Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [Mayapada Prana] Nabi Penutup

Expand Messages
  • H. M. Nur Abdurahman
    ... From: leonardo rimba To: undisclosed recipients: Sent: Tuesday, December 29, 2009 07:35 Subject: [Mayapada Prana] Nabi Penutup Friends, Menurut pendapat
    Message 1 of 4 , Dec 31, 2009
    • 0 Attachment
      ----- Original Message -----
      From: leonardo rimba
      To: undisclosed recipients:
      Sent: Tuesday, December 29, 2009 07:35
      Subject: [Mayapada Prana] Nabi Penutup
       
      Friends,
       
      Menurut pendapat saya penggunaan istilah 'nabi penutup' merupakan contoh pembodohan massal yg terakhir dan sempurna. Siapa yg mengatakan orang itu sebagai nabi penutup? Yg mengatakan adalah orang itu sendiri atau pengikutnya bukan? Pedahal masih banyak nabi-nabi lainnya. Setiap jaman dan masyarakat selalu mempunyai nabi-nabi yg terakhir. Kata 'terakhir' juga perlu dimengerti sebagai kiasan belaka.
       
      #############################################################################
      HMNA:
      Pembodohan ? Leolah yang bodoh !!! Tidak mengerti (bodoh) dikiranya Nabi Muhammad RasuluLlah SAW hanya sekadar spiritual leader.
      Ingatlah, Sesungguhnya merekalah (termask Leo) orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu kebodohan mereka sendiri [S. AL-BAQARAH, 13] 
       
      Nubuwwah dan Risalah adalah tugas yang hanya diserahkan Allah swt kepada  Nabi dan Rasul melalui wahyu, agar keduanya disampaikan kepada umat manusia, tanpa memperhatikan lagi penerapannya. Para Nabi dan Rasul tidak disyaratkan untuk menerapkan risalah yang diwahyukan kepadanya, hingga mereka layak disebut sebagai nabi dan rasul. Seseorang berhak disebut sebagai Rasul, jika Allah swt menurunkan wahyu  kepada mereka, dan mereka diperintahkan untuk menyampaikannya.  Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa 'slaihimussalam (salam atas mereka semuanya) termasuk nabi dan rasul, akan tetapi, mereka tidak mempunyai daerah kekuasaan dan tidak diperintahkan untuk menerapkan syariat yang telah diwahyukan kepada mereka. Mereka juga tidak diperintahkan untuk menduduki jabatan kekuasaan (kepala negara) yang wajib menerapkan syariat-syariat Allah swt yang diturunkan atas mereka. Para Nabi sebelum Nabi Muhammad RasuluLlah SAW adalah spiritual leaders yang mendapat wahyu.
       
      Nabi Muhammad RasuluLlah SAW adalah Nabi dan Rasul penutup   
      Bukanlah Muhammad itu bapak salah seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi [AL-AHZAB, 40]
      Nabi Muhammad saw selain memiliki tugas nubuwwah dan risalah (spiritual leader), beliau juga mempunyai wilayah kekuasaan dan memangku tugas kekuasaan (menjadi seorang kepala negara) yang menerapkan syariat yang telah diwahyukan kepadanya. Sebab, selain dibebani tugas nubuwwah dan risalah, Allah swt telah memerintahkan Rasulullah saw untuk mengatur seluruh urusan rakyat dalam sebuah wilayah kekuasaan dengan syariat Islam. Ini menunjukkan, bahwa Rasulullah saw juga menduduki jabatan kepala negara yang  bertugas menerapkan syariat Allah swt.   Allah swt menyatakan hal ini di dalam al-Quran.
       
      "dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. [AL-MAAIDAH, 49]
       
      "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu [AL-NISAA', 105]
       
      Ayat-ayat di atas menunjukkan dengan sangat jelas, ciri Nabi dan Rasul penutup, yaitu bahwa Rasulullah saw tidak hanya mengemban amanah nubuwwah dan tabligh risalah belaka, akan tetapi beliau juga mempunyai wilayah kekuasaaan dan diperintahkan untuk menerapkan syariat yang telah diwahyukan Allah kepadanya.   Dalam hal risalah, beliau selalu menyampaikan apa yang telah diwahyukan kepada beliau saw kepada umat manusia, tanpa memperhatikan lagi penerimaan maupun penolakan manusia.   Beliau saw tidak pernah kompromi dengan siapapun dalam urusan risalah.  Ini ditunjukkan tatkala Rasulullah saw menolak seluruh anjuran para shahabat pada saat peristiwa perjanjian Hudaibiyyah.  Beliau saw tetap bersikukuh dengan apa yang telah diwahyukan Allah swt kepada beliau. 
       
