Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

The Last Waltz - Kudu Dibaca :-)

Expand Messages
  • mangucup88
    Mohon duduk manis, masalahnya mang Ucup mo ngedongeng neh, tapi bukannya dongeng agama, dan sebaiknya disediakan tisue & ember sebelumnya; buat air mata The
    Message 1 of 1 , Dec 3, 2005
    • 0 Attachment
      Mohon duduk manis, masalahnya mang Ucup mo ngedongeng neh, tapi
      bukannya dongeng agama, dan sebaiknya disediakan tisue & ember
      sebelumnya; buat air mata

      The Last Waltz
      Nama saya Lily , kami tinggal di sebuah kota kecil di Menado. Sejak
      muda Ibu saya senang sekali menari, oleh sebab itulah ketika hari
      perkawinannya ayah memohon agar tarian yang terakhir diberikan hanya
      untuk dia seorang, maka dari itulah lagu pertama pada saat mereka
      menari adalah „The Last Waltz" dari Engelbert Humperdinck, dan
      rupanya ini benar-benar menjadi kenyataan, karena beberapa bulan
      kemudian pada saat ibu melahirkan saya, ibu meninggal dunia.

      Daddy – begitulah panggilan saya terhadap ayah. Karena kasihnya
      kepada ibu, Daddy tidak pernah mau menikah lagi. Saya dibesarkan
      hanya oleh Daddy dan nenek saya, dan setiap malam Natal sudah
      merupakan tradisi bagi Daddy untuk selalu mengalunkan lagu
      kesayangannya "The Last Waltz", sambil mengingat ibu. Ketika saya
      berusia lima tahun, Daddy mengajar saya menari waltz.

      Sejak saat itu, setiap malam Natal, kami menari waltz berdua. Pada
      hari ulang tahun saya yang kedua belas, yang bertepatan dengan malam
      tahun baru, Daddy memberikan kepada saya hadiah berupa long dress
      warna merah, dan kami berdua menari waltz bersama.

      Pada saat tersebut, saya benar-benar merasa seperti juga Sang Putri
      dalam kisah Cinderella yang sedang menari dengan Sang Pangeran.
      Daddy mengasihi saya sehingga hampir semua permohonan saya selalu
      dikabulkan olehnya, ia benar-benar mengabdikan hidupnya hanya untuk
      saya seorang.

      Seharian Daddy harus bekerja di kantor, jadi satu-satunya yang
      membimbing saya di rumah adalah Nenek, hal ini mengakibatkan saya
      terlibat pergaulan bebas, dan akhirnya mulai ketagihan narkoba.
      Hampir setiap hari saya pulang ke rumah setelah jauh malam.

      Walaupun demikian Daddy selalu menunggu kedatangan saya dengan
      sabar, ia baru bisa tidur setelah saya berada di rumah kembali.
      Bahkan pada malam Natal yang terakhirpun, saya lebih senang
      merayakannya di diskotik bersama dengan anak-anak muda lainnya
      daripada bersama dengan Daddy, di situlah untuk pertama kalinya saya
      melihat Daddy mengeluarkan air mata.

      Karena kebutuhan saya akan narkoba semakin meningkat, maka akhirnya
      saya mencuri uang tabungan yang seyogianya untuk masa tuanya Daddy,
      dan melarikan diri ke Jakarta dengan harapan di sana saya bisa
      mendapatkan pekerjaan dan bisa hidup mandiri.

      Pada hari-hari pertama saya tinggal numpang di rumah Om saya, dan
      ternyata mencari pekerjaan di Jakarta itu tidaklah mudah, sehingga
      akhirnya saya terpaksa melamar bekerja di Klab Malam "Blue Ocean"
      sebagai pramuria. Kalau dahulu saya menari dengan Daddy, di sana
      saya terpaksa harus menari dengan pria yang sebaya dengan Daddy,
      bahkan tidak jarang di mana akhirnya saya bersedia untuk menemani
      mereka tidur di hotel.

      Setelah satu bulan saya berada di Jakarta, saya menerima surat dari
      Daddy yang dialamatkan ke tempat kost saya, rupanya Daddy mengetahui
      alamat kost saya dari Om. Dalam seminggu saya menerima tiga surat
      bahkan terkadang lebih, tetapi tidak satu surat pun yang pernah saya
      balas, boro-boro dibalas, dibukapun tidak. Masalahnya saya merasa
      malu dan tidak berani membaca surat dari Daddy, saya merasa berdosa
      terhadap Daddy, bahkan saya merasa jijik terhadap diri saya sendiri.

      Sudah lebih dari satu tahun saya di Jakarta, tumpukan surat yang
      dikumpulkan sudah ada beberapa dus. Semuanya ini saya simpan dengan
      rapi, hanya sayangnya ini hanya sekedar pajangan saja bagi saya,
      karena saya tidak berani dan mau membukanya. Saya tidak ingin
      mengetahui bahwa gadis kesayangannya Daddy, gadis yang sedemikian ia
      banggakannya, telah menjadi seorang pramuria, seorang prostitusi,
      bahkan sudah menjadi pencandu berat narkoba.

