Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Seri 203 dan Seri 205 diposting bersama karena berkaitan

Expand Messages
  • H. M. Nur Abdurrahman
    Syari at Islam yang bermuatan: aqidah (pokok keimanan), jalannya hukum dan akhlaq, meliputi cakrawala yang luas, yaitu petunjuk untuk mengatur baik kehidupan
    Message 1 of 2 , Dec 31, 2008
    • 0 Attachment
      Syari'at Islam yang bermuatan: aqidah (pokok keimanan), jalannya hukum dan akhlaq, meliputi cakrawala yang luas, yaitu petunjuk untuk mengatur baik kehidupan nafsi-nafsi (individu), maupun  kehidupan kolektif dengan substansi yang  bervariasi seperti  keimanan,  ibadah ritual (spiritualisme),  karakter  perorangan,  akhlaq individu dan kolektif, kebiasaan manusiawi, ibadah non-ritual seperti: hubungan keluarga, kehidupan sosial politik ekonomi, administrasi, teknologi serta pengelolaan lingkungan, hak dan kewajiban warga-negara, dan terakhir yang tak kurang pentingnya yaitu sistem hukum yang teridiri atas komponen-komponen: substansi aturan-aturan perdata-pidana, damai-perang, nasional-internasional, pranata subsistem peradilan dan apresiasi hukum  serta rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat yang berakhlaq.
       
      Semua substansi yang disebutkan itu bahasannya ada dalam Serial Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu.  Maksudnya Wahyu memayungi akal , dan Iman memayungi ilmu.
       
      one liner  Seri 203
      insya-Allah akan diposting hingga no.800
      no.terakhir 856
       
      ********************************************************************
       
       

      BIAMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
       
      WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
      [Kolom Tetap Harian Fajar]
      203. Burung dan Semut
       
      Syahdan, tersebutlah konon Nabi Sulaiman AS ingin berangin-angin dalam tamannya. Tatkala beliau baru saja akan melangkahkan kakinya di ambang pintu, beliau tertegun sejenak. Di atas bubungan tangga istana terdengar olehnya dua ekor burung sedang bersilat kata. Dua ekor burung, burung besar (BB) dan burung kecil (BK). Inilah silat kata yang sempat terdengar oleh Nabi Sulaiman AS di ambang pintu.
       
      BB: Kasihan badanmu sekecil itu.
      BK: Kecil-kecil cabai rawit, biar kecil sangat pedasnya.
      BB: Hei, burung bukan cabai.
      BK: Perlihatkan kekuatanmu, rubuhkan istana Nabi Sulaiman ini dengan sekali tendang.
      BB: Apa?
      BK: Rubuhkan dengan sekali tendang.
      BB: Mana mungkin burung dapat merubuhkan istana.
      BK: Saya dapat.
      BB: Apa?
       
      Belum sempat BB menyuruh BK membuktikan kata-katanya, Nabi Sulaiman AS melangkah keluar memperlihatkan dirinya, kemudian beliau memanggil kedua burung itu. Ternyata burung besar pengecut, ia terbang menjauh. Burung kecil datang dan hinggap di bahu Nabi Sulaiman AS.
       
      NS: Betulkah engkau dapat merubuhkan istana beta?
      BK: Mana mungkin tuanku, patik cuma menggertak saja. BB itu tidak memandang sebelah mata kepada patik.
      NS: Tidak terpikir olehmu BB memintamu membuktikan kata-katamu?
      BK: Patik sangat maklum, tuanku ada di bawah dan akan menolong patik hingga BB tidak berkesempatan menyuruh patik membuktikan kata-kata patik.
       
      Nabi Sulaiman AS tersenyum, mengelus-elus kepala BK, kemudian beliau menyuruhnya pergi terbang. BB memperhatikan dari jauh. Setelah BK hinggap di ranting pada pohon tempat BB bertengger, BB datang mendekat.
       
      BB: Apa yang kau percakapkan dengan Nabi Sulaiman?
      BK: Oh, beliau mengelus-elus kepalaku membujuk, meminta dengan sangat agar aku tidak merobohkan istananya sekali tendang.
       
      Arkian, Nabi Sulaiman AS meneruskan langkah menuju pohon rindang, lalu duduk pada bangku. Tangannya menggenggam sekepal gandum untuk burung dara. Sebutir gandum jatuh dari tangannya. Beliau sempat memperhatikan sebutir gandum itu bergerak. Seekor semut (Sm) menyeret sebutir gandum itu menuju sarangnya.
       
      NS: Hai semut, dengan gandum segenggam ini berapa lama engkau habiskan?
      Sm: Daulat tuanku, dengan segenggam gandum dikepal tuanku, patik dapat hidup selama setahun, jika dipanjangkan Allah umur patik.
      NS: Mari kita bersepakat. Engkau tidak perlu bersusah payah selama setahun mancari makan. Tetapi beta ingin meyakinkan betulkah segenggam gandum ini dapat menjadi bekalmu selama setahun. Masuklah ke sarangmu, beta tutup dari luar.
      Sm: Daulat tuanku, patik sepakat.
       
