Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

(FWD) Asingisasi Bank Makin Memilukan

Expand Messages
  • RedTOLERANSI
    ... Message-ID: From: B.DORPI P.
    Message 1 of 1 , Dec 29, 2006
    • 0 Attachment
      --------- Forwarded message ----------
      Message-ID: <001d01c72a28$ 277dc200$ 1700a8c0@ bdp>
      From: "B.DORPI P." <bdorpi@indopetroleu
      m.com<http://email.seznam.cz/newMessageScreen?sessionId=&to=mailto:bdorpi%40indopetroleum.com>
      >
      To: "!B.DORPI P." <bdorpi@indosat.
      net.id<http://email.seznam.cz/newMessageScreen?sessionId=&to=mailto:bdorpi%40indosat.net.id>
      >
      Subject: Re.: Asingisasi Bank Makin Memilukan
      Date: Thu, 28 Dec 2006 09:30:33 +0700

      http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=276000&kat_id=16&kat_id1=&kat_id2<http://www.email.cz/redir?http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=276000&kat_id=16&kat_id1=&kat_id2>
      =

      Senin, 18 Desember 2006

      *Asingisasi Bank Makin Memilukan *
      *Anif Punto Utomo*
      Wartawan *Republika*

      Berita terkini soal perbankan nasional: *Tujuh bank swasta nasional akan
      diambil alih oleh asing*, satu bank sedang dalam penjajagan. Bank swasta itu
      merupakan bank skala kecil, setidaknya untuk ukuran saat ini, dengan *modal
      di bawah Rp 100 miliar*. Bank tersebut adalah * Bank Swadesi, Bank Halim,
      Bank Nusantara Parahyangan, Bank ANK, Bank Haga, dan Bank Hagakita.* Satu
      bank lagi* Indomonex* hanya bergeser kepemilikan saham dari investor Timur
      Tengah ke India.

      Investor India, Cina, Jepang, dan Eropa menjadi pihak yang akan berperan
      mengakuisisi bank lokal tersebut dengan kepemilikan saham mayoritas. *Bank
      Swadesi akan diambil State Bank of India sebesar 76 persen sahamnya*, *Bank
      Halim milik kelompok Gudang Garam diambil ICBC Cina*,* Bank Haga dan Hagita
      akan dibeli Rabo Bank*, bank koperasi Belanda.

      Kehadiran investor asing tersebut seolah melengkapi peta perbankan
      sebelumnya di mana * bank-bank swasta kelas atas sudah duluan jatuh ke
      tangan asing*. Bank swasta raksasa yang sebelumnya dimiliki konglomerat
      lokal, kemudian berpindah kepemilikan ke pemerintah karena mereka memperoleh
      rekapitalisasi, dan kemudian dijual ke asing.

      Coba saat ini juga Anda menyebut satu bank swasta yang Anda ingat, maka bank
      itu pasti bank milik asing. Karena bank yang Anda sebut tidak jauh-jauh dari
      *BCA, Bank Danamon, Bank Lippo, Bank Buana, Bank NISP, Bank Permata, BII,
      dan Bank Niaga*. Bank boleh lokal, tapi pemiliknya asing. Singapura dan
      Malaysia mendominasi kepemilikan bank itu.

      *Apa yang salah?*
      Penjualan saham ke investor asing ini memang tidak lepas dari aturan Bank
      Indonesia yang mempersyaratkan modal minimal perbankan. Pilihannya: merger
      atau tambah modal. Ketika pemilik lama enggan merger tetapi juga tidak
      sanggup menyuntikkan modal segar, maka mereka harus mencari investor baru,
      sebagai partner mayoritas.

      Kenapa bukan ke investor lokal? Bukankah banyak orang kita yang memiliki
      harta puluhan triliun. Setidaknya kalau kita lihat daftar kekayaan orang
      Indonesia versi Forbes, ada 40-an orang yang memiliki harta di atas satu
      triliun rupiah, bahkan di urutan teratas*, Sukanto Tanoto, memiliki harta Rp
      25 triliun.*

      Ada cerita, pemilik lama merasa gengsi jika harus menjual ke sesama pebisnis
      lokal. Jadi daripada ketahuan sedang tidak memiliki dana untuk menyuntik
      modal, lebih baik dijual ke asing, dengan alasan berpartner tentunya, bukan
      sekadar jual mentah. Kalau benar begitu yang terjadi, sayang sekali.

      Lantas, menjadi berita menggembirakan atau menyedihkan ketika investor asing
      berbondong-bondong memborong bank swasta di negeri kita? Kalau kita lihat
      dari sisi masuknya investor asing tentu saja berita tersebut menggembirakan,
      karena kehadiran mereka sangat diharapkan. Tapi dari sudut lain, mungkin
      bisa menjadi lain.

      Pertanyaan yang muncul acap kali adalah, memangnya apa yang salah dengan
      bank lokal yang dimiliki asing? Dari sudut kelegalan semua legal, dari sudut
      tenaga kerja masih banyak tenaga kerja lokal yang dipakai, dari sisi
      penyaluran kredit mayoritas mengalir ke pengusaha lokal, bayar pajak
      *toh*juga ke kita juga.

