Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Balasan: [Mayapada Prana] Pak Didin Nurdin: 1 Benar, 2 Kekeliruan

Expand Messages
  • nicholas dwi
    Maaf urun rembug, sebagai orang yang tidak pernah duduk dibangku kuliah, (itulah sebabnya saya merasa sebagai orang yang terbelakang dalam pengetahuan, dan
    Message 1 of 2 , Nov 3, 2006
    • 0 Attachment
      Maaf urun rembug, sebagai orang yang tidak pernah duduk dibangku kuliah, (itulah sebabnya saya merasa sebagai orang yang "terbelakang" dalam pengetahuan, dan lebih banyak sebagai pembaca dan "murid" dari tulisan-tulisan yg masuk ke email saya) saya juga punya pengalaman dengan anak saya yang waktu itu masih kelas 3 SD, sekarang kelas 4 SD.
       
      Anak saya itu bertanya, benarkah teori evolusi itu? (mungkin dia bertanya karena anak saya ini sangat senang dengan yang namanya dinosaurus) Saya adalah orang yang tidak percaya dengan teori evolusi terutama yang dibilang manusia itu dari kera.
       
      Anak saya bertanya soal kenapa jerapah berleher panjang, kenapa gajah berhidung panjang, kenapa binatang ini begitu, kenapa binatang itu begini. Lha sebagai orang yang tidak terlalu berpendidikan itu saya hanya bisa jawab,
      teori evolusi yang berhubungan dengan perubahan ujud itu tidak benar, tetapi kalo adaptasi itu benar.
      Misalnya, monyet jadi manusia, atau jerapah memanjangkan lehernya, atau gajah memanjangkan hidungnya, itu tidak benar.
      Yang benar adalah kalo suatu lingkungan berubah maka mahkluk hidup akan menyesuaikan diri dalam hal makanan misalnya.
      Saya pernah lihat bagaimana beruang di amerika menyesuaikan diri dengan makan roti dan makanan manusia lain yang tidak ada dihutan karena lingkungan yang sekarang dipakai oleh manusia u/ perumahan dll.
      Juga sapi dan kambing yang mencari makan di TPA sampah.
      Kalo teori darwin benar, bahwa manusia dari kera, kenapa sampai sekarang masih ada monyet, dan kenapa manusia tidak bisa memanjangkan sendiri misalnya hidungnya, tangannya lehernya, kakinya atau yang lainnya, sampai-sampai karena ketidak mampuannya itu banyak laki-laki menemui mak erot. ha...ha...ha.....
       
      Saya katakan kepada anak saya, yang benar bukan evolusi tetapi seleksi, mahkluk yang bisa bertahan dalam perubahan yang terjadi, baik karena manusia atau karena alam, maka dialah yang bisa bertahan hidup dan meneruskan kelangsungan keturunannya.
      Artinya, tidak ada berubahan bentuk yang terjadi, dari pendek jadi panjang atau kera jadi manusia misalnya, karena keinginan / kemauan mahkluk itu sendiri.
       
      Saya punya pohon mangga yang tinggi dan sedang berbuah, tetapi tangan saya tidak sampai untuk mengambil buahnya, saya membayangkan seandainya saya bisa seperti salah satu anggota fantastik four yang bisa memanjangkan tubuhnya, wow, pasti asik. Tetapi dari pada berhayal saya lebih baik ambil galah bambu dan, klik, beres. Buah mangga jatuh, dan saya bersama istri dan anak-anak lalu membuat rujak.
       
      yah itu pengalaman saya dgn anak saya, dan memang mungkin sebatas itulah pikiran saya "memahami" alam ini.
       
      Jadi jika pendapat saya ini terasa "lucu" dan "ngoyoworo" (mengada-ada), seperti yang biasa dikatakan oleh para menteri jaman orde baru, saya juga "mohon petunjuk", biar saya bisa lebih pandai dan bisa menjawab pertanyaan anak saya yang semakin kritis saja.
      Matur suwun, terima kasih.
       
