Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [mediabaca] Derita Muslim Minoritas di India <<-- TANGGAPAN

Expand Messages
  • Rinaldi Maskinantan
    Saya geli sekaligus jengkel membaca artikel pada link di atas. Ini adalah propaganda “khas” kaum fundamentalis. Cirinya: selalu memposisikan umat Muslim
    Message 1 of 2 , Dec 1, 2008
    • 0 Attachment
      Saya geli sekaligus jengkel membaca artikel pada link di atas. Ini adalah
      propaganda �khas� kaum fundamentalis. Cirinya: selalu memposisikan umat Muslim
      sebagai umat yang tertindas, sementara yang digambarkan menindas adalah umat
      non-Muslim. Dari situ, nampak penulis artikel berupaya membangun �sentimen
      keumatan� sekaligus kebencian terhadap agama lain. Terlihat ada upaya
      �pengkonfrontasian� pihak yang berkonflik berdasarkan agama.



      Penulis artikel lupa (atau memang berpandangan sempit) bahwa
      konflik-konflik kemanusiaan menimpa banyak orang tak pandang bulu apa agamanya.
      Bantai membantai, bunuh membunuh, sudah terjadi sejak jaman kuda gigit besi dan
      terjadi di mana saja tanpa ada kecenderungan �hanya agama tertentu� yang menjadi
      korban. Baru-baru ini misalnya, biksu-biksu Buddha di Myanmar dibunuh dengan
      kejam oleh diktator di negara itu karena berdemonstrasi.



      Zolim-menzolimi beraneka ragam polanya. Ada Muslim menzolimi non-Muslim
      (konflik di Darfur), ada Muslim menzolimi Muslim sendiri (perang Irak-Iran/HAMAS
      vs Fatah), non-Muslim menzolimi Muslim (konflik di Tepi Barat), non-Muslim
      menzolimi non-Muslim (pembantaian Bhiksu-bhiksu di Myanmar), dan seterusnya.
      Jadi tidak bisa dilihat secara sempit seolah hanya Muslim yang �kerap� jadi
      korban non-Muslim. Bahkan melibatkan �muslim� (atau penganut agama apapun) di
      sini secara akal sehat tidak relevan, karena penzoliman adalah penzoliman. Tak
      ada urusan jenis teologi apa yang dianut oleh terzolim maupun penzolim.



      Propaganda �khas� seperti ini cenderung bersimpati terhadap konflik
      kemanusiaan jika kebetulan kaum Muslimin yang menjadi korban atas kezoliman
      umat non-Muslim. Ketika Muslim membantai saudaranya sendiri seperti perang
      saudara di Somalia atau perang Irak-Iran (yang menewaskan jutaan orang), atau
      invasi Irak ke Kuwait, atau penyiksaan lawan-lawan politik Saddam Hussein di
      Abu Ghraib, �dan seterusnya, semangat
      protes mereka tidak sekeras ini. Apalagi ketika kaum Muslim membantai
      non-Muslim seperti konflik kemanusiaan yang terjadi di Darfur. Tetapi ketika
      ada puluhan Muslim tewas di Thailand selatan oleh kekejaman tentara setempat,
      maka semangatlah mereka bersuara untuk berjihad.



      Sudah saatnya masyarakat berpikir secara luas, modern, dan rasional
      dengan memandang tragedi kemanusiaan sebagai tragedi kemanusiaan, sebagai suatu
      masalah yang harus diselesaikan, bukan sebagai �konflik� antar agama tertentu
      dengan agama tertentu.



      Subjektifitas dan �superioritas� keumatan juga sangat terlihat pada
      beberapa paragraf tulisan tersebut. Misalnya saja pada kalimat:



      �Kehadiran Islam berpengaruh terhadap seluruh
      tatanan kehidupan orang-orang Hindu
      yang musyrik dan jahiliah. Pada era Islam, terdapat kebangkitan
      berbagai aspek kehidupan, ekonomi, pendidikan, politik, dan lainnya.�



      Orang-orang Hindu
      �musyrik� dan �jahiliyah�? Wah, penulis agaknya kurang pengetahuan atau sengaja
      membodohi pembacanya dengan penghakiman asal bunyi.