      Hatta, setelah selang setahun berlangsung kesepakatan itu, maka Nabi Sulaiman AS datang ke sarang semut itu lalu membukanya. Ternyata semut masih hidup, masih ada gandum yang tersisa.
       
      NS: Hai semut, beta lihat masih ada gandum tersisa tidak kau habiskan.
      Sm: Daulat tuanku, memang benar, masih ada patik sisakan separuhnya.
      NS: Jadi apa yang kau katakan kepada beta setahun lalu tidak benar!
      Sm: Daulat tuanku, walaupun tuanku seorang Nabi, tuanku bukanlah Allah. Hanya Allah Yang Maha Sempurna, tidak pernah lupa. Jika tuanku lupa datang membuka sarang patik selang setahun, sedangkan patik tidak berhemat menyimpan setengah gandum pemberian tuanku, maka matilah patik kelaparan.
      NS: Andaikan beta lupa membuka sarangmu selang setahun lagi, apa dayamu?
      Sm: Akan patik berhemat dengan hanya makan separuhnya dari yang sisa ini.
      NS: Andaikan beta lupa setahun lagi?
      Sm: Patik akan makan habis, dan sekiranya selang setahun tuanku masih lupa membuka sarang patik, maka itulah takdir patik mati kelaparan. Namun patik tidak berputus asa, patik berdoa kepada Allah mudah-mudahan tahun terakhir itu Allah mengingatkan tuanku untuk datang membuka sarang patik.
       
      Itulah salah satu dari beberapa cerita-cerita yang yang dikisahkan nenek saya menjelang tidur semasa kecil yang masih sempat saya rekam dalam ingatan saya. Barulah kelak kemudian hari saya tahu bahwa itu adalah cerita-cerita Israiliyat(*). Walaupun itu hanya cerita-cerita Israiliyat, akhirnya saya menyadari bahwa cerita-cerita Israiliyat, dan dongeng-dongeng pada umumnya tampaknya komunikatif bagi pendidikan anak-anak. Mereka anak-anak kecil itu dapat menangkap muatan nilai dalam cerita-cerita itu.
       
      Sehabis nenek bercerita seperti cerita di atas misalnya, maka saya membayangkan diri saya seperti Nabi Sulaiman AS yang menyayangi binatang, memperhatikan binatang sampai kepada binatang yang sekecil semutpun. Saya membayangkan diri seperti  burung kecil itu, tidak merasa rendah diri kepada yang lebih besar, tidak merasa takut namun penuh hormat kepada orang besar. Membayangkan diri seperti semut itu, bagaimana cara berhemat, tegar tidak berputus asa. Bersikap hormat dalam bertutur-sapa, tetapi berani menggurui Nabi Sulaiman AS, bahawa walaupun beliau itu seorang Nabi, tetapi bukanlah dan tidak boleh disamakan dengan Allah, tidak boleh mempertuhankan seorang Nabi. Sehingga kelak kemudian hari terasa gampang menghayati dan mendalami penjelasan guru mengaji saya tentang makna: Walam Yakun Lahu Kufuwan Ahadun (S.Al Ikhla-sh, 4). Dan tidak ada suatupun yang seperti Dia (112:4). Cerita-cerita Israiliyat itu yang pada mulanya hanya untuk anak-anak, kemudian diperluas sebagai cerita-cerita penglipur lara, bahkan diperluas lebih lanjut untuk konsumsi bagi para ibu di majelis-majelis ta'lim.
       
      'Ala kulli hal, pada sisi lain perlu dipertanyakan benarkah dalam kejadian sesungguhnya Nabi Sulaiman AS dapat bercakap-cakap dengan burung dan semut? Untuk menjawab pertanyaan itu pembahasan akan dilanjutkan nanti Insya-Allah hari Ahad yang akan datang. WaLlahu A'lamu bi shShawab.
       
      *** Makassar, 19 November 1995
          [H.Muh.Nur Abdurrahman]
      http://waii-hmna.blogspot.com/1995/11/203-burung-dan-semut.html
      -------------------------------
      (*)
      Israiliyat adalah cerita-cerita produk budaya dari kalangan puak etnis ini, karangan, ataupun imajinasi. Cerita Nabi Sulaiman dgn burung dan semut ini adalah cerita Israiliyat yang baik yang memuat pesan-pesan yang cocok untuk pendidikan anak. Namun ada pula cerita Israiliyat yang jelek, porno, celakanya ada yang sempat disispkan dan Bijbel, yaitu mislnya perkara incest:
      -- Thus both the daughters of Lot was with child by their father [Genesis 19:31], artinya:
      -- Lalu kedua anak perempuan Luth itu memperoleh anak dari ayah mereka.
       
      *********************************************** 
       
      BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
       
      WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
      [Kolom Tetap Harian Fajar]
      205. Apakah dalam Kejadian Sesungguhnya Nabi Sulaiman AS
      Dapat Bercakap-cakap dengan Burung dan Semut?
       
