Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: llir - Ilir

Expand Messages
  • lentera_galaxy
    Menarik juga kupasan lagu ilir ilir ini. ada tafsiran soal lagu ini konon di ciptakan oleh sunan ampel lalu di syiarkan kembali oleh sunan kalijaga. mohon maaf
    Message 1 of 26 , Feb 28, 2006
    • 0 Attachment
      Menarik juga kupasan lagu ilir ilir ini.
      ada tafsiran soal lagu ini konon di ciptakan oleh sunan ampel lalu
      di syiarkan kembali oleh sunan kalijaga.

      mohon maaf apabila ada yg kurang berkenan atas tafsiran lagu ini:)

      copy paste dari sebuah web kondang.
      Point dari tiap bait.
      Ada 4 bait dari point tembang tersebut, yang secara umum menjelaskan
      hal-hal sebagai berikut:

      Bait pertama, membangkitkan Iman Islam.
      Bait kedua, perintah melaksanakan kelima rukun Islam.
      Bait ketiga, bertobat dan memperbaiki segala kesalahan, sebagai
      bekal untuk kembali kepadaNya.
      Bait terakhir, mengajak kita dan mengingatkan karena "mumpung" masih
      ada kesempatan.

      Kupasan Bait I
      Ilir-ilir Tandure wis Sumilir

      Ilir-ilir (Bangun.. bangun..) itu, berasal dari bahasa jawa yang
      artinya bangun atau terjaga dari tidur.

      Maksudnya disini, orang yang belum memeluk Islam dianggap sebagai
      sedang tidur, sehingga harus dibangunkan. Sedangkan yang sudah
      Islam, maka dianggap sudah sadar.

      Dalam bahasa modern-nya Lir-ilir bisa diartikan: Bangun..bangunlah..
      kealam pemikiran yang baru, yaitu agama Islam.

      Tandure wis sumilir (Benihnya sudah tumbuh).
      Maksudnya benih disini adalah benih iman, yang tentunya benih iman
      terhadap Islam. Secara hakikat Allah sudah mengisi setiap manusia
      dengan benih-benih kebaikan. Tinggal manusianya ada yang merawat dan
      ada juga yang mengacuhkannya.

      Bila benih ini dirawat dengan baik, maka akan tumbuh subur. Tinggal
      cara kita merawatnya sajalah yang akan menghasilkan buah yang enak
      dimakan nantinya.

      Cara merawatnya tentunya dengan memberinya pupuk dan makanan
      spiritual yang bersifat rohani, seperti: Membaca Al-Qur'an,
      Menghadiri Pengajian, Mendengarkan ceramah, membaca kitab2 dan hal-
      hal lainnya yang memang menunjang.

      Buah dari hasil perawatan ini, nantinya dapat kita nikmati dalam
      bentuk kebahagiaan dan keselamatan baik didunia maupun akhirat.

      bersambung..(kapan kapan kalo inget yak) :)

