Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Krishnamurti (1933): HIDUP DALAM KEPURA-PURAAN, DALAM KEMUNAFIKAN

Expand Messages
  • Hudoyo Hupudio
    J. Krishnamurti: HIDUP DALAM KEPURA-PURAAN, DALAM KEMUNAFIKAN Ceramah pertama di Alpino, 1 Juli 1933 Teman-teman, Saya ingin Anda membuat temuan yang hidup,
    Message 1 of 1 , Aug 1, 2006
    • 0 Attachment
      J. Krishnamurti:

      HIDUP DALAM KEPURA-PURAAN, DALAM KEMUNAFIKAN

      Ceramah pertama di Alpino, 1 Juli 1933

      Teman-teman,

      Saya ingin Anda membuat temuan yang hidup, bukan temuan yang dipicu oleh uraian orang lain. Misalnya, jika seseorang mengatakan kepada Anda tentang keindahan alam di sini, Anda akan datang dengan batin Anda disiapkan oleh uraian itu, dan kemudian Anda mungkin kecewa dengan realitasnya. Tidak seorang pun dapat mendeskripsikan realitas. Anda harus mengalaminya, melihatnya, merasakan seluruh suasananya. Bila anda melihat keindahan dan kebagusannya, Anda mengalami pembaruan, peningkatan sukacita.

      Kebanyakan orang yang mengira bahwa mereka mencari kebenaran telah menyiapkan batin mereka untuk menerimanya dengan mempelajari uraian dari apa yang mereka cari. Bila Anda menyelidiki agama-agama dan filsafat-filsafat, Anda mendapati bahwa mereka semua mencoba mendeskripsikan realitas; mereka mencoba mendeskripsikan realitas untuk menjadi tuntunan Anda.

      Nah, saya tidak akan mencoba mendeskripsikan apa yang bagi saya adalah kebenaran, oleh karena itu akan menjadi upaya yang mustahil. Orang tidak bisa mendeskripsikan atau memberikan kepada orang lain kepenuhan dari suatu pengalaman. Setiap orang harus menghayatinya sendiri.

      Seperti kebanyakan orang, Anda telah membaca, menyimak dan meniru; Anda telah mencoba menemukan apa yang dikatakan orang lain tentang kebenaran dan Tuhan, tentang kehidupan dan keabadian. Jadi Anda memiliki sebuah gambaran di dalam batin Anda, dan sekarang Anda ingin membandingkan gambaran itu dengan apa yang akan saya katakan. Artinya, batin Anda hanya mencari sekadar deskripsi; Anda tidak mencoba menemukan secara baru, melainkan hanya mencoba membandingkan. Tetapi, oleh karena saya tidak akan mencoba mendeskripsikan kebenaran, oleh karena ia tidak bisa dideskripsikan, dengan sendirinya akan ada kebingungan dalam batin Anda.

      Bila Anda memegang di hadapan Anda sebuah gambaran yang akan Anda kopi, suatu ideal yang akan Anda tiru, Anda tidak pernah menghadapi sebuah pengalaman secara penuh; Anda tidak pernah terus terang, tidak pernah jujur mengenai diri Anda dan tindakan-tindakan Anda sendiri; Anda selalu melindungi diri dengan sebuah ideal. Jika Anda sungguh-sungguh menggali ke dalam pikiran dan hati Anda sendiri, Anda akan mendapati bahwa Anda datang kemari untuk memperoleh sesuatu yang baru; suatu ide baru, suatu sensasi baru, suatu penjelasan hidup yang baru, agar Anda dapat membentuk kehidupan Anda sesuai dengan itu. Dengan demikian, Anda sesungguhnya mencari suatu penjelasan yang memuaskan. Anda tidak datang dengan suatu sikap yang segar, sehingga dengan persepsi Anda sendiri, intensitas Anda sendiri, Anda dapat menemukan sukacita tindakan yang alamiah dan spontan. Kebanyakan dari Anda hanya sekadar mencari penjelasan deskriptif akan kebenaran, dengan mengira bahwa jika Anda dapat menemukan apa kebenaran itu, lalu Anda dapat membentuk hidup Anda sesuai dengan cahaya abadi itu.

