Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [Mayapada Prana] Seri 910 Dari Bali ke Century, dari Syahril Sabirin ke Boediono

Expand Messages
  • H. M. Nur Abdurahman
    Sony Waluyo: kacau deh klo posisi sbg pengamat agama campuk aduk dg posisi sbg pengamat politik....ora jelas mangsudnya ...lalu malah nunggangi agama utk
    Message 1 of 15 , Feb 7, 2010
    • 0 Attachment
      kacau deh klo posisi sbg pengamat agama campuk aduk dg posisi sbg pengamat politik....ora jelas mangsudnya ...lalu malah nunggangi agama utk kepentingan politik...
      =============================
      HMNA:
      Itulah bedanya antara Islam dengan agama lain, karena Islam bukan hanya sekadar religion saja.
      Baca baik-baik Seri 002 di bawah ! (sekarang sudah Seri 910):
      ***************************************************
      *******************************************************

      BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

      WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
      [Kolom Tetap Harian Fajar]
      002. Konfigurasi Wahyu, Akal dan Naluri; Ruang Lingkup Syari'at

      Orang dapat menjalankan agama dengan baik, jikalau memahami ajaran agama itu dengan baik. Supaya dapat memahami ajaran agama dengan baik, haruslah pula dapat memahami wahyu dengan baik. Untuk dapat memahami wahyu dengan baik haruslah pula dapat memahami informasi-informasi yang relevan dengan wahyu, seperti Hadits Nabi Muhammad SAW, baik sabda mapun sunnahnya, dan ilmu-ilmu bantu yang diajarkan di sekolah-sekolah umum, baik itu ilmu-ilmu eksakta maupun ilmu-ilmu non eksakta. Artinya wahyu tidak dapat dipahami dengan baik, jika tidak mempergunakan akal. Walhasil akal sangat berguna untuk dapat memahami wahyu.

      Akallah yang membedakan antara manusia dengan binatang, yang hanya mempunyai naluri saja, seperti telah dikemukakan dalam No.001. Pada binatang tidak ada kekuatan lain di atas nalurinya, sedangkan pada manusia ada akal di atas nalurinya. Akal manusia tidak mampu membunuh naluri, namun akal mampu menundukkan, mengarahkan dan mengendalikan nalurinya itu. Sungguhpun manusia itu diciptakan Allah dengan sebaik-baik bentuk kejadian, karena diberi perlengkapan akal, akan tetapi kalau akalnya tidak dapat mengendalikan nalurinya, maka akan jatuhlah ia  ke tempat yang serendah-rendahnya, lebih rendah dari binatang. Menurut Hadits pada waktu Rasulullah Isra, beliau menunggang buraq dituntun oleh Jibril. Secara tekstual itu benar-benar seperti demikian. Namun di samping pemahaman tekstual itu, dapat pula kita mentakwilkan konfigurasi Jibril, Rasulullah dan buraq itu. Yakni mengandung pula simbol/ibarat yang sangat relevan bagi konfigurasi antara wahyu, akal dengan naluri, yaitu wahyu menuntun akal dan akal mengendalikan naluri. Bahkan lebih dari itu, Rasulullah menunggang buraq dituntun oleh Jibril merupakan pula isyarat dari Allah SWT bahwa itu akan diproyeksikan dalam kenyataan sejarah, satu setengah tahun kemudian setelah Isra, yaitu peristiwa hijrah: Rasulullah menunggang unta dituntun oleh Abu Bakar Ashshidiq RA. Jadi dalam memahamkan Al Quran maupun Al Hadits dalam mempergunakan akal tidaklah boleh mempertentangkan ketiga hal ini: tekstual, takwil dan isyarat.

      Karena manusia mempunyai naluri mempertahankan diri, maka manusia didorong oleh nalurinya itu untuk menonjolkan keakuannya, menonjolkan identitas dirinya. Manusia adalah makhluk pribadi. Syariat Islam mengatur tatacara peribadatan yang 'ubudiyyaat (mahdhah) untuk manusia sebagai makhluk pribadi, yakni hubungan langsung antara manusia dengan Allah. Peribadatan yang 'ubudiyyaat ini sangat pribadi sifatnya. Pelaksanaanya tidak boleh mewakili atau diwakilkan kepada orang lain. Peribadatan yang 'ubudiyyaat inilah  yang identik dengan  pengertian religion, religie, godsdienst dalam bahasa-bahasa barat. Peribadatan yang 'ubudiyyaat ini sangat ketat:  semua tidak boleh, kecuali yang digariskan oleh Nash (Al Quran dan Hadits), mengenai cara, waktu dan jumlah, bahkan ada yang mengenai tempat (ibadah Haji). Peribadatan yang 'ubudiyyaat ini dalam istilah populernya ialah ibadah yang ritual. Shalat Maghrib misalnya sudah ditetapkan tiga rakaat. Akal tidak boleh berpikir demikian: Empat lebih besar dari tiga. Jadi empat rakaat pahalanya lebih banyak dari tiga rakaat. Maka lebih baik shalat Maghrib empat rakaat supaya pahalanya lebih banyak. Dalam Syariat yang ketat ini, akal dibatasi kebebasannya. Akal hanya dapat digunakan secara deskriptif, yaitu hanya boleh dipakai untuk menjawab pertanyan: bagaimana, bilamana, berapa dan di mana, tidak boleh dipakai untuk melayani pertanyaan: mengapa, misalnya pertanyaan seperti berikut: Mengapa puasa wajib diperintahkan dalam bulan Ramadhan?

      Walaupun manusia itu makhluk pribadi, namun manusia itu tidak dapat hidup nafsi-nafsi. Cerita tentang Si Buta dan Si Lumpuh, Si Buta memikul Si Lumpuh di atas bahunya, menunjukkan ibarat kerjasama yang baik. Saling mengisi di antara keduanya, memakai kaki Si Buta untuk berjalan dan mempergunakan mata Si Lumpuh untuk melihat. Manusia itu masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, jadi tidak dapat hidup sendiri-sendiri, manusia itu saling membutuhkan di antara  sesamanya manusia.  Manusia  adalah makhluk bermasyarakat. Syariat Islam juga mengatur pokok-pokok peribadatan yang mu'alamaat untuk manusia sebagai makhluk sosial. (Ibadah adalah segenap aktivitas kita untuk mewujudkan nilai-nilai kebenaran utama yang mutlak menurut Al Quran dalam kehidupan kita sehari-hari, berlandaskan aqiedah yang benar, dikerjakan dengan ikhlas, mengharapkan ridha Allah SWT semata, mulai dari tiang yaitu shalat hingga kepada pucuk membuang beling dari tengah jalan. Jadi lebih luas pengertiannya dari bahasa-bahasa barat: religion, religie, godsdienst). Peribadatan yang mu'amalaat ini adalah Syariat yang tidak ketat, sifatnya terbuka: semua boleh, kecuali yang dilarang oleh atau tidak bertentangan dengan Nash, yang berupa aturan-aturan pokok Syariat Islam yang mu'amalaat. Sebagai contoh adalah pemakaian bedug di mesjid dan pengambilan keputusan politik, seperti dijelaskan di bawah.

      Kalau pemakaian bedug itu diniatkan sebagai persyaratan untuk azan, maka ia menjadi sub sistem dari peribadatan ubudiyyah yang ketat. Jadi tidak boleh, karena Rasulullah tidak pernah menyuruh pukul bedug di mesjid. Akan tetapi jika pemukulan bedug itu diniatkan hanya sebagai sarana untuk interaksi sosial, yang fungsinya seperti loud speaker, maka ini masuk dalam Syariat muamalah yang tidak ketat, semua boleh kecuali yang dilarang oleh atau tidak bertentangan dengan Nash. Junjungan kita Nabi Muhammad SAW hanya pernah melarang pemakaian lonceng di mesjid, sedangkan bedug tidak pernah dilarang, jadi bedug boleh dipakai.

      Karena Syariat yang mu'amalaat ini hanya diberikan pokok-pokoknya saja, maka hal-hal yang mendetail dipikirkan oleh akal manusia. Dalam mengambil keputusan politik orang bebas melakukan bagaimana prosesnya, asal saja tidak bertentangan dengan aturan pokok Syari'at, yaitu 42:38 syura- dan ulil amri minkum, bermusyawarah di antara ulil amri (wali yang diberi kuasa) minkum (yang berasal dari kamu, maksudnya penduduk atau rakyat yang beragama Islam, sebab yang non-Muslima tidak mungkin tahu dan merasakan apresiasi seorang Muslim). Apakah dalam menentukan ulil amri minkum itu boleh melalui Pemilu? Karena tidak ada disebutkan dalam Nash larangan melakukan Pemilu dalam menentukan ulil amri minkum, maka Pemilu itu boleh-boleh saja.(*)

      Demikianlah hal-hal yang mendetail diserahkan kepada ijtihad para pakar yang ahli dalam substansi yang terkait. Olah akal berupa ijtihad ini sifatnya situasional, akibat hasil pekerjaan akal yang relatif. Namun hasil akal yang situasional itu merupakan rahmat Allah, jika akal itu penggunaannya dibatasi oleh aturan-aturan pokok Syariat Islam yang mu'amalaat. Dalam Syariat yang muamalaat ini akal lebih bebas, yaitu boleh dipakai untuk melayani pertanyaan: mengapa mesti demikian, apa hikmahnya, sepanjang substansi itu terletak di atas paradigma aturan-aturan pokok Syariat yang mu'amalaat. WaLlahu a'lamu bishshawab.
      -------------------------------
      (*)
      Demikianlah ajaran Islam yang bermuatan: aqidah (pokok keimanan), jalannya hukum dan akhlaq, meliputi cakrawala yang luas, yaitu petunjuk untuk mengatur baik kehidupan nafsi-nafsi (individu), maupun  kehidupan kolektif dengan substansi yang  bervariasi seperti keimanan, ibadah ritual (mahdhah),  karakter  perorangan,  akhlaq individu dan kolektif, kebiasaan manusiawi, ibadah non-ritual seperti: hubungan keluarga, kehidupan sosial politik ekonomi, administrasi, teknologi serta pengelolaan lingkungan, hak dan kewajiban warga-negara, dan terakhir yang tak kurang pentingnya yaitu sistem hukum yang teridiri atas komponen-komponen: substansi aturan-aturan perdata-pidana, damai-perang, nasional-internasional, pranata subsistem peradilan dan apresiasi hukum serta rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat yang berakhlaq.

      Semua substansi yang disebutkan itu bahasannya ada dalam Serial Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu. Maksudnya Wahyu memayungi akal , dan Iman memayungi ilmu.

      *** Makassar, 27 Oktober 1991
          [H.Muh.Nur Abdurrahman]
      http://waii-hmna.blogspot.com/2007/06/002-konfigurasi-wahyu-akal-dan-naluri.html

      Tambahan:
      Sesudah baca Seri 002 di atas, tentu sudah jelas bagi Sony Waluyo, bahwa:
      Dalam Islam pengertian ibadah mencakup:
      ibadah ritual (mahdhah) yang sama artinya dengan religion, godsdienst
      ibadah mu'amalaat, tidak ada bahasa asingnya.
       
      Sedangkan dalam Kristen tidak demikian. Mengapa? Karena injil bicaranya lain. Bacalah ayat injil ini: "Geeft dan den Keizer wat des Keizers is, en Gode wat Gods is (Marcus 12:17)", berikanlah kepada Kaisar yang milik Kaisar, dan
      berikanlah kepada Tuhan apa yang miliknya Tuhan. Dari Marcus (12:17) ini diturunkanlah paradigma sekularisme yang terkenal dalam sejarahnya orang barat: "Scheiding tussen staat en kerk", pemisahan atau dikhotomi antara negara dengan gereja. Berikanlah kepada Kaisar yang milik Kaisar, dan berikanlah kepada Tuhan apa yang miliknya Tuhan, itu menandakan bahwa ajaran injil itu tidak ada yang disebut ibadah mu'amalaat

      #########################################################
      ----- Original Message -----
      Sent: Sunday, February 07, 2010 10:50
      Subject: Re: [Mayapada Prana] Seri 910 Dari Bali ke Century, dari Syahril Sabirin ke Boediono

      kacau deh klo posisi sbg pengamat agama campuk aduk dg posisi sbg pengamat politik....ora jelas mangsudnya ...lalu malah nunggangi agama utk kepentingan politik...
       
      sorry..cuma njeplak doang.....
       
      ==dhemit sonthul==


       
      On 2/7/10, H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrahman@...> wrote:
       

      BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
       
      WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
      [Kolom Tetap Harian Fajar]
      910 Dari Bali ke Century, dari Syahril Sabirin ke Boediono
       
      Firman Allah:
      -- WLTNZhR NFS MA QDMT LGhD (S. ALHSyR, 59:18), dibaca: 
      -- waltanzhur nafsum ma- qaddamat lighadin, artinya: 
      -- Dan mestilah orang mengkaji apa yang lalu untuk masa depan.
       
      Kita mulai dahulu dengan MA QDMT (apa yang lalu). Kasus bank Bali begitu banyak pelanggaran, baik secara pidana, perdata maupun politis. Ada jaringan money politics, dalam transaksi penagihan piutang bank Bali terhadap BDNI, BUN dan Bank Bira senilai Rp 3 triliun, yang melibatkan sejumlah pejabat tinggi negara. Presiden BJ Habibie menyetujui pemeriksaan tiga pejabat tinggi waktu itu, salah satunya Gubernur bank Indonesia Syahril Sabirin, sebagai saksi dalam kasus skandal bank Bali. Syahril kemudian jadi tersangka setelah Wakil Dirut bank Bali Firman Soetjahja saat diperiksa tim penyidik bernyanyi ada pertemuan di Hotel Mulia pada 11 Februari 1999 yang membahas soal cessie (perjanjian pengalihan). Dan akhirnya Syahril divonis tiga tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
       
      ***
       
      Di masa Presiden Soekarno, tercatat beberapa kali posisi Wapres dilowongkan. Di masa Presiden Soeharto, pernah terjadi 2 kali masa yang posisi Wapres juga dilowongkan. Terakhir, Presiden B.J.Habibie tidak pernah didampingi Wapres. Demikianlah, perihal kekosongan Wapres, dilihat dari kejadian masa lalu, ternyata hal itu bukan hal yang tabu.
       
      Pada tanggal 20 Nopember 2008, di kantor Wapres di gelar rapat kabinet terbatas yang dipimpin oleh Jusuf Kalla sebagai Presiden Ad Interim, yang dihadiri antara lain oleh Gubernur BI Boediono, Menkeu Sri Mulyani, Menperin Fahmi Idris, Meneg BUMN Sofyan Djalil, Kepala BKF Anggito Abimanyu, dan Staf Khusus Presiden urusan Timteng Alwi Shihab.
       
      Pada rapat yang dipimpin oleh pelaksana tugas Presiden tersebut, antara lain dibahas juga mengenai situasi dan keadaan ekonomi nasional. Selama rapat tersebut berlangsung, Boediono selaku Gubernur BI dan Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan (baca: KSSK), sama sekali tidak menyinggung bahwa keadaan ekonomi nasional Republik Indonesia lagi genting, artinya perekonomian sampai dengan saat rapat itu normal saja.
       
      Selanjutnya, masih di tanggal yang sama, Boediono dan Sri Mulyani dalam rapat KSSK, memutuskan untuk menyuntikkan dana sebesar Rp. 6,7 trilyun kepada bank Century, karena katanya keadaan ekonomi negara Republik Indonesia lagi genting dan gawat serta mencekam akibat bahaya sistemik. Sungguh luar biasa, tidak masuk akal sehat, hanya dalam selang beberapa jam saja, keadaan ekonomi yang normal pada siang harinya, langsung berubah menjadi gawat pada malam harinya. Itu artinya ada kebohongan, tidak ada yang gawat, keadaan sistemik hanya alasan pembenaran saja untuk menutup alasan sebenarnya, yaitu patut diduga memberikan keuntungan dari keuangan negara kepada sesiapa/Mr X. Itu yang pertama. Dan yang kedua kebijakan KSSK (Boediono dan Sri Mulayani) tanpa payung hukum. Mengapa? Karena keputusan DPR tidak menerima  Perpu No 4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK).
       
      ***
       
      Selanjutnya LGhD (tinjauan masa depan) dalam konteks Skandal bank Century. Mudah-mudahan Pansus tidak masuk angin, sehingga pada akhirnya Pansus menyatakan Boediono dan Sri Mulyani yang bertanggungjawab dan skandal bank Century tersebut diselesaikan oleh hukum, seperti yang menimpa Syahril Sabirin. Jika hal itu yang harus terjadi, maka setidaknya ada dua opsi yang bisa dilakukan oleh Presiden SBY terhadap jabatan Wapres yang terpaksa secara teknis (bukan impeachment thd Wapres yang lambang negara) harus ditinggalkan oleh Boediono karena mengalami proses hukum yang waktunya dari penyelidikan ke penyidikan ke persidangan makan waktu yang tidak terukur.
       
      Opsi pertama, adalah mengisi kembali jabatan Wapres. Menurut aturan, jika kekosongan itu dikehendaki untuk diisi kembali, maka Presiden harus mengajukan 2 orang calon Wakil Presiden kepada MPR. Selanjutnya, selambat-lambatnya dalam waktu 60 hari, MPR akan menyelenggarakan Sidang MPR untuk memilih Wapres dari 2 orang calon yang diajukan oleh Presiden.
       
      Opsi kedua, posisi Wapres tetap dilowongkan, karena itu bukan hal yang tabu seperti dikemukakan di atas. Dan tokh didalam menjalankan pemerintahan, Presiden SBY telah dibantu oleh 3 orang Menteri Koordinator, yang masing-masing membawahkan bidang perekonomian, Polhukam, dan Kesra. Di samping itu Presiden SBY dapat menunjuk seorang atau dua orang Menteri sebagai pembantu utamanya dalam menjalankan fungsi dan kewenangannya sebagai Kepala Pemerintahan. Tokh, ada Wakil Menteri yang akan melaksanakan tugas Menteri yang ditunjuk sebagai pembantu utamanya tersebut.
       
      Alhasil, patut diduga bahwa opsi inilah yang akan dipilih oleh SBY. Dan kalau ini yang terjadi, lepaslah kabinet SBY dari pengaruh neo-lib. Tidaklah perlu SBY mengikuti jejak Soeharto untuk legowo menyatakan berhenti menjadi Presiden, asal saja di samping Sri Mulyani, itu Menteri Perdagangan yang penganut neo-lib juga diganti. WaLlahu a'lamu bisshawab.
       
      *** Makassar, 7 Februari 2010
    • Sony Waluyo
      Mbah, ah.... mending jadi kelinci dah... gak kenal surga neraka...tapi enjoy2 aja hidup di surga...hehe... lagian manusia yg berakal budi mestinya dg mudah
      Message 2 of 15 , Feb 7, 2010
      • 0 Attachment
        Mbah,
        ah.... mending jadi kelinci dah... gak kenal surga neraka...tapi enjoy2 aja hidup di surga...hehe...
         
        lagian manusia yg berakal budi mestinya dg mudah mikir bila Tuhan itu Maha Kuasa dan sekaligus Maha Rahim gak mungkin Ia akan menciptakan sesuatu yg diluar kuasa kendalinya dan tak bisa diampuninya. So gak mungkin ada makluk2 nakal diluar kendaliNya dan ada neraka abadi tempatNya mengumbar kemarahan krn gak bisa mengampuni kesalahan manusia.
        So Maha Rahim yo Maha Rahim...jadi tinggal gimana manusia yg tinggal di rumah Sang Pencipta ini gunakan akal budinya tuk kelola hidupnya saling mengampuni dan mengasihi, tolong menolong satu sama lain... beres kan... hepi2 saja...
        daaannnnn... Tuhan yg Maha Kuasa itu gak perlu dibela2 dan dipuji2 spy kasih rahmat dan berkah...wong matahari saja gak perlu diminta2 wis tiap hari kasih sinarnya to.. hehehe...
         
        salam damai selaras,  
         
        ==dhemit sonthul==
         
        On 2/7/10, H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrahman@...> wrote:
         

        kacau deh klo posisi sbg pengamat agama campuk aduk dg posisi sbg pengamat politik....ora jelas mangsudnya ...lalu malah nunggangi agama utk kepentingan politik...
        =============================
        HMNA:
        Itulah bedanya antara Islam dengan agama lain, karena Islam bukan hanya sekadar religion saja.
        Baca baik-baik Seri 002 di bawah ! (sekarang sudah Seri 910):
        ***************************************************
        *******************************************************

        BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

        WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
        [Kolom Tetap Harian Fajar]
        002. Konfigurasi Wahyu, Akal dan Naluri; Ruang Lingkup Syari'at

        Orang dapat menjalankan agama dengan baik, jikalau memahami ajaran agama itu dengan baik. Supaya dapat memahami ajaran agama dengan baik, haruslah pula dapat memahami wahyu dengan baik. Untuk dapat memahami wahyu dengan baik haruslah pula dapat memahami informasi-informasi yang relevan dengan wahyu, seperti Hadits Nabi Muhammad SAW, baik sabda mapun sunnahnya, dan ilmu-ilmu bantu yang diajarkan di sekolah-sekolah umum, baik itu ilmu-ilmu eksakta maupun ilmu-ilmu non eksakta. Artinya wahyu tidak dapat dipahami dengan baik, jika tidak mempergunakan akal. Walhasil akal sangat berguna untuk dapat memahami wahyu.

