Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Re: [otomotif-l] VOOT : Jokowi: Tim Ahli Saya Masyarakat Jakarta

Expand Messages
  • andreas djayadisurya
    Kalo kata sohibnya om ADP yg kemaren kalah di putaran pertama. Pertumbuhan ekonomi Jakarta harus diperkecil malah kalau perlu dibikin minus. Disebar gulanya ke
    Message 1 of 31 , Oct 1, 2012
      Kalo kata sohibnya om ADP yg kemaren kalah di putaran pertama. Pertumbuhan ekonomi Jakarta harus diperkecil malah kalau perlu dibikin minus. Disebar gulanya ke daerah laen. 


      ad

      2012/10/1 A ® i o B i m 0 <ario.bimo@...>
       

      Mau Jakarta ngga macet...?? Itu trans jakarta diperpanjang jalurnya. Dari Karawaci sampe Cikarang (ngga usah pake transit di Harmoni), terus dari Tg Priuk - Bogor, Ancol - Bogor. Dibangun gedung parkir di ujung2 nya, dan di beberapa tempat yg strategis. Karena yg bikin macet itu kendaraan dari Tangerang, Bekasi, Depok, Bogor. Perlu kerja sama dg pemerintah daerah, karena dg begitu busway melalui 3 provinsi. Bus nya diperbanyak, minimal 30 detik sekali terlihat melintas dijalurnya di jam sibuk.


      Utk monorail coba lat Sydney, konstruksi monorail sangat sederhana, ngga kayak yg ngga jadi dibuat, konstruksinya kayak mau mbangun jalur kereta api aja.Di Sydney konstruksinya cuman besi doang, ngga banyak makan biaya, monorailnya bentuk kapsul.





      2012/10/1 Chairil Kartakusuma <ckartakusuma@...>
       

      gemblung, sebagian besar rakyat jakarta have no idea what to do.
      patronizing!

      bottom up thinking banget.
      pemikiran kumaha engke 
      wkwkwkwkwk

      sebagian besar sumber kemacetan karena rendahnya disiplin manusia pengguna jalan.
      pemikiran strategis nya aja gak ada.

      we'll see lah.

      2012/10/1 <chairumman_QE@...>
       


      ------------------
      http://pilkada.kompas.com/berita/read/2012/09/29/05092553/Jokowi.Tim.Ahli.Saya.Masyarakat.Jakarta
      Jokowi: Tim Ahli Saya Masyarakat Jakarta
      Erlangga Djumena | Sabtu, 29 September 2012 | 05:09 WIB  
      SOLO, KOMPAS.com Selain ngobrol soal perjuangannya hingga memenangi Pilkada DKI Jakarta, saat bertemu redaksi Tribun Jogja di Loji Gandrung, rumah dinas Wali Kota Solo pada Rabu (26/9/2012), Joko Widodo juga membeberkan rencana strategis yang akan dikerjakan dalam 100 hari pertama hingga lima tahun mendatang.

      Berikut cuplikan wawancara eksklusif Tribun Jogja yang ditulis Ade Rizal dengan laki-laki yang akrab dipanggil Jokowi itu.

      Setelah dilantik pada 6 Oktober mendatang, apa yang akan Anda lakukan dalam 100 hari pertama?
      Untuk transjakarta, dalam 100 hari pertama, tentu jumlah armadanya akan kami tambah. Tapi, tidak akan bisa mencapai sesuai yang kami harapkan karena kami masih bergantung pada anggaran lama. Sedangkan APBD perubahan juga sudah digodok.

      Karena itu, kami akan lebih pada perbaikan management traffic transjakarta. Menata manajemen transjakarta enggak bisa monoton. Manajemen trayek harus detail. Kita harus mengubah yang seperti itu.

      Misalnya jalur Blok M ke Kota, mestinya jumlah armada ditambah pada jam-jam sibuk karena load-nya sangat tinggi. Caranya, pada pagi hari (saat jam sibuk) mengalihkan bus dari jalur sepi ke jalur Blok M-Kota. Nanti, saat siang dikembalikan ke jalur asalnya, kemudian pada jam sibuk sore ditarik lagi.