      Berbeda dengan pemerintahan dan pengaturan urusan rakyat. Dalam lingkup semacam ini, beliau saw senantiasa bermusyawarah dengan para shahabat ra untuk memutuskan sejumlah perkara yang dihadapi oleh umat manusia.  Lebih dari itu, kadang-kadang beliau saw menganulir pendapatnya sendiri dan mengikuti pendapat yang lebih tepat dan benar.   Beliau saw pernah menganulir pendapatnya mengenai tempat pertahanan kaum muslim pada saat perang Badar, dan mengikuti pendapatnya Khubaib bin Mundzir.   Beliau juga mengikuti pendapat mayoritas kaum muslim untuk pergi di luar kota Madinah untuk menyongsong musuh yang datang untuk menyerang Madinah , pada saat perang Uhud.  Beliau juga mengadili urusan manusia berdasarkan hujjah masing-masing.    Beliau saw tidak memutuskan urusan orang yang bersengketa berdasarkan wahyu yang diwahyukan kepada beliau.  
       
      Ayat-ayat di atas menunjukkan ciri khas Nabi dan Rasul penutup, bahwa Rasulullah saw memegang jabatan  nubuwwah, risalah, sekaligus kepala negara yang menerapkan syariat Allah swt yang telah diwahyukan kepada beliau saw di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
       
      Dalam melaksanakan jabatan-jabatan itu, Rasulullah saw menempuh cara yang berbeda-beda berdasarkan jabatan tersebut. Dalam lingkup kekuasaan dan pemerintahan, beliau saw mengambil bai'at atas kaum muslim berdasarkan keridlaan dan pilihan.  Beliau saw hanya mengambil bai'at dari kaum laki-laki dan wanita yang sudah baligh, dan tidak mengambilnya dari anak-anak yang belum baligh.   Ini menunjukkan, bahwa bai'at yang diambil Rasulullah saw bukanlah bai'at atas kenabian (nubuwwah) beliau, akan tetapi bai'at atas kekuasaan (bai'at al-hukm).  
       
      Dari sini kita dapat menemukan, bahwa Allah swt tidak mencela Rasulullah saw  dalam hal tabligh risalah, dan dalam melaksanakan tugas-tugas tabligh risalah.  Allah swt hanya memerintahkan Rasulullah saw untuk tidak bersedih hati dan tergoncang atas penolakan manusia terhadap risalahnya.    Sebab, tugas risalah hanyalah menyampaikan saja (tabligh).  Tidak ada kewajiban bagi Rasulullah saw dalam hal risalah, kecuali sekadar menyampaikan saja.    Hal ini telah dinyatakan dengan sangat jelas di dalam al-Quran.  Allah swt berfirman:
       
      "Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu  dayakan "  [AL-NAHL, 127]
       
      Akan tetapi, Allah swt mencela Rasulullah saw tatkala beliau kurang tepat dalam melaksanakan tugas-tugas pemerintahan yang telah diperintahkan Allah swt berdasarkan nash yang telah turun kepada beliau sebelumnya.  Misalnya, Allah telah mencela ketetapan Rasulullah saw yang kurang tepat dalam hal tawanan perang Badar.   Allah swt berfirman:
       
      "Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. [AL-ANFAAL, 67]
       
      Kenyataan ini menunjukkan bahwa, jabatan kenabian berbeda dengan jabatan kepala pemerintahan (kekhilafahan).   
       
      Walhasil, kekhilafahan yang didefinisikan sebagai kepemimpinan umum atas kaum muslim di kehidupan dunia, adalah tugas kemanusiaan, bukan tugas ketuhanan.  Sebab, kekhilafahan adalah tugas pemerintahan (kekuasaan) yang telah diwariskan oleh Rasulullah saw kepada umat Islam.   Tidak hanya itu saja, beliau saw juga memerintahkan kaum muslim untuk mengangkat seseorang dari mereka untuk meneruskan tugas tersebut melalui prosesi bai'at, yang secara kontekstualkekinian melalui Pemilu. Bila seseorang telah dibai'at oleh kaum muslim berdasarkan keridlaan dan pilihan, maka ia absah disebut khalifah yang akan menggantikan tugas Rasulullah saw dalam hal pemerintahan, bukan dalam hal nubuwwah dan risalah.  Dengan kata lain, khalifah adalah pengganti Rasulullah saw dalam memimpin kaum muslim untuk menerapkan hukum-hukum Islam dan mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia; bukan pengganti Rasulullah dalam hal nubuwwah dan risalah.
       
      Tatkala beliau saw menjalankan tugas kepala negara dan pemerintahan, beliau "tidaklah maksum" (bisa salah). Sebab, beliau menjalankan tugas kepala negara dan pemerintahan dalam kapasitasnya sebagai manusia biasa, seperti manusia-manusia yang lain.  Al-Quran telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa beliau saw adalah manusia biasa, tak ubahnya dengan manusia-manusia yang lain.   Allah swt berfirman:
       
      "Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". [AL-KAHF, 110]
       
      Ayat di atas menjelaskan, bahwa Nabi saw adalah manusia biasa seperti halnya manusia-manusia yang lain.  Namun, yang membedakan beliau saw dengan manusia yang lain adalah kenabian dan risalah.  Di luar nubuwwah dan risalah, beliau tak ubahnya dengan manusia yang lain.   Dengan demikian, dalam hal melaksanakan tugas-tugas pemerintahan, beliau saw tak ubahnya dengan manusia yang lain.  Dengan ungkapan lain, beliau saw tidak maksum tatkala menjalankan aktivitas pemerintahan.  Sebab, pemerintahan berbeda dengan nubuwwah dan risalah.  Dari sini kita bisa menyimpulkan, bahwa orang yang mengganti tugas beliau saw dalam hal pemerintahan adalah manusia biasa dan tidak maksum.  Sebab, ia hanya mengganti tugas Rasulullah saw dalam hal pemerintahan, bukan dalam hal nubuwwah dan risalah. 
       
