Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Kenapa musti sakit?

Expand Messages
  • mangucup88
    Setiap manusia di kolong langit itu harus mati dan boleh dibilang lebih dari 90% pernah sakit, entah ini sakit perut, sakit kepala ataupun sakit, karena
    Message 1 of 1 , Aug 31, 2005
    • 0 Attachment
      Setiap manusia di kolong langit itu harus mati dan boleh dibilang
      lebih dari 90% pernah sakit, entah ini sakit perut, sakit kepala
      ataupun sakit, karena korengan. Hal inilah yg membuat mang Ucup jadi
      gatel tangan untuk mempertanyakan kenapa manusia itu harus sakit?
      Bukankah kita ini diciptakan sesuai dgn gambaran-Nya, apakah dgn
      demikian bisa diartikan bahwa Sang Pencipta juga sering migren sakit
      kepala seperti kita umat-Nya? Sang Pencipta itu sedemikian kuasa dan
      canggih-Nya, kenapa kok hanya bisa menciptakan manusia kodian yg
      sedemikian rapuh dan bokbroknya, seperti juga produksi barang2
      murahan buatan China. Apakah manusia ini merupakan production fault
      dari Sang Pencipta? Dan apa manfaatnya dari sakit ini, selainnya
      membuat para Dr, Apotheker dan pabrik obat menjadi kaya raya.

      Orang akan lebih bisa menghayati apa artinya penderitaan sakit atau
      rasa nyeri itu, apabila ia sendiri pernah mengalaminya. Berapa
      banyak orang yg melakukan bunuh diri, karena tidak tahan penderitaan
      rasa nyeri yg terus menerus. Orang bersedia melakukan apapun juga
      untuk bisa mengurangi ataupun mengobati rasa sakit, sebab untuk ini
      tiada biaya yg terlalu mahal dan tiada jarak yg terlalu jauh untuk
      ditempuh hanya sekedar untuk dapat mengurangi rasa sakit mereka.
      Bahkan mereka bersedia untuk melakukan hal2 yg tidak masuk diakal
      sekalipun umpamanya dgn minta bantuan dari para dukun dan wong
      pinter maupun para arwah hanya karena ingin disembuhkan dari rasa
      sakitnya.

      Pada saat orang menderita sakit, praktis ia benar2 K.O. total,
      karena ia sdh tidak bisa dan tidak bergariah lagi untuk melakukan
      apapun juga, boro2 kegiatan se-hari2 untuk makan dan minum pun sudah
      ogah. Pria yg bagaimana gagah perkasanya sekalipun pada saat ia
      menderita sakit tidak jarang yg menggerang, bahkan menangis, karena
      kesakitan. Oleh sebab itulah hampir semua obat tujuan yg paling
      utamanya ialah untuk mengurangi rasa sakitnya terlebih dahulu
      setelah itu baru penyembuhannya. Dan obat yg paling laris di dunia
      adalah obat2an yg bisa mengurangi atau menghilangkan rasa sakit.

      Pada saat kita menggerang kesakitan, kita selalu mempertanyakan
      siapa sih biang keroknya yg mengirim penyakit ini kepada saya? Kok
      tega2nya menyiksa saya! Dimana letak dosa dan kesalahan saya
      sehingga saya harus mengalami siksaan yg sedemikian beratnya? Kenapa
      saya bukannya si Pulan yg lebih banyak nipeng maupun lacurnya? Where
      is God when it hurts? Where are You God, ketika rasa sakit menerpa
      atau ketika penderitaan mengganduli tanpa henti2nya? Dan katakanlah,
      Tuhan, apa gunanya semuanya ini? Apakah kau senang melihat umat-Mu
      menderita?

      Pertanyaan seperti ini bukan diajukan oleh orang awam seperti Anda
      dan saya saja, bahkan seorang Nabi yg sdh kuat imannya sekalipun
      tetap mengajukan pertanyaan dan keluhan yg sama: „Mengapakah
      penderitaanku tidak berkesudahan, dan lukaku sangat payah, sukar
      disembuhkan? Sungguh, Engkau seperti sungai yang curang bagiku, air
      yang tidak dapat dipercayai."

      Saya kira jarang ada orang yg bisa mengucapkan: „Thank God for
      pain"! – "Terima kasih Allah atas rasa sakit ini!" Apabila sakit ini
      merupakan anugerah dari Allah, maka ini akan merupakan anugerah yg
      paling tidak disenangi maupun disyukuri. The most unppreciated and
      unwanted gift! Memang sakit itu tidak enak, tetapi apabila Anda mau
      hidup maka Anda harus sakit, sebab itu sudah merupakan pasangannya
      dari kenikmatan hidup yg tidak bisa dipisahkan satu dgn yg lain.

      Kesakitan adalah cara untuk dapat mengikat manusia menjadi satu,
      lihat saja di ruang tunggu "Bagian Perawatan Intensif" (ICU) dirumah
      sakit manapun juga, disitu berkumpul segala macam jenis orang, dari
      berbagai macam agama. Campur aduk antara wong kaya dan wong kere,
      wong goblok dan wong pinter, agamais maupun yg ateist. Disitulah
      mungkin satu2nya tempat di dunia ini, dimana perbedaan sudah tidak
      ada artinya lagi. Beraneka-ragam orang disitu diikat menjadi satu
      dgn sebuah ikatan yg amat kuat, walaupun mengerikan. Mereka diikat
      oleh keprihatian yg sama akan kesakitan seorang yg mereka kasihi yg
      tengah sekarat. Dlm situasi seperti itu, kesenjangan sosial dan
      ekonomi dan perbedaan agama, serta-merta menguap lenyap seperti juga
      lenyapnya embun disang hari bolong. Disitulah tempat dimana orang yg
      belum saling mengenal sekalipun pun akan bisa saling merangkul dan
      menangis bersama untuk saling berbagi penderitaan mereka. Dan
      disitulah mereka merasakan, bahwa Allah yg mereka sembah itu
      sebenarnya sama!

      Apakah penyakit yg saya derita ini berdasarkan santet, ataukah
      keinginannya dari si setan, ataukah karena kehendak Allah? Apakah
      penderitaan saya ini merupakan hukuman atas dosa2 saya; yg sedang
      dilimpahkan oleh Allah kepada saya? Atau karena ulah saya sendiri?

      Melalui seri tulisan inilah mang Ucup ingin mengajak rekan2 semua
      untuk mendiskusikannya bersama agar kita bisa menerima dan
      mensyukuri anugerah yg Allah berikan entah itu penderitaan maupun
      rasa sakit, siapa tahu dgn demikian kita akan bisa lebih mudah untuk
      menerima dan meng-amin-kan segala Kehendak-Nya. Siapa tahu dengan
      demikian akan bisa mengurangi penderitaan maupun rasa sakitnya Anda
      pada saat sekarang ini!

      Maranatha
      Mang Ucup – The Drunken Priest
      Email: mang.ucup@...
      Homepage: www.mangucup.net
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.