Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Seri 156

Expand Messages
  • H. M. Nur Abdurrahman
    Syari at Islam yang bermuatan: aqidah (pokok keimanan), jalannya hukum dan akhlaq, meliputi cakrawala yang luas, yaitu petunjuk untuk mengatur baik kehidupan
    Message 1 of 2 , Oct 2, 2008
      Syari'at Islam yang bermuatan: aqidah (pokok keimanan), jalannya hukum dan akhlaq, meliputi cakrawala yang luas, yaitu petunjuk untuk mengatur baik kehidupan nafsi-nafsi (individu), maupun  kehidupan kolektif dengan substansi yang  bervariasi seperti  keimanan,  ibadah ritual (spiritualisme),  karakter  perorangan,  akhlaq individu dan kolektif, kebiasaan manusiawi, ibadah non-ritual seperti: hubungan keluarga, kehidupan sosial politik ekonomi, administrasi, teknologi serta pengelolaan lingkungan, hak dan kewajiban warga-negara, dan terakhir yang tak kurang pentingnya yaitu sistem hukum yang teridiri atas komponen-komponen: substansi aturan-aturan perdata-pidana, damai-perang, nasional-internasional, pranata subsistem peradilan dan apresiasi hukum  serta rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat yang berakhlaq.
       
      Semua substansi yang disebutkan itu bahasannya ada dalam Serial Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu. 
       
      one liner  3/10-2008
      insya-Allah akan diposting hingga no.800
      no.terakhir 845
       
      ********************************************************************
       
      BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
       
      WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
      [Kolom Tetap Harian Fajar]
      156. Teknologi Tiruan dari Mekanisme Binatang
       
      Kelelawar adalah binatang yang mencari rezekinya di malam hari. Binatang ini tidaklah mempergunakan matanya untuk melihat, melainkan menghandalkan telinganya. Ia mencicit mengeluarkan suara, kemudian ia menangkap kembali gema suaranya yang dipantulkan oleh benda di depannya. Manusia mempelajari cara kelelawar ini "melihat" sasarannya, kemudian membuat alat yang disebut dengan (Ra)dio (D)etection (A)nd (R)anging disingkat radar, yang berarti melacak dan menentukan jarak dengan radio. Inilah yang disebut bionika, yaitu mempelajari seluk beluk mekanisme binatang, kemudian mebuat rancang bangun peralatan elektronika berdasar atas prinsip kerja mekanisme binatang tersebut. Kalau kelelawar memanfaatkan gema gelombang udara, maka radar memanfaatkan gema gelombang radio, yaitu gelombang elektromagnet. Tidaklah semua yang dipelajari dari mekanisme binatang itu menghasilkan rancang bangun peralatan elektronika, yang disebut bionika itu.
       
                                        ***
       
      Allah SWT berfirman dalam S.AlMuluk, 67:19:
      -- Awalam Yaraw ilay thTahayri Fawqahum Sha-ffa-tin wa Yaqbidhna Maa Yamsikuhunna illa rRahma-n, Tidakkah mereka lihat burung-burung di atas mereka bersaf-saf dan menguncupkan?, tiadalah Yang menahannya melainkan Al-Rahman.
       
      Burung-burung yang bersaf-saf artinya dalam keadaan terbang dan sementara terbang itu menguncupkan, Yaqbidhna, fi'il, kata kerja (khabar = predikat) ditasrif untuk obyek yang mutsanna (dual). Jadi ada dua dikucupkan, yaitu kedua sayap burung itu. Maka makna ayat itu: Tidakkah mereka lihat burung-burung di atas mereka itu sedang terbang bersaf-saf dan sementara itu menguncupkan sayapnya? Ada tiga hal yang dapat dipelajari dalam hal ini.
       
      Yang pertama menyangkut organisasi formasi terbang. Bagaimana cara mereka berkomunikasi baik dalam hal mekanisme komunikasi maupun bahasa komunikasi sehingga gerak setiap burung dalam formasi itu kecepatannya sama, artinya laju terbangnya sama besar dan arah terbangnya tetap sejajar antara satu dengan yang lain, baik sedang dalam manuver bergerak lurus maupun membelok. Dalam hal ini kita dapat menyimak ilmu pengetahuan menurut Islam adalah tidak dapat bersifat otonom, melainkan tidak dapat dipisahkan dari nilai Tawhid, yaitu Allah SWT memerintahkan kita untuk mempelajari seluk beluk teknik berkomunikasi burung-burung yang sedang melakukan manuver, terbang dengan formasi yang indah.(*)
       
      Yang kedua menyangkut kinerja terbang. Hingga kini walaupun teknologi pesawat terbang sudah demikian canggihnya, namun masih kalah dibandingkan dengan burung. Dilihat dari sudut aerodinamika (ilmu terbang di udara) kemenangan burung itu terletak dalah hal efisiensi terbang. Burung dapat mengubah posisi sayapnya sementara terbang, yakni dapat membuka dan menguncup. Inilah yang diperintahkan Allah SWT dalam S.AlMuluk,19 supaya kita memperhatikan burung yang sementara terbang menguncupkan kedua sayapnya. Sayap burung membuka apabila memerlukan gaya angkat dan gaya dorong, menguncup jika sedang terbang dalam kecepatan tinggi dan menukik. Sekali lagi kita lihat aplikasi aerodinamika pada burung yang terbang tidak lepas dari nilai Tawhid, yaitu Allah SWT memerintahkan kita untuk memperhatikan sayap burung yang menguncup sementara terbang. Tak ubahnya dengan burung, pesawat terbangpun membutuhkan sayap untuk naik (take off) dan terbang dengan kecepatan dibawah kecepatan bunyi (subsonic). Akan tetapi jika kecepatan di atas kecepatan suara telah dicapai (supersonic), sayap yang lebar hilang peranannya, malahan menyusahkan. Pesawat itu dapat terbang secara efisien, sehingga dapat lebih laju, jika sayapnya dilipat ke dalam.
       
