Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Tradisi minum teh keluarga saya

Expand Messages
  • laresolo
    Dear para pecinta teh, Untuk postingan perdana berikut saya repost tulisan lama saya, mudah- mudahan bisa inspiring anda semua. Teh bukan hanya sekedar
    Message 1 of 9 , Jun 21, 2007
    View Source
    • 0 Attachment
      Dear para pecinta teh,
      Untuk postingan perdana berikut saya repost tulisan lama saya, mudah-
      mudahan bisa inspiring anda semua. Teh bukan hanya sekedar dinikmati
      karena rasa dan aroma, tetapi lebih dari itu teh juga merupakan
      produk budaya. Masing-masing negara memiliki budaya minum tehnya
      sendiri-sendiri. Demikian juga masing-masing keluarga tentu memiliki
      kebiasaan minum teh masing-masing. Sebagai perkenalan, saya repost
      kebiasaan minum teh keluarga saya. Saya harap teman-teman juga dapat
      menuliskan hal yang sama.

      Berikut tulisan tersebut :


      Afternoon tea adalah ritual minum teh sore hari yang sangat populer
      di Inggris. Walaupun sebenarnya tradisi ini merupakan adaptasi dari
      ritual upacara minum teh di Jepang, tetapi keduanya memiliki
      perbedaan yang mendasar. Di Jepang ritual tersebut dipengaruhi oleh
      unsur keagamaan Budha Zen, sedangkan di Inggris tradisi tersebut
      lebih merupakan gaya hidup yang pada awalnya diselenggarakan oleh
      para nyonya rumah dengan mengundang teman-teman mereka untuk minum
      sekitar jam 4 sore. Biasanya minuman teh dicampur dengan susu dan
      ditemani dengan beberapa macam sandwich. Persamaannya, kedua ritual
      tersebut diselenggarakan oleh para nyonya rumah. Jadi yang
      menyiapkan dan menghidangkan teh adalah Nyonya rumah.

      Pada awalnya, minum teh di Inggris hanya dilakukan di coffe-coffe
      house, sehingga hanya mereka yang berduit saja yang mampu
      melakukannya. Dengan makin popularnya teh, membuat Thomas Twinning,
      salah seorang pedagang teh di Inggris, mulai menjual teh kering
      sehingga bisa disimpan para nyonya rumah yang tidak memiliki banyak
      kesempatan untuk pergi ke coffe house dan dapat menikmati teh
      tersebut di rumah setiap saat.

      Sejarah tradisi Afternoon tea dipelopori oleh Puteri Anna Russel,
      salah seorang bangsawan Inggris yang hidup pada masa 1783-1857.
      Pada saat itu, dia merasa lapar, tetapi waktu masih menunjukkan
      pukul lima sore, dan makan malam masih sekitar dua jam kemudian.
      Mungkin karena terlalu lapar untuk menunggu makan malam, dia
      mendapatkan ide untuk menyuruh kepala pelayannya mengantar teh dan
      beberapa roti ke ruangannya. Semenjak itulah dia mulai mengundang
      teman-temannya untuk datang ke ruang tamunya untuk minum teh dan
      makan roti bersama pada event-event tertentu


      Sejarah tradisi minum teh di keluarga saya dipelopori siapa lagi
      kalau bukan ibu saya sendiri. Beliau yang menjadi host, dan tamu-
      tamunya adalah suami dan anak-anaknya. Bahkan tradisi minum teh
      telah dimulai dari pagi hari.



      Saya ingat betul setiap hari ibu selalu bangun pagi buta. Setelah
      selesai sholat subuh, ibu langsung `nggodhog wedang'. Ini sebenarnya
      sebuah bahasa yang hyperbolic. Nggodok artinya masak. Sedangkan
      wedang berarti air minum yang sudah dimasak. Wedang teh, wedang
      jahe, wedang ronde, semua adalah air yang sudah siap dan layak
      diminum. Jadi kalau diterjemahkan, nggodhog wedang adalah memasak
      air minum yang sudah dimasak. Wah, mbulet banget.


      Tempat menyeduh teh disebut porong, yaitu sebuah teko yang terbuat
      dari semacam campuran besi dan aluminium. Saya tidak tahu pasti
      material yang dipakai. Tidak ada ritual atau cara-cara khusus untuk
      menyeduh teh. Setelah teh selesai diseduh dengan air panas, porong
      ditutup dengan tutup yang berbentuk bantal. Ya, bentuknya memang
      mirip sekali dengan bantal karena memakai kapuk yang dibungkus kain.
      Ibu biasanya membuat sendiri tutup porong tersebut. Tujuannya agar
      teh yang diseduh tetap awet panas. Tentu saja kami belum kenal
      dengan apa yang namanya warmer. Teh yang sering digunakan ibu adalah
      teh 999 atau teh cap sepeda balap. Kadang-kadang teh gopek.