       Saya akan membahas pertanyaan dalam judul di atas untuk memenuhi janji saya dalam seri 203 dua pekan yang lalu. Pembahasan dimulai dengan mengemukakan enam ayat dalam S. AnNaml:
       Wa Qa-la Ya-ayyuha- nNa-su 'Ullimna- Manthiqa thThayri. Berkata (Sulaiman): hai manusia, telah diajarkan kepada kami logika burung (27:16).
       Wa Husyira liSulaimana Junuwduhu mina lJinni wa lInsi wa thThayri Fahum Yuwza'uwna. Dan telah berkumpul bersama Sulaiman pasukannya yang terdiri dari jin, manusia dan burung-burung dalam formasi tempur (22:17).
       Hattay idza- Ataw 'alay Wa-di nNamli Qa-lat Namlatun Ya-ayyuha- nNamlu Dkhuluw Masa-kinakum. Sehingga tatkala mereka sampai ke lembah "semut", berkata "seekor semut", hai "semut" masuklah ke dalam tempat tinggalmu (27:18).
       Fatabassama Dha-hikan min Qawliha-. Maka (Sulaiman) tersenyum oleh ucapan ("semut") itu (27:19).
       Faqa-la Ahatthu Bima- Lam Tuhith Bihi wa Ji'tuka min Sabain binabain Yaqiynin. Maka berkata (Hudhud): saya meliput apa yang engkau tidak liput dan saya sampaikan kepadamu informasi yang meyakinkan dari Saba (27:22).
       Qa-la Sananzhuru Ashadaqta Am Kunta mina lKa-dzibiyna. Berkata (Suliman): Akan kami perhatikan apakah benar katamu atau engkau dusta (27:27).
       Ada dua pendapat.
       Pendapat yang pertama yaitu pendapat jumhur (main stream) mufassirin (para ahli tafsir). Mereka menafsirkan bahwa Manthiqu thThayri adalah bahasa burung. Mereka menafsirkan Wa-di nNamli, Namlah dan Ya-ayyuha- nNamlu dengan lembah semut, raja semut dan hai sekalian semut (Mahmud Yunus), Valley of the Ants, an ant dan o, ants (Muhammad Marmaduke Pikckthall). Mengenai Hud-hud jumhur mufassirin berpendapat bahwa itu betul-betul burung, salah seekor pengintai dari pasukan burung. Kesimpulannya jumhur mufassirin berpendapat bahwa dalam kejadian sesungguhnya Nabi Sulaiman AS betul-betul bercakap-cakap dengan burung. Perlu dicatat bahwa ayat 19 hanya menjelaskan bahwa Nabi Sulaiman AS tersenyum mendengarkan semut itu berbicara kepada sesamanya semut, artinya Nabi Sulaiman AS tidaklah bercakap-cakap dengan semut.
       
       Pendapat kedua dari kalangan mufassirin pencilan, yang pendapatnya terpencil, tersendiri, tidak masuk dalam pendapat kelompok besar. Guru saya Allahu Yarham DR S.Majidi termasuk di antaranya. Perihal pasukan Nabi Sulaiman AS yang terdiri atas jin, manusia dan burung, saya ingat betul ucapan almarhum kepada ketiga orang muridnya dimulai dengan kalimat tanya: Apa Pasukan Garuda yang dikirim Pemerintah RI ke Kongo terdiri atas burung, paham? Pada waktu itu di Kongo sedang terjadi perang saudara, dan Pemerintah RI mengirimkan pasukan perdamaian ke sana, yaitu Pasukan Garuda. Menurut almarhum pasukan burung Nabi Sulaiman AS adalah kavaleri. Adapun ketiga murid almarhum tersebut adalah: Prof.DR H.A Rahman Rahim (mantan atase kebudayaan RI di Arab Saudi), Prof.DR H.Halide (atase kebudayaan RI di Arab Saudi) dan saya sendiri. Ada pula yang menafsirkan pasukan burung adalah regu-regu yang membawa burung untuk komunikasi. Perintah dari induk pasukan ataupun laporan ke induk pasukan diikatkan pada kaki burung.
       
       Almarhum menjelaskan bahwa kata-kata yang dibentuk oleh huruf-huruf jim, nun, nun, mempunyai pengertian terlindung, terhalang, terisolasi dan terasing. Jinn adalah makhluk yang tidak kelihatan, terlindung dari pandangan mata manusia, dan dapat pula berarti suku terasing. Jannah, taman, adalah tempat yang terlindung dari matahari oleh bayangan pohon, mujannah, perisai, penghalang dari tebasan musuh, janin, bayi yang masih terlindung dalam rahim ibu, majnun, orang gila, orang yang pikirannya kabur seakan-akan terhalang oleh kabut, tidak dapat membedakan antara bayangan dengan kenyataan.
       
       Adapun jin dari pasukan Nabi Sulaiman AS, bukanlah jin dalam pengertian yang pertama, oleh karena kalau begitu menurut almarhum yang diperlukan tidak usah sepasukan, cukup sejin saja (tentu tidak benar kalau dikatakan seorang jin). Menurut penafsiran pencilan ini, yang dimaksud dengan pasukan jin Nabi Sulaiman AS adalah legiun asing. Dapat pula berarti mata-mata atau semacam pasukan kolone ke-5, yaitu tentara yang terlindung dari penglihatan musuh karena tidak berpakaian seragam untuk penyamaran.
       