        Akallah yang membedakan antara manusia dengan binatang, yang hanya mempunyai naluri saja, seperti telah dikemukakan dalam No.001. Pada binatang tidak ada kekuatan lain di atas nalurinya, sedangkan pada manusia ada akal di atas nalurinya. Akal manusia tidak mampu membunuh naluri, namun akal mampu menundukkan, mengarahkan dan mengendalikan nalurinya itu. Sungguhpun manusia itu diciptakan Allah dengan sebaik-baik bentuk kejadian, karena diberi perlengkapan akal, akan tetapi kalau akalnya tidak dapat mengendalikan nalurinya, maka akan jatuhlah ia  ke tempat yang serendah-rendahnya, lebih rendah dari binatang. Menurut Hadits pada waktu Rasulullah Isra, beliau menunggang buraq dituntun oleh Jibril. Secara tekstual itu benar-benar seperti demikian. Namun di samping pemahaman tekstual itu, dapat pula kita mentakwilkan konfigurasi Jibril, Rasulullah dan buraq itu. Yakni mengandung pula simbol/ibarat yang sangat relevan bagi konfigurasi antara wahyu, akal dengan naluri, yaitu wahyu menuntun akal dan akal mengendalikan naluri. Bahkan lebih dari itu, Rasulullah menunggang buraq dituntun oleh Jibril merupakan pula isyarat dari Allah SWT bahwa itu akan diproyeksikan dalam kenyataan sejarah, satu setengah tahun kemudian setelah Isra, yaitu peristiwa hijrah: Rasulullah menunggang unta dituntun oleh Abu Bakar Ashshidiq RA. Jadi dalam memahamkan Al Quran maupun Al Hadits dalam mempergunakan akal tidaklah boleh mempertentangkan ketiga hal ini: tekstual, takwil dan isyarat.

        Karena manusia mempunyai naluri mempertahankan diri, maka manusia didorong oleh nalurinya itu untuk menonjolkan keakuannya, menonjolkan identitas dirinya. Manusia adalah makhluk pribadi. Syariat Islam mengatur tatacara peribadatan yang 'ubudiyyaat (mahdhah) untuk manusia sebagai makhluk pribadi, yakni hubungan langsung antara manusia dengan Allah. Peribadatan yang 'ubudiyyaat ini sangat pribadi sifatnya. Pelaksanaanya tidak boleh mewakili atau diwakilkan kepada orang lain. Peribadatan yang 'ubudiyyaat inilah  yang identik dengan  pengertian religion, religie, godsdienst dalam bahasa-bahasa barat. Peribadatan yang 'ubudiyyaat ini sangat ketat:  semua tidak boleh, kecuali yang digariskan oleh Nash (Al Quran dan Hadits), mengenai cara, waktu dan jumlah, bahkan ada yang mengenai tempat (ibadah Haji). Peribadatan yang 'ubudiyyaat ini dalam istilah populernya ialah ibadah yang ritual. Shalat Maghrib misalnya sudah ditetapkan tiga rakaat. Akal tidak boleh berpikir demikian: Empat lebih besar dari tiga. Jadi empat rakaat pahalanya lebih banyak dari tiga rakaat. Maka lebih baik shalat Maghrib empat rakaat supaya pahalanya lebih banyak. Dalam Syariat yang ketat ini, akal dibatasi kebebasannya. Akal hanya dapat digunakan secara deskriptif, yaitu hanya boleh dipakai untuk menjawab pertanyan: bagaimana, bilamana, berapa dan di mana, tidak boleh dipakai untuk melayani pertanyaan: mengapa, misalnya pertanyaan seperti berikut: Mengapa puasa wajib diperintahkan dalam bulan Ramadhan?

        Walaupun manusia itu makhluk pribadi, namun manusia itu tidak dapat hidup nafsi-nafsi. Cerita tentang Si Buta dan Si Lumpuh, Si Buta memikul Si Lumpuh di atas bahunya, menunjukkan ibarat kerjasama yang baik. Saling mengisi di antara keduanya, memakai kaki Si Buta untuk berjalan dan mempergunakan mata Si Lumpuh untuk melihat. Manusia itu masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, jadi tidak dapat hidup sendiri-sendiri, manusia itu saling membutuhkan di antara  sesamanya manusia.  Manusia  adalah makhluk bermasyarakat. Syariat Islam juga mengatur pokok-pokok peribadatan yang mu'alamaat untuk manusia sebagai makhluk sosial. (Ibadah adalah segenap aktivitas kita untuk mewujudkan nilai-nilai kebenaran utama yang mutlak menurut Al Quran dalam kehidupan kita sehari-hari, berlandaskan aqiedah yang benar, dikerjakan dengan ikhlas, mengharapkan ridha Allah SWT semata, mulai dari tiang yaitu shalat hingga kepada pucuk membuang beling dari tengah jalan. Jadi lebih luas pengertiannya dari bahasa-bahasa barat: religion, religie, godsdienst). Peribadatan yang mu'amalaat ini adalah Syariat yang tidak ketat, sifatnya terbuka: semua boleh, kecuali yang dilarang oleh atau tidak bertentangan dengan Nash, yang berupa aturan-aturan pokok Syariat Islam yang mu'amalaat. Sebagai contoh adalah pemakaian bedug di mesjid dan pengambilan keputusan politik, seperti dijelaskan di bawah.

        Kalau pemakaian bedug itu diniatkan sebagai persyaratan untuk azan, maka ia menjadi sub sistem dari peribadatan ubudiyyah yang ketat. Jadi tidak boleh, karena Rasulullah tidak pernah menyuruh pukul bedug di mesjid. Akan tetapi jika pemukulan bedug itu diniatkan hanya sebagai sarana untuk interaksi sosial, yang fungsinya seperti loud speaker, maka ini masuk dalam Syariat muamalah yang tidak ketat, semua boleh kecuali yang dilarang oleh atau tidak bertentangan dengan Nash. Junjungan kita Nabi Muhammad SAW hanya pernah melarang pemakaian lonceng di mesjid, sedangkan bedug tidak pernah dilarang, jadi bedug boleh dipakai.

        Karena Syariat yang mu'amalaat ini hanya diberikan pokok-pokoknya saja, maka hal-hal yang mendetail dipikirkan oleh akal manusia. Dalam mengambil keputusan politik orang bebas melakukan bagaimana prosesnya, asal saja tidak bertentangan dengan aturan pokok Syari'at, yaitu 42:38 syura- dan ulil amri minkum, bermusyawarah di antara ulil amri (wali yang diberi kuasa) minkum (yang berasal dari kamu, maksudnya penduduk atau rakyat yang beragama Islam, sebab yang non-Muslima tidak mungkin tahu dan merasakan apresiasi seorang Muslim). Apakah dalam menentukan ulil amri minkum itu boleh melalui Pemilu? Karena tidak ada disebutkan dalam Nash larangan melakukan Pemilu dalam menentukan ulil amri minkum, maka Pemilu itu boleh-boleh saja.(*)

        Demikianlah hal-hal yang mendetail diserahkan kepada ijtihad para pakar yang ahli dalam substansi yang terkait. Olah akal berupa ijtihad ini sifatnya situasional, akibat hasil pekerjaan akal yang relatif. Namun hasil akal yang situasional itu merupakan rahmat Allah, jika akal itu penggunaannya dibatasi oleh aturan-aturan pokok Syariat Islam yang mu'amalaat. Dalam Syariat yang muamalaat ini akal lebih bebas, yaitu boleh dipakai untuk melayani pertanyaan: mengapa mesti demikian, apa hikmahnya, sepanjang substansi itu terletak di atas paradigma aturan-aturan pokok Syariat yang mu'amalaat. WaLlahu a'lamu bishshawab.
        -------------------------------
        (*)
        Demikianlah ajaran Islam yang bermuatan: aqidah (pokok keimanan), jalannya hukum dan akhlaq, meliputi cakrawala yang luas, yaitu petunjuk untuk mengatur baik kehidupan nafsi-nafsi (individu), maupun  kehidupan kolektif dengan substansi yang  bervariasi seperti keimanan, ibadah ritual (mahdhah),  karakter  perorangan,  akhlaq individu dan kolektif, kebiasaan manusiawi, ibadah non-ritual seperti: hubungan keluarga, kehidupan sosial politik ekonomi, administrasi, teknologi serta pengelolaan lingkungan, hak dan kewajiban warga-negara, dan terakhir yang tak kurang pentingnya yaitu sistem hukum yang teridiri atas komponen-komponen: substansi aturan-aturan perdata-pidana, damai-perang, nasional-internasional, pranata subsistem peradilan dan apresiasi hukum serta rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat yang berakhlaq.

        Semua substansi yang disebutkan itu bahasannya ada dalam Serial Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu. Maksudnya Wahyu memayungi akal , dan Iman memayungi ilmu.

        *** Makassar, 27 Oktober 1991
            [H.Muh.Nur Abdurrahman]
        http://waii-hmna.blogspot.com/2007/06/002-konfigurasi-wahyu-akal-dan-naluri.html

        Tambahan:
        Sesudah baca Seri 002 di atas, tentu sudah jelas bagi Sony Waluyo, bahwa:
        Dalam Islam pengertian ibadah mencakup:
        ibadah ritual (mahdhah) yang sama artinya dengan religion, godsdienst
        ibadah mu'amalaat, tidak ada bahasa asingnya.
         
        Sedangkan dalam Kristen tidak demikian. Mengapa? Karena injil bicaranya lain. Bacalah ayat injil ini: "Geeft dan den Keizer wat des Keizers is, en Gode wat Gods is (Marcus 12:17)", berikanlah kepada Kaisar yang milik Kaisar, dan
        berikanlah kepada Tuhan apa yang miliknya Tuhan. Dari Marcus (12:17) ini diturunkanlah paradigma sekularisme yang terkenal dalam sejarahnya orang barat: "Scheiding tussen staat en kerk", pemisahan atau dikhotomi antara negara dengan gereja. Berikanlah kepada Kaisar yang milik Kaisar, dan berikanlah kepada Tuhan apa yang miliknya Tuhan, itu menandakan bahwa ajaran injil itu tidak ada yang disebut ibadah mu'amalaat

        #########################################################
        ----- Original Message -----
        Sent: Sunday, February 07, 2010 10:50
        Subject: Re: [Mayapada Prana] Seri 910 Dari Bali ke Century, dari Syahril Sabirin ke Boediono

         
        kacau deh klo posisi sbg pengamat agama campuk aduk dg posisi sbg pengamat politik....ora jelas mangsudnya ...lalu malah nunggangi agama utk kepentingan politik...
         
        sorry..cuma njeplak doang.....
         
        ==dhemit sonthul==


         
        On 2/7/10, H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrahman@...> wrote:
         

        BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
         
        WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
        [Kolom Tetap Harian Fajar]
        910 Dari Bali ke Century, dari Syahril Sabirin ke Boediono
         
        Firman Allah:
        -- WLTNZhR NFS MA QDMT LGhD (S. ALHSyR, 59:18), dibaca: 
        -- waltanzhur nafsum ma- qaddamat lighadin, artinya: 
        -- Dan mestilah orang mengkaji apa yang lalu untuk masa depan.
         
        Kita mulai dahulu dengan MA QDMT (apa yang lalu). Kasus bank Bali begitu banyak pelanggaran, baik secara pidana, perdata maupun politis. Ada jaringan money politics, dalam transaksi penagihan piutang bank Bali terhadap BDNI, BUN dan Bank Bira senilai Rp 3 triliun, yang melibatkan sejumlah pejabat tinggi negara. Presiden BJ Habibie menyetujui pemeriksaan tiga pejabat tinggi waktu itu, salah satunya Gubernur bank Indonesia Syahril Sabirin, sebagai saksi dalam kasus skandal bank Bali. Syahril kemudian jadi tersangka setelah Wakil Dirut bank Bali Firman Soetjahja saat diperiksa tim penyidik bernyanyi ada pertemuan di Hotel Mulia pada 11 Februari 1999 yang membahas soal cessie (perjanjian pengalihan). Dan akhirnya Syahril divonis tiga tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
         
        ***
         
        Di masa Presiden Soekarno, tercatat beberapa kali posisi Wapres dilowongkan. Di masa Presiden Soeharto, pernah terjadi 2 kali masa yang posisi Wapres juga dilowongkan. Terakhir, Presiden B.J.Habibie tidak pernah didampingi Wapres. Demikianlah, perihal kekosongan Wapres, dilihat dari kejadian masa lalu, ternyata hal itu bukan hal yang tabu.
         
        Pada tanggal 20 Nopember 2008, di kantor Wapres di gelar rapat kabinet terbatas yang dipimpin oleh Jusuf Kalla sebagai Presiden Ad Interim, yang dihadiri antara lain oleh Gubernur BI Boediono, Menkeu Sri Mulyani, Menperin Fahmi Idris, Meneg BUMN Sofyan Djalil, Kepala BKF Anggito Abimanyu, dan Staf Khusus Presiden urusan Timteng Alwi Shihab.
         
        Pada rapat yang dipimpin oleh pelaksana tugas Presiden tersebut, antara lain dibahas juga mengenai situasi dan keadaan ekonomi nasional. Selama rapat tersebut berlangsung, Boediono selaku Gubernur BI dan Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan (baca: KSSK), sama sekali tidak menyinggung bahwa keadaan ekonomi nasional Republik Indonesia lagi genting, artinya perekonomian sampai dengan saat rapat itu normal saja.
         
        Selanjutnya, masih di tanggal yang sama, Boediono dan Sri Mulyani dalam rapat KSSK, memutuskan untuk menyuntikkan dana sebesar Rp. 6,7 trilyun kepada bank Century, karena katanya keadaan ekonomi negara Republik Indonesia lagi genting dan gawat serta mencekam akibat bahaya sistemik. Sungguh luar biasa, tidak masuk akal sehat, hanya dalam selang beberapa jam saja, keadaan ekonomi yang normal pada siang harinya, langsung berubah menjadi gawat pada malam harinya. Itu artinya ada kebohongan, tidak ada yang gawat, keadaan sistemik hanya alasan pembenaran saja untuk menutup alasan sebenarnya, yaitu patut diduga memberikan keuntungan dari keuangan negara kepada sesiapa/Mr X. Itu yang pertama. Dan yang kedua kebijakan KSSK (Boediono dan Sri Mulayani) tanpa payung hukum. Mengapa? Karena keputusan DPR tidak menerima  Perpu No 4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK).
         
        ***
         
        Selanjutnya LGhD (tinjauan masa depan) dalam konteks Skandal bank Century. Mudah-mudahan Pansus tidak masuk angin, sehingga pada akhirnya Pansus menyatakan Boediono dan Sri Mulyani yang bertanggungjawab dan skandal bank Century tersebut diselesaikan oleh hukum, seperti yang menimpa Syahril Sabirin. Jika hal itu yang harus terjadi, maka setidaknya ada dua opsi yang bisa dilakukan oleh Presiden SBY terhadap jabatan Wapres yang terpaksa secara teknis (bukan impeachment thd Wapres yang lambang negara) harus ditinggalkan oleh Boediono karena mengalami proses hukum yang waktunya dari penyelidikan ke penyidikan ke persidangan makan waktu yang tidak terukur.
         
        Opsi pertama, adalah mengisi kembali jabatan Wapres. Menurut aturan, jika kekosongan itu dikehendaki untuk diisi kembali, maka Presiden harus mengajukan 2 orang calon Wakil Presiden kepada MPR. Selanjutnya, selambat-lambatnya dalam waktu 60 hari, MPR akan menyelenggarakan Sidang MPR untuk memilih Wapres dari 2 orang calon yang diajukan oleh Presiden.
         
        Opsi kedua, posisi Wapres tetap dilowongkan, karena itu bukan hal yang tabu seperti dikemukakan di atas. Dan tokh didalam menjalankan pemerintahan, Presiden SBY telah dibantu oleh 3 orang Menteri Koordinator, yang masing-masing membawahkan bidang perekonomian, Polhukam, dan Kesra. Di samping itu Presiden SBY dapat menunjuk seorang atau dua orang Menteri sebagai pembantu utamanya dalam menjalankan fungsi dan kewenangannya sebagai Kepala Pemerintahan. Tokh, ada Wakil Menteri yang akan melaksanakan tugas Menteri yang ditunjuk sebagai pembantu utamanya tersebut.
         
        Alhasil, patut diduga bahwa opsi inilah yang akan dipilih oleh SBY. Dan kalau ini yang terjadi, lepaslah kabinet SBY dari pengaruh neo-lib. Tidaklah perlu SBY mengikuti jejak Soeharto untuk legowo menyatakan berhenti menjadi Presiden, asal saja di samping Sri Mulyani, itu Menteri Perdagangan yang penganut neo-lib juga diganti. WaLlahu a'lamu bisshawab.
         
        *** Makassar, 7 Februari 2010


      • H. M. Nur Abdurahman
        Tambahan: Baca ulang Seri 002: Ibadah adalah segenap aktivitas kita untuk mewujudkan nilai-nilai kebenaran utama yang mutlak menurut Al Quran dalam kehidupan
        Message 3 of 15 , Feb 7, 2010
        • 0 Attachment
          Tambahan:
          Baca ulang Seri 002: Ibadah adalah segenap aktivitas kita untuk mewujudkan nilai-nilai kebenaran utama yang mutlak menurut Al Quran dalam kehidupan kita sehari-hari, berlandaskan aqiedah yang benar, dikerjakan dengan ikhlas, mengharapkan ridha Allah SWT semata, mulai dari tiang yaitu shalat hingga kepada pucuk membuang beling dari tengah jalan. Jadi lebih luas pengertiannya dari bahasa-bahasa barat: religion, religie, godsdienst. Contohnya baca baca Seri 003:
          **************************************************************
           
          BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
           
          WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
          [Kolom Tetap Harian Fajar]
          003. Interaksi Iman dan Ilmu, Pencemaran Thermal
           
          Antara tumbuh-tumbuhan di pihak yang lain dengan manusia dan binatang di pihak yang lain membentuk sistem yang dalam ungkapan bidal Melayu lama berbunyi: Seperti aur dengan tebing, atau dalam ungkapan modern yang canggih bunyinya: Mutualis simbiosis, suatu ekosistem saling menghidupi dan menghidupkan. Aur yang tumbuh di tebing mendapat zat-zat yang dibutuhkan tanaman untuk bertumbuh. Akar-akar aur menusuk ke dalam tanah di tebing untuk dapat mengisap zat-zat yang dibutuhkannya itu. Di pihak yang lain tebing mendapatkan manfaat dari akar-akar rumpun aur, tebing menjadi kuat, tidak mudah terban (tidak pakai g).
           