      Lentera

      --- In pangrango@yahoogroups.com, new tracker <begundalz_kecil@...>
      wrote:
      >
      > waaa..bleem...mmmm ko kon jadi mirip2 sama didi kempot ya??
      jangan2.....
      >
      > bleem <bleem@...> wrote: kirim aja textnya,
      > nanti baru di terjemahin ...
      >
      >
      >
      > new tracker wrote:
      > > perahu layar ae....sama ituu tu..apaan yaa mmmm......mendem
      wedo'an..hehehehe..
      > >
      > > Toto Togog <to2top@...> wrote: terjemahin stasiun
      balapan................hehehe
      > >
      > >
      > >
      > > bleem <bleem@...> wrote:
      > > itu bedanya jawa murtad dan jawa baik2 ..
      > > kawruh boso jowo ku dapat angka 8 lhohh...
      > > hehehe....mo minta terjemahin apa lagi ..
      > > dhandang gulo,
      > > serat centini
      > > babat lerboyo
      > > petungan ..
      > >
      > > kekekkeek..
      > >
      > >
      >
      >
      > website lama wajah baru
      > http://www.gunung.org
      > mari-mari bagi-bagi cerita euy.
      >
      >
      >
      >
      >
      > ---------------------------------
      > YAHOO! GROUPS LINKS
      >
      >
      > Visit your group "pangrango" on the web.
      >
      > To unsubscribe from this group, send an email to:
      > pangrango-unsubscribe@yahoogroups.com
      >
      > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of
      Service.
      >
      >
      > ---------------------------------
      >
      >
      >
      >
      >
      > ---------------------------------
      > Yahoo! Mail
      > Bring photos to life! New PhotoMail makes sharing a breeze.
      >
      > [Non-text portions of this message have been removed]
      >
    • Darth Vader
      Letusannya sih sudah sering dibahas. Tapi spekulasi tentang peradaban yang hilang sepertinya seru juga. Naga-naganya penemuan ini akan meramaikan perdebatan
      Message 2 of 26 , Mar 1 3:43 AM
      • 0 Attachment
        Letusannya sih sudah sering dibahas. Tapi spekulasi tentang peradaban
        yang hilang sepertinya seru juga. Naga-naganya penemuan ini akan
        meramaikan perdebatan klasik mengenai peradaban maju yang mendahului
        peradaban pertama di Mesopotamia.
        (http://www.undik.net/index.php?src=bgdl
        <http://www.undik.net/index.php?src=bgdl&data=artikel&tugas=lihat&artike
        l=00000084> &data=artikel&tugas=lihat&artikel=00000084) Sigurdsson ini
        orang Prancis atau Anglo-Saxon? Kalau orang Anglo-Saxon bisa lebih seru
        lagi, karena teori yang aneh-aneh biasanya datang dari Prancis (dataran
        Eropa) bukannya tradisi intelektual Anglo-Saxon (Inggris) yang
        berpedoman pada metode Francis Bacon. Asyik. Asyik....
        Makacih atas beritanya.
        - DV

        --- In <mailto:pangrango@yahoogroups.com> pangrango@yahoogroups.com,
        Reinhold Mester < <mailto:pendakibinal@...> pendakibinal@...> wrote:
        >
        > Hi guys, buat yang tertarik dengan letusan besar yang pernah terjadi
        di gunung Tambora, ini ada storynya, selamat membaca :)
        >
        >
        > also: Buried Indonesian village studied for volcanic clues
        >
        > Associated Press
        > February 28, 2006
        >
        > Scientists Claim to Find Lost Civilization
        >
        [...]
        >
        > The civilization on Sumbawa Island has intrigued researchers ever
        since Dutch
        > and British explorers visited in the early 1800s and were surprised to
        hear a
        > language that did not sound like any other spoken in Indonesia,
        Sigurdsson
        > said. Some scholars believe the language more closely resembled those
        spoken
        > in Indochina. But not long after Westerners first encountered Tambora,
        the
        > society was destroyed.
        >
        > "The explosion wiped out the language. That's how big it was,"
        Sigurdsson
        > said.
        > "But we're trying to get these people to speak again, by digging."
        >
        > Some of what the researchers found may suggest Tambora's inhabitants
        came
        > from Indochina or had commercial ties with the region, Sigurdsson
        said. For
        > example, ceramic pottery uncovered during the dig resembles that
        common to
        > Vietnam.
        >
        > John Miksic, an archaeologist at the National University of Singapore,
        has
        > seen video of the dig and said he believes Sigurdsson's team did find
        a
        > dwelling destroyed by the eruption.
        >
        > But he doubts the Tamborans were from Indochina or spoke a language
        from
        > that area. If Vietnamese-style ceramics reached the island, it was
        probably
        > through trade with intermediaries, Miksic said.
        >
        [...]
        >
        > ryan
        > "Altitude is the great equalizer"



        [Non-text portions of this message have been removed]
      • t u m p a l
        Hidup tempat pikniiiik!!!! Akhirnya ada juga yg nerusin gue....hahahaahaha.
        Message 3 of 26 , Mar 1 6:45 PM
        • 0 Attachment
          Hidup tempat pikniiiik!!!!
          Akhirnya ada juga yg nerusin gue....hahahaahaha.


