Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

komunis = mustikamunis he he he

Expand Messages
  • bulebuuk
    DARWINISME: SUMBER KEKEJAMAN KOMUNIS A bad yang baru saja kita tinggalkan dipenuhi dengan berbagai tindak kekerasan dan kebiadaban. Tidak diragukan lagi,
    Message 1 of 2 , Jul 8, 2006
    • 0 Attachment
      DARWINISME: SUMBER KEKEJAMAN KOMUNIS


      A bad yang baru saja kita tinggalkan dipenuhi dengan berbagai tindak
      kekerasan dan kebiadaban. Tidak diragukan lagi, ideologi pembawa
      bencana terbesar bagi umat manusia di abad tersebut adalah
      Komunisme, paham yang paling tersebar luas di seluruh dunia.
      Komunisme, yang mencapai puncak sejarahnya melalui dua tokoh filsuf
      Jerman, Karl Mark dan Friedrich Engels pada abad ke-19, telah begitu
      banyak menumpahkan darah di berbagai belahan bumi, melebihi apa yang
      dilakukan oleh kaum Nazi dan para penjajah. Paham ini telah
      merenggut nyawa orang-orang yang tidak berdosa, memunculkan
      gelombang kekerasan, dan menebarkan rasa ketakutan serta putus asa
      di kalangan umat manusia. Bahkan kini, ketika orang menyebut-nyebut
      negara Tirai Besi dan Rusia, segera muncul gambaran tentang
      masyarakat yang terselimuti kegelapan, kabut, rasa putus asa,
      beragam persoalan, dan ketakutan; serta jalanan yang tidak
      menampakkan tanda-tanda kehidupan. Tidak menjadi soal, seberapa
      dahsyat Komunisme dianggap telah hancur di tahun 1991, puing-puing
      yang ditinggalkannya masih tetap ada. Tak peduli, meskipun orang-
      orang Komunis dan Marxis yang "tak pernah jera" tersebut telah
      menjadi "liberal", filsafat materialis, yang merupakan sisi gelap
      Komunisme dan Maxisme, dan yang memalingkan manusia dari agama dan
      nilai-nilai akhlak, masih tetap berpengaruh pada mereka.
      Ideologi yang menebarkan ketakutan ke seluruh penjuru dunia ini
      sebenarnya mewakili pemikiran yang telah ada sejak zaman dahulu
      kala. Dialektika meyakini bahwa seluruh perkembangan di jagat raya
      terjadi akibat adanya konflik. Berdasarkan kepercayaan ini, Marx dan
      Engels melakukan pengkajian terhadap sejarah dunia. Marx menyatakan
      bahwa sejarah manusia adalah berupa konflik, dan konflik yang ada
      sekarang adalah antara kaum buruh dan kaum kapitalis. Para buruh ini
      akan segera bangkit dan memunculkan revolusi Komunis.
      Sebagaimana orang-orang materialis, kedua pendiri komunisme ini
      memendam kebencian yang mendalam terhadap agama. Marx dan Engels,
      keduanya adalah atheis tulen yang memandang perlunya menghapuskan
      keyakinan terhadap agama dilihat dari sudut pandang Komunisme.
      Tetapi, ada satu hal yang belum dimiliki Marx dan Engels: agar dapat
      menarik pengikut di kalangan masyarakat secara lebih luas, mereka
      perlu membungkus ideologi mereka dengan penampakan ilmiah. Inilah
      awal dari terbentuknya ideologi gabungan berbahaya yang kemudian
      memunculkan penderitaan, kekacauan, pembunuhan masal, pertikaian
      sesama saudara, dan perpecahan di abad ke-20. Darwin mengemukakan
      teorinya tentang evolusi dalam bukunya The Origin of Species. Dan
      sungguh menarik bahwa pernyataan utama yang ia kemukakan adalah
      penjelasan yang sedang dicari-cari oleh Marx dan Engels. Darwin
      menyatakan bahwa makhluk hidup muncul menjadi ada sebagai hasil
      dari "perjuangan untuk mempertahankan hidup" atau "konflik
      dialektika". Lebih dari itu, ia mengingkari penciptaan dan menolak
      keyakinan terhadap agama. Bagi Marx dan Engels hal ini merupakan
      kesempatan yang tidak boleh disia-siakan.




