Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Seri 492

Expand Messages
  • H. M. Nur Abdurrahman
    Islam yang bermuatan: aqidah (pokok keimanan), jalannya hukum dan akhlaq, meliputi cakrawala yang luas, yaitu petunjuk untuk mengatur baik kehidupan
    Message 1 of 1 , Jun 12, 2011
    • 0 Attachment
      Islam yang bermuatan: aqidah (pokok keimanan), jalannya hukum dan akhlaq, meliputi cakrawala yang luas, yaitu petunjuk untuk mengatur baik kehidupan nafsi-nafsi (individu), maupun kehidupan kolektif dengan substansi yang bervariasi seperti keimanan, ibadah ritual (spiritualisme), karakter perorangan, akhlaq individu dan kolektif, kebiasaan manusiawi, ibadah non-ritual seperti: hubungan keluarga, kehidupan sosial politik ekonomi, administrasi, teknologi serta pengelolaan lingkungan, hak dan kewajiban warga-negara, dan terakhir yang tak kurang pentingnya yaitu sistem hukum yang teridiri atas komponen-komponen: substansi aturan-aturan perdata-pidana, damai-perang, nasional-internasional, pranata subsistem peradilan dan apresiasi hukum serta rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat yang berakhlaq. Semua substansi yang disebutkan itu bahasannya ada dalam Serial Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu. Maksudnya Wahyu memayungi akal , dan Iman memayungi ilmu.

      one liner Seri 492
      insya-Allah akan diposting hingga no.800
      no.terakhir 978
      *******************************************************************
       
      BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
       
      WAHYU DAN AKAL – IMAN DAN ILMU
      [Kolom Tetap Harian Fajar]
      492. Le Corsaire Noir
       
      Demi keotentikan, sebagai pertanggung-jawaban kepada Allah SWT, dalam kolom ini setiap ayat Al Quran ditransliterasikan huruf demi huruf. Bila pembaca merasa "terusik" dengan transliterasi ini, tolong dilampaui, langsung ke cara membacanya saja.

      Kita patut menyatakan turut berduka-cita atas jatuhnya korban, baik di Amerika maupun di Palestina. Kita patut lebih berdukacita karena pemerintah Amerika Serikat sama sekali tidak pernah merasa turut berduka-cita atas terbantainya 5000 warga Palestina oleh Israel dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Kita patut sangat berduka-cita lagi karena pemerintah Amerika Serikat justru mendukung teroris Israel dengan membelanya dalam Konferensi HAM dan Anti Rasisme yang diadakan di Afrika Selatan baru-baru ini.

      Penduduk dunia dewasa ini diarahkan dan digiring kedalam perangkap opini bahwa seolah-olah mereka yang melakukan teror melalui penghancur-leburan dua gedung pencakar langit World Trade Center di New York dan Gedung pertahanan Pentagon di Washington serta peledakan mobil yang berisi bom di depan gedung kementrian luar negeri, Kamis, tanggal 11 September 2001 adalah “terorist” muslim dan bahwa Usamah ibn Laadin adalah otak dari tindakan teror tersebut!

      Mampukah Usamah ibn Laadin memimpin langsung organisasi yang sedemikian rapi dan hebat serta sangat rahasia tidak dapat dicium oleh CIA-nya Amerika dan Mossad-nya Israel, menghasilkan kinerja dengan timing yang tepat serta perhitungan arah yang akurat, bahkan didalam kekuasaan pemerintah federal Amerika, sehingga mampu menluluh lantakkan secara spektakuler dua gedung pencakar langit yang menjadi jantung “perdagangan dunia” dan “pertahanan polisi dunia” itu???

      Demikian pula, mampukah orang-orang muslim dari Afghanistan ataupun pejuang-pejuang muslim dari Palestina menjalankan operasi penghancuran simbol kapitalisme dunia dan simbol super-power dunia di kandangnya super power itu sendiri dengan cara yang spektakuler?

      Kalau demikian, siapakah gerangan otak dan pelaksana yang sangat tinggi kinerjanya itu? Masih ingatkah pembaca bagaimana Timothy McVeigh, 33 tahun, yang memiliki sikap kebencian pada pemerintah federal, pukul 09.00, 19 April 1995, menghancur-leburkan gedung federal (gedung Alfred P. Murrah) di jantung kota Oklahoma yang menewaskan 168 jiwa, dan telah dihukum mati dengan disuntik lethal pada tanggal 11 Juni 2001, yaitu tepat 3 bulan yang lalu sejak luluh-lantaknya WTC dan luluhnya pentagon? Dan sebelumnya McVeigh terhendus, siapa yang dituduh di jadikan kambing hitam? Siapa lagi kalau bukan ummat Islam sang terroris.

