Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Raja Teh Dunia Yang Tak Punya Kebun Teh

Expand Messages
  • Sulastama Raharja
    Raja Teh Dunia Yang Tak Punya Kebun Teh Twinings menempati peringkat kedua dunia dengan menguasai pangsa 4,2 persen pasar teh. Sabtu, 1 Mei 2010, 10:29 WIB
    Message 1 of 6 , May 1, 2010
    • 0 Attachment
      Raja Teh Dunia Yang Tak Punya Kebun Teh
      Twinings menempati peringkat kedua dunia dengan menguasai pangsa 4,2 persen
      pasar teh.
      Sabtu, 1 Mei 2010, 10:29 WIB
      Heri Susanto
      Stephen Twinings, Raja Teh Inggris (twinings)

      - *VIVAnews - *Pada Kamis lalu, Jakarta disinggahi tamu penting, yakni
      raja teh dari Inggris, Stephen H.B. Twining. Ia adalah generasi ke-sepuluh
      dari keluarga Twinings asal Inggris, yang terkenal dengan bisnis teh
      terkemuka dunia dan telah berdiri lebih dari 300 tahun.

      "Saya datang ke Jakarta untuk berbagi ilmu, keahlian, dan seni membuat
      secangkir teh Twinings yang sempurna," ujarnya dalam siaran pers yang
      diterima *VIVAnews*, 30 April 2010.

      Twinings dikenal sebagai perusahaan yang mempopulerkan tradisi minum teh
      di Inggris yakni pada 1706, saat Thomas Twining mendobrak tradisi minum bir
      masyarakat Inggris dan mulai menjual teh dari sebuah kedai yang baru
      dibelinya di London.

      Kini, Twinings merupakan merek minuman teh terkemuka di dunia. Menurut
      Euromonitor, Twinings menempati peringkat kedua dunia dengan menguasai
      pangsa 4,2 persen pasar teh dunia.

      Produk besutan Twinings kini dijual di 115 negara, tak terkecuali di
      Indonesia. Perusahaan ini telah menciptakan lebih dari 200 varian teh,
      termasuk dua varian yang populer, yaitu English Breakfast Tea dan Earl Grey
      Tea. Kini berbagai pilihan citarasa teh ditawarkan sesuai selera, perasaan (
      *mood*) ataupun sesuai acara yang diselenggarakan.

      Uniknya, meski jadi raja teh dunia, Twinings tidak pernah memiliki
      perkebunan teh sendiri. Twinings bekerja sama dan sangat dekat dengan para
      produsen teh-nya yang tersebar di Kenya, India, Sri Lanka, Indonesia,
      Jepang, China dan Vietnam.

      �Kami hanya membeli teh dari pemilik perkebunan yang memenuhi kriteria
      etika yang telah ditetapkan,� ujar Stephen.

      Twinings memang salah satu anggota yang membentuk Ethical Sourcing
      Partnership. Ini sebuah organisasi yang beranggotakan para perusahaan teh
      besar yang memantau masalah etika dan kondisi sosial dari perkebunan teh
      yang menjadi produsen mereka.

      Twinings juga dikenal mempopulerkan tradisi minum teh kepada kalangan
      aristrokrat dan elit politik Inggris. �Kami tidak sekedar menawarkan ragam
      rasa teh bagi konsumen, namun juga memberikan perhatian mulai dari bagaimana
      teh disiapkan dan bagaimana selera teh dapat berbeda bagi setiap orang,"
      kata Stephen.

      Citra kontemporer yang melekat pada Inggris serta keunikan dalam hal
      rasa, aroma, dan warna dikembangkan oleh Twinings pada setiap momen penting
      dalam kehidupan konsumennya sehari-hari.

      "Inilah rahasia sukses kami sehingga berhasil bertahan selama lebih dari 300
      tahun,� tutur Stephen berbagi tips.

      Seiring dengan perkembangan gaya hidup dan kesadaran masyarakat akan manfaat
      teh bagi kesehatan, permintaan teh di pasar internasional juga mengalami
      peningkatan; yakni untuk teh hitam standar meningkat 40%, teh hijau (23%),
      teh herbal/buah (17%), teh hitam spesial (16%), teh instan (1%) dan teh
      lainnya (3%).
      *� VIVAnews *
      http://bisnis.vivanews.com/news/read/148014-raja_teh_dunia_yang_tak_punya_kebun_teh


      --
      wassalam,
      ~tomo~
      http://sulastama.wordpress.com/


      [Non-text portions of this message have been removed]
    • Desrenia Widjaja
      Sangat di sayangkan...Jika seandainya teh-teh terbaik buatan Indonesia bisa di populerkan oleh orang Indonesia sendiri sehingga kita org Indonesia tidak perlu
      Message 2 of 6 , May 1, 2010
      • 0 Attachment
        Sangat di sayangkan...Jika seandainya teh-teh terbaik buatan Indonesia bisa di populerkan oleh orang Indonesia sendiri sehingga kita org Indonesia tidak perlu membeli teh buatan Indonesia dgn Merk dan Harga Luar Negeri...

