Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

BERI JALAN ORANG CINA

Expand Messages
  • Eddy Tg
    BERI JALAN ORANG CINA   Subject: Dari Gus Dur 19 tahun lalu  Interesting and still actual article dr 19 taon yg lalu. Pasti banyak yang pernah baca artikel
    Message 1 of 1 , Feb 2, 2009
    • 0 Attachment

      BERI JALAN ORANG CINA

       

      Subject: Dari Gus Dur 19 tahun lalu
       Interesting and still actual article dr 19 taon yg lalu.

      Pasti banyak yang pernah baca artikel ini :-),

      nah artikel ini saya simpen terus, tapi boleh baca lagi....sebab masih aktual dan masih berlangsung kejadiannya !


       Judul: BERI JALAN ORANG CINA
       Penulis: Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
       Sumber: Editor, 21 April 1990

       Jadi orang Cina di negeri ini, di masa ini pula,  memang serba salah.
      Walaupun sudah ganti nama, masih juga  ditanyakn 'nama asli'nya kalau
      mendaftarkan anak ke sekolah atau jika membuat paspor. Mungkin, karena
      memang nama yang digunakan terasa tidak pas bagi orang lain, seperti
      nama Nagaria. Biasanya naga menggambarkan kemarahan dan keganasan.
      Apakah si naga yang riang gembira ini tertawa-tawa? Hartadinata,terasa  lucu,

      karena tidak klop antara kekayaan dan keanggunan jabatan, antara harta dan nata.

      Ternyata bukan hanya karena nama baru orang-orang Cina terasa tidak
      sreg di telinga orang lain. Tetapi karena keputusan politik, untuk
      membedakan orang Cina dari pribumi. Memang tidak ada peraturan
      tertulis, melainkan dalam bentuk kesepakatan memperlakukan orang
      Cina tersendiri. Mengapa? Karena mereka kuat, punya kemampuan
      terlebih,  sehingga dikhawatirkan akan meninggalkan suku-suku bangsa lainnya.
      Apalagi mereka terkenal dalam hal kewiraswastaan.Kombinasi kemampuan

      finansial yang kuat, dan kemampuan lain yang juga tinggi, dikhawatirkan  akan

      membuat mereka jauh melebihi orang lain dalam waktu singkat.

      Secara terasa, 'kesepakatan' meluas itu akhirnya mengambil bentuk
      pembatasan bagi ruang gerak orang Cina. Mau jadi tentara? Boleh masuk
      AKABRI, lulus jadi perwira. Tetapi harus siap menerima kenyataan,
      tidak  akan dapat naik pangkat lebih dari kolonel.
      Mau jadi dokter? Silakan, namun jangan mimpi dapat meniti karier hingga
      menjadi kepala rumah sakit umum. Mau masuk dunia politik? Bagus,
      tetapi jangan menduduki jabatan kunci. Di birokrasi? Jadi pejabat urusan teknis
      sajalah, jangan jadi eselon satu. Apalagi jadi menteri.

      Sialnya lagi, 'jalan buntu' itu ternyata tidak membawakan alternatif
      yang memuaskan. Jalan terbuka satu-satunya adalah mencari uang. Dan
      itu sesuai pula dengan kecenderungan sosiologis mereka sejak masa
      lampau, karena di masa kolonial pun mereka hanya boleh cari uang.
      Usaha berhasil, uang masuk berlimpah-limpah,  kekayaan makin bertambah.
      Celakanya, justru karena itu mereka disalahkan  pula: penyebab
      kesenjangan sosial. Akumulasi modal dan bertambahnya kekayaan ternyata
      tidak membawa keberuntungan.

      Cara mereka menggunakan uang dinilai sebagai penyebab kecenderungan
      hedonistik di kalangan generasi muda kita, padahal permasalahannya
      sangat kompleks. Kekayaan mereka dianggap diperoleh melalui pengisapan
      si kecil, padahal orang Cina hanyalah satu saja dari sekian banyak
      faktor kemiskinan. Dengan kata lain, orang Cina dipersalahkan bagi
      kebanyakan hal yang dirasakan tidak benar dalam kehidupan kita.