      Selain itu, di 100 hari pertama, kami akan mencoba menghilangkan terminal bayangan dan meningkatkan ketertiban. Kami punya banyak pengalaman di sini (Solo). Paling tidak, di 100 hari pertama ini tahapan manajemennya sudah kami  lakukan.

      Soal monorel yang tiangnya sudah ada, apa akan Anda lanjutkan?
      Iya, pasti akan kami lanjutkan. Di 100 hari pertama, semuanya (yang mengusulkan konsep monorel) akan saya datangi. Akan saya minta presentasi semuanya. Pokoknya cepet-cepetan. Saya enggak mau diskusi lama-lama lagi. Itu kan tinggal menentukan saja, mana yang akan dieksekusi, barang yang mau dipakai mana.


      Bagaimana Anda menentukan pihak yang akan digandeng mengerjakan monorel?
      Yang paling utama, karcis mau kamu kasih harga berapa? Visibel enggak buat masyarakat? Masyarakat mampu beli enggak? Kalau memang bisa beli (karcis yang ditawarkan pengelola), jalan, enggak usah lama-lama, saya enggak mau berlama-lama. Yang penting rakyat terlayani, karena produk pemerintah ini kan produk pelayanan.

      Saya tidak peduli, siapa nanti yang akan mengerjakan atau pemilik proyeknya. Yang penting monorel dilaksanakan, masyarakat terbantu dan karcisnya tidak membebani.

      Menurut Anda, konsep monorel seperti apa yang paling visibel?
      Ada beberapa alternatif, bisa monorel kapsul, elevated bus, atau railbus. Kalau jalurnya, ya yang sudah direncanakan itu. Tapi, dari semua bentuk monorail yang ada, paling bagus tipe kapsul. Dibandingkan dengan yang lain, harganya hanya separuh, jauh lebih murah.

      Tiangnya juga kecil sehingga konstruksinya lebih murah. Daya angkutnya memang cuma 20.000, tapi kan bisa disiasati dengan management traffic yang bagus. Frekuensi jalan harus banyak sehingga tiap tiga menit nongol di halte.

      Estimasi Anda, kapan monorel bisa dioperasikan?
      Untuk monorel paling lama empat tahun (2016) sudah bisa beroperasi. Kalau MRT (mass rapid transit) bisa sampai sembilan tahun baru bisa dinikmati di Jakarta. Tapi, semua harus dimulai dan tahapannya terukur.

      Mungkin nanti pada tahun pertama, MRT baru rampung 10 persen, kemudian tahun kedua mencapai 25 persen dan seterusnya. Paling enggak, lima tahun nanti sudah selesai 60 persen, selanjutnya tinggal meneruskan. Yang penting, ada ukurannya dan ada progress-nya.
      Selain soal transportasi, pada 100 hari pertama, Anda langsung dihadang persoalan banjir, karena saat itu sudah memasuki musim penghujan. Apa yang akan Anda lakukan, padahal soal banjir tidak bisa diutak-atik secara instan seperti transjakarta?
      Ini yang sedang saya pikirkan. Setelah saya dilantik, belum bisa melakukan kerja teknis, tapi banjirnya sudah datang. Meski sudah ada perencanaan pengendalian banjir dan saya punya gagasan-gagasan untuk itu, tapi pengerjaannya kan tidak bisa langsung pada Oktober. Butuh waktu.


      Bisa dijelaskan rencana yang Anda lakukan untuk pengendalian banjir?
      Penyelesaian masalah banjir hanya menjalankan blueprint yang sudah ada, dan itu sudah dilakukan sejak zaman Belanda. Prinsip dasarnya, yang paling awal dilakukan adalah optimalisasi Kanal Banjir Barat, Timur, dan Sistem Drainase Cengkareng, dibarengi pengerukan anak sungai yang mengalir ke kanal barat, timur, dan Cengkareng itu. Pekerjaan itu harus simultan dengan pembuatan embung (bozem) di setiap kecamatan dan optimalisasi pompa banjir.

      Yang paling mendesak adalah pengerukan sungai karena saat ini anak sungai-anak sungai di Jakarta yang seharusnya berkedalaman tiga meter lebih, hanya tinggal 60 sentimeter. Ini harus dikeruk sehingga kedalamannya menjadi normal. Kemudian tanggul sungai harus ditinggikan. Pengerukan itu akan dilakukan simultan dengan penataan rumah-rumah yang berdiri di bantaran sungai.