        Salam TeaRific,
        Nia


        Sent from iCOACHBerry® Visit: www.icoachrealcoach.com

        -----Original Message-----
        From: Sulastama Raharja <rsulastama@...>
        Date: Sat, 1 May 2010 15:49:36
        To: <pecinta_teh@yahoogroups.com>; geologiugm<geologiugm@...>; <kampung-ugm@yahoogroups.com>
        Subject: [pecinta_teh] Raja Teh Dunia Yang Tak Punya Kebun Teh

        Raja Teh Dunia Yang Tak Punya Kebun Teh
        Twinings menempati peringkat kedua dunia dengan menguasai pangsa 4,2 persen
        pasar teh.
        Sabtu, 1 Mei 2010, 10:29 WIB
        Heri Susanto
        Stephen Twinings, Raja Teh Inggris (twinings)

        - *VIVAnews - *Pada Kamis lalu, Jakarta disinggahi tamu penting, yakni
        raja teh dari Inggris, Stephen H.B. Twining. Ia adalah generasi ke-sepuluh
        dari keluarga Twinings asal Inggris, yang terkenal dengan bisnis teh
        terkemuka dunia dan telah berdiri lebih dari 300 tahun.

        "Saya datang ke Jakarta untuk berbagi ilmu, keahlian, dan seni membuat
        secangkir teh Twinings yang sempurna," ujarnya dalam siaran pers yang
        diterima *VIVAnews*, 30 April 2010.

        Twinings dikenal sebagai perusahaan yang mempopulerkan tradisi minum teh
        di Inggris yakni pada 1706, saat Thomas Twining mendobrak tradisi minum bir
        masyarakat Inggris dan mulai menjual teh dari sebuah kedai yang baru
        dibelinya di London.

        Kini, Twinings merupakan merek minuman teh terkemuka di dunia. Menurut
        Euromonitor, Twinings menempati peringkat kedua dunia dengan menguasai
        pangsa 4,2 persen pasar teh dunia.

        Produk besutan Twinings kini dijual di 115 negara, tak terkecuali di
        Indonesia. Perusahaan ini telah menciptakan lebih dari 200 varian teh,
        termasuk dua varian yang populer, yaitu English Breakfast Tea dan Earl Grey
        Tea. Kini berbagai pilihan citarasa teh ditawarkan sesuai selera, perasaan (
        *mood*) ataupun sesuai acara yang diselenggarakan.

        Uniknya, meski jadi raja teh dunia, Twinings tidak pernah memiliki
        perkebunan teh sendiri. Twinings bekerja sama dan sangat dekat dengan para
        produsen teh-nya yang tersebar di Kenya, India, Sri Lanka, Indonesia,
        Jepang, China dan Vietnam.

        “Kami hanya membeli teh dari pemilik perkebunan yang memenuhi kriteria
        etika yang telah ditetapkan,” ujar Stephen.

        Twinings memang salah satu anggota yang membentuk Ethical Sourcing
        Partnership. Ini sebuah organisasi yang beranggotakan para perusahaan teh
        besar yang memantau masalah etika dan kondisi sosial dari perkebunan teh
        yang menjadi produsen mereka.

        Twinings juga dikenal mempopulerkan tradisi minum teh kepada kalangan
        aristrokrat dan elit politik Inggris. “Kami tidak sekedar menawarkan ragam
        rasa teh bagi konsumen, namun juga memberikan perhatian mulai dari bagaimana
        teh disiapkan dan bagaimana selera teh dapat berbeda bagi setiap orang,"
        kata Stephen.

        Citra kontemporer yang melekat pada Inggris serta keunikan dalam hal
        rasa, aroma, dan warna dikembangkan oleh Twinings pada setiap momen penting
        dalam kehidupan konsumennya sehari-hari.

        "Inilah rahasia sukses kami sehingga berhasil bertahan selama lebih dari 300
        tahun,” tutur Stephen berbagi tips.

        Seiring dengan perkembangan gaya hidup dan kesadaran masyarakat akan manfaat
        teh bagi kesehatan, permintaan teh di pasar internasional juga mengalami
        peningkatan; yakni untuk teh hitam standar meningkat 40%, teh hijau (23%),
        teh herbal/buah (17%), teh hitam spesial (16%), teh instan (1%) dan teh
        lainnya (3%).
        *• VIVAnews *
        http://bisnis.vivanews.com/news/read/148014-raja_teh_dunia_yang_tak_punya_kebun_teh


        --
        wassalam,
        ~tomo~
        http://sulastama.wordpress.com/


        [Non-text portions of this message have been removed]



        ------------------------------------

        Yahoo! Groups Links
      • Maria D. Andriana
        setuju... ayo kita dukung bangkitnya teh Indonesia (setelah gula terpuruk, kopi merosot, apalagi pala dan cengkih) salam, maria Maria
        Message 3 of 6 , May 1, 2010
        • 0 Attachment
          setuju... ayo kita dukung bangkitnya teh Indonesia
          (setelah gula terpuruk, kopi merosot, apalagi pala dan cengkih)
          salam,
          maria