      Salah satu hukum kehidupan masyarakat adalah pentingnya kemampuan
      bertahan. Potensi untuk survive ini dimiliki orang Cina, di mana pun
      mereka berada. Dan potensi itu diwujudkan di negeri kita oleh mereka,
      dengan memanfaatkan satu-satunya 'jalur kolektif' yang masih terbuka:
      bidang ekonomi. Segala tenaga dan daya dicurahkan untuk mencari
      kekayaan. Perkecualiannya hanyalah sedikit orang Cina yang menjadi
      intelektual, akademisi, tenaga profesi, politisi dan sebagainya.

      Kemampuan bertahan demikian tinggi bila dimampatkan ke dalam sebuah
      'sasaran kolektif' mencari kekayaan, sudah tentu sangat besar
      hasilnya. Apa pula dibantu oleh kemudahan disegenap faktor produksi
      dan sektor usaha. Karenanya wajar-wajar saja bila mereka berhasil,
      tidak perlu dikembalikan kepada sifat serakah, atau direferensikan
      kepada rujukan akan licin dan sejenisnya. Bahwa banyak sekali orang
      Cina melakukan hal-hal seperti itu, tetapi tentunya tidak dapat
      dianggap sebagai watak rasial atau sifat etnis dari orang Cina. Orang
      lain juga berbuat sama.

      Dengan demikian, persoalannya bukanlah bagaimana orang Cina itu bisa
      dibuktikan bersalah, melainkan bagaimana mereka dapat ditarik ke dalam
      alur umum (mainstream) kehidupan bangsa. Bagaimana kepada mereka
      dapat diberikan perlakuan yuang benar-benar sama di segala bidang
      kehidupan. Tanpa perlu ditakutkan bahwa sikap seperti itu akan
      memperkokoh 'posisi kolektif' mereka dalam kehidupan bangsa, karena
      hal-hal seperti itu dalam jangka panjang ternyata hanyalah sesuatu
      yang berupa mitos belaka. Keperkasaan orang putih ternyata dapat
      disaingi oleh keperkasaan orang hitam di  Amerika Serikat. Orang Melayu
      di Singapura juga menyimpan kemampuan sama maju dengan orang Cina,
      seperti semakin banyak terbukti saat ini.


      Begitu pula bangsa-bangsa lain, baik yang menjadi minoritas maupun
      mayoritas. Tesis pokoknya di sini adalah: dapatkah kelebihan kekayaan orang
      Cina dimanfaatkan bagi usaha lebih memeratakan lagi tingkat pendapatan
      segala lapisan masyarakat bangsa kita di masa depan? Jawabnya,
      menurut penulis, adalah positif. Orang Cina, sebagaimana orang-orang lain juga, dapat
      di-appeal untuk berkorban bagi kepentingan masa depan bangsa dan negara.

      Tentu dengan tetap menghormati hal-hal mendasar yang mereka yakini, seperti kesucian hak-milik dari
      campur-tangan orang lain.

      Pemindahan kekayaan secara masif bukanlah barang baru bagi orang Cina,
      karena mereka pun baru saja melakukan hal itu, dalam bentuk merampungkan upaya akumulasi modal yang bukan
      main besarnya. Salah satu  instink untuk tetap bertahan hidup bagi orang Cina adalah realisme
      sangat besar yang mereka miliki. Akal mereka akan mendiktekan keputusan pemindahan kekayaan secara masif
      kepada mereka yang lebih lemah, dalam upaya mendukung pihak lemah itu agar juga menjadi kuat.
      Tetapi itu semua harus dilakukan dengan menghormati kesucian hak-milik mereka, bukan dengan cara paksaan atau
      keroyokan.
      Kalau begitu duduk perkaranya, jelas akses orang Cina kepada semua
      bidang kehidupan harus dibuka, tanpa pembatasan apa pun. Kalau sekarang ada tiga orang Arab menjadi menteri,
      tanpa ada pertanyaan atau kaitan apa pun dengan asal-usul etnis atau rasial mereka, hal yang sama juga harus diberlakukan bagi orang Cina kepada semua bidang kehidupan harus dibuka, tanpa pembatasan apa pun.


