Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Hobi Mendaki Gunung Menyambangi Kawah Raksasa Gunung Tambora

Expand Messages
  • tebing_sela
    Hobi Mendaki Gunung Menyambangi Kawah Raksasa Gunung Tambora SH/Adiseno Kawah Tambora Sumbawa Besar – Mendaki Gunung Tambora (2.722 m dpl) adalah salah satu
    Message 1 of 1 , Sep 9, 2005
    • 0 Attachment
      Hobi Mendaki Gunung
      Menyambangi Kawah Raksasa Gunung Tambora


      SH/Adiseno
      Kawah Tambora


      Sumbawa Besar – Mendaki Gunung Tambora (2.722 m dpl) adalah salah
      satu `agenda' bagi pehobi mendaki gunung Indonesia. Maklum, selain
      panorama kawahnya yang memikat, gunung ini adalah gunung tertinggi
      di Pulau Sumbawa. Waktu yang tepat untuk mendaki Tambora adalah
      bulan Juli dan Agustus, karena biasanya kedua bulan ini bertepatan
      dengan waktu libur dan, tentu saja, keadaan cuaca yang ramah.

      Minggu pagi itu, di kota Bima. Sinar matahari terasa menyengat
      kulit, membuat siapa saja lebih memilih berteduh. Tapi terik
      matahari tak mampu menyurutkan aktivitas di terminal bis antarkota.
      Semakin siang, semakin ramai suasana tempat itu. Sebuah bis kecil
      dengan tujuan Labuhan Kenanga tampak beranjak meninggalkan hiruk-
      pikuk terminal.
      Bis yang sudah penuh oleh penumpang, semakin sesak ketika di tengah
      perjalanan awak bus tetap memaksa mengambil penumpang, meski tidak
      ada lagi tempat duduk yang tersisa di dalam bis. Belum lagi barang
      bawaan para penumpang yang segambreng, sungguh tidak menyisakan
      ruang yang cukup lega di dalam bis.
      Iklim savana tropis menganugerahkan pemandangan alam yang khas
      sepanjang perjalanan dari Bima. Perbukitan yang ditumbuhi pepohonan
      dan semak belukar yang menonjolkan warna kecokelatan atau
      kekuningan. Hamparan padang rumput luas dengan selingan pohon-pohon
      keringnya. Serasa di Afrika, begitu kurang lebih penisbahan yang
      terpikir di benak.
      Selepas Kempo (56 km ke arah barat dari Bima), pemandangan
      bertambah. Dari arah barat, Teluk Saleh menampakkan pesona biru
      lautnya. Menyegarkan pandangan mata yang selepas kota Bima dicekoki
      oleh pemandangan daratan.
      Di desa Kadindi, transportasi beralih ke truk. Truk ini yang
      mengantar perjalanan selanjutnya menuju dusun Pancasila, yang masih
      harus ditempuh kurang lebih 6 kilometer lagi. Pancasila adalah nama
      kampung di kaki barat laut Gunung Tambora yang merupakan salah satu
      titik awal pendakian Gunung Tambora.

      Pendakian
      Meninggalkan dusun Pancasila, jalan tanah tak beraspal menuntun
      langkah kaki. Sisi kiri dan kanan jalan ditumbuhi oleh pepohonan
      lebat. Kalau beruntung, akan terlihat kera-kera bergelayutan,
      berpindah dari dahan pohon yang satu ke dahan pohon yang lain.
      Bahkan tanpa rasa takut, mereka melintas menyeberangi jalan.
      Semakin jauh berjalan, hari semakin gelap. Sementara, jalan yang
      semula hanya bisa dilewati dua truk kecil, berujung pada jalan besar
      yang lebarnya cukup untuk dilalui oleh dua truk besar secara
      berdampingan. Rupanya jalan besar ini adalah jalur truk-truk besar
      yang lalu-lalang mengangkut kayu gelondongan hasil penebangan di
      kaki Gunung Tambora. Entah ke mana kayu-kayu tersebut diangkut.
      Di tempat truk berhenti, ada sebuah jalan kecil masuk ke dalam
      hutan. Inilah jalur pendakian menuju puncak Tambora. Jalur yang
      dilewati cukup lebar dan landai untuk dilewati sepeda motor. Jadi
      tak terlalu melelahkan untuk mencapai shelter pertama. Shelter
      pertama adalah sebuah bangunan tak berdinding. Inilah shelter satu-
      satunya yang berwujud bangunan.
      Shelter berikutnya, meski disebut shelter, hanyalah sebutan untuk
      tempat perhentian tanpa bangunan. Beberapa meter dari shelter
      pertama, terdapat sebuah sumber air yang dibuat dengan menampung air
      yang disalurkan oleh pipa.
      Semakin dekat dengan shelter kedua, kondisi jalur mulai berbeda dan
      sedikit menyulitkan. Selain semak belukar yang mulai menutupi jalur,
      banyak batang pohon roboh yang melintang di tengah jalur. Mengangkat
      kaki tinggi-tinggi atau merangkak di bawah batang-batang pohon
      tersebut adalah gerakan tambahan yang harus dilakukan. Seakan
      memaksa agar lebih giat menggerakkan anggota tubuh selain kaki.
      Dari shelter ini, pendakian dilanjutkan dengan menyeberang sungai
      kecil dekat tempat bermalam. Bersiap-siaplah untuk tersengal-sengal.
      Karena bila sebelum tiba di shelter kedua, paru-paru dimanjakan oleh
      jalur yang landai, setelah melintas sungai kecil ini, jalur menanjak
      telah menanti.
      Berhasil melewati tanjakan, jalur berliku-liku lengkap dengan batang-
      batang pohon tumbang yang melintang, kembali menghadang. Bak "polisi
      tidur", batang-batang pepohonan itu mengurangi laju ayunan langkah
      kaki. Sedikit menyebalkan memang. Tapi kokok ayam hutan menjelang
      sore itu, menjadi pengalih perhatian dari kejengkelan terhadap
      batang-batang pohon tadi.
      Shelter ketiga berhasil dicapai ketika hari sudah sore. Di sinilah
      pendakian hari kedua berakhir. Letak shelter di punggungan yang
      tidak terlalu lebar, membuat pemandangan lembah di kiri kanannya
      dapat terlihat. Sebuah tanda terpasang di pohon, menunjukkan arah
      sumber air. Tampaknya tidak sulit mendapatkan air saat mendaki
      Tambora.
      Purnama kembali menampakkan diri, ketika malam mengganti siang.
      Rasanya sayang sekali, harus meninggalkan pemandangan alam ini
      dengan meringkuk menahan dingin di dalam tenda. Apalagi dinihari
      keesokan harinya, summit attack (mencapai puncak dengan membawa
      barang secukupnya) akan dilakukan. Sambil mempersiapkan summit
      attack, pemandangan malam hari di lereng Tambora ternikmati jua.