          <font color="#0080ff">Maria D.Andriana</font>
          <font color="#0080ff">Antara News Agency
          School of Journalism manager
          Jl Antara no 57
          Pasar Baru
          Jakarta 10710
          Phone +62 21 3842591/34834321 (112/113)</font>

          <font color="#0080ff">mobile +628128432706</font>
          <font color="#0080ff"></font> 



          ----- Original Message ----
          From: Desrenia Widjaja <desrenia_w@...>
          To: pecinta_teh@yahoogroups.com
          Sent: Sat, May 1, 2010 4:13:44 PM
          Subject: Re: [pecinta_teh] Raja Teh Dunia Yang Tak Punya Kebun Teh


          Sangat di sayangkan...Jika seandainya teh-teh terbaik buatan Indonesia bisa di populerkan oleh orang Indonesia sendiri sehingga kita org Indonesia tidak perlu membeli teh buatan Indonesia dgn Merk dan Harga Luar Negeri...

          Salam TeaRific,
          Nia


          Sent from iCOACHBerry® Visit: www.icoachrealcoach.com

          -----Original Message-----
          From: Sulastama Raharja <rsulastama@...>
          Date: Sat, 1 May 2010 15:49:36
          To: <pecinta_teh@yahoogroups.com>; geologiugm<geologiugm@...>; <kampung-ugm@yahoogroups.com>
          Subject: [pecinta_teh] Raja Teh Dunia Yang Tak Punya Kebun Teh

          Raja Teh Dunia Yang Tak Punya Kebun Teh
          Twinings menempati peringkat kedua dunia dengan menguasai pangsa 4,2 persen
          pasar teh.
          Sabtu, 1 Mei 2010, 10:29 WIB
          Heri Susanto
          Stephen Twinings, Raja Teh Inggris (twinings)

          - *VIVAnews - *Pada Kamis lalu, Jakarta disinggahi tamu penting, yakni
          raja teh dari Inggris, Stephen H.B. Twining. Ia adalah generasi ke-sepuluh
          dari keluarga Twinings asal Inggris, yang terkenal dengan bisnis teh
          terkemuka dunia dan telah berdiri lebih dari 300 tahun.

          "Saya datang ke Jakarta untuk berbagi ilmu, keahlian, dan seni membuat
          secangkir teh Twinings yang sempurna," ujarnya dalam siaran pers yang
          diterima *VIVAnews*, 30 April 2010.

          Twinings dikenal sebagai perusahaan yang mempopulerkan tradisi minum teh
          di Inggris yakni pada 1706, saat Thomas Twining mendobrak tradisi minum bir
          masyarakat Inggris dan mulai menjual teh dari sebuah kedai yang baru
          dibelinya di London.

          Kini, Twinings merupakan merek minuman teh terkemuka di dunia. Menurut
          Euromonitor, Twinings menempati peringkat kedua dunia dengan menguasai
          pangsa 4,2 persen pasar teh dunia.

          Produk besutan Twinings kini dijual di 115 negara, tak terkecuali di
          Indonesia. Perusahaan ini telah menciptakan lebih dari 200 varian teh,
          termasuk dua varian yang populer, yaitu English Breakfast Tea dan Earl Grey
          Tea. Kini berbagai pilihan citarasa teh ditawarkan sesuai selera, perasaan (
          *mood*) ataupun sesuai acara yang diselenggarakan.

          Uniknya, meski jadi raja teh dunia, Twinings tidak pernah memiliki
          perkebunan teh sendiri. Twinings bekerja sama dan sangat dekat dengan para
          produsen teh-nya yang tersebar di Kenya, India, Sri Lanka, Indonesia,
          Jepang, China dan Vietnam.

          “Kami hanya membeli teh dari pemilik perkebunan yang memenuhi kriteria
          etika yang telah ditetapkan,” ujar Stephen.

          Twinings memang salah satu anggota yang membentuk Ethical Sourcing
          Partnership. Ini sebuah organisasi yang beranggotakan para perusahaan teh
          besar yang memantau masalah etika dan kondisi sosial dari perkebunan teh
          yang menjadi produsen mereka.

          Twinings juga dikenal mempopulerkan tradisi minum teh kepada kalangan
          aristrokrat dan elit politik Inggris. “Kami tidak sekedar menawarkan ragam
          rasa teh bagi konsumen, namun juga memberikan perhatian mulai dari bagaimana
          teh disiapkan dan bagaimana selera teh dapat berbeda bagi setiap orang,"
          kata Stephen.

          Citra kontemporer yang melekat pada Inggris serta keunikan dalam hal
          rasa, aroma, dan warna dikembangkan oleh Twinings pada setiap momen penting
          dalam kehidupan konsumennya sehari-hari.

          "Inilah rahasia sukses kami sehingga berhasil bertahan selama lebih dari 300
          tahun,” tutur Stephen berbagi tips.