       Nabi Sulaiman AS mengerti mantiq burung, yakni memahami makna kicau, gerak-gerik dan perangai serta kebiasaan burung. Sekarang ini ada sebuah disiplin ilmu yang disebut ethology (jangan dikacaukan dengan ecology), yaitu ilmu yang berhubungan dengan perangai binatang (animal behavior), terutama yang berhubungan dengan habitatnya.
       
       Almarhum selanjutnya berpendapat bahwa "semut" dalam ayat 18 dan 19 yang dikutip di atas itu, bukanlah semut yang sebenarnya, akan tetapi manusia biasa dari "puak semut". Berikut dikemukakan dua terjemahan pencilan dari anNaml:
      - M.H.Syakir dari World Organization For Islamic Services (WOFIS), Tehran, Iran, dalam tafsirnya menterjemahkan the valley of the Naml, a Namlite dan O Naml. Dari tafsir Maulana Muhammad Ali, Pakistan, Soedewo menterjemahkan de vallei van den Naml, een Namliet dan O Naml.
       
       Dari kedua terjemahan itu Naml tidak diterjemahkan. Sedangkan Namlah diterjemahkan dengan a Namlite (Inggeris) dan een Namliet (Belanda), seorang Namlit. AnNaml bukanlah nama spesi binatang melainkan nama diri dari suatu puak atau suku.
       
       Itulah tiga orang mufassirin pencilan, dari Indonesia (SM), dari Pakistan (MMA) dan dari Iran (MHS), yang pendapat mereka memencil dari jumhur mufassirin.
       
      ***
       
      Qa-lat Namlatun Ya-ayyuha- nNamlu Dkhuluw Masa-kinakum.
       
      AL NML => tunggal, (mufrad, singular)
      ADKHLWA => jamak (jama', plural)
      MSAKNKM => jamak (jama', plural)
       
      Kalau AL NML dianggap betul-betul semut, maka orang akan menghadapi kesulitan dalam menterjemahkannya ke bahasa lain yang mengenal pembedaan bentuk kata tunggal (mufrad, singular) dengan jamak (jama', plural), yaitu seperti berikut:
      an ant said: O, ant, enter your dwellings. Maka perhatikan ant itu tunggal, ADKHLWA dan MSAKNKM adalah jamak. Sayang dalam bahasa Inggris orang tidak membedakan dalam bentuk imperative singular dengan plural, tetap enter, tetapi dalam bahasa Arab dibedakan ADKHL (tunggal) dengan ADKHLWA (jamak).
       
      Untuk mengelakkan kesalahan gramatikal, apabila anNamlu dianggap betul-betul semut, maka Mohammed Marmaduke Pikthall menterjemahkannya dengan:
      an ant exlaimed, O ants! Enter your dwellings. Jadi M.M.Pikthall "terpaksa" menjamakkan ants untuk menyesuaikannya dengan dwellings (Masa-kinakum). Maka akibat mengelakkan kesalahan gramatikal, ia salah dengan menjamakkan ants yang sesungguhnya tunggal (mufrad), yaitu anNamlu.
       
      Akan tetapi jika anNamlu difahamkan sebagai nama diri (a proper name) dari sebuah puak, yaitu puak Semut, maka ayat itu terjemahannya, sebagaimana diterjemahkan oleh M.H.Shakir, Iran, seperti berikut:
      a Namlite said: O Naml ! enter your houses.
       
      Kesimpulannya: Jika dianggap anNamlu itu betul-betul semut, maka orang akan tertumbuk pada kesulitan gramatikal dalam menterjemahkan ayat itu kedalam bahasa yang mengenal pembedaan bentuk kata yang singular dengan piural. Kalau difahamkan anNamlu adalah nama diri dari suatu puak bangsa manusia, yaitu puak Semut, maka itu maa fi lmas.alah, no problem, tidak ada kesulitan gramatikal, sebab walaupun anNamlu itu singular, sesungguhnya ia plural, sekelompok bangsa manusia yang mengelompokkan diri dalam sebuah qaum, yaitu mereka namakan dirinya puak Semut. Bandingkan dengan people, walaupun bentuknya singular, tetapi kata itu plural: people go, bukan people goes. People itu bisa verb, contoh: People a room maksudnya fill with inhabitans. Bisa sebagai noun, itu plural, any group of human beings (men or women or children) collectively.
       
      ***
       
      Dari penafsiran yang jumhur, bahwa anNamlu itu betul-betul semut,  dikembangkanlah menjadi karya sastra, yaitu imajinasi berupa cerita-cerita Israiliyat. Tujuannya semula untuk menyampaikan pesan nilai, mendidik anak-anak, yang kemudian melebar menjadi cerita-cerita penglipur lara, yang umumnya disenangi ibu-ibu dalam majlis ta'lim. WaLlahu A'lamu bi shShawab.
       