      Yang ketiga, Al-Rahman menahan burung-burung itu di angkasa dengan mekanisme atmosfer bumi. Atmosfer bumi melindungi permukaan bumi dari serbuan meteor, yaitu meteor-meteor itu umumnya habis terbakar karena bergesek dengan atmosfer. Ini adalah berkat sifat Allah yang Al-Rahman. Demikian pula tidak semua energi radiasi matahari diterima oleh permukaan bumi. Awan, gas dan debu di atmosfer memantulkan energi radiasi sekitar 35% sampai 43% kembali ke angkasa luar. Selama jutaan tahun O2 di atmosfer bumi menyerap sebagian kecil energi radiasi itu, sehingga terbentuk O3 yang disebut ozon. O3 dapat pula terbentuk sedikit-sedikit pada waktu kilat mencambuk udara. Secara kimiawi O3 berat molekulnya (48) lebih besar dari O2 (32). Tetapi secara fisis O3 lebih ringan dari O2. Demikianlah Allah dengan sifatNya yang Al-Rahman menjadikan sifat kimiawi berbanding terbalik dengan sifat fisis antara O3 dengan O2, sehingga ozon yang racun itu membubung ke atas dan membentuk lapisan ozon jauh di atas, dengan tujuan untuk melindungi makhluq di permukaan bumi dari gempuran fraksi yang berbahaya dari fraksi radiasi matahari yang disebut sinar lembayung ultra. 
       
      ***
       
      Pesawat terbang yang terbang seperti burung itu baru dibuat dalam tahun 1951, disebut model X5, yang menjadi cikal bakal pesawat terbang yang terbang ibarat burung, yaitu sementara terbang sayapnya dapat dilipat ke dalam. Model X5 ini ternyata tidak stabil sehingga sukar dikendalikan. Fasalnya terletak dalam hal sistem mekanisme penggerak sayap. Mekanisme itu mengubah posisi sayap dengan jalan menggeser bagian dalamnya. Pangkal sayap bergerak kemuka dan sayap berubah posisinya, sudut sikap sayap lebih lancip dan keping sayap menjadi lebih dekat pada badan pesawat (fuselage). Akan tetapi celakanya, mekanisme penggeser pangkal sayap terlalu berat dan besar. Bukan itu saja dan ini yang paling penting, apabila pangkal sayap bergeser ke depan, maka titik berat (center of gravity) dan titik pusat tekanan (center of pressure) dari pesawat terbang itu berubah pula. Maka menjadilah ia tidak stabil sehingga sukar dikendalikan.
       
      William J. Afford dan Edward C. Tolhamus mendapatkan hak paten mengenai mekanisme untuk mengubah posisi sayap tanpa mengubah titik berat dan titik pusat tekanan dari pesawat terbang. Mekanisme itu pada prinsipnya berupa persendian yang diletakkan pada sayap agak jauh dari fuselage. Pangkal sayap tidak bergerak, jadi tidak seperti pada model X5 di atas itu. Pesawat terbang itu seakan-akan mempunyai siku pada sayapnya, sehingga pilot dapat melipat sayap itu ke dalam badan pesawat, jika lajunya mencapai kelajuan supersonic. Sayap yang mempunyai siku itu sudah hampir menyerupai sayap burung. Grumman Aircraft dan General Dynamics Corporation yang mula pertama memperoduksi pesawat yang dapat terbang seperti burung dengan mekanisme menurut rancang bangun dari Alford dan Tolhamus itu. Pesawat itu diberi bernama Tactical Fighter Experimental - TFX -  Angkatan Udara Amerika Serikat memberi nama F-111A dan Angkatan Laut memberikan nama F-111B.
       
      Tatkala saya pulang ke tanah air 21 tahun lalu saya bawakan oleh-oleh untuk kedua anak laki-laki saya, Muhammad Iqbal AR dan Muhammad 'Abduh AR, pesawat terbang main-mainan  (tidak dapat terbang), yang sayapnya dapat menguncup, kalau sedang melaju (di lantai). WaLlahu a'lamu bishshawab.
       
      *** Makassar, 4 Desember 1994
          [H.Muh.Nur Abdurrahman]

      -----------------------------
      (*)
      Angsa-angsa terbang dengan formasi berbentuk huruf "V". Beberapa fakta ilmiah tentang mengapa rombongan angsa tersebut terbang dengan formasi "V"
       
      1. Saat setiap burung mengepakkan sayapnya, hal itu memberikan "daya dukung" bagi burung yang terbang tepat dibelakangnya. Ini terjadi karena burung yang terbang di belakang tidak perlu bersusah-payah untuk menembus 'dinding udara' di depannya. Dengan terbang dalam formasi "V", seluruh kawanan dapat menempuh jarak terbang 71% lebih jauh daripada kalau setiap burung terbang
      sendirian.
       
      2. Kalau seekor angsa terbang keluar dari formasi rombongan, ia akan merasa berat dan sulit untuk terbang sendirian. Dengan cepat ia akan kembali ke dalam formasi untuk mengambil keuntungan dari daya dukung yang diberikan burung didepannya.
       
      3. Ketika angsa pemimpin yang terbang di depan menjadi lelah, ia terbang memutar ke belakang formasi, dan angsa lain akan terbang menggantikan posisinya.
       
      4. Angsa-angsa yang terbang dalam formasi ini mengeluarkan suara riuh-rendah dari belakang untuk memberikan semangat kepada angsa yang terbang di depan sehingga kecepatan terbang dapat dijaga.
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.