      Setiap bangun pagi, di meja makan pasti sudah tersedia gelas teh
      yang masing-masing gelas memiliki warna tutup yang berbeda. "Le,
      iki wedange le", begitu sapa ibu setiap membangunkan saya. Biasanya
      ibu akan menunjukkan gelas mana yang punya saya, dan gelas mana yang
      punya bapak atau kakak. Sebagai teman minum pasti sudah tersedia
      tempe goreng dan beberapa cabe rawit. Karena kebetulan tetangga
      sebelah rumah yang memproduksi tempe tersebut, ibu selalu pesan
      tempe yang belum jadi. Yaitu tempe yang belum sempurna proses
      peragiannya sehingga butiran kedelai masih tampak nyata. Selain
      tempe yang selalu tersedia adalah kerupuk pasar yang berwarna merah
      muda atau kuning. Terkadang tersedia juga karak, yaitu kerupuk dari
      gendar. Kerupuk memang tidak pernah hilang dalam kuliner keluarga
      saya. Bahkan tukang kerupuk sempat meminjamkan blek atau kaleng
      kerupuk yang berbentuk kotak dari seng dengan tutup bulat macam
      topi, dan satu sisi memiliki kaca tembus pandang. Karak disimpan
      dalam lodhong atau toples kaca berbentuk silider dan bertup bulat .
      Gurih tempe, dipadu pedas rawit, disusul kriuk kerupuk kemudian
      digelontor teh melati manis. HmmÂ…nikmat sekali.


      Itu baru menu pembukaan makan pagi. Setelah itu biasanya tersaji
      pondoh pecel, yaitu semacam gendar tetapi digunakan santan sebagai
      pengganti bleng. Selain itu juga tersedia pecel bongko yang terbuat
      dari kedelai. Itu baru appetizer semacam salad. Main coursenya
      adalah nasi putih dengan lauk tumis kulit melinjo dan tentu saja
      tempe goreng dan kerupuk.



      Ritual minum teh tersebut akan berulang lagi pada sore harinya dan
      yang pasti tidak ketinggalan sebagai teman adalah tempe goreng dan
      kerupuk. Ritual minum teh sore biasanya dilanjutkan dengan mengobrol
      ringan di meja makan sampai tiba waktu magrib. Selesai Sholat, kami
      kembali ke meja makan untuk makan malam.



      Hingga kini, setiap kami pulang kampung, dalam kerentaannya, dengan
      tertatih-tatih ibu masih saja menyediakan teh buat anak-anaknya.
      Padahal kami sudah besar semua. Punya anak dan istri masing-masing.
      Bahkan ibu sudah punya buyut, tetapi ibu tetap merasa itu adalah
      sebuah kewajiban dalam menunjukkan cinta kasihnya terhadap keluarga.
      Beliau merasa bahwa jabatan sebagai host dalam tradisi minum teh
      keluarga tidak tergantikan. Teh untuk cinta.

      Salam,

      Bambang
    • friscasaputra
      Hai Mas Bambang... Salam kenal juga, ya, buat semua pecinta teh lainnya. Wah, membaca cerita sampeyan, saya jadi haru... Hiks. Jadi inget almarhum ayah yang
      Message 2 of 9 , Jun 22, 2007
      View Source
      • 0 Attachment
        Hai Mas Bambang...

        Salam kenal juga, ya, buat semua pecinta teh lainnya.

        Wah, membaca cerita sampeyan, saya jadi haru... Hiks. Jadi inget
        almarhum ayah yang sepanjang hidupnya memang kayaknya cuma kenal teh
        sebagai satu-satunya jenis minuman... Tapi kebetulan setting nge-teh
        keluarga kami tak seromantis itulah, hehehe. Anyway, thanks for
        sharing such a beautiful tea story!

        Meskipun belum lama saya kenalan dengan teh dan cerita-cerita seru
        dan unik di baliknya (tak lama setelah kenal dengan Ratna dari Tea
        Gallery :) thanks a bunch!), tapi saya suka sekali mencoba (minum
        ataupun membuat) jenis-jenis teh --atau wedhangan--
        dan "memperkenalkan" dengan teman-teman... Jadwal minumnya juga ngga
        pasti. Sekenanya. Seasyiknya aja... (maaf kalau kebiasaan ini
        ternyata melanggar peraturan, ya.)

