberapa lokasi di Jawa dan Sumatra akan dianalisis menggunakan metode ini.

          Demikian update ini saya sampaikan,

          Salam,

          Adhi R Hariyadi
          Sekretariat - Moderator mailing list RTF



        • Adhie Hariyadi
          Pak Wid Yth, Terimakasih atas tambahan yang bapak sampaikan. Dalam kunjungan bapak Wakil Gubernur, BTNUK, YABI, dan WWF menyampaikan paparan berisi informasi
          Message 4 of 10 , May 4, 2010
            Pak Wid Yth,

            Terimakasih atas tambahan yang bapak sampaikan.

            Dalam kunjungan bapak Wakil Gubernur, BTNUK, YABI, dan WWF menyampaikan
            paparan berisi informasi terkait pengelolaan TNUK, JRS, dan 2nd habitat
            untuk menjadi bahan referensi bagi pak Wagub beserta jajaran SKPD di
            provinsi Banten.

            Kegiatan yang disampaikan dalam update merupakan lanjutan dari
            presentasi YABI tentang JRS yang telah disampaikan di Dinas Kehutanan
            Provinsi sebelum kunjungan bapak Wagub. Selain itu spasial modelling
            yang dilakukan saat ini merupakan tindak lanjut dari assessment yang
            pernah dilakukan bulan Juni tahun lalu.


            Salam,
            Adhi


            >>> <widodoramono@...> 05/05/2010 12:12 >>>
            Dear P. Adhi Hariadi, (cc. RTF)
            Trimakasih atas update. Yang perlu ditambahkan mestinya juga presentasi
            YABI tentang JRS dan upaya spasial modeling habitat bukankah sudah kita
            mulai dgn Second habitat assessment bulan Juni tahun lalu? Salam
            Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
            Teruuusss...!

            -----Original Message-----
            From: "Adhie Hariyadi" <AHariyadi@...>
            Date: Wed, 05 May 2010 11:45:04
            To: <rhino_taskforce@yahoogroups.com>
            Subject: [rhino_taskforce] Update - Banten

            Bapak Ibu anggota Task Force Yth,

            Mohon maaf atas periode kekosongan yang cukup panjang dalam memberikan
            update.

            Pada tanggal 29-30 April yang lalu, bapak wakil gubernur provinsi
            Banten beserta SKPD terkait berkenan melakukan kunjungan ke Pulau
            Peucang - Taman Nasional ujung Kulon. Dalam kunjungan in beliau
            menyampaikan dukungan terhadap program konservasi badak dan program
            rhino rescue yang akan dimulai dengan upaya persiapan daerah gunung
            Honje sebagai fasilitas sanctuary. Dalam kunjungan ini bapak Wakil
            gubernur juga meminta SKPD terkait untuk dapat membantu konservasi
            dengan membantu upaya peningkatan kapasitas masyarakat di sekitar daerah
            zone penyangga khususnya yang akan dijadikan daerah suaka badak.

            Saat ini bapak Ir. Agus Priambudi MSc, Kepala Balai Taman Nasional
            Ujung Kulon sedang menyusun waktu untuk pelaksanaan acara seremonial
            peluncuran program Rhino Rescue di Provinsi Banten. Sementara itu, WWF
            dan IPB sedang menerapkan metode analisis spasial menggunakan pemodelan
            GIS untuk melakukan kajian kesesuaian habitat untuk menentukan lokasi di
            luar TN Ujung Kulon untuk membentuk populasi kedua (2nd Habitat) secara
            obyektif. Beberapa lokasi di Jawa dan Sumatra akan dianalisis
            menggunakan metode ini.

            Demikian update ini saya sampaikan,

            Salam,

            Adhi R Hariyadi
            Sekretariat - Moderator mailing list RTF
          • widodoramono@yahoo.com
            Pak Agus Yth.n Siang td bersama P. Bibhab sy jumpa P. Dir KKH, mnrt blio 24 sd 26 ada acara Hari Biodi di Manggala, stlah itu P. Dirjen ke LN sampai ahir bln.
            Message 5 of 10 , May 5, 2010
              Pak Agus Yth.n
              Siang td bersama P. Bibhab sy jumpa P. Dir KKH, mnrt blio 24 sd 26 ada acara Hari Biodi di Manggala, stlah itu P. Dirjen ke LN sampai ahir bln. Dmkn hrp maklum. Salam.

              Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!


              From: agus priambudi <agus_priambudi@...>
              Date: Wed, 5 May 2010 13:35:53 +0800 (SGT)
              To: <rhino_taskforce@yahoogroups.com>
              Subject: Bls: [rhino_taskforce] Update - Banten

               

              Yth. Pak Adhi,

              Terima kasih banyak atas komunikasi dan dukungannya.  Memang dengan kunjungan Bapak Wagub Banten lebih 'terasa' dan berdampak lanjut positif.  Sejak itu, beberapa Kadis/ka badan lebih fokus dan 'menggandeng' kita dan masyarakat sekitar untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat sekitar TNUK. Dukungan Pemerintah Propinsi Banten, juga Pemerintah Kabupaten Pandeglang, juga sudah lebih jelas lagi diketahui bagi kita sekalian dalam usaha-usaha penyelamatan badak jawa. 

              Khusus untuk launching program Rhino Rescue, yg tadinya direncanakan antara tanggal 5 - 7 Mei, tp berubah, karena bapak Wagub menghendaki di lokasi JRS (saya kurang paham mengapa Bapak Wagub ketika itu menjadi lebih antusias dilaksanakan launching di lokasi JRS).  Jika di lokasi JRS itu, perlu kesiapan lebih banyak (diantaranya kepastian waktu Ibu Gub dan Bapak Dirjen PHKA, serta hal-hal teknis lainnya).  Lebih sederhana lagi jika launchingnya di Pandeglang atau di Serang.

              Kemarin, Selasa 4 Mei, kami dapat konfirmasi kesediaan waktu Ibu Gub Banten yaitu antara tanggal 24-27 April, atau awal Juni (antara tanggal 1 - 10 Juni) untuk launching Rhino Rescue.  Selanjutnya kami akan berkonsultasi dengan Bapak Dir KKH dan Bapak Sekditjen PHKA mengenai waktu launching tersebut, selain mendapatkan surat beliau sebagai pemberitahuannya kepada Ibu Gub Banten.

