Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Catper Merapi 23-24 September 2006

Expand Messages
  • kira
    JSN Presents Catatan Perjalanan Pendakian Merapi 23-24 September 2006 Peserta: 26 orang Pastelo (Pecinta Alam Stm Mikael Solo): 17 orang (Dicky, Marcel, Fany,
    Message 1 of 1 , Oct 1, 2006
    • 0 Attachment
      JSN Presents

      Catatan Perjalanan Pendakian Merapi 23-24 September 2006



      Peserta: 26 orang

      Pastelo (Pecinta Alam Stm Mikael Solo): 17 orang (Dicky, Marcel, Fany,
      Sandy, Markus, Fredy, Wahyu, Sojek, .)

      Kompensasser: 2 orang (Nita, Banar)

      Karyawan ATMI: 2 0rang (Kira, Sisca)

      Sanata Dharma: 5 orang (Ruli, Baba, Olivia, Daniel, Michael)



      Faith Amid The Ruins



      Hanya mereka yang percaya yang memiliki harapan.karena kepercayaan ini, satu
      persatu kekhawatiran dan tantangan dihadapi..Lava Merapi, Kubah runtuh, debu
      yang menyesakkan nafas, reruntuhan batu yang keras, asap tebal, rasa dingin
      yang menusuk kulit.semua menjadi bagian dari perjalanan kami



      Saat survey bertemu dengan para pendaki yang baru saja menginjakkan kaki di
      puncak Merapi, antusiasme kami semakin bertambah..Tak disangka bahwa Merapi
      sudah bisa didaki hingga puncak..Gunung ini adalah salah satu gunung paling
      aktif dan berbahaya di dunia.hingga sekarang masih saja mengeluarkan lava
      dan asap tebal ke arah Selatan dan Barat.tentu merupakan pengalaman
      eksistensial baru yang mengembangkan diri kami jika kami bisa mendaki dan
      menginjakkan kaki di puncaknya.letaknya tidak terlalu jauh dari Solo dan
      murah pula.



      Sesudah rapat, dengan semangat berkobar dan perasaan was-was.kami
      memutuskan untuk mendaki gunung Merapi tanggal 23-24 September 2006..Mengapa
      was-was? Salah satu hal yang paling berbahaya dari Gunung Merapi adalah
      longsornya kubah yang baru saja terbentuk.puncak Merapi senantiasa
      mengeluarkan lava baru yang akhirnya membentuk kubah baru.kadang bentuknya
      tidak beraturan kadang, cukup teratur..kubah baru ini belum begitu keras
      membeku..hingga goncangan bisa menimbulkan runtuhnya kubah.nah, teman-teman
      tentu ingat bahwa beberapa hari lalu terjadi gempa di pantai selatan 5,7
      skala richter.ngeri bukan seandainya saat di puncak tiba-tiba saja terjadi
      gempa yang dapat membuat kubah runtuh.



      Latihan fisik sudah disiapkan dua minggu sebelumnya.menarik juga, tiap kali
      ingin berkegiatan, kami selalu memberi warna kepada Kolese dengan latihan
      fisik bersama.sore hari rombongan orang muda berlari mengelilingi Karang
      Asem.bisa sekalian promosi cara hidup sehat dan juga pentingnya preparasi..



      Beberapa hal yang perlu kami perhatikan sebelum mendaki Merapi:

      1.. Merapi masih mengeluarkan lava dan asap tebal.dari jauh juga kami
      sudah bisa melihat asap hitam yang keluar dari kawahnya
      2.. tidak semua orang tua dan teman-teman siswa setuju bahwa Merapi adalah
      pilihan yang baik.
      3.. Tinggi Merapi bertambah karena terbentuknya kubah baru..dari 2900
      sekian menjadi 3000 meter lebih..
      4.. carreer tidak perlu dibawa.cukup bagpack.perjalanan hanya akan memakan
      waktu 4-5 jam..


      Sabtu 23 September 2006, Libur Awal puasa

      Pukul 4 sore, rombongan pertama berjumlah 9 orang Pastelo berangkat terlebih
      dahulu dengan bis umum (Solo-Boyolali 2500; Boyolali-Selo 5000).lebih baik
      sebelum pukul 6 sudah sampai di Boyolali, supaya bisa dapat bis..Pukul
      setengah enam, rombongan yang ikut mobil mengangkut tas dan 6 orang
      berangkat..ditambah dua orang dengan satu motor.