          Seiring dengan perkembangan gaya hidup dan kesadaran masyarakat akan manfaat
          teh bagi kesehatan, permintaan teh di pasar internasional juga mengalami
          peningkatan; yakni untuk teh hitam standar meningkat 40%, teh hijau (23%),
          teh herbal/buah (17%), teh hitam spesial (16%), teh instan (1%) dan teh
          lainnya (3%).
          *• VIVAnews *
          http://bisnis.vivanews.com/news/read/148014-raja_teh_dunia_yang_tak_punya_kebun_teh


          --
          wassalam,
          ~tomo~
          http://sulastama.wordpress.com/


          [Non-text portions of this message have been removed]



          ------------------------------------

          Yahoo! Groups Links





          ------------------------------------

          Yahoo! Groups Links
        • arif suryo
          setahu saya ini sih praktik bisnis biasa. Lagi pula yang dijual ke luar negeri biasanya kualitas nomor satu dan jenis yang kurang disukai/ populer di Indonesia
          Message 4 of 6 , May 2, 2010
          • 0 Attachment
            setahu saya ini sih praktik bisnis biasa.

            Lagi pula yang dijual ke luar negeri biasanya kualitas nomor satu dan jenis yang kurang disukai/ populer di Indonesia seperti white tea/ silver needles. Selain itu, jual di luar negeri lebih menguntungkan. Lha, kalau yang kualitas atas dijual di Indonesia, risikonya besar sekali: belum tentu laku; siapa yang mau beli teh mahal dan mengapresiasi teh papan atas, apalagi buatan Indonesia bukan buatan luar negeri? Masyarakat kita kan suka barang luar negeri. Selain itu, di Indonesia, teh kan citranya minuman murah! Lagipula, biaya yang harus dikeluarkan besar sekali (biaya promosi/ iklan, distribusi dll), belum lagi urusan pajak dan birokrasi. .


            Hal serupa juga dapat dilihat di industri persepatuan. Nike, Reebok, Adidas, Puma juga tidak punya pabrik. Mereka jualan nama (brand) dan disain yang sudah mendunia. Sepatu-sepatu kelas atas desain khusus yang diperuntukkan bagi pasar atas Eropa/ Amerika, misalnya, harus dibeli di Eropa/ Amerika padahal buatan Indonesia. Sama sekali tidak boleh dijual di Indonesia. Kalau ketahuan, kontrak dibatalkan. Itu yang saya tahu ketika dulu menjadi penerjemah mendampingi pembeli (buyer) luar negeri ke salah satu pabrik tempat mereka beli sepatu berdasarkan perjanjian kontrak.




            ----- Original Message ----
            From: Desrenia Widjaja <desrenia_w@...>
            To: pecinta_teh@yahoogroups.com
            Sent: Sat, May 1, 2010 4:13:44 PM
            Subject: Re: [pecinta_teh] Raja Teh Dunia Yang Tak Punya Kebun Teh


            Sangat di sayangkan...Jika seandainya teh-teh terbaik buatan Indonesia bisa di populerkan oleh orang Indonesia sendiri sehingga kita org Indonesia tidak perlu membeli teh buatan Indonesia dgn Merk dan Harga Luar Negeri...

            Salam TeaRific,
            Nia


            Sent from iCOACHBerry® Visit: www.icoachrealcoach.com

            -----Original Message-----
            From: Sulastama Raharja <rsulastama@...>
            Date: Sat, 1 May 2010 15:49:36
            To: <pecinta_teh@yahoogroups.com>; geologiugm<geologiugm@...>; <kampung-ugm@yahoogroups.com>
            Subject: [pecinta_teh] Raja Teh Dunia Yang Tak Punya Kebun Teh

            Raja Teh Dunia Yang Tak Punya Kebun Teh
            Twinings menempati peringkat kedua dunia dengan menguasai pangsa 4,2 persen
            pasar teh.
            Sabtu, 1 Mei 2010, 10:29 WIB
            Heri Susanto
            Stephen Twinings, Raja Teh Inggris (twinings)

            - *VIVAnews - *Pada Kamis lalu, Jakarta disinggahi tamu penting, yakni
            raja teh dari Inggris, Stephen H.B. Twining. Ia adalah generasi ke-sepuluh
            dari keluarga Twinings asal Inggris, yang terkenal dengan bisnis teh
            terkemuka dunia dan telah berdiri lebih dari 300 tahun.

            "Saya datang ke Jakarta untuk berbagi ilmu, keahlian, dan seni membuat
            secangkir teh Twinings yang sempurna," ujarnya dalam siaran pers yang
            diterima *VIVAnews*, 30 April 2010.

            Twinings dikenal sebagai perusahaan yang mempopulerkan tradisi minum teh
            di Inggris yakni pada 1706, saat Thomas Twining mendobrak tradisi minum bir
            masyarakat Inggris dan mulai menjual teh dari sebuah kedai yang baru
            dibelinya di London.

            Kini, Twinings merupakan merek minuman teh terkemuka di dunia. Menurut
            Euromonitor, Twinings menempati peringkat kedua dunia dengan menguasai
            pangsa 4,2 persen pasar teh dunia.

            Produk besutan Twinings kini dijual di 115 negara, tak terkecuali di
            Indonesia. Perusahaan ini telah menciptakan lebih dari 200 varian teh,
            termasuk dua varian yang populer, yaitu English Breakfast Tea dan Earl Grey
            Tea. Kini berbagai pilihan citarasa teh ditawarkan sesuai selera, perasaan (
            *mood*) ataupun sesuai acara yang diselenggarakan.