              Demikian dulu pak Adhi, terima kasih.

              Salam,

              Agus Priambudi.

              NB: dengan Pak Dody, sy Jum'at bertemu Bapak Bibhab dan Pak Inov, yang akan mengetahui rencana Inventarisasi Badak jawa.  Jika Pak Adhi berkenan ikutan, dengan senang hati, silahkan.





              --- Pada Rab, 5/5/10, Adhie Hariyadi <AHariyadi@wwf. or.id> menulis:

              Dari: Adhie Hariyadi <AHariyadi@wwf. or.id>
              Judul: [rhino_taskforce] Update - Banten
              Kepada: rhino_taskforce@ yahoogroups. com
              Tanggal: Rabu, 5 Mei, 2010, 11:45 AM

               

              Bapak Ibu anggota Task Force Yth,

              Mohon maaf atas periode kekosongan yang cukup panjang dalam memberikan update.

              Pada tanggal 29-30 April yang lalu, bapak wakil gubernur provinsi Banten beserta SKPD terkait berkenan melakukan kunjungan ke Pulau Peucang - Taman Nasional ujung Kulon. Dalam kunjungan in beliau menyampaikan dukungan terhadap program konservasi badak dan program rhino rescue yang akan dimulai dengan upaya persiapan daerah gunung Honje sebagai fasilitas sanctuary. Dalam kunjungan ini bapak Wakil gubernur juga meminta SKPD terkait untuk dapat membantu konservasi dengan membantu upaya peningkatan kapasitas masyarakat di sekitar daerah zone penyangga khususnya yang akan dijadikan daerah suaka badak.

              Saat ini bapak Ir. Agus Priambudi MSc, Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon sedang menyusun waktu untuk pelaksanaan acara seremonial peluncuran program Rhino Rescue di Provinsi Banten. Sementara itu, WWF dan IPB sedang menerapkan metode analisis spasial menggunakan pemodelan GIS untuk melakukan kajian kesesuaian habitat untuk menentukan lokasi di luar TN Ujung Kulon untuk membentuk populasi kedua (2nd Habitat) secara obyektif. Beberapa lokasi di Jawa dan Sumatra akan dianalisis menggunakan metode ini.

              Demikian update ini saya sampaikan,

              Salam,

              Adhi R Hariyadi
              Sekretariat - Moderator mailing list RTF



            • Harini Muntasib
              Dik Adhie & anggota Rhini task Force Sukurlah ada perkembangan bagus untuk Rhino sanctuary. Juga kalau akan dibuat pemodelan spasialnya saya dukung,mungkin
              Message 6 of 10 , May 7, 2010
                Dik Adhie & anggota Rhini task Force
                Sukurlah ada perkembangan bagus untuk Rhino sanctuary. Juga kalau akan dibuat pemodelan spasialnya saya dukung,mungkin pengetahuan dari disertasi saya juga akan bisa membantu karena Pemodelan spasial dari habitat badak juga.
                Terima kasih
                Harini


                From: Adhie Hariyadi <AHariyadi@...>
                To: rhino_taskforce@yahoogroups.com
                Sent: Wed, May 5, 2010 11:45:04 AM
                Subject: [rhino_taskforce] Update - Banten

                 

                Bapak Ibu anggota Task Force Yth,

                Mohon maaf atas periode kekosongan yang cukup panjang dalam memberikan update.

                Pada tanggal 29-30 April yang lalu, bapak wakil gubernur provinsi Banten beserta SKPD terkait berkenan melakukan kunjungan ke Pulau Peucang - Taman Nasional ujung Kulon. Dalam kunjungan in beliau menyampaikan dukungan terhadap program konservasi badak dan program rhino rescue yang akan dimulai dengan upaya persiapan daerah gunung Honje sebagai fasilitas sanctuary. Dalam kunjungan ini bapak Wakil gubernur juga meminta SKPD terkait untuk dapat membantu konservasi dengan membantu upaya peningkatan kapasitas masyarakat di sekitar daerah zone penyangga khususnya yang akan dijadikan daerah suaka badak.

                Saat ini bapak Ir. Agus Priambudi MSc, Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon sedang menyusun waktu untuk pelaksanaan acara seremonial peluncuran program Rhino Rescue di Provinsi Banten. Sementara itu, WWF dan IPB sedang menerapkan metode analisis spasial menggunakan pemodelan GIS untuk melakukan kajian kesesuaian habitat untuk menentukan lokasi di luar TN Ujung Kulon untuk membentuk populasi kedua (2nd Habitat) secara obyektif. Beberapa lokasi di Jawa dan Sumatra akan dianalisis menggunakan metode ini.

                Demikian update ini saya sampaikan,

                Salam,

                Adhi R Hariyadi
                Sekretariat - Moderator mailing list RTF



              • agustinus suyanto
                Saya juga menyambut gembira atas keterlibatan pemda dan masyarakat dalam ikut berpartisipasi dalam usaha penyelamatan badak. Semoga hal tersebut bisa terwujud
                Message 7 of 10 , May 10, 2010
                  Saya juga menyambut gembira atas keterlibatan pemda dan masyarakat dalam ikut berpartisipasi dalam usaha penyelamatan badak. Semoga hal tersebut bisa terwujud dengan baik. Namun harus pula dipikirkan yang serius soal peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar dengan adanya konservasi badak ini.  Sebab kemiskinan merupakan salah satu faktor hambatan terbesar dalam usaha konservasi. Kepada Pak Agus dkk. pengelola TNUK mohon dtangani yang serius agar TNUK menarik untuk dikunjungi wisatawan baik dalam maupun luar negeri. Sebab yang saya dengar dimana-mana selalu penduduk lokal sekitar taman nasional mengeluh belum merasakan manfaat taman nasional bagi peningkatan kesejahteraan mereka padahal secara teori penduduk lokal semestinya juga bisa menarik keuntungan dengan memanfaatkan mintakat buffer.  Seperti di TN Baluran penduduk bisa memanfaatkan buah asam dan umbi-umbian yang ada di mintakat buffer. Dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung lambat laun perekonomian penduduk lokal juga akan meningkat. Tetapi dilain pihak pengelola taman nasional harus bisa bertindak tegas bagi para penduduk lokal yang melanggar aturan yang sudah dibuat misalnya saja pelanggaran memiliki piaraan atau ternak yang dilepas bebas di kawasan taman nasional termasuk pengusaha rumah walet. Jangan ditolerir penduduk lokal yang melakukan usaha yang menimbulkan kebisingan dan pencemaran udara seperti usaha karaoke, minyak/bbm, las dll. Jadi intinya saya usulkan para penduduk lokal di kawasan TNUK tidak bisa berbuat semaunya seperti di luar taman nasional.