      ####################################################################
    • wnbaskara
      Terima kasih, pak H.M. Nur Abdurrahman, yang telah memberikan uraian panjang lebar. Semoga mendapat karuniaNya. Sedikit komentar saja dari saya, setelah
      Message 2 of 4 , Dec 31, 2009
      • 0 Attachment
        Terima kasih, pak H.M. Nur Abdurrahman, yang telah memberikan uraian panjang lebar. Semoga mendapat karuniaNya.

        Sedikit komentar saja dari saya, setelah membaca kutipan terjemahan QS Al-Ahzab 40:

        "Bukanlah Muhammad itu bapak salah seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi" [AL-AHZAB, 40]

        Menurut pemahaman bahasa Indonesia, terjemahan ayat di atas menyatakan dia (Muhammad) adalah penutup Nabi-nabi. Tetapi kalimat di atas tidak menyatakan (dia) Muhammad sebagai Rasulullah penutup.

        Anda sendiri memberikan uraian beda antara Rasul dan Nabi.
        Pemahaman saya setelah membaca uraian anda, dan kemudian menyimak kembali kutipan terjemahan QS 33:40, di atas, adalah:

        Muhammad (Saw) adalah seorang Rasul sekaligus juga seorang Nabi, dengan fungsi sebagai Rasul dan sebagai Nabi seperti yang telah anda uraikan.

        Makna Terjemah ayat Al-Azhab 40 adalah sebagai Nabi, Muhammad (s.a.w) adalah penutup Nabi-nabi. Muhammad (s.a.w) adalah juga seorang Rasulullah. Selain itu, tiada seorang pun laki-laki di antara kamu yang berayah Muhammad.

