Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Arriviste Power, Indonesia 2020-an

Expand Messages
  • si Brewok [0_-]
    Arriviste Power, Indonesia 2020-an Victor Hugo, Tidak ada hal berharga daripada sebuah mimpi menciptakan masa depan. Bila kau bisa membayangkan, kau bisa
    Message 1 of 1 , Apr 30, 2009
    • 0 Attachment
      Arriviste Power, Indonesia 2020-an


      Victor Hugo, "Tidak ada hal berharga daripada sebuah mimpi menciptakan masa depan."
      "Bila kau bisa membayangkan, kau bisa mencapainya. Bila kau bisa mengimpikannya, kau bisa menjadi itu," kata William Arthur Ward.

      ***
      Menarik sekali membaca hasil penelaahan National Intelligence Council (NIC) ---sebuah lembaga intelijen Amerika Serikat yang sangat kredibel---, yang hasil telaahannya seringkali menjadi rujukan pelbagai departemen luar negeri seluruh dunia. Di tahun 2020, dikatakan dalam Mapping the Global Future 2020, NIC jelas-jelas menyebut Indonesia bersama China, India, dan Brasil akan menjadi arriviste power (kekuatan mendatang). Tentu saja, keempatnya menjadi penantang hegemoni AS. Empat negara ini akan sangat mempengaruhi warna perkembangan dunia. Di tahun itu kira-kira penduduk Indonesia 280 juta jiwa dengan pendapatan perkapita yang amat diperhitungkan.

      Namun pertanyaanya kini adalah, siapkah bangsa kita mengambil peran sebagai sebuah bangsa yang mampu mewarnai peradaban dunia, seperti disinyalir dalam telaahan NIC tersebut? Terhadap pertanyaan ini nampaknya kita harus jujur pada diri sendiri bahwa kita memang belum siap untuk peran besar seperti itu. Selama ini energi bangsa kita disia-siakan untuk hal-hal yang tidak menunjang mewujudnya bangsa yang besar seperti dimimpikan Bung Karno dan founding fathers di masa lampau. Sebagai sebuah bangsa yang mampu duduk sejajar sepadan dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan global.

      Lalu apa yang membuat Indonesia sebagai salah satu kekuatan menentukan di masa depan. NIC tidak memberikan alasan detil. Ketika di halaman 9 ada pernyataan bahwa ekonomi Indonesia dapat mendekati ekonomi negara-negara Eropa pada 2020, pernyataan itu berhenti di situ saja.
      Meski begitu, ada satu hasil kajian lain yang bisa digunakan untuk melengkapi laporan NIC itu. Hasil workshop dua hari yang diselenggarakan bipartisan Rand Corporation dan Strategic Assessment Group (SAG, salah satu unit CIA) dirangkum oleh Gregory F. Treverton dan Seth G. Jones dalam judul Measuring National Power (2005).
      Dalam kajian itu, SAG merumuskan empat kapabilitas utama yang menunjang kekuatan nasional: pendapatan nasional bruto (GDP/Gross Domestic Product), jumlah penduduk, anggaran pertahanan, dan inovasi teknologi. Dalam estimasi SAG, dengan empat hal inilah, AS memegang 20 persen kekuatan global. Uni Eropa dan China sama-sama mempunyai 14 persen. India dapat 9 persen. Masing-masing Brasil, Korea Selatan, dan Russia menguasai 2 persen.
      Peneliti dari Rand memberi rumusan sedikit berbeda. Kekuatan nasional ditopang oleh tiga hal. Pertama, sumber daya alam. Kedua, performa nasional. Terakhir, kapabilitas militer.
      Jika memperhatikan pendapat SAG dan Rand, maka negeri ini memiliki kekuatan gratis (taken for granted) yaitu jumlah penduduk yang besar dan sumber daya alam yang melimpah. Terakhir yang menopang kekuatan nasional adalah kapabilitas militer, pertahanan militer, dan tambahan saya adalah pertahanan non-militer, yaitu pertahanan budaya menjadi sangat penting bagi Indonesia.