                  --- On Fri, 5/7/10, Harini Muntasib <harinimuntasib@...> wrote:

                  From: Harini Muntasib <harinimuntasib@...>
                  Subject: Re: [rhino_taskforce] Update - Banten
                  To: rhino_taskforce@yahoogroups.com
                  Date: Friday, May 7, 2010, 6:27 AM

                   

                  Dik Adhie & anggota Rhini task Force
                  Sukurlah ada perkembangan bagus untuk Rhino sanctuary. Juga kalau akan dibuat pemodelan spasialnya saya dukung,mungkin pengetahuan dari disertasi saya juga akan bisa membantu karena Pemodelan spasial dari habitat badak juga.
                  Terima kasih
                  Harini


                  From: Adhie Hariyadi <AHariyadi@wwf. or.id>
                  To: rhino_taskforce@ yahoogroups. com
                  Sent: Wed, May 5, 2010 11:45:04 AM
                  Subject: [rhino_taskforce] Update - Banten

                   

                  Bapak Ibu anggota Task Force Yth,

                  Mohon maaf atas periode kekosongan yang cukup panjang dalam memberikan update.

                  Pada tanggal 29-30 April yang lalu, bapak wakil gubernur provinsi Banten beserta SKPD terkait berkenan melakukan kunjungan ke Pulau Peucang - Taman Nasional ujung Kulon. Dalam kunjungan in beliau menyampaikan dukungan terhadap program konservasi badak dan program rhino rescue yang akan dimulai dengan upaya persiapan daerah gunung Honje sebagai fasilitas sanctuary. Dalam kunjungan ini bapak Wakil gubernur juga meminta SKPD terkait untuk dapat membantu konservasi dengan membantu upaya peningkatan kapasitas masyarakat di sekitar daerah zone penyangga khususnya yang akan dijadikan daerah suaka badak.

                  Saat ini bapak Ir. Agus Priambudi MSc, Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon sedang menyusun waktu untuk pelaksanaan acara seremonial peluncuran program Rhino Rescue di Provinsi Banten. Sementara itu, WWF dan IPB sedang menerapkan metode analisis spasial menggunakan pemodelan GIS untuk melakukan kajian kesesuaian habitat untuk menentukan lokasi di luar TN Ujung Kulon untuk membentuk populasi kedua (2nd Habitat) secara obyektif. Beberapa lokasi di Jawa dan Sumatra akan dianalisis menggunakan metode ini.

                  Demikian update ini saya sampaikan,

                  Salam,

                  Adhi R Hariyadi
                  Sekretariat - Moderator mailing list RTF




                • agus priambudi
                  Yth. Bapak Agustinus Suyanto, Terima kasih suratnya yang bermanfaat bagi kami.   Mungkin Bapak bisa membantu kami, dengan ikutan mengembangkan atas usaha2 yg
                  Message 8 of 10 , May 11, 2010
                    Yth. Bapak Agustinus Suyanto,

                    Terima kasih suratnya yang bermanfaat bagi kami.  

                    Mungkin Bapak bisa membantu kami, dengan ikutan mengembangkan atas usaha2 yg para warga dan kami sedang lakukan (pemberdayaan masyarakat sekitar, baik sosial, ekonomi, pendidikan dan budaya).  Dengan senang hati, jika sebagian kecil 'resources' yg ada pada Bapak (atau teman-teman bapak di LIPI) bisa disumbangkan pada usaha2 yang ada disini : ada breeding stock rusa (kerjasama dengan Dinas Peternakan dan Kedokteran Hewan), ada penangkaran kupu2, ada pelestarian anggrek, ada usaha budidaya tanaman obat, ada pengembangan jenis pohon untuk masyarakat dan konservasi kawasan (sejak tahun lalu bekerjasama dengan Kebun Raya Bogor), ada peningkatan pendidikan dan pengetahun bagi para pelajar sekolah di Sumur dan Cimanggu dgn WWF, RARE), ada peningkatan dan pelestarian tempat-tempat penziarahan, kampanye Pride (dengan RARE), intensifikasi lahan-lahan dan konservasi kawasan (dengan WWF dan Dinas Pertanian, LSM Kemitraan) dan beberapa lagi.   Mari kita berdayakan potensi masyarakat dan sumber dayanya sehingga kita dapat meningkatkan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem lingkungan guna pembangunan berkelanjutan.

                    TNUK sumber harapan, melaui kesempatan bekerja dan berusaha bagi warga setempat (lihat survey POP, hasil kerjasama BTNUK, RARE, UNESCO, tahun 2003).  Masih jadi harapan juga sampai sekarang.  Kunjungan ke TNUK masih sangat sedikit  (lihat tulisan Anak Agung Gede Agung dalam KOMPAS beberapa minggu lalu tentang "Tragedi Pariwisata Indonesia"), yang menunjuk penyebabnya karena tiada keteraturan transportasi kesana.  Tetapi bagaimana bisa ada beberapa usaha transportasi di Labuan, Carita, bangkrut ?  Itu karena bahan bakar nya sulit didapat dalam sekala cukup besar seketika (500 liter, 1000 liter, misalnya), lebih lanjut Bapak bisa audiensi dengan Forum Kebangkitan Pariwisata Pandeglang.  Kondisi demikian salah satu kendala, yg sampai tadi siang masih diupayakan oleh para pemangku kepentingan pariwisata Banten kepada para petinggi di Banten.  Selain itu, pariwisata di TNUK dan sekitarnya masih belum lulus, karena jalan aksesnya belum mulus. 

                    Padahal mulusnya jalan sebagian besar keliling Gunung Honje (Cegok-Padali, Taman Jaya-Sumur) adalah harapan masyarakat sejak Banten berdiri, karena bisa meningkatkan perdagangan hasil bumi, melalui biaya transport murah, efisien sukucadang kendaraan dan bahan bakar dari kendaraan yg digunakan.    