        Salam,


        --- In mayapadaprana@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman" <mnur.abdurrahman@...> wrote:
        >
        > ----- Original Message -----
        > From: leonardo rimba
        > To: undisclosed recipients:
        > Sent: Tuesday, December 29, 2009 07:35
        > Subject: [Mayapada Prana] Nabi Penutup
        >
        > Friends,
        >
        > Menurut pendapat saya penggunaan istilah 'nabi penutup' merupakan contoh pembodohan massal yg terakhir dan sempurna. Siapa yg mengatakan orang itu sebagai nabi penutup? Yg mengatakan adalah orang itu sendiri atau pengikutnya bukan? Pedahal masih banyak nabi-nabi lainnya. Setiap jaman dan masyarakat selalu mempunyai nabi-nabi yg terakhir. Kata 'terakhir' juga perlu dimengerti sebagai kiasan belaka.
        >
        > #############################################################################
        > HMNA:
        > Pembodohan ? Leolah yang bodoh !!! Tidak mengerti (bodoh) dikiranya Nabi Muhammad RasuluLlah SAW hanya sekadar spiritual leader.
        > Ingatlah, Sesungguhnya merekalah (termask Leo) orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu kebodohan mereka sendiri [S. AL-BAQARAH, 13]
        >
        > Nubuwwah dan Risalah adalah tugas yang hanya diserahkan Allah swt kepada Nabi dan Rasul melalui wahyu, agar keduanya disampaikan kepada umat manusia, tanpa memperhatikan lagi penerapannya. Para Nabi dan Rasul tidak disyaratkan untuk menerapkan risalah yang diwahyukan kepadanya, hingga mereka layak disebut sebagai nabi dan rasul. Seseorang berhak disebut sebagai Rasul, jika Allah swt menurunkan wahyu kepada mereka, dan mereka diperintahkan untuk menyampaikannya. Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa 'slaihimussalam (salam atas mereka semuanya) termasuk nabi dan rasul, akan tetapi, mereka tidak mempunyai daerah kekuasaan dan tidak diperintahkan untuk menerapkan syariat yang telah diwahyukan kepada mereka. Mereka juga tidak diperintahkan untuk menduduki jabatan kekuasaan (kepala negara) yang wajib menerapkan syariat-syariat Allah swt yang diturunkan atas mereka. Para Nabi sebelum Nabi Muhammad RasuluLlah SAW adalah spiritual leaders yang mendapat wahyu.
        >
        > Nabi Muhammad RasuluLlah SAW adalah Nabi dan Rasul penutup
        > Bukanlah Muhammad itu bapak salah seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi [AL-AHZAB, 40]
        >
        > Nabi Muhammad saw selain memiliki tugas nubuwwah dan risalah (spiritual leader), beliau juga mempunyai wilayah kekuasaan dan memangku tugas kekuasaan (menjadi seorang kepala negara) yang menerapkan syariat yang telah diwahyukan kepadanya. Sebab, selain dibebani tugas nubuwwah dan risalah, Allah swt telah memerintahkan Rasulullah saw untuk mengatur seluruh urusan rakyat dalam sebuah wilayah kekuasaan dengan syariat Islam. Ini menunjukkan, bahwa Rasulullah saw juga menduduki jabatan kepala negara yang bertugas menerapkan syariat Allah swt. Allah swt menyatakan hal ini di dalam al-Quran.
        >
        > "dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. [AL-MAAIDAH, 49]
        >
        > "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu [AL-NISAA', 105]
        >
        > Ayat-ayat di atas menunjukkan dengan sangat jelas, ciri Nabi dan Rasul penutup, yaitu bahwa Rasulullah saw tidak hanya mengemban amanah nubuwwah dan tabligh risalah belaka, akan tetapi beliau juga mempunyai wilayah kekuasaaan dan diperintahkan untuk menerapkan syariat yang telah diwahyukan Allah kepadanya. Dalam hal risalah, beliau selalu menyampaikan apa yang telah diwahyukan kepada beliau saw kepada umat manusia, tanpa memperhatikan lagi penerimaan maupun penolakan manusia. Beliau saw tidak pernah kompromi dengan siapapun dalam urusan risalah. Ini ditunjukkan tatkala Rasulullah saw menolak seluruh anjuran para shahabat pada saat peristiwa perjanjian Hudaibiyyah. Beliau saw tetap bersikukuh dengan apa yang telah diwahyukan Allah swt kepada beliau.
        >
        > Berbeda dengan pemerintahan dan pengaturan urusan rakyat. Dalam lingkup semacam ini, beliau saw senantiasa bermusyawarah dengan para shahabat ra untuk memutuskan sejumlah perkara yang dihadapi oleh umat manusia. Lebih dari itu, kadang-kadang beliau saw menganulir pendapatnya sendiri dan mengikuti pendapat yang lebih tepat dan benar. Beliau saw pernah menganulir pendapatnya mengenai tempat pertahanan kaum muslim pada saat perang Badar, dan mengikuti pendapatnya Khubaib bin Mundzir. Beliau juga mengikuti pendapat mayoritas kaum muslim untuk pergi di luar kota Madinah untuk menyongsong musuh yang datang untuk menyerang Madinah , pada saat perang Uhud. Beliau juga mengadili urusan manusia berdasarkan hujjah masing-masing. Beliau saw tidak memutuskan urusan orang yang bersengketa berdasarkan wahyu yang diwahyukan kepada beliau.
        >
        > Ayat-ayat di atas menunjukkan ciri khas Nabi dan Rasul penutup, bahwa Rasulullah saw memegang jabatan nubuwwah, risalah, sekaligus kepala negara yang menerapkan syariat Allah swt yang telah diwahyukan kepada beliau saw di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
        >
        > Dalam melaksanakan jabatan-jabatan itu, Rasulullah saw menempuh cara yang berbeda-beda berdasarkan jabatan tersebut. Dalam lingkup kekuasaan dan pemerintahan, beliau saw mengambil bai'at atas kaum muslim berdasarkan keridlaan dan pilihan. Beliau saw hanya mengambil bai'at dari kaum laki-laki dan wanita yang sudah baligh, dan tidak mengambilnya dari anak-anak yang belum baligh. Ini menunjukkan, bahwa bai'at yang diambil Rasulullah saw bukanlah bai'at atas kenabian (nubuwwah) beliau, akan tetapi bai'at atas kekuasaan (bai'at al-hukm).
        >
        > Dari sini kita dapat menemukan, bahwa Allah swt tidak mencela Rasulullah saw dalam hal tabligh risalah, dan dalam melaksanakan tugas-tugas tabligh risalah. Allah swt hanya memerintahkan Rasulullah saw untuk tidak bersedih hati dan tergoncang atas penolakan manusia terhadap risalahnya. Sebab, tugas risalah hanyalah menyampaikan saja (tabligh). Tidak ada kewajiban bagi Rasulullah saw dalam hal risalah, kecuali sekadar menyampaikan saja. Hal ini telah dinyatakan dengan sangat jelas di dalam al-Quran. Allah swt berfirman:
        >
        > "Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan " [AL-NAHL, 127]
        >
        > Akan tetapi, Allah swt mencela Rasulullah saw tatkala beliau kurang tepat dalam melaksanakan tugas-tugas pemerintahan yang telah diperintahkan Allah swt berdasarkan nash yang telah turun kepada beliau sebelumnya. Misalnya, Allah telah mencela ketetapan Rasulullah saw yang kurang tepat dalam hal tawanan perang Badar. Allah swt berfirman:
        >
        > "Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. [AL-ANFAAL, 67]
        >
        > Kenyataan ini menunjukkan bahwa, jabatan kenabian berbeda dengan jabatan kepala pemerintahan (kekhilafahan).
        >
        > Walhasil, kekhilafahan yang didefinisikan sebagai kepemimpinan umum atas kaum muslim di kehidupan dunia, adalah tugas kemanusiaan, bukan tugas ketuhanan. Sebab, kekhilafahan adalah tugas pemerintahan (kekuasaan) yang telah diwariskan oleh Rasulullah saw kepada umat Islam. Tidak hanya itu saja, beliau saw juga memerintahkan kaum muslim untuk mengangkat seseorang dari mereka untuk meneruskan tugas tersebut melalui prosesi bai'at, yang secara kontekstualkekinian melalui Pemilu. Bila seseorang telah dibai'at oleh kaum muslim berdasarkan keridlaan dan pilihan, maka ia absah disebut khalifah yang akan menggantikan tugas Rasulullah saw dalam hal pemerintahan, bukan dalam hal nubuwwah dan risalah. Dengan kata lain, khalifah adalah pengganti Rasulullah saw dalam memimpin kaum muslim untuk menerapkan hukum-hukum Islam dan mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia; bukan pengganti Rasulullah dalam hal nubuwwah dan risalah.
        >
        > Tatkala beliau saw menjalankan tugas kepala negara dan pemerintahan, beliau "tidaklah maksum" (bisa salah). Sebab, beliau menjalankan tugas kepala negara dan pemerintahan dalam kapasitasnya sebagai manusia biasa, seperti manusia-manusia yang lain. Al-Quran telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa beliau saw adalah manusia biasa, tak ubahnya dengan manusia-manusia yang lain. Allah swt berfirman:
        >
        > "Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". [AL-KAHF, 110]
        >
        > Ayat di atas menjelaskan, bahwa Nabi saw adalah manusia biasa seperti halnya manusia-manusia yang lain. Namun, yang membedakan beliau saw dengan manusia yang lain adalah kenabian dan risalah. Di luar nubuwwah dan risalah, beliau tak ubahnya dengan manusia yang lain. Dengan demikian, dalam hal melaksanakan tugas-tugas pemerintahan, beliau saw tak ubahnya dengan manusia yang lain. Dengan ungkapan lain, beliau saw tidak maksum tatkala menjalankan aktivitas pemerintahan. Sebab, pemerintahan berbeda dengan nubuwwah dan risalah. Dari sini kita bisa menyimpulkan, bahwa orang yang mengganti tugas beliau saw dalam hal pemerintahan adalah manusia biasa dan tidak maksum. Sebab, ia hanya mengganti tugas Rasulullah saw dalam hal pemerintahan, bukan dalam hal nubuwwah dan risalah.
        >
        > ####################################################################
        >
      • Gani Kurnia
        Salam, Jangan bingung dengan definisi yg dikira-kira sendiri, definisi kata yang ada di al-Quran itu didapat dari sejarah pembentukan kitab itu sendiri, yaitu
        Message 3 of 4 , Jan 6, 2010
        • 0 Attachment
          Salam,