      *** Makassar, 3 Desember 1995
          [H.Muh.Nur Abdurrahman]
       
       
       
       
       
       
    • H. M. Nur Abdurrahman
      Syari at Islam yang bermuatan: aqidah (pokok keimanan), jalannya hukum dan akhlaq, meliputi cakrawala yang luas, yaitu petunjuk untuk mengatur baik kehidupan
      Message 2 of 2 , Dec 31, 2008
      • 0 Attachment
        Syari'at Islam yang bermuatan: aqidah (pokok keimanan), jalannya hukum dan akhlaq, meliputi cakrawala yang luas, yaitu petunjuk untuk mengatur baik kehidupan nafsi-nafsi (individu), maupun  kehidupan kolektif dengan substansi yang  bervariasi seperti  keimanan,  ibadah ritual (spiritualisme),  karakter  perorangan,  akhlaq individu dan kolektif, kebiasaan manusiawi, ibadah non-ritual seperti: hubungan keluarga, kehidupan sosial politik ekonomi, administrasi, teknologi serta pengelolaan lingkungan, hak dan kewajiban warga-negara, dan terakhir yang tak kurang pentingnya yaitu sistem hukum yang teridiri atas komponen-komponen: substansi aturan-aturan perdata-pidana, damai-perang, nasional-internasional, pranata subsistem peradilan dan apresiasi hukum  serta rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat yang berakhlaq.
         
        Semua substansi yang disebutkan itu bahasannya ada dalam Serial Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu.  Maksudnya Wahyu memayungi akal , dan Iman memayungi ilmu.
         
        one liner  Seri 203
        insya-Allah akan diposting hingga no.800
        no.terakhir 856
         
        ********************************************************************
         
         

        BIAMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
         
        WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
        [Kolom Tetap Harian Fajar]
        203. Burung dan Semut
         
        Syahdan, tersebutlah konon Nabi Sulaiman AS ingin berangin-angin dalam tamannya. Tatkala beliau baru saja akan melangkahkan kakinya di ambang pintu, beliau tertegun sejenak. Di atas bubungan tangga istana terdengar olehnya dua ekor burung sedang bersilat kata. Dua ekor burung, burung besar (BB) dan burung kecil (BK). Inilah silat kata yang sempat terdengar oleh Nabi Sulaiman AS di ambang pintu.
         
        BB: Kasihan badanmu sekecil itu.
        BK: Kecil-kecil cabai rawit, biar kecil sangat pedasnya.
        BB: Hei, burung bukan cabai.
        BK: Perlihatkan kekuatanmu, rubuhkan istana Nabi Sulaiman ini dengan sekali tendang.
        BB: Apa?
        BK: Rubuhkan dengan sekali tendang.
        BB: Mana mungkin burung dapat merubuhkan istana.
        BK: Saya dapat.
        BB: Apa?
         
        Belum sempat BB menyuruh BK membuktikan kata-katanya, Nabi Sulaiman AS melangkah keluar memperlihatkan dirinya, kemudian beliau memanggil kedua burung itu. Ternyata burung besar pengecut, ia terbang menjauh. Burung kecil datang dan hinggap di bahu Nabi Sulaiman AS.
         
        NS: Betulkah engkau dapat merubuhkan istana beta?
        BK: Mana mungkin tuanku, patik cuma menggertak saja. BB itu tidak memandang sebelah mata kepada patik.
        NS: Tidak terpikir olehmu BB memintamu membuktikan kata-katamu?
        BK: Patik sangat maklum, tuanku ada di bawah dan akan menolong patik hingga BB tidak berkesempatan menyuruh patik membuktikan kata-kata patik.
         
        Nabi Sulaiman AS tersenyum, mengelus-elus kepala BK, kemudian beliau menyuruhnya pergi terbang. BB memperhatikan dari jauh. Setelah BK hinggap di ranting pada pohon tempat BB bertengger, BB datang mendekat.
         
        BB: Apa yang kau percakapkan dengan Nabi Sulaiman?
        BK: Oh, beliau mengelus-elus kepalaku membujuk, meminta dengan sangat agar aku tidak merobohkan istananya sekali tendang.
         
        Arkian, Nabi Sulaiman AS meneruskan langkah menuju pohon rindang, lalu duduk pada bangku. Tangannya menggenggam sekepal gandum untuk burung dara. Sebutir gandum jatuh dari tangannya. Beliau sempat memperhatikan sebutir gandum itu bergerak. Seekor semut (Sm) menyeret sebutir gandum itu menuju sarangnya.
         
        NS: Hai semut, dengan gandum segenggam ini berapa lama engkau habiskan?
        Sm: Daulat tuanku, dengan segenggam gandum dikepal tuanku, patik dapat hidup selama setahun, jika dipanjangkan Allah umur patik.
        NS: Mari kita bersepakat. Engkau tidak perlu bersusah payah selama setahun mancari makan. Tetapi beta ingin meyakinkan betulkah segenggam gandum ini dapat menjadi bekalmu selama setahun. Masuklah ke sarangmu, beta tutup dari luar.
        Sm: Daulat tuanku, patik sepakat.
         
