Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [pangrango.com] Detik-detik Rasulullah SAW Menjelang Sakratul Maut

Expand Messages
  • maya ekowati
    ... kisah ini ada paras edisi bulan mei, tp gw bc ini sesudah bc paras. memang Rasulullah perlu qt tauladani ... __________________________________ Do you
    Message 1 of 2 , Jun 1, 2004
    • 0 Attachment
      --- ariq taat <hijau_biru_damai@...> wrote:
      > Detik-detik Rasulullah saw menjelang sakratul maut
      >
      >
      >
      > Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta
      > yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya.
      > Pagi itu, meski
      > langit telah mulai menguning,burung-burung gurun
      > enggan mengepakkan
      > sayap.
      > Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan
      > petuah,
      > "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah
      > dan cinta
      > kasih-Nya.
      > Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya.
      > Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al
      > Qur'an. Barang siapa
      > mencintai sunnahku,
      > berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang
      > mencintaiku, akan
      > bersama-sama masuk surga bersama aku."
      >
      >
      >
      > Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata
      > Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu
      > persatu.
      > Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca,
      > Umar dadanya naik
      > turun
      > menahan napas dan tangisnya.Ustman menghela napas
      > panjang dan Ali
      > menundukkan kepalanya
      > dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah
      > tiba.
      > "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah
      > hati
      > semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir
      > usai menunaikan
      > tugasnya di dunia.
      > Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan
      > Fadhal dengan sigap
      > menangkap
      > Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
      >
      >
      >
      > Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti
      > akan menahan
      > detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian
      > tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup.
      > Sedang di dalamnya,
      > Rasulullah sedang terbaring lemah dengan
      > keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah
      > kurma yang menjadi
      > alas tidurnya.
      > Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang
      > berseru mengucapkan
      > salam.
      > "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak
      > mengizinkannya
      > masuk,
      > "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah
      > yang membalikkan badan
      > dan
      > menutup pintu.
      > Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata
      > sudah membuka mata
      > dan
      > bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu
      > wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia
      > baru sekali ini
      > aku
      > melihatnya," tutur Fatimah lembut.
      > Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan
      > pandangan yang
      > menggetarkan.
      > Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang.
      > "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan
      > sementara, dialah
      > yang
      > memisahkan pertemuan di dunia.
      > Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun
      > menahan ledakkan
      > tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri,
      > tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut
      > menyertai. Kemudian
      > dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah
      > bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih
      > Allah dan penghulu
      > dunia
      > ini.
      > "Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?
      > "Tanya Rasululllah
      > dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit
      > telah terbuka, para
      > malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka
      > lebar menanti
      > kedatanganmu,"kata jibril.
      > Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega,
      > matanya masih penuh
      > kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar
      > ini? "Tanya Jibril
      > lagi."Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku
      > kelak?"
      > "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah
      > mendengar Allah
      > berfirman
      > kepadaku:
      > 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat
      > Muhammad telah berada
      > didalamnya," kata Jibril.
      > Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan
      > tugas.
      > Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh
      > tubuh Rasulullah
      > bersimbah
      > peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa
      > sakit sakaratul
      > maut
      > ini."
      > Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali
      > yang di sampingnya
      > menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka.
      > "Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan
      > wajahmu Jibril? "Tanya
      > Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
      > " Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah
      > direnggut ajal," kata
      > Jibril.
      > Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik,
      > karena sakit yang tak
      > tertahankan lagi.
      > "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja
      > semua siksa maut ini
      > kepadaku, jangan pada umatku.
      > " Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya
      > sudah tak bergerak
      > lagi.
      > Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan
      > sesuatu,
      > Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis
      > shalati, wa maa
      > malakat
      > aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang
      > lemah di
      > antaramu."
      >
      >
      >
      > Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan,
      > sahabat saling
      > berpelukan.Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan
      > Ali kembali
      > mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang
      > mulai kebiruan.
      > "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku,umatku,
      > umatku"
      > Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini,
      > mampukah kita
      > mencinta
      > sepertinya?
      > Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wasalim
      > 'alaihi
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      > Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
      >
      >
      >
      > Kirimkan kepada sahabat-2muslim
      > lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah
      > dan RasulNya,
      > seperti
      > Allah dan Rasulnya mencinta kita.
      > karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah
      > fana belaka



      kisah ini ada paras edisi bulan mei, tp gw bc ini
      sesudah bc paras.
      memang Rasulullah perlu qt tauladani
      >
      >
      > ---------------------------------
      > Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping"
      > your friends today! Download Messenger Now
      >
      > [Non-text portions of this message have been
      > removed]
      >
      >





      __________________________________
      Do you Yahoo!?
      Friends. Fun. Try the all-new Yahoo! Messenger.
      http://messenger.yahoo.com/
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.