        Salam,
        Frisca



        --- In pecinta_teh@yahoogroups.com, "laresolo" <laresolo@...> wrote:
        >
        > Dear para pecinta teh,
        > Untuk postingan perdana berikut saya repost tulisan lama saya,
        mudah-
        > mudahan bisa inspiring anda semua. Teh bukan hanya sekedar
        dinikmati
        > karena rasa dan aroma, tetapi lebih dari itu teh juga merupakan
        > produk budaya. Masing-masing negara memiliki budaya minum tehnya
        > sendiri-sendiri. Demikian juga masing-masing keluarga tentu
        memiliki
        > kebiasaan minum teh masing-masing. Sebagai perkenalan, saya repost
        > kebiasaan minum teh keluarga saya. Saya harap teman-teman juga
        dapat
        > menuliskan hal yang sama.
        >
        > Berikut tulisan tersebut :
        >
        >
        > Afternoon tea adalah ritual minum teh sore hari yang sangat populer
        > di Inggris. Walaupun sebenarnya tradisi ini merupakan adaptasi dari
        > ritual upacara minum teh di Jepang, tetapi keduanya memiliki
        > perbedaan yang mendasar. Di Jepang ritual tersebut dipengaruhi oleh
        > unsur keagamaan Budha Zen, sedangkan di Inggris tradisi tersebut
        > lebih merupakan gaya hidup yang pada awalnya diselenggarakan oleh
        > para nyonya rumah dengan mengundang teman-teman mereka untuk minum
        > sekitar jam 4 sore. Biasanya minuman teh dicampur dengan susu dan
        > ditemani dengan beberapa macam sandwich. Persamaannya, kedua ritual
        > tersebut diselenggarakan oleh para nyonya rumah. Jadi yang
        > menyiapkan dan menghidangkan teh adalah Nyonya rumah.
        >
        > Pada awalnya, minum teh di Inggris hanya dilakukan di coffe-coffe
        > house, sehingga hanya mereka yang berduit saja yang mampu
        > melakukannya. Dengan makin popularnya teh, membuat Thomas Twinning,
        > salah seorang pedagang teh di Inggris, mulai menjual teh kering
        > sehingga bisa disimpan para nyonya rumah yang tidak memiliki banyak
        > kesempatan untuk pergi ke coffe house dan dapat menikmati teh
        > tersebut di rumah setiap saat.
        >
        > Sejarah tradisi Afternoon tea dipelopori oleh Puteri Anna Russel,
        > salah seorang bangsawan Inggris yang hidup pada masa 1783-1857.
        > Pada saat itu, dia merasa lapar, tetapi waktu masih menunjukkan
        > pukul lima sore, dan makan malam masih sekitar dua jam kemudian.
        > Mungkin karena terlalu lapar untuk menunggu makan malam, dia
        > mendapatkan ide untuk menyuruh kepala pelayannya mengantar teh dan
        > beberapa roti ke ruangannya. Semenjak itulah dia mulai mengundang
        > teman-temannya untuk datang ke ruang tamunya untuk minum teh dan
        > makan roti bersama pada event-event tertentu
        >
        >
        > Sejarah tradisi minum teh di keluarga saya dipelopori siapa lagi
        > kalau bukan ibu saya sendiri. Beliau yang menjadi host, dan tamu-
        > tamunya adalah suami dan anak-anaknya. Bahkan tradisi minum teh
        > telah dimulai dari pagi hari.
        >
        >
        >
        > Saya ingat betul setiap hari ibu selalu bangun pagi buta. Setelah
        > selesai sholat subuh, ibu langsung `nggodhog wedang'. Ini
        sebenarnya
        > sebuah bahasa yang hyperbolic. Nggodok artinya masak. Sedangkan
        > wedang berarti air minum yang sudah dimasak. Wedang teh, wedang
        > jahe, wedang ronde, semua adalah air yang sudah siap dan layak
        > diminum. Jadi kalau diterjemahkan, nggodhog wedang adalah memasak
        > air minum yang sudah dimasak. Wah, mbulet banget.
        >
        >
        > Tempat menyeduh teh disebut porong, yaitu sebuah teko yang terbuat
        > dari semacam campuran besi dan aluminium. Saya tidak tahu pasti
        > material yang dipakai. Tidak ada ritual atau cara-cara khusus untuk
        > menyeduh teh. Setelah teh selesai diseduh dengan air panas, porong
        > ditutup dengan tutup yang berbentuk bantal. Ya, bentuknya memang
        > mirip sekali dengan bantal karena memakai kapuk yang dibungkus
        kain.
        > Ibu biasanya membuat sendiri tutup porong tersebut. Tujuannya agar
        > teh yang diseduh tetap awet panas. Tentu saja kami belum kenal
        > dengan apa yang namanya warmer. Teh yang sering digunakan ibu
        adalah
        > teh 999 atau teh cap sepeda balap. Kadang-kadang teh gopek.
        >
        >
        > Setiap bangun pagi, di meja makan pasti sudah tersedia gelas teh
        > yang masing-masing gelas memiliki warna tutup yang berbeda. "Le,
        > iki wedange le", begitu sapa ibu setiap membangunkan saya. Biasanya
        > ibu akan menunjukkan gelas mana yang punya saya, dan gelas mana
        yang
        > punya bapak atau kakak. Sebagai teman minum pasti sudah tersedia
        > tempe goreng dan beberapa cabe rawit. Karena kebetulan tetangga
        > sebelah rumah yang memproduksi tempe tersebut, ibu selalu pesan
        > tempe yang belum jadi. Yaitu tempe yang belum sempurna proses
        > peragiannya sehingga butiran kedelai masih tampak nyata. Selain
        > tempe yang selalu tersedia adalah kerupuk pasar yang berwarna merah
        > muda atau kuning. Terkadang tersedia juga karak, yaitu kerupuk dari
        > gendar. Kerupuk memang tidak pernah hilang dalam kuliner keluarga
        > saya. Bahkan tukang kerupuk sempat meminjamkan blek atau kaleng
        > kerupuk yang berbentuk kotak dari seng dengan tutup bulat macam
        > topi, dan satu sisi memiliki kaca tembus pandang. Karak disimpan
        > dalam lodhong atau toples kaca berbentuk silider dan bertup bulat .
        > Gurih tempe, dipadu pedas rawit, disusul kriuk kerupuk kemudian
        > digelontor teh melati manis. HmmÂ…nikmat sekali.
        >
        >
        > Itu baru menu pembukaan makan pagi. Setelah itu biasanya tersaji
        > pondoh pecel, yaitu semacam gendar tetapi digunakan santan sebagai
        > pengganti bleng. Selain itu juga tersedia pecel bongko yang terbuat
        > dari kedelai. Itu baru appetizer semacam salad. Main coursenya
        > adalah nasi putih dengan lauk tumis kulit melinjo dan tentu saja
        > tempe goreng dan kerupuk.
        >
        >
        >
        > Ritual minum teh tersebut akan berulang lagi pada sore harinya dan
        > yang pasti tidak ketinggalan sebagai teman adalah tempe goreng dan
        > kerupuk. Ritual minum teh sore biasanya dilanjutkan dengan
        mengobrol
        > ringan di meja makan sampai tiba waktu magrib. Selesai Sholat, kami
        > kembali ke meja makan untuk makan malam.
        >
        >
        >
        > Hingga kini, setiap kami pulang kampung, dalam kerentaannya, dengan
        > tertatih-tatih ibu masih saja menyediakan teh buat anak-anaknya.
        > Padahal kami sudah besar semua. Punya anak dan istri masing-masing.
        > Bahkan ibu sudah punya buyut, tetapi ibu tetap merasa itu adalah
        > sebuah kewajiban dalam menunjukkan cinta kasihnya terhadap
        keluarga.
        > Beliau merasa bahwa jabatan sebagai host dalam tradisi minum teh
        > keluarga tidak tergantikan. Teh untuk cinta.
        >
        > Salam,
        >
        > Bambang
        >
      • laresolo
        Hai Frisca, Kenapa merasa melanggar peraturan? Tetapi benar, minum teh memang lebih enak dinikmati bersama teman-teman. Salam, Bambang ... ngga
        Message 3 of 9 , Jun 24, 2007
        View Source
        • 0 Attachment
          Hai Frisca,
          Kenapa merasa melanggar peraturan? Tetapi benar, minum teh memang
          lebih enak dinikmati bersama teman-teman.