        Hatta, setelah selang setahun berlangsung kesepakatan itu, maka Nabi Sulaiman AS datang ke sarang semut itu lalu membukanya. Ternyata semut masih hidup, masih ada gandum yang tersisa.
         
        NS: Hai semut, beta lihat masih ada gandum tersisa tidak kau habiskan.
        Sm: Daulat tuanku, memang benar, masih ada patik sisakan separuhnya.
        NS: Jadi apa yang kau katakan kepada beta setahun lalu tidak benar!
        Sm: Daulat tuanku, walaupun tuanku seorang Nabi, tuanku bukanlah Allah. Hanya Allah Yang Maha Sempurna, tidak pernah lupa. Jika tuanku lupa datang membuka sarang patik selang setahun, sedangkan patik tidak berhemat menyimpan setengah gandum pemberian tuanku, maka matilah patik kelaparan.
        NS: Andaikan beta lupa membuka sarangmu selang setahun lagi, apa dayamu?
        Sm: Akan patik berhemat dengan hanya makan separuhnya dari yang sisa ini.
        NS: Andaikan beta lupa setahun lagi?
        Sm: Patik akan makan habis, dan sekiranya selang setahun tuanku masih lupa membuka sarang patik, maka itulah takdir patik mati kelaparan. Namun patik tidak berputus asa, patik berdoa kepada Allah mudah-mudahan tahun terakhir itu Allah mengingatkan tuanku untuk datang membuka sarang patik.
         
        Itulah salah satu dari beberapa cerita-cerita yang yang dikisahkan nenek saya menjelang tidur semasa kecil yang masih sempat saya rekam dalam ingatan saya. Barulah kelak kemudian hari saya tahu bahwa itu adalah cerita-cerita Israiliyat(*). Walaupun itu hanya cerita-cerita Israiliyat, akhirnya saya menyadari bahwa cerita-cerita Israiliyat, dan dongeng-dongeng pada umumnya tampaknya komunikatif bagi pendidikan anak-anak. Mereka anak-anak kecil itu dapat menangkap muatan nilai dalam cerita-cerita itu.
         
        Sehabis nenek bercerita seperti cerita di atas misalnya, maka saya membayangkan diri saya seperti Nabi Sulaiman AS yang menyayangi binatang, memperhatikan binatang sampai kepada binatang yang sekecil semutpun. Saya membayangkan diri seperti  burung kecil itu, tidak merasa rendah diri kepada yang lebih besar, tidak merasa takut namun penuh hormat kepada orang besar. Membayangkan diri seperti semut itu, bagaimana cara berhemat, tegar tidak berputus asa. Bersikap hormat dalam bertutur-sapa, tetapi berani menggurui Nabi Sulaiman AS, bahawa walaupun beliau itu seorang Nabi, tetapi bukanlah dan tidak boleh disamakan dengan Allah, tidak boleh mempertuhankan seorang Nabi. Sehingga kelak kemudian hari terasa gampang menghayati dan mendalami penjelasan guru mengaji saya tentang makna: Walam Yakun Lahu Kufuwan Ahadun (S.Al Ikhla-sh, 4). Dan tidak ada suatupun yang seperti Dia (112:4). Cerita-cerita Israiliyat itu yang pada mulanya hanya untuk anak-anak, kemudian diperluas sebagai cerita-cerita penglipur lara, bahkan diperluas lebih lanjut untuk konsumsi bagi para ibu di majelis-majelis ta'lim.
         
        'Ala kulli hal, pada sisi lain perlu dipertanyakan benarkah dalam kejadian sesungguhnya Nabi Sulaiman AS dapat bercakap-cakap dengan burung dan semut? Untuk menjawab pertanyaan itu pembahasan akan dilanjutkan nanti Insya-Allah hari Ahad yang akan datang. WaLlahu A'lamu bi shShawab.
         
        *** Makassar, 19 November 1995
            [H.Muh.Nur Abdurrahman]
        http://waii-hmna.blogspot.com/1995/11/203-burung-dan-semut.html
        -------------------------------
        (*)
        Israiliyat adalah cerita-cerita produk budaya dari kalangan puak etnis ini, karangan, ataupun imajinasi. Cerita Nabi Sulaiman dgn burung dan semut ini adalah cerita Israiliyat yang baik yang memuat pesan-pesan yang cocok untuk pendidikan anak. Namun ada pula cerita Israiliyat yang jelek, porno, celakanya ada yang sempat disispkan dan Bijbel, yaitu mislnya perkara incest:
        -- Thus both the daughters of Lot was with child by their father [Genesis 19:31], artinya:
        -- Lalu kedua anak perempuan Luth itu memperoleh anak dari ayah mereka.
         
        *********************************************** 
         
        BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
         
        WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
        [Kolom Tetap Harian Fajar]
        205. Apakah dalam Kejadian Sesungguhnya Nabi Sulaiman AS
        Dapat Bercakap-cakap dengan Burung dan Semut?
         