          |-----Original Message-----
          |From: pangrango@yahoogroups.com
          |[mailto:pangrango@yahoogroups.com] On Behalf Of the analog kid
          |Sent: Tuesday, February 28, 2006 6:04 PM
          |To: pangrango@yahoogroups.com
          |Subject: [pangrango.com] Kampung Naga Akan Dibuka Kembali Re:
          |perlawanan komunitas adat naga - kompas
          |
          |gue rasa, meskipun dah ada islah dan akan dibuka kembali,warga
          |kampung naga tetep nga sepenuh hati kampung adatnya dijadiin
          |tempat piknik
          |
          |Kampung Naga Akan Dibuka Kembali
          |Koran Tempo, Selasa, 28 Februari 2006
          |
          |TASIKMALAYA - Penutupan Kampung Naga, Tasikmalaya, sejak bulan
          |lalu akan segera berakhir. DPRD Tasikmalaya berhasil
          |mempertemukan Kuncen Kampung Naga dengan Pemerintah Kabupaten
          |Tasikmalaya. Kini kesalahpahaman itu mencair dengan adanya
          |islah antara kedua pihak.
          |
          |Kesepakatan yang diambil adalah mengubah Peraturan Daerah
          |Retribusi mengenai Kampung Naga. Pemerintah Tasikmalaya juga
          |akan merespons usul warga Kampung Naga agar dibentuk Saung Budaya.
          |
          |Islah yang dimotori DPRD Kabupaten Tasikmalaya dengan
          |melibatkan Komisi IV pada 23 Februari lalu ini mempertemukan
          |kedua pihak untuk menyamakan persepsi. Pertemuan itu dihadiri
          |Kuncen Kampung Naga Ade Suherli dengan dua warga Kampung Naga,
          |Kepala Kantor Pariwisata Safari, dan semua anggota Komisi IV.
          |
          |Arifin, anggota Komisi IV DPRD Tasikmalaya, mengatakan,
          |persoalan yang muncul adalah akibat adanya penarikan retribusi
          |kepada pengunjung yang akan masuk Kampung Naga. Padahal warga
          |kampung tak setuju penarikan uang itu. Sebab, seolah-olah
          |warga Kampung Naga dianggap seperti tontonan.
          |
          |Dalam pertemuan disepakati segera akan diubah istilah dari
          |retribusi menjadi parkir biasa. "Jadi pungutan itu dilakukan
          |hanya untuk kebutuhan parkir," kata Arifin di gedung Dewan kemarin.
          |
          |Pihak DPRD ataupun Pemerintah Kabupaten juga merespons harapan
          |dan keinginan masyarakat Kampung Naga agar didirikan Saung Budaya.
          |Tempat ini nantinya akan dijadikan pusat informasi, pusat
          |perkembangan kesenian, ataupun pengenalan budaya warga Kampung
          |Naga kepada masyarakat luar.
          |
          |Ade Suherli, Kuncen Kampung Naga, mengatakan bahwa pihaknya
          |tak menuntut banyak kepada pemerintah Tasikmalaya. Namun,
          |pemerintah seharusnya menghormati keberadaan masyarakat
          |Kampung Naga. Dengan kejadian ini terkesan ada usaha
          |pemerintah menjadikan Kampung Naga sebagai target memperoleh
          |pendapatan asli daerah. "Anggaplah kami sebagai warga yang
          |memegang adat budaya yang perlu dilindungi, bukannya
          |komoditas," katanya. RAMBAT EKO
          |
          |--- In pangrango@yahoogroups.com, Reinhold Mester <pendakibinal@...>
          |wrote:
          |>
          |> Kami Bukan Aset atau Tontonan... "Kami bukan aset
          |pemerintah dan bukan pula tontonan. Pemerintah daerah tidak
          |berhak mengomersialkan kami semata-mata hanya demi peningkatan
          |pendapatan asli daerah alias PAD. Sebagai masyarakat adat,
          |harga diri kami telah terinjak-injak."
          |> Kata-kata tersebut terlontar dari mulut Ade Suherlin. Sorot mata
          |pria berperawakan kecil itu terlihat tajam. Sesekali ia
          |membuang pandangan dan menerawang ke ruang kosong, menandakan