          Jangan bingung dengan definisi yg dikira-kira sendiri, definisi kata yang ada di al-Quran itu didapat dari sejarah pembentukan kitab itu sendiri, yaitu bahasa arab.

          Setiap Rasul adalah Nabi, tapi tidak semua Nabi adalah Rasul. Jadi tidak ada Rasul yang bukan Nabi. Nabi adalah himpunan lingkaran kecil dalam himpunan lingkaran besar rasul. Kesimpulannya jika tidak akan ada lagi nabi, ini lagi tidak akan ada lagi Rasul. Ini definisi yg benar, kalau tidak mengerti, berusaha mengerti. Kalau bertanya, tanyalah kepada yg benar2 mengerti, bukan asal ngerti. Jika malas mengerti berfikir, kesalahan ada pada diri anda.

          Silahkan jika ingin membuat definisi Rasul sendiri, sah-sah saja. Setiap Nabi memiliki Cap atau bukti kenabian, yaitu mukjizat dari Allah SWT, jangan harap jadi Nabi, jika ditagih mukjizat (bukan sulap ya) tidak dapat membuktikannya, itu bukan Nabi orang Islam.

          Mukjizat Nabi terbesar, berasal dari Nabi yang terkuat. Saat ini Nabi terkuat adalah Nabi Muhammad SAW. Mukjizat beliau adalah membelah bulan dengan sabetan tangan. Jika belum ada yg bisa mencapai bukti kenabian ini, ini berarti bukan nabi pengganti.


          2010/1/1 wnbaskara <19baskara@...>
           


          Terima kasih, pak H.M. Nur Abdurrahman, yang telah memberikan uraian panjang lebar. Semoga mendapat karuniaNya.

          Sedikit komentar saja dari saya, setelah membaca kutipan terjemahan QS Al-Ahzab 40:



          "Bukanlah Muhammad itu bapak salah seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi" [AL-AHZAB, 40]

          Menurut pemahaman bahasa Indonesia, terjemahan ayat di atas menyatakan dia (Muhammad) adalah penutup Nabi-nabi. Tetapi kalimat di atas tidak menyatakan (dia) Muhammad sebagai Rasulullah penutup.