          Salam,

          Bambang


          --- In pecinta_teh@yahoogroups.com, "friscasaputra"
          <yungkiemootie@...> wrote:
          >
          > Hai Mas Bambang...
          >
          > Salam kenal juga, ya, buat semua pecinta teh lainnya.
          >
          > Meskipun belum lama saya kenalan dengan teh dan cerita-cerita seru
          > dan unik di baliknya (tak lama setelah kenal dengan Ratna dari Tea
          > Gallery :) thanks a bunch!), tapi saya suka sekali mencoba (minum
          > ataupun membuat) jenis-jenis teh --atau wedhangan--
          > dan "memperkenalkan" dengan teman-teman... Jadwal minumnya juga
          ngga
          > pasti. Sekenanya. Seasyiknya aja... (maaf kalau kebiasaan ini
          > ternyata melanggar peraturan, ya.)
          >
          > Salam,
          > Frisca
          >
          >
          >
          > --- In pecinta_teh@yahoogroups.com, "laresolo" <laresolo@> wrote:
          > >
          >
          >
        • Ratna Somantri
          Halo Frisca dan pecinta teh, Saya jg setuju sekali dgn Frisca dan Pak Bambang, minum teh kalau sendirian rasanya aneh. Entah kenapa teh terasa lebih nikmat
          Message 4 of 9 , Jun 24, 2007
          View Source
          • 0 Attachment
            Halo Frisca dan pecinta teh,

            Saya jg setuju sekali dgn Frisca dan Pak Bambang, minum teh kalau sendirian rasanya aneh. Entah kenapa teh terasa lebih nikmat jika dinikmati bersama teman atau keluarga.

            Mengenai aturan minum teh, buat saya, tidak ada aturan yang membatasti cara kita menikmati teh... Setiap orang punya selera dan kebiasaan sendiri dalam menikmati teh. Budaya minum teh di beberapa tempat sangatlah unik, justru itulah yang membuat saya jatuh cinta dengan teh. Minum teh sudah menjadi kebudayaan tersendiri untuk beberapa negara. Seperti kung fu cha ala China, teh campur beras dan butter di tibet dan mongolia, teh tarik, teh susu ala india, afternoon tea ala inggris sampai teh poci ala Tegal. Jadi menurut saya, jangan khawatir untuk merasa menyalahi aturan dalam minum teh, yang penting kita merasa relax, kepenatan hilang, dan lebih sehat setelah minum teh...

            Mengenai aturan minum teh (suhu, air, cara menyeduh dll) itu baru berlaku jika kita ingin menikmati teh dengan kualitas tinggi, karena jika kita salah menyeduhnya, teh yang berkualitas tinggi (yang tentu saja harganya jg cukup tinggi) tidak akan terasa bedanya dengan teh yg biasa2 saja. Orang Tibet dan Mongolia biasa mengkonsumsi pu erh tea dengan cara merebusnya bersama beras kemudian ditambahkan susu dan mentega asin. Itu sah2 saja, karena budayanya memang begitu, justru orang yang pergi kesana merasa tidak lengkap jika tidak pernah minum teh ini. Tetapi pu erh tea yang mereka gunakan adalah yg grade nya biasa saja (biasanya dalam bentuk brick tea), kalau mereka menyeduh 30 years old naturally fermented wild pu erh tea yang harganya puluhan juta satu kg nya tentu akan sangat sayang jika menyeduhnya dengan cara tersebut... Karena keunikan rasa dan aroma teh tersebut akan hilang, tidak ada bedanya dengan teh yang biasa2 saja.

            Cheers,

            Ratna

            "Strange how a teapot can represent at the same time the comforts of solitude and the pleasures of company."

            author unknown


            ----- Original Message -----
            From: laresolo
            To: pecinta_teh@yahoogroups.com
            Sent: Monday, June 25, 2007 8:26 AM
            Subject: [pecinta_teh] Re: Tradisi minum teh keluarga saya


            Hai Frisca,
            Kenapa merasa melanggar peraturan? Tetapi benar, minum teh memang
            lebih enak dinikmati bersama teman-teman.