         Saya akan membahas pertanyaan dalam judul di atas untuk memenuhi janji saya dalam seri 203 dua pekan yang lalu. Pembahasan dimulai dengan mengemukakan enam ayat dalam S. AnNaml:
         Wa Qa-la Ya-ayyuha- nNa-su 'Ullimna- Manthiqa thThayri. Berkata (Sulaiman): hai manusia, telah diajarkan kepada kami logika burung (27:16).
         Wa Husyira liSulaimana Junuwduhu mina lJinni wa lInsi wa thThayri Fahum Yuwza'uwna. Dan telah berkumpul bersama Sulaiman pasukannya yang terdiri dari jin, manusia dan burung-burung dalam formasi tempur (22:17).
         Hattay idza- Ataw 'alay Wa-di nNamli Qa-lat Namlatun Ya-ayyuha- nNamlu Dkhuluw Masa-kinakum. Sehingga tatkala mereka sampai ke lembah "semut", berkata "seekor semut", hai "semut" masuklah ke dalam tempat tinggalmu (27:18).
         Fatabassama Dha-hikan min Qawliha-. Maka (Sulaiman) tersenyum oleh ucapan ("semut") itu (27:19).
         Faqa-la Ahatthu Bima- Lam Tuhith Bihi wa Ji'tuka min Sabain binabain Yaqiynin. Maka berkata (Hudhud): saya meliput apa yang engkau tidak liput dan saya sampaikan kepadamu informasi yang meyakinkan dari Saba (27:22).
         Qa-la Sananzhuru Ashadaqta Am Kunta mina lKa-dzibiyna. Berkata (Suliman): Akan kami perhatikan apakah benar katamu atau engkau dusta (27:27).
         Ada dua pendapat.
         Pendapat yang pertama yaitu pendapat jumhur (main stream) mufassirin (para ahli tafsir). Mereka menafsirkan bahwa Manthiqu thThayri adalah bahasa burung. Mereka menafsirkan Wa-di nNamli, Namlah dan Ya-ayyuha- nNamlu dengan lembah semut, raja semut dan hai sekalian semut (Mahmud Yunus), Valley of the Ants, an ant dan o, ants (Muhammad Marmaduke Pikckthall). Mengenai Hud-hud jumhur mufassirin berpendapat bahwa itu betul-betul burung, salah seekor pengintai dari pasukan burung. Kesimpulannya jumhur mufassirin berpendapat bahwa dalam kejadian sesungguhnya Nabi Sulaiman AS betul-betul bercakap-cakap dengan burung. Perlu dicatat bahwa ayat 19 hanya menjelaskan bahwa Nabi Sulaiman AS tersenyum mendengarkan semut itu berbicara kepada sesamanya semut, artinya Nabi Sulaiman AS tidaklah bercakap-cakap dengan semut.
         
         Pendapat kedua dari kalangan mufassirin pencilan, yang pendapatnya terpencil, tersendiri, tidak masuk dalam pendapat kelompok besar. Guru saya Allahu Yarham DR S.Majidi termasuk di antaranya. Perihal pasukan Nabi Sulaiman AS yang terdiri atas jin, manusia dan burung, saya ingat betul ucapan almarhum kepada ketiga orang muridnya dimulai dengan kalimat tanya: Apa Pasukan Garuda yang dikirim Pemerintah RI ke Kongo terdiri atas burung, paham? Pada waktu itu di Kongo sedang terjadi perang saudara, dan Pemerintah RI mengirimkan pasukan perdamaian ke sana, yaitu Pasukan Garuda. Menurut almarhum pasukan burung Nabi Sulaiman AS adalah kavaleri. Adapun ketiga murid almarhum tersebut adalah: Prof.DR H.A Rahman Rahim (mantan atase kebudayaan RI di Arab Saudi), Prof.DR H.Halide (atase kebudayaan RI di Arab Saudi) dan saya sendiri. Ada pula yang menafsirkan pasukan burung adalah regu-regu yang membawa burung untuk komunikasi. Perintah dari induk pasukan ataupun laporan ke induk pasukan diikatkan pada kaki burung.
         
         Almarhum menjelaskan bahwa kata-kata yang dibentuk oleh huruf-huruf jim, nun, nun, mempunyai pengertian terlindung, terhalang, terisolasi dan terasing. Jinn adalah makhluk yang tidak kelihatan, terlindung dari pandangan mata manusia, dan dapat pula berarti suku terasing. Jannah, taman, adalah tempat yang terlindung dari matahari oleh bayangan pohon, mujannah, perisai, penghalang dari tebasan musuh, janin, bayi yang masih terlindung dalam rahim ibu, majnun, orang gila, orang yang pikirannya kabur seakan-akan terhalang oleh kabut, tidak dapat membedakan antara bayangan dengan kenyataan.
         
         Adapun jin dari pasukan Nabi Sulaiman AS, bukanlah jin dalam pengertian yang pertama, oleh karena kalau begitu menurut almarhum yang diperlukan tidak usah sepasukan, cukup sejin saja (tentu tidak benar kalau dikatakan seorang jin). Menurut penafsiran pencilan ini, yang dimaksud dengan pasukan jin Nabi Sulaiman AS adalah legiun asing. Dapat pula berarti mata-mata atau semacam pasukan kolone ke-5, yaitu tentara yang terlindung dari penglihatan musuh karena tidak berpakaian seragam untuk penyamaran.
         