          Untuk dapat hidup, manusia dan binatang harus mengisi perut, makan dan minum dan mengisap udara, bernafas. Tujuan makan bukan untuk kenyang, karena itu hanya sekadar kesan saja, melainkan makan pada hakekatnya adalah mengisi tubuh dengan bahan bakar. Dan bernafas bukan hanya sekadar menghirup udara segar supaya tidak mati lemas, melainkan mengisi tubuh dengan oksigen dari udara. Di dalam tubuh manusia dan binatang terjadilah reaksi kimia yang disebut oksidasi. Reaksi kimia ini menimbulkan panas dan proses tersebut disebut respirasi. Demikianlah tubuh manusia dan binatang menjadi panas, dan panas ini dipertahankan suhunya oleh suatu sistem yang musykil dalam tubuh manusia dan binatang, yaitu sistem pengatur suhu. Menarik nafas artinya memasukkan oksigen ke dalam tubuh, sedangkan mengeluarkan nafas artinya membuang sampah hasil pembakaran ke udara. Sebenarnya yang dibuang ke udara itu pada hakekatnya hanya sejenis yang berupa sampah dan yang lain tidak dipandang sampah. Yang pertama adalah karbon dioksida, zat asam arang, CO2. Yang kedua adalah air dalam bentuk uap. Air yang berasal dari mengeluarkan nafas ini dapat dilihat jika kita ada di tempat dingin. Uap air itu mengembun di udara berupa titik-titik air yang halus, kelihatannya seperti asap putih atau kabut.
           
          CO2 ayang dihasilkan/dikeluarkan dari tubuh manusia dan binatang merupakan polutan, zat pencemar yang mencemarkan udara. Pencemaran udara oleh CO2 ini bukan semata-mata dari manusia dan binatang saja, melainkan, dan ini yang lebih banyak, berasal dari budak-budak tenaga, energy slaves. Tidaklah berperi-kemanusiaan, jika manusia memperbudak sesamanya manusia. Akan tetapi oleh karena pada dasarnya manusia suka memperbudak, maka manusia memperbudak binatang, tenaga otot binatang dimanfaatkan untuk bekerja. Setelah James Watt mendapatkan mesin uap, maka manusia memproduksi budak-budak tenaga secara massal, yaitu mesin-mesin yang dayanya lebih besar dari daya otot binatang. Dan mesin-mesin ini menghasilkan CO2 jauh lebih banyak ketimbang CO2 yang berasal dari manusia dan binatang. Sehingga sangat perlu sekali dilaksanakan birth control terhadap budak-budak tenaga ini. Mengapa? Oleh karena CO2 ini adalah zat pencemar yang menyebabkan terjadinya pencemaran thermal, thermal pollution. Bumi jadi panas, suhunya naik, es di kutub utara dan selatan mencair, air laut naik, maka terjadilah banjir yang akan lebih hebat dari banjir di zaman Nabi Nuh AS. Dan naiknya permukaan laut ini bukan teori omong kosong, betul-betul naik menurut hasil intizhar atau observasi.
           
          Mengapa CO2 itu menjadi penyebab pencemaran thermal, informasinya seperti berikut: Lapisan udara yang mengandung CO2 yang banyak, menyebabkan permukaan bumi ditutupi oleh lapisan CO2. Ini menyebabkan terjadinya efek rumah kaca. Di tempat yang beriklim dingin, jika ingin menanam buah-buahan dan sayur-sauran yang membutuhkan suhu yang lebih tinggi dari suhu udara luar, maka buah-buahan dan sayur-sayuran itu ditanam di dalam rumah kaca. Gelas atau kaca adalah zat bening, radiasi matahari yang disebut photon gampang menerobos masuk. Photom itu memukul molekul-molekul udara dalam rumah  kaca. Getaran molekul udra itu dipacu oleh photon itu, maka bertambah intensiflah getaran molekul udara itu, yang membawa kesan fenomena naiknya suhu udara, karena itulah udara bertambah panas. Kaca adalah penghantar panas yang jelek. Maka terperangkaplah panas itu dalam rumah kaca. Photon mudah menerobos masuk, namun setelah tenaga radiasi itu sudah ditransfer menjadi tenaga panas dalam rumah kaca, gelombang panas tidak/kurang mampu menerobos keluar. Inilah efek rumah kaca. Juga CO2 adalah zat bening mudah ditembus photon. Juga CO2 adalah zat pengantar panas yang jelek. Maka terperangkaplah gelombang panas dalam ruang antara lapisan CO2 dengan permukaan bumi, seperti halnya gelombang panas dalam rumah kaca.
           
          Demikianlah seriusnya gejala alam berupa naiknya suhu di permukaan bumi ini, atau globalisasi thermal ini, maka Allah SWT memberikan informasi kepada ummat manusia sejak lebih 14 abad yang lalu. Berfirman Allah SWT dalam Al Quran, S. Yasin, ayat 80 sebagai berikut:
          -- Alladzie ja'alalakum minasysyajari-lakhdhari naaran faidzaa antum minu tuuqiduun. artinya: Yaitu Yang menjadikan bagimu api dalam (zat) hijau pohon maka dengan itu kamu dapat membakar.
           
          Sepintas lalu secara common sence, kita menjumpai pertentangan antara akal dengan wahyu. Akal kita mengatakan, bahwa api itu atau yang dibakar itu bukan dari pohon yang hijau, melainkan dari kayu-kayuan dan daun-daunan yang kering berwarna coklat. Memang pepohonan hijau dapat terbakar dalam bencana alam berupa kebakaran hutan, tetapi penjelasan ini tidak relevan, karena ayat itu menjelaskan "kamu" membakar, maksudnya dengan sengaja membakar. Kebakaran hutan terjadi karena ketidak sengajaan.Ada kitab tafsir yang mencoba menjelaskan bahwa ada sejenis pohon  yang dapat dijadikan kayu bakar, walaupun masih hijau. Tetapi akal kita mengatakan bahwa menurut qaidah bahasa Arab, bentuk mudzakkar (laki-laki) asysyjaru-lakhdhar dalam ayat di atas menunjuk kepada pohon secara keseluruhan, bukan hanya sekadar sejenis pohon. Kalaulah yang dimaksud hanya sejenis, atau sebahagian pohon, maka harus memakai bentuk muannats (perempuan), yaitu asysyaratu-lkhadhraau. Jadi penafsiran dalam kitab tafsir trersebut tidak/belum dapat memecahkan permasalahan adanya pertentangan antara akal dengan wahyu. Ada yang menempuh pendekatan majazi (kiasan, metaphor), yaitu hijau dimaknai dengan "subur".
           
          Berangkat dari pendekatan majazi hijau dimaknai dengan "subur", maka tidak perlu ilmu bantu. Namun berangkat dari tekstual murni Akhdhar (hijau) betul-betul hijau, maka bertolak dari tekstual murni tsb ditempuhlah pendekatan kontekstual, yakni dalam konteks sains (ilmu fisika, kimia, botani) dijadikan ilmu bantu. Para penganut kelompok JIL sangat gandrung pendekatan kontekstual dan mengejek "fundis" yang pakai pendekatan tekstual. The textual approach, tends to view the phenomena merely on the level of core element. On the other hand, the contextual approach reduces the substantial element, for it tends to view the phenomena on the level of periphery. As a matter of fact, methodologically speaking, this combined-approach, the textual as well as the contextual approach enables men to obtain the holistic picture of the phenomena and to escape from its distorted-meaning.
           
          Namun masih ada upaya lain dengan paradigma seperti dijelaskan dalam Seri 001, yaitu akal harus tunduk pada wahyu. Kalau terjadi pertentangan antara akal dengan wahyu, maka akal harus mengalah. Seperti telah dijelaskan dalam Seri 001, akal membutuhkan informasi untuk berpikir. Akal harus mengalah kepada wahyu, oleh karena dalam keadaan yang demikian itu adalah suatu isyarat bahwa akal membutuhkan informasi yang lebih canggih untuk dapat merujuk akal itu kepada wahyu. Dan informasi ini bersumber dari ilmu fisika, kimia, botani dengan pengkhususan anatomi tumbuh-tumbuhan.
           
          Reaksi thermonuklir di matahari mentransfer wujud tenaga nuklir menjadi tenaga radiasi yang berwujud sinar gamma yang menembus ke lapisan bagian luar dari matahari. Sinar gamma itu mengalami penyusutan energi karena menembus lapisan matahari itu. Setelah sampai di bagian luar sinar yang telah berdegradasi energinya itu dikenal sebagai photon, lalu memancar ke sekeliling matahari, antara lain menyiram permukaan bumi.
           
          Tumbuh-tumbuhan dibangun oleh bahagian-bahagian kecil yang disebut sel. Di dalam inti sel terdapat butir-butir pembawa zat warna. Yang terpenting di antara butir-butir itu adalah pembawa zat warna hijau, yang disebut khlorophyl, zat hijau daun (istilah ilmiyah dari bahasa Yunani, Kholoros = hijau, Phyllon = daun). Khlorophyl ini menangkap photon dari matahari dan mengubah wujud tenaga photon itu menjadi tenaga potensial kimiawi dalam makanan dan bahan bakar hidrokarbon di dalam molekul-molekul melalui proses photosynthesis. Dalam proses photosynthesis oleh khlorophyl ini dari bahan baku CO2 dan air dan photon, dihasilkan makanan dan bahan bakar hidrokarbon dan oksigen. Selanjutnya melalui proses respirasi dalam tubuh manusia dan binatang dan budak-budak tenaga, makanan dan bahan bakar itu dengan oksigen dari udara berubahlah pula menjadi CO2 dan air. Demikianlah sterusnya daur atau siklus itu berlangsung. Photosynthesis - CO2 dan air - respirasi - makanan, bahan bakar, dan oksigen. Jadi tumbuh-tumbuhan mengambil CO2 dan mengeluarkan oksigen. Sebaliknya manusia dan binatang mengambil oksigen dan mengeluarkan CO2.
           
          Secara gampangnya asysyajaru-lakhdhar itu adalah pabrik makanan / bahan bakar dan oksigen. Bahan mentahnya adalah air dan CO2. Mesin pabrik adalah photon dan proses dalam pabrik yang mengolah air dan CO2 menjadi makanan / bahan bakar dan oksigen disebut proses photosynthesis (sintesa atau penyusunan oleh photon). Makanan dibakar dengan oksigen dalam tubuh manusia, oksigen dihisap dari udara, demikian pula bahan bakar dibakar dengan oksigen dalam mesin-mesin pabrik. Oksigen disedot dari udara. Itulah ma'na minasysyajari-lakhdhari naaran faidzaa antum minhu tuuqiduun. Demikianlah ilmu fisika, kimia, botani dengan pengkhususan anatomi tumbuh-tumbuhan membantu kita untuk dapat memahami S. Yasin, ayat 80 dengan baik, memberikan informasi yang cukup bagi akal kita, sehingga menghilangkan pertentangan antara akal dengan wahyu.
           
          Alhasil, jika informasi itu cukup lengkap bagi akal, akan hilanglah pertentangan antara akal dengan wahyu. Pemakaian istilah asysyjaru-lakhdhar, zat hijau pohon dalam Al Quran lebih tepat dari istilah ilmiyah khlorophyl, zat hijau daun, oleh karena zat tersebut bukan hanya terdapat dalam daun saja, melainkan pada seluruh bagian pohon asal masih berwarna hijau, mulai akar yang tersembul asal masih hijau, dari batang asal masih hijau, cabang asal masih hijau, ranting, daun, sampai ke pucuk serta buah yang masih hijau.
           
          Dari S. Yasin, ayat 80 itu, dengan penjelasan berupa informasi dari ilmu fisika, kimia, botani dengan pengkhususan anatomi tumbuh-tumbuhan sebagai ilmu bantu untuk dapat mengerti wahyu dengan baik dan jelas, dapatlah kita lihat bagaimana pentingnya hutan. Bukan hanya sekadar mengendalikan air di dalam tanah dan permukaan bumi, tidak banjir di musim hujan dan tidak kering di musim kemarau. Akan tetapi, dan ini yang lebih penting, adalah untuk terjadinya daur: tumbuh-tumbuhan penghasil oksigen, yang membutuhkan CO2 - manusia dan binatang penghasil CO2, yang membutuhkan oksigen. Maka terjadilah seperti yang diungkapkan oleh bidal Melayu lama: seperti aur dengan tebing, mutualis simbiosis.
           
          Demikianlah uraian interaksi iman dan ilmu dalam ruang lingkup daur CO2 dan oksigen dalam pengetahuan lingkungan khusus globalisasi pencemaran thermal dan pentingnya hutan. WaLlahu a'lamu bishshawab.
           
          *** Makassar, 3 November 1991
              [H.Muh.Nur Abdurrahman]
          http://waii-hmna.blogspot.com/2007/06/003-interaksi-iman-dan-ilmu-pencemaran.html
           
          Pro Sony Waluyo !
          Sesudah Waluyo baca Seri 003 di atas, tentu sudah jelas bagi Sony Waluyo, bahwa:
          Dalam Islam pengertian ibadah mencakup:
          ibadah ritual (mahdhah) yang sama artinya dengan religion, godsdienst
          ibadah mu'amalaat, tidak ada bahasa asingnya.
          Memelihara hutan termasuk ibadah mu'amalaat, yaitu memelihara bumi dari bahaya global warming (pemanasan global). Saya ulangi apa yang termaktub dalam Seri 002: Ibadah adalah segenap aktivitas kita untuk mewujudkan nilai-nilai kebenaran utama yang mutlak menurut Al Quran dalam kehidupan kita sehari-hari, berlandaskan aqiedah yang benar, dikerjakan dengan ikhlas, mengharapkan ridha Allah SWT semata, mulai dari tiang yaitu shalat hingga kepada pucuk membuang beling dari tengah jalan. Jadi lebih luas pengertiannya dari bahasa-bahasa barat: religion, religie, godsdienst.
           
          Jadi sudah cukup penjelasan saya dengan Seri 002 dan Seri 003, untuk membuka cakrawala pemikiran yang sempit dari Sony tentang sesuatu yang berada di dalam tempurung kelapa, bahwa diluar langit tempurung kelapa itu ada langit yang lebih luas, sehingga tidak lagi punya persepsi: kacau deh klo posisi sbg pengamat agama campuk aduk dg posisi sbg pengamat politik.
          ######################################################
           
          kacau deh klo posisi sbg pengamat agama campuk aduk dg posisi sbg pengamat politik....ora jelas mangsudnya ...lalu malah nunggangi agama utk kepentingan politik...
          =============================
          HMNA:
          Itulah bedanya antara Islam dengan agama lain, karena Islam bukan hanya sekadar religion saja.
          Baca baik-baik Seri 002 di bawah ! (sekarang sudah Seri 910):
          ***************************************************
          *******************************************************

          BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

          WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
          [Kolom Tetap Harian Fajar]
          002. Konfigurasi Wahyu, Akal dan Naluri; Ruang Lingkup Syari'at

          Orang dapat menjalankan agama dengan baik, jikalau memahami ajaran agama itu dengan baik. Supaya dapat memahami ajaran agama dengan baik, haruslah pula dapat memahami wahyu dengan baik. Untuk dapat memahami wahyu dengan baik haruslah pula dapat memahami informasi-informasi yang relevan dengan wahyu, seperti Hadits Nabi Muhammad SAW, baik sabda mapun sunnahnya, dan ilmu-ilmu bantu yang diajarkan di sekolah-sekolah umum, baik itu ilmu-ilmu eksakta maupun ilmu-ilmu non eksakta. Artinya wahyu tidak dapat dipahami dengan baik, jika tidak mempergunakan akal. Walhasil akal sangat berguna untuk dapat memahami wahyu.

          Akallah yang membedakan antara manusia dengan binatang, yang hanya mempunyai naluri saja, seperti telah dikemukakan dalam No.001. Pada binatang tidak ada kekuatan lain di atas nalurinya, sedangkan pada manusia ada akal di atas nalurinya. Akal manusia tidak mampu membunuh naluri, namun akal mampu menundukkan, mengarahkan dan mengendalikan nalurinya itu. Sungguhpun manusia itu diciptakan Allah dengan sebaik-baik bentuk kejadian, karena diberi perlengkapan akal, akan tetapi kalau akalnya tidak dapat mengendalikan nalurinya, maka akan jatuhlah ia  ke tempat yang serendah-rendahnya, lebih rendah dari binatang. Menurut Hadits pada waktu Rasulullah Isra, beliau menunggang buraq dituntun oleh Jibril. Secara tekstual itu benar-benar seperti demikian. Namun di samping pemahaman tekstual itu, dapat pula kita mentakwilkan konfigurasi Jibril, Rasulullah dan buraq itu. Yakni mengandung pula simbol/ibarat yang sangat relevan bagi konfigurasi antara wahyu, akal dengan naluri, yaitu wahyu menuntun akal dan akal mengendalikan naluri. Bahkan lebih dari itu, Rasulullah menunggang buraq dituntun oleh Jibril merupakan pula isyarat dari Allah SWT bahwa itu akan diproyeksikan dalam kenyataan sejarah, satu setengah tahun kemudian setelah Isra, yaitu peristiwa hijrah: Rasulullah menunggang unta dituntun oleh Abu Bakar Ashshidiq RA. Jadi dalam memahamkan Al Quran maupun Al Hadits dalam mempergunakan akal tidaklah boleh mempertentangkan ketiga hal ini: tekstual, takwil dan isyarat.

          Karena manusia mempunyai naluri mempertahankan diri, maka manusia didorong oleh nalurinya itu untuk menonjolkan keakuannya, menonjolkan identitas dirinya. Manusia adalah makhluk pribadi. Syariat Islam mengatur tatacara peribadatan yang 'ubudiyyaat (mahdhah) untuk manusia sebagai makhluk pribadi, yakni hubungan langsung antara manusia dengan Allah. Peribadatan yang 'ubudiyyaat ini sangat pribadi sifatnya. Pelaksanaanya tidak boleh mewakili atau diwakilkan kepada orang lain. Peribadatan yang 'ubudiyyaat inilah  yang identik dengan  pengertian religion, religie, godsdienst dalam bahasa-bahasa barat. Peribadatan yang 'ubudiyyaat ini sangat ketat:  semua tidak boleh, kecuali yang digariskan oleh Nash (Al Quran dan Hadits), mengenai cara, waktu dan jumlah, bahkan ada yang mengenai tempat (ibadah Haji). Peribadatan yang 'ubudiyyaat ini dalam istilah populernya ialah ibadah yang ritual. Shalat Maghrib misalnya sudah ditetapkan tiga rakaat. Akal tidak boleh berpikir demikian: Empat lebih besar dari tiga. Jadi empat rakaat pahalanya lebih banyak dari tiga rakaat. Maka lebih baik shalat Maghrib empat rakaat supaya pahalanya lebih banyak. Dalam Syariat yang ketat ini, akal dibatasi kebebasannya. Akal hanya dapat digunakan secara deskriptif, yaitu hanya boleh dipakai untuk menjawab pertanyan: bagaimana, bilamana, berapa dan di mana, tidak boleh dipakai untuk melayani pertanyaan: mengapa, misalnya pertanyaan seperti berikut: Mengapa puasa wajib diperintahkan dalam bulan Ramadhan?

          Walaupun manusia itu makhluk pribadi, namun manusia itu tidak dapat hidup nafsi-nafsi. Cerita tentang Si Buta dan Si Lumpuh, Si Buta memikul Si Lumpuh di atas bahunya, menunjukkan ibarat kerjasama yang baik. Saling mengisi di antara keduanya, memakai kaki Si Buta untuk berjalan dan mempergunakan mata Si Lumpuh untuk melihat. Manusia itu masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, jadi tidak dapat hidup sendiri-sendiri, manusia itu saling membutuhkan di antara  sesamanya manusia.  Manusia  adalah makhluk bermasyarakat. Syariat Islam juga mengatur pokok-pokok peribadatan yang mu'alamaat untuk manusia sebagai makhluk sosial. (Ibadah adalah segenap aktivitas kita untuk mewujudkan nilai-nilai kebenaran utama yang mutlak menurut Al Quran dalam kehidupan kita sehari-hari, berlandaskan aqiedah yang benar, dikerjakan dengan ikhlas, mengharapkan ridha Allah SWT semata, mulai dari tiang yaitu shalat hingga kepada pucuk membuang beling dari tengah jalan. Jadi lebih luas pengertiannya dari bahasa-bahasa barat: religion, religie, godsdienst). Peribadatan yang mu'amalaat ini adalah Syariat yang tidak ketat, sifatnya terbuka: semua boleh, kecuali yang dilarang oleh atau tidak bertentangan dengan Nash, yang berupa aturan-aturan pokok Syariat Islam yang mu'amalaat. Sebagai contoh adalah pemakaian bedug di mesjid dan pengambilan keputusan politik, seperti dijelaskan di bawah.