      Kekaguman Marx dan Engels terhadap Darwin

      Sedemikian pentingnya Darwinisme bagi komunisme sehingga hanya
      beberapa bulan setelah buku Darwin terbit, Engels menulis kepada
      Marx, "Darwin, yang (bukunya) kini sedang saya baca, sungguh
      mengagumkan."78
      Marx menjawab tulisan Engels pada tanggal 19 Desember 1860, dengan
      mengatakan, "Ini adalah buku yang berisi dasar berpijak pada sejarah
      alam bagi pandangan kita."79


      Kekaguman Pengikut Marx dan Engels terhadap Darwin

      Para pengikut Marx dan Engels, yang bertanggung jawab atas kematian
      jutaan orang dan ratusan juta lainnya yang hidup dalam penderitaan,
      ketakutan, dan kekerasan, menyambut hangat teori evolusi dengan
      penuh kegembiraan.
      John N. Moore berbicara mengenai kaitan antara evolusi dan para
      pemimpin Uni Soviet yang menerapkan gagasan Marx dan Engels di Rusia:
      Pemikiran para pemimpin Uni Soviet berakar kuat pada cara pandang
      evolusi.88
      Adalah Lenin yang menjadikan proyek revolusi Komunis Marx sebagai
      kenyataan. Lenin, pemimpin pergerakan Bolshevik Komunis di Rusia,
      bertujuan menjatuhkan rezim Tsar di Rusia dengan kekuatan
      bersenjata. Kekacauan pasca Perang Dunia I memberi kesempatan yang
      selama ini dinanti-nantikan kaum Bolshevik. Di bawah pimpinan Lenin,
      kaum Komunis merebut kekuasaan melalui perjuangan bersenjata dalam
      bulan Oktober 1917. Menyusul revolusi ini, Rusia menjadi ajang
      perang sipil berdarah selama 3 tahun antara pihak Komunis melawan
      para pendukung Tsar.
      Seperti para pemimpin Komunis lainnya, Lenin seringkali menegaskan
      bahwa teori Darwin merupakan landasan berpijak yang sangat penting
      bagi filsafat materialis dialektika.
      Salah satu pernyataannya mengungkap pandangannya tentang Darwinisme:
      Darwin mengakhiri keyakinan bahwa spesies binatang dan tumbuhan
      tidak berkaitan satu sama lain, kecuali secara kebetulan, dan bahwa
      mereka diciptakan oleh Tuhan, dan karenanya tidak mengalami
      perubahan.89
      Trotsky, yang dianggap tokoh paling penting dalam revolusi Bolshevik
      setelah Lenin, kembali menekankan pentingnya Darwinisme. Ia
      menyatakan kekagumannya atas Darwin sebagaimana berikut:
      Penemuan Darwin adalah kemenangan terbesar dialektika di segala
      bidang kehidupan.90
      Menyusul kematian Lenin di tahun 1924, Stalin, yang dikenal luas
      sebagai diktator paling berdarah sepanjang sejarah dunia,
      menggantikannya menduduki jabatan pemimpin Partai Komunis. Selama 30
      tahun masa pemerintahannya, apa yang dilakukan Stalin hanyalah
      pembuktian atas kekejaman sistem Komunisme.
      Kebijakan penting Stalin yang pertama adalah mengambil alih lahan-
      lahan milik petani yang berjumlah 80% dari keseluruhan penduduk
      Rusia atas nama negara. Atas nama kebijakan pengambilalihan dan
      pengumpulan tanah ini, yang ditujukan untuk menghilangkan
      kepemilikan pribadi, semua hasil panen para petani Rusia dikumpulkan
      oleh aparat bersenjata. Akibat yang ditimbulkan adalah bencana
      kelaparan yang mengenaskan. Jutaan wanita, anak-anak dan orang tua
      yang tidak mampu mendapatkan apapun untuk dimakan, terpaksa
      menggeliat kelaparan hingga meninggal. Korban meninggal di Kaukasus
      saja mencapai 1 juta jiwa.
      Stalin mengirim ratusan ribu orang yang mencoba melawan kebijakan
      ini ke kamp-kamp kerja paksa Siberia yang mengerikan. Kamp-kamp ini,
      di mana para tahanan dipekerjakan hingga mati, menjadi kuburan bagi
      kebanyakan mereka. Selain itu, puluhan ribu orang dibunuh oleh
      polisi rahasia Stalin. Jutaan orang dipaksa mengungsi ke daerah-
      daerah terpencil di Rusia, termasuk warga Krimea dan Turki Turkestan.