      Hinduisme itu
      agama tua, agama peradaban. Sejarahnya sudah ada sejak 5000 tahun SM.
      Hasil-hasil peradaban kunonya bisa dilihat dari penemuan kota tua Mohenjo Daro
      dan Harappa, kota tua yang membuat kagum para ilmuwan karena kota setua itu
      memiliki tata irigasi yang sangat modern untuk ukuran zamannya. Masyarakat
      India pada umumnya telah mencapai masa keemasannya jauh sebelum Islam lahir di
      jazirah Arab. Kitab Hindu disebut �Veda�, berasal dari kata �Vid� yang artinya
      �pengetahuan�.



      Dari segi
      religi dan spiritual, perlu penulis ketahui, bahkan konsep �wihdatul wujud� yang seringkali dipikirkan para Sufi Islam, telah
      lebih dulu ada dalam agama Hindu. Silakan penulis baca kitab Upanishad, atau bacalah artikel tentang
      itu. Bagaimana mungkin penulis menghakimi bahwa Hinduisme adalah agama musyrik?
      Atau penulis memang belum tahu hal ihwal Hinduisme secara mendalam? Atau sengaja
      mendistorsi Hinduisme agar tampak �musyrik� hingga audiencenya tak tertarik
      mempelajarinya?



      Proses
      kelahiran agama Buddha pada 500 SM juga merupakan wujud kemajuan intelektual
      dan spiritual masyarakat India pada waktu itu. Agama yang lahir lebih kurang 1000
      tahun sebelum Islam tersebut ajarannya bersifat rasional dan banyak
      menginspirasi ilmuwan modern. Pandangan Siddharta mengenai konsepsi jiwa
      misalnya, paralel dengan pandangan filsuf Skotlandia yang lahir ratusan tahun
      kemudian, David Hume. Agama Buddha juga menawarkan sebuah paradigma agama di
      mana �Tuhan� tidak dipandang sebagai suatu pribadi, dan oleh sebab itu
      �worship� menjadi tidak relevan. Itulah salah satu sebab, mengapa deskripsi
      agama modern menurut Albert Einstein lebih mendekati agama Buddha daripada
      agama Islam.



      Dan atas semua
      itu, penulis mengatakan masyarakat India pra-Islam adalah masyarakat jahiliyah?
      []



      �Qui scribit, bis legit� �Barang siapa menulis, ia membaca dua kali� �(Pepatah Yunani)

      --- On Thu, 11/27/08, Abdul Rahman <Inspiring.Rahman@...> wrote:
      From: Abdul Rahman <Inspiring.Rahman@...>
      Subject: [mediabaca] Derita Muslim Minoritas di India
      To: "sma1bkt" <SMA1Bkt@yahoogroups.com>, insistnet@yahoogroups.com, parapemikir@yahoogroups.com, pejuang_syariah@yahoogroups.com, mediabaca@yahoogroups.com, liberation-youth@yahoogroups.com, kultur_tandingan@yahoogroups.com
      Date: Thursday, November 27, 2008, 11:40 PM

      *Lebih kurang 2000 muslim dibunuh, diperkosa dan dibakar hidup-hidup dalam
      kerusuhan di Gujarat India Februari 2002 .Dimana dunia saat itu ? *

      *Masjid Babri di Ayodhya dihancurkan oleh militan Hindu pada 1992 , dimana
      dunia saat itu? (jeritan muslim India) *

      *Pasang-Surut Muslim India *

      Sejarah Muslim India memang mengalami pasang-surut. Masuknya Islam di Benua
      India India terjadi pada masa pemerintahan Kholifah Umayyah, yang
      mengirimkan tentara Islam di bawah pimpinan Muhammad bin Qasim al Tasqafiy
      pada 93 H atau 712 M. Namun sebenarnya, sebelum mengirimkan tentaranya ke
      India, hubungan antara India dan Negara Islam, sudah terjalin dakwah Islam
      ke India sejak masa Rasulullah.