      Jika itu motif pencarian Anda, maka itu bukan pencarian akan kebenaran. Alih-alih, itu adalah pencarian akan penghiburan, akan kenyamanan; itu tidak lebih dari upaya untuk lari dari konflik dan pergulatan tak terhitung banyaknya yang harus Anda hadapi setiap hari.

      Dari penderitaan lahirlah dorongan untuk mencari kebenaran; di dalam penderitaan terletak penyebab dari penyelidikan yang tekun, pencarian akan kebenaran. Namun, bila Anda menderita--seperti setiap orang menderita--Anda mencari obat dan kenyamanan seketika. Bila Anda merasakan kesakitan fisik sesaat, Anda mencari obat penghilang rasa sakit di apotik terdekat untuk mengurangkan penderitaan Anda. Begitu pula, bila Anda mengalami kepedihan mental atau emosional sesaat, Anda mencari penghiburan, dan Anda mengira bahwa mencari obat kesakitan itu adalah pencarian kebenaran. Dengan cara itu, Anda terus-menerus mencari kompensasi bagi kesakitan Anda, kompensasi bagi upaya yang terpaksa Anda lakukan. Anda menghindari penyebab utama dari penderitaan dan dengan demikian menjalani kehidupan yang ilusif.

      Demikianlah, orang-orang yang selalu menyatakan mereka mencari kebenaran sesungguhnya tidak menemukannya. Mereka mendapati hidup mereka tidak cukup, tidak lengkap, tidak mempunyai cinta, dan mengira bahwa dengan mencoba mencari kebenaran mereka akan menemukan kepuasan dan kenyamanan. Jika Anda terus terang berkata kepada diri sendiri bahwa Anda hanya mencari penghiburan dan kompensasi untuk kesulitan-kesulitan hidup, Anda akan dapat menggarap masalahnya secara cerdas. Tetapi selama Anda berpura-pura kepada diri sendiri bahwa Anda mencari sesuatu yang lebih daripada sekadar kompensasi, Anda tidak bisa melihat masalahnya dengan jelas. Maka, hal pertama yang perlu ditemukan ialah apakah Anda sungguh-sungguh mencari, secara mendasar mencari kebenaran.

      Orang yang mencari kebenaran bukanlah murid kebenaran. Misalkan Anda berkata kepada saya, "Saya tidak punya cinta dalam hidup saya; hidup ini merana, penuh kesakitan terus-menerus; oleh karena itu, untuk memperoleh kenyamanan, saya mencari kebenaran." Maka saya harus mengatakan bahwa pencarian Anda akan kenyamanan adalah khayalan sama sekali. Tidak ada dalam kehidupan ini apa yang dinamakan kenyamanan dan keamanan. Hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa Anda harus mutlak berterus-terang.

      Tetapi Anda sendiri tidak yakin, apa sesungguhnya yang Anda inginkan: Anda ingin kenyamanan, penghiburan, kompensasi, namun, pada saat yang sama, Anda menginginkan sesuatu yang jauh lebih besar tak terbatas daripada sekadar kompensasi dan kenyamanan. Anda begitu kacau dalam batin Anda sendiri, sehingga pada suatu saat Anda memandang pada suatu otoritas yang menawarkan kepada Anda kompensasi dan kenyamanan, dan pada saat berikutnya Anda berpaling pada orang lain yang mengingkari kenyamanan bagi Anda. Maka hidup Anda menjadi eksistensi yang munafik secara halus, kehidupan penuh kekacauan. Cobalah temukan apa yang sesungguhnya Anda pikirkan; jangan berpura-pura memikirkan apa yang Anda percaya harus Anda pikirkan; maka, jika Anda sadar, hidup sepenuhnya dalam apa yang Anda kerjakan, Anda akan tahu sendiri, tanpa analisis-diri, apa yang sesungguhnya Anda inginkan. Jika Anda bertanggung jawab sepenuhnya akan tindakan-tindakan Anda, Anda akan tahu tanpa analisis-diri apa yang sesungguhnya Anda cari. Proses penemuan ini tidak membutuhkan kemauan kuat, kekuatan besar, melainkan hanya sekadar minat untuk menemukan apa yang Anda pikirkan, menemukan apakah Anda sungguh-sungguh jujur atau hidup dalam ilusi.