      Summit attack
      Memangnya sedang mendaki Everest! Begitu gerutu yang sempat
      terlontar dari mulut, ketika dinihari pukul 04.00 harus bangun dan
      memaksa mengeluarkan tubuh dari pelukan sleeping bag yang hangat.
      Tapi tak ada pilihan lain. Hanya ini cara yang mungkin untuk
      mencapai puncak sebelum tengah hari. Menembus kegelapan dinihari,
      hajatan menuju puncak ditunaikan. Di langit, bulan purnama telah
      meninggi. Cahayanya yang terang, menembus sela-sela rerimbunan daun
      pepohonan. Pertanda keadaan alam yang ramah.
      Sesekali bibir meringis menahan rasa perih di telapak tangan dan
      kaki. Rupanya sepanjang jalan banyak tumbuh jelatang. Daun-daunnya
      yang berduri halus, menyambar anggota tubuh yang telanjang tanpa
      pelindung. Bahkan celana panjang tak sanggup melindungi kaki dari
      sengatan tumbuhan itu.
      Masih cukup jauh dari zona puncak, sewaktu fajar merekah, menandai
      pergantian hari. Kokok ayam hutan terdengar bersahut-sahutan,
      seiring hari baru yang semakin terang. Sejenak langkah dihentikan
      untuk mengisi perut. Sarapan yang telah disiapkan sejak malam pun
      segera dikeluarkan dari day pack untuk disantap. Sayang, sudah
      dingin.

      Kawah
      Berangsur-angsur vegetasi beralih dari pepohonan menjadi semak dan
      perdu. Suatu pertanda bahwa sebentar lagi zona puncak akan dimasuki.
      Memang betul. Di kejauhan tampak puncak Tambora yang tandus dan
      berwarna kecokelatan. Begitu pula ketika menoleh ke arah barat, laut
      dan pulau-pulau di sekitar Sumbawa dapat terlihat. Yang agak
      mengherankan adalah onggokan kotoran menjangan di atas tanah.
      Ternyata tak hanya manusia yang sering mengunjungi puncak. Bisa
      dibilang, puncak Tambora adalah bagian dari dunia komunitas hewan
      berkaki empat itu.
      Sampailah langkah kaki kami di bibir kawah. Kalau menghitung dari
      peta topografi, diameter kawah sekitar 6 km. Dinding-dinding
      terjalnya, menjulang tinggi hingga lebih dari 1.000 m. Dataran luas
      terhampar di dasar kawah. Inilah sisa letusan tahun 1815. Bisa
      dibayangkan betapa dahsyat letusan kala itu. Ahli geologi
      memperkirakan bahwa volume puncak yang hilang karena pembentukan
      kawah ini sebesar 30 km3. Mungkin tepat di atas tengah kawah inilah
      dulunya puncak 4.000 m berada.
      Sebuah bukit kecil tandus menjulang di sisi barat kawah. Itulah
      puncak Tambora setelah malapetaka tahun 1815. Segera perhatian
      tertuju ke sana. Hanya hati-hati. Semenjak memasuki zona puncak,
      permukaan tanah ditutupi oleh kerikil. Bila tidak waspada, bisa
      terjungkal karena terpeleset.
      Di pucuk bukit, tonggak batu yang tingginya kira-kira setengah
      meter, telah menanti. Inilah tanda ketinggian 2.722 m.
      Dari sini pandangan bisa diarahkan dengan leluasa. Selain kawah di
      sebelah timur, nun jauh di arah barat pucuk Gunung Rinjani terlihat
      menyembul dari selaput tipis awan. Sementara, rasa lelah pun terasa
      luruh ketika hembusan angin menerpa tubuh.(Andi Amran)

      http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2003/0430/hob1.html
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.