          |adanya kegundahan sekaligus emosi yang terpendam.
          |> Pria berkumis tebal dan selalu memakai ikat kepala tersebut
          |adalah kuncen atau tokoh adat yang paling disegani di Kampung
          |Naga, Tasikmalaya, Jawa Barat. Dalam pemahaman Sa- Naga (warga
          |Naga), kuncen dianggap penjelmaan wong agung karuhun
          |(leluhur). Kata- katanya merupakan titah atau amanah yang
          |wajib dicermati dan dilaksanakan seluruh warga Naga.
          |> Beberapa hari belakangan ini kegundahan terlihat dari raut wajah
          |Ade Suherlin. "Mulai tanggal 6 (Februari) ini kami menutup
          |diri dari kegiatan wisata dan penelitian. Terutama yang
          |dilakukan secara rombongan. Selama ini kami merasa telah
          |dikomersialkan oleh pemkab (Tasikmalaya)," tuturnya ketika
          |ditemui di Kampung Naga, minggu pertama Februari lalu.
          |> Komentar keras tadi bagaikan petir di tengah teriknya matahari.
          |Warga Kampung Naga yang selama ini dikenal "diam" tiba- tiba
          |bersuara "keras".
          |> Sepanjang eksisnya Kampung Naga, menurut Warmia Wangsamihardja
          |(70)-peneliti sekaligus turunan Sa-Naga, pernyataan sikap itu
          |merupakan yang paling keras dan ekstrem yang pernah terlontar
          |dari warga Naga. "Harga diri warga Naga telah terusik.
          |Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya benar-benar telah melakukan
          |kesalahan fatal.
          |Bukan tanpa sebab mereka bersikap demikian," tuturnya.
          |> Menurut Ade Suherlin, warga Naga merasa dipojokkan dan diusik
          |harga dirinya atas beberapa kebijakan Pemkab Tasikmalaya yang
          |seolah- olah melegitimasikan kawasan Kampung Naga sebagai
          |daerah wisata dan ajang mengeruk keuntungan.
          |> "Kampung Naga bukan obyek wisata. Sikap keterbukaan kami kepada
          |pengunjung merupakan suatu bentuk komitmen untuk ikut
          |mencerdaskan dan menunjukkan kepada dunia bahwa masyarakat
          |adat pun mempunyai cara sendiri untuk bersikap arif," ujarnya.
          |> Retribusi parkir
          |> Permasalahan kian mencuat ketika tanpa seizin ataupun
          |pemberitahuan, Pemkab Tasikmalaya membuat kebijakan yang
          |menaikkan retribusi parkir. Retribusi parkir yang bisa
          |mencapai Rp 45.000 per bus besar itu dinilai sangat
          |memberatkan pengunjung. Yang jadi masalah, keluhan pengunjung
          |selalu saja salah alamat. Kekesalan dan umpatan kerap
          |ditujukan kepada warga Naga. Sa-Naga dianggap ikut berperan
          |atas keberadaan retribusi itu.
          |> "Kami merasa difitnah dan dikambinghitamkan. Padahal, jangankan
          |mendapat jatah, mengetahui saja pun tidak. Ini benar-benar
          |merusak nama baik kami selaku warga Naga," kata Ade dengan
          |nada sedikit geram.
          |> Warga Naga menolak daerah mereka dinyatakan sebagai obyek
          |wisata. Hal ini dikuatkan pula dengan peristiwa beberapa waktu
          |yang lalu. Ketika itu, sedikitnya 11 papan penunjuk arah jalan
          |yang bertuliskan "Daerah Wisata Kampung Naga" dicabut oleh
          |para warga Naga atas perintah sesepuh dan kuncen. Hal inilah
          |yang kemudian menjawab mengapa di sekitar Jalan
          |Tasikmalaya-Garut tidak dijumpai satu pun papan penunjuk ke
          |arah Kampung Naga.
          |> "Kami tidak akan pernah rugi apabila kampung kami tertutup dari
          |kegiatan pengunjung (wisatawan). Justru kami merasa akan lebih
          |tenang dan nyaman dalam menjalankan kehidupan. Itulah yang
