Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Syari'at Islam menurut Al-Quran tidak hanya mengenai theologi saja =-> Polygami

Expand Messages
  • H. M. Nur Abdurrahman
    Syari at Islam menurut Al-Quran tidak hanya mengenai theologi saja, melainkan bermuatan: aqidah, jalannya hukum dan akhlaq, meliputi cakrawala yang luas, yaitu
    Message 1 of 1 , Jun 1, 2007
      Syari'at Islam menurut Al-Quran tidak hanya mengenai theologi saja, melainkan bermuatan: aqidah, jalannya hukum dan akhlaq, meliputi cakrawala yang luas, yaitu petunjuk untuk mengatur baik kehidupan nafsi-nafsi (individu), maupun  kehidupan kolektif dengan substansi yang  bervariasi seperti  keimanan,  ibadah ritual,  karakter  perorangan,  akhlaq individu dan kolektif, kebiasaan manusiawi, ibadah non-ritual seperti: hubungan keluarga, kehidupan sosial politik ekonomi, administrasi, teknologi serta pengelolaan lingkungan, hak dan kewajiban warga-negara, dan terakhir yang tak kurang pentingnya yaitu sistem hukum yang teridiri atas komponen-komponen: substansi aturan-aturan perdata-pidana, damai-perang, nasional-internasional, pranata subsistem peradilan dan apresiasi hukum  serta rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat yang berakhlaq. Seri 692 di bawah memperlihatkan hal itu.
      H.Muh.Nur Abdurrahman
       
      ***********************************************************************************************************************
       
       
      BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
       
      WAHYU DAN AKAL - IKAN DAN ILMU
      [Kolom Tetap Harian Fajar]
      692. Klasifikasi Ayat Berdasar Kriteria Turunnya Wahyu.
       
      Untuk menghemat ruangan, maka sekali ini yang dituliskan hanya terjemahan ayat-ayat saja.
      1. Tanpa Latar Belakang, ada tiga jenis:
      1.1 Perintah ataupun seruan Langsung
          contoh: Hai orang-orang beriman telah diwajibkan atasmu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, supaya kamu bertaqwa (S. Al Baqarah, 2:183)
       
      1.2 Perintah ataupun seruan tidak langsung, yaitu ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, yang maksudnya tertuju pula kepada semua ummat Islam.
          contoh: Hai Nabi, mengapakah engkau haramkan sesuatu yang dihalalkan Allah bagimu, karena menuntut keridhaan isteri-isterimu? Allah Pengampun lagi Penyayang (S. At Tahrim, 66:1)
      1.3 Pemberitahuan berupa larangan secara langsung untuk dipatuhi.
          Contoh: Dan janganlah kamu jadikan nama Allah (dalam sumpah kalian) sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan (S. Al Baqarah 2:224)
      2. Mempunyai Latar Belakang yang biasa disebut Asbabun Nuzul, ada dua jenis:
      2.1 Pertanyaan/permintaan kepada Nabi Muhammad SAW ada tiga jenis pula:
        2.1.1 Pemintaan fatwa kepada Nabi Muhammad SAW.
              contoh: Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para perempuan. Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (S. An Nisa 4:127,129).(#)
        2.1.2 Pertanyaan kepada Nabi Muhammad SAW yang murni pertanyaan, tidak mengandung unsur perlawanan/bantahan.
              Contoh: Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit, katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi pelaksanaan ibadah) haji (S. Al Baqarah, 2:189).
        2.1.3 Pertanyaan yang mengandung unsur perlawanan/bantahan.
              contoh: Berkatalah orang-orang kafir: "Mengapa Al Qur^an itu tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) sekali turun saja?" Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu (untuk menghafal) dengannya Kami menurunkannya (supaya engkau hai Muhammad) membacakannya kelompok demi kelompok (S. Al Furqan, 25:32).
      2.2 Mempunyai Latar Belakang Situasi Sosial Politik
        2.2.1 Latar Belakang Situasi Sosial, misalnya sehabis perang banyak anak yatim.
              contoh: Berikanlah kepada anak-anak yatim hartanya dan janganlah kamu tukarkan yang baik dengan yang buruk  dan janganlah kamu makan harta mereka bersama harta kamu. Sesungguhnya makan harta anak yatim itu suatu dosa yang besar. Jika kamu takut kamu tidak akan berlaku adil tentang anak-anak yatim, maka nikahilah olehmu perempuan-perempuan yang baik bagimu,         berdua, bertiga atau berempat orang. Tetapi jika kamu takut tidak akan berlaku adil, maka         nikahilah seorang saja, atau nikahilah hamba sahaya. Yang demikian itu lebih dekat kepada tiada aniaya (S. An Nisa, 4:2-3).
        2.2.2 Latar Belakang Situasi Politik.
              contoh: Telah dikalahkan Rum. Di bumi yang dekat, dan mereka sesudah kalah itu akan menang. Dalam beberapa tahun, kepunyaan Allah urusan sebelum itu dan sesudahnya. Pada hari (kemenangan Rum) itu akan bergembira orang-orang mukmin (S. Ar Rum, 30:2-4).
      3. Pelajaran
      3.1 Pelajaran membaca do'a
          Contoh: Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Maha Pemelihara semesta alam. Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari Pengadilan Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (S. Al Fatihah, 1:1-7).
      3.2 Pelajaran ttg pengetahuan alam
          Contoh: Yaitu Yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, Maka kamu nyalakan (api) dari kayu itu (S. Yasin, 36:80).
      3.3 Pelajaran ttg ilmu sosial:
        3.3.1 Politik dan kenegaraan
            Contoh: Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka. (S. Asy Syuwra, 42:38)
        3.3.2 Ekonomi
            Contoh: Supaya kedaulatan (ekonomi) itu jangan (beredar) di antara orang-orang kaya di antara kamu (S. AL Hasyr, 59:7).
       
