Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

TUHAN YESUS, INI OWE, A CONG

Expand Messages
  • Thomas Rudy Haryanto
    ... nanya nih. Kenapa sih Encek begitu gembira, dan selalu gembira, padahal
    Message 1 of 1 , Jul 1, 2003
    • 0 Attachment
      > TUHAN YESUS, INI OWE, A CONG....


      > Ini sebuah kisah nyata yang menarik dan menyentuh. Ada seorang laki2 paruh
      > baya, umur 50 tahunan.
      > Ia dipanggil A Cong (Ah Chong, ejaan Inggrisnya).
      > Miskin, tetapi jujur dan tekun. Kejujuran dan ketekunan itu mendapat
      > perhatian seorang pemilik toko material di daerah Glodok, Pinangsia,
      > Jakarta.

      > A Cong diangkat menjadi CEO(chief exec.officer)
      > atau penanggungjawab penuh toko tersebut.
      > Usaha material itu meraup sukses luar biasa.

      > Sedemikian sibuknya A Cong di toko itu melayani pembeli, sampai ia tak
      > sempat makan dengan teratur.
      > Bahkan tidak jarang ia makan sambil tetap melayani.

      > Tetapi, di tengah kesibukannya, setiap jam 12 siang ia menyempatkan diri
      > berlari ke sebuah gereja di dekat situ. Dan itu ia lakukan tiap hari,
      > sudah lebih dari tiga setengah tahun.

      > Sampai pada suatu hari kecurigaan seorang pastor memuncak! Ia telah
      > memperhatikan dan mengamati fenomena aneh ini di gerejanya. A Cong datang
      > di
      > pintu gereja, hanya berdiri saja, membuat tanda salib, lalu segera bablas
      > lagi.
      > Ritual itu setia dilakukan A Cong, tiap-tiap hari, itu-itu saja. Adakah
      > udang dibalik batu??? Jangan2 .....

      > Romo yang penasaran itu mencari kesempatan menghadang si A Cong, dan
      > bertanya tanpa basa-basi lagi:

      > "Maaf, Cek (panggilan menghormat bagi laki2 Cina), kenapa Encek saben ari
      > datang jam 12 begini, cuman bediri aja di pintu, bikin tanda salib, terus
      > cepet2 pergi?"
      > Kaget, si A Cong menjawab tersipu: "Hah?!... Lomo, owe ini olang sibuk,
      > owe punya waktu seliki, tapi owe seneng dateng kemali."

      > Jelas, Romo belum puas dan terus mendesak:
      > " Emangnya apa yang Encek lakukan di pintu gereja gitu?"
      > Jawab A Cong dengan polos: "Ngga ada apa2. Benel.
      > Owe cuman bilang ini doang:
      > "Tuhan Yesus, ini owe, A Cong. Uuudah."

      > Terbengong, hanya "Oh....!" yang bisa dilontarkan sang Romo. Dan A Cong
      > pun bergegas kembali ke tokonya.

      > Pada suatu hari A Cong sakit parah. Super sibuk dan makan sekenanya,
      > tidak teratur. Komplikasi penyakitnya cukup berat sehingga ia dilarikan ke
      > rumah sakit.
      > A Cong bukan orang kaya, maka ia menempati kamar kelas 3, satu kamar
      > dihuni 8 orang pasien.

      > Sejak masuknya A Cong, kamar itu menjadi ceria, penuh canda tawa. Tak
      > terasa 3 bulan sudah A Cong dirawat. Ia pun sembuh dan diperbolehkan
      > pulang.
      > Ia gembira, tentunya, tetapi teman2 sekamarnya bersedih.
      > Selama dirawat itu, semua sesama pasien dihiburnya.
      > A Cong setiap pagi menghampiri teman2 pasiennya, satu per satu, dan
      > menanyakan keadaan masing2.

      > Sayang, sekarang A Cong harus pulang dan kamar itu akan kembali sunyi.
      > Akhirnya salah seorang sesama pasien mencoba bertanya: "Eh Cek A Cong, mau
      nanya nih. Kenapa sih Encek begitu gembira, dan selalu gembira, padahal
      > penyakit Encek 'kan serius?"

      > Acong tercenung dan menjawab " saben ali yam lua welas, yah, ada olang
      > laki lambut gondlong dateng, megang wo punya kaki, dia bilang:
      > A Cong, ini aku, Yesus. Gimana owe nggak seneng, coba..."
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.