          Kalau pemakaian bedug itu diniatkan sebagai persyaratan untuk azan, maka ia menjadi sub sistem dari peribadatan ubudiyyah yang ketat. Jadi tidak boleh, karena Rasulullah tidak pernah menyuruh pukul bedug di mesjid. Akan tetapi jika pemukulan bedug itu diniatkan hanya sebagai sarana untuk interaksi sosial, yang fungsinya seperti loud speaker, maka ini masuk dalam Syariat muamalah yang tidak ketat, semua boleh kecuali yang dilarang oleh atau tidak bertentangan dengan Nash. Junjungan kita Nabi Muhammad SAW hanya pernah melarang pemakaian lonceng di mesjid, sedangkan bedug tidak pernah dilarang, jadi bedug boleh dipakai.

          Karena Syariat yang mu'amalaat ini hanya diberikan pokok-pokoknya saja, maka hal-hal yang mendetail dipikirkan oleh akal manusia. Dalam mengambil keputusan politik orang bebas melakukan bagaimana prosesnya, asal saja tidak bertentangan dengan aturan pokok Syari'at, yaitu 42:38 syura- dan ulil amri minkum, bermusyawarah di antara ulil amri (wali yang diberi kuasa) minkum (yang berasal dari kamu, maksudnya penduduk atau rakyat yang beragama Islam, sebab yang non-Muslima tidak mungkin tahu dan merasakan apresiasi seorang Muslim). Apakah dalam menentukan ulil amri minkum itu boleh melalui Pemilu? Karena tidak ada disebutkan dalam Nash larangan melakukan Pemilu dalam menentukan ulil amri minkum, maka Pemilu itu boleh-boleh saja.(*)

          Demikianlah hal-hal yang mendetail diserahkan kepada ijtihad para pakar yang ahli dalam substansi yang terkait. Olah akal berupa ijtihad ini sifatnya situasional, akibat hasil pekerjaan akal yang relatif. Namun hasil akal yang situasional itu merupakan rahmat Allah, jika akal itu penggunaannya dibatasi oleh aturan-aturan pokok Syariat Islam yang mu'amalaat. Dalam Syariat yang muamalaat ini akal lebih bebas, yaitu boleh dipakai untuk melayani pertanyaan: mengapa mesti demikian, apa hikmahnya, sepanjang substansi itu terletak di atas paradigma aturan-aturan pokok Syariat yang mu'amalaat. WaLlahu a'lamu bishshawab.
          -------------------------------
          (*)
          Demikianlah ajaran Islam yang bermuatan: aqidah (pokok keimanan), jalannya hukum dan akhlaq, meliputi cakrawala yang luas, yaitu petunjuk untuk mengatur baik kehidupan nafsi-nafsi (individu), maupun  kehidupan kolektif dengan substansi yang  bervariasi seperti keimanan, ibadah ritual (mahdhah),  karakter  perorangan,  akhlaq individu dan kolektif, kebiasaan manusiawi, ibadah non-ritual seperti: hubungan keluarga, kehidupan sosial politik ekonomi, administrasi, teknologi serta pengelolaan lingkungan, hak dan kewajiban warga-negara, dan terakhir yang tak kurang pentingnya yaitu sistem hukum yang teridiri atas komponen-komponen: substansi aturan-aturan perdata-pidana, damai-perang, nasional-internasional, pranata subsistem peradilan dan apresiasi hukum serta rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat yang berakhlaq.

          Semua substansi yang disebutkan itu bahasannya ada dalam Serial Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu. Maksudnya Wahyu memayungi akal , dan Iman memayungi ilmu.

          *** Makassar, 27 Oktober 1991
              [H.Muh.Nur Abdurrahman]
          http://waii-hmna.blogspot.com/2007/06/002-konfigurasi-wahyu-akal-dan-naluri.html

          Tambahan:
          Sesudah baca Seri 002 di atas, tentu sudah jelas bagi Sony Waluyo, bahwa:
          Dalam Islam pengertian ibadah mencakup:
          ibadah ritual (mahdhah) yang sama artinya dengan religion, godsdienst
          ibadah mu'amalaat, tidak ada bahasa asingnya.
           
          Sedangkan dalam Kristen tidak demikian. Mengapa? Karena injil bicaranya lain. Bacalah ayat injil ini: "Geeft dan den Keizer wat des Keizers is, en Gode wat Gods is (Marcus 12:17)", berikanlah kepada Kaisar yang milik Kaisar, dan
          berikanlah kepada Tuhan apa yang miliknya Tuhan. Dari Marcus (12:17) ini diturunkanlah paradigma sekularisme yang terkenal dalam sejarahnya orang barat: "Scheiding tussen staat en kerk", pemisahan atau dikhotomi antara negara dengan gereja. Berikanlah kepada Kaisar yang milik Kaisar, dan berikanlah kepada Tuhan apa yang miliknya Tuhan, itu menandakan bahwa ajaran injil itu tidak ada yang disebut ibadah mu'amalaat

          #########################################################
          ----- Original Message -----
          Sent: Sunday, February 07, 2010 10:50
          Subject: Re: [Mayapada Prana] Seri 910 Dari Bali ke Century, dari Syahril Sabirin ke Boediono

          kacau deh klo posisi sbg pengamat agama campuk aduk dg posisi sbg pengamat politik....ora jelas mangsudnya ...lalu malah nunggangi agama utk kepentingan politik...
           
          sorry..cuma njeplak doang.....
           
          ==dhemit sonthul==


           
          On 2/7/10, H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrahman@...> wrote:
           

          BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
           
          WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
          [Kolom Tetap Harian Fajar]
          910 Dari Bali ke Century, dari Syahril Sabirin ke Boediono
           
          Firman Allah:
          -- WLTNZhR NFS MA QDMT LGhD (S. ALHSyR, 59:18), dibaca: 
          -- waltanzhur nafsum ma- qaddamat lighadin, artinya: 
          -- Dan mestilah orang mengkaji apa yang lalu untuk masa depan.
           
          Kita mulai dahulu dengan MA QDMT (apa yang lalu). Kasus bank Bali begitu banyak pelanggaran, baik secara pidana, perdata maupun politis. Ada jaringan money politics, dalam transaksi penagihan piutang bank Bali terhadap BDNI, BUN dan Bank Bira senilai Rp 3 triliun, yang melibatkan sejumlah pejabat tinggi negara. Presiden BJ Habibie menyetujui pemeriksaan tiga pejabat tinggi waktu itu, salah satunya Gubernur bank Indonesia Syahril Sabirin, sebagai saksi dalam kasus skandal bank Bali. Syahril kemudian jadi tersangka setelah Wakil Dirut bank Bali Firman Soetjahja saat diperiksa tim penyidik bernyanyi ada pertemuan di Hotel Mulia pada 11 Februari 1999 yang membahas soal cessie (perjanjian pengalihan). Dan akhirnya Syahril divonis tiga tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
           
          ***
           
          Di masa Presiden Soekarno, tercatat beberapa kali posisi Wapres dilowongkan. Di masa Presiden Soeharto, pernah terjadi 2 kali masa yang posisi Wapres juga dilowongkan. Terakhir, Presiden B.J.Habibie tidak pernah didampingi Wapres. Demikianlah, perihal kekosongan Wapres, dilihat dari kejadian masa lalu, ternyata hal itu bukan hal yang tabu.
           
          Pada tanggal 20 Nopember 2008, di kantor Wapres di gelar rapat kabinet terbatas yang dipimpin oleh Jusuf Kalla sebagai Presiden Ad Interim, yang dihadiri antara lain oleh Gubernur BI Boediono, Menkeu Sri Mulyani, Menperin Fahmi Idris, Meneg BUMN Sofyan Djalil, Kepala BKF Anggito Abimanyu, dan Staf Khusus Presiden urusan Timteng Alwi Shihab.
           
          Pada rapat yang dipimpin oleh pelaksana tugas Presiden tersebut, antara lain dibahas juga mengenai situasi dan keadaan ekonomi nasional. Selama rapat tersebut berlangsung, Boediono selaku Gubernur BI dan Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan (baca: KSSK), sama sekali tidak menyinggung bahwa keadaan ekonomi nasional Republik Indonesia lagi genting, artinya perekonomian sampai dengan saat rapat itu normal saja.
           
          Selanjutnya, masih di tanggal yang sama, Boediono dan Sri Mulyani dalam rapat KSSK, memutuskan untuk menyuntikkan dana sebesar Rp. 6,7 trilyun kepada bank Century, karena katanya keadaan ekonomi negara Republik Indonesia lagi genting dan gawat serta mencekam akibat bahaya sistemik. Sungguh luar biasa, tidak masuk akal sehat, hanya dalam selang beberapa jam saja, keadaan ekonomi yang normal pada siang harinya, langsung berubah menjadi gawat pada malam harinya. Itu artinya ada kebohongan, tidak ada yang gawat, keadaan sistemik hanya alasan pembenaran saja untuk menutup alasan sebenarnya, yaitu patut diduga memberikan keuntungan dari keuangan negara kepada sesiapa/Mr X. Itu yang pertama. Dan yang kedua kebijakan KSSK (Boediono dan Sri Mulayani) tanpa payung hukum. Mengapa? Karena keputusan DPR tidak menerima  Perpu No 4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK).
           
          ***
           
          Selanjutnya LGhD (tinjauan masa depan) dalam konteks Skandal bank Century. Mudah-mudahan Pansus tidak masuk angin, sehingga pada akhirnya Pansus menyatakan Boediono dan Sri Mulyani yang bertanggungjawab dan skandal bank Century tersebut diselesaikan oleh hukum, seperti yang menimpa Syahril Sabirin. Jika hal itu yang harus terjadi, maka setidaknya ada dua opsi yang bisa dilakukan oleh Presiden SBY terhadap jabatan Wapres yang terpaksa secara teknis (bukan impeachment thd Wapres yang lambang negara) harus ditinggalkan oleh Boediono karena mengalami proses hukum yang waktunya dari penyelidikan ke penyidikan ke persidangan makan waktu yang tidak terukur.
           
          Opsi pertama, adalah mengisi kembali jabatan Wapres. Menurut aturan, jika kekosongan itu dikehendaki untuk diisi kembali, maka Presiden harus mengajukan 2 orang calon Wakil Presiden kepada MPR. Selanjutnya, selambat-lambatnya dalam waktu 60 hari, MPR akan menyelenggarakan Sidang MPR untuk memilih Wapres dari 2 orang calon yang diajukan oleh Presiden.
           
          Opsi kedua, posisi Wapres tetap dilowongkan, karena itu bukan hal yang tabu seperti dikemukakan di atas. Dan tokh didalam menjalankan pemerintahan, Presiden SBY telah dibantu oleh 3 orang Menteri Koordinator, yang masing-masing membawahkan bidang perekonomian, Polhukam, dan Kesra. Di samping itu Presiden SBY dapat menunjuk seorang atau dua orang Menteri sebagai pembantu utamanya dalam menjalankan fungsi dan kewenangannya sebagai Kepala Pemerintahan. Tokh, ada Wakil Menteri yang akan melaksanakan tugas Menteri yang ditunjuk sebagai pembantu utamanya tersebut.
           
          Alhasil, patut diduga bahwa opsi inilah yang akan dipilih oleh SBY. Dan kalau ini yang terjadi, lepaslah kabinet SBY dari pengaruh neo-lib. Tidaklah perlu SBY mengikuti jejak Soeharto untuk legowo menyatakan berhenti menjadi Presiden, asal saja di samping Sri Mulyani, itu Menteri Perdagangan yang penganut neo-lib juga diganti. WaLlahu a'lamu bisshawab.
           
          *** Makassar, 7 Februari 2010
        • Sony Waluyo
          Aduh Mbah, kebanyakan teori dg bahasa asing malah makin bikin pusing dah... yg simple2 aza mbah... klo orang saling memaafkan kan dah gak perlu mikirin dosa
          Message 4 of 15 , Feb 7, 2010
          • 0 Attachment
            Aduh Mbah,
            kebanyakan teori dg bahasa asing malah makin bikin pusing dah...
            yg simple2 aza mbah... klo orang saling memaafkan kan dah gak perlu mikirin dosa dan kesalahan orang lain lagi to... klo semua saling bantu gak perlu rebutan sumber penghidupan to...
            kenapa sih orang2 agamis tuh sukanya bikin masalah sederhana mjd sedemikian rumitnya...
            Tuhan dan pasti yg nyiptain semua ini, dan suruh diurus manusia dan gak minta disembah2.
            Jadi, mbok ya wis, bikin kotbah2 yg menyejukkan, ngajak semua rukun dan kerjasama antar suku agama latar belakang.... nah nek gitu owe acunging jempol...
            lah klo mau ngritik mah semua bisa, wong di dunia ini gak hanya barang, wong yg namanya pendapat/opini pun selalu punya sisi positif-negatif, maka klo mau nyerang kelemahan suatu opini selalu ada sisi lemahnya. jadi klo kita mau saling serang dg nyari kelemahan opini dan juga agama orang lain sudah pasti ada kelemahannya. Maka ngapain gitu loh.. kan mending saling memaafkan dan saling bantu ... 
             
            salam damai selaras,
            ==dhemit sonthul==
             
            On 2/7/10, H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrahman@...> wrote:
             

            Tambahan:
            Baca ulang Seri 002: Ibadah adalah segenap aktivitas kita untuk mewujudkan nilai-nilai kebenaran utama yang mutlak menurut Al Quran dalam kehidupan kita sehari-hari, berlandaskan aqiedah yang benar, dikerjakan dengan ikhlas, mengharapkan ridha Allah SWT semata, mulai dari tiang yaitu shalat hingga kepada pucuk membuang beling dari tengah jalan. Jadi lebih luas pengertiannya dari bahasa-bahasa barat: religion, religie, godsdienst. Contohnya baca baca Seri 003:
            **************************************************************
             
            BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
             
            WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
            [Kolom Tetap Harian Fajar]
            003. Interaksi Iman dan Ilmu, Pencemaran Thermal
             
            Antara tumbuh-tumbuhan di pihak yang lain dengan manusia dan binatang di pihak yang lain membentuk sistem yang dalam ungkapan bidal Melayu lama berbunyi: Seperti aur dengan tebing, atau dalam ungkapan modern yang canggih bunyinya: Mutualis simbiosis, suatu ekosistem saling menghidupi dan menghidupkan. Aur yang tumbuh di tebing mendapat zat-zat yang dibutuhkan tanaman untuk bertumbuh. Akar-akar aur menusuk ke dalam tanah di tebing untuk dapat mengisap zat-zat yang dibutuhkannya itu. Di pihak yang lain tebing mendapatkan manfaat dari akar-akar rumpun aur, tebing menjadi kuat, tidak mudah terban (tidak pakai g).
             
            Iklan:
            <*> Rahasia Otak
            "Teknologi Simulasi Gelombang Otak: Kunci Hidup Sukses, Sehat dan Bahagia"
            http://www.rahasiaotak.com/

            <*> Rahasia Suami!
            http://www.pria-jantan.net/?id=red_conjurer

            <*> Rahasia Istri!
            http://www.rahasiaistri.com/?id=red_conjurer

            Sister List:
            <*> Harmonisasi Universal
            "Milis HU dalam Bahasa Indonesia"
            http://groups.google.com/group/harmonisasi-universal

            <*> Harmonization Universal
            "Milis HU dalam Bahasa Inggris"
            http://groups.yahoo.com/group/harmonization-universal
            .


          • H. M. Nur Abdurahman
            ... From: Sony Waluyo To: mayapadaprana@yahoogroups.com Sent: Sunday, February 07, 2010 18:12 Subject: Re: [Mayapada Prana] Seri 910 Dari Bali ke Century, dari
            Message 5 of 15 , Feb 7, 2010
            • 0 Attachment
               
              ----- Original Message -----
              Sent: Sunday, February 07, 2010 18:12
              Subject: Re: [Mayapada Prana] Seri 910 Dari Bali ke Century, dari Syahril Sabirin ke Boediono

              Mbah,
              ah.... mending jadi kelinci dah... gak kenal surga neraka...tapi enjoy2 aja hidup di surga...hehe
              #####################################################################
              HMNA:
              Mana ada surga di dalam tempurung kelapa. Mau jadi kelinci yang langitnya cuma tempurung kelapa? Karunya. Kelinci peliharaan cucu saya di rumah lebih "gaul" dengan kelinci dalam wujud Sony Waluyo. Itu kelincinya cucu saya bergaul dengan kucing-kucing, bermain, makan bersama dengan kucing-kucing, karena kelincinya cucu saya itu di samping makan daun-daunan dan wortel, juga makan nasi lho.
              #####################################################################...
               
              lagian manusia yg berakal budi mestinya dg mudah mikir bila Tuhan itu Maha Kuasa dan sekaligus Maha Rahim gak mungkin Ia akan menciptakan sesuatu yg diluar kuasa kendalinya dan tak bisa diampuninya. So gak mungkin ada makluk2 nakal diluar kendaliNya dan ada neraka abadi tempatNya mengumbar kemarahan krn gak bisa mengampuni kesalahan manusia.
              So Maha Rahim yo Maha Rahim...jadi tinggal gimana manusia yg tinggal di rumah Sang Pencipta ini gunakan akal budinya tuk kelola hidupnya saling mengampuni dan mengasihi, tolong menolong satu sama lain... beres kan... hepi2 saja...
              daaannnnn... Tuhan yg Maha Kuasa itu gak perlu dibela2 dan dipuji2 spy kasih rahmat dan berkah...wong matahari saja gak perlu diminta2 wis tiap hari kasih sinarnya to.. hehehe...
               
              salam damai selaras,  

              ==dhemit sonthul==
               
              On 2/7/10, H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrahman@...> wrote:
               

              kacau deh klo posisi sbg pengamat agama campuk aduk dg posisi sbg pengamat politik....ora jelas mangsudnya ...lalu malah nunggangi agama utk kepentingan politik...
              =============================
              HMNA:
              Itulah bedanya antara Islam dengan agama lain, karena Islam bukan hanya sekadar religion saja.
              Baca baik-baik Seri 002 di bawah ! (sekarang sudah Seri 910):
              ***************************************************
              *******************************************************

              BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

              WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
              [Kolom Tetap Harian Fajar]
              002. Konfigurasi Wahyu, Akal dan Naluri; Ruang Lingkup Syari'at

              Orang dapat menjalankan agama dengan baik, jikalau memahami ajaran agama itu dengan baik. Supaya dapat memahami ajaran agama dengan baik, haruslah pula dapat memahami wahyu dengan baik. Untuk dapat memahami wahyu dengan baik haruslah pula dapat memahami informasi-informasi yang relevan dengan wahyu, seperti Hadits Nabi Muhammad SAW, baik sabda mapun sunnahnya, dan ilmu-ilmu bantu yang diajarkan di sekolah-sekolah umum, baik itu ilmu-ilmu eksakta maupun ilmu-ilmu non eksakta. Artinya wahyu tidak dapat dipahami dengan baik, jika tidak mempergunakan akal. Walhasil akal sangat berguna untuk dapat memahami wahyu.

              Akallah yang membedakan antara manusia dengan binatang, yang hanya mempunyai naluri saja, seperti telah dikemukakan dalam No.001. Pada binatang tidak ada kekuatan lain di atas nalurinya, sedangkan pada manusia ada akal di atas nalurinya. Akal manusia tidak mampu membunuh naluri, namun akal mampu menundukkan, mengarahkan dan mengendalikan nalurinya itu. Sungguhpun manusia itu diciptakan Allah dengan sebaik-baik bentuk kejadian, karena diberi perlengkapan akal, akan tetapi kalau akalnya tidak dapat mengendalikan nalurinya, maka akan jatuhlah ia  ke tempat yang serendah-rendahnya, lebih rendah dari binatang. Menurut Hadits pada waktu Rasulullah Isra, beliau menunggang buraq dituntun oleh Jibril. Secara tekstual itu benar-benar seperti demikian. Namun di samping pemahaman tekstual itu, dapat pula kita mentakwilkan konfigurasi Jibril, Rasulullah dan buraq itu. Yakni mengandung pula simbol/ibarat yang sangat relevan bagi konfigurasi antara wahyu, akal dengan naluri, yaitu wahyu menuntun akal dan akal mengendalikan naluri. Bahkan lebih dari itu, Rasulullah menunggang buraq dituntun oleh Jibril merupakan pula isyarat dari Allah SWT bahwa itu akan diproyeksikan dalam kenyataan sejarah, satu setengah tahun kemudian setelah Isra, yaitu peristiwa hijrah: Rasulullah menunggang unta dituntun oleh Abu Bakar Ashshidiq RA. Jadi dalam memahamkan Al Quran maupun Al Hadits dalam mempergunakan akal tidaklah boleh mempertentangkan ketiga hal ini: tekstual, takwil dan isyarat.