                    Tolong Bapak agar kritis dengan info "dimana-mana selalu penduduk lokal sekitar taman nasional mengeluh belum merasakan manfaat taman nasional bagi peningkatan kesejahteraan mereka", apalagi ada tambahan seperti Bapak katakan "padahal secara teori penduduk lokal semestinya juga bisa menarik keuntungan dengan memanfaatkan mintakat buffer".  Camkanlah Pak :
                    1.  sekitar 3.600 hektar Gn Honje digarap liar oleh penduduk setempat (2000 Ha sawah, selebihnya kebun/ladang dan rumah).  Untung aja ga ada bencana longsor dan banjir besar selama ini.
                    2.  ada pemukiman dalam kawasan (Legon Pakis, Kp salam, kp peutey) darimana asalnya ?  Lihat Tempo online tg 18 Okt 1980.  Mereka muasalnya dari Kuningan, sumedang, dan lain-lain, lalu kapan mulai ?  Lihat juga peta yang dibuat pemerintah Belanda waktu itu.
                    3.  apa aja yang sekarang diambil dari perairan laut sekitar TNUK.
                    Selain itu tolong Bapak :
                    a.  membaca hasil studinya Dr. Suryo Adibowo dkk (SAINS), khususnya bagaimana beberapa warga beruntung.
                    b.  juga cermati bagaimana dan apa aja pembangunan yang dilakukan oleh Pemkab/Pemprop yg dilakukan di wilayah sekitar TNUK. 

                    Soal ketegasan terhadap bagi para penduduk lokal yang melanggar aturan itu sudah semestinya, berapa warga apapun ada dua alat bukti, ya diproses hukum.  Sekarang aja ada lima yg sedang ditangani PPNS BTNUK.  Seperti kata Bapak "Jadi intinya ....para penduduk lokal di kawasan TNUK tidak bisa berbuat semaunya seperti di luar taman nasional", ....ga ampun tuk yang nebang pohon TNUK, ngracun laut TNUK itu!

                    Tentang hewan2 yg di kawasan, tadinya kami jadikan obyek perburuan, tapi masih kecian karena masih bisa dibisikin untuk tdk nyebar virus kedalam kawasan.   Mungkin Bapak bisa mbantu buatin 'rumah-rumahan', atau lainnya, tuk hewan2 mereka.  Kalo walet, ya banyak usaha rumahan di Panimbang, lokasinya jauh dari TNUK, tapi mungkin aja ada walet yang mampir ke hutan TNUK ya. 

                    Sayangnya belum ada penduduk lokal yang punya usaha karaoke, las, kalo BBM masih becil-kecilan tuk kapal-kapal nelayan.

                    Sekali lagi, terima kasih.

                    Salam,

                    Agus Priambudi.

                    --- Pada Sen, 10/5/10, agustinus suyanto <asujan2002@...> menulis:

                    Dari: agustinus suyanto <asujan2002@...>
                    Judul: Re: [rhino_taskforce] Update - Banten
                    Kepada: rhino_taskforce@yahoogroups.com
                    Tanggal: Senin, 10 Mei, 2010, 2:47 PM

                     

                    Saya juga menyambut gembira atas keterlibatan pemda dan masyarakat dalam ikut berpartisipasi dalam usaha penyelamatan badak. Semoga hal tersebut bisa terwujud dengan baik. Namun harus pula dipikirkan yang serius soal peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar dengan adanya konservasi badak ini.  Sebab kemiskinan merupakan salah satu faktor hambatan terbesar dalam usaha konservasi. Kepada Pak Agus dkk. pengelola TNUK mohon dtangani yang serius agar TNUK menarik untuk dikunjungi wisatawan baik dalam maupun luar negeri. Sebab yang saya dengar dimana-mana selalu penduduk lokal sekitar taman nasional mengeluh belum merasakan manfaat taman nasional bagi peningkatan kesejahteraan mereka padahal secara teori penduduk lokal semestinya juga bisa menarik keuntungan dengan memanfaatkan mintakat buffer.  Seperti di TN Baluran penduduk bisa memanfaatkan buah asam dan umbi-umbian yang ada di mintakat buffer. Dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung lambat laun perekonomian penduduk lokal juga akan meningkat. Tetapi dilain pihak pengelola taman nasional harus bisa bertindak tegas bagi para penduduk lokal yang melanggar aturan yang sudah dibuat misalnya saja pelanggaran memiliki piaraan atau ternak yang dilepas bebas di kawasan taman nasional termasuk pengusaha rumah walet. Jangan ditolerir penduduk lokal yang melakukan usaha yang menimbulkan kebisingan dan pencemaran udara seperti usaha karaoke, minyak/bbm, las dll. Jadi intinya saya usulkan para penduduk lokal di kawasan TNUK tidak bisa berbuat semaunya seperti di luar taman nasional.

                    --- On Fri, 5/7/10, Harini Muntasib <harinimuntasib@ yahoo.com> wrote:

                    From: Harini Muntasib <harinimuntasib@ yahoo.com>
                    Subject: Re: [rhino_taskforce] Update - Banten
                    To: rhino_taskforce@ yahoogroups. com
                    Date: Friday, May 7, 2010, 6:27 AM

                     

                    Dik Adhie & anggota Rhini task Force
                    Sukurlah ada perkembangan bagus untuk Rhino sanctuary. Juga kalau akan dibuat pemodelan spasialnya saya dukung,mungkin pengetahuan dari disertasi saya juga akan bisa membantu karena Pemodelan spasial dari habitat badak juga.
                    Terima kasih
                    Harini


                    From: Adhie Hariyadi <AHariyadi@wwf. or.id>
                    To: rhino_taskforce@ yahoogroups. com
                    Sent: Wed, May 5, 2010 11:45:04 AM
                    Subject: [rhino_taskforce] Update - Banten

                     

                    Bapak Ibu anggota Task Force Yth,

                    Mohon maaf atas periode kekosongan yang cukup panjang dalam memberikan update.

                    Pada tanggal 29-30 April yang lalu, bapak wakil gubernur provinsi Banten beserta SKPD terkait berkenan melakukan kunjungan ke Pulau Peucang - Taman Nasional ujung Kulon. Dalam kunjungan in beliau menyampaikan dukungan terhadap program konservasi badak dan program rhino rescue yang akan dimulai dengan upaya persiapan daerah gunung Honje sebagai fasilitas sanctuary. Dalam kunjungan ini bapak Wakil gubernur juga meminta SKPD terkait untuk dapat membantu konservasi dengan membantu upaya peningkatan kapasitas masyarakat di sekitar daerah zone penyangga khususnya yang akan dijadikan daerah suaka badak.