      Perjalanan melalui Boyolali dan kemudian Selo cukup lancar.(sekitar 45 km,
      2 jam)

      Sampai di Selo (1500 M) pukul 7 malam, pada saat malam takbiran.banyak
      orang sedang tarawih ...suasana sepi.di basecamp hanya kami sendiri.tak lama
      kemudian rombongan dari YKPN Yogya datang dengan motor (lima orang)..sesudah
      itu datang dua orang Pastelo dengan satu motor.sambil menunggu teman-teman
      dari Sadhar, kami membeli makanan di bawah..untung ada warung yang masih
      buka..

      Pukul 8.30 malam, teman-teman dari Sadhar datang dengan 3 motor.heboh
      sekali.dua orang cowok bule (Italia dan Jerman) mengendarai motor sambil
      berteriak-teriak ngeri.maklum jalan aspal cukup terjal dan cuaca dingin.satu
      orang perempuan dari Swiss berjalan kaki, karena motor tidak cukup
      kuat...tiga dari 5 teman Sadhar ini adalah orang asing dan calon doktor.
      ..mereka sedang belajar bahasa di lembaga bahasa Sadhar dan mengambil
      penelitian di Indonesia.



      Kami beristirahat di basecamp hingga pukul 11 malam.lalu segera
      packing.kemudian mengadakan briefing singkat yang harus dibuat dengan dua
      bahasa (Inggris dan Indonesia).maklum teman-teman dari Sadhar minim sekali
      vokab bahasa Indonesia..beberapa hal perlu ditekankan dalam briefing ini:

      1.. Mengingat pengalaman pendakian Sumbing dan semangat muda Pastelo, maka
      dilarang sama sekali untuk mendahului leader.(kelompok diharapkan senantiasa
      bersama sampai akhir).
      2.. mengingat puncak Merapi yang berbahaya..banyak batu rawan longsor, dan
      asap belerang.maka diharapkan untuk tidak mendaki puncak berurutan ..harus
      menjaga jarak dan tidak langsung dibelakang seseorang di depannya.


      Pukul 11.30 malam, kami berangkat dengan rombongan teman-teman dari
      YKPN..dan 3 orang dari Bali..

      Dari base camp menuju jalur masuk pendakian (New Selo) berjarak 15 menit
      berjalan kaki..jalanan masih beraspal dan menanjak curam.sampai di New
      Selo,.tak terduga, Ruli dari Sadhar memutuskan untuk tidak lanjut karena
      tidak kuat nafas.sepuluh menit kemudian.tambah satu lagi memutuskan tidak
      yakin untuk naik.Sisca terpaksa menemani Ruli di base camp sambil tidur di
      mobil.

      Perjalanan melalui jalan setapak yang berdebu dan cukup menanjak...dengan
      langkah pelan namun pasti, I sebagai leader memimpin rombongan..hanya dua
      orang dari rombongan yang sudah pernah mendaki Merapi: I n baba.dan itu pun
      terjadi tahun 2000.

      Sesekali kami berhenti untuk mengambil nafas. tinggal dua perempuan dalam
      rombongan kami: Nita dan Olivia.rombongan dari Sadhar mengusulkan untuk
      berjalan didepan.beberapa dari mereka tidak tahan dengan debu yang
      berterbangan karena langkah kaki kami.pengalaman yang sama terjadi di
      Sumbing bulan sebelumnya..beberapa orang mengambil jalan terlebih dahulu
      supaya tidak terkena debu..maklum musim kemarau..

      Pendakian cukup menyenangkan.walau sesekali agak diperlambat karena Nita
      yang masuk angin dan kelelahan.anak-anak Pastelo dengan disiplin tetap
      berada di belakang Leader..

      Langit cerah penuh dengan bintang.sesekali kami berhenti untuk menatap
      langit dan berharap akan melihat bintang jatuh..



      Minggu 24 September 2006, hari pertama puasa..