          |kami kehendaki," ungkap Henhen, salah seorang tokoh adat Naga
          |yang lain.
          |> Dalam kesempatan berbeda, Kepala Kantor Pariwisata dan
          |Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya Safari Agustin menjelaskan
          |alasan diberlakukannya retribusi parkir yang tinggi itu.
          |Menurutnya, kawasan adat Kampung Naga adalah termasuk obyek
          |wisata yang khas.
          |> "Tokoh Naga menolak adanya pungutan-pungutan, termasuk retribusi
          |masuk. Untuk itu, kami terpaksa menggunakan cara yang berbeda
          |agar mendapatkan pemasukan. Retribusi masuk dimasukkan
          |sekaligus ke dalam karcis parkir," ucap Safari.
          |> Kebijakan itu, tertuang dalam Pasal 8 Peraturan Daerah Nomor 4
          |Tahun 2005 tentang Retribusi Tempat Rekreasi. Di dalam aturan
          |ini pulalah diatur secara rinci mengenai besarnya tarif
          |retribusi per golongan kendaraan.
          |> Permasalahannya, dalam proses pembuatan perda itu warga Naga
          |sama sekali tidak dilibatkan. Safari pun mengakui hal itu.
          |Pembuatan dan pelaksanaannya dilakukan tanpa sepengetahuan
          |warga Naga maupun kuncen. Ini yang menimbulkan sikap sinis
          |warga Naga lantaran mereka merasa tidak dihargai pemerintah.
          |> "Padahal kami selalu menghargai pemerintah sebagai negara.
          |Perintah negara selalu kami patuhi, seperti dalam hal agama
          |dan adat. Sejalan dengan pesan karuhun, kami harus menunjukkan
          |sikap taat kepada agama dan darigama (negara)," ucap Ade Suherlin.
          |> Dianggap aset
          |> Dari pandangan Pemkab Tasikmalaya, tatanan adat justru dinilai
          |menghambat kemajuan penataan kawasan Kampung Naga sebagai
          |obyek wisata. Dalam rencana tata ruang hasil studi kelayakan
          |yang diperoleh Kompas, Pemkab Tasikmalaya pernah berencana
          |memugar sebagian kawasan Kampung Naga guna mendongkrak dan
          |meningkatkan pelayanan terhadap wisatawan.
          |> Penataan, terutama untuk memperbaharui areal parkir. Memugar
          |toko-toko cenderamata dan tempat makan, membuat tempat
          |peristirahatan, dan memperbaiki infrastruktur jalan. Namun,
          |konsep yang telah digulirkan sejak 2002 itu belum terealisir.
          |Sementara dana bernilai ratusan juta rupiah sudah siap
          |dikeluarkan. Belum termasuk investasi dari swasta yang selalu
          |siap menanti.
          |> Namun, keteguhan hati warga Naga yang menang. Berprinsip pada
          |kesederhanaan hidup, mereka tetap keukeuh menjalankan tradisi
          |dengan nilai-nilai adat yang membentuk suatu identitas dan
          |kearifan lokal.
          |(d10)
          |>
          |>
          |>
          |> ryan
          |> "Altitude is the great equalizer"
          |> Send instant messages to your online friends
          |http://uk.messenger.yahoo.com
          |>
          |> [Non-text portions of this message have been removed]
          |>
          |
          |
          |
          |
          |
          |
          |website lama wajah baru
          |http://www.gunung.org
          |mari-mari bagi-bagi cerita euy.
          |
          |
          |Yahoo! Groups Links
          |
          |
          |
          |
          |
          |
        • hijjau
          hihihi enak jg yaa piknik disana pake pakaian ala bule2/turis2 wah om tumpie jd banyak penggemarnya tuch ... Budaya. ... kemarin. ... Budaya. ... mata ...
          Message 4 of 26 , Mar 1 11:17 PM
          • 0 Attachment
            hihihi
            enak jg yaa piknik disana
            pake pakaian ala bule2/turis2