            Salam,

            Bambang

            --- In pecinta_teh@yahoogroups.com, "friscasaputra"
            <yungkiemootie@...> wrote:
            >
            > Hai Mas Bambang...
            >
            > Salam kenal juga, ya, buat semua pecinta teh lainnya.
            >
            > Meskipun belum lama saya kenalan dengan teh dan cerita-cerita seru
            > dan unik di baliknya (tak lama setelah kenal dengan Ratna dari Tea
            > Gallery :) thanks a bunch!), tapi saya suka sekali mencoba (minum
            > ataupun membuat) jenis-jenis teh --atau wedhangan--
            > dan "memperkenalkan" dengan teman-teman... Jadwal minumnya juga
            ngga
            > pasti. Sekenanya. Seasyiknya aja... (maaf kalau kebiasaan ini
            > ternyata melanggar peraturan, ya.)
            >
            > Salam,
            > Frisca
            >
            >
            >
            > --- In pecinta_teh@yahoogroups.com, "laresolo" <laresolo@> wrote:
            > >
            >
            >





            [Non-text portions of this message have been removed]
          • tsetjie@yahoo.com
            Dear Pencinta Teh, Sebenarnya di tradisi keluarga tidak ada ritual dalam minum teh seperti yg tradisi Mas Bambang atau lainnya. Tapi waktu saya masih berumur
            Message 5 of 9 , Jun 25, 2007
            View Source
            • 0 Attachment
              Dear Pencinta Teh,

              Sebenarnya di tradisi keluarga tidak ada ritual dalam minum teh seperti yg tradisi Mas Bambang atau lainnya.
              Tapi waktu saya masih berumur 10 tahun saya melihat Om saya menyediakan perangkat teh di meja tamunya dan biasanya selalu melakukan minum teh pada saat kawan nya datang atau sehabis makan, dan kebetulan tradisi ini tidak menurun ke generasi berikutnya.

              Setelah melihat dan membaca ritual minum teh saya jadi sangat tertarik, karena acara minum teh merupakan acara yg sangat positif karena bisa menjalin keakraban baik keluarga maupun teman.

              Saya sangat setuju dengan pendapat Ibu Ratna bahwa acara minum teh serasa lebih nikmat kalau dinikmati bersama karena kita bisa bertukar pikiran tentang teh yg kita nikmati juga tentang hal-hal yg lain yg membuat suasana lebih menyenangkan.

              Saya juga minta pendapat kepada penikmat teh hijau yaitu sebaiknya dinikmati pada pagi, siang atau malam hari. Karena saya mempunyai pengalaman kalau minum di atas jam 8 malam, maka mempengaruhi pola tidur saya yaitu saya baru bisa tidur setelah jam 2 pagi sehingga ujung-ujungnya kurang tidur.

              Regards

              Se Tjie



              ----- Original Message ----
              From: Ratna Somantri <kyra@...>
              To: pecinta_teh@yahoogroups.com
              Sent: Monday, June 25, 2007 12:15:26 PM
              Subject: Re: [pecinta_teh] Re: Tradisi minum teh keluarga saya

              Halo Frisca dan pecinta teh,

              Saya jg setuju sekali dgn Frisca dan Pak Bambang, minum teh kalau sendirian rasanya aneh. Entah kenapa teh terasa lebih nikmat jika dinikmati bersama teman atau keluarga.

              Mengenai aturan minum teh, buat saya, tidak ada aturan yang membatasti cara kita menikmati teh... Setiap orang punya selera dan kebiasaan sendiri dalam menikmati teh. Budaya minum teh di beberapa tempat sangatlah unik, justru itulah yang membuat saya jatuh cinta dengan teh. Minum teh sudah menjadi kebudayaan tersendiri untuk beberapa negara. Seperti kung fu cha ala China, teh campur beras dan butter di tibet dan mongolia, teh tarik, teh susu ala india, afternoon tea ala inggris sampai teh poci ala Tegal. Jadi menurut saya, jangan khawatir untuk merasa menyalahi aturan dalam minum teh, yang penting kita merasa relax, kepenatan hilang, dan lebih sehat setelah minum teh...

              Mengenai aturan minum teh (suhu, air, cara menyeduh dll) itu baru berlaku jika kita ingin menikmati teh dengan kualitas tinggi, karena jika kita salah menyeduhnya, teh yang berkualitas tinggi (yang tentu saja harganya jg cukup tinggi) tidak akan terasa bedanya dengan teh yg biasa2 saja. Orang Tibet dan Mongolia biasa mengkonsumsi pu erh tea dengan cara merebusnya bersama beras kemudian ditambahkan susu dan mentega asin. Itu sah2 saja, karena budayanya memang begitu, justru orang yang pergi kesana merasa tidak lengkap jika tidak pernah minum teh ini. Tetapi pu erh tea yang mereka gunakan adalah yg grade nya biasa saja (biasanya dalam bentuk brick tea), kalau mereka menyeduh 30 years old naturally fermented wild pu erh tea yang harganya puluhan juta satu kg nya tentu akan sangat sayang jika menyeduhnya dengan cara tersebut... Karena keunikan rasa dan aroma teh tersebut akan hilang, tidak ada bedanya dengan teh yang biasa2 saja.