      Sekitar pukul 3 pagi, kita sudah sampai di area yang tinggi dan penuh dengan
      batu-batu dan pasir.4 orang anggota Pastelo berhenti untuk sholat dan buka
      puasa.senangnya.ini pertama kalinya mereka sholat dan buka puasa di gunung,
      diterangi oleh bintang-bintang...pada ketinggian ini, jalur menjadi lebih
      terbuka.tadi sebelumnya, kami melewati hutan pinus selama kurang lebih dua
      jam.lalu saat ini hanya ada pohon-pohon kecil dan batu-batu besar yang
      seringkali menghalangi jalan..beberapa kali kami berhenti untuk
      beristirahat.udara yang begitu dingin mendorong kami untuk segera membuat
      api.Daniel, Olivia dan Michael sudah mulai kedinginan (ndak kebayang orang
      Swiss juga merasa kedinginan)..tapi kita bersikeras untuk secepatnya menuju
      Pasar Bubrah dan beristirahat di sana sambil menunggu terang.

      Pukul 4 pagi kami tiba di Pasar Bubrah. segera mencari shelter.lalu kayu
      kering.menyalakan kompor dan membuat api.dengan nyala api yang kecil kami
      bertahan untuk mengusir dingin dari tubuh.masih satu jam lagi kami harus
      menanti matahari terbit..beberapa dari kami memasak indomie, dan air panas
      untuk membuat kopi..beberapa orang yang lain beristirahat tidur berusaha
      melupakan rasa dingin dan lelah..

      Pukul 5 pagi langit mulai berwarna kekuning-kuningan karena matahari mulai
      muncul di ufuk Timur.dan kami perlahan sudah mulai bisa melihat puncak
      Merapi yang curam, penuh dengan batu berwarna putih ..beberapa orang sudah
      mulai semangat berlari-lari menghangatkan badan sambil mengambil gambar
      kian kemari dengan kamera.



      Pasar Bubrah adalah suatu daerah lapang yang luas.di sebelah timur terdapat
      gunung Anyar (kalau dak salah) di sini kami bisa mendirikan tenda.ada banyak
      batu besar yang bisa dijadikan tempat berlindung dari angin.dari Pasar
      Bubrah menuju puncak diperlukan waktu satu jam lagi.biasanya pendaki akan
      mendirikan tenda di Pasar Bubrah sambil menunggu pagi.untuk menuju puncak
      yang berbahaya, kita diharapkan tidak membawa beban berat dan bisa melihat
      jalur dengan jelas...

      Menurut cerita, di Pasar bubrah, orang yang hening hatinya (kayak gue).akan
      bisa mendengar suara seperti ramai orang di pasar.tetapi secara ilmiah,
      katanya .Pasar Bubrah sebenarnya adalah pertemuan dua mata angin dari arah
      barat dan timur.pertemuan angin ini seringkali menimbulkan suara..



      Matahari semakin meninggi.udara menjadi lebih hangat.kekuatan mulai
      pulih.namun sayang sekali.Olivia, Daniel dan Michael memutuskan untuk segera
      turun.keliatannya mereka cukup ngeri melihat jalur puncak yang begitu terjal
      dan penuh dengan batu-batu besar yang rawan longsor.sebelumnya Baba sudah
      memutuskan pula untuk tidak lanjut..dan sebenarnya kelompok kami terbagi
      menjadi dua.beberapa dari kami masih ada di belakang dan belum terlihat
      juga.

      Pukul setengah 7, tiga orang, termasuk Banar mendahului naik ke
      puncak.mereka hanya membawa kamera, dan air minum..setengah jam kemudian, i
      dan 5 orang teman yang lain menyusul.Nita dan dua orang teman tetap
      dibawah.terlalu mengerikan katanya.lagipula Nita hanya memakai sandal
      jepit.tidak disarankan untuk memakai sandal jepit dijalur yang berbatu dan
      berpasir.



      Awal perjalanan menuju puncak diawali dengan melalui jalur penuh dengan
      batu-batu besar.sesudahnya jalan penuh dengan pasir dan batu-batu
      kecil.untuk menghindari longsoran.kami membuat jarak satu sama lain.berusaha
      supaya tidak berada di bawah pendaki yang berada di atasnya langsung.