              Karena manusia mempunyai naluri mempertahankan diri, maka manusia didorong oleh nalurinya itu untuk menonjolkan keakuannya, menonjolkan identitas dirinya. Manusia adalah makhluk pribadi. Syariat Islam mengatur tatacara peribadatan yang 'ubudiyyaat (mahdhah) untuk manusia sebagai makhluk pribadi, yakni hubungan langsung antara manusia dengan Allah. Peribadatan yang 'ubudiyyaat ini sangat pribadi sifatnya. Pelaksanaanya tidak boleh mewakili atau diwakilkan kepada orang lain. Peribadatan yang 'ubudiyyaat inilah  yang identik dengan  pengertian religion, religie, godsdienst dalam bahasa-bahasa barat. Peribadatan yang 'ubudiyyaat ini sangat ketat:  semua tidak boleh, kecuali yang digariskan oleh Nash (Al Quran dan Hadits), mengenai cara, waktu dan jumlah, bahkan ada yang mengenai tempat (ibadah Haji). Peribadatan yang 'ubudiyyaat ini dalam istilah populernya ialah ibadah yang ritual. Shalat Maghrib misalnya sudah ditetapkan tiga rakaat. Akal tidak boleh berpikir demikian: Empat lebih besar dari tiga. Jadi empat rakaat pahalanya lebih banyak dari tiga rakaat. Maka lebih baik shalat Maghrib empat rakaat supaya pahalanya lebih banyak. Dalam Syariat yang ketat ini, akal dibatasi kebebasannya. Akal hanya dapat digunakan secara deskriptif, yaitu hanya boleh dipakai untuk menjawab pertanyan: bagaimana, bilamana, berapa dan di mana, tidak boleh dipakai untuk melayani pertanyaan: mengapa, misalnya pertanyaan seperti berikut: Mengapa puasa wajib diperintahkan dalam bulan Ramadhan?

              Walaupun manusia itu makhluk pribadi, namun manusia itu tidak dapat hidup nafsi-nafsi. Cerita tentang Si Buta dan Si Lumpuh, Si Buta memikul Si Lumpuh di atas bahunya, menunjukkan ibarat kerjasama yang baik. Saling mengisi di antara keduanya, memakai kaki Si Buta untuk berjalan dan mempergunakan mata Si Lumpuh untuk melihat. Manusia itu masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, jadi tidak dapat hidup sendiri-sendiri, manusia itu saling membutuhkan di antara  sesamanya manusia.  Manusia  adalah makhluk bermasyarakat. Syariat Islam juga mengatur pokok-pokok peribadatan yang mu'alamaat untuk manusia sebagai makhluk sosial. (Ibadah adalah segenap aktivitas kita untuk mewujudkan nilai-nilai kebenaran utama yang mutlak menurut Al Quran dalam kehidupan kita sehari-hari, berlandaskan aqiedah yang benar, dikerjakan dengan ikhlas, mengharapkan ridha Allah SWT semata, mulai dari tiang yaitu shalat hingga kepada pucuk membuang beling dari tengah jalan. Jadi lebih luas pengertiannya dari bahasa-bahasa barat: religion, religie, godsdienst). Peribadatan yang mu'amalaat ini adalah Syariat yang tidak ketat, sifatnya terbuka: semua boleh, kecuali yang dilarang oleh atau tidak bertentangan dengan Nash, yang berupa aturan-aturan pokok Syariat Islam yang mu'amalaat. Sebagai contoh adalah pemakaian bedug di mesjid dan pengambilan keputusan politik, seperti dijelaskan di bawah.

              Kalau pemakaian bedug itu diniatkan sebagai persyaratan untuk azan, maka ia menjadi sub sistem dari peribadatan ubudiyyah yang ketat. Jadi tidak boleh, karena Rasulullah tidak pernah menyuruh pukul bedug di mesjid. Akan tetapi jika pemukulan bedug itu diniatkan hanya sebagai sarana untuk interaksi sosial, yang fungsinya seperti loud speaker, maka ini masuk dalam Syariat muamalah yang tidak ketat, semua boleh kecuali yang dilarang oleh atau tidak bertentangan dengan Nash. Junjungan kita Nabi Muhammad SAW hanya pernah melarang pemakaian lonceng di mesjid, sedangkan bedug tidak pernah dilarang, jadi bedug boleh dipakai.

              Karena Syariat yang mu'amalaat ini hanya diberikan pokok-pokoknya saja, maka hal-hal yang mendetail dipikirkan oleh akal manusia. Dalam mengambil keputusan politik orang bebas melakukan bagaimana prosesnya, asal saja tidak bertentangan dengan aturan pokok Syari'at, yaitu 42:38 syura- dan ulil amri minkum, bermusyawarah di antara ulil amri (wali yang diberi kuasa) minkum (yang berasal dari kamu, maksudnya penduduk atau rakyat yang beragama Islam, sebab yang non-Muslima tidak mungkin tahu dan merasakan apresiasi seorang Muslim). Apakah dalam menentukan ulil amri minkum itu boleh melalui Pemilu? Karena tidak ada disebutkan dalam Nash larangan melakukan Pemilu dalam menentukan ulil amri minkum, maka Pemilu itu boleh-boleh saja.(*)

              Demikianlah hal-hal yang mendetail diserahkan kepada ijtihad para pakar yang ahli dalam substansi yang terkait. Olah akal berupa ijtihad ini sifatnya situasional, akibat hasil pekerjaan akal yang relatif. Namun hasil akal yang situasional itu merupakan rahmat Allah, jika akal itu penggunaannya dibatasi oleh aturan-aturan pokok Syariat Islam yang mu'amalaat. Dalam Syariat yang muamalaat ini akal lebih bebas, yaitu boleh dipakai untuk melayani pertanyaan: mengapa mesti demikian, apa hikmahnya, sepanjang substansi itu terletak di atas paradigma aturan-aturan pokok Syariat yang mu'amalaat. WaLlahu a'lamu bishshawab.
              -------------------------------
              (*)
              Demikianlah ajaran Islam yang bermuatan: aqidah (pokok keimanan), jalannya hukum dan akhlaq, meliputi cakrawala yang luas, yaitu petunjuk untuk mengatur baik kehidupan nafsi-nafsi (individu), maupun  kehidupan kolektif dengan substansi yang  bervariasi seperti keimanan, ibadah ritual (mahdhah),  karakter  perorangan,  akhlaq individu dan kolektif, kebiasaan manusiawi, ibadah non-ritual seperti: hubungan keluarga, kehidupan sosial politik ekonomi, administrasi, teknologi serta pengelolaan lingkungan, hak dan kewajiban warga-negara, dan terakhir yang tak kurang pentingnya yaitu sistem hukum yang teridiri atas komponen-komponen: substansi aturan-aturan perdata-pidana, damai-perang, nasional-internasional, pranata subsistem peradilan dan apresiasi hukum serta rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat yang berakhlaq.

              Semua substansi yang disebutkan itu bahasannya ada dalam Serial Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu. Maksudnya Wahyu memayungi akal , dan Iman memayungi ilmu.

              *** Makassar, 27 Oktober 1991
                  [H.Muh.Nur Abdurrahman]
              http://waii-hmna.blogspot.com/2007/06/002-konfigurasi-wahyu-akal-dan-naluri.html

              Tambahan:
              Sesudah baca Seri 002 di atas, tentu sudah jelas bagi Sony Waluyo, bahwa:
              Dalam Islam pengertian ibadah mencakup:
              ibadah ritual (mahdhah) yang sama artinya dengan religion, godsdienst
              ibadah mu'amalaat, tidak ada bahasa asingnya.
               
              Sedangkan dalam Kristen tidak demikian. Mengapa? Karena injil bicaranya lain. Bacalah ayat injil ini: "Geeft dan den Keizer wat des Keizers is, en Gode wat Gods is (Marcus 12:17)", berikanlah kepada Kaisar yang milik Kaisar, dan
              berikanlah kepada Tuhan apa yang miliknya Tuhan. Dari Marcus (12:17) ini diturunkanlah paradigma sekularisme yang terkenal dalam sejarahnya orang barat: "Scheiding tussen staat en kerk", pemisahan atau dikhotomi antara negara dengan gereja. Berikanlah kepada Kaisar yang milik Kaisar, dan berikanlah kepada Tuhan apa yang miliknya Tuhan, itu menandakan bahwa ajaran injil itu tidak ada yang disebut ibadah mu'amalaat

              #########################################################
              ----- Original Message -----
              Sent: Sunday, February 07, 2010 10:50
              Subject: Re: [Mayapada Prana] Seri 910 Dari Bali ke Century, dari Syahril Sabirin ke Boediono

               
              kacau deh klo posisi sbg pengamat agama campuk aduk dg posisi sbg pengamat politik....ora jelas mangsudnya ...lalu malah nunggangi agama utk kepentingan politik...
               
              sorry..cuma njeplak doang.....
               
              ==dhemit sonthul==


               
              On 2/7/10, H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrahman@...> wrote:
               

              BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
               
              WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
              [Kolom Tetap Harian Fajar]
              910 Dari Bali ke Century, dari Syahril Sabirin ke Boediono
               
              Firman Allah:
              -- WLTNZhR NFS MA QDMT LGhD (S. ALHSyR, 59:18), dibaca: 
              -- waltanzhur nafsum ma- qaddamat lighadin, artinya: 
              -- Dan mestilah orang mengkaji apa yang lalu untuk masa depan.
               
              Kita mulai dahulu dengan MA QDMT (apa yang lalu). Kasus bank Bali begitu banyak pelanggaran, baik secara pidana, perdata maupun politis. Ada jaringan money politics, dalam transaksi penagihan piutang bank Bali terhadap BDNI, BUN dan Bank Bira senilai Rp 3 triliun, yang melibatkan sejumlah pejabat tinggi negara. Presiden BJ Habibie menyetujui pemeriksaan tiga pejabat tinggi waktu itu, salah satunya Gubernur bank Indonesia Syahril Sabirin, sebagai saksi dalam kasus skandal bank Bali. Syahril kemudian jadi tersangka setelah Wakil Dirut bank Bali Firman Soetjahja saat diperiksa tim penyidik bernyanyi ada pertemuan di Hotel Mulia pada 11 Februari 1999 yang membahas soal cessie (perjanjian pengalihan). Dan akhirnya Syahril divonis tiga tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
               
              ***
               
              Di masa Presiden Soekarno, tercatat beberapa kali posisi Wapres dilowongkan. Di masa Presiden Soeharto, pernah terjadi 2 kali masa yang posisi Wapres juga dilowongkan. Terakhir, Presiden B.J.Habibie tidak pernah didampingi Wapres. Demikianlah, perihal kekosongan Wapres, dilihat dari kejadian masa lalu, ternyata hal itu bukan hal yang tabu.
               
              Pada tanggal 20 Nopember 2008, di kantor Wapres di gelar rapat kabinet terbatas yang dipimpin oleh Jusuf Kalla sebagai Presiden Ad Interim, yang dihadiri antara lain oleh Gubernur BI Boediono, Menkeu Sri Mulyani, Menperin Fahmi Idris, Meneg BUMN Sofyan Djalil, Kepala BKF Anggito Abimanyu, dan Staf Khusus Presiden urusan Timteng Alwi Shihab.
               
              Pada rapat yang dipimpin oleh pelaksana tugas Presiden tersebut, antara lain dibahas juga mengenai situasi dan keadaan ekonomi nasional. Selama rapat tersebut berlangsung, Boediono selaku Gubernur BI dan Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan (baca: KSSK), sama sekali tidak menyinggung bahwa keadaan ekonomi nasional Republik Indonesia lagi genting, artinya perekonomian sampai dengan saat rapat itu normal saja.
               
              Selanjutnya, masih di tanggal yang sama, Boediono dan Sri Mulyani dalam rapat KSSK, memutuskan untuk menyuntikkan dana sebesar Rp. 6,7 trilyun kepada bank Century, karena katanya keadaan ekonomi negara Republik Indonesia lagi genting dan gawat serta mencekam akibat bahaya sistemik. Sungguh luar biasa, tidak masuk akal sehat, hanya dalam selang beberapa jam saja, keadaan ekonomi yang normal pada siang harinya, langsung berubah menjadi gawat pada malam harinya. Itu artinya ada kebohongan, tidak ada yang gawat, keadaan sistemik hanya alasan pembenaran saja untuk menutup alasan sebenarnya, yaitu patut diduga memberikan keuntungan dari keuangan negara kepada sesiapa/Mr X. Itu yang pertama. Dan yang kedua kebijakan KSSK (Boediono dan Sri Mulayani) tanpa payung hukum. Mengapa? Karena keputusan DPR tidak menerima  Perpu No 4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK).
               
              ***
               
              Selanjutnya LGhD (tinjauan masa depan) dalam konteks Skandal bank Century. Mudah-mudahan Pansus tidak masuk angin, sehingga pada akhirnya Pansus menyatakan Boediono dan Sri Mulyani yang bertanggungjawab dan skandal bank Century tersebut diselesaikan oleh hukum, seperti yang menimpa Syahril Sabirin. Jika hal itu yang harus terjadi, maka setidaknya ada dua opsi yang bisa dilakukan oleh Presiden SBY terhadap jabatan Wapres yang terpaksa secara teknis (bukan impeachment thd Wapres yang lambang negara) harus ditinggalkan oleh Boediono karena mengalami proses hukum yang waktunya dari penyelidikan ke penyidikan ke persidangan makan waktu yang tidak terukur.
               
              Opsi pertama, adalah mengisi kembali jabatan Wapres. Menurut aturan, jika kekosongan itu dikehendaki untuk diisi kembali, maka Presiden harus mengajukan 2 orang calon Wakil Presiden kepada MPR. Selanjutnya, selambat-lambatnya dalam waktu 60 hari, MPR akan menyelenggarakan Sidang MPR untuk memilih Wapres dari 2 orang calon yang diajukan oleh Presiden.
               
              Opsi kedua, posisi Wapres tetap dilowongkan, karena itu bukan hal yang tabu seperti dikemukakan di atas. Dan tokh didalam menjalankan pemerintahan, Presiden SBY telah dibantu oleh 3 orang Menteri Koordinator, yang masing-masing membawahkan bidang perekonomian, Polhukam, dan Kesra. Di samping itu Presiden SBY dapat menunjuk seorang atau dua orang Menteri sebagai pembantu utamanya dalam menjalankan fungsi dan kewenangannya sebagai Kepala Pemerintahan. Tokh, ada Wakil Menteri yang akan melaksanakan tugas Menteri yang ditunjuk sebagai pembantu utamanya tersebut.
               
              Alhasil, patut diduga bahwa opsi inilah yang akan dipilih oleh SBY. Dan kalau ini yang terjadi, lepaslah kabinet SBY dari pengaruh neo-lib. Tidaklah perlu SBY mengikuti jejak Soeharto untuk legowo menyatakan berhenti menjadi Presiden, asal saja di samping Sri Mulyani, itu Menteri Perdagangan yang penganut neo-lib juga diganti. WaLlahu a'lamu bisshawab.
               
              *** Makassar, 7 Februari 2010
            • H. M. Nur Abdurahman
              ... From: Sony Waluyo To: mayapadaprana@yahoogroups.com Sent: Sunday, February 07, 2010 18:43 Subject: Re: [Mayapada Prana] Seri 910 Dari Bali ke Century, dari
              Message 6 of 15 , Feb 7, 2010
              • 0 Attachment
                 
                ----- Original Message -----
                Sent: Sunday, February 07, 2010 18:43
                Subject: Re: [Mayapada Prana] Seri 910 Dari Bali ke Century, dari Syahril Sabirin ke Boediono

                Aduh Mbah,
                kebanyakan teori dg bahasa asing malah makin bikin pusing dah...
                yg simple2 aza mbah...
                #########################################################################
                HMNA:
                Oh, mau yang simpel? nahi mungkar (ini bahasa agama Islam), artinya melawan kemungkaran dalam konteks kemungkaran dalam Skandal Bank Century. Maaf memaafkan dalam soal pribadi, OK. Tetapi memaafkan skandal yang mekan uang rakyat, no way, itu harus dihukum. Enak saja makan uang rakyat tanpa sanksi.
                 
                Ada khuthbah2 yang menyejukkan karena di sisi nahi mungkar, ada amar ma'ruf (lagi2 istilah agama Islam), artinya menghimbau kepada kebajikan, itu adalah sisi yang sejuk.
                 
                Nah, fyi, simpelnya dalam ajaran Islam itu ada ajaran prinsip keseimbangan: amar ma'ruf, nahi mungkar.  Ada bonus, ada denda, paham ?!
                ##########################################################################
                 
                ) klo orang saling memaafkan kan dah gak perlu mikirin dosa dan kesalahan orang lain lagi to... klo semua saling bantu gak perlu rebutan sumber penghidupan to...
                kenapa sih orang2 agamis tuh sukanya bikin masalah sederhana mjd sedemikian rumitnya...
                Tuhan dan pasti yg nyiptain semua ini, dan suruh diurus manusia dan gak minta disembah2.
                Jadi, mbok ya wis, bikin kotbah2 yg menyejukkan, ngajak semua rukun dan kerjasama antar suku agama latar belakang.... nah nek gitu owe acunging jempol...
                lah klo mau ngritik mah semua bisa, wong di dunia ini gak hanya barang, wong yg namanya pendapat/opini pun selalu punya sisi positif-negatif, maka klo mau nyerang kelemahan suatu opini selalu ada sisi lemahnya. jadi klo kita mau saling serang dg nyari kelemahan opini dan juga agama orang lain sudah pasti ada kelemahannya. Maka ngapain gitu loh.. kan mending saling memaafkan dan saling bantu ... 
                 
                salam damai selaras,
                ==dhemit sonthul==
                 
                On 2/7/10, H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrahman@...> wrote:
                 

                Tambahan:
                Baca ulang Seri 002: Ibadah adalah segenap aktivitas kita untuk mewujudkan nilai-nilai kebenaran utama yang mutlak menurut Al Quran dalam kehidupan kita sehari-hari, berlandaskan aqiedah yang benar, dikerjakan dengan ikhlas, mengharapkan ridha Allah SWT semata, mulai dari tiang yaitu shalat hingga kepada pucuk membuang beling dari tengah jalan. Jadi lebih luas pengertiannya dari bahasa-bahasa barat: religion, religie, godsdienst. Contohnya baca baca Seri 003:
                **************************************************************
                 
                BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
                 
                WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
                [Kolom Tetap Harian Fajar]
                003. Interaksi Iman dan Ilmu, Pencemaran Thermal
                 
                Antara tumbuh-tumbuhan di pihak yang lain dengan manusia dan binatang di pihak yang lain membentuk sistem yang dalam ungkapan bidal Melayu lama berbunyi: Seperti aur dengan tebing, atau dalam ungkapan modern yang canggih bunyinya: Mutualis simbiosis, suatu ekosistem saling menghidupi dan menghidupkan. Aur yang tumbuh di tebing mendapat zat-zat yang dibutuhkan tanaman untuk bertumbuh. Akar-akar aur menusuk ke dalam tanah di tebing untuk dapat mengisap zat-zat yang dibutuhkannya itu. Di pihak yang lain tebing mendapatkan manfaat dari akar-akar rumpun aur, tebing menjadi kuat, tidak mudah terban (tidak pakai g).
                 

                Iklan:
                <*> Rahasia Otak
                "Teknologi Simulasi Gelombang Otak: Kunci Hidup Sukses, Sehat dan Bahagia"
                http://www.rahasiaotak.com/

                <*> Rahasia Suami!
                http://www.pria-jantan.net/?id=red_conjurer

                <*> Rahasia Istri!
                http://www.rahasiaistri.com/?id=red_conjurer

                Sister List:
                <*> Harmonisasi Universal
                "Milis HU dalam Bahasa Indonesia"
                http://groups.google.com/group/harmonisasi-universal

                <*> Harmonization Universal
                "Milis HU dalam Bahasa Inggris"
                http://groups.yahoo.com/group/harmonization-universal
                .