              Cheers,

              Ratna

              "Strange how a teapot can represent at the same time the comforts of solitude and the pleasures of company."

              author unknown

              ----- Original Message -----
              From: laresolo
              To: pecinta_teh@ yahoogroups. com
              Sent: Monday, June 25, 2007 8:26 AM
              Subject: [pecinta_teh] Re: Tradisi minum teh keluarga saya

              Hai Frisca,
              Kenapa merasa melanggar peraturan? Tetapi benar, minum teh memang
              lebih enak dinikmati bersama teman-teman.

              Salam,

              Bambang

              --- In pecinta_teh@ yahoogroups. com, "friscasaputra"
              <yungkiemootie@ ...> wrote:
              >
              > Hai Mas Bambang...
              >
              > Salam kenal juga, ya, buat semua pecinta teh lainnya.
              >
              > Meskipun belum lama saya kenalan dengan teh dan cerita-cerita seru
              > dan unik di baliknya (tak lama setelah kenal dengan Ratna dari Tea
              > Gallery :) thanks a bunch!), tapi saya suka sekali mencoba (minum
              > ataupun membuat) jenis-jenis teh --atau wedhangan--
              > dan "memperkenalkan" dengan teman-teman. .. Jadwal minumnya juga
              ngga
              > pasti. Sekenanya. Seasyiknya aja... (maaf kalau kebiasaan ini
              > ternyata melanggar peraturan, ya.)
              >
              > Salam,
              > Frisca
              >
              >
              >
              > --- In pecinta_teh@ yahoogroups. com, "laresolo" <laresolo@> wrote:
              > >
              >
              >

              [Non-text portions of this message have been removed]






              ____________________________________________________________________________________
              Bored stiff? Loosen up...
              Download and play hundreds of games for free on Yahoo! Games.
              http://games.yahoo.com/games/front

              [Non-text portions of this message have been removed]
            • laresolo
              Dear Pak Se Tjie dan para Pecinta teh, Ketika saya posting tulisan tersebut di jalan sutra, ada salah satu teman ada yang mengatakan tradisi tersebut dapat
              Message 6 of 9 , Jun 25, 2007
              View Source
              • 0 Attachment
                Dear Pak Se Tjie dan para Pecinta teh,
                Ketika saya posting tulisan tersebut di jalan sutra, ada salah satu
                teman ada yang mengatakan tradisi tersebut dapat saya teruskan, saya
                sempat termangu. Kemudian teman lain memberi komentar yang very
                inspiring: Tradisi itu diciptakan.

                Memang tidak mudah. Apalagi merubah selera (nanti saya posting
                tulisan kedua tradisi tersebut). Merubah istri saya yang hanya bisa
                minum teh manis, sangat sulit. Walau dia sekarang tetap mencoba
                berpartisipasi minum teh yang saya seduh, tetapi kelihatan dia belum
                bisa menikmati. Apalagi anak Saya Raihan, yang masih usia tiga
                tahun, begitu kenal teh manis, sekarang gak mau lagi minum teh tanpa
                gula. At leat me start it.

                Kalau kebiasaan saya, pagi hari saya minum teh hitam. Siang jarang
                minum teh, kalau sempat teh hijau.
                Malah hari, sekitar jam 9an malahan saya selalu minum teh hijau 3
                teko.

                Sebenarnya semua teh mengandung Cafein, hanya kandungan Cafein teh
                hijau tidak sebesar teh hitam. Apalagi teh putih, kandungan
                cafeinnya malahan hampir nol. Saya sendiri tidak ada permasalahan
                antara minum teh dengan tidur, karena memang susah tidur .. ;-)
                Artinya minum teh atau tidak, saya tetap susah tidur. Pernah mencoba
                minum Camomile, hanya berhasil sekali. Setelah itu tidak terpengaruh
                lagi.

                Mengulang lagi apa yang pernah diterangkan mbak Ratna di Tea Galery,
                khasiat teh dibagi tiga bagian:

                Leher keatas (Teh hijau, teh hitam). Artinya membuat kita aware,
                segar.

                Bagian tengah (Teh Oolong), baik untuk Kolesterol

                Bagian Perut (gak tahu sampai ke bawah atau gak he..he...) Puerh.
                Baik buat pencernaan.

                Salam,

                Bambang




                --- In pecinta_teh@yahoogroups.com, tsetjie@... wrote:
                >
                > Dear Pencinta Teh,
                >
                > Setelah melihat dan membaca ritual minum teh saya jadi sangat
                tertarik, karena acara minum teh merupakan acara yg sangat positif
                karena bisa menjalin keakraban baik keluarga maupun teman.
                >
                > Saya juga minta pendapat kepada penikmat teh hijau yaitu sebaiknya
                dinikmati pada pagi, siang atau malam hari. Karena saya mempunyai
                pengalaman kalau minum di atas jam 8 malam, maka mempengaruhi pola
                tidur saya yaitu saya baru bisa tidur setelah jam 2 pagi sehingga
                ujung-ujungnya kurang tidur.
                >
                > Regards
                >
                > Se Tjie
                >
                >
                >
                >
                _____________________________________________________________________
                _______________
                > Bored stiff? Loosen up...
                > Download and play hundreds of games for free on Yahoo! Games.
                > http://games.yahoo.com/games/front
                >
                > [Non-text portions of this message have been removed]
                >
              • Ellen
                wah mas Bambang ini udah semakin ok punya nih ngejabarin teh asyik dibacanya neh ? saya setuju dh 2 macam tea yg tanin n kafein nya saya hampir boleh dikatakan
                Message 7 of 9 , Jun 25, 2007
                View Source
                • 0 Attachment
                  wah mas Bambang ini udah semakin ok punya nih ngejabarin teh asyik dibacanya
                  neh ? saya setuju dh 2 macam tea yg tanin n kafein nya saya hampir boleh
                  dikatakan sudah 1 tahun ini minum white tea 24 jam non stop walau kadang2
                  diselingi green tea disiang hari atau fruit tea.
                  mas mengenai teko atau tempat menyeduh tea Bodum memang mahal tetapi saya
                  dapat disogo persis gelas semua n tipis 1 literan harganya hanya sewkitar
                  150ribu deh tapi hati2 dg saringan yg ditengah itu perhatikan baik2 waktu
                  membelinya karena saya juga kawan saya kita mendapatkan ada retakan sedikit
                  pas digaris saringannya n saya bersyukur sekali dpt teko gelas tsb karena
                  cepat habis stoknya, tapi tuk bodum saya pernah dpt yg lagi discount dimetro
                  30% lumayan deh saya membeli gelas yg ada saringan ditengahnya itu coba deh
                  hunting mungkin di sogo plaza senayan atau tempat lain masih ada, nah
                  selamat berburu deh n good luck.


