Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Seri 511

Expand Messages
  • H. M. Nur Abdurrahman
    Islam yang bermuatan: aqidah (pokok keimanan), jalannya hukum dan akhlaq, meliputi cakrawala yang luas, yaitu petunjuk untuk mengatur baik kehidupan
    Message 1 of 1 , Jul 10, 2011
      Islam yang bermuatan: aqidah (pokok keimanan), jalannya hukum dan akhlaq, meliputi cakrawala yang luas, yaitu petunjuk untuk mengatur baik kehidupan nafsi-nafsi (individu), maupun kehidupan kolektif dengan substansi yang bervariasi seperti keimanan, ibadah ritual (spiritualisme), karakter perorangan, akhlaq individu dan kolektif, kebiasaan manusiawi, ibadah non-ritual seperti: hubungan keluarga, kehidupan sosial politik ekonomi, administrasi, teknologi serta pengelolaan lingkungan, hak dan kewajiban warga-negara, dan terakhir yang tak kurang pentingnya yaitu sistem hukum yang teridiri atas komponen-komponen: substansi aturan-aturan perdata-pidana, damai-perang, nasional-internasional, pranata subsistem peradilan dan apresiasi hukum serta rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat yang berakhlaq. Semua substansi yang disebutkan itu bahasannya ada dalam Serial Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu. Maksudnya Wahyu memayungi akal , dan Iman memayungi ilmu.

      one liner Seri 511
      insya-Allah akan diposting hingga no.800
      no.terakhir 982
      *******************************************************************
       
      BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
       
      WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
      [Kolom Tetap Harian Fajar]
      511. Ilmu Menurut Syari'at Islam
       
      Dr. El-Baz wrote: "Science is international. There is no such thing as Islamic science. Science is like building a big building, a pyramid. Each person puts up a block. These blocks have never had a religion. It's irrelevant, the color of the guy who put up the block." (Ilmu itu sifatnya menginternasional. Tidak ada itu yang disebut dengan ilmu yang Islami. Ilmu itu seperti bangunan, bangunan besar, sebuah piramida. Setiap orang meletakkan bungkah di atasnya. Bungkah-bungkah itu tak pernah punya agama. Itu tidak mengena dengan warna orang yang meletakkan bungkah itu).

      Apakah benar, bahwa tidak ada itu yang disebut ilmu yang Islami? Opini El-Baz itu tidak benar. El-Baz lupa atau pura-pura tidak tahu bahwa setiap bangunan bertumpu pada fundasi. Setiap ilmu bertumpu pada paradigma sebagai fundasi. Orang menyangka ilmu yang keadaannya sekarang ini otonom dan polos. Itu tidak benar, karena sesungguhnya ilmu seperti keadaannya sekarang ini bertumpu pada paradigma filsafat positivisme.

      Syahdan, Syari'at Islam itu bukan hanya menyangkut petunjuk dalam bersosial, berpolitik, berbudaya, berekonomi, bertata-negara dan berpemerintahan, melainkan Syari'at Islam itu menjadi pula paradigma dalam berilmu, artinya ilmu yang bertumpu pada fundasi berupa paradigma Syari'at Islam, itulah yang disebut ilmu yang Islami. Silakan dibaca ulang Seri 508 dan 509. Kemdian daripada itu, silakan baca baik-baik uraian di bawah ini dengan hati terbuka dan kepala dingin.