            wah om tumpie jd banyak penggemarnya tuch

            --- In pangrango@yahoogroups.com, "t u m p a l" <tumpal@...> wrote:
            >
            > Hidup tempat pikniiiik!!!!
            > Akhirnya ada juga yg nerusin gue....hahahaahaha.
            >
            >
            > |-----Original Message-----
            > |From: pangrango@yahoogroups.com
            > |[mailto:pangrango@yahoogroups.com] On Behalf Of the analog kid
            > |Sent: Tuesday, February 28, 2006 6:04 PM
            > |To: pangrango@yahoogroups.com
            > |Subject: [pangrango.com] Kampung Naga Akan Dibuka Kembali Re:
            > |perlawanan komunitas adat naga - kompas
            > |
            > |gue rasa, meskipun dah ada islah dan akan dibuka kembali,warga
            > |kampung naga tetep nga sepenuh hati kampung adatnya dijadiin
            > |tempat piknik
            > |
            > |Kampung Naga Akan Dibuka Kembali
            > |Koran Tempo, Selasa, 28 Februari 2006
            > |
            > |TASIKMALAYA - Penutupan Kampung Naga, Tasikmalaya, sejak bulan
            > |lalu akan segera berakhir. DPRD Tasikmalaya berhasil
            > |mempertemukan Kuncen Kampung Naga dengan Pemerintah Kabupaten
            > |Tasikmalaya. Kini kesalahpahaman itu mencair dengan adanya
            > |islah antara kedua pihak.
            > |
            > |Kesepakatan yang diambil adalah mengubah Peraturan Daerah
            > |Retribusi mengenai Kampung Naga. Pemerintah Tasikmalaya juga
            > |akan merespons usul warga Kampung Naga agar dibentuk Saung
            Budaya.
            > |
            > |Islah yang dimotori DPRD Kabupaten Tasikmalaya dengan
            > |melibatkan Komisi IV pada 23 Februari lalu ini mempertemukan
            > |kedua pihak untuk menyamakan persepsi. Pertemuan itu dihadiri
            > |Kuncen Kampung Naga Ade Suherli dengan dua warga Kampung Naga,
            > |Kepala Kantor Pariwisata Safari, dan semua anggota Komisi IV.
            > |
            > |Arifin, anggota Komisi IV DPRD Tasikmalaya, mengatakan,
            > |persoalan yang muncul adalah akibat adanya penarikan retribusi
            > |kepada pengunjung yang akan masuk Kampung Naga. Padahal warga
            > |kampung tak setuju penarikan uang itu. Sebab, seolah-olah
            > |warga Kampung Naga dianggap seperti tontonan.
            > |
            > |Dalam pertemuan disepakati segera akan diubah istilah dari
            > |retribusi menjadi parkir biasa. "Jadi pungutan itu dilakukan
            > |hanya untuk kebutuhan parkir," kata Arifin di gedung Dewan
            kemarin.
            > |
            > |Pihak DPRD ataupun Pemerintah Kabupaten juga merespons harapan
            > |dan keinginan masyarakat Kampung Naga agar didirikan Saung
            Budaya.
            > |Tempat ini nantinya akan dijadikan pusat informasi, pusat
            > |perkembangan kesenian, ataupun pengenalan budaya warga Kampung
            > |Naga kepada masyarakat luar.
            > |
            > |Ade Suherli, Kuncen Kampung Naga, mengatakan bahwa pihaknya
            > |tak menuntut banyak kepada pemerintah Tasikmalaya. Namun,
            > |pemerintah seharusnya menghormati keberadaan masyarakat
            > |Kampung Naga. Dengan kejadian ini terkesan ada usaha
            > |pemerintah menjadikan Kampung Naga sebagai target memperoleh
            > |pendapatan asli daerah. "Anggaplah kami sebagai warga yang
            > |memegang adat budaya yang perlu dilindungi, bukannya
            > |komoditas," katanya. RAMBAT EKO
            > |
            > |--- In pangrango@yahoogroups.com, Reinhold Mester <pendakibinal@>
            > |wrote:
            > |>
            > |> Kami Bukan Aset atau Tontonan... "Kami bukan aset
            > |pemerintah dan bukan pula tontonan. Pemerintah daerah tidak
            > |berhak mengomersialkan kami semata-mata hanya demi peningkatan
            > |pendapatan asli daerah alias PAD. Sebagai masyarakat adat,
            > |harga diri kami telah terinjak-injak."
            > |> Kata-kata tersebut terlontar dari mulut Ade Suherlin. Sorot
            mata
            > |pria berperawakan kecil itu terlihat tajam. Sesekali ia
            > |membuang pandangan dan menerawang ke ruang kosong, menandakan
            > |adanya kegundahan sekaligus emosi yang terpendam.
            > |> Pria berkumis tebal dan selalu memakai ikat kepala tersebut
            > |adalah kuncen atau tokoh adat yang paling disegani di Kampung
            > |Naga, Tasikmalaya, Jawa Barat. Dalam pemahaman Sa- Naga (warga