          Anda sendiri memberikan uraian beda antara Rasul dan Nabi.
          Pemahaman saya setelah membaca uraian anda, dan kemudian menyimak kembali kutipan terjemahan QS 33:40, di atas, adalah:

          Muhammad (Saw) adalah seorang Rasul sekaligus juga seorang Nabi, dengan fungsi sebagai Rasul dan sebagai Nabi seperti yang telah anda uraikan.

          Makna Terjemah ayat Al-Azhab 40 adalah sebagai Nabi, Muhammad (s.a.w) adalah penutup Nabi-nabi. Muhammad (s.a.w) adalah juga seorang Rasulullah. Selain itu, tiada seorang pun laki-laki di antara kamu yang berayah Muhammad.

          Salam,


          --- In mayapadaprana@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman" <mnur.abdurrahman@...> wrote:
          >
          > ----- Original Message -----
          > From: leonardo rimba
          > To: undisclosed recipients:
          > Sent: Tuesday, December 29, 2009 07:35
          > Subject: [Mayapada Prana] Nabi Penutup
          >
          > Friends,
          >
          > Menurut pendapat saya penggunaan istilah 'nabi penutup' merupakan contoh pembodohan massal yg terakhir dan sempurna. Siapa yg mengatakan orang itu sebagai nabi penutup? Yg mengatakan adalah orang itu sendiri atau pengikutnya bukan? Pedahal masih banyak nabi-nabi lainnya. Setiap jaman dan masyarakat selalu mempunyai nabi-nabi yg terakhir. Kata 'terakhir' juga perlu dimengerti sebagai kiasan belaka.
          >
          > #############################################################################
          > HMNA:
          > Pembodohan ? Leolah yang bodoh !!! Tidak mengerti (bodoh) dikiranya Nabi Muhammad RasuluLlah SAW hanya sekadar spiritual leader.
          > Ingatlah, Sesungguhnya merekalah (termask Leo) orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu kebodohan mereka sendiri [S. AL-BAQARAH, 13]
          >
          > Nubuwwah dan Risalah adalah tugas yang hanya diserahkan Allah swt kepada Nabi dan Rasul melalui wahyu, agar keduanya disampaikan kepada umat manusia, tanpa memperhatikan lagi penerapannya. Para Nabi dan Rasul tidak disyaratkan untuk menerapkan risalah yang diwahyukan kepadanya, hingga mereka layak disebut sebagai nabi dan rasul. Seseorang berhak disebut sebagai Rasul, jika Allah swt menurunkan wahyu kepada mereka, dan mereka diperintahkan untuk menyampaikannya. Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa 'slaihimussalam (salam atas mereka semuanya) termasuk nabi dan rasul, akan tetapi, mereka tidak mempunyai daerah kekuasaan dan tidak diperintahkan untuk menerapkan syariat yang telah diwahyukan kepada mereka. Mereka juga tidak diperintahkan untuk menduduki jabatan kekuasaan (kepala negara) yang wajib menerapkan syariat-syariat Allah swt yang diturunkan atas mereka. Para Nabi sebelum Nabi Muhammad RasuluLlah SAW adalah spiritual leaders yang mendapat wahyu.
          >
          > Nabi Muhammad RasuluLlah SAW adalah Nabi dan Rasul penutup
          > Bukanlah Muhammad itu bapak salah seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi [AL-AHZAB, 40]
          >
          > Nabi Muhammad saw selain memiliki tugas nubuwwah dan risalah (spiritual leader), beliau juga mempunyai wilayah kekuasaan dan memangku tugas kekuasaan (menjadi seorang kepala negara) yang menerapkan syariat yang telah diwahyukan kepadanya. Sebab, selain dibebani tugas nubuwwah dan risalah, Allah swt telah memerintahkan Rasulullah saw untuk mengatur seluruh urusan rakyat dalam sebuah wilayah kekuasaan dengan syariat Islam. Ini menunjukkan, bahwa Rasulullah saw juga menduduki jabatan kepala negara yang bertugas menerapkan syariat Allah swt. Allah swt menyatakan hal ini di dalam al-Quran.
          >
          > "dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. [AL-MAAIDAH, 49]
          >
          > "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu [AL-NISAA', 105]
          >
          > Ayat-ayat di atas menunjukkan dengan sangat jelas, ciri Nabi dan Rasul penutup, yaitu bahwa Rasulullah saw tidak hanya mengemban amanah nubuwwah dan tabligh risalah belaka, akan tetapi beliau juga mempunyai wilayah kekuasaaan dan diperintahkan untuk menerapkan syariat yang telah diwahyukan Allah kepadanya. Dalam hal risalah, beliau selalu menyampaikan apa yang telah diwahyukan kepada beliau saw kepada umat manusia, tanpa memperhatikan lagi penerimaan maupun penolakan manusia. Beliau saw tidak pernah kompromi dengan siapapun dalam urusan risalah. Ini ditunjukkan tatkala Rasulullah saw menolak seluruh anjuran para shahabat pada saat peristiwa perjanjian Hudaibiyyah. Beliau saw tetap bersikukuh dengan apa yang telah diwahyukan Allah swt kepada beliau.
          >
