Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Bukan tukang kue Bika Ambon

Expand Messages
  • siao jin
    Bukan tukang kue Bika Ambon Oleh : Irwan Sutjipto http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=5&dn=20070105185427 05-Jan-2007, 21:48:08 WIB -
    Message 1 of 1 , Jan 5, 2007
    • 0 Attachment
       
      Bukan tukang kue Bika Ambon
      Oleh : Irwan Sutjipto
      http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=5&dn=20070105185427
      05-Jan-2007, 21:48:08 WIB - [www.kabarindonesia.com]

      Seperti yang saya tuliskan dalam tulisan berjudul Gadjah di peloepoek matha, ketika anda menjabarkan ajaran spiritual dengan pikiran anda semata, tanpa di dasari oleh batin yang benar-benar telah benar, bersih dan bening singkatnya adalah batin sejati, maka yang ada hanyalah sekedar penggunaan ingatan atas pengalaman dan pemahaman yang telah terjadi di masa lalu ditambah dengan perbadingan dan pencocokan secara intelektual, proses menyimak dan upaya memahami nuansa dan makna yang muncul saat aktivitas memberikan penjabaran dan pandangan atau juga jawaban, sanggahan mungkin, tidaklah mungkin bisa memberikan pemahaman yang bisa menjadi landasan untuk perbaikan diri, yang ada hanyalah tafsir intelektual semata. Jadi, tidaklah mungkin bisa memahami yang tidak diketahui karena yang memahami adalah yang tahu, bukan dari yang tidak tahu memahami yang tidak tahu atau bukan batin sejati lah yang berbicara, hanya sekedar ego semata.

      Pikiran berkolaborasi dengan ego ini, seringkali memberikan pemahaman-pemahaman yang dangkal dan subjektif sekali sifatnya, walaupun memang proses pemahaman dan ituisi yang terjadi itu adalah benar terjadi di dalam diri, dalam batin kita masing-masing dan karenanya adalah proses yang sangat pribadi, namun, kebenaran dan pemahaman yang diperoleh dalam aktivitas itu, jika batin yang telah bersih dan benar, batin sejati yang mengamati, maka kebenaran yang dipahami dari proses ini bisa di cocok kan dengan pemahaman para bijak mana pun dan hasilnya tentu akan sama secara ensensial, jadi kelhatannya individu sifatnya, namun esensinya tidaklah subjektif, mungkin ini sebentuk penjelasan akan semua adalah satu dan satu adalah semua (satu-semua).

      Sekali lagi, kalau ego dan pikiran yang berkolaborasi, maka lalu anda tidak akan bisa menemukan kebenaran yang satu-semua ini, dan yang ada tentunya adalah pemahaman subjektif yang sangat rentan akan konflik dan perdebatan tanpa akhir. Mari saya beri contoh.

      Kalau seseorang mengatakan guru memasak kue anda itu goblok dan telah dilakukan upaya menginterview seratus orang muridnya dan juga telah di uji untuk memasak kue yang menjadi ciri khas dari guru anda itu, katakanlah kue Bika Ambon, dan bisa saja dari yang seratus orang itu tidak ada satupun yang bisa menyamai, bahkan setengah dari lezatnya kue Bika Ambon guru anda itu juga tidak ada, fakta itu kan bisa saja dong, membuat Bika Ambon itu tidak mudah loh, tapi kita analisis dulu sikap anda dalam menerima ujaran guru anda itu goblok.

      Kalau anda marah, maka ada dua hal yang paling jelas terjadi, pertama anda tidak melihat bahwa seratus orang yang di uji itu bisa jadi memang adalah murid gagal dari guru memasak anda dan kedua, anda belum tentu termasuk dalam katagori murid yang gagal dari guru anda itu. Oh ya, mungkin ada satu hal yang perlu kita tambahkan, seratus murid itu tidak lah bisa mewakili sepenuhnya jumlah murid guru anda, bisa saja guru anda itu telah mengajar sepuluh ribu orang dan sembilan ribu di antara sepuluh ribu itu adalah penjual kue Bika Ambon terkenal di seluruh Indonesia, lalu apalah artinya seratus orang.