      Dalam buku Islam in India, Prof. Husayin Nairar menceritakan bahwa Maharaja
      Malabar bernama Kheraman Perumal yang memerintah daerah India Selatan, dari
      Kanjorakot sampai Tanjung Comorin, telah berangkat ke Arabia dan mendapat
      kehormatan menemui Rosulullah Saw. Sewaktu pulang kembali ke India, dia
      membawa tiga orang sahabat nabi sebagai utusan dakwah ke India (muballigh).
      Yaitu, Syarif bin Malik, Malik bin Dinar, dan Malik bin Habib. Di tangan
      mereka inilah berkembang dakwah Islam di India Selatan. Sayang sekali,
      Maharaja itu telah berpulang ke rahmatullah di tengah perjalan yaitu di
      Zafar.

      Berikutnya, langkah perang (jihad) terpaksa dilakukan mengingat begitu
      kerasnya , raja-raja Hindu menghalangi dakwah Islam di India. Kefanatikan
      mereka terhadap kemusyrikan sungguh luar biasa. Setelah futuhat, kekuasaan
      Islam di sana sangat terorganisasi hingga berhasil mendirikan kesultanan di
      New Delhi. Namun, kesultanan itu diambil-alih Dinasti Moghul pada abad
      ke-16. Kekuasaan dinasti keturunan Timur Lenk ini berakhir di tangan Inggris
      pada 1757. Lebih dari seabad, wilayah tersebut dikuasai Inggris. Tuntutan
      untuk memisahkan diri dari India yang dimotori Muhammad Ali Jinnah
      mengkristal pada 1940 dengan dibentuknya Liga Islam. Baru pada 1947
      Pakistan�yang semula bagian dari India�diakui menjadi negara tersendiri
      sebagai dominion dalam Persemakmuran Inggris.

      Meskipun Islam belum menjadi agama mayoritas di Benua India, Islam pernah
      memerintah di sana. Selama era Islam di India, kondisi umat Islam dan
      kelompok-kelompok non-Muslim jauh lebih baik. Memang, tidak semua penguasa
      pada era Islam di India memerintah dengan baik. Di antara mereka, ada juga
      yang menyimpang dari syariah Islam dan bertindak lalim terhadap rakyatnya.
      Bagaimanapun, pemerintahan Islam adalah pemerintahan yang dijalankan oleh
      manusia, yang bisa saja keliru. Di situlah letak peran rakyat , terutama
      ulama dan partai politik, untuk melakukan koreksi terhadap penguasa-penguasa
      yang menyimpang.

      Namun demikian, yang jelas, berdasarkan sejarah, tidak bisa dipungkiri,
      bahwa selama era Islam masyarakat India mengalami peningkatan peradaban yang
      luar bisa. Pengaruh Islam terhadap Benua India (termasuk India sendiri )
      sangat besar.

      Kehadiran Islam berpengaruh terhadap seluruh tatanan kehidupan orang-orang
      Hindu yang musyrik dan jahiliah. Pada era Islam, terdapat kebangkitan
      berbagai aspek kehidupan, ekonomi, pendidikan, politik, dan lainnya.
      Kehadiran Islam di India juga telah mendorong meningkatnya perdagangan yang
      tadinya lokal menjadi lebih global. Lewat pedagang-pedagang Muslim,
      perdagangan India menyebar ke Timur Tengah, Mongolia, dan Indonesia di Asia
      Tenggara. Seiring dengan berkembangnya perdagangan internasional, penyebaran
      dan peningkatan sains dan teknologi juga meningkat. Penemuan kincir angin
      ,yang pada masa itu termasuk teknologi canggih, terjadi pada era Islam.
      Penggunaan ubin keramik dalam berbagai kontruksi bangunan di India di
      pengaruhi oleh arsitektur di Irak, Iran, dan Asia Tengah. Barang pecah-belah
      (yang terbuat dari tanah) banyak diadopsi dari Cina yang dibawa oleh
      penguasa Mughal. Pada masa pemerintahannya, Sultan Abidin (1420-1470)
      mengirim pekerja-pekerja yang ahli ke Samarqand untuk mempelajari penjilidan
      dan penggunaan kertas.

      Pada era Islam jugalah berkembang kota-kota industri yang terkenal hingga
      saat ini. Khurja dan Siwan terkenal dengan industri tembikarnya, Morabadad
      dengan benda-benda yang terbuat dari kuningan, Mirzapur dengan karpetnya,
      Firozabad dengan benda-benda gelas, Farrukhabad dengan industri
      percetakannya, Sahranpru dengan ukiran kayunya, Srinagar dengan 'papier
      mache' (hasil industri yang terbuat dari bubur kertas), dan lain-lain.