      Anda optimistis bisa melakukan secara simultan, antara optimalisasi sungai dan penataan rumah di bantaran sungai?
      Sangat optimistis. Sebab, saat ini sudah banyak yang mau membantu. Kemenpera (Kementerian Perumahan Rakyat) mau bantu, Perumnas juga mau bantu, tinggal komunikasi saja. Nanti akan saya sambungkan semuanya antara pihak-pihak yang terkait.

      Saya kan enggak mikir kepentingan, enggak mikir proyek, jadi enak saja menyambungkan antarmereka. Kalau mikir kepentingan, apalagi proyek, enggak akan jalan. Yang paling penting lagi, masyarakat di bantaran sungai dan sejumlah tempat yang harus ditata, sudah mau ditata. Ini kan soal komunikasi saja.  

      Bagaimana konsep yang Anda tawarkan untuk penataan perumahan, utamanya mereka yang tinggal di bantaran sungai?
      Yang perlu digarisbawahi, konsep dasar penataan bukan dari saya, tapi ditawarkan masyarakat. Saya sudah telusuri Sungai Ciliwung dan sejumlah sungai lain, dan sebanyak 870 KK di sana menyatakan siap direlokasi Pak Jokowi. Mereka tidak mau direlokasi ke daerah lain karena penghidupannya di sekitar lokasi itu.

      Solusinya, mereka yang ada di bantaran sungai akan dimundurkan 10 hingga 20 meter, kemudian tinggal di atas rumah tetangganya. Ini yang disebut dengan Kampung Deret. Kemudian lahan di bantaran sungai lebarnya 10 meter itu akan dihijaukan, ditambah jogging track.
      Kami tidak menawarkan relokasi ke tempat lain atau pindah ke rusun karena mereka akan dibebani biaya sewa, bayar listrik, dan bayar air. Dengan membangun kampung deret, mereka hanya pindah, tanpa membeli. Bahkan, mereka akan diberi sertifikat hak guna.

      Kalau gratis, bagaimana dengan pembiayaannya?
      Ya dari APBD. Sudah saya hitung-hitung, hanya butuh Rp 1,4 triliun. Itu kan hanya sedikit persen dari total APBD Jakarta. Karena biaya itu baru bisa kami anggarkan pada APBD 2013, untuk 100 hari pertama nanti, kami akan menyelesaikan proses nonteknis, dan konstruksi baru dimulai Januari 2013.


      Berarti akan ada proyek triliunan?
      Proyek dalam makna ditenderkan tidak. Sebab, pembangunan Kampung Deret tidak akan kami tenderkan dan dikerjakan kontraktor pihak ketiga, tapi dibangun rakyat sendiri, sehingga murah dan bisa menghemat anggaran hingga 40 persen. Kelompok warga akan terlibat mulai dari merencanakan teknis pembangunan, membeli material, hingga membangun. Rakyat akan jadi kontraktor sendiri, ngontraktori sendiri.


      Anda terlihat begitu fasih berbicara soal masalah sekaligus solusi untuk masyarakat Jakarta. Apa Anda punya tim ahli yang khusus memasok data dan gagasan-gagasan itu?
      Tidak, tidak ada tim ahli. Saya hanya belajar enam bulan soal Jakarta. Saya tidak membaca buku atau hasil penelitian dan semacamnya, tapi saya langsung mendatangi warga, berdialog dengan mereka, dan mendengarkan masalah-masalah yang dihadapi sekaligus gagasan mereka. Setelah itu, saya memformulasikannya. Jadi, kalau ditanya siapa tim ahli yang memasok gagasan-gagasan itu, ya masyarakat, rakyat Jakarta.

       

      Regards,
      Chairumman

      • Jika Kejahatan dibalas Kejahatan, maka itu adalah Dendam...
      • Jika Kebaikan dibalas Kebaikan, itu merupakan Perkara Biasa...
      • Jika Kebaikan dibalas Kejahatan, itulah Zalim...
      ♡ Tetapi, jika Kejahatan dibalas Kebaikan, inilah yg dinamakan MULIA dan TERPUJI...