      Beberapa hari sebelum Natal, saya menerima surat lagi yang ditulis
      dengan tulisan tangan yang sama, dan bentuk sampul yang sama,
      tetapi kali ini tidak dikirim melalui pos maupun ke alamat kost
      saya, melainkan dikirim dan dititipkan secara langsung ke klab malam
      tempat di mana saya bekerja. Dan ketika saya menanyakan siapa yang
      menitipkan surat tersebut, ternyata dari gambaran yang diberikan
      adalah Daddy sendiri yang telah khusus datang ke Jakarta untuk
      mengantarkan surat tersebut.

      Ini kali saya sudah tidak tahan lagi untuk membukanya, dengan air
      mata yang turun berlinang saya baca surat tersebut, yang isinya
      sebagai berikut: "Lily my dearest beloved princess, Daddy sudah
      sejak lama tahu di mana kamu bekerja, permohonan Daddy hanya satu
      saja: "Maukah kamu pulang kembali ke rumah untuk menari bersama
      dengan Daddy ?"

      Setelah membaca surat tersebut, saya langsung pulang ke tempat kost
      untuk membaca ratusan surat - surat lainnya yang belum saya buka,
      ternyata semua surat isinya sama, di mana hanya tertulis satu
      pertanyaan saja yang ditulis dengan tangan: "Maukah Lily menari
      kembali bersama dengan Daddy ?"

      Hari itu juga saya langsung mengambil keputusan untuk pulang ke
      rumah. Karena menjelang Natal, maka hampir semua pesawat fully book,
      sehingga terpaksa saya membeli tiket dengan harga yang berkali
      lipat lebih tinggi, hanya dengan satu harapan saja agar saya bisa
      tiba di rumah sebelum malam Natal nanti.

      Setibanya saya dirumah, saya langsung dipeluk dengan erat oleh
      Daddy, air matanya turun berlinang dengan deras membasahi kepala
      saya. Dengan suara terisak-isak Daddy bertanya sekali lagi: "Maukah
      Lily menari kembali bersama dgn Daddy ?" Saya mengangguk sambil
      menjawab: "YA, tapi apakah Daddy tahu, bahwa Lily yang sekarang ini
      bukanlah princess Daddy yang dahulu lagi ? Saya adalah seorang
      prostitusi yang kotor, bahkan yang telah mengidap penyakit AIDS,
      apakah Daddy tidak malu menerima saya kembali, apakah Daddy tidak
      takut ketularan penyakit saya ?"

      Daddy tidak berkata sepatah katapun juga, ia hanya pergi memutar
      lagu kesayangannya "My Last Waltz", dan memeluk saya dgn penuh kasih
      untuk mengajak saya menari seperti pada hari-hari Natal sebelumnya ,
      hanya ini kali selainnya diiringi oleh irama lagu, juga oleh
      tetesan air mata yang turun berderai.

      Tanpa saya ketahui, sejak Daddy ditinggal oleh saya, ia sering
      begadang menunggu dan mengharapkan kedatangan saya kembali, di
      samping itu karena rasa duka yang sedemikian mendalamnya, sehingga
      akhirnya ia jatuh sakit kanker, dua minggu setelah Natal Daddy
      menghembuskan nafasnya yang terakhir.

      Rupanya ia mengetahui bahwa bahwa hari-hari terakhirnya telah
      mendekati, oleh sebab itulah ia telah memaksakan diri, walaupun
      dalam keadaan sakit sekalipun juga khusus untuk mengantarkan surat
      bagi saya ke Jakarta, hanya untuk mewujudkan keinginannya yang
      terakhir dimana ia bisa mendapatkan kesempatan sekali lagi menari
      dengan putri kesayangannya. Masih terngiang-ngiang dikuping saya
      lirik dari lagu kesayangannya:
      "The Last Waltz"
      .....
      A little girl alone and so shy
      I had the last waltz with you
      Two lonely people together
      I fell in love with you
      The last waltz should last forever
      But the love we had was goin' strong

      Menjelang Natal ini, banyak sekali orang tua yang mengharapkan dan
      menunggu kedatangan dari anak-anaknya. Bagaimanapun keadaan dan
      situasi Anda pada saat sekarang ini, orang tua kita bisa menerima
      kita apa adanya, dengan segala kelemahan maupun kelebihan kita,
      terlebih lagi mereka tidak mau mengingat kesalahan-kesalahan kita di
      masa lampau, yang mereka inginkan hanya satu saja ialah dapat
      melihat dan memeluk putera dan puterinya kembali. Berapa lama lagi
      Anda akan menyuruh mereka menunggu ? Datang dan kembalilah
      sebelumnya terlambat ! Kalau keadaan tidak memungkinkan, telponlah
      mereka sambil mengatakan:

      I love you Mom & Dad
      Merry Christmast

      PS: Apabila Anda merasa senang membaca artikel ini dan ingin men-fwd
      kepada sobat-sobat lainnya, dalam hal ini mang Ucup memiliki versi
      dimana artikel tersebut diatas ini, telah dibubuhi dengan background
      gambar yang bagus maupun alunan musiknya, bagi mereka yang tertarik
      silahkan hubungi mang Ucup per japri

      Mang Ucup
      Email: mang.ucup@...
      Homepage: www.mangucup.net
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.