Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

[Siaran Pers] Penggambaran Pekerjaan dan Profesi dalam Sinetron

Expand Messages
  • Remotivi Remotivi
    [Siaran Pers] Penggambaran Pekerjaan dan Profesi dalam Sinetron Publikasi Penelitian Remotivi Tentang Empat Sinetron Indonesia   Dalam upaya merasionalisasi
    Message 1 of 1 , Nov 30, 2012
    • 0 Attachment
      [Siaran Pers] Penggambaran Pekerjaan dan Profesi dalam Sinetron

      Publikasi Penelitian Remotivi Tentang Empat Sinetron Indonesia
       

      Dalam upaya merasionalisasi kritik dan keluhan masyarakat terhadap sinetron Indonesia, Remotivi mencoba membuat sebuah penelitian yang kajian utamanya menyasar pada aspek “profesi” dan atau “pekerjaan” yang direpresentasikan di dalam cerita-cerita sinetron. Dengan mengambil sampel empat buah judul sinetron, yakni Cinta Salsabilla, Putih Abu-abu (keduanya ditayangkan di SCTV), Karunia, dan Yusra dan Yumna (keduanya di RCTI), kajian ini didasarkan pada pengamatan periode 11-18 Maret 2012.

      Dengan tingkat konsumsi masyarakat yang tinggi terhadap sinetron, penelitian kami bertujuan untuk melacak sejauh mana pola pikir yang dikembangkan oleh kebanyakan narasi sinetron hari ini. Kerja ini ditempuh untuk melihat paradigma apa yang berada di dalam logika cerita sinetron, sehingga dari sana sedikit banyak kita bisa membaca konstruksi persepsi macam apa yang berkembang dalam masyarakat penikmat sinetron.

      Temuan kami memperlihatkan beberapa hal:
      1. Sebuah pekerjaan atau profesi kerap ditampilkan dengan tidak rinci, tidak jelas. Kita tak pernah mengetahui dengan persis apa yang dikerjakan seseorang, bagaimana seseorang bekerja, atau di tempat macam apa ia bekerja. Identifikasi sebuah pekerjaan atau profesi kemudian hanya ditandai lewat atribut (seragam atau properti), bukan kemampuan (ketrampilan dan kecakapan kerja).
         
      2. Pada sisi lain, pekerjaan atau profesi seseorang kerap dicerabut dari konteks sosiologisnya. Tak pernah ada latarbelakang sosiologis suatu pekerjaan, misalnya, sehingga karenanya suatu pekerjaan kehilangan kompleksitasnya. “Pekerjaan atau profesi di dalam sinetron seakan-akan jatuh dari langit, seakan-akan tak ada asal-usulnya,” ujar Muhamad Heychael peneliti Rermotivi.
         
      3. Lain cerita, ditemukan banyak sekali tokoh-tokoh di dalam cerita yang mudah beralih profesi tanpa melalui serangkaian proses terlebih dahulu. Tak pernah diperlihatkan adanya adaptasi, pembelajaran, atau aktivitas lainnya sehingga seseorang bisa tiba-tiba menjalankan suatu pekerjaan atau profesi. Misalnya, seorang guru ekskul yang mendadak beralih menjadi manajer artis, seorang pemuda miskin yang seketika menjalankan pekerjaan sebagai manajer suatu perusahaan, atau seorang pekerja rumah tangga (PRT) yang merangkap pekerjaan sebagai sekretaris di suatu perusahaan. Bukan peralihan pekerjaan itu yang menjadi masalah, tapi “bagaimana” itu bisa terjadi tidak pernah terjelaskan oleh cerita sinetron. Pun oleh akal sehat.
         
      4. Problem pada ketiga poin di atas, kemudian “dijelaskan” sinetron melalui “logika takdir”. Artinya, yang memungkinkan seseorang menjadi dari “sesuatu” menjadi “sesuatu” adalah takdir yang digariskan, yakni adanya hubungan darah dengan seseorang tertentu. Misalnya, guru ekskul yang menjadi manajer ternyata adalah anak kandung dari seorang kaya, dan sebagainya.
         
      5. Pengamatan kami yang lain mencatat bahwa ada empat (4) jenis profesi yang paling sering muncul di keempat judul sinetron yang kami amati: PRT, satpam, dokter, dan sipir penjara.
         