      Sang Darwinis Mao Tse Tung dan
      Pembantaian yang Dilakukannya

      Pemimpin Komunis Cina, Mao, memiliki dua orang panutan: Darwin dan
      Stalin. Kedua nama ini, yang menyatu dalam kepribadian Mao, telah
      menyebabkan bencana besar dan meninggalkan jejak mereka pada masa
      kegelapan yang cukup lama dalam sejarah Cina. Sekitar 6 hingga10
      juta orang dibunuh secara langsung di bawah arahan Mao Tse Tung.
      Puluhan juta para penentang revolusi menghabiskan sebagian besar
      masa hidup mereka di penjara, di mana 20 juta di antaranya
      meninggal. Antara 20 dan 40 juta orang meninggal karena kelaparan
      pada tahun 1959-1961, dalam masa yang dinamakan "Lompatan Besar ke
      Depan," akibat kebijakan kejam Mao. Pembantaian di lapangan Tianamen
      pada bulan Juni 1989 (yang menewaskan sekitar 1.000 orang)
      memberikan satu gambaran tentang apa yang dialami Cina dalam sejarah
      masa kininya. Pembunuhan dan pembersihan etnis terhadap penduduk
      Turki Mus lim di Turkistan Timur masih terus berlangsung.
      Kebiadaban dahsyat dan hal-hal yang suilt dipercaya terjadi ketika
      revolusi Komunis berlangsung di Cina. Rakyatnya, yang berada dalam
      pengaruh hipnotisme massal, mendukung segala jenis pembantaian dan
      menunjukkan dukungan mereka dengan berteriak-teriak saat menyaksikan
      pembunuhan. Buku Le Livre Noir du Communisme (Buku Hitam Komunisme),
      yang disusun oleh sekelompok sejarawan dan pengajar, menjelaskan
      tindakan biadab Komunisme sebagai berikut:
      Seluruh warga diundang untuk menghadiri pengadilan terbuka
      terhadap "orang-orang yang menentang revolusi," yang hampir
      dipastikan akan dihukum mati. Setiap orang turut serta menghadiri
      hukuman mati tersebut, dan berteriak "bunuh, bunuh" kepada Pasukan
      Penjaga Merah yang tugasnya memotong-motong tubuh korban. Kadang
      potongan-potongan ini dimasak dan dimakan, atau secara paksa
      diberikan untuk dimakan oleh anggota keluarga korban yang masih
      hidup dan yang menyaksikan peristiwa tersebut. Setiap orang kemudian
      diundang dalam sebuah perjamuan, di mana hati dan jantung dari para
      bekas pemilik tanah dimakan secara bersama-sama, dan ke pertemuan di
      mana para pembicaranya akan beridato di hadapan barisan potongan
      kepala yang masih tertancap segar di atas tiang-tiang. Kesenangan
      pada kanibalisme kejam ini, yang di kemudian hari menjadi sesuatu
      yang lazim di bawah rezim Pol Pot, seolah menghidupkan kembali sosok
      pemimpin dari Asia Tenggara yang hidup di masa silam yang seringkali
      muncul di saat-saat terjadinya malapetaka dalam sejarah Cina.115