            Uniknya, meski jadi raja teh dunia, Twinings tidak pernah memiliki
            perkebunan teh sendiri. Twinings bekerja sama dan sangat dekat dengan para
            produsen teh-nya yang tersebar di Kenya, India, Sri Lanka, Indonesia,
            Jepang, China dan Vietnam.

            “Kami hanya membeli teh dari pemilik perkebunan yang memenuhi kriteria
            etika yang telah ditetapkan,” ujar Stephen.

            Twinings memang salah satu anggota yang membentuk Ethical Sourcing
            Partnership. Ini sebuah organisasi yang beranggotakan para perusahaan teh
            besar yang memantau masalah etika dan kondisi sosial dari perkebunan teh
            yang menjadi produsen mereka.

            Twinings juga dikenal mempopulerkan tradisi minum teh kepada kalangan
            aristrokrat dan elit politik Inggris. “Kami tidak sekedar menawarkan ragam
            rasa teh bagi konsumen, namun juga memberikan perhatian mulai dari bagaimana
            teh disiapkan dan bagaimana selera teh dapat berbeda bagi setiap orang,"
            kata Stephen.

            Citra kontemporer yang melekat pada Inggris serta keunikan dalam hal
            rasa, aroma, dan warna dikembangkan oleh Twinings pada setiap momen penting
            dalam kehidupan konsumennya sehari-hari.

            "Inilah rahasia sukses kami sehingga berhasil bertahan selama lebih dari 300
            tahun,” tutur Stephen berbagi tips.

            Seiring dengan perkembangan gaya hidup dan kesadaran masyarakat akan manfaat
            teh bagi kesehatan, permintaan teh di pasar internasional juga mengalami
            peningkatan; yakni untuk teh hitam standar meningkat 40%, teh hijau (23%),
            teh herbal/buah (17%), teh hitam spesial (16%), teh instan (1%) dan teh
            lainnya (3%).
            *• VIVAnews *
            http://bisnis.vivanews.com/news/read/148014-raja_teh_dunia_yang_tak_punya_kebun_teh


            --
            wassalam,
            ~tomo~
            http://sulastama.wordpress.com/


            [Non-text portions of this message have been removed]



            ------------------------------------

            Yahoo! Groups Links





            ------------------------------------

            Yahoo! Groups Links
          • m_a_rachmaninov@yahoo.com
            Hahahaha chill out man! Everything takes time... Hahaha Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone ... From: arif suryo Date:
            Message 5 of 6 , May 2, 2010
            • 0 Attachment
              Hahahaha chill out man! Everything takes time... Hahaha
              Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

              -----Original Message-----
              From: arif suryo <suryoarif@...>
              Date: Sun, 2 May 2010 16:39:07
              To: <pecinta_teh@yahoogroups.com>
              Subject: Re: [pecinta_teh] Raja Teh Dunia Yang Tak Punya Kebun Teh

              setahu saya ini sih praktik bisnis biasa.

              Lagi pula yang dijual ke luar negeri biasanya kualitas nomor satu dan jenis yang kurang disukai/ populer di Indonesia seperti white tea/ silver needles. Selain itu, jual di luar negeri lebih menguntungkan. Lha, kalau yang kualitas atas dijual di Indonesia, risikonya besar sekali: belum tentu laku; siapa yang mau beli teh mahal dan mengapresiasi teh papan atas, apalagi buatan Indonesia bukan buatan luar negeri? Masyarakat kita kan suka barang luar negeri. Selain itu, di Indonesia, teh kan citranya minuman murah! Lagipula, biaya yang harus dikeluarkan besar sekali (biaya promosi/ iklan, distribusi dll), belum lagi urusan pajak dan birokrasi. .


              Hal serupa juga dapat dilihat di industri persepatuan. Nike, Reebok, Adidas, Puma juga tidak punya pabrik. Mereka jualan nama (brand) dan disain yang sudah mendunia. Sepatu-sepatu kelas atas desain khusus yang diperuntukkan bagi pasar atas Eropa/ Amerika, misalnya, harus dibeli di Eropa/ Amerika padahal buatan Indonesia. Sama sekali tidak boleh dijual di Indonesia. Kalau ketahuan, kontrak dibatalkan. Itu yang saya tahu ketika dulu menjadi penerjemah mendampingi pembeli (buyer) luar negeri ke salah satu pabrik tempat mereka beli sepatu berdasarkan perjanjian kontrak.




              ----- Original Message ----
              From: Desrenia Widjaja <desrenia_w@...>
              To: pecinta_teh@yahoogroups.com
              Sent: Sat, May 1, 2010 4:13:44 PM
              Subject: Re: [pecinta_teh] Raja Teh Dunia Yang Tak Punya Kebun Teh


              Sangat di sayangkan...Jika seandainya teh-teh terbaik buatan Indonesia bisa di populerkan oleh orang Indonesia sendiri sehingga kita org Indonesia tidak perlu membeli teh buatan Indonesia dgn Merk dan Harga Luar Negeri...

