Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Tips 167: Percayalah Pada Saya, Anda Sudah Sukses Detik Ini Juga

Expand Messages
  • OmPopa
    Maaf OmPopa. Saran dari Moderator: Tadi saya kira ini adalah hanya iklan bisnis biasa dan ingin menghapus. Tetapi karena setiap hari saya makin sadar bahwa
    Message 1 of 1 , Nov 1, 2007
      Maaf OmPopa.

      Saran dari Moderator:
      Tadi saya kira ini adalah hanya iklan bisnis biasa dan ingin menghapus.

      Tetapi karena setiap hari saya makin sadar bahwa kemampuan orang Indonesia untuk memberi kontribusi atau membuat sesuatu yang betul signifikan di dunia ini adalah besar, tidak hanya di dunia bisnis tetapi di dunia filsofat (filosofi), kesenian, pendidikan (ya pendidikan!), dll, karena kita mempunyai banyak kebudayaan yang berbeda-beda dan sangat kaya filsofat dari "kebudayaan sendiri" yang sebaiknya di-"sharing" di dunia. Misalnya dalam musik, kapan artis-artis Indonesia akan mulai mendominasi "TOP 40" di dunia musik? Kemampuannya ada?

      Menurut saya, salah satu kekurangan utama di Indonesia adalah kepercayaan diri (PD). Oleh karena itu saya akan approve informasi ini. Tetapi mohon kesadaran bahwa kalau kita betul ingin berkontribusi kepada "globalisasi informasi", kita sebagai lingkungan pendidikan wajib untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris kita sendiri maupun anak-anak kita supaya mereka betul dapat membuka pintu dunia dan suaranya kedengaran.

      Semoga sukses selalu!

      Salam
      Moderator
      -------------------------------------------------------------------

      *Tips 167: Percayalah Pada Saya, Anda Sudah Sukses Detik Ini Juga*

      Bapak, Ibu, dan Saudara yang budiman. Saya sungguh-sungguh mengatakannya.
      Percayalah pada Saya, Anda sudah sukses pada detik ini juga! Jika hanya
      sekedar sukses, Anda sudah tak perlu lagi mencarinya. Sukses itu telah
      bersemayam di dalam diri Anda. Itulah yang dikatakan Jennie S.
      Bev<http://jennieforindonesia.com/>,
      "Sukses adalah Anda".

      Diri Anda, dibentuk oleh karakter Anda. Karakter Anda, disusun dari berbagai
      perilaku Anda. Perilaku Anda, dibangun oleh berbagai sikap dan kebiasaan
      Anda. Dan apa yang menjadi kebiasaan Anda, adalah pengulangan berbagai
      fenomena kesuksesan. Nggak percaya?

      Apa yang akan menjadi kebiasaan Anda, adalah segala hal, tindakan, atau
      aktivitas yang Anda anggap - dengan sadar atau tanpa sadar - sukses dan
      berhasil. Apa yang berhasil Anda ciptakan atau lakukan, akan mendorong Anda
      untuk mengulanginya. Lagi dan lagi. Sebaliknya, apa yang Anda anggap gagal
      atau tidak berhasil, normalnya sih tak akan Anda ulangi lagi.

      Untuk sementara, mari kita lepas dulu aspek benar atau salah, dan baik atau
      buruk. Letakkan di luar diri Anda, dan mari ikuti Saya.

      Seorang pencuri melakukan pencurian untuk pertama kalinya. Jika ia berhasil
      mencuri tanpa tertangkap, akankah ia mencuri lagi? Ya, ia akan mencuri lagi.
      Jika tidak tertangkap juga pada tindak pencurian berikutnya, ia akan mencuri
      lagi untuk ketiga kalinya. Begitu seterusnya, sampai terbentuk kebiasaan
      "sukses"-nya. Terbentuklah perilaku "sukses"-nya. Terbentuklah karakter
      "sukses"-nya. Jadilah pencuri itu sebagai pencuri "sukses".

      Jika suatu kali sang pencuri itu tertangkap polisi, akankah ia mengulanginya
      lagi? Bisa ya, bisa tidak. Jika ia mengulanginya lagi, maka ia mengulangi
      "kegagalan". Itu namanya pencuri bodoh. Pencuri yang tidak sukses.

      Bagaimana dengan diri Anda sekarang? Apakah Anda terbiasa begadang sampai
      detik ini? Jika ya, tetap saja, Anda adalah manusia sukses. Sebab kebiasaan
      begadang Anda, hanya terjadi karena begadang itu sukses buat Anda. Anda
      begadang, dan kemudian Anda tidak merasakan efek buruknya. Anda merasa
      berhasil dan "sukses" begadang. Anda mengulanginya, dan terbentuklah diri
      "sukses" Anda.