                    Saat ini bapak Ir. Agus Priambudi MSc, Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon sedang menyusun waktu untuk pelaksanaan acara seremonial peluncuran program Rhino Rescue di Provinsi Banten. Sementara itu, WWF dan IPB sedang menerapkan metode analisis spasial menggunakan pemodelan GIS untuk melakukan kajian kesesuaian habitat untuk menentukan lokasi di luar TN Ujung Kulon untuk membentuk populasi kedua (2nd Habitat) secara obyektif. Beberapa lokasi di Jawa dan Sumatra akan dianalisis menggunakan metode ini.

                    Demikian update ini saya sampaikan,

                    Salam,

                    Adhi R Hariyadi
                    Sekretariat - Moderator mailing list RTF





                  • agustinus suyanto
                    Yth. Bpk. Agus Priambudi, Terima kasih atas informasi Bapak yang sangat rinci. Saya minta maaf kalau apa yang saya sampaikan tidak berkenan. Tujuan kami
                    Message 9 of 10 , May 11, 2010
                      Yth. Bpk. Agus Priambudi,

                      Terima kasih atas informasi Bapak yang sangat rinci. Saya minta maaf kalau apa yang saya sampaikan tidak berkenan. Tujuan kami berkunjung ke TNUK untuk survei hutan mangrove. Fakta-fakta yang saya sampaikan sebatas apa yang saya lihat selama waktu kunjungan dan tujuannya semata-mata demi kepentingan TNUK.

                      Kayaknya kalau saya dilibatkan dalam kegiatan di TNUK mungkin sebatas memberi ceramah tentang pentingnya pelestarian sumberdaya hayati khususnya mamalia atau membuat buku panduan pengenalan mamalia di TNUK seperti yang pernah saya kerjakan di Taman Nasional Gunung Halimun.

                      Jika ingin berhubungan dengan para peneliti di Puslit Biologi, LIPI  bisa disampaikan melalui email puslitbiologi@yahoogroups.com.



                      --- On Tue, 5/11/10, agus priambudi <agus_priambudi@...> wrote:

                      From: agus priambudi <agus_priambudi@...>
                      Subject: Re: [rhino_taskforce] Update - Banten
                      To: rhino_taskforce@yahoogroups.com
                      Date: Tuesday, May 11, 2010, 6:13 AM

                       

                      Yth. Bapak Agustinus Suyanto,

                      Terima kasih suratnya yang bermanfaat bagi kami.  

                      Mungkin Bapak bisa membantu kami, dengan ikutan mengembangkan atas usaha2 yg para warga dan kami sedang lakukan (pemberdayaan masyarakat sekitar, baik sosial, ekonomi, pendidikan dan budaya).  Dengan senang hati, jika sebagian kecil 'resources' yg ada pada Bapak (atau teman-teman bapak di LIPI) bisa disumbangkan pada usaha2 yang ada disini : ada breeding stock rusa (kerjasama dengan Dinas Peternakan dan Kedokteran Hewan), ada penangkaran kupu2, ada pelestarian anggrek, ada usaha budidaya tanaman obat, ada pengembangan jenis pohon untuk masyarakat dan konservasi kawasan (sejak tahun lalu bekerjasama dengan Kebun Raya Bogor), ada peningkatan pendidikan dan pengetahun bagi para pelajar sekolah di Sumur dan Cimanggu dgn WWF, RARE), ada peningkatan dan pelestarian tempat-tempat penziarahan, kampanye Pride (dengan RARE), intensifikasi lahan-lahan dan konservasi kawasan (dengan WWF dan Dinas Pertanian, LSM Kemitraan) dan beberapa lagi.   Mari kita berdayakan potensi masyarakat dan sumber dayanya sehingga kita dapat meningkatkan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem lingkungan guna pembangunan berkelanjutan.

                      TNUK sumber harapan, melaui kesempatan bekerja dan berusaha bagi warga setempat (lihat survey POP, hasil kerjasama BTNUK, RARE, UNESCO, tahun 2003).  Masih jadi harapan juga sampai sekarang.  Kunjungan ke TNUK masih sangat sedikit  (lihat tulisan Anak Agung Gede Agung dalam KOMPAS beberapa minggu lalu tentang "Tragedi Pariwisata Indonesia"), yang menunjuk penyebabnya karena tiada keteraturan transportasi kesana.  Tetapi bagaimana bisa ada beberapa usaha transportasi di Labuan, Carita, bangkrut ?  Itu karena bahan bakar nya sulit didapat dalam sekala cukup besar seketika (500 liter, 1000 liter, misalnya), lebih lanjut Bapak bisa audiensi dengan Forum Kebangkitan Pariwisata Pandeglang.  Kondisi demikian salah satu kendala, yg sampai tadi siang masih diupayakan oleh para pemangku kepentingan pariwisata Banten kepada para petinggi di Banten.  Selain itu, pariwisata di TNUK dan sekitarnya masih belum lulus, karena jalan aksesnya belum mulus. 

                      Padahal mulusnya jalan sebagian besar keliling Gunung Honje (Cegok-Padali, Taman Jaya-Sumur) adalah harapan masyarakat sejak Banten berdiri, karena bisa meningkatkan perdagangan hasil bumi, melalui biaya transport murah, efisien sukucadang kendaraan dan bahan bakar dari kendaraan yg digunakan.    

                      Tolong Bapak agar kritis dengan info "dimana-mana selalu penduduk lokal sekitar taman nasional mengeluh belum merasakan manfaat taman nasional bagi peningkatan kesejahteraan mereka", apalagi ada tambahan seperti Bapak katakan "padahal secara teori penduduk lokal semestinya juga bisa menarik keuntungan dengan memanfaatkan mintakat buffer".  Camkanlah Pak :
                      1.  sekitar 3.600 hektar Gn Honje digarap liar oleh penduduk setempat (2000 Ha sawah, selebihnya kebun/ladang dan rumah).  Untung aja ga ada bencana longsor dan banjir besar selama ini.
                      2.  ada pemukiman dalam kawasan (Legon Pakis, Kp salam, kp peutey) darimana asalnya ?  Lihat Tempo online tg 18 Okt 1980.  Mereka muasalnya dari Kuningan, sumedang, dan lain-lain, lalu kapan mulai ?  Lihat juga peta yang dibuat pemerintah Belanda waktu itu.
                      3.  apa aja yang sekarang diambil dari perairan laut sekitar TNUK.
                      Selain itu tolong Bapak :
                      a.  membaca hasil studinya Dr. Suryo Adibowo dkk (SAINS), khususnya bagaimana beberapa warga beruntung.
                      b.  juga cermati bagaimana dan apa aja pembangunan yang dilakukan oleh Pemkab/Pemprop yg dilakukan di wilayah sekitar TNUK. 