      --
      CKK




      --

      Modal Rp.10rb bisa dapet ratusan juta, klik sini:
      http://www.investasibca.com/?id=abimo


    • andreas djayadisurya
      Ya yg lu coblos bedinde sih. Salah kan jadinya. Huahahaha *kaboooeeerrrrr ad 2012/10/1 Chairil K. Kartakusuma ... Ya yg lu coblos
      Message 31 of 31 , Oct 1, 2012
        Ya yg lu coblos bedinde sih. Salah kan jadinya. Huahahaha


        *kaboooeeerrrrr


        ad

        2012/10/1 Chairil K. Kartakusuma <ckartakusuma@...>
         

        Ternyata ada juga yg pemikirannya sama gilanya dg gue,
        Tau gitu gue coblos dia deh
        Wkwkwkwkwkw

        Sent from my GayPad!

        On 1 Okt 2012, at 14:15, Ayudha D Prayoga <adp307b@...> wrote:

         

        Konsepnya benar....

        Kalimatnya salah.
        Nggak benar pertumbuhan negatif membuat kesejahteraan meningkat.
        Kan ada urut-urutan kejadian.
        Pusing kali dia, makanya lupa akan urut-urutan kejadian akibat kebijakan   :-)

        2012/10/1 andreas djayadisurya <a.djayadisurya@...>
         

        http://jakarta.tribunnews.com/2012/07/09/lapangan-kerja-di-jakarta-harus-dikurangi 


        TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Faisal Basri mengaku heran dengan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, yang dalam setiap pidatonya selalu membanggakan pertumbuhan ekonomi Jakarta paling tinggi di Indonesia.

        "Dengan membangga-banggakan bahwa Jakarta lebih baik daripada kota-kota lain di Indonesia, dalam laporan pertanggung jawaban (LPJ) gubernur, itulah yang mencerminkan betapa tamak, arogan, dan tidak tepo selironya Jakarta. Menganggap dirinya paling penting, daerah-daerah lain sebagai penyangga itulah konsep megapolitan yang sesat, konsepnya aneksasi, " papar Faisal kepada Tribun di rumahnya di Jalan Ciasem, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Senin (9/7/2012).

        Faisal menambahkan, jika Jakarta terus menciptakan lapangan kerja, maka ekses negatif yang akan membebani Jakarta.

        "Kalan Jakarta menciptakan lapangan kerja terus, lalu jumlah penduduk tidak terkendali, lantas macet, nanti daerah lain harus menjadi bagian Jakarta. Depok  harus jadi bagian Jakarta, Cianjur juga harus jadi bagian dari Jakarta. Kacau lah kalau pola berpikirnya seperti itu. Itu masih menghinggapi pemikiran gubernur yang lalu dan penerusnya yang sekarang. Makanya mereka mengeluh, ada banjir kiriman, daerah lain tidak kooperatif," beber calon gubernur DKI Jakarta dari jalur independen.

        Justru, lanjutnya, lapangan kerja di Jakarta harus dikurangi. Menurut Faisal, pertumbuhan ekonomi negatif tidak masalah,  asal jumlah penduduknya juga berkurang. Sebab, jika penduduk berkurang, maka rata-rata kesejahteraan penduduk meningkat.

        Kekumuhan yang terjadi di Jakarta, paparnya, adalah dampak masih diciptakannya lapangan kerja, yang mempekerjakan orang-orang tanpa keterampilan khusus.

        "Mereka kan upahnya  rendah. Mereka tidak mampu mengontrak rumah. Nah, bagaimana mereka berteduh. Mereka bikin bedeng-bedeng di pinggir sungai, rel, atau di bawah kolong jembatan. Supaya mereka tidak diganggu, mereka bayar ke preman setempat," terangnya.

        Jakarta, menurut Faisal, harus fokus dengan kegiatan ekonomi yang sesuai karakternya sebagai metropolitan. (*)


        2012/10/1 Ayudha D Prayoga <adp307b@...>
         

        Masak dia bilang gitu?

        Ngaco namanya.