      Jika suatu saat Anda jatuh sakit karena kebiasaan begadang Anda, maka Anda
      akan dihadapkan pada pilihan. Jika Anda berhenti atau mengurangi begadang,
      maka Anda akan terlahir kembali menjadi manusia "sukses" yang baru. Jika
      Anda tetap doyan begadang, maka Anda terjerumus menjadi manusia tidak
      sukses. Ndablek namanya. Gagal kok diulangi lagi.

      Contoh lain. Jika sampai detik ini Anda terbiasa telat masuk kantor setiap
      hari, Anda juga tetap manusia "sukses". Sebab karakter, perilaku, dan
      kebiasaan itu, pasti terjadi karena Anda "sukses" melakukannya. Alias,
      selama ini aman-aman saja. Jika kemudian, ternyata gaji Anda dipotong
      sebagai konsekuensi dari terbongkarnya kebiasaan Anda, maka sekali lagi Anda
      punya pilihan. Berhenti atau meneruskan. Melakukan hal yang sama atau
      melakukan hal yang berbeda.

      Jika Anda berhenti dan berubah menjadi rajin masuk kerja, maka Anda lahir
      kembali menjadi manusia "sukses" yang baru. Jika Anda berusaha kreatif untuk
      tetap telat dengan berganti "metode telat", dan itu ternyata berhasil, maka
      Anda akan menjadi manusia "sukses" yang baru juga. Tetap saja, Anda adalah
      manusia "sukses". Akan tetapi, jika Anda teruskan strategi telat Anda dengan
      metode lama yang sudah terbukti gagal, maka sekali lagi Anda ndablek. Anda
      berganti menjadi manusia yang tidak "sukses".

      Anda suka ngebut sembarangan di jalanan? Sepanjang Anda tidak celaka, Anda
      adalah manusia "sukses" sebagai setan jalanan. Jika Anda kemudian nyungsep
      ke got atau berkesempatan mencium tiang listrik, maka waspadalah, di situ
      akan muncul pilihan. Besok ngebut lagi dengan kesembarangan yang sama, atau
      lebih hati-hati berkendara. Anda lebih berhati-hati, maka Anda berubah
      menjadi manusia "sukses" yang baru. Anda tetap ngebut sembarangan, Anda
      mungkin sudah gila. Setan jalanan yang gila dan tidak sukses.

      Suka ninggalin shalat? Anda tetap sukses tuh. Sebab, konsekuensinya bisa
      jadi belum akan Anda terima selagi Anda hidup di dunia. Karena Anda anggap
      aman-aman saja, maka Anda mengidentifikasinya sebagai sebentuk kesuksesan.
      Kemudian, Anda akan mengulanginya sehingga menjadi sikap, kebiasaan,
      perilaku, dan akhirnya karakter. Karakter manusia yang "sukses" (di dunia).

      Begitulah. Anda sebut saja. Apapun yang menjadi pilihan cara berpikir dan
      cara bertindak Anda, dan kemudian Anda kembangkan menjadi sikap, perilaku,
      dan kebiasaan, akan selalu mencerminkan karakter sukses Anda. Anda memilih
      jadi orang baik atau jadi orang jahat, tetap saja Anda adalah manusia
      "sukses". Jadi orang kuat atau orang lemah, dua-duanya sama suksesnya.

      Kuncinya, ada pada pilihan Anda. Pandai-pandailah memilih. Dan ingatlah
      bahwa apapun yang Anda pilih, akan mencerminkan "kesuksesan" Anda.

      Mari kita masukkan kembali aspek benar atau salah dan baik atau buruk, yang
      tadi kita copot untuk sementara. Sekarang Anda pilih yang mana? Hal, cara
      pikir, sikap, tindakan yang baik atau yang buruk? Yang benar atau yang
      salah? Dari situlah semua kesuksesan Anda bersumber. Apapun yang Anda pilih,
      akan mensukseskan diri Anda. Sukses apa yang Anda mau? Sukses mana yang Anda
      inginkan?

      Percayalah pada Saya. Tak perlu khawatir, sebab Anda sudah sukses detik ini
      juga. *Just beware of Your choices!*

      Ikhwan Sopa
      Trainer E.D.A.N.
      021-70096855
      http://milis-bicara.blogspot.com


      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.