      Kesimpulan: Komunisme adalah Kebiadaban
      akibat Berpaling dari Agama

      Siapapun yang mencermati pembantaian, pembunuhan, dan penderitaan
      yang sengaja ditimpakan terhadap manusia oleh orang-orang Komunis,
      Nazi, atau Kolonialis, akan bertanya-tanya bagaimana para pendukung
      berbagai paham ini dapat menjauhkan diri mereka sendiri dari sifat-
      sifat yang umumnya ada dalam diri manusia. Alasan satu-satunya dari
      kebiadaban dan penindasan yang dilakukan oleh para pemimpin ini
      adalah hilangnya agama dalam diri mereka dan ketiadaan rasa takut
      kepada Tuhan. Manusia yang takut kepada Tuhan dan memiliki keimanan
      yang mantap kepada hari akhir, sudah pasti tidak akan mampu
      melakukan segala bentuk penindasan, kejahatan, ketidakadilan, dan
      pembunuhan sebagaimana yang telah kami paparkan. Selain itu,
      betapapun ia dipengaruhi, seseorang yang beriman kepada Tuhan dan
      hari akhir tidak akan pernah terseret untuk mengikuti ideologi yang
      sedemikian menyesatkan.
      Namun orang yang tidak beragama dan tidak memiliki rasa takut kepada
      Tuhan tidak mengenal batas apapun. Seseorang yang meyakini bahwa ia
      dan makhluk hidup lainnya berevolusi secara kebetulan dari materi
      tak hidup, yang percaya bahwa nenek moyangnya adalah binatang, dan
      yang menerima bahwa tiada sesuatu pun selain materi, dapat dengan
      mudah dipengaruhi untuk melakukan segala bentuk kekejaman. Pada
      pandangan pertama, orang-orang ini mungkin tampak tidak akan
      menyakiti siapapun. Namun, pada keadaan tertentu mereka dapat
      berubah menjadi seorang jagal yang melakukan pembantaian. Mereka
      mampu menjelma menjadi sosok pembunuh yang memukul atau menjadikan
      orang-orang kelaparan hanya karena tidak mau mengikuti paham mereka.
      Mereka dapat berubah menjadi orang-orang yang dipenuhi rasa
      kebencian, muak, dan permusuhan. Ini dikarenakan cara pandang mereka
      terhadap dunia mengharuskan hal yang demikian ini terjadi.
      Pada tahun 1983, Alexander I. Solzhenitsyn, pemenang hadiah Nobel
      tahun 1970 untuk bidang literatur, memberikan pidato di London di
      mana ia berusaha menjelaskan mengapa banyak sekali malapetaka buruk
      yang telah menimpa rakyatnya:
      Lebih dari setengah abad yang lalu, ketika saya masih kecil, saya
      teringat saat mendengarkan sejumlah orang-orang tua memberikan
      penjelasan berikut ini atas bencana dahsyat yang menimpa
      Rusia: "Manusia telah melupakan Tuhan; itulah mengapa semua ini
      terjadi."
      Sejak saat itu saya menghabiskan hampir 50 tahun untuk menulis
      tentang sejarah revolusi kami; dalam proses tersebut saya telah
      membaca ratusan buku, mengumpukan ratusan kesaksian dari orang-
      orang, dan telah menyumbangkan delapan jilid karya saya dalam upaya
      membersihkan puing-puing reruntuhan yang tertinggal akibat petaka
      tersebut. Tapi, jika sekarang saya diminta untuk mengatakan
      seringkas mungkin penyebab utama revolusi yang menghancurkan
      tersebut, yang menelan sekitar 60 juta rakyat kami, saya tidak mampu
      mengungkapkannya dengan lebih tepat kecuali mengulang
      perkataan: "Manusia telah melupakan Tuhan; itulah mengapa semua ini
      terjadi."118
      Kesimpulan Solzhenitsyn di atas benar-benar sungguh tepat. Sungguh,
      satu-satunya hal yang mampu menenggelamkan masyarakat ke jurang
      kebiadaban sedalam itu, yang menjadikan mereka berpaling dari
      berbagai bentuk penindasan dan tidak mau berbuat apa-apa, adalah
      berpalingnya mereka dari Tuhan. Sementara Tuhan tidak pernah lupa
      dan tidak pernah berbuat salah. Para pemimpin Komunis yang bengis
      tersebut menyangka bahwa mereka telah membangun sistem mereka
      sendiri untuk mengatur masyarakat dunia. Mereka beranggapan bahwa
      mereka memiliki kekuasaan dan kekuatan yang luar biasa. Mereka
      bahkan mengadakan berbagai pertemuan rahasia, di mana meraka
      berbisik satu sama lain tentang kebiadaban berikutnya yang akan
      mereka lakukan terhadap rakyat guna memperbesar kekuasaan dan
      kekuatan mereka. Namun ketika mereka melakukan semua ini, Tuhan
      mengetahuinya, dan Dia akan memberikan balasan terhadap apa yang
      telah mereka perbuat. Dia menyatakan hal ini dalam Alquran:

      Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu
      diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.Allah
      mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah
      melupakannya.Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Tidakkan
      kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di
      langit dan apa yang ada di bumi Tiada pembicaraan rahasia antara
      tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya.Dan tiada (pembicaraan
      antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada
      (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih
      banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di manapun mereka
      berada.Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari
      kiamat apa yang telah mereka kerjakan.Sesungguhnya Allah Maha
      Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al Mujaadilah, 58:6-7)

      Kemudian terdapat golongan orang-orang yang mengikuti para pemimpin
      kejam ini, yang menjilat dibelakang mereka. Keadaan mereka ini
      dinyatakan dalam Alquran dalam ayat

      "Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun,
      akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka
      sendiri. (QS.Yuunus, 10:44).

      Dengan kata lain, orang-orang ini menzalimi dirinya sendiri dengan
      melalaikan ajaran Allah dan mengikuti pemimpin-pemimpin Darwinis. Di
      ayat Alquran lainnya dinyatakan bahwa manusia sendirilah yang
      sebenarnya memunculkan bencana kejahatan dan kerusakan yang terjadi
      di dunia:

      Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena
      perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka
      sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke
      jalan yang benar). (QS. Ar-Ruum, 30:41)

      Satu-satunya cara guna mencegah bencana ini agar tidak terulang lagi
      adalah agar manusia menjalani hidup dengan beriman kepada Allah dan
      Hari Kemudian, dan tanpa melupakan bahwa mereka akan
      mempertanggungjawabkan segala yang telah mereka perbuat. Dan agar
      manusia hidup di bawah cahaya Alquran, yang Allah turunkan untuk
      seluruh manusia agar mereka menjadi manusia yang memiliki akhlak
      mulia seperti cinta, kasih sayang, kedermawanan, dan kesetiaan,
      sebagaimana diperintahkan dalam Alquran.
      Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun
      perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan
      kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan
      balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang
      telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl, 16:97)

      78. Conway Zirkle, Evolution, Marxian Biology and the Social Scene,
      Philadelphia: University of Pennsylvania Press, 1959, hal.85-87
      79. Conway Zirkle, Evolution, Marxian Biology and the Social Scene,
      Philadelphia: University of Pennsylvania Press, 1959, hal.85-87
      88. John N. Moore, The Impact of Evolution on the Social Sciences,
      Impact No. 52, www.icr.org/pubs/imp/imp-052.htm
      89. Marshall Hall, Hitler, Lenin, Stalin, Mao et al: The Role of
      Darwinian Evolutionism in Their Lives,
      http://www.fixedearth.com/hlsm.html
      90. Alan Woods and Ted Grant, Reason in Revolt: Marxism and Modern
      Science, London:1993
      115. Stéphane Courtois, Nicolas Werth, Jean-Louis Panné, Andrzej
      Paczkowski
      118. Edward E. Ericson, Jr., "Solzhenitsyn - Voice from the Gulag",
      Eternity, October 1985, hal. 23, 24.
    • Hafsah Salim
      ... Untuk tulisan2 yang bodoh yang menunjukkan pendidikan penulisnya terlalu rendah sehingga juga rendah pengetahuannya, tidak mungkin saya memberinya
      Message 2 of 2 , Jul 9, 2006
      • 0 Attachment
        --- In mayapadaprana@yahoogroups.com, "bulebuuk" <bulebuuk@y...> wrote:
        >
        > DARWINISME: SUMBER KEKEJAMAN KOMUNIS
        > A bad yang baru saja kita tinggalkan dipenuhi dengan berbagai tindak
        > kekerasan dan kebiadaban. Tidak diragukan lagi, ideologi pembawa
        > bencana terbesar bagi umat manusia di abad tersebut adalah
        > Komunisme, paham yang paling tersebar luas di seluruh dunia.