              Salam TeaRific,
              Nia


              Sent from iCOACHBerry® Visit: www.icoachrealcoach.com

              -----Original Message-----
              From: Sulastama Raharja <rsulastama@...>
              Date: Sat, 1 May 2010 15:49:36
              To: <pecinta_teh@yahoogroups.com>; geologiugm<geologiugm@...>; <kampung-ugm@yahoogroups.com>
              Subject: [pecinta_teh] Raja Teh Dunia Yang Tak Punya Kebun Teh

              Raja Teh Dunia Yang Tak Punya Kebun Teh
              Twinings menempati peringkat kedua dunia dengan menguasai pangsa 4,2 persen
              pasar teh.
              Sabtu, 1 Mei 2010, 10:29 WIB
              Heri Susanto
              Stephen Twinings, Raja Teh Inggris (twinings)

              - *VIVAnews - *Pada Kamis lalu, Jakarta disinggahi tamu penting, yakni
              raja teh dari Inggris, Stephen H.B. Twining. Ia adalah generasi ke-sepuluh
              dari keluarga Twinings asal Inggris, yang terkenal dengan bisnis teh
              terkemuka dunia dan telah berdiri lebih dari 300 tahun.

              "Saya datang ke Jakarta untuk berbagi ilmu, keahlian, dan seni membuat
              secangkir teh Twinings yang sempurna," ujarnya dalam siaran pers yang
              diterima *VIVAnews*, 30 April 2010.

              Twinings dikenal sebagai perusahaan yang mempopulerkan tradisi minum teh
              di Inggris yakni pada 1706, saat Thomas Twining mendobrak tradisi minum bir
              masyarakat Inggris dan mulai menjual teh dari sebuah kedai yang baru
              dibelinya di London.

              Kini, Twinings merupakan merek minuman teh terkemuka di dunia. Menurut
              Euromonitor, Twinings menempati peringkat kedua dunia dengan menguasai
              pangsa 4,2 persen pasar teh dunia.

              Produk besutan Twinings kini dijual di 115 negara, tak terkecuali di
              Indonesia. Perusahaan ini telah menciptakan lebih dari 200 varian teh,
              termasuk dua varian yang populer, yaitu English Breakfast Tea dan Earl Grey
              Tea. Kini berbagai pilihan citarasa teh ditawarkan sesuai selera, perasaan (
              *mood*) ataupun sesuai acara yang diselenggarakan.

              Uniknya, meski jadi raja teh dunia, Twinings tidak pernah memiliki
              perkebunan teh sendiri. Twinings bekerja sama dan sangat dekat dengan para
              produsen teh-nya yang tersebar di Kenya, India, Sri Lanka, Indonesia,
              Jepang, China dan Vietnam.

              “Kami hanya membeli teh dari pemilik perkebunan yang memenuhi kriteria
              etika yang telah ditetapkan,” ujar Stephen.

              Twinings memang salah satu anggota yang membentuk Ethical Sourcing
              Partnership. Ini sebuah organisasi yang beranggotakan para perusahaan teh
              besar yang memantau masalah etika dan kondisi sosial dari perkebunan teh
              yang menjadi produsen mereka.

              Twinings juga dikenal mempopulerkan tradisi minum teh kepada kalangan
              aristrokrat dan elit politik Inggris. “Kami tidak sekedar menawarkan ragam
              rasa teh bagi konsumen, namun juga memberikan perhatian mulai dari bagaimana
              teh disiapkan dan bagaimana selera teh dapat berbeda bagi setiap orang,"
              kata Stephen.

              Citra kontemporer yang melekat pada Inggris serta keunikan dalam hal
              rasa, aroma, dan warna dikembangkan oleh Twinings pada setiap momen penting
              dalam kehidupan konsumennya sehari-hari.

              "Inilah rahasia sukses kami sehingga berhasil bertahan selama lebih dari 300
              tahun,” tutur Stephen berbagi tips.

              Seiring dengan perkembangan gaya hidup dan kesadaran masyarakat akan manfaat
              teh bagi kesehatan, permintaan teh di pasar internasional juga mengalami
              peningkatan; yakni untuk teh hitam standar meningkat 40%, teh hijau (23%),
              teh herbal/buah (17%), teh hitam spesial (16%), teh instan (1%) dan teh
              lainnya (3%).
              *• VIVAnews *
              http://bisnis.vivanews.com/news/read/148014-raja_teh_dunia_yang_tak_punya_kebun_teh


              --
              wassalam,
              ~tomo~
              http://sulastama.wordpress.com/


              [Non-text portions of this message have been removed]



              ------------------------------------

              Yahoo! Groups Links





              ------------------------------------

              Yahoo! Groups Links








              [Non-text portions of this message have been removed]
            • Desrenia Widjaja
              Saya sangat setuju dengan pendapat Pak Arif. YES, ini memang taktik bisnis biasa... Seperti sekarang, bnyk negara2 maju hanya menjual konsep untuk di
              Message 6 of 6 , May 2, 2010
              • 0 Attachment
                Saya sangat setuju dengan pendapat Pak Arif. YES, ini memang taktik bisnis biasa... Seperti sekarang, bnyk negara2 maju hanya menjual konsep untuk di pabrik-kan di China dan menjual produk nya di negara asal mereka dengan profit dan margin harga bekali2 lipat..lalu siapakah yang lebih untung? Negara penjual konsep kah atau negara pabrikan?