      Dengan berbicara kepada kelompok-kelompok pendengar di seluruh dunia, saya mendapati semakin banyak orang yang tidak memahami apa yang saya katakan, oleh karena mereka datang dengan ide-ide terpaku; mereka menyimak dengan sikap bias, tanpa mencoba menemukan apa yang saya katakan, melainkan sekadar berharap menemukan apa yang secara diam-diam mereka inginkan. Tidak ada gunanya berkata, "Ini suatu ideal baru yang kepadanya saya harus membentuk hidup saya." Alih-alih, temukan apa yang sesungguhnya Anda rasakan dan pikirkan.

      Bagaimana Anda menemukan apa yang sesungguhnya Anda rasakan dan pikirkan? Dari sudut pandang saya, Anda hanya dapat melakukannya dengan menyadari seluruh kehidupan Anda. Maka Anda akan menemukan seberapa jauh Anda menjadi budak dari ideal-ideal Anda, dan dengan menemukan itu, Anda akan melihat bahwa Anda telah menciptakan ideal-ideal demi penghiburan Anda.

      Di mana ada dualitas, di mana ada hal-hal yang berlawanan, tentu ada kesadaran akan ketidaklengkapan. Batin terperangkap dalam hal-hal yang berlawanan, seperti hukuman dan ganjaran, baik dan buruk, masa lampau dan masa depan, untung dan rugi. Pikiran terperangkap dalam dualitas ini, dan dengan demikian terdapat ketidaklengkapan dalam tindakan. Ketidaklengkapan ini menciptakan penderitaan, konflik dari pilihan, daya upaya dan otoritas, dan pelarian dari yang tidak penting kepada yang penting.

      Bila Anda merasa bahwa Anda tidak lengkap, Anda merasa hampa, dan dari rasa kehampaan itu muncullah penderitaan; dari ketidaklengkapan itu Anda menciptakan standar-standar, ideal-ideal, untuk mendukung Anda dalam kehampaan Anda, dan Anda menegakkan standar-standar dan ideal-ideal ini sebagai otoritas eksternal Anda. Apakah penyebab batiniah dari otoritas eksternal yang Anda ciptakan untuk diri Anda sendiri? Pertama, Anda merasa tidak lengkap, dan Anda menderita dari ketidaklengkapan itu. Selama Anda tidak memahami penyebab dari otoritas, Anda tidak lebih daripada sekadar mesin yang meniru, dan di mana ada peniruan di situ tidak mungkin ada kepenuhan hidup yang kaya.