      Catatan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebutkan bahwa negara terkaya sumberdaya alamnya di dunia adalah Brazil dan Indonesia. Kalau diperbandingkan dengan Brazil, maka Indonesia bisa dikatakan lebih kaya dari Brazil. Namun dengan ilmu pengetahuan dan perangkat teknologi kita yang tertinggal jauh di belakang, kita tidak mampu menginventarisir, merawat dan memanfaatkan secara bijak kekayaan alam dan sumber hayati yang melimpah tersebut. Akibatnya bangsa ini menghadapi krisis ekonomi yang berkepanjangan di atas tanah yang kaya ini.


      Bung Karno pada 17 Agustus 1963 mengatakan," Kalau bangsa-bangsa yang hidup di padang pasir yang kering dan tandus bisa memecahkan persoalan ekonominya kenapa kita tidak? Kenapa tidak? Coba pikirkan…". Selanjutnya NIC memprediksi situasi dunia 2020an mendatang,..."Unprecedented economic growth, coupled with 1.5 billion more people, will put pressure on resources—particularly energy, food, and water—raising the specter of scarcities emerging as demand outstrips supply. The potential for conflict will increase owing partly to political turbulence in parts of the greater Middle East...".

      Timur Tengah, terutama Arab Saudi dengan minyaknya yang melimpah selama ini bertahan hidup dari situ, dan karena minyak akan segera habis sekarang negara-negara kaya petrodollar ini dihadapkan pada isu krisis pangan dan air yang berpeluang terjadinya kerusuhan sosial di masa depan. Mereka harus mencari sumber makanan dan air di tempat-tempat lain untuk bisa terus bertahan hidup. Neo kapitalisme dan neo imperialisme segera menemukan babak baru di dunia kita. Dengan memanfaatkan dana yang besar itu mereka mulai menancapkan dominasinya terhadap bangsa-bangsa terbelakang seperti Indonesia.

      Barangkali sebagian besar orang belum memiliki cukup intelejensia dalam membaca situasi ini. Atau meminjam istilah Prof. Jeffrey Winters dari Universitas Northwestern Amerika Serikat mengkritik kita lewat sebuah program televisi di sini yang mengatakan bahwa Indonesia is a nation without sense of urgency. Kita, orang Indonesia, kurang rasa keterdesakan. Ironis, di tengah krisis finansial dan mob kaum neo kapitalis dan neo imperialis yang kelaparan dan hendak mendominasi budaya bangsa ini dengan topeng agama, justru kita sibuk dengan pemilu dan pilpres yang hanya menguntungkan para elit politik saja.

      Darimana sumber dana penyelenggaraan pemilu tersebut barangkali tidak pernah terbersit dalam benak. Menaikkan pajak tidak selamanya bisa berhasil, karena akan berhadapan dengan resistensi para pembayar pajak. Entah, saya tidak tahu mungkin kita tak peka dan mulai menerima kucuran dana dari neo kapitalis dan neo imperialis itu yang dengan senang hati "menolong" tapi dengan syarat partai yang mendukungnya yang harus menang. Sungguh sebuah masa yang sangat berbahaya.
      Menyoal pajak tadi, seharusnya negara tidak membebani para pembayar pajak. Bagaimana menarik pajak orang dapat belajar dari matahari, bagaimana ia menarik air dari air laut. Dengan suka cita laut pun bersedia ditarik airnya. Karena ia yakin air itu kemudian akan manfaat, dikembalikan dalam bentuk hujan yang mengairi sawah, sungai dan sumur-sumur serta sebagian kembali ke laut.
      Tetapi apa lacur, pajak yang seharusnya bermanfaat bagi pembiayaan kepentingan umum yang lebih mendesak, bagi bangunan-bangunan sekolah yang roboh, pelayanan kesehatan, penyediaan lapangan kerja dsb malah dihamburkan untuk membiayai misalnya pembuatan undang-undang porno yang tidak populis dan tidak berpihak kepada rakyat. Uang rakyat disia-siakan untuk membiayai mereka yang telah dipilih rakyat itu melancong keluar negeri hanya untuk membela orang semacam Omar al-Bashir yang telah melakukan kejahatan kemanusiaan.

