Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [Mayapada Prana] OOT: KOMITMEN

Expand Messages
  • Noor Ridhwan
    terimakasih sobat   Semoga bermanfaat, Salam, Noor Ridhwan ~ Bersama lebih baik ~ http://www.duan.web.id Powered by Flexi Evdo®
    Message 1 of 4 , Feb 7, 2013
    • 0 Attachment
      terimakasih sobat
       
      Semoga bermanfaat,

      Salam,
      Noor Ridhwan ~ Bersama lebih baik ~
      http://www.duan.web.id
      Powered by Flexi Evdo®


      From: "iswardeni@..." <iswardeni@...>
      To: Rt Groups Seketariat <reiki_tao@yahoogroups.com>; SMARTCHI Zhen Qi <smartchi_therapy@yahoogroups.com>; Trisulaveda <trisulavedhakundalini@yahoogroups.com>; G Mayapada Prana <mayapadaprana@yahoogroups.com>
      Sent: Friday, 8 February 2013, 6:47
      Subject: [Mayapada Prana] OOT: KOMITMEN

      Untuk memastikan keberhasilan, tentukan target. Dan ber KOMITMEN lah bahwa itu akan dicapai, jadi pilih target positif yg tidak bertentangan dengan norma agama dan etika. Dgn komitmen dan dicamkan terus bawah sadar akan terstimulus untuk meraih itu. 
      Sudahkah kita menentukan target dan  berkomitmen meraihny?
      Rahmadsyah. Thks yach Iswardeni

      Powered by Telkomsel BlackBerry®

      ------------------------------------

      *** Jual Hajar Jahanam Cair Anti Ejakulasi Dini ***
      http://agenhajarjahanam.net/

      *** Jual DVD Pembesaran Alat Vital Pria ***
      http://www.rahasiaotak.com/?p=3476



      Yahoo! Groups Links

      <*> To visit your group on the web, go to:
          http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/

      <*> Your email settings:
          Individual Email | Traditional

      <*> To change settings online go to:
          http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/join
          (Yahoo! ID required)

      <*> To change settings via email:
          mayapadaprana-digest@yahoogroups.com
          mayapadaprana-fullfeatured@yahoogroups.com

      <*> To unsubscribe from this group, send an email to:
          mayapadaprana-unsubscribe@yahoogroups.com

      <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
          http://asia.docs.yahoo.com/info/terms