      Untuk memahami penyebab dari otoritas, Anda harus menelusuri proses mental dan emosional yang menciptakannya. Pertama-tama, Anda merasa hampa, dan untuk melenyapkan rasa itu, Anda mengerahkan daya upaya; dengan daya upaya itu Anda hanya menciptakan hal-hal yang berlawanan; Anda menciptakan dualitas yang hanya memperparah ketidaklengkapan dan kehampaan itu. Anda bertanggung jawab bagi otoritas-otoritas eksternal seperti agama, politik, moralitas, bagi otoritas-otoritas seperti standar ekonomi dan sosial. Dari kehampaan Anda, dari ketidaklengkapan Anda, Anda menciptakan standar-standar eksternal, yang dari situ sekarang Anda mencoba membebaskan diri Anda. Dengan ber-evolusi, dengan berkembang, dengan tumbuh menjauhi mereka, Anda sekarang ingin menciptakan suatu hukum batiniah bagi diri Anda sendiri. Sementara Anda mulai memahami standar-standar eksternal, Anda ingin membebaskan diri Anda dari mereka, dan mengembangkan standar batiniah Anda sendiri. Standar batiniah ini, yang Anda namakan "realitas spiritual", Anda identifikasikan dengan sebuah hukum kosmik, yang berarti bahwa Anda menciptakan pembagian lagi, dualitas lagi.

      Jadi, mula-mula Anda menciptakan hukum eksternal, lalu Anda berupaya keluar dari situ dengan mengembangkan hukum batiniah, yang Anda identifikasikan dengan alam semesta, dengan keseluruhan. Itulah yang terjadi. Anda masih tetap sadar akan egotisme Anda yang terbatas, yang sekarang Anda identifikasi dengan suatu ilusi besar, dan menyebutnya kosmik. Jadi, bila Anda berkata, "Saya menaati hukum batiniah saya," Anda sekadar menggunakan ungkapan untuk menutupi keinginan Anda untuk melarikan diri. Bagi saya, orang yang terikat entah oleh suatu hukum eksternal atau hukum batiniah, terkurung dalam sebuah penjara; ia terpenjara oleh sebuah ilusi. Dengan demikian, orang seperti itu tidak dapat memahami tindakan yang spontan, alamiah dan sehat.

      Nah, mengapa Anda menciptakan hukum-hukum batiniah bagi diri Anda? Bukankah karena pergulatan kehidupan sehari-hari begitu besar, begitu tidak harmonis, sehingga Anda ingin lari darinya dan menciptakan hukum batiniah yang menjadi penghiburan bagi Anda? Dan Anda menjadi budak dari otoritas batiniah itu, standar batiniah itu, oleh karena Anda hanya membuang gambaran lahiriah, dan sebagai gantinya menciptakan gambaran batiniah, yang memperbudak Anda.

      Dengan cara ini Anda tidak akan mencapai 'penglihatan' sejati, dan 'melihat' berbeda sekali dengan memilih. Pilihan harus ada di mana ada dualitas. Bila batin tidak lengkap dan sadar akan ketidaklengkapan itu, ia mencoba lari darinya dan dengan demikian menciptakan suatu lawan bagi ketidaklengkapan itu. Lawan itu mungkin berupa standar eksternal atau standar batiniah, dan bila orang telah menegakkan standar seperti itu, ia menilai setiap tindakan, setiap pengalaman berdasarkan standar itu, dan dengan demikian hidup dalam keadaan memilih terus-menerus. Pilihan hanya lahir dari perlawanan. Jika ada 'penglihatan', tidak ada daya upaya.

      Jadi bagi saya, seluruh konsep tentang upaya menuju kebenaran, menuju realitas, ide tentang berusaha terus-menerus, adalah palsu sama sekali. Selama Anda tidak lengkap, Anda akan mengalami penderitaan, dan karena itu Anda akan terlibat dalam pilihan, dalam daya upaya, dalam pergulatan tanpa henti untuk apa yang Anda namakan "pencapaian spiritual." Jadi saya berkata, bila batin terperangkap dalam otoritas, ia tidak mungkin memperoleh pemahaman, pikiran sejati. Dan karena batin kebanyakan dari Anda terperangkap dalam otoritas--yang tiada lain adalah pelarian dari pemahaman, dari 'melihat'--Anda tidak dapat menghadapi pengalaman hidup dengan lengkap. Dengan demikian, Anda menjalani kehidupan ganda, kehidupan pura-pura, kehidupan munafik, kehidupan tanpa saat yang lengkap.***
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.