      Kalau prestasi para dokter orang Cina sama baiknya dengan yang lain-lain, mereka pun
      berhak menjadi kepala rumah sakit umum. Begitu juga menjadi jenderal,dan demikian seterusnya.

      Cerita gurau yang luas beredar menyebutkan perbedaan orang Jawa dari orang Cina. Orang Jawa, kata cerita itu, akan
      senantiasa menanyakan kesehatan kita kalau bertemu: "Sampean waras?"
      Bagi orang Jawa yang mudah masuk angin dan sebagainya, kesehatan adalah perhatian utama.
      Ini berbeda dengan orang Cina. Kalau berjumpa dengan orang lain, pertanyaan yang diajukan: "Sampean apa sudah
      cia?" alias apakah sudah makan atau belum. Mengapa? Karena mereka dahulu
      datang kemari akibat bahaya kelaparan di daratan Cina, negeri asal mereka.

      "Keanehan" seperti itu adalah karakteristik etnis, yang tidak boleh mengganggu keserasiah hidup sebuah bangsa.
      Apalagi bagi bangsa yang pada dasarnya sudah sangat heterogen, seperti bangsa kita. Kita sudah harus dapat melihat karakteristik khusus orang Cina seperti juga 'keanehan' suku-suku bangsa kita yang lain. Ini berarti kita harus mengubah cara pandang kita kepada orang Cina. Mereka harus dipandang sebagai unit etnis. Bukan unit rasial.

      Kalau kita bisa menerima kehadiran orang Flores , Maluku dan Irian sebagai satuan etnis - padahal mereka bukan
      dari stok Melayu (karena stok mereka adalah Astromelanesia), maka secara jujur kita harus melakukan hal yang sama kepada stok Cina. Juga stok Arab. Mereka bukan orang luar, melainkan kita-kita juga.

      Mudah dikatakan tapi sulit dilakukan. Itulah reaksi pertama pada ajakan "menyatukan dengan orang Cina". Akan
      banyak alasan dikemukakan dan argumentasi diajukan. Karena, memang, dalam diri kita telah ada keengganan mendasar untuk menerima kehadiran orang Cina sebagai "orang sendiri". Kita sudah terbiasa mau menerima uang mereka tanpa merasakan kehadiran mereka. Boleh saja keengganan bahkan ketakutan seperti itu kita beri sofistikasi sangat canggih. Tetapi, ia tetap saja merupakan keengganan dan ketakutan. Sesuatu yang irasional.


      Justru itulah yang harus kita perangi, kita jauhi sejauh mungkin. Mengapakah hal itu
      menjadi keharusan? Karena hanya dengan perlakuan wajar, jujur dan fair dari kita sebagai bangsa kepada orang Cina sajalah yang dapat mendorong timbulnya rasa berkewajiban berbagi kekayaan dan nasib antara mereka dan pengusaha kecil kita. Ini kalau kita benar-benar jujur, lain halnya kalau tidak....


      Kalau dilihat seperti contoh negara2  Singapore, Malaysia, Muangthai dll banyak menteri2nya Cina, ini termasuk negara besar, lebih besar dari negara Indonesia (Kesejahteraan, kemakmuran rakyatnya) walaupun Indonesia menang luas, menang besarnya jumlah penduduk dan menang besar sumber kekayaan alamnya tapi menang besar juga kemiskinannya ! Menteri2 dan pejabat2 pemerintah di Indonesia yg Cina, mungkin hanya  Ibu Marie Pengestu, yg lainnya masih "MISCUT" mungkin dianggap mengandung virus penyakit "Sakit Kuning"! Aneh bin nyata..!


      Comments :

      Mungkin kurang banyak pemikir2 Bisnis yg berintergeritas dan kredibilitas tinggi ! Sehingga daya saing keluar (export) menjadi kendor alias MELEMPEM !

      Atau karena virus penyakit "Sakit Kuning" itu ????? Wallahualam bi shawab.........



       


    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.