              • djoko pranyoto
                he..he..kena ilmu copy paste...., nggak bakalan menjiwai mengerti hakikatnya suatu ayat. ya capek deh.... ________________________________ From: Sony Waluyo
                Message 7 of 15 , Feb 7, 2010
                • 0 Attachment
                  he..he..kena ilmu copy paste...., nggak bakalan menjiwai mengerti hakikatnya suatu ayat.
                  ya capek deh....



                  From: Sony Waluyo <asonyhw@...>
                  To: mayapadaprana@yahoogroups.com
                  Sent: Sun, February 7, 2010 2:43:44 AM
                  Subject: Re: [Mayapada Prana] Seri 910 Dari Bali ke Century, dari Syahril Sabirin ke Boediono

                   

                  Aduh Mbah,
                  kebanyakan teori dg bahasa asing malah makin bikin pusing dah...
                  yg simple2 aza mbah... klo orang saling memaafkan kan dah gak perlu mikirin dosa dan kesalahan orang lain lagi to... klo semua saling bantu gak perlu rebutan sumber penghidupan to...
                  kenapa sih orang2 agamis tuh sukanya bikin masalah sederhana mjd sedemikian rumitnya...
                  Tuhan dan pasti yg nyiptain semua ini, dan suruh diurus manusia dan gak minta disembah2.
                  Jadi, mbok ya wis, bikin kotbah2 yg menyejukkan, ngajak semua rukun dan kerjasama antar suku agama latar belakang.... nah nek gitu owe acunging jempol...
                  lah klo mau ngritik mah semua bisa, wong di dunia ini gak hanya barang, wong yg namanya pendapat/opini pun selalu punya sisi positif-negatif,  maka klo mau nyerang kelemahan suatu opini selalu ada sisi lemahnya. jadi klo kita mau saling serang dg nyari kelemahan opini dan juga agama orang lain sudah pasti ada kelemahannya.  Maka ngapain gitu loh.. kan mending saling memaafkan dan saling bantu ... 
                   
                  salam damai selaras,
                  ==dhemit sonthul==
                   
                  On 2/7/10, H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrahman@ yahoo.co. id> wrote:
                   

                  Tambahan:
                  Baca ulang Seri 002: Ibadah adalah segenap aktivitas kita untuk mewujudkan nilai-nilai kebenaran utama yang mutlak menurut Al Quran dalam kehidupan kita sehari-hari, berlandaskan aqiedah yang benar, dikerjakan dengan ikhlas, mengharapkan ridha Allah SWT semata, mulai dari tiang yaitu shalat hingga kepada pucuk membuang beling dari tengah jalan. Jadi lebih luas pengertiannya dari bahasa-bahasa barat: religion, religie, godsdienst. Contohnya baca baca Seri 003:
                  ************ ********* ********* ********* ********* ********* *****
                   
                  BISMILLA-HIRRAHMA- NIRRAHIYM
                   
                  WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
                  [Kolom Tetap Harian Fajar]
                  003. Interaksi Iman dan Ilmu, Pencemaran Thermal
                   
                  Antara tumbuh-tumbuhan di pihak yang lain dengan manusia dan binatang di pihak yang lain membentuk sistem yang dalam ungkapan bidal Melayu lama berbunyi: Seperti aur dengan tebing, atau dalam ungkapan modern yang canggih bunyinya: Mutualis simbiosis, suatu ekosistem saling menghidupi dan menghidupkan. Aur yang tumbuh di tebing mendapat zat-zat yang dibutuhkan tanaman untuk bertumbuh. Akar-akar aur menusuk ke dalam tanah di tebing untuk dapat mengisap zat-zat yang dibutuhkannya itu. Di pihak yang lain tebing mendapatkan manfaat dari akar-akar rumpun aur, tebing menjadi kuat, tidak mudah terban (tidak pakai g).
                   
                  Iklan:
                  <*> Rahasia Otak
                  "Teknologi Simulasi Gelombang Otak: Kunci Hidup Sukses, Sehat dan Bahagia"
                  http://www.rahasiaotak.com/

                  <*> Rahasia Suami!
                  http://www.pria-jantan.net/?id=red_conjurer

                  <*> Rahasia Istri!
                  http://www.rahasiaistri.com/?id=red_conjurer

                  Sister List:
                  <*> Harmonisasi Universal
                  "Milis HU dalam Bahasa Indonesia"
                  http://groups. google.com/ group/harmonisas i-universal

                  <*> Harmonization Universal
                  "Milis HU dalam Bahasa Inggris"
                  http://groups. yahoo.com/ group/harmonizat ion-universal
                  .



                • djoko pranyoto
                  lha wong DPR aja masih belum memutuskan koq si embah dah tahu... we ladhalah....itu bukan falsafah nahi mungkar..falsafah suudzon wassallam
                  Message 8 of 15 , Feb 7, 2010
                  • 0 Attachment
                    lha wong DPR aja masih belum memutuskan koq si embah dah tahu...
                    we ladhalah....itu bukan falsafah nahi mungkar..falsafah suudzon
                    wassallam


                    From: H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrahman@...>
                    To: mayapadaprana@yahoogroups.com
                    Sent: Sun, February 7, 2010 3:32:57 AM
                    Subject: Re: [Mayapada Prana] Seri 910 Dari Bali ke Century, dari Syahril Sabirin ke Boediono

                     

                     
                    ----- Original Message -----
                    Sent: Sunday, February 07, 2010 18:43
                    Subject: Re: [Mayapada Prana] Seri 910 Dari Bali ke Century, dari Syahril Sabirin ke Boediono

                    Aduh Mbah,
                    kebanyakan teori dg bahasa asing malah makin bikin pusing dah...
                    yg simple2 aza mbah...
                    ############ ######### ######### ######### ######### ######### ######### #######
                    HMNA:
                    Oh, mau yang simpel? nahi mungkar (ini bahasa agama Islam), artinya melawan kemungkaran dalam konteks kemungkaran dalam Skandal Bank Century. Maaf memaafkan dalam soal pribadi, OK. Tetapi memaafkan skandal yang mekan uang rakyat, no way, itu harus dihukum. Enak saja makan uang rakyat tanpa sanksi.
                     
                    Ada khuthbah2 yang menyejukkan karena di sisi nahi mungkar, ada amar ma'ruf (lagi2 istilah agama Islam), artinya menghimbau kepada kebajikan, itu adalah sisi yang sejuk.
                     
                    Nah, fyi, simpelnya dalam ajaran Islam itu ada ajaran prinsip keseimbangan: amar ma'ruf, nahi mungkar.  Ada bonus, ada denda, paham ?!
                    ############ ######### ######### ######### ######### ######### ######### ########
                     
                    ) klo orang saling memaafkan kan dah gak perlu mikirin dosa dan kesalahan orang lain lagi to... klo semua saling bantu gak perlu rebutan sumber penghidupan to...
                    kenapa sih orang2 agamis tuh sukanya bikin masalah sederhana mjd sedemikian rumitnya...
                    Tuhan dan pasti yg nyiptain semua ini, dan suruh diurus manusia dan gak minta disembah2.
                    Jadi, mbok ya wis, bikin kotbah2 yg menyejukkan, ngajak semua rukun dan kerjasama antar suku agama latar belakang.... nah nek gitu owe acunging jempol...
                    lah klo mau ngritik mah semua bisa, wong di dunia ini gak hanya barang, wong yg namanya pendapat/opini pun selalu punya sisi positif-negatif, maka klo mau nyerang kelemahan suatu opini selalu ada sisi lemahnya. jadi klo kita mau saling serang dg nyari kelemahan opini dan juga agama orang lain sudah pasti ada kelemahannya. Maka ngapain gitu loh.. kan mending saling memaafkan dan saling bantu ... 
                     
                    salam damai selaras,
                    ==dhemit sonthul==
                     
                    On 2/7/10, H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrahman@ yahoo.co. id> wrote:
                     

                    Tambahan:
                    Baca ulang Seri 002: Ibadah adalah segenap aktivitas kita untuk mewujudkan nilai-nilai kebenaran utama yang mutlak menurut Al Quran dalam kehidupan kita sehari-hari, berlandaskan aqiedah yang benar, dikerjakan dengan ikhlas, mengharapkan ridha Allah SWT semata, mulai dari tiang yaitu shalat hingga kepada pucuk membuang beling dari tengah jalan. Jadi lebih luas pengertiannya dari bahasa-bahasa barat: religion, religie, godsdienst. Contohnya baca baca Seri 003:
                    ************ ********* ********* ********* ********* ********* *****
                     
                    BISMILLA-HIRRAHMA- NIRRAHIYM
                     
                    WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
                    [Kolom Tetap Harian Fajar]
                    003. Interaksi Iman dan Ilmu, Pencemaran Thermal
                     
                    Antara tumbuh-tumbuhan di pihak yang lain dengan manusia dan binatang di pihak yang lain membentuk sistem yang dalam ungkapan bidal Melayu lama berbunyi: Seperti aur dengan tebing, atau dalam ungkapan modern yang canggih bunyinya: Mutualis simbiosis, suatu ekosistem saling menghidupi dan menghidupkan. Aur yang tumbuh di tebing mendapat zat-zat yang dibutuhkan tanaman untuk bertumbuh. Akar-akar aur menusuk ke dalam tanah di tebing untuk dapat mengisap zat-zat yang dibutuhkannya itu. Di pihak yang lain tebing mendapatkan manfaat dari akar-akar rumpun aur, tebing menjadi kuat, tidak mudah terban (tidak pakai g).
                     

                    Iklan:
                    <*> Rahasia Otak
                    "Teknologi Simulasi Gelombang Otak: Kunci Hidup Sukses, Sehat dan Bahagia"
                    http://www.rahasiaotak.com/

                    <*> Rahasia Suami!
                    http://www.pria-jantan.net/?id=red_conjurer

                    <*> Rahasia Istri!
                    http://www.rahasiaistri.com/?id=red_conjurer

                    Sister List:
                    <*> Harmonisasi Universal
                    "Milis HU dalam Bahasa Indonesia"
                    http://groups. google.com/ group/harmonisas i-universal

                    <*> Harmonization Universal
                    "Milis HU dalam Bahasa Inggris"
                    http://groups. yahoo.com/ group/harmonizat ion-universal
                    .



                  • djoko pranyoto
                    masalahnya si embah dah pernah ke surga atau bahkan keneraka. ya kita yng belum pernah kesana ngalah saja..... wassallam ________________________________ From:
                    Message 9 of 15 , Feb 7, 2010
                    • 0 Attachment
                      masalahnya si embah dah pernah ke surga atau bahkan keneraka.
                      ya kita yng belum pernah kesana ngalah saja.....
                      wassallam


                      From: Sony Waluyo <asonyhw@...>
                      To: mayapadaprana@yahoogroups.com
                      Sent: Sun, February 7, 2010 2:12:38 AM
                      Subject: Re: [Mayapada Prana] Seri 910 Dari Bali ke Century, dari Syahril Sabirin ke Boediono

                       

                      Mbah,
                      ah.... mending jadi kelinci dah... gak kenal surga neraka...tapi enjoy2 aja hidup di surga...hehe. ..
                       
                      lagian manusia yg berakal budi mestinya dg mudah mikir bila Tuhan itu Maha Kuasa dan sekaligus Maha Rahim gak mungkin Ia akan menciptakan sesuatu yg diluar kuasa kendalinya dan tak bisa diampuninya. So gak mungkin ada makluk2 nakal diluar kendaliNya dan ada neraka abadi tempatNya mengumbar kemarahan krn gak bisa mengampuni kesalahan manusia.
                      So Maha Rahim yo Maha Rahim...jadi tinggal gimana manusia yg tinggal di rumah Sang Pencipta ini gunakan akal budinya tuk kelola hidupnya saling mengampuni dan mengasihi, tolong menolong satu sama lain... beres kan... hepi2 saja...
                      daaannnnn... Tuhan yg Maha Kuasa itu gak perlu dibela2 dan dipuji2 spy kasih rahmat dan berkah...wong matahari saja gak perlu diminta2 wis tiap hari kasih sinarnya to.. hehehe...
                       
                      salam damai selaras,  
                       
                      ==dhemit sonthul==
                       
                      On 2/7/10, H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrahman@ yahoo.co. id> wrote:
                       

                      kacau deh klo posisi sbg pengamat agama campuk aduk dg posisi sbg pengamat politik....ora jelas mangsudnya ...lalu malah nunggangi agama utk kepentingan politik...
                      ============ ========= ========
                      HMNA:
                      Itulah bedanya antara Islam dengan agama lain, karena Islam bukan hanya sekadar religion saja.
                      Baca baik-baik Seri 002 di bawah ! (sekarang sudah Seri 910):
                      ************ ********* ********* ********* ********* ***
                      ************ ********* ********* ********* ********* *******

                      BISMILLA-HIRRAHMA- NIRRAHIYM

                      WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
                      [Kolom Tetap Harian Fajar]
                      002. Konfigurasi Wahyu, Akal dan Naluri; Ruang Lingkup Syari'at

                      Orang dapat menjalankan agama dengan baik, jikalau memahami ajaran agama itu dengan baik. Supaya dapat memahami ajaran agama dengan baik, haruslah pula dapat memahami wahyu dengan baik. Untuk dapat memahami wahyu dengan baik haruslah pula dapat memahami informasi-informasi yang relevan dengan wahyu, seperti Hadits Nabi Muhammad SAW, baik sabda mapun sunnahnya, dan ilmu-ilmu bantu yang diajarkan di sekolah-sekolah umum, baik itu ilmu-ilmu eksakta maupun ilmu-ilmu non eksakta. Artinya wahyu tidak dapat dipahami dengan baik, jika tidak mempergunakan akal. Walhasil akal sangat berguna untuk dapat memahami wahyu.

                      Akallah yang membedakan antara manusia dengan binatang, yang hanya mempunyai naluri saja, seperti telah dikemukakan dalam No.001. Pada binatang tidak ada kekuatan lain di atas nalurinya, sedangkan pada manusia ada akal di atas nalurinya. Akal manusia tidak mampu membunuh naluri, namun akal mampu menundukkan, mengarahkan dan mengendalikan nalurinya itu. Sungguhpun manusia itu diciptakan Allah dengan sebaik-baik bentuk kejadian, karena diberi perlengkapan akal, akan tetapi kalau akalnya tidak dapat mengendalikan nalurinya, maka akan jatuhlah ia  ke tempat yang serendah-rendahnya, lebih rendah dari binatang. Menurut Hadits pada waktu Rasulullah Isra, beliau menunggang buraq dituntun oleh Jibril. Secara tekstual itu benar-benar seperti demikian. Namun di samping pemahaman tekstual itu, dapat pula kita mentakwilkan konfigurasi Jibril, Rasulullah dan buraq itu. Yakni mengandung pula simbol/ibarat yang sangat relevan bagi konfigurasi antara wahyu, akal dengan naluri, yaitu wahyu menuntun akal dan akal mengendalikan naluri. Bahkan lebih dari itu, Rasulullah menunggang buraq dituntun oleh Jibril merupakan pula isyarat dari Allah SWT bahwa itu akan diproyeksikan dalam kenyataan sejarah, satu setengah tahun kemudian setelah Isra, yaitu peristiwa hijrah: Rasulullah menunggang unta dituntun oleh Abu Bakar Ashshidiq RA. Jadi dalam memahamkan Al Quran maupun Al Hadits dalam mempergunakan akal tidaklah boleh mempertentangkan ketiga hal ini: tekstual, takwil dan isyarat.

                      Karena manusia mempunyai naluri mempertahankan diri, maka manusia didorong oleh nalurinya itu untuk menonjolkan keakuannya, menonjolkan identitas dirinya. Manusia adalah makhluk pribadi. Syariat Islam mengatur tatacara peribadatan yang 'ubudiyyaat (mahdhah) untuk manusia sebagai makhluk pribadi, yakni hubungan langsung antara manusia dengan Allah. Peribadatan yang 'ubudiyyaat ini sangat pribadi sifatnya. Pelaksanaanya tidak boleh mewakili atau diwakilkan kepada orang lain. Peribadatan yang 'ubudiyyaat inilah  yang identik dengan  pengertian religion, religie, godsdienst dalam bahasa-bahasa barat. Peribadatan yang 'ubudiyyaat ini sangat ketat:  semua tidak boleh, kecuali yang digariskan oleh Nash (Al Quran dan Hadits), mengenai cara, waktu dan jumlah, bahkan ada yang mengenai tempat (ibadah Haji). Peribadatan yang 'ubudiyyaat ini dalam istilah populernya ialah ibadah yang ritual. Shalat Maghrib misalnya sudah ditetapkan tiga rakaat. Akal tidak boleh berpikir demikian: Empat lebih besar dari tiga. Jadi empat rakaat pahalanya lebih banyak dari tiga rakaat. Maka lebih baik shalat Maghrib empat rakaat supaya pahalanya lebih banyak. Dalam Syariat yang ketat ini, akal dibatasi kebebasannya. Akal hanya dapat digunakan secara deskriptif, yaitu hanya boleh dipakai untuk menjawab pertanyan: bagaimana, bilamana, berapa dan di mana, tidak boleh dipakai untuk melayani pertanyaan: mengapa, misalnya pertanyaan seperti berikut: Mengapa puasa wajib diperintahkan dalam bulan Ramadhan?

                      Walaupun manusia itu makhluk pribadi, namun manusia itu tidak dapat hidup nafsi-nafsi. Cerita tentang Si Buta dan Si Lumpuh, Si Buta memikul Si Lumpuh di atas bahunya, menunjukkan ibarat kerjasama yang baik. Saling mengisi di antara keduanya, memakai kaki Si Buta untuk berjalan dan mempergunakan mata Si Lumpuh untuk melihat. Manusia itu masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, jadi tidak dapat hidup sendiri-sendiri, manusia itu saling membutuhkan di antara  sesamanya manusia.  Manusia  adalah makhluk bermasyarakat. Syariat Islam juga mengatur pokok-pokok peribadatan yang mu'alamaat untuk manusia sebagai makhluk sosial. (Ibadah adalah segenap aktivitas kita untuk mewujudkan nilai-nilai kebenaran utama yang mutlak menurut Al Quran dalam kehidupan kita sehari-hari, berlandaskan aqiedah yang benar, dikerjakan dengan ikhlas, mengharapkan ridha Allah SWT semata, mulai dari tiang yaitu shalat hingga kepada pucuk membuang beling dari tengah jalan. Jadi lebih luas pengertiannya dari bahasa-bahasa barat: religion, religie, godsdienst). Peribadatan yang mu'amalaat ini adalah Syariat yang tidak ketat, sifatnya terbuka: semua boleh, kecuali yang dilarang oleh atau tidak bertentangan dengan Nash, yang berupa aturan-aturan pokok Syariat Islam yang mu'amalaat. Sebagai contoh adalah pemakaian bedug di mesjid dan pengambilan keputusan politik, seperti dijelaskan di bawah.

                      Kalau pemakaian bedug itu diniatkan sebagai persyaratan untuk azan, maka ia menjadi sub sistem dari peribadatan ubudiyyah yang ketat. Jadi tidak boleh, karena Rasulullah tidak pernah menyuruh pukul bedug di mesjid. Akan tetapi jika pemukulan bedug itu diniatkan hanya sebagai sarana untuk interaksi sosial, yang fungsinya seperti loud speaker, maka ini masuk dalam Syariat muamalah yang tidak ketat, semua boleh kecuali yang dilarang oleh atau tidak bertentangan dengan Nash. Junjungan kita Nabi Muhammad SAW hanya pernah melarang pemakaian lonceng di mesjid, sedangkan bedug tidak pernah dilarang, jadi bedug boleh dipakai.