          > Berbeda dengan pemerintahan dan pengaturan urusan rakyat. Dalam lingkup semacam ini, beliau saw senantiasa bermusyawarah dengan para shahabat ra untuk memutuskan sejumlah perkara yang dihadapi oleh umat manusia. Lebih dari itu, kadang-kadang beliau saw menganulir pendapatnya sendiri dan mengikuti pendapat yang lebih tepat dan benar. Beliau saw pernah menganulir pendapatnya mengenai tempat pertahanan kaum muslim pada saat perang Badar, dan mengikuti pendapatnya Khubaib bin Mundzir. Beliau juga mengikuti pendapat mayoritas kaum muslim untuk pergi di luar kota Madinah untuk menyongsong musuh yang datang untuk menyerang Madinah , pada saat perang Uhud. Beliau juga mengadili urusan manusia berdasarkan hujjah masing-masing. Beliau saw tidak memutuskan urusan orang yang bersengketa berdasarkan wahyu yang diwahyukan kepada beliau.
          >
          > Ayat-ayat di atas menunjukkan ciri khas Nabi dan Rasul penutup, bahwa Rasulullah saw memegang jabatan nubuwwah, risalah, sekaligus kepala negara yang menerapkan syariat Allah swt yang telah diwahyukan kepada beliau saw di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
          >
          > Dalam melaksanakan jabatan-jabatan itu, Rasulullah saw menempuh cara yang berbeda-beda berdasarkan jabatan tersebut. Dalam lingkup kekuasaan dan pemerintahan, beliau saw mengambil bai'at atas kaum muslim berdasarkan keridlaan dan pilihan. Beliau saw hanya mengambil bai'at dari kaum laki-laki dan wanita yang sudah baligh, dan tidak mengambilnya dari anak-anak yang belum baligh. Ini menunjukkan, bahwa bai'at yang diambil Rasulullah saw bukanlah bai'at atas kenabian (nubuwwah) beliau, akan tetapi bai'at atas kekuasaan (bai'at al-hukm).
          >
          > Dari sini kita dapat menemukan, bahwa Allah swt tidak mencela Rasulullah saw dalam hal tabligh risalah, dan dalam melaksanakan tugas-tugas tabligh risalah. Allah swt hanya memerintahkan Rasulullah saw untuk tidak bersedih hati dan tergoncang atas penolakan manusia terhadap risalahnya. Sebab, tugas risalah hanyalah menyampaikan saja (tabligh). Tidak ada kewajiban bagi Rasulullah saw dalam hal risalah, kecuali sekadar menyampaikan saja. Hal ini telah dinyatakan dengan sangat jelas di dalam al-Quran. Allah swt berfirman:
          >
          > "Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan " [AL-NAHL, 127]
          >
          > Akan tetapi, Allah swt mencela Rasulullah saw tatkala beliau kurang tepat dalam melaksanakan tugas-tugas pemerintahan yang telah diperintahkan Allah swt berdasarkan nash yang telah turun kepada beliau sebelumnya. Misalnya, Allah telah mencela ketetapan Rasulullah saw yang kurang tepat dalam hal tawanan perang Badar. Allah swt berfirman:
          >
          > "Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. [AL-ANFAAL, 67]
          >
          > Kenyataan ini menunjukkan bahwa, jabatan kenabian berbeda dengan jabatan kepala pemerintahan (kekhilafahan).
          >
          > Walhasil, kekhilafahan yang didefinisikan sebagai kepemimpinan umum atas kaum muslim di kehidupan dunia, adalah tugas kemanusiaan, bukan tugas ketuhanan. Sebab, kekhilafahan adalah tugas pemerintahan (kekuasaan) yang telah diwariskan oleh Rasulullah saw kepada umat Islam. Tidak hanya itu saja, beliau saw juga memerintahkan kaum muslim untuk mengangkat seseorang dari mereka untuk meneruskan tugas tersebut melalui prosesi bai'at, yang secara kontekstualkekinian melalui Pemilu. Bila seseorang telah dibai'at oleh kaum muslim berdasarkan keridlaan dan pilihan, maka ia absah disebut khalifah yang akan menggantikan tugas Rasulullah saw dalam hal pemerintahan, bukan dalam hal nubuwwah dan risalah. Dengan kata lain, khalifah adalah pengganti Rasulullah saw dalam memimpin kaum muslim untuk menerapkan hukum-hukum Islam dan mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia; bukan pengganti Rasulullah dalam hal nubuwwah dan risalah.
          >
          > Tatkala beliau saw menjalankan tugas kepala negara dan pemerintahan, beliau "tidaklah maksum" (bisa salah). Sebab, beliau menjalankan tugas kepala negara dan pemerintahan dalam kapasitasnya sebagai manusia biasa, seperti manusia-manusia yang lain. Al-Quran telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa beliau saw adalah manusia biasa, tak ubahnya dengan manusia-manusia yang lain. Allah swt berfirman:
          >
          > "Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". [AL-KAHF, 110]
          >
          > Ayat di atas menjelaskan, bahwa Nabi saw adalah manusia biasa seperti halnya manusia-manusia yang lain. Namun, yang membedakan beliau saw dengan manusia yang lain adalah kenabian dan risalah. Di luar nubuwwah dan risalah, beliau tak ubahnya dengan manusia yang lain. Dengan demikian, dalam hal melaksanakan tugas-tugas pemerintahan, beliau saw tak ubahnya dengan manusia yang lain. Dengan ungkapan lain, beliau saw tidak maksum tatkala menjalankan aktivitas pemerintahan. Sebab, pemerintahan berbeda dengan nubuwwah dan risalah. Dari sini kita bisa menyimpulkan, bahwa orang yang mengganti tugas beliau saw dalam hal pemerintahan adalah manusia biasa dan tidak maksum. Sebab, ia hanya mengganti tugas Rasulullah saw dalam hal pemerintahan, bukan dalam hal nubuwwah dan risalah.
          >
          > ####################################################################
          >