    • Iswardeni
      *Ditulis Oleh Her Suharyanto Ini adalah cerita teman lama saya, Beni namanya, yang tinggal di perumahan di pinggiran Jakarta. Suatu pagi dia keluar rumah
      Message 2 of 4 , Apr 16 11:09 PM
      • 0 Attachment
        *Ditulis Oleh Her Suharyanto
        Ini adalah cerita teman lama saya, Beni namanya, yang tinggal di perumahan di pinggiran Jakarta.
        Suatu pagi dia keluar rumah dengan mobil untuk mengantar istrinya ke terminal 
        shuttle bus yang menghubungkan perumahan kami dengan sejumlah lokasi strategis di Jakarta. Teman ini sendiri seorang pekerja 
        freelance yang sibuk, tapi selalu menyempatkan diri mengantar anak-anaknya ke sekolah dan istrinya ke terminal, khususnya kalau tidak ada pekerjaan di luar kota atau luar negeri.
        Begitu roda mobilnya berputar, dia melihat Irma, tetangganya, baru saja menutup pintu pagar. Tumben berangkat pagi, begitu pikir teman saya. Biasanya Irma berangkat siang. Belum sempat melihat Beni, Irma sudah melambai ke arah tukang ojek yang mangkal di ujung tikungan. Sedetik kemudian, mobil Beni sudah berada di dekat Irma. Esther, istri Beni, langsung heboh berhai-hai dengan Irma. Dan apa yang terjadi?
        “Gue nebeng aja ya, ke terminal s
        huttle bus…” teriaknya. Kemudian dia berteriak kepada si tukang ojek, “Pak, maaf ya… nggak jadi.”
        Mobil pun bergerak. Tetapi sekejap kemudian Beni sempat beradu pandang dengan si tukang ojek. Ada rasa kecewa sekaligus rasa jengkel di mata tukang ojek itu. Bukankah juga ada sebersit rasa benci dalam tatapan itu? Begitu pikir Beni. Cara tukang ojek itu memandang terus terbayang di kepala Beni. Tiba-tiba saja dia merasa bersalah telah merampas rejeki tukang ojek. Padahal jangan-jangan Irma adalah calon penumpang pertamanya, yang akan memberinya uang untuk membeli beras hari ini. Jangan-jangan dia sudah menunggu penumpang sejak subuh. Jangan-jangan sampai sore nanti dia tidak dapat penumpang…
        Terganggu dengan rasa bersalah itu, Beni memutuskan untuk menemui tukang ojek yang sering mangkal di dekat rumahnya itu. Dia menyiapkan uang sepuluh ribu rupiah untuk “ganti rugi plus”. Sebab tarif normal dari bloknya ke terminal shuttle bus adalah enam ribu rupiah.
        Di tikungan dekat rumahnya tukang ojek itu masih di sana, Ketika Beni lewat, mata tukang ojek itu memandangnya . Beni menerjemahkan pandangan itu sebagai teriakan, “Kamu sudah merampas rejeki anak istriku.”
        Maka Beni memilih tak menunda waktu. Begitu memarkir mobil, dia langsung mendekati si tukang ojek. Dengan setulus hati dia minta maaf, dan bermaksud memberi uang “ganti rugi plus” itu kepada si tukang ojek.
        Namun reaksi si tukang ojek sungguh di luar perkiraannya.
        “Kantongin aja deh pak,” katanya dengan wajah dingin.
        Tentu saja Beni kaget bukan main. Tapi dia berusaha tenang, dan terus berusaha bicara baik-baik dengan si tukang ojek. Dia yakin, si tukang ojek pasti akan memahami dan menerima niat baiknya. Hanya harus sabar.
        Benar, lama kelamaan si tukang ojek mau buka mulut, bahkan kemudian cenderung curhat. Selama ini, katanya, dia merasa warga kompleks Beni, terutama kaum ibu, cenderung menghindari dirinya. Kalau ada pilihan, warga kompleks, begitu istilah yang dia pakai, akan memilih tukang ojek lain, dan menghindari dirinya.
        “Mungkin karena tampang saya sangar, Pak. Tapi mau gimana lagi, tampang saya memang begini,” katanya.
        Tetapi hal itu tidak membuatnya surut langkah. Sebaliknya, dia justru berpikir bagaimana cara membuat para ibu dan remaja putri di kompleks itu merasa nyaman memakai jasanya. Wajah boleh sangar, tetapi sebagai penyedia jasa dia ingin profesional… begitulah kira-kira kalau kata-katanya diterjemahkan dalam bahasa bisnis.
        Menurut si tukang ojek, satu-satunya cara untuk menunjukkan bahwa dia tidak berbeda dengan tukang ojek lain, bahkan lebih baik, adalah metode experiential (ini bahasa saya). Ketika ada ibu-ibu yang terpaksa, karena tidak ada pilihan lain, untuk memakai jasanya, dia akan memanfaatkan kesempatan itu untuk membuktikan bahwa yang sangar hanya wajahnya.
        “Saya usahakan bawa motor setenang mungkin, nggak ngebut,” katanya. Dia juga akan memancing penumpangnya dengan obrolan ringan. Kalau penumpangnya senang ngobrol dia akan meladeni sekaligus untuk menunjukkan jati dirinya. Tapi kalau sang penumpang tidak suka ngobrol, dia akan diam, tetapi dia akan menjaga kesopanan dan keramahannya. “Saya satu-satunya tukang ojek yang nggak pasang tarif,” katanya.
        Beni menjadi lebih paham. Tukang ojek itu kecewa bukan semata-mata kehilangan uang enam ribu rupiah, tetapi kehilangan peluang melakukan experiential marketing dengan pelanggan potensialnya. “Ibu itu belum pernah pakai saya…” tuturnya.
        Maka Beni kemudian bilang, “Pak, tolong ini terima saja. Cuman ini. Tapi saya janji, saya akan bilang ke ibu-ibu kompleks ini tentang siapa sebenarnya Bapak.”
        Beni memenuhi janjinya. Sasaran promosi pertamanya adalah Esther, kemudian Irma, dan kemudian dua orang ini menjadi seperti aktivis MLM yang haus downline. Dan cerita bermuara pada happy-ending, walau ini bukan bagian dari cerita film Hollywood.
        (Her Suharyanto,
        her@...)


        Powered by Telkomsel BlackBerry®
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.