                      Soal ketegasan terhadap bagi para penduduk lokal yang melanggar aturan itu sudah semestinya, berapa warga apapun ada dua alat bukti, ya diproses hukum.  Sekarang aja ada lima yg sedang ditangani PPNS BTNUK.  Seperti kata Bapak "Jadi intinya ....para penduduk lokal di kawasan TNUK tidak bisa berbuat semaunya seperti di luar taman nasional", ....ga ampun tuk yang nebang pohon TNUK, ngracun laut TNUK itu!

                      Tentang hewan2 yg di kawasan, tadinya kami jadikan obyek perburuan, tapi masih kecian karena masih bisa dibisikin untuk tdk nyebar virus kedalam kawasan.   Mungkin Bapak bisa mbantu buatin 'rumah-rumahan' , atau lainnya, tuk hewan2 mereka.  Kalo walet, ya banyak usaha rumahan di Panimbang, lokasinya jauh dari TNUK, tapi mungkin aja ada walet yang mampir ke hutan TNUK ya. 

                      Sayangnya belum ada penduduk lokal yang punya usaha karaoke, las, kalo BBM masih becil-kecilan tuk kapal-kapal nelayan.

                      Sekali lagi, terima kasih.

                      Salam,

                      Agus Priambudi.

                      --- Pada Sen, 10/5/10, agustinus suyanto <asujan2002@yahoo. com> menulis:

                      Dari: agustinus suyanto <asujan2002@yahoo. com>
                      Judul: Re: [rhino_taskforce] Update - Banten
                      Kepada: rhino_taskforce@ yahoogroups. com
                      Tanggal: Senin, 10 Mei, 2010, 2:47 PM

                       

                      Saya juga menyambut gembira atas keterlibatan pemda dan masyarakat dalam ikut berpartisipasi dalam usaha penyelamatan badak. Semoga hal tersebut bisa terwujud dengan baik. Namun harus pula dipikirkan yang serius soal peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar dengan adanya konservasi badak ini.  Sebab kemiskinan merupakan salah satu faktor hambatan terbesar dalam usaha konservasi. Kepada Pak Agus dkk. pengelola TNUK mohon dtangani yang serius agar TNUK menarik untuk dikunjungi wisatawan baik dalam maupun luar negeri. Sebab yang saya dengar dimana-mana selalu penduduk lokal sekitar taman nasional mengeluh belum merasakan manfaat taman nasional bagi peningkatan kesejahteraan mereka padahal secara teori penduduk lokal semestinya juga bisa menarik keuntungan dengan memanfaatkan mintakat buffer.  Seperti di TN Baluran penduduk bisa memanfaatkan buah asam dan umbi-umbian yang ada di mintakat buffer. Dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung lambat laun perekonomian penduduk lokal juga akan meningkat. Tetapi dilain pihak pengelola taman nasional harus bisa bertindak tegas bagi para penduduk lokal yang melanggar aturan yang sudah dibuat misalnya saja pelanggaran memiliki piaraan atau ternak yang dilepas bebas di kawasan taman nasional termasuk pengusaha rumah walet. Jangan ditolerir penduduk lokal yang melakukan usaha yang menimbulkan kebisingan dan pencemaran udara seperti usaha karaoke, minyak/bbm, las dll. Jadi intinya saya usulkan para penduduk lokal di kawasan TNUK tidak bisa berbuat semaunya seperti di luar taman nasional.

                      --- On Fri, 5/7/10, Harini Muntasib <harinimuntasib@ yahoo.com> wrote:

                      From: Harini Muntasib <harinimuntasib@ yahoo.com>
                      Subject: Re: [rhino_taskforce] Update - Banten
                      To: rhino_taskforce@ yahoogroups. com
                      Date: Friday, May 7, 2010, 6:27 AM

                       

                      Dik Adhie & anggota Rhini task Force
                      Sukurlah ada perkembangan bagus untuk Rhino sanctuary. Juga kalau akan dibuat pemodelan spasialnya saya dukung,mungkin pengetahuan dari disertasi saya juga akan bisa membantu karena Pemodelan spasial dari habitat badak juga.
                      Terima kasih
                      Harini


                      From: Adhie Hariyadi <AHariyadi@wwf. or.id>
                      To: rhino_taskforce@ yahoogroups. com
                      Sent: Wed, May 5, 2010 11:45:04 AM
                      Subject: [rhino_taskforce] Update - Banten

                       

                      Bapak Ibu anggota Task Force Yth,

                      Mohon maaf atas periode kekosongan yang cukup panjang dalam memberikan update.

                      Pada tanggal 29-30 April yang lalu, bapak wakil gubernur provinsi Banten beserta SKPD terkait berkenan melakukan kunjungan ke Pulau Peucang - Taman Nasional ujung Kulon. Dalam kunjungan in beliau menyampaikan dukungan terhadap program konservasi badak dan program rhino rescue yang akan dimulai dengan upaya persiapan daerah gunung Honje sebagai fasilitas sanctuary. Dalam kunjungan ini bapak Wakil gubernur juga meminta SKPD terkait untuk dapat membantu konservasi dengan membantu upaya peningkatan kapasitas masyarakat di sekitar daerah zone penyangga khususnya yang akan dijadikan daerah suaka badak.

                      Saat ini bapak Ir. Agus Priambudi MSc, Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon sedang menyusun waktu untuk pelaksanaan acara seremonial peluncuran program Rhino Rescue di Provinsi Banten. Sementara itu, WWF dan IPB sedang menerapkan metode analisis spasial menggunakan pemodelan GIS untuk melakukan kajian kesesuaian habitat untuk menentukan lokasi di luar TN Ujung Kulon untuk membentuk populasi kedua (2nd Habitat) secara obyektif. Beberapa lokasi di Jawa dan Sumatra akan dianalisis menggunakan metode ini.