         Nabi Sulaiman AS mengerti mantiq burung, yakni memahami makna kicau, gerak-gerik dan perangai serta kebiasaan burung. Sekarang ini ada sebuah disiplin ilmu yang disebut ethology (jangan dikacaukan dengan ecology), yaitu ilmu yang berhubungan dengan perangai binatang (animal behavior), terutama yang berhubungan dengan habitatnya.
         
         Almarhum selanjutnya berpendapat bahwa "semut" dalam ayat 18 dan 19 yang dikutip di atas itu, bukanlah semut yang sebenarnya, akan tetapi manusia biasa dari "puak semut". Berikut dikemukakan dua terjemahan pencilan dari anNaml:
        - M.H.Syakir dari World Organization For Islamic Services (WOFIS), Tehran, Iran, dalam tafsirnya menterjemahkan the valley of the Naml, a Namlite dan O Naml. Dari tafsir Maulana Muhammad Ali, Pakistan, Soedewo menterjemahkan de vallei van den Naml, een Namliet dan O Naml.
         
         Dari kedua terjemahan itu Naml tidak diterjemahkan. Sedangkan Namlah diterjemahkan dengan a Namlite (Inggeris) dan een Namliet (Belanda), seorang Namlit. AnNaml bukanlah nama spesi binatang melainkan nama diri dari suatu puak atau suku.
         
         Itulah tiga orang mufassirin pencilan, dari Indonesia (SM), dari Pakistan (MMA) dan dari Iran (MHS), yang pendapat mereka memencil dari jumhur mufassirin.
         
        ***
         
        Qa-lat Namlatun Ya-ayyuha- nNamlu Dkhuluw Masa-kinakum.
         
        AL NML => tunggal, (mufrad, singular)
        ADKHLWA => jamak (jama', plural)
        MSAKNKM => jamak (jama', plural)
         
        Kalau AL NML dianggap betul-betul semut, maka orang akan menghadapi kesulitan dalam menterjemahkannya ke bahasa lain yang mengenal pembedaan bentuk kata tunggal (mufrad, singular) dengan jamak (jama', plural), yaitu seperti berikut:
        an ant said: O, ant, enter your dwellings. Maka perhatikan ant itu tunggal, ADKHLWA dan MSAKNKM adalah jamak. Sayang dalam bahasa Inggris orang tidak membedakan dalam bentuk imperative singular dengan plural, tetap enter, tetapi dalam bahasa Arab dibedakan ADKHL (tunggal) dengan ADKHLWA (jamak).
         
        Untuk mengelakkan kesalahan gramatikal, apabila anNamlu dianggap betul-betul semut, maka Mohammed Marmaduke Pikthall menterjemahkannya dengan:
        an ant exlaimed, O ants! Enter your dwellings. Jadi M.M.Pikthall "terpaksa" menjamakkan ants untuk menyesuaikannya dengan dwellings (Masa-kinakum). Maka akibat mengelakkan kesalahan gramatikal, ia salah dengan menjamakkan ants yang sesungguhnya tunggal (mufrad), yaitu anNamlu.
         
        Akan tetapi jika anNamlu difahamkan sebagai nama diri (a proper name) dari sebuah puak, yaitu puak Semut, maka ayat itu terjemahannya, sebagaimana diterjemahkan oleh M.H.Shakir, Iran, seperti berikut:
        a Namlite said: O Naml ! enter your houses.
         
        Kesimpulannya: Jika dianggap anNamlu itu betul-betul semut, maka orang akan tertumbuk pada kesulitan gramatikal dalam menterjemahkan ayat itu kedalam bahasa yang mengenal pembedaan bentuk kata yang singular dengan piural. Kalau difahamkan anNamlu adalah nama diri dari suatu puak bangsa manusia, yaitu puak Semut, maka itu maa fi lmas.alah, no problem, tidak ada kesulitan gramatikal, sebab walaupun anNamlu itu singular, sesungguhnya ia plural, sekelompok bangsa manusia yang mengelompokkan diri dalam sebuah qaum, yaitu mereka namakan dirinya puak Semut. Bandingkan dengan people, walaupun bentuknya singular, tetapi kata itu plural: people go, bukan people goes. People itu bisa verb, contoh: People a room maksudnya fill with inhabitans. Bisa sebagai noun, itu plural, any group of human beings (men or women or children) collectively.
         
        ***
         
        Dari penafsiran yang jumhur, bahwa anNamlu itu betul-betul semut,  dikembangkanlah menjadi karya sastra, yaitu imajinasi berupa cerita-cerita Israiliyat. Tujuannya semula untuk menyampaikan pesan nilai, mendidik anak-anak, yang kemudian melebar menjadi cerita-cerita penglipur lara, yang umumnya disenangi ibu-ibu dalam majlis ta'lim. WaLlahu A'lamu bi shShawab.
         
        *** Makassar, 3 Desember 1995
            [H.Muh.Nur Abdurrahman]
         
         
         
         
         
         
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.