                  salam,

                  Ellen,

                  ----- Original Message -----
                  From: "laresolo" <laresolo@...>
                  To: <pecinta_teh@yahoogroups.com>
                  Sent: Monday, June 25, 2007 4:27 PM
                  Subject: [pecinta_teh] Re: Tradisi minum teh keluarga saya

                  Sebenarnya semua teh mengandung Cafein, hanya kandungan Cafein teh hijau
                  tidak sebesar teh hitam. Apalagi teh putih, kandungan cafeinnya malahan
                  hampir nol. Saya sendiri tidak ada permasalahan antara minum teh dengan
                  tidur, karena memang susah tidur .. ;-)
                  Artinya minum teh atau tidak, saya tetap susah tidur. Pernah mencoba minum
                  Camomile, hanya berhasil sekali. Setelah itu tidak terpengaruh lagi.

                  Mengulang lagi apa yang pernah diterangkan mbak Ratna di Tea Galery,
                  khasiat teh dibagi tiga bagian:

                  Leher keatas (Teh hijau, teh hitam). Artinya membuat kita aware,
                  Bagian tengah (Teh Oolong), baik untuk Kolesterol

                  Salam,

                  Bambang
                • Ratna Somantri
                  Dear Pak Se Tjie dan pecinta teh, Memang teh hijau utk yang tidak biasa akan menimbulkan susah tidur jika diminum malam hari. Tapi kalau buat saya sih tidak
                  Message 8 of 9 , Jun 25, 2007
                  View Source
                  • 0 Attachment
                    Dear Pak Se Tjie dan pecinta teh,

                    Memang teh hijau utk yang tidak biasa akan menimbulkan susah tidur jika diminum malam hari. Tapi kalau buat saya sih tidak masalah... Pak Bambang juga bisa minum 3 teko tiap malam katanya. Nah, jadi itu tergantung dari tubuh kita menerima teh hijau. Tetapi secara umum memang teh hijau bisa membuat susah tidur jika diminum malam hari. Teh hijau banyak diminum pada pagi dan siang hari karena membuat tubuh dan otak kita tetap terjaga untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Teh hijau buat saya paling enak diminum sore hari, saat sudah penat bgt dengan kesibukan kerja, secangkir sencha atau jasmine tea dari Fujian adalah favorite saya, terasa sangat menyegarkan.

                    Mengenai tradisi minum teh, sekarang tiap malam saya punya kewajiban untuk menyeduhkan teh untuk suami. Dulunya dia bukanlah peminum teh, tetapi sejak beristrikan saya, jadi tiap malam pasti minta dibuatkan teh. :) Teh yang biasa saya seduhkan, Long Jing, Sencha, Dung Ti Oolong atau Jasmine Tea yang merupakan kesukaannya. Dan dia masih bisa tidur dengan nyenyak padahal biasanya minum tehnya di atas pukul 9 malam.


                    Regards,

                    Ratna

                    ----- Original Message -----
                    From: tsetjie@...
                    To: pecinta_teh@yahoogroups.com
                    Sent: Monday, June 25, 2007 3:52 PM
                    Subject: Re: [pecinta_teh] Re: Tradisi minum teh keluarga saya


                    Dear Pencinta Teh,

                    Sebenarnya di tradisi keluarga tidak ada ritual dalam minum teh seperti yg tradisi Mas Bambang atau lainnya.
                    Tapi waktu saya masih berumur 10 tahun saya melihat Om saya menyediakan perangkat teh di meja tamunya dan biasanya selalu melakukan minum teh pada saat kawan nya datang atau sehabis makan, dan kebetulan tradisi ini tidak menurun ke generasi berikutnya.

                    Setelah melihat dan membaca ritual minum teh saya jadi sangat tertarik, karena acara minum teh merupakan acara yg sangat positif karena bisa menjalin keakraban baik keluarga maupun teman.

                    Saya sangat setuju dengan pendapat Ibu Ratna bahwa acara minum teh serasa lebih nikmat kalau dinikmati bersama karena kita bisa bertukar pikiran tentang teh yg kita nikmati juga tentang hal-hal yg lain yg membuat suasana lebih menyenangkan.