       WaLlahu a'lamu bisshawab.
       
      *** Makassar, 4 Agustus 2005
          [H.Muh.Nur Abdurrahman]
      -----------------------------------
      (#)
      Mengapa masalah keadilan terhadap isteri pada S. An Nisa, 4:129 tidak lantas disambung saja dengan S. An Nisa 4:3? Latar belakang turunnya ayat S. An Nisa 4:3 adalah situasi sosial banyak anak yatim setelah perang. Sedangkan latar belakang turunnya S. An Nisa, 4:129, karena beberapa tahun kemudian ada permintaan fatwa kepada Nabi Muhammad SAW, seperti yang dinyatakan dalam S. An Nisa, 4:127. Keadilan dalam S. An Nisa, 4:3 dalam konteks pertimbangan sebelum nikah, sedangkan keadilan dalam S. An Nisa, 4:129 adalah dalam konteks setelah menikah sang suami dihadapkan pada kenyataan telah ada isteri yang sudah tua, dan Allah Maha Tahu, tidaklah mungkin seorang suami akan berlaku adil dalam kenyataan yang demikian itu.
       
      ==============================================
       
      BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
       
      WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
      [Kolom Tetap Harian Fajar]
      279. Polygami
       
          Dalam  kasus  tertentu polygami merupakan  satu-satunya  cara untuk menyelesaikan masalah sosial. Pernyataan saya ini  bukanlah suatu   hipotesa  yang  kebenarannya  harus   diyakinkan   dengan pembuktian  penelitian, melainkan berlandaskan atas  sikap  orang beriman, karena polygami sebagai cara untuk menyelesaikan masalah sosial  itu  bersumber  dari ayat Qawliyah. Dalam  Si  Doel  Anak Sekolahan   Selayang  Pandang  (Seri  277)  saya  kemukakan   isu polygami,  tepatnya  bigami, oleh karena  polygami  adalah  satu-satunya  penyelesaian yang adil dari cinta segitiga Jenab,  Doel, Sarah.  Dalam cerita cinta segitiga yang pernah saya  baca  semua pengarang  mengorbankan salah satunya. Barangkali ada  di  antara pengarang  itu  dalam hati kecilnya ingin  mengemukakan  polygami sebagai jalan penyelesaian, akan tetapi tidak jadi  dilakukannya, oleh   karena   segan  mengemukakan  polygami   secara   terbuka. Mengemukakan  isu polygami secara terbuka memang  riskan,  karena peka  sehingga mengundang damparatan kaum hawa, tidak  terkecuali dari isteri sendiri.
          Dalam keluarga yang tenteram dan sejuk (sakinah) antara suami dengan  isteri  terjalin rasa sayang (mawaddah)  dan  cinta-kasih (rahmah)  timbal-balik,  sedangkan  dalam  hal  yang   kasuistik, keluarga  sakinah dapat pula tercipta dengan rumus: mawaddah  dan rahmah berbagi dalam diri dua, tiga, ataupun empat isteri.  Dalam cinta  segitiga Jenab, Doel, Sarah, Si Doel menyayangi Jenab  dan mencintai  Sarah.  Melalui  poroses  konflik  akhirnya   terjalin persahabatan  yang  ikhlas  antara  Sarah  dengan  Jenab,  karena masing-masing   saling  menerima  dan  memahami  bahwa   keduanya mencintai  Doel.  Ini dapat dilihat dalam  akhir  episode  ketiga Sarah  dan  Jenab berbimbing tangan dengan mesra  seusai  melepas Doel  di  lapangan terbang. Kita tunggulah  nanti  dalam  episode keempat apakah Jenab yang akan dikorbankan ataukah cinta segitiga itu diselesaikan dengan bigami.
          Walaupun persahabatan yang terjalin antara Jenab dengan Sarah dalam  cinta  segi  tiga itu hanya  sebuah  cerita,  namun  dalam kenyataannya ada yang sungguh-sungguh terjadi bahwa isteri-isteri yang  dimadu  itu  hidup rukun. Tidak  percuma  Dewan  Perwakilan Rakyat  dan  Pemerintah  yang  membuat  Undang-Undang  Perkawinan memasukkan materi polygami yang mempersyaratkan suami yang  ingin berpolygami harus atas persetujuan isterinya. Buat apa dimasukkan dalam  undang-undang  mengenai persyaratan  itu  apabila  anggota Dewan   dan  Pemerintah  itu  mempunyai  keyakinan  bahwa   dalam kenyataannya tidak ada isteri yang bersedia bertanda tangan.