      Maka kesimpulan sementara yang paling punya kemampuan untuk menjalankan operasi peluluh-lantakan itu adalah orang-orang warga Amerika sediri yang merasa anti kepada segala bentuk kebijaksanaan yang dibuat oleh pemerintah federal Amerika, dan tentu saja mereka itu semua adalah bukan muslim.
       
      ***

      Saya masih teringat sayup-sayup sebuah film yang berjudul Le Corsaire Noir (diucapkan: le kokhsaikhe noakh, seperti “r”-nya orang Langkat, atau “r”-nya Rizal Ramli). Film itu pernah saya tonton sekitar 50 tahun lalu. Si Bajak Laut hitam ini, demikian dalam cerita, sangat menyusahkan negeri-negeri di Eropa, terutama Inggris yang menganggap dirinya “Penguasa Laut”, ruler of the waves. Karena sudah terkenal (berucht) di kalangan negeri-negeri Eropa, maka asal ada pembajakan baik di laut, maupun pada pemukiman-pemukiman di pesisir, serta-merta jemari selalu ditujukan kepada Le Corsaire Noir, walaupun yang membajak itu bajak laut yang lain.

      Seperti cerita-cerita dalam sinetron kita, cerita ini diisi bumbu-bumbu “perselingkuhan”. Si Bajak Laut hitam ini berselingkuh dengan “Lady”, isteri seorang bangsawan pemilik sebauh “castle”. Ada dialog yang saya masih ingat, yang ada persamaannya dengan “terrorist” dewasa ini. “Mengapa kau jadi perompak,” tanya si Lady dalam suatu perjumpaan asmara di tempat rahasia. “Oh,” sahut Le Corsaire Noir, “kapal ini adalah kerajaanku. Orang mengatakan pangkat saya kapten, tetapi sebenarnya menurut saya sendiri, saya adalah raja dalam kerajaanku itu”, sambil ia menunjuk ke kapalnya yang sedang berlindung di sebuah teluk. “Saya menentukan kerajaan mana yang menjadi sahabat dan kerajaan mana yang menjadi musuhku,” ujar Le Corsaire Noir lebih lanjut. “Dan,” tambahnya pula, “kerajaan yang menjadi saya punya musuh bebuyutan (aarst vijand) adalah Kerajaan Inggris. Celakanya, dalam cerita itu Kerajaan Inggris tidak pernah berhasil melacak Le Corsaire Noir. Film itu ditutup dengan menyerahkannya kepada penonton. Terjadi pembajakan di pelabuhan Inggris Portsmouth, suatu pelabuhan kapal-kapal perang Inggris, yang sangat dibanggakan oleh Kerajaan Inggris pada waktu itu. Mengapa saya katakan diserahkan kepada penonton? Karena film itu ditutup dengan mengundang pertanyaan: “Apakah Le Corsaire Noir yang melabrak Portsmouth, ataukah bajak laut yang lain?”
       
      Cerita Le Corsaire Noir ini analog dengan Al-Qaidahnya Usamah ibn Laadin. Inggris yang menganggap dirinya “Penguasa Laut”, ruler of the waves, adalah analog dengan USA yang menganggap dirinya super power polisi dunia. Inggris yang sulit melacak Le Corsaire Noir, analog USA juga sulit melacak Usamah ibn Laadin. Pembajakan di pelabuhan Inggris Portsmouth, suatu pelabuhan kapal-kapal perang Inggris, analog dengan penghancur-leburan dua gedung pencakar langit World Trade Center di New York dan Gedung pertahanan Pentagon di Washington.
       
      ***

      Biarkanlah Amerika dan sekutunya berprasangka, Le Corsaire Noir itu Usamah ibn Laadin. Namun ummat Islam janganlah pula ikut-ikutan berprasangka buruk terhadap Usamah ibn Laadin. Firman Allah:
      -- WLA TQF LA LYS LK BH ‘ALM AN ALSM’A WALBShR WAFWaAD KL AWLaK KAN ‘ANH MSaWLA (S. AL-ASRY, 17:36), dibaca:  wa laa taqfu maa laysa laka bihii ‘ilman inna alsm’a walbshr walfuaada kullu ulaaika kaana ‘anhu mas.uulaa (s. al israa'), artinya:
      -- Dan janganlah engkau memperturutkan apa yang tidak ada pengetahuan engkau tentang halnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hasil pemikiran, masing-masinga akan dipertanggung-jawabkan (di Hari Pengadilan kelak).  WaLla-hu a'lamu bishshawa-b.
       
      *** Makassar, 16 September 2001
            [H.Muh.Nur Abdurrahman]
      http://waii-hmna.blogspot.com/2001/09/492-le-corsaire-noir.html
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.