Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

[partai-keadilan] 164) DEBAT CAPRES MENGANCAM MEGA Versus MEGA MENGANCAM REVOLUSI (Ha Ha Ha)

Expand Messages
  • Frangkie
    13 Oktober 1999 Debat Publik, Lagu Wajib Calon Presiden Garang saat menulis, grogi saat mengajukan pertanyaan. Ini, barangkali, tamsil yang tepat untuk
    Message 1 of 1 , Oct 12, 1999
      13 Oktober 1999

      Debat Publik, Lagu Wajib Calon Presiden


      Garang saat menulis, grogi saat mengajukan pertanyaan. Ini, barangkali,
      tamsil yang tepat untuk menggambarkan suasana debat publik dengan nara
      sumber Presiden BJ Habibie di Istana Negara, Jumat, pekan lalu. Pada
      sesi tanya jawab, sejumlah wartawan tampak grogi ketika mengajukan
      pertanyaan kepada Presiden BJ Habibie.

      Hal serupa, paling tidak, juga menimpa Tiur Tampubolon. Pembawa acara
      Pro dan Kontra di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) ini kelihatan
      grogi saat mengajukan pertanyaan. Tak mengherankan, tatkala ia bertanya,
      terselip ucapan because of bahkan aku.

      Tiur sendiri, sebelumnya menyatakan akan mengajukan pertanyaan yang
      disebutnya tajam. Ia memang bertanya mengenai berbagai isu yang merebak
      di DPR/MPR, di antaranya adalah soal money politics. Habibie sendiri
      yang banyak senyum malam itu, menilai pertanyaan Tiur tidak tajam. ''Ini
      biasa-biasa saja dik,'' ujar Presiden sambil tersenyum.

      Apa pun latar belakangnya, debat publik antara Presiden dengan wartawan
      adalah sebuah sejarah. Habibie sendiri menyadari hal itu. ''Anda kan
      tidak pernah membayangkan, bahwa 20 bulan lalu anda akan memiliki
      kesempatan seperti ini. Bertanya secara langsung kepada presiden, dalam
      suasana seperti ini,'' ujar Habibie pada acara yang ditayangkan langsung
      oleh RRI dan TVRI itu.

      Banyak kalangan yang memuji acara itu. Kalangan DPR menanggapi positif
      acara seperti itu dan mengharapkan siapapun presidennya di masa
      mendatang melakukan hal serupa. Namun, ada juga yang memprotes acara itu
      dan menuding sebagai kampanye politik Habibie menjelang pemilihan
      presiden.

      Pakar Politik Dr Indria Samego tak menampik sinyalemen bahwa debat
      publik yang dipandu Pemimpin Umum LKBN Antara Parni Hadi sebagai
      kampanye. ''Ini kampanye pak Habibie, karena ingin dekat dengan
      publik,'' kata Indria. Ia menanggapi positif acara itu dan berharap
      acara serupa dilakukan oleh tokoh lain. Apalagi, Presiden sendiri telah
      menyatakan TVRI terbuka untuk acara serupa yang melibatkan orang lain.

      Namun seorang pakar komunikasi melihat dari dimensi lain. ''Ini sebuah
      manuver cantik untuk meyakinkan publik bahwa debat calon presiden memang
      diperlukan,'' kata pengamat yang menolak disebut namanya ini. Pasalnya,
      acara itu muncul saat diskursus mengenai perlu tidaknya debat capres
      dilakukan. ''Dengan digelarnya debat publik, calon presiden yang menolak
      ada acara seperti itu akan jatuh reputasinya,'' kata pengamat tersebut.

      Dengan kata lain, debat publik merupakan tantangan terbuka kepada
      Megawati yang akan maju menjadi calon presiden untuk membuktikan diri
      kepada publik. Apakah ia layak atau tidak menjadi orang nomor satu di
      Indonesia.

      Debat publik, sesungguhnya bukan hal yang baru dalam proses pemilihan
      presiden di sejumlah negara. Di AS, misalnya, debat seperti ini
      berlangsung secara rutin. Artinya, debat tidak hanya sekali dilakukan.
      Selain digelar oleh jaringan televisi, sejumlah perguruan tinggi dan
      lembaga lain sering memprakarsai acara debat seperti ini.