      Tidak ada yang salah memang. Hanya saja akan menjadi bahan yang menarik
      untuk didiskusikan ketika kita membicarakan masalah *ketahanan ekonomi
      nasional dan kemandirian.* Karena ketika kita berbicara tentang ekonomi,
      maka tidak bisa tidak juga akan membicarakan perbankan.

      Bank ibarat urat nadi bagi perekonomian sebuah negara. Jika sektor bank
      sekarat di suatu negara, maka ekonomi negara yang bersangkutan pun akan ikut
      sekarat. Sebaliknya juga begitu, jika ekonomi sebuah negara runtuh, maka
      perbankan di negara yang bersangkutan secara otomatis akan terseret dalam
      pusaran keruntuhan tersebut. Timbal balik dan saling ketergantungan tersebut
      sifatnya abadi.

      *Porsi bank swasta*
      Jika dilihat dari kekayaannya, bank swasta saat ini memiliki posisi yang
      strategis. Penghimpunan dana masyarakat per Agustus 2006 lalu misalnya,
      mencapai* Rp 500,9 triliun*, jauh lebih besar dibanding bank negara yang *Rp
      440,2 triliun*. *Dana yang disalurkan untuk kredit masing-masing Rp 307,9
      triliun dan Rp 258,4 triliun. *

      Nah, bayangkan, jika sekarang ini katakanlah 90 persen bank swasta
      dikendalikan asing, tentu mereka memiliki kekuatan yang dahsyat untuk
      mengharubirukan perekonomian. Gerak-gerik perekonomian pun sebagian akan
      dikendalikan mereka. Dan mereka akan memainkan perannya sesuai agenda
      mereka, bukan agenda perekonomian nasional.

      Terbukti bahwa sejauh ini, kontribusi positif perbankan yang dikuasai asing
      ini terlihat belum signifikan. Dalam pengembangan usaha kecil misalnya,
      mereka sangat rendah. Tercatat pengucuran kredit ke usaha kecil hanya 6,8
      persen dari total kredit yang disalurkan, sementara bank negara mencapai 20
      persen. *Sektor konsumtif juga lebih dibidik ketimbang produktif.*

      Selain itu, mereka juga tidak produktif dalam mengelola dananya. Terlihat
      bahwa saat ini rasio antara dana yang dihimpun dari masyarakat dibandingkan
      dengan yang disalurkan (*loan to deposit ratio* alias LDR) hanya sekitar 50
      persen. Selebihnya,* disimpan di Sertifikat Bank Indonesia (SBI*). Akibatnya
      triliunan rupiah harus dikeluarkan negara untuk membayar bunga bagi bank
      swasta milik asing tersebut.

      Dari situ terlihat bahwa laba yang diperoleh masing-masing bank swasta yang
      dimiliki asing tersebut, banyak disumbang oleh penempatan dana di SBI, yang
      tak lain adalah uang negara, uang rakyat. Dan kelak, laba triliunan yang
      sebagian dari uang rakyat itu akan terbang ke negara para investor asing
      berada (repatriasi).

      Begitulah kondisi perbankan kita pada masa ini. Barangkali kita perlu
      menengok sejenak ke negara lain berkaitan dengan kepemilikan bank oleh
      investoar asing. *Saat ini batas kepemilikan saham bank oleh asing di
      Indonesia sebesar 99 persen,* hampir sama dengan Korea yang juga membebaskan
      sepenuhnya atau tak ada pembatasan bagi kepemilikan oleh asing.

      *Filipina negeri bebas itu membatasi hanya sampai 51 persen, Thailand lebih
      rendah lagi 49 persen sama dengan yang diberlakukan India. Malaysia
      memberikan batasan 30 persen sebagaimana Vietnam. Bahkan negara embah-nya
      kapitalisme, Amerika Serikat, hanya memberikan maksimum kepemilikan asing 30
      persen, sebagaimana di Cina.*

      Dari situ terlihat bahwa kita sangat liberal dalam hal kepemilikan saham
      asing di perbankan nasional. Jika ini dibiarkan, pada masa mendatang,
      kepemilikan investor asing di perbankan Indonesia akan semakin mendominasi.
      Kita tidak akan bisa lagi menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Kita menjadi
      terasing di negeri sendiri. Wajah perbankan kita adalah wajah-wajah asing.
      Dan wajah perbankan kita makin hari akan semakin memilukan.

      *Ikhtisar*
      * Penjualan bank swasta di Indonesia kepada investor asing semakin
      'merajalela'.
      * Investor Cina, Jepang, India, dan Eropa menjadi pihak yang dominan dalam
      pembelian bank swasta itu.
      * Secara prosedural, penjualan tersebut memang tidak bermasalah. Tapi dari
      sisi ketahanan ekonomi, penjualan bank swasta ke investor asing itu bisa
      menjadi ancaman.
      * Apalagi, kebanyakan bank swasta yang dimiliki asing itu lebih banyak
      menggantungkan perolehan keuntungannya dari Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
      * Batas kepemilikan bank oleh pihak asing di Indonesia, jauh lebih liberal
      dibanding hal serupa di Amerika Serikat, Cina, India, Filipina, Malaysia,
      juga Thailand.
      --
      ****************************************************
      "Ada dua hal yang tidak terbatas, yaitu: Alam Semesta ini dan Kebodohan
      Manusia;
      namun mengenai Alam Semesta tersebut masih saya ragukan . . ." (Albert
      Einstein)
      ****************************************************


      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.