                      Karena Syariat yang mu'amalaat ini hanya diberikan pokok-pokoknya saja, maka hal-hal yang mendetail dipikirkan oleh akal manusia. Dalam mengambil keputusan politik orang bebas melakukan bagaimana prosesnya, asal saja tidak bertentangan dengan aturan pokok Syari'at, yaitu 42:38 syura- dan ulil amri minkum, bermusyawarah di antara ulil amri (wali yang diberi kuasa) minkum (yang berasal dari kamu, maksudnya penduduk atau rakyat yang beragama Islam, sebab yang non-Muslima tidak mungkin tahu dan merasakan apresiasi seorang Muslim). Apakah dalam menentukan ulil amri minkum itu boleh melalui Pemilu? Karena tidak ada disebutkan dalam Nash larangan melakukan Pemilu dalam menentukan ulil amri minkum, maka Pemilu itu boleh-boleh saja.(*)

                      Demikianlah hal-hal yang mendetail diserahkan kepada ijtihad para pakar yang ahli dalam substansi yang terkait. Olah akal berupa ijtihad ini sifatnya situasional, akibat hasil pekerjaan akal yang relatif. Namun hasil akal yang situasional itu merupakan rahmat Allah, jika akal itu penggunaannya dibatasi oleh aturan-aturan pokok Syariat Islam yang mu'amalaat. Dalam Syariat yang muamalaat ini akal lebih bebas, yaitu boleh dipakai untuk melayani pertanyaan: mengapa mesti demikian, apa hikmahnya, sepanjang substansi itu terletak di atas paradigma aturan-aturan pokok Syariat yang mu'amalaat. WaLlahu a'lamu bishshawab.
                      ------------ --------- --------- -
                      (*)
                      Demikianlah ajaran Islam yang bermuatan: aqidah (pokok keimanan), jalannya hukum dan akhlaq, meliputi cakrawala yang luas, yaitu petunjuk untuk mengatur baik kehidupan nafsi-nafsi (individu), maupun  kehidupan kolektif dengan substansi yang  bervariasi seperti keimanan, ibadah ritual (mahdhah),  karakter  perorangan,  akhlaq individu dan kolektif, kebiasaan manusiawi, ibadah non-ritual seperti: hubungan keluarga, kehidupan sosial politik ekonomi, administrasi, teknologi serta pengelolaan lingkungan, hak dan kewajiban warga-negara, dan terakhir yang tak kurang pentingnya yaitu sistem hukum yang teridiri atas komponen-komponen: substansi aturan-aturan perdata-pidana, damai-perang, nasional-internasio nal, pranata subsistem peradilan dan apresiasi hukum serta rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat yang berakhlaq.

                      Semua substansi yang disebutkan itu bahasannya ada dalam Serial Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu. Maksudnya Wahyu memayungi akal , dan Iman memayungi ilmu.

                      *** Makassar, 27 Oktober 1991
                          [H.Muh.Nur Abdurrahman]
                      http://waii- hmna.blogspot. com/2007/ 06/002-konfigura si-wahyu- akal-dan- naluri.html

                      Tambahan:
                      Sesudah baca Seri 002 di atas, tentu sudah jelas bagi Sony Waluyo, bahwa:
                      Dalam Islam pengertian ibadah mencakup:
                      ibadah ritual (mahdhah) yang sama artinya dengan religion, godsdienst
                      ibadah mu'amalaat, tidak ada bahasa asingnya.
                       
                      Sedangkan dalam Kristen tidak demikian. Mengapa? Karena injil bicaranya lain. Bacalah ayat injil ini: "Geeft dan den Keizer wat des Keizers is, en Gode wat Gods is (Marcus 12:17)", berikanlah kepada Kaisar yang milik Kaisar, dan
                      berikanlah kepada Tuhan apa yang miliknya Tuhan. Dari Marcus (12:17) ini diturunkanlah paradigma sekularisme yang terkenal dalam sejarahnya orang barat: "Scheiding tussen staat en kerk", pemisahan atau dikhotomi antara negara dengan gereja. Berikanlah kepada Kaisar yang milik Kaisar, dan berikanlah kepada Tuhan apa yang miliknya Tuhan, itu menandakan bahwa ajaran injil itu tidak ada yang disebut ibadah mu'amalaat

                      ############ ######### ######### ######### ######### #########
                      ----- Original Message -----
                      Sent: Sunday, February 07, 2010 10:50
                      Subject: Re: [Mayapada Prana] Seri 910 Dari Bali ke Century, dari Syahril Sabirin ke Boediono

                       
                      kacau deh klo posisi sbg pengamat agama campuk aduk dg posisi sbg pengamat politik....ora jelas mangsudnya ...lalu malah nunggangi agama utk kepentingan politik...
                       
                      sorry..cuma njeplak doang.....
                       
                      ==dhemit sonthul==


                       
                      On 2/7/10, H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrahman@ yahoo.co. id> wrote:
                       

                      BISMILLA-HIRRAHMA- NIRRAHIYM
                       
                      WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
                      [Kolom Tetap Harian Fajar]
                      910 Dari Bali ke Century, dari Syahril Sabirin ke Boediono
                       
                      Firman Allah:
                      -- WLTNZhR NFS MA QDMT LGhD (S. ALHSyR, 59:18), dibaca: 
                      -- waltanzhur nafsum ma- qaddamat lighadin, artinya: 
                      -- Dan mestilah orang mengkaji apa yang lalu untuk masa depan.
                       
                      Kita mulai dahulu dengan MA QDMT (apa yang lalu). Kasus bank Bali begitu banyak pelanggaran, baik secara pidana, perdata maupun politis. Ada jaringan money politics, dalam transaksi penagihan piutang bank Bali terhadap BDNI, BUN dan Bank Bira senilai Rp 3 triliun, yang melibatkan sejumlah pejabat tinggi negara. Presiden BJ Habibie menyetujui pemeriksaan tiga pejabat tinggi waktu itu, salah satunya Gubernur bank Indonesia Syahril Sabirin, sebagai saksi dalam kasus skandal bank Bali. Syahril kemudian jadi tersangka setelah Wakil Dirut bank Bali Firman Soetjahja saat diperiksa tim penyidik bernyanyi ada pertemuan di Hotel Mulia pada 11 Februari 1999 yang membahas soal cessie (perjanjian pengalihan). Dan akhirnya Syahril divonis tiga tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
                       
                      ***
                       
                      Di masa Presiden Soekarno, tercatat beberapa kali posisi Wapres dilowongkan. Di masa Presiden Soeharto, pernah terjadi 2 kali masa yang posisi Wapres juga dilowongkan. Terakhir, Presiden B.J.Habibie tidak pernah didampingi Wapres. Demikianlah, perihal kekosongan Wapres, dilihat dari kejadian masa lalu, ternyata hal itu bukan hal yang tabu.
                       
                      Pada tanggal 20 Nopember 2008, di kantor Wapres di gelar rapat kabinet terbatas yang dipimpin oleh Jusuf Kalla sebagai Presiden Ad Interim, yang dihadiri antara lain oleh Gubernur BI Boediono, Menkeu Sri Mulyani, Menperin Fahmi Idris, Meneg BUMN Sofyan Djalil, Kepala BKF Anggito Abimanyu, dan Staf Khusus Presiden urusan Timteng Alwi Shihab.
                       
                      Pada rapat yang dipimpin oleh pelaksana tugas Presiden tersebut, antara lain dibahas juga mengenai situasi dan keadaan ekonomi nasional. Selama rapat tersebut berlangsung, Boediono selaku Gubernur BI dan Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan (baca: KSSK), sama sekali tidak menyinggung bahwa keadaan ekonomi nasional Republik Indonesia lagi genting, artinya perekonomian sampai dengan saat rapat itu normal saja.
                       
                      Selanjutnya, masih di tanggal yang sama, Boediono dan Sri Mulyani dalam rapat KSSK, memutuskan untuk menyuntikkan dana sebesar Rp. 6,7 trilyun kepada bank Century, karena katanya keadaan ekonomi negara Republik Indonesia lagi genting dan gawat serta mencekam akibat bahaya sistemik. Sungguh luar biasa, tidak masuk akal sehat, hanya dalam selang beberapa jam saja, keadaan ekonomi yang normal pada siang harinya, langsung berubah menjadi gawat pada malam harinya. Itu artinya ada kebohongan, tidak ada yang gawat, keadaan sistemik hanya alasan pembenaran saja untuk menutup alasan sebenarnya, yaitu patut diduga memberikan keuntungan dari keuangan negara kepada sesiapa/Mr X. Itu yang pertama. Dan yang kedua kebijakan KSSK (Boediono dan Sri Mulayani) tanpa payung hukum. Mengapa? Karena keputusan DPR tidak menerima  Perpu No 4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK).
                       
                      ***
                       
                      Selanjutnya LGhD (tinjauan masa depan) dalam konteks Skandal bank Century. Mudah-mudahan Pansus tidak masuk angin, sehingga pada akhirnya Pansus menyatakan Boediono dan Sri Mulyani yang bertanggungjawab dan skandal bank Century tersebut diselesaikan oleh hukum, seperti yang menimpa Syahril Sabirin. Jika hal itu yang harus terjadi, maka setidaknya ada dua opsi yang bisa dilakukan oleh Presiden SBY terhadap jabatan Wapres yang terpaksa secara teknis (bukan impeachment thd Wapres yang lambang negara) harus ditinggalkan oleh Boediono karena mengalami proses hukum yang waktunya dari penyelidikan ke penyidikan ke persidangan makan waktu yang tidak terukur.
                       
                      Opsi pertama, adalah mengisi kembali jabatan Wapres. Menurut aturan, jika kekosongan itu dikehendaki untuk diisi kembali, maka Presiden harus mengajukan 2 orang calon Wakil Presiden kepada MPR. Selanjutnya, selambat-lambatnya dalam waktu 60 hari, MPR akan menyelenggarakan Sidang MPR untuk memilih Wapres dari 2 orang calon yang diajukan oleh Presiden.
                       
                      Opsi kedua, posisi Wapres tetap dilowongkan, karena itu bukan hal yang tabu seperti dikemukakan di atas. Dan tokh didalam menjalankan pemerintahan, Presiden SBY telah dibantu oleh 3 orang Menteri Koordinator, yang masing-masing membawahkan bidang perekonomian, Polhukam, dan Kesra. Di samping itu Presiden SBY dapat menunjuk seorang atau dua orang Menteri sebagai pembantu utamanya dalam menjalankan fungsi dan kewenangannya sebagai Kepala Pemerintahan. Tokh, ada Wakil Menteri yang akan melaksanakan tugas Menteri yang ditunjuk sebagai pembantu utamanya tersebut.
                       
                      Alhasil, patut diduga bahwa opsi inilah yang akan dipilih oleh SBY. Dan kalau ini yang terjadi, lepaslah kabinet SBY dari pengaruh neo-lib. Tidaklah perlu SBY mengikuti jejak Soeharto untuk legowo menyatakan berhenti menjadi Presiden, asal saja di samping Sri Mulyani, itu Menteri Perdagangan yang penganut neo-lib juga diganti. WaLlahu a'lamu bisshawab.
                       
                      *** Makassar, 7 Februari 2010



                    • djoko pranyoto
                      tetapi islam agama yang mempergunakan akal , bukan tembak sana sini fitnah sana sini.... uraikan sesuatu hal dengan pendekatan hati ke hati , bukan dng cara
                      Message 10 of 15 , Feb 7, 2010
                      • 0 Attachment
                        tetapi islam agama yang mempergunakan akal , bukan tembak sana sini fitnah sana sini....
                        uraikan sesuatu hal dengan pendekatan hati ke hati , bukan dng cara menjelek jelekan sana sini, kalau Allah SWT berkehendak hanya dng sabda kun fayakun jadilah semua umat manusia beragama islam. jadi perbedaan ini adalah wujud sunatullah.dekatilah dengan hati dan akal bukan dengan pedang.....
                        wassallam


                        From: H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrahman@...>
                        To: mayapadaprana@yahoogroups.com
                        Sent: Sun, February 7, 2010 1:54:35 AM
                        Subject: Re: [Mayapada Prana] Seri 910 Dari Bali ke Century, dari Syahril Sabirin ke Boediono

                         

                        kacau deh klo posisi sbg pengamat agama campuk aduk dg posisi sbg pengamat politik....ora jelas mangsudnya ...lalu malah nunggangi agama utk kepentingan politik...
                        ============ ========= ========
                        HMNA:
                        Itulah bedanya antara Islam dengan agama lain, karena Islam bukan hanya sekadar religion saja.
                        Baca baik-baik Seri 002 di bawah ! (sekarang sudah Seri 910):
                        ************ ********* ********* ********* ********* ***
                        ************ ********* ********* ********* ********* *******

                        BISMILLA-HIRRAHMA- NIRRAHIYM

                        WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
                        [Kolom Tetap Harian Fajar]
                        002. Konfigurasi Wahyu, Akal dan Naluri; Ruang Lingkup Syari'at

                        Orang dapat menjalankan agama dengan baik, jikalau memahami ajaran agama itu dengan baik. Supaya dapat memahami ajaran agama dengan baik, haruslah pula dapat memahami wahyu dengan baik. Untuk dapat memahami wahyu dengan baik haruslah pula dapat memahami informasi-informasi yang relevan dengan wahyu, seperti Hadits Nabi Muhammad SAW, baik sabda mapun sunnahnya, dan ilmu-ilmu bantu yang diajarkan di sekolah-sekolah umum, baik itu ilmu-ilmu eksakta maupun ilmu-ilmu non eksakta. Artinya wahyu tidak dapat dipahami dengan baik, jika tidak mempergunakan akal. Walhasil akal sangat berguna untuk dapat memahami wahyu.

                        Akallah yang membedakan antara manusia dengan binatang, yang hanya mempunyai naluri saja, seperti telah dikemukakan dalam No.001. Pada binatang tidak ada kekuatan lain di atas nalurinya, sedangkan pada manusia ada akal di atas nalurinya. Akal manusia tidak mampu membunuh naluri, namun akal mampu menundukkan, mengarahkan dan mengendalikan nalurinya itu. Sungguhpun manusia itu diciptakan Allah dengan sebaik-baik bentuk kejadian, karena diberi perlengkapan akal, akan tetapi kalau akalnya tidak dapat mengendalikan nalurinya, maka akan jatuhlah ia  ke tempat yang serendah-rendahnya, lebih rendah dari binatang. Menurut Hadits pada waktu Rasulullah Isra, beliau menunggang buraq dituntun oleh Jibril. Secara tekstual itu benar-benar seperti demikian. Namun di samping pemahaman tekstual itu, dapat pula kita mentakwilkan konfigurasi Jibril, Rasulullah dan buraq itu. Yakni mengandung pula simbol/ibarat yang sangat relevan bagi konfigurasi antara wahyu, akal dengan naluri, yaitu wahyu menuntun akal dan akal mengendalikan naluri. Bahkan lebih dari itu, Rasulullah menunggang buraq dituntun oleh Jibril merupakan pula isyarat dari Allah SWT bahwa itu akan diproyeksikan dalam kenyataan sejarah, satu setengah tahun kemudian setelah Isra, yaitu peristiwa hijrah: Rasulullah menunggang unta dituntun oleh Abu Bakar Ashshidiq RA. Jadi dalam memahamkan Al Quran maupun Al Hadits dalam mempergunakan akal tidaklah boleh mempertentangkan ketiga hal ini: tekstual, takwil dan isyarat.

                        Karena manusia mempunyai naluri mempertahankan diri, maka manusia didorong oleh nalurinya itu untuk menonjolkan keakuannya, menonjolkan identitas dirinya. Manusia adalah makhluk pribadi. Syariat Islam mengatur tatacara peribadatan yang 'ubudiyyaat (mahdhah) untuk manusia sebagai makhluk pribadi, yakni hubungan langsung antara manusia dengan Allah. Peribadatan yang 'ubudiyyaat ini sangat pribadi sifatnya. Pelaksanaanya tidak boleh mewakili atau diwakilkan kepada orang lain. Peribadatan yang 'ubudiyyaat inilah  yang identik dengan  pengertian religion, religie, godsdienst dalam bahasa-bahasa barat. Peribadatan yang 'ubudiyyaat ini sangat ketat:  semua tidak boleh, kecuali yang digariskan oleh Nash (Al Quran dan Hadits), mengenai cara, waktu dan jumlah, bahkan ada yang mengenai tempat (ibadah Haji). Peribadatan yang 'ubudiyyaat ini dalam istilah populernya ialah ibadah yang ritual. Shalat Maghrib misalnya sudah ditetapkan tiga rakaat. Akal tidak boleh berpikir demikian: Empat lebih besar dari tiga. Jadi empat rakaat pahalanya lebih banyak dari tiga rakaat. Maka lebih baik shalat Maghrib empat rakaat supaya pahalanya lebih banyak. Dalam Syariat yang ketat ini, akal dibatasi kebebasannya. Akal hanya dapat digunakan secara deskriptif, yaitu hanya boleh dipakai untuk menjawab pertanyan: bagaimana, bilamana, berapa dan di mana, tidak boleh dipakai untuk melayani pertanyaan: mengapa, misalnya pertanyaan seperti berikut: Mengapa puasa wajib diperintahkan dalam bulan Ramadhan?

                        Walaupun manusia itu makhluk pribadi, namun manusia itu tidak dapat hidup nafsi-nafsi. Cerita tentang Si Buta dan Si Lumpuh, Si Buta memikul Si Lumpuh di atas bahunya, menunjukkan ibarat kerjasama yang baik. Saling mengisi di antara keduanya, memakai kaki Si Buta untuk berjalan dan mempergunakan mata Si Lumpuh untuk melihat. Manusia itu masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, jadi tidak dapat hidup sendiri-sendiri, manusia itu saling membutuhkan di antara  sesamanya manusia.  Manusia  adalah makhluk bermasyarakat. Syariat Islam juga mengatur pokok-pokok peribadatan yang mu'alamaat untuk manusia sebagai makhluk sosial. (Ibadah adalah segenap aktivitas kita untuk mewujudkan nilai-nilai kebenaran utama yang mutlak menurut Al Quran dalam kehidupan kita sehari-hari, berlandaskan aqiedah yang benar, dikerjakan dengan ikhlas, mengharapkan ridha Allah SWT semata, mulai dari tiang yaitu shalat hingga kepada pucuk membuang beling dari tengah jalan. Jadi lebih luas pengertiannya dari bahasa-bahasa barat: religion, religie, godsdienst). Peribadatan yang mu'amalaat ini adalah Syariat yang tidak ketat, sifatnya terbuka: semua boleh, kecuali yang dilarang oleh atau tidak bertentangan dengan Nash, yang berupa aturan-aturan pokok Syariat Islam yang mu'amalaat. Sebagai contoh adalah pemakaian bedug di mesjid dan pengambilan keputusan politik, seperti dijelaskan di bawah.

                        Kalau pemakaian bedug itu diniatkan sebagai persyaratan untuk azan, maka ia menjadi sub sistem dari peribadatan ubudiyyah yang ketat. Jadi tidak boleh, karena Rasulullah tidak pernah menyuruh pukul bedug di mesjid. Akan tetapi jika pemukulan bedug itu diniatkan hanya sebagai sarana untuk interaksi sosial, yang fungsinya seperti loud speaker, maka ini masuk dalam Syariat muamalah yang tidak ketat, semua boleh kecuali yang dilarang oleh atau tidak bertentangan dengan Nash. Junjungan kita Nabi Muhammad SAW hanya pernah melarang pemakaian lonceng di mesjid, sedangkan bedug tidak pernah dilarang, jadi bedug boleh dipakai.