      Lazimnya, seorang presiden akan memenuhi undangan itu. Pasalnya, sukses
      debat akan berpengaruh terhadap jajak pendapat tentang figur presiden
      pilihan publik. Hasil jajak pendapat tadi, umumnya, tak jauh berbeda
      dengan hasil pemilihan presiden.

      Tak mengherankan, sebelum ditetapkan sebagai calon presiden, seseorang
      akan melakukan persiapan khusus. Bill Clinton, misalnya. Bagi Clinton,
      berpidato atau beradu argumentasi adalah hal biasa. Namun beradu
      argumentasi dengan Dewan Partai atau kalangan pers merupakan sesuatu
      yang luar biasa.

      Tak mengherankan, menjelang penetapan dirinya sebagai calon presiden
      Partai Demokrat, Clinton melakukan persiapan khusus. The all president
      man nya Clinton memberi pelatihan khusus. Baik untuk menghadapi Dewan
      Partai, yang akan menentukan apakah ia layak menjadi presiden atau
      tidak. Serta kalangan pers, yang akan berpengaruh langsung atas
      pencalonan dirinya.

      ''Clinton membuat simulasi untuk acara jumpa pers,'' kata pakar
      Komunikasi Dr Indrawadi Tamin. Jumpa pers pertama, setelah ditetapkan
      sebagai calon presiden, akan berpengaruh besar terhadap nasib Clinton
      berikutnya. Indra melukiskan, hampir delapan jam the all president
      mannya mencecar dengan berbagai pertanyaan sebagaimana layaknya pers
      menghujani pertanyaan terhadap nara sumber. Pers di AS, kata Indra, ikut
      mempengaruhi peluang calon presiden. ''Sekali gagal menarik simpati
      pers, seorang calon akan menjadi sasaran tembak,'' paparnya.

      Pola seperti, tampaknya, yang akan dikembangkan di Indonesia. Gagasan
      itu sendiri muncul sejak menjelang pemilu lalu. Penggagasnya adalah Tim
      Universitas Gadjah Mada. Dalam sebuah konsep yang diajukan ke Sidang
      Istimewa MPR, November 1998, UGM mengusulkan pemnbaharuan politik. Salah
      satunya adalah perlunya debat calon presiden, untuk mengetahui bagaimana
      visi seorang calon presiden.

      Usulan itu, ternyata direspon secara signifikan oleh partai politik
      pemenang pemilu. Tim Tujuh--tim partai-partai politik, yang mengadakan
      pertemuan menjelang SU MPR 1999, mengusulkan debat presiden sebagai
      salah satu agenda pemilihan presiden. Usulan itupun dibahas di Panitia
      Ad Hoc II Badan Pekerja MPR. Majoritas anggota setuju perlunya calon
      presiden menyampaikan visi dan berdialog dengan anggota MPR sebelum
      mekanisme pemilihan.

      Namun, masih saja ada fraksi yang tak setuju dengan ide reformis tadi,
      yakni PDI Perjuangan. Tak jelas apa yang melatarbelakangi keberatan
      partai dengan logo Banteng Bulat ini. Faktor Megawati atau lantaran
      faktor lain.

      Anggota MPR F-PDIP Postdam Hutasoit menyatakan pihaknya tak keberatan
      apabila seorang capres diwajibkan menyampaikan visi dihadapan Sidang
      Paripurna MPR. Namun soal dialog dengan anggota MPR, Postdam menyatakan
      tak setuju. ''Kami setuju penyampaian visi, tetapi tidak untuk dialog.''
      Pihaknya belum sepakat melakukan dialog di SU MPR karena menyangkut apa
      yang disebutnya sebagai 'keakraban persidangan' yang belum mendukung
      untuk dilakukan dialog capres. Tetapi Postdam tidak secara tegas
      menyatakan apa yang dimaksud 'keakraban persidangan'.

      Bagi Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr Syafii Maarif, presiden harus seorang
      figur yang memiliki visi. ''Ini diperlukan dengan memperhatikan kondisi
      kita saat ini,'' kata Syafii. Untuk mengetahui bagaimana visi presiden
      itu sendiri hanya dimungkinkan melalui sebuah dialog, bukan sekadar
      pidato. Mana yang lebih penting sekarang, keakraban persidangan atau
      kepentingan bangsa dimasa depan?




      Republika
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.