                Yang saya maksud dengan produk buatan Indonesia adalah Jika seandainya produsen Indonesia juga melirik pangsa pasar Indonesia yang menyukai teh-teh merk luar negeri, jika seandainya saja mereka melakukan survey lapangan tentang seberapa besar "Blue Ocean" dalam negeri yang belum mereka sentuh, mungkin ini akan sangat menarik dan menantang bagi mereka, terlepas dari biaya atau "Investasi" Marketing (mengapa investasi? karena Marketing adalah Long term investment, semua biaya yang di keluarkan untuk Marketing, pasti akan kembali jika kita menggunakan strategi dan taktik yang tepat). Jika memungkinkan dan tidak membebani produsen dengan perjanjian atau kontrak kerja dengan perusahaan asing tersebut.

                Jika White tea kurang di sukai di Indonesia, mungkin karena kita bangsa yang sudah terbiasa dan terdoktrin menikmati teh hitam atau teh wangi produksi lokal yang biasa beredar di pasaran. Terus terang, saya baru mengenal white tea sekitar 2 tahun yang lalu, padahal selama ini saya sangat menyukai berbagai jenis teh dan baru saya dengar dari Pak bambang & Bu Ratna saat Gathering bulan Maret lalu bahwa Indonesia pun mempunyai produksi white tea sendiri, yaitu white tea Dewata. Dan saya berfikir..jika Indonesia bisa memproduseni teh dengan kualitas baik, kenapa kita tidak memasarkan nya juga? dan urusan Marketing...masih banyak strategi yang bisa di gunakan tanpa mengeluarkan budget yang gila2an..ada strategi Guerrilla Marketing dari Jay conrad Levinson, ada Blue Ocean Startegy, dan lain sebagainya..Contoh: Ada sebuah tantangan..1 orang diminta untuk memakan 1 ekor kerbau..bagaimana cara nya??? jawabannya: di potong kecil2 (Chunking)..begitu juga dengan
                startegi marketing, lihat dari potongan kecil jangan dari potongan besar. Sekarang saat nya kita keluar dari Zona nyaman dan sebarkan bahwa Merk Indonesia pun bisa bersaing dengan Merk luar negeri..dan seharusnya kita bisa lebih men-sejahterakan para petani, pegawai dan penduduk sekitar kebun teh. Lalu kita bisa mengharumkan nama Indonesia sebagai penghasil teh kualitas No.1 di Dunia, bukan bersembunyi di balik merk besar ciptaan perusahaan luar negeri..Ini hanya pendapat saya, mohon maaf jika ada yang tidak berkenan dengan tulisan saya ini.


                Salam TeaRific,
                Nia





                ________________________________
                From: arif suryo <suryoarif@...>
                To: pecinta_teh@yahoogroups.com
                Sent: Mon, May 3, 2010 6:39:07 AM
                Subject: Re: [pecinta_teh] Raja Teh Dunia Yang Tak Punya Kebun Teh


                setahu saya ini sih praktik bisnis biasa.

                Lagi pula yang dijual ke luar negeri biasanya kualitas nomor satu dan jenis yang kurang disukai/ populer di Indonesia seperti white tea/ silver needles. Selain itu, jual di luar negeri lebih menguntungkan. Lha, kalau yang kualitas atas dijual di Indonesia, risikonya besar sekali: belum tentu laku; siapa yang mau beli teh mahal dan mengapresiasi teh papan atas, apalagi buatan Indonesia bukan buatan luar negeri? Masyarakat kita kan suka barang luar negeri. Selain itu, di Indonesia, teh kan citranya minuman murah! Lagipula, biaya yang harus dikeluarkan besar sekali (biaya promosi/ iklan, distribusi dll), belum lagi urusan pajak dan birokrasi. .

                Hal serupa juga dapat dilihat di industri persepatuan. Nike, Reebok, Adidas, Puma juga tidak punya pabrik. Mereka jualan nama (brand) dan disain yang sudah mendunia. Sepatu-sepatu kelas atas desain khusus yang diperuntukkan bagi pasar atas Eropa/ Amerika, misalnya, harus dibeli di Eropa/ Amerika padahal buatan Indonesia. Sama sekali tidak boleh dijual di Indonesia. Kalau ketahuan, kontrak dibatalkan. Itu yang saya tahu ketika dulu menjadi penerjemah mendampingi pembeli (buyer) luar negeri ke salah satu pabrik tempat mereka beli sepatu berdasarkan perjanjian kontrak.