      Jadi, ketika anda marah kalau guru anda dikatakan goblok, sesungguhnya anda hanya menunjukkan kebodohan dan kepicikan anda semata, selain karena faktor di atas yang telah saya uraikan, juga, guru anda itu toh juga tidak merasa perlu untuk tersinggung dengan ungkapan itu dan tentu saja dia tidak mendengarnya, kecuali itu langsung disampaikan kepada beliau. Jadi, banyak ruginya anda marah dan menyanggah, hehehe terutama sekali anda lalu kelihatan jadi seperti anak kecil yang mainannya di rusak orang :D.

      Lalu, kalau anda tidak marah dan bisa mengendalikan diri, bagaimana?

      Pertama tentu anda tidak akan kehilangan muka dan kedua, anda membuat lawan bicara anda itu jadi ragu dan bisa jadi malah tidak bisa menghujat guru anda lebih lanjut, kecuali jika memang anda sekedar pura-pura tidak marah tapi dari nada dan mimik wajah anda atau tulisan anda, nuansa marah itu sangat jelas kelihatannya, ya, tentu sama saja dengan kondisi anda marah.

      Nah, kita beralih ke uraian dari sisi belajar ajaran spiritual. Ketika anda belajar ajaran spiritual, apa pun itu namanya, anda diajak untuk mengembangkan ketulusan, kasih sejati dan ketenangan sejati dan kalau anda berlatih dengan benarn, secara perlahan tapi pasti (bisa juga dengan cepat) anda akan memiliki kepekaan untuk bisa melihat niat dibalik pertanyaan atau ujaran yang diajukan oleh orang lain kepada anda, dan lalu anda juga umumnya akan diberikan kepekaan untuk bisa menahan diri sejenak untuk lalu bersikap dengan bijak (baca tulisan saya:"Orang pintar satu detik"). Sikap anda inilah yang lalu akan menentukan jalan anda sesudah kejadian itu atau sesudah jawaban anda itu. Kalau anda menyikapinya dengan bijak, maka anda sesungguhnya telah memberikan penghormatan yang sesungguhnya kepada guru spiritual anda karena toh beliau tidak butuh hormat fisik anda, tapi kalau anda tidak bisa menyikapinya dengan bijak dan dewasa, sesungguhnya anda sedang mengencingi beliau dan membenarkan bahwa anda itu sekedar berguru kepada seorang guru yang tidak bermutu atau mungkin juga anda yang tidak mampu menyerap ilmu dan pandangan beliau. Jadi, jadilah orang pintar satu detik.

      Kalau kita mau sedikit bermain lebih jauh, kalau kita suka memberikan respon dalam bentuk amarah, tips orang pintar satu menit itu adlaah bagian dari terapi anger management atau manajemen amarah, dan sama juga dalam spiritual itu ada pelajaran untuk menangani emosi kita masing-masing, agar lalu kita bisa menjadi manusia-manusia spiritualis sejati, paling tidak berusaha demikian.

      Oh ya, tentang Bika Ambon itu, ya untuk bisa membuat kue Bika Ambon yang enak itu dibutuhkan Tuak dari air Nira yang bagus mutunya alias tidak bercampur air dan belum basi, selain itu bahan-bahan lainnya juga mestilah yang kualitasnnya baik. Kenapa saya tahu, yaa dari kecil saya suka mengamati tante dan kakak sepupu saya masak dan kadang saya juga suka disuruh membeli tuak untuk membuat kue Bika Ambon, tapi jangan memesan kue Bika Ambon ke saya, yah, saya bukan tukang masak kue Bika Ambon... hehehehe

      Semoga berguna.

      050107


      Diskusi dan pertanyaan mohon di kirim ke japri;siao_jin_wan@...

      __________________________________________________
      Do You Yahoo!?
      Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
      http://mail.yahoo.com

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.