                    Saya juga minta pendapat kepada penikmat teh hijau yaitu sebaiknya dinikmati pada pagi, siang atau malam hari. Karena saya mempunyai pengalaman kalau minum di atas jam 8 malam, maka mempengaruhi pola tidur saya yaitu saya baru bisa tidur setelah jam 2 pagi sehingga ujung-ujungnya kurang tidur.

                    Regards

                    Se Tjie

                    ----- Original Message ----
                    From: Ratna Somantri <kyra@...>
                    To: pecinta_teh@yahoogroups.com
                    Sent: Monday, June 25, 2007 12:15:26 PM
                    Subject: Re: [pecinta_teh] Re: Tradisi minum teh keluarga saya

                    Halo Frisca dan pecinta teh,

                    Saya jg setuju sekali dgn Frisca dan Pak Bambang, minum teh kalau sendirian rasanya aneh. Entah kenapa teh terasa lebih nikmat jika dinikmati bersama teman atau keluarga.

                    Mengenai aturan minum teh, buat saya, tidak ada aturan yang membatasti cara kita menikmati teh... Setiap orang punya selera dan kebiasaan sendiri dalam menikmati teh. Budaya minum teh di beberapa tempat sangatlah unik, justru itulah yang membuat saya jatuh cinta dengan teh. Minum teh sudah menjadi kebudayaan tersendiri untuk beberapa negara. Seperti kung fu cha ala China, teh campur beras dan butter di tibet dan mongolia, teh tarik, teh susu ala india, afternoon tea ala inggris sampai teh poci ala Tegal. Jadi menurut saya, jangan khawatir untuk merasa menyalahi aturan dalam minum teh, yang penting kita merasa relax, kepenatan hilang, dan lebih sehat setelah minum teh...

                    Mengenai aturan minum teh (suhu, air, cara menyeduh dll) itu baru berlaku jika kita ingin menikmati teh dengan kualitas tinggi, karena jika kita salah menyeduhnya, teh yang berkualitas tinggi (yang tentu saja harganya jg cukup tinggi) tidak akan terasa bedanya dengan teh yg biasa2 saja. Orang Tibet dan Mongolia biasa mengkonsumsi pu erh tea dengan cara merebusnya bersama beras kemudian ditambahkan susu dan mentega asin. Itu sah2 saja, karena budayanya memang begitu, justru orang yang pergi kesana merasa tidak lengkap jika tidak pernah minum teh ini. Tetapi pu erh tea yang mereka gunakan adalah yg grade nya biasa saja (biasanya dalam bentuk brick tea), kalau mereka menyeduh 30 years old naturally fermented wild pu erh tea yang harganya puluhan juta satu kg nya tentu akan sangat sayang jika menyeduhnya dengan cara tersebut... Karena keunikan rasa dan aroma teh tersebut akan hilang, tidak ada bedanya dengan teh yang biasa2 saja.

                    Cheers,

                    Ratna

                    "Strange how a teapot can represent at the same time the comforts of solitude and the pleasures of company."

                    author unknown

                    ----- Original Message -----
                    From: laresolo
                    To: pecinta_teh@ yahoogroups. com
                    Sent: Monday, June 25, 2007 8:26 AM
                    Subject: [pecinta_teh] Re: Tradisi minum teh keluarga saya

                    Hai Frisca,
                    Kenapa merasa melanggar peraturan? Tetapi benar, minum teh memang
                    lebih enak dinikmati bersama teman-teman.

                    Salam,

                    Bambang

                    --- In pecinta_teh@ yahoogroups. com, "friscasaputra"
                    <yungkiemootie@ ...> wrote:
                    >
                    > Hai Mas Bambang...
                    >
                    > Salam kenal juga, ya, buat semua pecinta teh lainnya.
                    >
                    > Meskipun belum lama saya kenalan dengan teh dan cerita-cerita seru
                    > dan unik di baliknya (tak lama setelah kenal dengan Ratna dari Tea
                    > Gallery :) thanks a bunch!), tapi saya suka sekali mencoba (minum
                    > ataupun membuat) jenis-jenis teh --atau wedhangan--
                    > dan "memperkenalkan" dengan teman-teman. .. Jadwal minumnya juga
                    ngga
                    > pasti. Sekenanya. Seasyiknya aja... (maaf kalau kebiasaan ini
                    > ternyata melanggar peraturan, ya.)
                    >
                    > Salam,
                    > Frisca
                    >
                    >
                    >
                    > --- In pecinta_teh@ yahoogroups. com, "laresolo" <laresolo@> wrote:
                    > >
                    >
                    >

                    [Non-text portions of this message have been removed]

                    __________________________________________________________
                    Bored stiff? Loosen up...
                    Download and play hundreds of games for free on Yahoo! Games.
                    http://games.yahoo.com/games/front

                    [Non-text portions of this message have been removed]





                    [Non-text portions of this message have been removed]
                  • viniya.metta@indika.co.id
                    Hihihihi entah kenapa saya malah lebih seneng minum teh sendirian, sambil dengerin lagu, terus bengong....
                    Message 9 of 9 , Jun 27, 2007
                    View Source
                    • 0 Attachment
                      Hihihihi entah kenapa saya malah lebih seneng minum teh sendirian, sambil
                      dengerin lagu, terus bengong....


                      > Halo Frisca dan pecinta teh,
                      >
                      > Saya jg setuju sekali dgn Frisca dan Pak Bambang, minum teh kalau
                      > sendirian rasanya aneh. Entah kenapa teh terasa lebih nikmat jika
                      > dinikmati bersama teman atau keluarga.
                    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.