                ----- Original Message ----
                From: Desrenia Widjaja <desrenia_w@yahoo. com>
                To: pecinta_teh@ yahoogroups. com
                Sent: Sat, May 1, 2010 4:13:44 PM
                Subject: Re: [pecinta_teh] Raja Teh Dunia Yang Tak Punya Kebun Teh

                Sangat di sayangkan... Jika seandainya teh-teh terbaik buatan Indonesia bisa di populerkan oleh orang Indonesia sendiri sehingga kita org Indonesia tidak perlu membeli teh buatan Indonesia dgn Merk dan Harga Luar Negeri...

                Salam TeaRific,
                Nia

                Sent from iCOACHBerry® Visit: www.icoachrealcoach .com

                -----Original Message-----
                From: Sulastama Raharja <rsulastama@gmail. com>
                Date: Sat, 1 May 2010 15:49:36
                To: <pecinta_teh@ yahoogroups. com>; geologiugm<geologiugm@googlegr oups.com>; <kampung-ugm@ yahoogroups. com>
                Subject: [pecinta_teh] Raja Teh Dunia Yang Tak Punya Kebun Teh

                Raja Teh Dunia Yang Tak Punya Kebun Teh
                Twinings menempati peringkat kedua dunia dengan menguasai pangsa 4,2 persen
                pasar teh.
                Sabtu, 1 Mei 2010, 10:29 WIB
                Heri Susanto
                Stephen Twinings, Raja Teh Inggris (twinings)

                - *VIVAnews - *Pada Kamis lalu, Jakarta disinggahi tamu penting, yakni
                raja teh dari Inggris, Stephen H.B. Twining. Ia adalah generasi ke-sepuluh
                dari keluarga Twinings asal Inggris, yang terkenal dengan bisnis teh
                terkemuka dunia dan telah berdiri lebih dari 300 tahun.

                "Saya datang ke Jakarta untuk berbagi ilmu, keahlian, dan seni membuat
                secangkir teh Twinings yang sempurna," ujarnya dalam siaran pers yang
                diterima *VIVAnews*, 30 April 2010.

                Twinings dikenal sebagai perusahaan yang mempopulerkan tradisi minum teh
                di Inggris yakni pada 1706, saat Thomas Twining mendobrak tradisi minum bir
                masyarakat Inggris dan mulai menjual teh dari sebuah kedai yang baru
                dibelinya di London.

                Kini, Twinings merupakan merek minuman teh terkemuka di dunia. Menurut
                Euromonitor, Twinings menempati peringkat kedua dunia dengan menguasai
                pangsa 4,2 persen pasar teh dunia.

                Produk besutan Twinings kini dijual di 115 negara, tak terkecuali di
                Indonesia. Perusahaan ini telah menciptakan lebih dari 200 varian teh,
                termasuk dua varian yang populer, yaitu English Breakfast Tea dan Earl Grey
                Tea. Kini berbagai pilihan citarasa teh ditawarkan sesuai selera, perasaan (
                *mood*) ataupun sesuai acara yang diselenggarakan.

                Uniknya, meski jadi raja teh dunia, Twinings tidak pernah memiliki
                perkebunan teh sendiri. Twinings bekerja sama dan sangat dekat dengan para
                produsen teh-nya yang tersebar di Kenya, India, Sri Lanka, Indonesia,
                Jepang, China dan Vietnam.

                “Kami hanya membeli teh dari pemilik perkebunan yang memenuhi kriteria
                etika yang telah ditetapkan,” ujar Stephen.

                Twinings memang salah satu anggota yang membentuk Ethical Sourcing
                Partnership. Ini sebuah organisasi yang beranggotakan para perusahaan teh
                besar yang memantau masalah etika dan kondisi sosial dari perkebunan teh
                yang menjadi produsen mereka.

                Twinings juga dikenal mempopulerkan tradisi minum teh kepada kalangan
                aristrokrat dan elit politik Inggris. “Kami tidak sekedar menawarkan ragam
                rasa teh bagi konsumen, namun juga memberikan perhatian mulai dari bagaimana
                teh disiapkan dan bagaimana selera teh dapat berbeda bagi setiap orang,"
                kata Stephen.

                Citra kontemporer yang melekat pada Inggris serta keunikan dalam hal
                rasa, aroma, dan warna dikembangkan oleh Twinings pada setiap momen penting
                dalam kehidupan konsumennya sehari-hari.

                "Inilah rahasia sukses kami sehingga berhasil bertahan selama lebih dari 300
                tahun,” tutur Stephen berbagi tips.

                Seiring dengan perkembangan gaya hidup dan kesadaran masyarakat akan manfaat
                teh bagi kesehatan, permintaan teh di pasar internasional juga mengalami
                peningkatan; yakni untuk teh hitam standar meningkat 40%, teh hijau (23%),
                teh herbal/buah (17%), teh hitam spesial (16%), teh instan (1%) dan teh
                lainnya (3%).
                *• VIVAnews *
                http://bisnis. vivanews. com/news/ read/148014- raja_teh_ dunia_yang_ tak_punya_ kebun_teh

                --
                wassalam,
                ~tomo~
                http://sulastama. wordpress. com/

                [Non-text portions of this message have been removed]

                ------------ --------- --------- ------

                Yahoo! Groups Links

                ------------ --------- --------- ------

                Yahoo! Groups Links







                [Non-text portions of this message have been removed]
              Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.