Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

2 Agst

Expand Messages
  • Romo maryo
    Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam. (Yer 26:11-16.24; Mat 14:1-12)   “Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus
    Message 1 of 1 , Aug 1, 2008

      "Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam."

      (Yer 26:11-16.24; Mat 14:1-12)

       

      “Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah. Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya: "Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya." Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya. Karena Yohanes pernah menegornya, katanya: "Tidak halal engkau mengambil Herodias!" Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes, sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya. Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: "Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam." Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara dan kepala Yohanes itu pun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus.”(Mat 14:1-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

       

      Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

      ·   Yesus semakin populer dan dikasihi oleh banyak orang/rakyat, maka secara sosio-politis hal ini kiranya menjadi ancaman bagi penguasa yang gila akan kedudukan/jabatan, pangkat, kehormatan maupun harta benda seperti Herodes. Ketika Herodes mendengar perihal Yesus ia berkata kepada pegawai-pergawainya :”Inilah Yohanes Pembaptis;ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalamNya”. Herodes telah membunuh Yohanes Pembaptis karena ‘jaga gengsi’, tidak sedia dirinya dipermalukan di muka umum, meskipun dirinya salah bicara. Maka sebenarnya ia senang dengan Yohanes Pembaptis, namun karena kurang hati-hati dalam berbicara atau berjanji, ia terpaksa menghabisi yang disenangi. Pengalaman Herodes ini kiranya dapat menjadi bahan mawas diri bagi para orangtua, petinggi atau atasan dan pemimpin: hendaknya dengan bijak dan hati-hati dalam menyampaikan janji-janji, tidak hanya mengikuti selera pribadi sesaat. Para orangtua hendaknya tidak menjanjikan sesuatu yang tidak jelas dan tak mungkin dapat dilaksanakan pada anak-anaknya, sebagaimana dikatakan oleh Herodes kepada anak perempuan Herodias  Apapun yang kau minta kepadaku akan kuberikan kepadamu”, demikian pula para pemimpin, atasan atau petinggi masyarakat, bangsa dan Negara. Kepada para tokoh politik, yang kiranya sudah mulai berkampanye untuk pemilu 2009, hendaknya juga tidak berjanji yang muluk-muluk kepada rakyat, demikian pula para calon kepala daerah. Ingatlah dan sadarilah bahwa rakyat pada saat ini sudah luntur kepercayaannya pada para elite politik, yang begitu pandai berbicara namun tak pernah menghayati apa yang dibicarakan atau  dikatakan.

      ·   "Orang ini tidak patut mendapat hukuman mati, sebab ia telah berbicara kepada kita demi nama TUHAN, Allah kita.” (Yer 26:16), demikian kata para pemuka dan seluruh rakyat tentang Yeremia, setelah mereka mendengarkan kesaksian Yeremia “ketahuilah sungguh-sungguh, bahwa jika kamu membunuh aku, maka kamu mendatangkan darah orang yang tak bersalah atas kamu dan atas kota ini dan penduduknya, sebab TUHAN benar-benar mengutus aku kepadamu untuk menyampaikan segala perkataan ini kepadamu." Para pemuka rakyat yang baik dan rakyat pada umumnya lebih jujur, terbuka hati, jiwa dan akal budinya daripada para penguasa atau pemimpin. “Vox populi, vox Dei”= “Suara rakyat, suara Tuhan”, demikian kata pepatah bahasa Latin. Maka baiklah jika kita mengaku diri sebagai orang beriman, marilah kita dengarkan dengan rendah hati ‘suara rakyat’, dambaan, kerinduan dan harapan rakyat. “Gereja mendengarkan”, demikian seruan Sidang Umat Katolik tahun 2000, suatu ajakan agar para pemimpin Gereja mendengarkan dambaan, kerinduan dan harapan umat Allah. Menjadi pemimpin yang baik pada masa kini berarti menghayati kepemimpinan partisipatif, mendengarkan dan menanggapi dambaan,  kerinduan dan harapan yang dipimpin. Maka juga menghayati atau memfungsikan kepemimpinan dengan semangat melayani, sebagaimana juga dihayati oleh Yesus, yang datang untuk melayani bukan dilayani. Untuk itu pemimpin hendaknya sering ‘turba’, turun ke bawah untuk mendengarkan, menyapa mereka yang dipimpin. Jauhkan semangat atau mental dictator, yang gila akan kuasa, jabatan, pangkat, kedudukan atau kehormatan duniawi.

       

      “Aku ini tertindas dan kesakitan, keselamatan dari pada-Mu, ya Allah, kiranya melindungi aku! Aku akan memuji-muji nama Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah; kamu yang mencari Allah, biarlah hatimu hidup kembali! Sebab TUHAN mendengarkan orang-orang miskin, dan tidak memandang hina orang-orang-Nya dalam tahanan” (Mzm 69:30-31.33-34)

       

       Jakarta, 2 Agustus 2008


    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.