          Polygami menurut ajaran Al Quran bukanlah suatu pintu gerbang yang dilalui oleh umum, melainkan hanya berupa pintu khusus untuk hal-hal  yang kasuistik. Sebab turunnya ayat menyangkut  polygami berlatar  belakang kasus yang khusus, yaitu adanya sejumlah  anak yatim  beribukan  janda akibat  peperangan.  Polygami  memberikan jalan keluar bagi permasalahan membesarkan, memelihara,  mendidik anak-anak yatim. Firman Allah:
          -- Wa in Khiftum Alla- Tuqshituw fiy lYatamay faNkihuw Ma-  Tha-ba laKum min nNisa-i Matsnay wa tsulatsa wa Ruba'a, fa in Khiftum Alla-  Ta'diluw  fa Wa-hidatan aw Ma- Malakat Ayma-nukum  (S.  An Nisa-', 3).
          -- Jika kamu khawatir tidak dapat berlaku jujur terhadap anak-anak  yatim,  maka nikahilah perempuan-perempuan  yang  baik bagimu,  berdua, bertiga, atau berempat, apabila engkau  khawatir tidak  dapat  berlaku  adil, maka nikahilah  seorang  saja,  atau nikahilah apa yang dapat kamu kuasai dengan tangan kananmu (4:3).
          Adopsi (mengangkat anak) tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. Apabila  dikhawatirkan  tidak  berlaku  jujur,  maksudnya  jangan sampai termakan akan harta anak yatim yang akan diasuh, sedangkan dilarang  mengadopsi  anak,  maka jalan  yang  lebih  baik  yaitu menikahi  ibu  mereka janda-janda perang itu.  Artinya  anak-anak yatim  itu  menjadilah  seperti anak  yang  bersangkutan,  karena anak-anak yatim itu adalah anak-anak dari isterinya sendiri.
          Polygami  sebagai  pintu  khusus  yang  kasuistik   mempunyai persyaratan  berlaku  adil  seperti bunyi  ayat  (4:3).  Dapatkah seorang  suami berlaku adil bagi isteri-isterinya?  Dalam  kasus-kasus tertentu mengapa tidak, yaitu sang suami berbagi rata  rasa mawaddah  wa rahmah. Apa tolok ukurnya suami telah berlaku  adil? Kalau  di  antara isteri-isteri itu hidup  rukun  secara  ikhlas, itulah  tolok  ukurnya.  Persyaratan  persetujuan  isteri   dalam Undang-Undang  Perkawinan  pada hakekatnya  merupakan  penafsiran kontextual dari ayat (4:3).
          Di  samping mengemukakan polygami sebagai jalan keluar  untuk kasus  yang khas, ayat (4:3) mengemukakan pula salah satu  metode untuk menghilangkan perbudakan secara mulus, yaitu menikahi hamba sahaya perempuan (yang dikuasai dengan tangan kanan). Dengan cara ini perbudakan dihentikan dengan jalan memotong garis keturunan budak-budak perempuan. Keturunan dari  hasil  perkawinan itu bukanlah budak lagi. Menurut Sunnah RasuluLlah SAW, beliau menikahi budak dengan memerdekakannya sebagai mahar, yaitu Syafiyyah binti Huyay(*) dan Mariyah Al Qibthiyyah(**).
          Dahulu pada zaman  budak-budak masih banyak, membebaskan budak secara  massal menimbulkan   keonaran. Bagaimana Spartacus dengan pasukan gladiatornya menjarah kota-kota. Mengapa sampai  demikian,  oleh karena  para  gladiator itu tidak mempunyai  keterampilan  selain berkelahi. Budak-budak Negro yang dibebaskan dan membebaskan diri secara  massal setelah Civil War di Amerika  membentuk  kelompok-kelompok penjarah yang membalas dendam atas mantan  tuan-tuannya. Perbudakan dari dahulu  sampai sekarang tidak pernah terhapuskan secara tuntas. Di Makassar  ini saja  ada  perbudakan  di Jalan  Nusantara,  yang  dikenal  dalam istilah Al Quran dengan Raqabah, yaitu perempuan-perempuan  belia yang diperjual belikan untuk kepentingan bisnis jasa sex.
          Akhirnya  dipersilakan  membaca kelong (pantun  Makassar)  di bawah ini:
          Ruai bungung mattinri,
          Sillembang-lembang je'ne'na.
          Kereang minjo,
          Nipira'nyu' namate'ne.
          Dua sumur berdampingan,