                      Demikian update ini saya sampaikan,

                      Salam,

                      Adhi R Hariyadi
                      Sekretariat - Moderator mailing list RTF






                    • agus priambudi
                      Sami2 nuhun. Salam, Agus Priambudi. ... Dari: agustinus suyanto Judul: Re: [rhino_taskforce] Update - Banten Kepada:
                      Message 10 of 10 , May 12, 2010
                        Sami2 nuhun.

                        Salam,

                        Agus Priambudi.

                        --- Pada Rab, 12/5/10, agustinus suyanto <asujan2002@...> menulis:

                        Dari: agustinus suyanto <asujan2002@...>
                        Judul: Re: [rhino_taskforce] Update - Banten
                        Kepada: rhino_taskforce@yahoogroups.com
                        Tanggal: Rabu, 12 Mei, 2010, 12:25 PM

                         

                        Yth. Bpk. Agus Priambudi,

                        Terima kasih atas informasi Bapak yang sangat rinci. Saya minta maaf kalau apa yang saya sampaikan tidak berkenan. Tujuan kami berkunjung ke TNUK untuk survei hutan mangrove. Fakta-fakta yang saya sampaikan sebatas apa yang saya lihat selama waktu kunjungan dan tujuannya semata-mata demi kepentingan TNUK.

                        Kayaknya kalau saya dilibatkan dalam kegiatan di TNUK mungkin sebatas memberi ceramah tentang pentingnya pelestarian sumberdaya hayati khususnya mamalia atau membuat buku panduan pengenalan mamalia di TNUK seperti yang pernah saya kerjakan di Taman Nasional Gunung Halimun.

                        Jika ingin berhubungan dengan para peneliti di Puslit Biologi, LIPI  bisa disampaikan melalui email puslitbiologi@ yahoogroups. com.



                        --- On Tue, 5/11/10, agus priambudi <agus_priambudi@ yahoo.co. id> wrote:

                        From: agus priambudi <agus_priambudi@ yahoo.co. id>
                        Subject: Re: [rhino_taskforce] Update - Banten
                        To: rhino_taskforce@ yahoogroups. com
                        Date: Tuesday, May 11, 2010, 6:13 AM

                         

                        Yth. Bapak Agustinus Suyanto,

                        Terima kasih suratnya yang bermanfaat bagi kami.  

                        Mungkin Bapak bisa membantu kami, dengan ikutan mengembangkan atas usaha2 yg para warga dan kami sedang lakukan (pemberdayaan masyarakat sekitar, baik sosial, ekonomi, pendidikan dan budaya).  Dengan senang hati, jika sebagian kecil 'resources' yg ada pada Bapak (atau teman-teman bapak di LIPI) bisa disumbangkan pada usaha2 yang ada disini : ada breeding stock rusa (kerjasama dengan Dinas Peternakan dan Kedokteran Hewan), ada penangkaran kupu2, ada pelestarian anggrek, ada usaha budidaya tanaman obat, ada pengembangan jenis pohon untuk masyarakat dan konservasi kawasan (sejak tahun lalu bekerjasama dengan Kebun Raya Bogor), ada peningkatan pendidikan dan pengetahun bagi para pelajar sekolah di Sumur dan Cimanggu dgn WWF, RARE), ada peningkatan dan pelestarian tempat-tempat penziarahan, kampanye Pride (dengan RARE), intensifikasi lahan-lahan dan konservasi kawasan (dengan WWF dan Dinas Pertanian, LSM Kemitraan) dan beberapa lagi.   Mari kita berdayakan potensi masyarakat dan sumber dayanya sehingga kita dapat meningkatkan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem lingkungan guna pembangunan berkelanjutan.

                        TNUK sumber harapan, melaui kesempatan bekerja dan berusaha bagi warga setempat (lihat survey POP, hasil kerjasama BTNUK, RARE, UNESCO, tahun 2003).  Masih jadi harapan juga sampai sekarang.  Kunjungan ke TNUK masih sangat sedikit  (lihat tulisan Anak Agung Gede Agung dalam KOMPAS beberapa minggu lalu tentang "Tragedi Pariwisata Indonesia"), yang menunjuk penyebabnya karena tiada keteraturan transportasi kesana.  Tetapi bagaimana bisa ada beberapa usaha transportasi di Labuan, Carita, bangkrut ?  Itu karena bahan bakar nya sulit didapat dalam sekala cukup besar seketika (500 liter, 1000 liter, misalnya), lebih lanjut Bapak bisa audiensi dengan Forum Kebangkitan Pariwisata Pandeglang.  Kondisi demikian salah satu kendala, yg sampai tadi siang masih diupayakan oleh para pemangku kepentingan pariwisata Banten kepada para petinggi di Banten.  Selain itu, pariwisata di TNUK dan sekitarnya masih belum lulus, karena jalan aksesnya belum mulus. 

                        Padahal mulusnya jalan sebagian besar keliling Gunung Honje (Cegok-Padali, Taman Jaya-Sumur) adalah harapan masyarakat sejak Banten berdiri, karena bisa meningkatkan perdagangan hasil bumi, melalui biaya transport murah, efisien sukucadang kendaraan dan bahan bakar dari kendaraan yg digunakan.    

                        Tolong Bapak agar kritis dengan info "dimana-mana selalu penduduk lokal sekitar taman nasional mengeluh belum merasakan manfaat taman nasional bagi peningkatan kesejahteraan mereka", apalagi ada tambahan seperti Bapak katakan "padahal secara teori penduduk lokal semestinya juga bisa menarik keuntungan dengan memanfaatkan mintakat buffer".  Camkanlah Pak :
                        1.  sekitar 3.600 hektar Gn Honje digarap liar oleh penduduk setempat (2000 Ha sawah, selebihnya kebun/ladang dan rumah).  Untung aja ga ada bencana longsor dan banjir besar selama ini.
                        2.  ada pemukiman dalam kawasan (Legon Pakis, Kp salam, kp peutey) darimana asalnya ?  Lihat Tempo online tg 18 Okt 1980.  Mereka muasalnya dari Kuningan, sumedang, dan lain-lain, lalu kapan mulai ?  Lihat juga peta yang dibuat pemerintah Belanda waktu itu.
                        3.  apa aja yang sekarang diambil dari perairan laut sekitar TNUK.
                        Selain itu tolong Bapak :
                        a.  membaca hasil studinya Dr. Suryo Adibowo dkk (SAINS), khususnya bagaimana beberapa warga beruntung.
                        b.  juga cermati bagaimana dan apa aja pembangunan yang dilakukan oleh Pemkab/Pemprop yg dilakukan di wilayah sekitar TNUK. 