        • Iwan Baskara
          Salam, bung Gani. Terima kasih atas usaha anda menanggapi tulisan saya. Semoga anda selalu mendapatkan RahmatNya. Ya, saya sedang dalam proses belajar, belajar
          Message 4 of 4 , Jan 7, 2010
          • 0 Attachment
            Salam, bung Gani.

            Terima kasih atas usaha anda menanggapi tulisan saya. Semoga anda selalu mendapatkan RahmatNya.

            Ya, saya sedang dalam proses belajar, belajar memahami Al-Quran.
            Saya memang belum menguasai bahasa Arab yang digunakan dalam teks Arab Al-Quran. Oleh karena itu, semua pemahaman saya mengenai Al-Quran, saya dapatkan dari membaca terjemahan dalam bahasa Indonesia dan Inggris, serta dari bimbingan Allah dalam usaha saya memahami terjemahan-terjemahan itu.
            Bila pemahaman saya benar, itu semua berasal dariNya, dan bila ada pemahaman saya yang salah, itu semata karena keterbatasan saya.

            Perkenankan saya mempertanggungjawabkan apa-apa yang saya tulis dalam email saya terdahulu:

            1. Dalam tulisan saya terdahulu, saya tidak membuat definisi tentang Rasul.
            2. Saya hanya menyampaikan pendapat, bahwa Rasul dan Nabi adalah dua hal yang berbeda. Pendapat saya itu berdasarkan pemahaman saya setelah  saya membaca terjemah berikut ini, selain terjemah (33:40):

            Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula)
            seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (22:52)

            "We did not send before you any MESSENGER NOR A PROPHET, without
            having the devil interfere in his wishes. GOD then nullifies what the devil has done. GOD perfects His revelations. GOD is Omniscient, Most Wise." 
            22:52

            3. Dari terjemah ayat-ayat Al-Quran, kita dapat mengetahui bahwa kepada Nabi selalu diberikan Kitab. Silakan periksa beberapa kutipan dari terjemahan ayat-ayat yang pernah saya baca:

            Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka
            Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah
            menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan
            di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.

            (2:213)

            Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya".
            (3:81)

            Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmat dan
            kenabian. (6:89)


            Masih ada lagi terjemahan ayat-ayat lainnya, a.l. (29:27),(57:26), (45:16), yang menyebutkan bahwa Nabi selalu membawa Kitab. Bila bung Gani ada waktu luang, silakan periksa ayat-ayat di atas.

            4. Dari terjemah Al-Quran yang pernah saya baca, nama Kitab yang disebutkan dalam Al-Quran adalah Taurat, Injil, dan Al-Quran.

            5. Berapa jumlah Rasul? Tidak disebutkan dalam Al-Quran berapa jumlah persisnya. Yang jelas, jumlahnya sangat banyak. Silakan periksa kutipan dari terjemahan ayat-ayat berikut:

            Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya.
            (10:47)

            Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (16:36)

            Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (4:164)

            6. Menurut pemahaman saya, kesimpulan saya setelah membaca terjemahan ayat-ayat itu adalah:
            Setiap Nabi pasti lah Rasul, tapi tidak semua Rasul adalah Nabi.
            Jumlah Rasul banyak sekali, hanya beberapa saja dari Rasul-rasul itu yang diberikan Kitab.
            (Kesimpulan saya ini mungkin berbeda dengan kesimpulan banyak orang, tetapi hal itu tidak menjadi masalah buat saya).

            7. Sekian pertanggungjawaban saya atas tulisan saya terdahulu. Bila bung Gani masih menganggap pemahaman saya salah, silakan, tidak jadi masalah buat saya.

            8. Kebenaran ada pada Allah.

            Salam,

          Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.