          setara air keduanya.
          Mana gerangan menyejukkan,
          dipakai membasuh muka
          Allesai pattinriang,
          Keboka le'leng pa'jaya.
          Kere nialle,
          kere niboli' salasa.
          Coba dibanding-banding,
          yang putih yang hitam manis.
          Mana dipilih,
          Mana ditinggal pedih.
          Kebimbangan  untuk  memilih salah satu di  antara  dua  calon isteri  yang seimbang terpecahkan dengan melihat  hasil  teknolgi permulaan abad ke-20, seperti dinyatakan oleh kelong yang berikut ini:
          Iyaminjo alle rapang,
          rimminrona masinaya.
          Se'reji jarung,
          naruwa bannang panjai'
          Ambillah itu ibarat,
          mesin jahit yang berputar.
          Jarum sebatang,
          mengayom dua benang.
          WaLlahu A'lamu bi shShawab.                              
      *** Makassar, 29 Juni 1997
          [H.Muh.Nur Abdurrahman]
      ------------------------
      (*)
      Shafiyyah binti Huyay adalah bangsawan Yahudi dari Bani Nadhir. Ayahnya yaitu Huyay bin Akhthab adalah salah seorang yang sangat aktif menghasut qabilah-qabilah Arab, sehingga terbentuk pasukan konfederasi yang berkekuatan antara 18.000 hingga 20.000 orang. Pasukan konfederasi tersebut yang mengepung Madinah itu dikenal dalam sejarah dengan Perang Khandaq (parit). Huyay ditunjuk oleh pasukan konfederasi Arab untuk mendatangi benteng Yahudi di lini belakang untuk menghasut Banu Quraizhah pemilik bnteng tersebut supaya berkhianat. Atas hasutan itu Banu Quraizhah bersedia menyerang Madinah dari belakang dan mengkhianati Piagam Madinah, di mana dalam piagam tersebut termaktub perjanjian (pakta) di antara beberapa qabilah di Madinah. Di antaranya pakta antara Kaum Muslimin dengan banu Quraizhah yang antara lain berbunyi: Jika ada musuh menyerang Madinah banu Quraizhah bersama-sama kaum Muslimin mempertahankan Madinah.
      Shafiyyah adalah janda dari Kinanah bin Rabi' bin Abul Haqiq, pemilik benteng Al Qamush, yaitu benteng terbesar di Khaibar. Kinanah terbunuh setelah benteng itu ditaklukkan pasukan Muslim di bawah pimpinan Ali bin Abi Thalib. Shaifyyah ditawan, statusnya menjadi budak. Dahulu belum dikenal kamp konsentrasi tawanan perang. Mereka itu diserahkan kepada para anggota pasukan pemenang sebagai budak.
      (**)
      Mariyah binti Syam'um Al Qibthiyyah pada masa remajanya berdiam di istana Muqawqis 'Azhim al Qibth (raja orang-orang Qibthi di Mesir). Mariyah dilahirkan di dataran tinggi Mesir di desa Hifin dekat kota Anshuna yang terletak di pinggir sebelah Timur S. Nil. Mariyah bersama Sirin sudah ada di istana tatkala Hathib bin Abi Balta'ah, utusan dari Nabi Muhammad SAW yang menyampaikan surat ajakan Nabi SAW kepada Muqawqis untuk memeluk Islam. Hathib pulang meninggalkan Mesir dengan membawa serta Mariyah dan Sirin sebagai "hadiah" untuk mempererat hubungan diplomatik antara Madinah dengan Mesir. Mariyah melahirkan anak laki-laki diberi bernama Ibrahim oleh Nabi SAW. Sayang sekali Ibrahim meninggal dunia dalam umur satu setengah tahun. Rombongan yang mengantar jenazah Ibrahim ke pekuburan Baqi', tatkala mereka kembali ke rumahnya masing-masing, kota Madinah menjadi gelap karena gerhana matahari total. Penduduk Madinah mengatakan bahwa gerhana itu karena wafatnya Ibrahim. Ucapan penduduk Madinah tersebut sampai ke telinga RasuluLlah SAW, lalu beliau bersabda kepada penduduk Madinah: "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua ayat kekuasaan Allah. Keduanya mengalami gerhana bukan karena mautnya seseorang, atau karena lahirnya seseorang." 
       
       
       
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.