      Ada satu pengalaman menarik: untuk mendaki dengan nyaman, baiknya jika kita
      mendaki di atas batu-batu yang cukup besar dan bisa menopang berat
      badan.mungkin karena itulah I mengambil jalan di sebelah kanan, yang memang
      banyak batu besar .dan untuk mendakinya tidak perlu harus terpeleset oleh
      kerikil atau pasir.tapi ternyata jalur sebelah kanan itu adalah jalur yang
      cukup berbahaya.semakin tinggi semakin banyak batu besar, dan batu-batu ini
      sangat rawan untuk longsor.ada saat ketika diri dihadapkan pada jalur naik
      yang curam dan jalur turun tiada pijakan.dua pilihan sama berbahayanya.
      untuk naik terlalu berbahaya.untuk turun juga terlalu berbahaya.akhirnya
      sambil merebahkan badan, I menuruni jalur, dengan harapan bisa pindah ke
      jalur sebelah kiri yang lebih aman,...batu-batupun mulai berjatuhan karena
      berat badan i...setelah turun beberapa meter..akhirnya dengan selamat sampai
      di jalur sebelah kiri.syukurlah (pengalaman eksistensial lagi.sama seperti
      waktu di Semeru,.Eko dan Nico pasti ingat)

      Di jalur sebelah kiri sudah terdapat jalur yang aman dan cukup kuat.antara
      batu satu dengan batu yang lain sudah direkatkan oleh alam dengan tanah
      liat yang bercampur dengan sulfur.memang alam itu baik hati.tanpa kami
      sadar, jalur sudah dibuat mudah karena tanah dan sulfur... setengah jam
      kemudian kami sampai di kawah.tiga orang sudah turun lebih dahulu, tidak
      berani untuk melanjutkan perjalanan.



      Kawah di Merapi dikelilingi oleh tebing-tebing batu yang rawan longsor..di
      bagian tertentu ada tali yang berusaha membatasi pendaki agar tidak turun ke
      kawah.kami harus mendaki lagi sekitar 30 meter untuk bisa sampai di puncak
      tertinggi..di atas puncak, ternyata tidak jauh berbeda dengan enam tahun
      lalu..ada satu lapangan yang cukup luas, dari sela-sela batunya keluar
      belerang dan asap.di sana juga terdapat tebing batu (bagian dari puncak
      Garuda), tempat I dahulu mengambil gambar.tebing batu ini masih berdiri
      miring ke arah kawah, dan rawan longsor..di seberangnya.sepertinya terdapat
      kubah baru dan kawah yang berwarna hijau karena belerang...dari dalamnya
      keluar asap tebal.

      Udara di puncak tidak terlalu dingin.sengatan matahari menghangatkan tubuh
      kami.dari puncak kami bisa melihat gunung Lawu, Merbabu, Sumbing dan Sindoro
      di kejauhan..langit cukup terang, sehingga kami bisa mengambil gambar dengan
      nyaman..

      Setelah kurang lebih dua puluh menit di puncak, kami turun.tidak ingin
      teman-teman di bawah menunggu terlalu lama.perjalanan menurun sama
      melelahkannya.panas matahari semakin menyengat, dan debu-debu berterbangan
      mengganggu pernafasan kami..

      Setengah jam kemudian kami sampai di Pasar Bubrah.setelah beristirahat dan
      mengambil gambar .kami segera packing dan turun .waktu sudah menunjukkan
      pukul setengah sembilan..kelompok yang kemarin tertinggal sudah sampai di
      Pasar Bubrah.dan mereka sedang beristirahat untuk mengumpulkan tenaga
      sebelum mendaki puncak..

      Perjalanan turun dari Pasar Bubrah menuju base camp cukup melelahkan.panas,
      berdebu, dan kaki sudah terasa sakit karena pendakian.sesekali kami berhenti
      untuk menghindari terik matahari yang panas.sesekali juga kami bertemu
      dengan pendaki lain yang juga hendak turun.awal puasa ini ternyata cukup
      banyak pendaki yang datang ke Merapi.sambil menuruni gunung, I dan satu
      teman lagi memunguti sampah-sampah kecil.tanda terima kasih kami kepada alam
      yang telah memperbolehkan kami mendaki gunung ini.



      Pukul 12.30, akhirnya kami sampai di base camp.beberapa teman langsung
      istirahat dan makan sambil menunggu yang lain.

      Teman-teman dari Sadhar sudah pulang terlebih dahulu.mereka hendak
      melanjutkan perjalanan ke Borobudur.pukul 4 sore, tiga teman pulang lebih
      dahulu untuk mengejar angkot yang semakin malam akan semakin jarang.pukul
      5.teman-teman yang dibelakang sudah sampai di basecamp.dan segera kami
      pulang..untuk kawan-kawan dari ATMI, keesokan harinya masih masuk seperti
      biasa.
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.