      Dari segi bahasa, pengaruh bahasa Arab (sebagai bahasa Islam) memunculkan
      bahasa Urdu. Bahasa ini mempunyai nahu Prakrit dengan perbendaharaan kata
      Parsi, Arab, dan Turki. Ia ditulis dengan skrip Arab tetapi diubah untuk
      mewakili bunyi bukan Arab. Contoh-contoh perbendaharaan kata Urdu: wajib,
      munsyi, dll.

      Pengaruh Islam juga tampak dari teknologi bangunan yang mengalami
      perkembangan yang pesat pada zaman Mughul. Ini tampak, misalnya, pada Gedung
      Kabuli Bagh di Panipat, Masjid Jami' di Sambal dan sebuah masjid di Agra.
      Shah Jahan merupakan ahli bangunan yang terkenal. Salah satu karyanya
      adalah bangunan
      Taj Mahal yang banyak dipengaruhi konsep dan gaya Islam

      Namun demikian, masa kegemilangan tersebut berubah menjadi penderitaan saat
      era Islam berakhir dan penjajah Barat masuk ke India. Diawali dengan
      masuknya *The British East Company* (1600- 1858), Inggris mulai melakukan
      penjajahan di India. Inggris kemudian membentuk pemerintahan kolonialnya di
      India (1858-1947). Seruan jihad pun dilakukan oleh kaum Muslim di India
      untuk mengusir Inggris.

      Penderitaan pun terus berlanjut pasca kemerdekaan India (1947) .
      Pemerintahan nasional India, yang didominasi oleh Hindu, melakukan berbagai
      bentuk diskriminasi terhadap umat Islam. Hal ini membuat beberapa elit
      politik Muslim kemudian memisahkan diri dari India dan membentuk Pakistan.
      Sayang, pemisahan ini ternyata tidak menyelesaikan berbagai penderitaan umat
      Islam di sana. Pakistan ternyata menjadi pemerintahan sekular dan didominasi
      oleh militer yang banyak menyengsarakan rakyatnya.

      *Pembantaian Massal oleh Hindu Militan *

      Sulit dipungkiri, ada upaya dari negara Hindu itu untuk menutupi
      pembantaian massal mereka terhadap umat Islam di Gujarat. Seperti yang
      banyak dilaporkan, sejak terjadinya kerusuhan di Gujarat Februari 2002,
      ribuan kaum Muslim terbunuh, diperkosa, dan dibakar hidup-hidup. Hingga saat
      ini, banyak di antara mereka yang masih tinggal di kamp-kamp pengungsi
      dengan kondisi sangat menyedihkan. sebagai negara demokrasi terbesar di
      dunia, sekaligus bertentangan dengan ajaran Gandi tentang ajaran ahimsa;
      perjuanganan tanpa kekerasan. Ironisnya, Gujarat merupakan tempat Mahatma
      Gandhi lahir.

      Disamping, pembantaian di Khasmir yang kunjung berhenti hingga saat ini,
      salah satu peristiwa yang sangat menyakitkan umat Islam adalah penghancuran
      Masjid Babri di Ayodhya oleh militah Hindu pada 1992. Penghancuran Masjid
      Babri ini telah memicu tewasnya ribuan kaum Muslim yang dengan gagah berani
      berusaha mempertahankan masjid Allah tersebut. Penghancuran masjid ini
      dimotori oleh Partai Bharatiya Janata (BJP) pimpinan Athal Bihari Fajpaye
      yang kini berkuasa di India. Tidak berhenti sampai di sana, hingga saat ini,
      ekstremis Hindu tetap 'ngotot' untuk membangun kuil di atas reruntuhan
      Masjid Babri tersebut. Para Hindu ekstremis tetap ingin membangun kuil
      meskipun pemerintah India telah melarang. Ada kesan, pemerintah India hanya
      berpura-pura melarang, karena mereka tidak melakukan tindakan yang tegas
      kepada kelompok Hindu. Dengan kesombongannya, Asywak Sinagal, kepala
      kelompok Fisywa Hindu, menyatakan di hadapan pers bahwa kelompoknya akan
      tetap bertekad melanjutkan rencana mendirikan kuil di Ayodhya.