            > |Naga), kuncen dianggap penjelmaan wong agung karuhun
            > |(leluhur). Kata- katanya merupakan titah atau amanah yang
            > |wajib dicermati dan dilaksanakan seluruh warga Naga.
            > |> Beberapa hari belakangan ini kegundahan terlihat dari raut
            wajah
            > |Ade Suherlin. "Mulai tanggal 6 (Februari) ini kami menutup
            > |diri dari kegiatan wisata dan penelitian. Terutama yang
            > |dilakukan secara rombongan. Selama ini kami merasa telah
            > |dikomersialkan oleh pemkab (Tasikmalaya)," tuturnya ketika
            > |ditemui di Kampung Naga, minggu pertama Februari lalu.
            > |> Komentar keras tadi bagaikan petir di tengah teriknya
            matahari.
            > |Warga Kampung Naga yang selama ini dikenal "diam" tiba- tiba
            > |bersuara "keras".
            > |> Sepanjang eksisnya Kampung Naga, menurut Warmia Wangsamihardja
            > |(70)-peneliti sekaligus turunan Sa-Naga, pernyataan sikap itu
            > |merupakan yang paling keras dan ekstrem yang pernah terlontar
            > |dari warga Naga. "Harga diri warga Naga telah terusik.
            > |Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya benar-benar telah melakukan
            > |kesalahan fatal.
            > |Bukan tanpa sebab mereka bersikap demikian," tuturnya.
            > |> Menurut Ade Suherlin, warga Naga merasa dipojokkan dan diusik
            > |harga dirinya atas beberapa kebijakan Pemkab Tasikmalaya yang
            > |seolah- olah melegitimasikan kawasan Kampung Naga sebagai
            > |daerah wisata dan ajang mengeruk keuntungan.
            > |> "Kampung Naga bukan obyek wisata. Sikap keterbukaan kami
            kepada
            > |pengunjung merupakan suatu bentuk komitmen untuk ikut
            > |mencerdaskan dan menunjukkan kepada dunia bahwa masyarakat
            > |adat pun mempunyai cara sendiri untuk bersikap arif," ujarnya.
            > |> Retribusi parkir
            > |> Permasalahan kian mencuat ketika tanpa seizin ataupun
            > |pemberitahuan, Pemkab Tasikmalaya membuat kebijakan yang
            > |menaikkan retribusi parkir. Retribusi parkir yang bisa
            > |mencapai Rp 45.000 per bus besar itu dinilai sangat
            > |memberatkan pengunjung. Yang jadi masalah, keluhan pengunjung
            > |selalu saja salah alamat. Kekesalan dan umpatan kerap
            > |ditujukan kepada warga Naga. Sa-Naga dianggap ikut berperan
            > |atas keberadaan retribusi itu.
            > |> "Kami merasa difitnah dan dikambinghitamkan. Padahal,
            jangankan
            > |mendapat jatah, mengetahui saja pun tidak. Ini benar-benar
            > |merusak nama baik kami selaku warga Naga," kata Ade dengan
            > |nada sedikit geram.
            > |> Warga Naga menolak daerah mereka dinyatakan sebagai obyek
            > |wisata. Hal ini dikuatkan pula dengan peristiwa beberapa waktu
            > |yang lalu. Ketika itu, sedikitnya 11 papan penunjuk arah jalan
            > |yang bertuliskan "Daerah Wisata Kampung Naga" dicabut oleh
            > |para warga Naga atas perintah sesepuh dan kuncen. Hal inilah
            > |yang kemudian menjawab mengapa di sekitar Jalan
            > |Tasikmalaya-Garut tidak dijumpai satu pun papan penunjuk ke
            > |arah Kampung Naga.
            > |> "Kami tidak akan pernah rugi apabila kampung kami tertutup
            dari
            > |kegiatan pengunjung (wisatawan). Justru kami merasa akan lebih
            > |tenang dan nyaman dalam menjalankan kehidupan. Itulah yang
            > |kami kehendaki," ungkap Henhen, salah seorang tokoh adat Naga
            > |yang lain.
            > |> Dalam kesempatan berbeda, Kepala Kantor Pariwisata dan
            > |Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya Safari Agustin menjelaskan
            > |alasan diberlakukannya retribusi parkir yang tinggi itu.
            > |Menurutnya, kawasan adat Kampung Naga adalah termasuk obyek
            > |wisata yang khas.
            > |> "Tokoh Naga menolak adanya pungutan-pungutan, termasuk
            retribusi
            > |masuk. Untuk itu, kami terpaksa menggunakan cara yang berbeda
            > |agar mendapatkan pemasukan. Retribusi masuk dimasukkan
            > |sekaligus ke dalam karcis parkir," ucap Safari.
            > |> Kebijakan itu, tertuang dalam Pasal 8 Peraturan Daerah Nomor 4
            > |Tahun 2005 tentang Retribusi Tempat Rekreasi. Di dalam aturan
            > |ini pulalah diatur secara rinci mengenai besarnya tarif
            > |retribusi per golongan kendaraan.