        Disebar betul, tapi bukan diperkecil atau dibikin minus,
        apalagi melarang orang masuk Jakarta (spt ide CKK)

        ADP

        2012/10/1 andreas djayadisurya <a.djayadisurya@...>
         

        Kalo kata sohibnya om ADP yg kemaren kalah di putaran pertama. Pertumbuhan ekonomi Jakarta harus diperkecil malah kalau perlu dibikin minus. Disebar gulanya ke daerah laen. 



        ad


        2012/10/1 A ® i o B i m 0 <ario.bimo@...>
         

        Mau Jakarta ngga macet...?? Itu trans jakarta diperpanjang jalurnya. Dari Karawaci sampe Cikarang (ngga usah pake transit di Harmoni), terus dari Tg Priuk - Bogor, Ancol - Bogor. Dibangun gedung parkir di ujung2 nya, dan di beberapa tempat yg strategis. Karena yg bikin macet itu kendaraan dari Tangerang, Bekasi, Depok, Bogor. Perlu kerja sama dg pemerintah daerah, karena dg begitu busway melalui 3 provinsi. Bus nya diperbanyak, minimal 30 detik sekali terlihat melintas dijalurnya di jam sibuk.


        Utk monorail coba lat Sydney, konstruksi monorail sangat sederhana, ngga kayak yg ngga jadi dibuat, konstruksinya kayak mau mbangun jalur kereta api aja.Di Sydney konstruksinya cuman besi doang, ngga banyak makan biaya, monorailnya bentuk kapsul.





        2012/10/1 Chairil Kartakusuma <ckartakusuma@...>
         

        gemblung, sebagian besar rakyat jakarta have no idea what to do.
        patronizing!

        bottom up thinking banget.
        pemikiran kumaha engke 
        wkwkwkwkwk

        sebagian besar sumber kemacetan karena rendahnya disiplin manusia pengguna jalan.
        pemikiran strategis nya aja gak ada.

        we'll see lah.

        2012/10/1 <chairumman_QE@...>
         


        ------------------
        http://pilkada.kompas.com/berita/read/2012/09/29/05092553/Jokowi.Tim.Ahli.Saya.Masyarakat.Jakarta
        Jokowi: Tim Ahli Saya Masyarakat Jakarta
        Erlangga Djumena | Sabtu, 29 September 2012 | 05:09 WIB  
        SOLO, KOMPAS.com Selain ngobrol soal perjuangannya hingga memenangi Pilkada DKI Jakarta, saat bertemu redaksi Tribun Jogja di Loji Gandrung, rumah dinas Wali Kota Solo pada Rabu (26/9/2012), Joko Widodo juga membeberkan rencana strategis yang akan dikerjakan dalam 100 hari pertama hingga lima tahun mendatang.

        Berikut cuplikan wawancara eksklusif Tribun Jogja yang ditulis Ade Rizal dengan laki-laki yang akrab dipanggil Jokowi itu.

        Setelah dilantik pada 6 Oktober mendatang, apa yang akan Anda lakukan dalam 100 hari pertama?
        Untuk transjakarta, dalam 100 hari pertama, tentu jumlah armadanya akan kami tambah. Tapi, tidak akan bisa mencapai sesuai yang kami harapkan karena kami masih bergantung pada anggaran lama. Sedangkan APBD perubahan juga sudah digodok.

        Karena itu, kami akan lebih pada perbaikan management traffic transjakarta. Menata manajemen transjakarta enggak bisa monoton. Manajemen trayek harus detail. Kita harus mengubah yang seperti itu.

        Misalnya jalur Blok M ke Kota, mestinya jumlah armada ditambah pada jam-jam sibuk karena load-nya sangat tinggi. Caranya, pada pagi hari (saat jam sibuk) mengalihkan bus dari jalur sepi ke jalur Blok M-Kota. Nanti, saat siang dikembalikan ke jalur asalnya, kemudian pada jam sibuk sore ditarik lagi.

        Selain itu, di 100 hari pertama, kami akan mencoba menghilangkan terminal bayangan dan meningkatkan ketertiban. Kami punya banyak pengalaman di sini (Solo). Paling tidak, di 100 hari pertama ini tahapan manajemennya sudah kami  lakukan.