      Manusia berdasarkan sikapnya terhadap Tuhan, dapat diklasifikasikan dalam empat golongan, yaitu:
      a) Golongan yang percaya akan adanya Tuhan sebagai Pencipta dan Pengatur alam semesta. Artinya setelah Tuhan mencipta, lalu disertai tindak lanjut dengan memberikan petunjuk ke pada manusia dengan menurunkan wahyu kepada manusia pilihan yang disebut Nabi, yang akan meneruskan petunjuk itu kepada ummat manusia. Golongan ini disebut dengan theist.
      b)  Golongan yang percaya akan adanya Tuhan hanya sebagai Pencipta saja. Wahyu tidak ada. Manusia cukup mengatur dirinya dengan akalnya saja. Sikap yang berpikir demikian itu disebut sekuler. Golongan yang kedua ini disebut dengan deist. Adalah logis bahwa golongan ini walaupun sudah percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi belum menganut sesuatu agama.
      c)  Golongan yang tidak mau tahu, atau bimbang tentang adanya atau tidak adanya Tuhan. Golongan ini disebut dengan agnostik.
       d) Golongan yang  tidak percaya akan adanya Tuhan. Golongan ini disebut dengan atheist.
      Syahdan, melihat penggolongan sikap-sikap di atas itu, maka ilmu dalam keadaannya dewasa ini, yaitu yang bertumpu pada paradigma fisafat positivisme, TELAH MEMIHAK kepada ketiga golongan yang terakhir: deist, agnostik dan atheist. Tidak ada ilmu yang tidak memihak, sehingga tidak ada ilmu yang polos dan otonom. Jadi persepsi bahwa ilmu itu polos dan otonom itu adalah fallacy, alias kesesatan berpikir.
      Walhasil, karena tidak mungkin ilmu itu tidak memihak di antara keempat golongan itu, maka tentu saja bagi yang berpikiran sehat, akan memilih golongan pertama tempat ilmu itu memihak. Maka dengarlah firman Allah berikut ini:
      -- AN FY KhLQ ALSMWT WALARDh WAKhTLAF ALYL WALNHHAR LAYT LUWLY ALBAB. ALDzYN YDzKRWN ALLH QYAMA WQ'AWDA W'ALY JNWBHM WYTFKRWN FY KhLQ ALSMWT WALARDh RBNA MA KhLQT HDzA BAThLA SBhNK FQNA 'ADzAB ALNAR (S. AL 'AMRAN, 190-191), dibaca: Inna fii khalqis samaawaati wal ardhi wakhtilaafil laili wan nahaari la-aayaatil liulil albaab. Alladziina yadzkuruunaLlaaha qiyaamaw wa qu'uwdaw wa 'alaa junuwbihim wa yatafakkaruuna fii khalqis samaawaati wal ardhi rabbanaa maa khalaqta haadzaa baathilan subhaanaka faqinaa 'adzaaban naar (s. ali 'imraan), artinya:
      -- Sesungguhnya dalam proses penciptaan benda-benda langit dan bumi, dan pergantian malam dengan siang menjadi keterangan bagi ulul alba-b. (Ulul alba-b), yaitu mereka yang ingat kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk ataupun berbaring, (lalu mereka berkata): Wahai Yang Maha Pengatur kami, tidaklah Engkau menciptakan semuanya ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, peliharalah kami dari azab neraka (3:190-191).

      Oleh sebab itu perlu redefinisi ilmu. Khusus ilmu pengetahuan alam diredefinisikan menjadi: "Ilmu pengetahuan alam meliputi pengungkapan taqdir Allah (hukum-hukum Allah) tentang alam syahadah ciptaan Allah sebagai Maha Pencipta (Al Khaliq) dan Maha Pengatur (Ar Rabb), dan perumusan hipotesa-hipotesa sepanjang belum dapat diujicoba dengan eksperimen, yang memungkinkan orang dapat menafsirkan dan mentakwilkan peristiwa-peristiwa dan gejala-gejala alamiyah dalam kondisi-kondisi tertentu. Para pakar di bidang ilmu pengetahuan alam berurusan dengan penelitian, pengungkapan fakta-fakta tentang sifat alamiyah dari alam semesta dengan mempergunakan sumber informasi dari ayat qawliyah (AlQuran) serta Hadts Shahih dan ayat kawniyah (alam syahadah yang dapat dideteksi oleh pancaindera)."

      Dengan demikian filsafat positivisme yang selama ini sebagai paradigma tempat ilmu pengetahuan alam bertumpu di atasnya, perlu diganti menjadi paradigma Syari'at Islam. Dengan paradigma tersebut ditempuhlah metode berupa langkah-langkah seperti berikut:
       1.pengamatan
       2.penafsiran/pentakwilan,
       3.bersikap ragu terhadap pemikiran manusia, sehingga harus :
       4.mengujicoba penafsiran/pentakwilan itu dengan merujukkannya pada sumber informasi ayat Qawliyah serta Hadits Shahih dan ayat Kawniyah. Insya Allah dalam seri-seri berikutnya akan disajikan beberapa ilustrasi tentang Islamic Science. WaLlahu a'lamu bi shshawab.
       
      *** Makassar, 10 Februari 2002
          [H.Muh.Nur Abdurrahman]
      http://waii-hmna.blogspot.com/2002/02/511-ilmu-menurut-syariat-islam.html
       
       
       
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.