Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Sekolah Hidup Susah

Expand Messages
  • Zulfikri
    Sekolah Hidup Susah Untuk menjadi kaya, semua orang bisa instan melakoni. Namun, tidak siapa saja siap menjadi orang susah. Orang miskin baru kian banyak.
    Message 1 of 1 , Oct 24, 2007

      Sekolah Hidup Susah

      Untuk menjadi kaya, semua orang bisa instan melakoni. Namun, tidak
      siapa saja siap menjadi orang susah.

      Orang miskin baru kian banyak. Penganggur baru menambah bengkak angka
      kemiskinan. Bisa jadi, itu sebabnya, selain angka bunuh diri tinggi,
      tiga dari sepuluh orang Indonesia tercatat terganggu jiwanya.

      Tidak siap hidup susah berisiko sakit jiwa. Ada cara sederhana
      menekan risiko sakit jiwa. Sejak kecil anak dibuat tahan banting.
      Ketahanan jiwa anak harus dibangun. Untuk itu, jiwa
      butuh "imunisasi".

      Menerima kenyataan

      Sejak kecil anak diajar lebih membumi. Yang gagal kaya rela menerima
      kenyataan. Yang belum pernah hidup susah diajar prihatin sedari
      kecil. Kendati kecukupan, tidak semua yang anak minta perlu diberi.
      Anak dilatih merasakan kegagalan.

      Tugas orangtua dan guru mengajak anak berempati pada kesusahan orang
      lain. Hidup tak luput dari berbagai stresor. Tak semua stresor jelek.
      Supaya jiwa tahan banting, stresor dibutuhkan. Anak perlu mengalami
      seperti apa tekanan hidup, konflik, kegagalan, rasa kecewa, dan
      krisis dalam hidup. Seperti vaksin, biasakan anak memikul aneka
      stresor yang bikin jiwanya kebal seandainya kelak hidupnya susah.

      Tanpa dilatih hidup susah, anak yang terbiasa hidup berkecukupan tak
      tahan banting. Lebih banyak orang sukses lahir bukan dari keluarga
      kecukupan. Hidup prihatin membuat jiwa tegar bertahan melawan
      kesusahan. Hidup susah membangun mimpi ingin lepas dari rasa kapok
      menjadi orang susah. Demi mengubah mimpi jadi kenyataan, spirit kerja
      keras pun dipecut.

      Einstein percaya, untuk sukses diperlukan lima persen otak,
      selebihnya keringat (perspirasi) . Spirit kerja keras menjadi milik
      orang yang tak pernah puas pada prestasi yang diraih. Seperti bangsa
      Troya dulu, pembangunan Jepang dan Korea lebih pesat ketimbang bangsa
      sepantar karena memiliki "virus" n-Ach (need-for-Achieveme nt) yang
      tinggi.

      "Virus" n-Ach bisa ditularkan kepada anak lewat asuhan dan
      pendidikan. Bacaan memuat nilai kehidupan, termasuk mendongeng,
      pendidikan berdisiplin, dan keteladanan orang lebih tua. Itu modul-
      modul kehidupan agar anak tahu juga hidup susah.

      Jiwa getas

      Kebiasaan meloloh anak dengan kelimpahruahan tidak melatih anak
      merasakan gagal, kecewa, rasa ditekan, rasa konflik, atau rasa
      krisis. Tanpa tempaan stresor, jiwa getas. Jika jiwa getas, orang
      rentan stres. Bila tak terlatih hidup berdamai dengan stres, hidup
      berisiko gagal andai harus jatuh miskin.

      Tak ada sekolah yang mengajarkan menjadi orang miskin. Tak pula ada
      kursus memampukan anak terbiasa hidup berdamai dengan stres. Yang
      bisa kita lakukan adalah mengasuh dan mendidik anak tahan banting.
      Mandat itu harus ada di pundak setiap orangtua.

      Tidak semua anak kecukupan pernah mengalami stresor. Dalam pendidikan
      modern, anak sengaja dihadapkan pada stresor buatan. Ada pelatihan
      diam-diam, dalam suasana berkemah atau outbound diciptakan situasi
      krisis. Mobil sengaja dibuat mogok di tengah hutan pada malam hari,
      atau kehabisan makanan selagi camping.

      Dihadang stresor buatan, anak dilatih bagaimana bereaksi,
      beradaptasi, agar mampu lolos dari rasa panik, rasa takut, rasa tidak
      enak berada dalam situasi darurat. Ini bagian dari upaya membuat
      kebal jiwa anak. Bila jiwa tak tahan banting, sontekan stres kecil
      mungkin diatasi dengan bunuh diri. Kini semakin banyak kasus bunuh
      diri hanya karena alasan enteng. Gara-gara ditinggal pacar, tidak
      naik kelas, sebab jiwa tak terlatih memikulnya. Maka jiwa perlu
      digembleng.

      Kerja keras

      Menggembleng berarti menunjukkan rasa arah hidup prihatin, selain
      berdisiplin. Hidup berdisiplin berarti menjunjung tinggi kebenaran,
      memikul tanggung jawab, kerja keras, serta mampu menunda kepuasan.

      Menunda kepuasan bentuk keunggulan sebuah bangsa. Bangsa unggul
      memiliki "virus" n-Ach tinggi. Anak yang diasuh dan dididik dengan
      nilai-nilai "virus" n-Ach, menyimpan bekal sukses. Itu kelihatan,
      misalnya, dari cara makan. Anak dengan n-Ach tinggi menyisihkan yang
      enak dimakan belakangan, yang tidak enak dimakan dulu. Tugas berat
      dikerjakan dulu, yang enteng belakangan. Bersakit-sakit dulu
      bersenang-senang kemudian menjadi kredo bangsa yang sukses.

      Agar tahu hidup susah, anak diajak memahami bahasa hidup bukan uang
      semata. Tak semua semerbak kehidupan bisa dipetik dengan uang.
      Kebahagiaan tertinggi hanya terpetik setelah orang mampu merasa
      bersyukur meski cuma menjadi orang biasa (mengutip Gede Prama).

      Sukses hidup sejati tak mungkin terpetik instan. Jiwa potong kompas,
      ingin lekas kaya, tumbuh dari budaya instan. Bukan rasa arah yang
      benar saja yang perlu ditanamkan saat membesarkan anak, tetapi harus
      benar pula menempuhnya di mata Tuhan.

      Anak disiapkan menjadi insan linuwih (terinternalisasi penuh
      superegonya) dengan cara mengempiskan egonya sekecil mungkin.
      Rekayasa sosial (social engineering) diperlukan dengan
      menyuntikkan "vaksin" hidup prihatin. Perlu pula penyubur superego
      agar kendati hidup susah masih merasa bahagia.

      Hanya bila bibit linuwih dipupuk sejak kecil, sekiranya hidup susah
      tak tergoda memilih serong. Kendati tak banyak harta, uang, atau
      kuasa, ke arah mana pun hidup memandang, merasa tetap "kaya". Mampu
      legawa, bersyukur, dan merasa berbahagia sudah pula meraih Oscar
      kehidupan, kendati mungkin hanya menjadi orang biasa.

      Sumber: Sekolah Hidup Susah oleh Handrawan Nadesul, Dokter, Penulis
      Buku, Pengasuh Rubrik Kesehatan

      .

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.