      Memang sangat mengherankan, bagaimana dunia diam terhadap pembantaian kaum
      Muslim di Gujarat baru-baru ini. Amerika Serikat,yang sering berkoar-koar
      tentang HAM, juga tidak banyak berbuat. Padahal, dari bulan 28 Februari,
      gerombolan orang-orang Hindu membunuh sedikitnya 2000 Muslim di seluruh
      Gujarat.

      Mayat yang hangus terbakar dan beberapa orang Muslim yang selamat dengan
      terluka, membuktikan bahwa orang Muslim dibakar hidup-hidup secara
      sistematis oleh orang Hindu. Berdasarkan laporan dari banyak saksi mata yang
      bisa dipertanggungjawabkan, wanita Muslim dan anak-anak perempuan diperkosa
      beramai-ramai dan kemudian dibakar hidup-hidup atau dipotong bagian-bagian
      tubuhnya untuk menyembunyikan bukti. Bahkan, para wanita Muslim yang sedang
      mengandung dibelah perutnya saat dia masih hidup. Dia kemudian menjadi saksi
      kematian bayi yang dikandungnya, sebelum dia sendiri meninggal dunia.
      Orang-orang Hindu dipersenjatai dengan senjata yang mematikan. Orang-orang
      Hindu juga diberikan data 'intelijen' yang rinci seperti daftar nama
      pemilih
      dan data harta milik orang-orang Islam. Dengan itu, mereka bisa
      menghancurkan harta kekayaan milik orang Muslim secara selektif tanpa
      menyentuh milik orang Hindu.

      *Keterlibatan Pemerintah *

      Smita Narula, seorang peneliti senior untuk Human Rights Watch, berkata pada
      30 April, "Apa yang terjadi di Gujarat bukanlah muncul secara spontan,
      tetapi telah dirancang demikian teliti untuk menghancurkan kaum Muslim.
      Serangan ini direncanakan terlebih dulu dan digerakkan dengan keterlibatan
      yang luas dari polisi dan pejabat pemerintah."

      Sebenarnya, pembunuhan besar-besaran dirancang secara sengaja oleh
      pemerintahan Vajpayee. Beberapa bukti menunjukkan hal ini. Seperti yang
      dikutip oleh Eramuslim.com (13/3/2002) koran harian Kolkata, The Telegraph,
      menerbitkan suatu laporan detil tanggal 10 Maret yang ditulis Sujan Dutta,
      korespondennya di Ahmedabad. "Kerusuhan berdarah di Gujarat sebagai bagian
      dari gelombang pembunuhan terhadap penumpang kereta api di Godhra tanggal 27
      Februari, tidak hanya secara diam-diam didukung oleh pemerintah pusat,
      tetapi juga oleh menteri kepala Narendra Modi. Modi memberi VHP jaminan
      waktu 24 jam untuk merancang makar pembantaian itu," ujar Dutta.

      Beberapa bukti keterlibatan Pemerintah India, antara lain: Pertama,
      berkenanan dengan Insiden Ghodra yang menjadi pemicu kerusuhan ini, meskipun
      di stasion kereta api Godhra terdapat pos polisi, dengan polisi bersenjata
      dan memiliki fasilitas komunikasi yang bagus untuk diminta pertolongannya,
      tidak ada yang berupaya untuk mencegah kejadian ini (serangan terhadap
      Kereta Api Sabarmati Express). Pada 27 Februari 2002, orang Hindu sedang
      kembali dari Ayodha dengan menggunakan kereta api. Sebelumnya, mereka ikut
      dalam sebuah reli anti-Muslim yang berhubungan dengan Masjid Babri. Saat
      mereka pulang, mereka mencela orang-orang Islam dan menolak membayar kepada
      pedagang Muslim. Bahkan, seorang Hindu menyeret seorang Muslimah ke kereta
      api. Namun, polisi tidak melakukan tindakan sama sekali.