                        Karena Syariat yang mu'amalaat ini hanya diberikan pokok-pokoknya saja, maka hal-hal yang mendetail dipikirkan oleh akal manusia. Dalam mengambil keputusan politik orang bebas melakukan bagaimana prosesnya, asal saja tidak bertentangan dengan aturan pokok Syari'at, yaitu 42:38 syura- dan ulil amri minkum, bermusyawarah di antara ulil amri (wali yang diberi kuasa) minkum (yang berasal dari kamu, maksudnya penduduk atau rakyat yang beragama Islam, sebab yang non-Muslima tidak mungkin tahu dan merasakan apresiasi seorang Muslim). Apakah dalam menentukan ulil amri minkum itu boleh melalui Pemilu? Karena tidak ada disebutkan dalam Nash larangan melakukan Pemilu dalam menentukan ulil amri minkum, maka Pemilu itu boleh-boleh saja.(*)

                        Demikianlah hal-hal yang mendetail diserahkan kepada ijtihad para pakar yang ahli dalam substansi yang terkait. Olah akal berupa ijtihad ini sifatnya situasional, akibat hasil pekerjaan akal yang relatif. Namun hasil akal yang situasional itu merupakan rahmat Allah, jika akal itu penggunaannya dibatasi oleh aturan-aturan pokok Syariat Islam yang mu'amalaat. Dalam Syariat yang muamalaat ini akal lebih bebas, yaitu boleh dipakai untuk melayani pertanyaan: mengapa mesti demikian, apa hikmahnya, sepanjang substansi itu terletak di atas paradigma aturan-aturan pokok Syariat yang mu'amalaat. WaLlahu a'lamu bishshawab.
                        ------------ --------- --------- -
                        (*)
                        Demikianlah ajaran Islam yang bermuatan: aqidah (pokok keimanan), jalannya hukum dan akhlaq, meliputi cakrawala yang luas, yaitu petunjuk untuk mengatur baik kehidupan nafsi-nafsi (individu), maupun  kehidupan kolektif dengan substansi yang  bervariasi seperti keimanan, ibadah ritual (mahdhah),  karakter  perorangan,  akhlaq individu dan kolektif, kebiasaan manusiawi, ibadah non-ritual seperti: hubungan keluarga, kehidupan sosial politik ekonomi, administrasi, teknologi serta pengelolaan lingkungan, hak dan kewajiban warga-negara, dan terakhir yang tak kurang pentingnya yaitu sistem hukum yang teridiri atas komponen-komponen: substansi aturan-aturan perdata-pidana, damai-perang, nasional-internasio nal, pranata subsistem peradilan dan apresiasi hukum serta rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat yang berakhlaq.

                        Semua substansi yang disebutkan itu bahasannya ada dalam Serial Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu. Maksudnya Wahyu memayungi akal , dan Iman memayungi ilmu.

                        *** Makassar, 27 Oktober 1991
                            [H.Muh.Nur Abdurrahman]
                        http://waii- hmna.blogspot. com/2007/ 06/002-konfigura si-wahyu- akal-dan- naluri.html

                        Tambahan:
                        Sesudah baca Seri 002 di atas, tentu sudah jelas bagi Sony Waluyo, bahwa:
                        Dalam Islam pengertian ibadah mencakup:
                        ibadah ritual (mahdhah) yang sama artinya dengan religion, godsdienst
                        ibadah mu'amalaat, tidak ada bahasa asingnya.
                         
                        Sedangkan dalam Kristen tidak demikian. Mengapa? Karena injil bicaranya lain. Bacalah ayat injil ini: "Geeft dan den Keizer wat des Keizers is, en Gode wat Gods is (Marcus 12:17)", berikanlah kepada Kaisar yang milik Kaisar, dan
                        berikanlah kepada Tuhan apa yang miliknya Tuhan. Dari Marcus (12:17) ini diturunkanlah paradigma sekularisme yang terkenal dalam sejarahnya orang barat: "Scheiding tussen staat en kerk", pemisahan atau dikhotomi antara negara dengan gereja. Berikanlah kepada Kaisar yang milik Kaisar, dan berikanlah kepada Tuhan apa yang miliknya Tuhan, itu menandakan bahwa ajaran injil itu tidak ada yang disebut ibadah mu'amalaat

                        ############ ######### ######### ######### ######### #########
                        ----- Original Message -----
                        Sent: Sunday, February 07, 2010 10:50
                        Subject: Re: [Mayapada Prana] Seri 910 Dari Bali ke Century, dari Syahril Sabirin ke Boediono

                        kacau deh klo posisi sbg pengamat agama campuk aduk dg posisi sbg pengamat politik....ora jelas mangsudnya ...lalu malah nunggangi agama utk kepentingan politik...
                         
                        sorry..cuma njeplak doang.....
                         
                        ==dhemit sonthul==


                         
                        On 2/7/10, H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrahman@ yahoo.co. id> wrote:
                         

                        BISMILLA-HIRRAHMA- NIRRAHIYM
                         
                        WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
                        [Kolom Tetap Harian Fajar]
                        910 Dari Bali ke Century, dari Syahril Sabirin ke Boediono
                         
                        Firman Allah:
                        -- WLTNZhR NFS MA QDMT LGhD (S. ALHSyR, 59:18), dibaca: 
                        -- waltanzhur nafsum ma- qaddamat lighadin, artinya: 
                        -- Dan mestilah orang mengkaji apa yang lalu untuk masa depan.
                         
                        Kita mulai dahulu dengan MA QDMT (apa yang lalu). Kasus bank Bali begitu banyak pelanggaran, baik secara pidana, perdata maupun politis. Ada jaringan money politics, dalam transaksi penagihan piutang bank Bali terhadap BDNI, BUN dan Bank Bira senilai Rp 3 triliun, yang melibatkan sejumlah pejabat tinggi negara. Presiden BJ Habibie menyetujui pemeriksaan tiga pejabat tinggi waktu itu, salah satunya Gubernur bank Indonesia Syahril Sabirin, sebagai saksi dalam kasus skandal bank Bali. Syahril kemudian jadi tersangka setelah Wakil Dirut bank Bali Firman Soetjahja saat diperiksa tim penyidik bernyanyi ada pertemuan di Hotel Mulia pada 11 Februari 1999 yang membahas soal cessie (perjanjian pengalihan). Dan akhirnya Syahril divonis tiga tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
                         
                        ***
                         
                        Di masa Presiden Soekarno, tercatat beberapa kali posisi Wapres dilowongkan. Di masa Presiden Soeharto, pernah terjadi 2 kali masa yang posisi Wapres juga dilowongkan. Terakhir, Presiden B.J.Habibie tidak pernah didampingi Wapres. Demikianlah, perihal kekosongan Wapres, dilihat dari kejadian masa lalu, ternyata hal itu bukan hal yang tabu.
                         
                        Pada tanggal 20 Nopember 2008, di kantor Wapres di gelar rapat kabinet terbatas yang dipimpin oleh Jusuf Kalla sebagai Presiden Ad Interim, yang dihadiri antara lain oleh Gubernur BI Boediono, Menkeu Sri Mulyani, Menperin Fahmi Idris, Meneg BUMN Sofyan Djalil, Kepala BKF Anggito Abimanyu, dan Staf Khusus Presiden urusan Timteng Alwi Shihab.
                         
                        Pada rapat yang dipimpin oleh pelaksana tugas Presiden tersebut, antara lain dibahas juga mengenai situasi dan keadaan ekonomi nasional. Selama rapat tersebut berlangsung, Boediono selaku Gubernur BI dan Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan (baca: KSSK), sama sekali tidak menyinggung bahwa keadaan ekonomi nasional Republik Indonesia lagi genting, artinya perekonomian sampai dengan saat rapat itu normal saja.
                         
                        Selanjutnya, masih di tanggal yang sama, Boediono dan Sri Mulyani dalam rapat KSSK, memutuskan untuk menyuntikkan dana sebesar Rp. 6,7 trilyun kepada bank Century, karena katanya keadaan ekonomi negara Republik Indonesia lagi genting dan gawat serta mencekam akibat bahaya sistemik. Sungguh luar biasa, tidak masuk akal sehat, hanya dalam selang beberapa jam saja, keadaan ekonomi yang normal pada siang harinya, langsung berubah menjadi gawat pada malam harinya. Itu artinya ada kebohongan, tidak ada yang gawat, keadaan sistemik hanya alasan pembenaran saja untuk menutup alasan sebenarnya, yaitu patut diduga memberikan keuntungan dari keuangan negara kepada sesiapa/Mr X. Itu yang pertama. Dan yang kedua kebijakan KSSK (Boediono dan Sri Mulayani) tanpa payung hukum. Mengapa? Karena keputusan DPR tidak menerima  Perpu No 4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK).
                         
                        ***
                         
                        Selanjutnya LGhD (tinjauan masa depan) dalam konteks Skandal bank Century. Mudah-mudahan Pansus tidak masuk angin, sehingga pada akhirnya Pansus menyatakan Boediono dan Sri Mulyani yang bertanggungjawab dan skandal bank Century tersebut diselesaikan oleh hukum, seperti yang menimpa Syahril Sabirin. Jika hal itu yang harus terjadi, maka setidaknya ada dua opsi yang bisa dilakukan oleh Presiden SBY terhadap jabatan Wapres yang terpaksa secara teknis (bukan impeachment thd Wapres yang lambang negara) harus ditinggalkan oleh Boediono karena mengalami proses hukum yang waktunya dari penyelidikan ke penyidikan ke persidangan makan waktu yang tidak terukur.
                         
                        Opsi pertama, adalah mengisi kembali jabatan Wapres. Menurut aturan, jika kekosongan itu dikehendaki untuk diisi kembali, maka Presiden harus mengajukan 2 orang calon Wakil Presiden kepada MPR. Selanjutnya, selambat-lambatnya dalam waktu 60 hari, MPR akan menyelenggarakan Sidang MPR untuk memilih Wapres dari 2 orang calon yang diajukan oleh Presiden.
                         
                        Opsi kedua, posisi Wapres tetap dilowongkan, karena itu bukan hal yang tabu seperti dikemukakan di atas. Dan tokh didalam menjalankan pemerintahan, Presiden SBY telah dibantu oleh 3 orang Menteri Koordinator, yang masing-masing membawahkan bidang perekonomian, Polhukam, dan Kesra. Di samping itu Presiden SBY dapat menunjuk seorang atau dua orang Menteri sebagai pembantu utamanya dalam menjalankan fungsi dan kewenangannya sebagai Kepala Pemerintahan. Tokh, ada Wakil Menteri yang akan melaksanakan tugas Menteri yang ditunjuk sebagai pembantu utamanya tersebut.
                         
                        Alhasil, patut diduga bahwa opsi inilah yang akan dipilih oleh SBY. Dan kalau ini yang terjadi, lepaslah kabinet SBY dari pengaruh neo-lib. Tidaklah perlu SBY mengikuti jejak Soeharto untuk legowo menyatakan berhenti menjadi Presiden, asal saja di samping Sri Mulyani, itu Menteri Perdagangan yang penganut neo-lib juga diganti. WaLlahu a'lamu bisshawab.
                         
                        *** Makassar, 7 Februari 2010

                        __________________________________________________
                        Do You Yahoo!?
                        Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
                        http://mail.yahoo.com
                      • Sony Waluyo
                        Mbah HMNA, udah deh...sebenarnya yg penting itu bukan label ajarannya... lah wong semua agama yo mengajarkan ttg hidup yg baik... so yg jadi masalah itu bukan
                        Message 11 of 15 , Feb 7, 2010
                        • 0 Attachment
                          Mbah HMNA,
                           
                          udah deh...sebenarnya yg penting itu bukan label ajarannya... lah wong semua agama yo mengajarkan ttg hidup yg baik... so yg jadi masalah itu bukan mana ajaran yg paling top. tapi apakah ajaran2 itu dilaksanakan? 
                          lah gimana dong, wong negara ini juga semua dah tahu ada departemen agama dan semua juga sudah tahu kalau departemen agama itu dikendalikan oleh orang2 beragama ttt... dan negara ini konon 90% sudah beragama yg itu... piye to mbah... mo kurang gimana? lah kok negara yg sangat religius ini pada hobi korupsi ...
                          Lihat tuh aceh serambi mekah atau sebaliknya timor-timur yg konon hampir 100% katolik, apakah dg rakyatnya memeluk suatu agama ttt otomatis makmur dan sejahtera? Rak gak gitu to? bukan agamanya tapi yg pokok apa inti ajaran saling memaafkan, mengampuni lalu berbagi sumber kehidupan, tolong menolong saling dukung telah dijalankan.
                           
                          jadi sbg pemimp[in umat mestinya mampu mengajak umatnya berdamai dg pemeluk agama lain dan saling tolong ..sudah gak zamannya lagi rebutan umat Mbah...
                           
                          ini sekedar tambahan:
                          Kerbau dianggap pinter/bermanfaat atau bodoh/malas hanya salah satu penilaian/sudut pandang manusia saja.
                          orang dianggap pintar atau bodoh juga hanya salah satu penilaian/sudut pandang manusia saja.
                          orang dikatakan waras atau tak waras juga hanya salah satu penilaian/sudut pandang manusia saja.
                          surga/neraka akhirnya juga hanya salah satu penilaian/sudut pandang manusia saja. 
                           
                          masih menilai orang lain bodo krn masih belum bisa menghargai nilai2 positif pada orang lain sesederhana apapun 
                          dan yg merasa waras biasane malah sing ora waras...
                          ......ini kata simbah saya, ..."sing eling lan waspada...." ....
                           
                          salam damai selaras,
                          ==dhemit sonthul==
                           
                            

                           
                          On 2/7/10, H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrahman@...> wrote:
                           

                           
                          ----- Original Message -----
                          Sent: Sunday, February 07, 2010 18:43
                          Subject: Re: [Mayapada Prana] Seri 910 Dari Bali ke Century, dari Syahril Sabirin ke Boediono

                           
                          Aduh Mbah,
                          kebanyakan teori dg bahasa asing malah makin bikin pusing dah...
                          yg simple2 aza mbah...
                          #########################################################################
                          HMNA:
                          Oh, mau yang simpel? nahi mungkar (ini bahasa agama Islam), artinya melawan kemungkaran dalam konteks kemungkaran dalam Skandal Bank Century. Maaf memaafkan dalam soal pribadi, OK. Tetapi memaafkan skandal yang mekan uang rakyat, no way, itu harus dihukum. Enak saja makan uang rakyat tanpa sanksi.
                           
                          Ada khuthbah2 yang menyejukkan karena di sisi nahi mungkar, ada amar ma'ruf (lagi2 istilah agama Islam), artinya menghimbau kepada kebajikan, itu adalah sisi yang sejuk.
                           
                          Nah, fyi, simpelnya dalam ajaran Islam itu ada ajaran prinsip keseimbangan: amar ma'ruf, nahi mungkar.  Ada bonus, ada denda, paham ?!
                          ##########################################################################
                           
                          ) klo orang saling memaafkan kan dah gak perlu mikirin dosa dan kesalahan orang lain lagi to... klo semua saling bantu gak perlu rebutan sumber penghidupan to...
                          kenapa sih orang2 agamis tuh sukanya bikin masalah sederhana mjd sedemikian rumitnya...
                          Tuhan dan pasti yg nyiptain semua ini, dan suruh diurus manusia dan gak minta disembah2.
                          Jadi, mbok ya wis, bikin kotbah2 yg menyejukkan, ngajak semua rukun dan kerjasama antar suku agama latar belakang.... nah nek gitu owe acunging jempol...
                          lah klo mau ngritik mah semua bisa, wong di dunia ini gak hanya barang, wong yg namanya pendapat/opini pun selalu punya sisi positif-negatif, maka klo mau nyerang kelemahan suatu opini selalu ada sisi lemahnya. jadi klo kita mau saling serang dg nyari kelemahan opini dan juga agama orang lain sudah pasti ada kelemahannya. Maka ngapain gitu loh.. kan mending saling memaafkan dan saling bantu ... 
                           
                          salam damai selaras,
                          ==dhemit sonthul==
                           
                        • H. M. Nur Abdurahman
                          OOT HMNA ... From: Sony Waluyo To: mayapadaprana@yahoogroups.com Sent: Sunday, February 07, 2010 22:08 Subject: Re: [Mayapada Prana] Seri 910 Dari Bali ke
                          Message 12 of 15 , Feb 7, 2010
                          • 0 Attachment
                            OOT
                            HMNA
                            ----- Original Message -----
                            Sent: Sunday, February 07, 2010 22:08
                            Subject: Re: [Mayapada Prana] Seri 910 Dari Bali ke Century, dari Syahril Sabirin ke Boediono

                            Mbah HMNA,
                             
                            udah deh...sebenarnya yg penting itu bukan label ajarannya... lah wong semua agama yo mengajarkan ttg hidup yg baik... so yg jadi masalah itu bukan mana ajaran yg paling top. tapi apakah ajaran2 itu dilaksanakan? 
                            lah gimana dong, wong negara ini juga semua dah tahu ada departemen agama dan semua juga sudah tahu kalau departemen agama itu dikendalikan oleh orang2 beragama ttt... dan negara ini konon 90% sudah beragama yg itu... piye to mbah... mo kurang gimana? lah kok negara yg sangat religius ini pada hobi korupsi ...
                            Lihat tuh aceh serambi mekah atau sebaliknya timor-timur yg konon hampir 100% katolik, apakah dg rakyatnya memeluk suatu agama ttt otomatis makmur dan sejahtera? Rak gak gitu to? bukan agamanya tapi yg pokok apa inti ajaran saling memaafkan, mengampuni lalu berbagi sumber kehidupan, tolong menolong saling dukung telah dijalankan.
                             
                            jadi sbg pemimp[in umat mestinya mampu mengajak umatnya berdamai dg pemeluk agama lain dan saling tolong ..sudah gak zamannya lagi rebutan umat Mbah...
                             
                            ini sekedar tambahan:
                            Kerbau dianggap pinter/bermanfaat atau bodoh/malas hanya salah satu penilaian/sudut pandang manusia saja.
                            orang dianggap pintar atau bodoh juga hanya salah satu penilaian/sudut pandang manusia saja.
                            orang dikatakan waras atau tak waras juga hanya salah satu penilaian/sudut pandang manusia saja.
                            surga/neraka akhirnya juga hanya salah satu penilaian/sudut pandang manusia saja. 
                             
                            masih menilai orang lain bodo krn masih belum bisa menghargai nilai2 positif pada orang lain sesederhana apapun 
                            dan yg merasa waras biasane malah sing ora waras...
                            ......ini kata simbah saya, ..."sing eling lan waspada...." ....
                             
                            salam damai selaras,
                            ==dhemit sonthul==
                             
                              

                             
                            On 2/7/10, H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrahman@...> wrote:
                             

                             
                            ----- Original Message -----
                            Sent: Sunday, February 07, 2010 18:43
                            Subject: Re: [Mayapada Prana] Seri 910 Dari Bali ke Century, dari Syahril Sabirin ke Boediono

                             
                            Aduh Mbah,
                            kebanyakan teori dg bahasa asing malah makin bikin pusing dah...
                            yg simple2 aza mbah...
                            #########################################################################
                            HMNA:
                            Oh, mau yang simpel? nahi mungkar (ini bahasa agama Islam), artinya melawan kemungkaran dalam konteks kemungkaran dalam Skandal Bank Century. Maaf memaafkan dalam soal pribadi, OK. Tetapi memaafkan skandal yang mekan uang rakyat, no way, itu harus dihukum. Enak saja makan uang rakyat tanpa sanksi.
                             
                            Ada khuthbah2 yang menyejukkan karena di sisi nahi mungkar, ada amar ma'ruf (lagi2 istilah agama Islam), artinya menghimbau kepada kebajikan, itu adalah sisi yang sejuk.
                             
                            Nah, fyi, simpelnya dalam ajaran Islam itu ada ajaran prinsip keseimbangan: amar ma'ruf, nahi mungkar.  Ada bonus, ada denda, paham ?!
                            ##########################################################################
                             
                            ) klo orang saling memaafkan kan dah gak perlu mikirin dosa dan kesalahan orang lain lagi to... klo semua saling bantu gak perlu rebutan sumber penghidupan to...
                            kenapa sih orang2 agamis tuh sukanya bikin masalah sederhana mjd sedemikian rumitnya...
                            Tuhan dan pasti yg nyiptain semua ini, dan suruh diurus manusia dan gak minta disembah2.
                            Jadi, mbok ya wis, bikin kotbah2 yg menyejukkan, ngajak semua rukun dan kerjasama antar suku agama latar belakang.... nah nek gitu owe acunging jempol...
                            lah klo mau ngritik mah semua bisa, wong di dunia ini gak hanya barang, wong yg namanya pendapat/opini pun selalu punya sisi positif-negatif, maka klo mau nyerang kelemahan suatu opini selalu ada sisi lemahnya. jadi klo kita mau saling serang dg nyari kelemahan opini dan juga agama orang lain sudah pasti ada kelemahannya. Maka ngapain gitu loh.. kan mending saling memaafkan dan saling bantu ... 
                             
                            salam damai selaras,
                            ==dhemit sonthul==
                             

                          Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.