      Negara telah sedemikian tidak mengindahkan pentingnya kepatuhan hukum dalam masyarakat dan juga ketertiban dan kepastian hukum dengan terus-menerus mengamini setiap tuntutan para radikal. Sikap negara yang melemah seperti itu memberi angin segar dan energi baru bagi para radikal yang berakibat fatal bagi kelangsungan bangsa ini. Energi bangsa ini terus terbuang dengan adanya benturan-benturan ideologis yang semakin meruyak ke permukaan.

      Pemerintah seharusnya menindak tegas terhadap setiap warga negara yang menyalurkan aspirasi secara tidak santun. Benturan-benturan ideologis akibat khotbah-khotbah panas dari para ulama kompor semakin mementahkan integrasi nasional yang hendak dibangun. Tuntutan-tuntutan mereka yang kemudian diakomodir dalam peraturan dan undang-undang menyebabkan separatisme semakin mencuat. Jika demikian, negara ini akan terpecah-belah berdasarkan agama dan kepercayaan. Menurut intektual muslim, Abd Moqsith Ghazali dengan sedikit berimprovisasi terhadap hadis Nabi, "sungguh takkan pernah bahagia sebuah bangsa yang menyerahkan segala urusannya kepada ulama kompor". Lan yufliha qawmun wallaw amrahum ulamâ` al-su`.


      Kekuatan militer untuk melindungi 17 ribu pulau dan 71 ribu desa memang diperlukan, tetapi orang butuh "rasa", pendekatan budaya untuk mempersatukan seluruh elemen bangsa, agar kita bisa mengambil peran dan posisi yang penting dalam menghadapi perkembangan dunia yang semakin kompleks. Dengan hanya mengandalkan kekuatan militer terbukti Majapahit gagal mempersatukan Nusantara di masa lampau. Begitu militer melemah dan mengalah, Timor Timur (sekarang Timor Leste) memisahkan diri dari Indonesia, dan Aceh kebablasan dengan dualisme hukumnya.

      Setiap negara bangsa itu memerlukan landasan filosofis, weltanschauung untuk berbangsa. Dan atas dasar landasan filosofis yang telah disepakati inilah, berlandaskan Pancasila kita menyusun visi, misi dan program pembangunan negara. Tanpa landasan Pancasila, tanpa landasan budaya, tanpa "rasa", negara kita terombang-ambing tanpa arah. Masa ini adalah masa "resurgence" Pancasila, ketika pada rezim yang lalu adalah masa kemundurannya. Ideologi tak pernah mati dan mesti disempurnakan terus-menerus dan itu tugas kita semua untuk mengukuhkannya. Segala produk hukum yang bertentangan dengan Pancasila, harus ditolak. Bukan untuk melanggengkan kekuasaan, melainkan untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyat sehingga terwujud integrasi nasional yang mantap.

      Untuk menjadi kekuatan dunia seperti dibilang NIC tersebut, maka integrasi nasional amat diperlukan. Setiap pelaku gerakan radikal yang berpotensi memecahbelah bangsa harus dikenakan sanksi hukum yang nyata dan membuat jera pelakunya serta menggugah semacam kengerian bagi mereka yang hendak melakukannya. Untuk bisa membangun dengan tenang dan segenap energi bangsa bisa tercurahkan padanya secara maksimal, maka setiap warga negara harus mendapatkan rasa aman. Jika negara aman, para investor pun akan nyaman bertandang, dan ekonomi nasional pun akan membaik. Itulah tugas negara untuk mewujudkan situasi aman di setiap jengkal tanah ini. Juga tugas kita semua pastinya. []


      Arief Rahman
      30 April 2009

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.