Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Pernyataan Sikap Goodreads Indonesia Tentang Pelarangan Buku

Expand Messages
  • Truly Rudiono
    PERNYATAAN SIKAP GOODREADS INDONESIA Pelarangan Buku & Penarikan Buku dari Peredaran Merugikan Pembaca dan Melanggar Hak Pembaca Pada 23 Desember 2009,
    Message 1 of 1 , Dec 29, 2009
      PERNYATAAN SIKAP GOODREADS
      INDONESIA
      Pelarangan
      Buku & Penarikan Buku dari Peredaran Merugikan Pembaca dan Melanggar Hak
      Pembaca


      Pada 23 Desember 2009,
      Kejaksaan Agung mengumumkan pelarangan lima judul buku yang dianggap
      ‘mengganggu ketertiban umum’, yakni pertama, Dalih Pembunuhan Massal Gerakan
      30 September dan Kudeta Suharto karya John Rosa. Kedua, Suara Gereja
      bagi Umat Tertindas: Penderitaan Tetesan Darah dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan
      di Papua Barat Harus Diakhiri karya Cocratez Sofyan Yoman. Ketiga, Lekra
      Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965 karya Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan. Keempat, Enam Jalan
      Menuju Tuhan karya Darmawan. Kelima, Mengungkap Misteri Keberagaman
      Agama karya Syahrudin Ahmad. Selain itu, di kurun waktu yang sama juga
      terjadi penarikan buku Membongkar Gurita Cikeas karya George Junus
      Aditjondro dari peredaran. Pelarangan dan penarikan buku ini merupakan satu
      dari banyak kejadian serupa dengan yang selama ini sudah seringkali terjadi di
      Indonesia.

      Di bawah Undang-Undang Nomor
      4/PNPS/1963 tentang pengamanan terhadap barang-barang cetakan dan pasal 30 (c)
      Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Pokok-Pokok Kejaksaan Republik
      Indonesia, sudah lebih daripada 2.000 buku pernah dilarang di Indonesia, mulai
      dari novel, studi sejarah, ajaran agama, buku-buku mengenai kontroversi
      sosial-politik, termasuk karya-karya tulis tentang gerakan sosial awal abad 20,
      teologi liberal, hingga naiknya Asia sebagai pusat kapitalisme global. (Laporan
      Human Rights Watch dalam "Academic Freedom in Indonesia: Dismantling
      Soeharto-Era Barriers", Book Censorship, hal. 58).

      Kita tidak lupa bahwa sebelum
      kejadian ini buku kisah perjalanan semacam The Naked Traveler karya
      Trinity pun pernah dilarang terbit. Penulis dan penerbitnya diharuskan
      Kejaksaan Agung menghapus tiga bab bila ingin buku itu diterbitkan lagi. Lalu
      pada 31 Oktober 2008, buku HM Misbach: Kisah Haji Merah karya Nor Hikmah
      juga ditarik dari peredaran setelah pihak kejaksaan merazia toko buku Gramedia
      Matraman, Jakarta Timur. Itu belum termasuk sejumlah buku lain yang sudah
      dilarang oleh Kejaksaan Agung sebelumnya, antara lain:
      · Tan
      Malaka: Pergulatan Menuju Republik,
      Vol. I karya Harry A. Poeze,
      · Di Bawah Lentera Merahkarya Soe Hok Gie,
      · Sang Pemulakarya
      Pramoedya Ananta Toer,
      · A Story of Indonesian Culturekarya Joebaar Ajoeb,
      · The Devious Dalang: Sukarno and the
      So-Called Untung Putschkarya Bambang S. Widjanarko,
      · Amerika Serikat dan Penggulingan
      Soekarnokarya Peter Dale Scott,
      · Primadosa: Wimanjaya dan Rakyat
      Indonesia Menggugat Imperium Soehartokarya Wimanjaya K. Liotohe,
      · Kehormatan Bagi yang Berhak: Bung Karno
      Tidak Terlibat G30S/PKIkarya Manai Sophiaan,
      · Nyanyi Sunyi Seorang Bisukarya Pramoedya Ananta Toer,
      · Memoar Oei Tjoe Tatkarya Oei Tjoe Tat.

      Hampir dapat dipastikan,
      selama Kejaksaan Agung masih memiliki kewenangan berdasarkan kedua UU yang
      berlaku, di masa depan pelarangan dan penarikan buku dari peredaran tidak akan
      berhenti.

      Menanggapi peristiwa
      pelarangan buku dan penarikan buku dari peredaran ini, kami berpandangan bahwa
      Kejaksaan Agung tidak perlu turut campur dengan mengambil tindakan-tindakan
      yang telah disebutkan di atas. Pelarangan buku dan penarikan buku dari
      peredaran telah merampas hak atas informasi yang merupakan bagian dari hak
      asasi para pembaca. Alasan yang diajukan Kejaksaan Agung bahwa pelarangan
      buku-buku ini dilakukan berdasarkan muatan di dalam buku, yang dianggap
      mengganggu ketertiban umum, tanpa penjelasan terbuka kepada masyarakat, kami
      pandang tidak memiliki argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Para
      pembacalah yang seharusnya memberikan penilaian tersebut karena para pembaca
      aktif telah mampu berpikir, memilih dan memilah sesuai dengan kepentingan
      masing-masing mana bacaan yang berguna dan mana yang mengganggu. Dalam
      pandangan kami, pola berpikir atau argumentasi yang menganggap bahwa masyarakat
      itu bodoh dan perlu dibimbing terus-menerus harus ditanggalkan karena sudah
      tidak relevan lagi. Kami juga berpandangan bahwa pelarangan buku dan penarikan
      buku dari peredaran hanya mengajarkan ketakutan dan kepicikan dalam menghadapi
      keberagaman pemikiran. Kalaupun ada yang tak setuju pada isi
      buku-buku tertentu, seharusnya pihak tersebut mempublikasikan pendapat
      tandingan bukan malahan melarang. Perlakukanlah
      buku sebagai komoditi intelektual dengan melakukan debat publik atas buku yang
      bersangkutan bila tidak berkenan.Biarlah masyarakat pembaca
      yang menilai buku mana yang lebih layak dipercaya isinya.

      Berdasarkan apa yang
      dikemukakan di atas, Goodreads Indonesia menyatakan sikap sebagai berikut:

      1. Menentang keras dan
      mendesak dihentikannya upaya-upaya pelarangan, pembatasan, pencekalan buku,
      penarikan buku dari peredaran yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung, karena
      tindakan itu telah merugikan pembaca dan melanggar hak atas informasi, yang
      merupakan bagian dari hak asasi para pembaca.

      2. Mendesak pencabutan
      kewenangan Kejaksaan Agung dalam pengamanan terhadap barang-barang cetakan dan
      dan pengawasan peredaran barang cetakan, sebagaimana tercantum dalam
      Undang-Undang Nomor 4/PNPS/1963 dan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004.

      3. Mendesak dikembalikannya
      fungsi pengawasan dan pengamanan kepada para pembaca karena pembaca aktif telah
      mampu berpikir, memilih dan memilah informasi dari buku-buku yang terbit.
      Biarkan kami, masyarakat pembaca aktif ini, yang menilai buku-buku yang kami
      baca, dan bukan Kejaksaan Agung.


      Jakarta, 30 Desember 2009


      Goodreads Indonesia
      http://www.goodreads.com/group/show/345.Goodreads_Indonesia
      mirror site: http://bacaituseru.blogspot.com

      email: goodreads.indonesia@...
      0813 1050 9220
      -


      Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang! Membuat tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.