      Kedua, kementerian negara Hindu mengambil langkah segera dan sengaja untuk
      menjadikan isu tersebut menjadi perang terhadap orang-orang Islam. Pada
      tanggal 27 Pebruari, sehari setelah peristiwa Ghodhra, menteri kesehatan
      negara pergi sendiri ke kantor polisi di Ahmedabad dan memerintahkan polisi
      untuk tidak menyelamatkan orang-orang Islam.

      Lebih jauh lagi, para saksi mata melaporkan, menteri-menteri negara ikut
      langsung memimpin massa Hindu untuk menyerang orang-orang Islam.

      Sementera itu, Kepala Kementerian Negara Narenda Modi mengeluarkan
      pernyataan yang menghasut dan membenarkan pembantaian tersebut. Pada 1 Maret
      2002, dia berkata, "Setiap tindakan mempunyai keseimbangan aksi dan
      reaksi."


      Ketiga, polisi negara Gujarat juga ikut terlibat aktif dalam penyerangan
      terhadap kaum Muslim. Saksi mata yang selamat dan meminta pertolongan polisi
      mendapat jawaban, "Kami tidak diperintah untuk menyelamatkan kamu!"

      Para saksi mata juga melaporkan, polisi hanya berhenti dan menyaksikan
      pembununuhan tersebut, bahkan ikut terlibat dalam gerombolan massa Hindu
      yang mengamuk. Pada 28 Februari di Ahmedabad polisi ikut membunuh kaum
      Muslim, meskipun saat itu minoritas Muslim menjadi sasaran serangan
      gerombolan Hindu yang bersenjata. Komisaris Polisi Ahmedabad secara terbuka
      menyatakan permohonon maaf anggotanya yang ikut terlibat, "Polisi juga
      dipengaruhi oleh sentimen massal pada waktu itu."

      Keempat, pemerintah pusat juga secara penuh berada di belakang pemerintah
      negara bagian yang melakukan pembantai terhadap kaum Muslim. Pada saat itu,
      BPJ sedang menghadapi kekalahan dalam beberapa pemilu di negara bagian Uttar
      Pradesh, Uttrancahal, Punjab, dan Manipur. BJP telah menggunakan isu Masjid
      Babri untuk memunculkan sentimen rasial orang-orang Hindu. Apa yang terjadi
      di Gujarat merupakan perluasan dari strategi ini. Jadi, untuk memenangkan
      pemilu, BPJ telah membunuh kaum Muslim. Vajpayee sendiri memberikan komentar
      sinis kepada kaum Muslim seperti dalam ulasannya di Panaji Goa 12 April,
      "Di
      manapun terdapat orang Islam, mereka tidak ingin hidup bersama dengan orang
      lain (atau yang berbeda kepercayaan). Dari pada hidup damai, mereka ingin
      berkhutbah dan menyebarkan agama mereka dengan menciptakan teror pada
      pemikiran lain."

      Inilah yang secara konsisten dilakukan oleh negara Hindu terhadap kaum
      muslimin di India lebih dari 50 tahun. Untuk itu, negara Hindu ini bersekutu
      dengan musuh kaum Muslim yang lain seperti Israel (Yahudi) dan Amerika
      Serikat. Mahabenar Allah dalam firman-Nya:

      ]����������� ������� �������� ���������
      ���������� ��������� ����������
      ����������� ����������[

      *Sesungguhnya kamu pasti akan mendapati orang-orang yang paling keras
      permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan
      orang-orang musyrik. *(*QS al-Maidah [5] : 82*). []

      Link :
      http://hizbut-tahrir.or.id/2008/11/28/derita-muslim-minoritas-di-india/

      --
      "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
      kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar;
      merekalah orang-orang yang beruntung."

      (TQS: Surat ALI IMRAN, 104)


      [Non-text portions of this message have been removed]


      ------------------------------------

      Membaca dan menulis adalah awal suatu kemajuan, baik individu, kelompok
      masyarakat, maupun suatu bangsa. Dari sinilah, ilmu pengetahuan dituangkan,
      digagas, ditransformasikan, dan diabadikan. Dengan mengisi mediabaca,
      partisipasi Anda sangat berpengaruh terhadap proses langkah-langkah menuju
      tatanan kehidupan pribadi, masyarakat, dan bangsa yang maju.
      Salam sukses!Yahoo! Groups Links








      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.