            > |> Permasalahannya, dalam proses pembuatan perda itu warga Naga
            > |sama sekali tidak dilibatkan. Safari pun mengakui hal itu.
            > |Pembuatan dan pelaksanaannya dilakukan tanpa sepengetahuan
            > |warga Naga maupun kuncen. Ini yang menimbulkan sikap sinis
            > |warga Naga lantaran mereka merasa tidak dihargai pemerintah.
            > |> "Padahal kami selalu menghargai pemerintah sebagai negara.
            > |Perintah negara selalu kami patuhi, seperti dalam hal agama
            > |dan adat. Sejalan dengan pesan karuhun, kami harus menunjukkan
            > |sikap taat kepada agama dan darigama (negara)," ucap Ade Suherlin.
            > |> Dianggap aset
            > |> Dari pandangan Pemkab Tasikmalaya, tatanan adat justru dinilai
            > |menghambat kemajuan penataan kawasan Kampung Naga sebagai
            > |obyek wisata. Dalam rencana tata ruang hasil studi kelayakan
            > |yang diperoleh Kompas, Pemkab Tasikmalaya pernah berencana
            > |memugar sebagian kawasan Kampung Naga guna mendongkrak dan
            > |meningkatkan pelayanan terhadap wisatawan.
            > |> Penataan, terutama untuk memperbaharui areal parkir. Memugar
            > |toko-toko cenderamata dan tempat makan, membuat tempat
            > |peristirahatan, dan memperbaiki infrastruktur jalan. Namun,
            > |konsep yang telah digulirkan sejak 2002 itu belum terealisir.
            > |Sementara dana bernilai ratusan juta rupiah sudah siap
            > |dikeluarkan. Belum termasuk investasi dari swasta yang selalu
            > |siap menanti.
            > |> Namun, keteguhan hati warga Naga yang menang. Berprinsip pada
            > |kesederhanaan hidup, mereka tetap keukeuh menjalankan tradisi
            > |dengan nilai-nilai adat yang membentuk suatu identitas dan
            > |kearifan lokal.
            > |(d10)
            > |>
            > |>
            > |>
            > |> ryan
            > |> "Altitude is the great equalizer"
            > |> Send instant messages to your online friends
            > |http://uk.messenger.yahoo.com
            > |>
            > |> [Non-text portions of this message have been removed]
            > |>
            > |
            > |
            > |
            > |
            > |
            > |
            > |website lama wajah baru
            > |http://www.gunung.org
            > |mari-mari bagi-bagi cerita euy.
            > |
            > |
            > |Yahoo! Groups Links
            > |
            > |
            > |
            > |
            > |
            > |
            >
          • Reinhold Mester
            Bang DV, kalau anda tanya kebangsaannya Haraldur Sigurdsson dari mana gue ngga tahu deh. Tapi yang jelas dia salah seorang peneliti dari University of Rhode
            Message 5 of 26 , Mar 2 1:03 AM
            • 0 Attachment
              Bang DV, kalau anda tanya kebangsaannya Haraldur Sigurdsson dari mana gue ngga tahu deh. Tapi yang jelas dia salah seorang peneliti dari University of Rhode Island yang sudah memulai penelitian mengenai desa yang terkubur akibat letusan gn Tambora itu sejak tahun 1986. Pada penggalian yang dilakukan pada pertengahan tahun 2004, ada temuan cukup signifikan yang ditemukan oleh teamnya Sigurdsson ini.

              Gn Tambora ini termasuk dalam agenda perjalanan gue tahun depan bang.., ada rencana ke sana? mungkin kita bisa pergi bersama ? atau malah sudah pernah kesana ?




              ryan
              "Altitude is the great equalizer"
              Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

              [Non-text portions of this message have been removed]
            • Darth Vader
              Tahun depan? Hmm... Lihat sikon deh. Tapi tetap saja gunung ini menarik untuk disusuri. *garuk_garuk_dompet_mode = true* ... From: pangrango@yahoogroups.com
              Message 6 of 26 , Mar 2 6:18 AM
              • 0 Attachment
                Tahun depan? Hmm... Lihat sikon deh. Tapi tetap saja gunung ini menarik
                untuk disusuri.
                *garuk_garuk_dompet_mode = true*

                -----Original Message-----
                From: pangrango@yahoogroups.com [mailto:pangrango@yahoogroups.com] On
                Behalf Of Reinhold Mester
                Sent: Thursday, March 02, 2006 4:03 PM
                To: pangrango@yahoogroups.com
                Subject: Re: [pangrango.com] Re: Scientists claim to find lost
                civilization - mount Tambora story
              Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.