        Soal monorel yang tiangnya sudah ada, apa akan Anda lanjutkan?
        Iya, pasti akan kami lanjutkan. Di 100 hari pertama, semuanya (yang mengusulkan konsep monorel) akan saya datangi. Akan saya minta presentasi semuanya. Pokoknya cepet-cepetan. Saya enggak mau diskusi lama-lama lagi. Itu kan tinggal menentukan saja, mana yang akan dieksekusi, barang yang mau dipakai mana.


        Bagaimana Anda menentukan pihak yang akan digandeng mengerjakan monorel?
        Yang paling utama, karcis mau kamu kasih harga berapa? Visibel enggak buat masyarakat? Masyarakat mampu beli enggak? Kalau memang bisa beli (karcis yang ditawarkan pengelola), jalan, enggak usah lama-lama, saya enggak mau berlama-lama. Yang penting rakyat terlayani, karena produk pemerintah ini kan produk pelayanan.

        Saya tidak peduli, siapa nanti yang akan mengerjakan atau pemilik proyeknya. Yang penting monorel dilaksanakan, masyarakat terbantu dan karcisnya tidak membebani.

        Menurut Anda, konsep monorel seperti apa yang paling visibel?
        Ada beberapa alternatif, bisa monorel kapsul, elevated bus, atau railbus. Kalau jalurnya, ya yang sudah direncanakan itu. Tapi, dari semua bentuk monorail yang ada, paling bagus tipe kapsul. Dibandingkan dengan yang lain, harganya hanya separuh, jauh lebih murah.

        Tiangnya juga kecil sehingga konstruksinya lebih murah. Daya angkutnya memang cuma 20.000, tapi kan bisa disiasati dengan management traffic yang bagus. Frekuensi jalan harus banyak sehingga tiap tiga menit nongol di halte.

        Estimasi Anda, kapan monorel bisa dioperasikan?
        Untuk monorel paling lama empat tahun (2016) sudah bisa beroperasi. Kalau MRT (mass rapid transit) bisa sampai sembilan tahun baru bisa dinikmati di Jakarta. Tapi, semua harus dimulai dan tahapannya terukur.

        Mungkin nanti pada tahun pertama, MRT baru rampung 10 persen, kemudian tahun kedua mencapai 25 persen dan seterusnya. Paling enggak, lima tahun nanti sudah selesai 60 persen, selanjutnya tinggal meneruskan. Yang penting, ada ukurannya dan ada progress-nya.
        Selain soal transportasi, pada 100 hari pertama, Anda langsung dihadang persoalan banjir, karena saat itu sudah memasuki musim penghujan. Apa yang akan Anda lakukan, padahal soal banjir tidak bisa diutak-atik secara instan seperti transjakarta?
        Ini yang sedang saya pikirkan. Setelah saya dilantik, belum bisa melakukan kerja teknis, tapi banjirnya sudah datang. Meski sudah ada perencanaan pengendalian banjir dan saya punya gagasan-gagasan untuk itu, tapi pengerjaannya kan tidak bisa langsung pada Oktober. Butuh waktu.


        Bisa dijelaskan rencana yang Anda lakukan untuk pengendalian banjir?
        Penyelesaian masalah banjir hanya menjalankan blueprint yang sudah ada, dan itu sudah dilakukan sejak zaman Belanda. Prinsip dasarnya, yang paling awal dilakukan adalah optimalisasi Kanal Banjir Barat, Timur, dan Sistem Drainase Cengkareng, dibarengi pengerukan anak sungai yang mengalir ke kanal barat, timur, dan Cengkareng itu. Pekerjaan itu harus simultan dengan pembuatan embung (bozem) di setiap kecamatan dan optimalisasi pompa banjir.

        Yang paling mendesak adalah pengerukan sungai karena saat ini anak sungai-anak sungai di Jakarta yang seharusnya berkedalaman tiga meter lebih, hanya tinggal 60 sentimeter. Ini harus dikeruk sehingga kedalamannya menjadi normal. Kemudian tanggul sungai harus ditinggikan. Pengerukan itu akan dilakukan simultan dengan penataan rumah-rumah yang berdiri di bantaran sungai.