        Untuk tulisan2 yang bodoh yang menunjukkan pendidikan penulisnya
        terlalu rendah sehingga juga rendah pengetahuannya, tidak mungkin saya
        memberinya komentar, seperti masalah Darwinisme, komunisme, maupun
        Islam yang kesemuanya adalah ideologi ataupun kepercayaan. Sebagai
        scientist saya tidak pernah didominasi kepercayaan melainkan
        rasionalitas logika dalam mengobservasi dan menganalisa segala yang
        bersifat ilmiah !!!

        Darwin adalah pemenang Nobel bidang science sehingga kita tidak bisa
        mengomentari hal2 diluar bidang science yang menobatkan Darwin sebagai
        pemenang Nobel. Komunisme adalah ideologi politik dan ekonomi yang
        meskipun bisa dibahas sebagai science dibidang sosial, namun diluar
        bidang saya untuk membahasnya. Sebaliknya Syariah bukanlah science
        ataupun ideologi politik melainkan kepercayaan yang dasarnya angan2,
        namun bisa diverpolitisir untuk tujuan2 vested interest pribadi maupun
        kelompok.

        Masalah kebiadaban2 Islam dan kebiadaban2 Komunis, keduanya sama2
        merupakan kebiadaban yang harus ditolak umat manusia diseluruh dunia
        karena kebiadaban itu merupakan pelanggaran hak2 asasi manusia yang
        wajib kita semua menegakkannya bersama.

        Ajaran komunis tidak perlu dilarang atau disalahkan untuk kesalahan
        yang dilakukan penganutnya yang memaksakan ideologinya dengan cara2
        biadab. Kita boleh mempelajari ajaran komunisme secara
        keseluruhannya, namun tidak semuanya yang boleh disosialisasikan,
        cukup bagian2 yang bermanfaat bagi keharmonisan kehidupan sosial antar
        masyarakat.

        Demikian sama saja dengan Ajaran Islam tidak perlu dilarang atau
        disalahkan untuk kebiadaban yang dilakukan umatnya yang memaksakan
        keimanannya dengan cara2 biadab. Kita boleh mempelajari ajaran Islam
        secara keseluruhannya, namun tidak semuanya yang boleh
        disosialisasikan, cukup bagian2 yang bermanfaat bagi keharmonisan
        kehidupan sosial antar masyarakat.

        Kesimpulannya, teori Darwin, Komunisme, dan kepercayaan Islam, adalah
        tiga hal yang berbeda yang tidak terkait sebagai sebab dan akibat.
        Memang Komunisme dan Islam dalam sejarahnya selalu berdarah menjadi
        penyebab bencana dan malapetaka kemanusiaan, sebaliknya teori Darwin
        adalah hanya sebagian dari penemuan2 science dalam meningkatkan dan
        menunjang kesejahteraan kemanusiaan dalam mencegah bencana maupun
        malapetaka kemanusiaan itu sendiri melalui penemuan2 yang menunjang
        dunia pengobatan maupun rehabilitasi.

        Ny. Muslim binti Muskitawati.
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.