      Nicholas Dwi
         


      Kinka Rinaldi <inal_sip@...> menulis:
      Pak Didin yang saya hormati,

      Bapak memang betul. Harun Yahya bukan seorang ilmuwan Biologi atau kebumian. Dia "hanyalah" seorang sarjana Filsafat. Tapi harap Bapak ketahui bahwa Charles Darwin sendiri bukanlah seorang ilmuwan, karena dia tidak memiliki gelar kesarjanaan di bidang ilmu apapun (sama seperti Thomas Alfa Edison, James Watt, Alexander Graham Bell, dll). Padahal semasa hidup Darwin, universitas sudah ada. Charles Darwin hanya seorang naturalis amatir. Jadi, semasa hidup Darwin, semua hasil observasi dan teori evolusinya itu tidak pernah dipublikasikan ke dalam jurnal ilmiah. Semua hasil observasinya langsung dia susun di dalam sebuah buku: The Origin of Species (1859). Di buku ini pulalah Charles Darwin untuk pertama kalinya mencetuskan Teori Evolusi.

      Sejak hari petama penerbitan buku Darwin itu, bantahan terhadap teori evolusi pun mulai bermunculan. Di antaranya adalah:
      1. Louis Pasteur (penemu vaksin) membantah kebenaran teori evolusi karena berhasil menggugurkan salah satu konsep pendukung teori evolusi: Spontaneous Generation lewat riset selama bertahun-tahun, (lihat Sidney Fox, Klaus Dose, Molecular Evolution and The Origin of Life, W.H Freeman and Company, San Francisco, 1972, hlm. 4).
      2. Gregor Mendel (pencipta hukum genetika), membantah kebenaran teori evolusi versi Jean B. Lamarck (pencetus pertama Teori Evolusi) dan versi Charles Darwin, (lihat B.E Bishop, "Mendel's Opposition to Evolution and to Darwin", Journal of Heredity, 87, 1996, hlm. 205-213).
       
      Aneka buku anti tesis terhadap teori evolusi karya para ilmuwan masa kini di antaranya:
      1. Michael Denton, Evolution: A Theory in Crisis, Burnet Books, London, 1985.
      2. Norman Macbeth, Darwin Retried: An Appeal to Reason, Harvard Common Press, Boston, 1971.
      3. Lee Spetner, Not By Chance!, The Judaica Press, New York, 1997.
      4. Phillip E. Johnson, Darwin on Trial, Intervarsity Press, Illinois, 1993.
      5. Duane T. Gish, Evolution: Fossils Still Say No, CA, 1995.

      Semua sumber tulisan yang saya sebutkan di atas ternyata dipakai juga oleh Harun Yahya sebagai rujukan dalam menyusun buku-buku anti teori evolusinya. Jadi, secara ilmiah teori evolusi sudah runtuh. Namun tidak masalah jika para pendukung teori evolusi masih bersikukuh bahwa teori evolusi masih tegak berdiri. Toh, itu merupakan salah bentuk kebebasan berpendapat. Cuma, yang mengherankannya, mulai dari tahun 1850-an hingga sekarang, para ilmuwan evolusionis belum mampu meruntuhkan argumentasi ilmiah para ilmuwan anti teori evolusi.
       
      Ada komentar menarik dari Bapak Taufikurahman, Ketua Jurusan Biologi, FMIPA ITB, terhadap masalah ini: "Teori evolusi kokoh bukan karena dukungan fakta ilmiah tetapi lebih oleh kefanatikan para ilmuwan penyokongnya dan kelihaian mereka dalam memutarbalikkan fakta-fakta ilmiah. Teori evolusi memang tampak indah dan sepertinya memberikan penjelasan yang mudah mengapa berbagai jenis makhluk hidup memiliki struktur dan bahkan fungsi yang mirip satu sama lain. Tetapi semakin digali dengan kacamata yang paling objektif, manusia akan semakin yakin, betapa sukar dan tak mungkinnya menarik garis yang meyakinkan bahwa teori itu benar dan merupakan fakta". Oleh sebab itu, agar wawasan kita semakin bertambah, kunjungilah http://antievo.blogspot.com .
       
       
      Hormat Saya,
      Rinaldi


      Cheap Talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates.


      Apakah Anda Yahoo!?
      Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.