Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

DOR DOR DOR. 8 Warga Jadi Korban Peluru Aparat di Pulau Gebe

Expand Messages
  • andre andreas
    Penambangan PT. Antam telah menghancurkan wilayah pulau Gebe. Selama tambang beroperasi masyarakat yang sebelumnya hidup sebagai nelayan dan petani, terpaksa
    Message 1 of 1 , Mar 1, 2010
    • 0 Attachment

      Penambangan PT. Antam telah menghancurkan wilayah pulau Gebe. Selama tambang beroperasi masyarakat yang sebelumnya hidup sebagai nelayan dan petani, terpaksa mengubah pola ekonomi, dan tergantung kepada pertambangan. Kini, setelah nikelnya habis dikeruk, hutan rusak, serta perusahaan tambang berhenti, masyarakat kehilangan sumber-sumber kehidupan. Tanah dan laut sekitarnya berubah menjadi merah dan tidak bisa ditanami untuk pertanian.

       

      Persoalan lapangan pekerjaan, pendidikan, dan kesehatan ibu dan anak menghantui masyarakat pulau Gebe. Berangkat dari situasi itulah, masyarakat dari empat desa Pulau Gebe, yakni Kacepi, Sanafi Kacepo, Umera dan Yoi bersama dengan mahasiswa melakukan aksi, konvoi, serta menduduki dan bermalam di kantor PT. Antam pulau Gebe sejak 23 Februari 2010. Masyarakat menuntut Dana Pengembangan Masyarakat PT. Antam pasca tambang. Untuk itu, masyarakat minta dipertemukan untuk berunding dengan Dikrektur Antam Pusat (Alwin Syah Loebis), Manajer Community Development, Kadis Pertambangan Propinsi Maluku Utara, dan Kadis Pertambangan Halmahera Tengah.

      Bukannya menanggapi warga yang anak-anak dan lingkungannya memiliki masa depan suram, PT. Antam malah mendatangkan pasukan Brimob bersama Kapolres Halmahera Tengah pada 25 Februari 2010. Sebanyak 40 aparat berseragam lengkap memakai tameng anti huru hara, dengan membawa senjata mendatangi kantor ANTAM dan memaksa massa aksi keluar halaman kantor dengan menembakkan gas air mata. Warga, temasuk ibu-ibu dan anak-anak berlarian keluar meninggalkan kantor Antam.

       

      Aksi penembakan dan kekerasan aparat  sebelumnya juga pernah terjadi di wilayah  konsesi tambang PT Nusa Halmahera Mineral yang dimiliki oleh Newcrest dari Australia (82.5%) dan PT Aneka Tambang, Indonesia (17.5%) beberapa tahun lalu.

       

      Terkait kekerasan dan penembakan oleh aparat Brimob di wilayah lain patut dicatat 2 bulan lalu tepatnya pada 4 Desember 2009 di Ogan Ilir Sumatera Selatan. Korbannya adalah para petani yang menuntut pengembalian tanah mereka yang dirampas oleh PT PN VII.

       

      Apakah ini sebuah insiden kebetulan ataukah memang secara sistimatis ada pemihakan negara terhadap kepentingan korporasi dengan menomersekiankan kepentingan warga setempat melalui pendekatan keamanan. Paling tidak dalam kasus-kasus ini ada pembiaran pelanggaran HAM berat oleh negara.

       

      Selengkapnya silah kunjung

       

      http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2010/03/sos-penembakan-warga-oleh-brimob-di.html

       


       

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.