                        Soal ketegasan terhadap bagi para penduduk lokal yang melanggar aturan itu sudah semestinya, berapa warga apapun ada dua alat bukti, ya diproses hukum.  Sekarang aja ada lima yg sedang ditangani PPNS BTNUK.  Seperti kata Bapak "Jadi intinya ....para penduduk lokal di kawasan TNUK tidak bisa berbuat semaunya seperti di luar taman nasional", ....ga ampun tuk yang nebang pohon TNUK, ngracun laut TNUK itu!

                        Tentang hewan2 yg di kawasan, tadinya kami jadikan obyek perburuan, tapi masih kecian karena masih bisa dibisikin untuk tdk nyebar virus kedalam kawasan.   Mungkin Bapak bisa mbantu buatin 'rumah-rumahan' , atau lainnya, tuk hewan2 mereka.  Kalo walet, ya banyak usaha rumahan di Panimbang, lokasinya jauh dari TNUK, tapi mungkin aja ada walet yang mampir ke hutan TNUK ya. 

                        Sayangnya belum ada penduduk lokal yang punya usaha karaoke, las, kalo BBM masih becil-kecilan tuk kapal-kapal nelayan.

                        Sekali lagi, terima kasih.

                        Salam,

                        Agus Priambudi.

                        --- Pada Sen, 10/5/10, agustinus suyanto <asujan2002@yahoo. com> menulis:

                        Dari: agustinus suyanto <asujan2002@yahoo. com>
                        Judul: Re: [rhino_taskforce] Update - Banten
                        Kepada: rhino_taskforce@ yahoogroups. com
                        Tanggal: Senin, 10 Mei, 2010, 2:47 PM

                         

                        Saya juga menyambut gembira atas keterlibatan pemda dan masyarakat dalam ikut berpartisipasi dalam usaha penyelamatan badak. Semoga hal tersebut bisa terwujud dengan baik. Namun harus pula dipikirkan yang serius soal peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar dengan adanya konservasi badak ini.  Sebab kemiskinan merupakan salah satu faktor hambatan terbesar dalam usaha konservasi. Kepada Pak Agus dkk. pengelola TNUK mohon dtangani yang serius agar TNUK menarik untuk dikunjungi wisatawan baik dalam maupun luar negeri. Sebab yang saya dengar dimana-mana selalu penduduk lokal sekitar taman nasional mengeluh belum merasakan manfaat taman nasional bagi peningkatan kesejahteraan mereka padahal secara teori penduduk lokal semestinya juga bisa menarik keuntungan dengan memanfaatkan mintakat buffer.  Seperti di TN Baluran penduduk bisa memanfaatkan buah asam dan umbi-umbian yang ada di mintakat buffer. Dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung lambat laun perekonomian penduduk lokal juga akan meningkat. Tetapi dilain pihak pengelola taman nasional harus bisa bertindak tegas bagi para penduduk lokal yang melanggar aturan yang sudah dibuat misalnya saja pelanggaran memiliki piaraan atau ternak yang dilepas bebas di kawasan taman nasional termasuk pengusaha rumah walet. Jangan ditolerir penduduk lokal yang melakukan usaha yang menimbulkan kebisingan dan pencemaran udara seperti usaha karaoke, minyak/bbm, las dll. Jadi intinya saya usulkan para penduduk lokal di kawasan TNUK tidak bisa berbuat semaunya seperti di luar taman nasional.

                        --- On Fri, 5/7/10, Harini Muntasib <harinimuntasib@ yahoo.com> wrote:

                        From: Harini Muntasib <harinimuntasib@ yahoo.com>
                        Subject: Re: [rhino_taskforce] Update - Banten
                        To: rhino_taskforce@ yahoogroups. com
                        Date: Friday, May 7, 2010, 6:27 AM

                         

                        Dik Adhie & anggota Rhini task Force
                        Sukurlah ada perkembangan bagus untuk Rhino sanctuary. Juga kalau akan dibuat pemodelan spasialnya saya dukung,mungkin pengetahuan dari disertasi saya juga akan bisa membantu karena Pemodelan spasial dari habitat badak juga.
                        Terima kasih
                        Harini


                        From: Adhie Hariyadi <AHariyadi@wwf. or.id>
                        To: rhino_taskforce@ yahoogroups. com
                        Sent: Wed, May 5, 2010 11:45:04 AM
                        Subject: [rhino_taskforce] Update - Banten

                         

                        Bapak Ibu anggota Task Force Yth,

                        Mohon maaf atas periode kekosongan yang cukup panjang dalam memberikan update.

                        Pada tanggal 29-30 April yang lalu, bapak wakil gubernur provinsi Banten beserta SKPD terkait berkenan melakukan kunjungan ke Pulau Peucang - Taman Nasional ujung Kulon. Dalam kunjungan in beliau menyampaikan dukungan terhadap program konservasi badak dan program rhino rescue yang akan dimulai dengan upaya persiapan daerah gunung Honje sebagai fasilitas sanctuary. Dalam kunjungan ini bapak Wakil gubernur juga meminta SKPD terkait untuk dapat membantu konservasi dengan membantu upaya peningkatan kapasitas masyarakat di sekitar daerah zone penyangga khususnya yang akan dijadikan daerah suaka badak.

                        Saat ini bapak Ir. Agus Priambudi MSc, Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon sedang menyusun waktu untuk pelaksanaan acara seremonial peluncuran program Rhino Rescue di Provinsi Banten. Sementara itu, WWF dan IPB sedang menerapkan metode analisis spasial menggunakan pemodelan GIS untuk melakukan kajian kesesuaian habitat untuk menentukan lokasi di luar TN Ujung Kulon untuk membentuk populasi kedua (2nd Habitat) secara obyektif. Beberapa lokasi di Jawa dan Sumatra akan dianalisis menggunakan metode ini.

                        Demikian update ini saya sampaikan,

                        Salam,

                        Adhi R Hariyadi
                        Sekretariat - Moderator mailing list RTF







                      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.