        Anda optimistis bisa melakukan secara simultan, antara optimalisasi sungai dan penataan rumah di bantaran sungai?
        Sangat optimistis. Sebab, saat ini sudah banyak yang mau membantu. Kemenpera (Kementerian Perumahan Rakyat) mau bantu, Perumnas juga mau bantu, tinggal komunikasi saja. Nanti akan saya sambungkan semuanya antara pihak-pihak yang terkait.

        Saya kan enggak mikir kepentingan, enggak mikir proyek, jadi enak saja menyambungkan antarmereka. Kalau mikir kepentingan, apalagi proyek, enggak akan jalan. Yang paling penting lagi, masyarakat di bantaran sungai dan sejumlah tempat yang harus ditata, sudah mau ditata. Ini kan soal komunikasi saja.  

        Bagaimana konsep yang Anda tawarkan untuk penataan perumahan, utamanya mereka yang tinggal di bantaran sungai?
        Yang perlu digarisbawahi, konsep dasar penataan bukan dari saya, tapi ditawarkan masyarakat. Saya sudah telusuri Sungai Ciliwung dan sejumlah sungai lain, dan sebanyak 870 KK di sana menyatakan siap direlokasi Pak Jokowi. Mereka tidak mau direlokasi ke daerah lain karena penghidupannya di sekitar lokasi itu.

        Solusinya, mereka yang ada di bantaran sungai akan dimundurkan 10 hingga 20 meter, kemudian tinggal di atas rumah tetangganya. Ini yang disebut dengan Kampung Deret. Kemudian lahan di bantaran sungai lebarnya 10 meter itu akan dihijaukan, ditambah jogging track.
        Kami tidak menawarkan relokasi ke tempat lain atau pindah ke rusun karena mereka akan dibebani biaya sewa, bayar listrik, dan bayar air. Dengan membangun kampung deret, mereka hanya pindah, tanpa membeli. Bahkan, mereka akan diberi sertifikat hak guna.

        Kalau gratis, bagaimana dengan pembiayaannya?
        Ya dari APBD. Sudah saya hitung-hitung, hanya butuh Rp 1,4 triliun. Itu kan hanya sedikit persen dari total APBD Jakarta. Karena biaya itu baru bisa kami anggarkan pada APBD 2013, untuk 100 hari pertama nanti, kami akan menyelesaikan proses nonteknis, dan konstruksi baru dimulai Januari 2013.


        Berarti akan ada proyek triliunan?
        Proyek dalam makna ditenderkan tidak. Sebab, pembangunan Kampung Deret tidak akan kami tenderkan dan dikerjakan kontraktor pihak ketiga, tapi dibangun rakyat sendiri, sehingga murah dan bisa menghemat anggaran hingga 40 persen. Kelompok warga akan terlibat mulai dari merencanakan teknis pembangunan, membeli material, hingga membangun. Rakyat akan jadi kontraktor sendiri, ngontraktori sendiri.


        Anda terlihat begitu fasih berbicara soal masalah sekaligus solusi untuk masyarakat Jakarta. Apa Anda punya tim ahli yang khusus memasok data dan gagasan-gagasan itu?
        Tidak, tidak ada tim ahli. Saya hanya belajar enam bulan soal Jakarta. Saya tidak membaca buku atau hasil penelitian dan semacamnya, tapi saya langsung mendatangi warga, berdialog dengan mereka, dan mendengarkan masalah-masalah yang dihadapi sekaligus gagasan mereka. Setelah itu, saya memformulasikannya. Jadi, kalau ditanya siapa tim ahli yang memasok gagasan-gagasan itu, ya masyarakat, rakyat Jakarta.

         

        Regards,
        Chairumman

        • Jika Kejahatan dibalas Kejahatan, maka itu adalah Dendam...
        • Jika Kebaikan dibalas Kebaikan, itu merupakan Perkara Biasa...
        • Jika Kebaikan dibalas Kejahatan, itulah Zalim...
        ♡ Tetapi, jika Kejahatan dibalas Kebaikan, inilah yg dinamakan MULIA dan TERPUJI...





        --
        CKK




        --

        Modal Rp.10rb bisa dapet ratusan juta, klik sini:
        http://www.investasibca.com/?id=abimo






      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.