      6. Secara garis besar, PRT dan satpam bisa dianggap sebagai pekerjaan/profesi yang masuk dalam kategori domestik. Dalam pengkategorian ini, kami menemukan bahwa penggambaran atas pekerjaan domestik ini berada dalam posisi yang sub-ordinat, lemah, dan tak berdaya. Meski tingginya frekuensi kemunculan PRT dan satpam, tapi keberadaan mereka tidak mempunyai pengaruh dalam cerita. Tugas mereka dalam cerita adalah sebatas penanda status sosial seseorang. Dan dalam konteks pekerjaannya, posisi mereka lebih digambarkan sebagai sebuah pengabdian, bukan pekerjaan, di mana tiada pembicaraan mengenai hak dan kewajiban pekerjaan seseorang.
         
      7. Pada profesi non-domestik, yakni dokter dan sipir penjara, posisi mereka mempunyai signifikansi pada narasi cerita sinetron. Dokter dengan penampilannya yang dingin dan berjarak, bisa saja mengubah arah cerita melalui vonisnya. Begitupun pada sipir penjara, “pengetahuan”-nya tentang masa lalu seseorang yang pernah berada di penjara, bisa menguak sebuah misteri atau rahasia yang selama ini tak diketahui, sehingga karenanya arah cerita bisa berubah. Meski demikian, keberadaan dokter dan sipir penjara tidak tampil dengan segala gugus kerjanya yang kompleks. Meski tanpa keutuhan penggambaran pekerjaan, “kesaksian” atau “vonis” mereka tidaklah pernah dipertanyakan kebenarannya. Karena lewat jenis profesinya sendiri, ditambah atribut kostum dan properti, rasionalitas dianggap seperti sudah melekat pada mereka. Jenis pekerjaan mereka menjadi atribut dari rasionalitas yang tidak diposisikan sebagai pekerjaan, tapi sebuah kekuasaan yang bisa mendikte.
      Remotivi menilai, fakta-fakta tadi berpotensi memberi pemahaman yang keliru tentang sebuah pekerjaan, memberikan sebuah pemaknaan yang dangkal akan sebuah kehidupan manusia, di mana pekerjaan pada dasarnya mempunyai impikasi sosial yang penting. Namun yang terpenting pada temuan ini adalah adanya ketidakadilan representasi profesi/pekerjaan yang dikotomikan dalam ranah domestik dan non-domestik, yang berpotensi menyuburkan berbagai ketidakadilan bagi PRT atau kaum buruh umumnya di dunia nyata karena pengendapan konstruksi persepsi yang dibangun lewat narasi sinetron. Hal yang sama pun berlaku pada superioritas pekerjaan-pekerjaan non-domestik semacam dokter dan sipir penjara yang berpotensi memerangkap persepsi masyarakat pada ketidakberdayaannya sebagai awam di hadapan para “profesional”.

      Dengan hanya menyaksikan keempat sinetron tersebut, Remotivi tidak menganggap bahwa hasil penelitian ini bisa mewakili keseluruhan sinetron di Indonesia, tetapi sekadar ingin menunjukkan sebuah kecenderungan yang ada dalam sinetron Indonesia. Sebelumnya, hasil penelitian ini sudah diterbitkan di www.remotivi.or.id dalam rupa dua tulisan berseri. Kedua tulisan itu bertajuk “Takdir di Atas Kerja dan “Sinetron, Rasionalitas, dan Pengabdian”.

      Melalui penelitian ini Remotivi berharap agar para pekerja media, khususnya pembuat cerita sinetron, bisa mendapatkan evaluasi dan kritik yang konstruktif bagi kerja mereka ke depan. Televisi yang salah satu tugasnya adalah juga untuk sarana pendidikan, harus pula memberikan sesuatu yang bermutu dan tidak menyimpang, meski itu hanya di dalam sebuah karya fiksi seperti sinetron. Karena melalui televisilah, salah satunya, masyarakat mendapatkan referensi untuk mengetahui hal-hal dalam kehidupannya. Remotivi melalui kerja-kerjanya akan selalu berusaha menyumbangkan sesuatu demi wajah pertelevisian kita yang lebih baik.

      --
      REMOTIVI
      "Hidupkan Televisimu, Hidupkan Pikiranmu"
      www.remotivi.or.idTwitter | Facebook


      Remotivi adalah sebuah inisiatif warga untuk kerja pemantauan tayangan televisi di Indonesia. Cakupan kerjanya turut meliputi aktivitas pendidikan melek media dan advokasi yang bertujuan (1) mengembangkan tingkat kemelekmediaan masyarakat, (2) menumbuhkan, mengelola, dan merawat sikap kritis masyarakat terhadap televisi, dan (3) mendorong profesionalisme pekerja televisi untuk menghasilkan tayangan yang bermutu, sehat, dan mendidik.
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.