Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Seri 063

Expand Messages
  • H. M. Nur Abdurrahman
    Syari at Islam yang bermuatan: aqidah (pokok keimanan), jalannya hukum dan akhlaq, meliputi cakrawala yang luas, yaitu petunjuk untuk mengatur baik kehidupan
    Message 1 of 1 , May 31, 2008
      Syari'at Islam yang bermuatan: aqidah (pokok keimanan), jalannya hukum dan akhlaq, meliputi cakrawala yang luas, yaitu petunjuk untuk mengatur baik kehidupan nafsi-nafsi (individu), maupun  kehidupan kolektif dengan substansi yang  bervariasi seperti  keimanan,  ibadah ritual (spiritualisme),  karakter  perorangan,  akhlaq individu dan kolektif, kebiasaan manusiawi, ibadah non-ritual seperti: hubungan keluarga, kehidupan sosial politik ekonomi, administrasi, teknologi serta pengelolaan lingkungan, hak dan kewajiban warga-negara, dan terakhir yang tak kurang pentingnya yaitu sistem hukum yang teridiri atas komponen-komponen: substansi aturan-aturan perdata-pidana, damai-perang, nasional-internasional, pranata subsistem peradilan dan apresiasi hukum  serta rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat yang berakhlaq.
       
      Semua substansi yang disebutkan itu bahasannya ada dalam Serial Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu. 
       
      one liner  1/6-2008
      insya-Allah akan diposting hingga no.800
      no.terakhir 830 
       
      ********************************************************************
       
      BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
       
      WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
      [Kolom Tetap Harian Fajar]
      063. Shalat, Kepemimpinan dan Kepengikutan
       
      Saya teringat sebuah peristiwa bertahun-tahun yang silam. Kejadiannya dalam bulan Rajab. Allahu yarham H.AbdulGhani, imam tetap Masjid Syura waktu itu sedang mengimami shalat Maghrib. Sementara membaca pangumpu' beliau diserang batuk. Beliau lalu meningkir ke samping, lalu Drs Sulthan BM, yang sekarang menjadi salah seorang imam tetap Masjid Syura maju ke depan melanjutkan mengimami shalat Maghrib, bacaan pangumpu' disambung dan gerak shalat diteruskan.
       
      Sekarang ini sudah masuk lagi bulan Rajab, itulah sebabnya saya teringat akan peristiwa pergantian keimaman dalam shalat Maghrib di Masjid Syura tersebut. Bahkan dalam bulan Rajab ada suatu peristiwa yang sangat penting yang selalu diperingati oleh ummat Islam sedunia, peristiwa Isra' dan Mi'raj. Tulisan ini akan membicarakan secuil dari sekian banyak segi dalam meresapi makna Isra' dan Mi'raj itu. Akan dibatasi hanya dalam hal hasil yang dibawa pulang oleh RasululLah SAW dari Mi'raj beliau, yaitu shalat.  Itupun  hanya menyangkut dengan apa yang tertera dalam judul di atas, Kepemimpinan dan Kepengikutan.
       
      Shalat adalah bahasa Al Quran, biasanya diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan sembahyang, ataupun misalnya to pray, bidden dalam bahasa Inggeris dan Belanda. Terjemahan-terjemahan itu tidaklah mencakup makna yang sebenarnya. To pray dan bidden adalah berdoa, dan berdoa itu hanya merupakan bagian dari shalat. Adapun terjemahan dengan sembahyang juga tidak kena. Bukan karena semata-semata yang itu dari hyang maka terjemahan itu tidak kena, melainkan lebih dari itu. Shalat esensinya bukan menyembah, melainkan berzikir, mengingat, jadi juga bukan mengheningkan cipta. Maka sebaiknya shalat itu tidak usah diterjemahkan. Dalam bahasa daerah Sunda tidak diterjemahkan, tetap shalat.
       
      Ajaran Islam tentang kepemimpinan dan kepengikutan dapat kita simak dari shalat. Kepemimpinan dan kepengikutan tidak boleh lepas dari kodrat manusia sebagai makhluk pribadi dan sosial. Perhatikanlah misalnya dalam shalat maghrib di mesjid. Setelah selesai shalat Maghrib berjama'ah, bersama-sama shalat diimami oleh imam, lalu masing-masing melanjutkan shalat sunnat. Kalau tadi pada waktu shalat berjama'ah menggambarkan suatu jama'ah, komunitas, maka pada waktu shalat sunnat menggambarkan suatu hal yang menunjukkan perorangan. Artinya shalat berjama'ah diikuti oleh shalat sunnat masing-masing menggambarkan makhluk sosial dan makhluk pribadi.
       
      Seorang imam yang merasa tidak sanggup lagi memimpin shalat, dia minggir, seperti yang dilakukan oleh Allahu yarham H.AbdulGhani. Dalam konstruksi mesjid, pada bahagian mihrab harus ada pintu. Maksudnya pintu itu antara lain khusus disediakan bagi imam untuk keluar masjid pergi beristirahat, dan kalau masih sanggup shalat akan menjadi makmun, anggota jama'ah. Inilah ajaran etika dalam kepemimpinan dalam Islam, kalau sudah merasa tidak sanggup lagi, akan dengan ikhlas akan minggir. Ketidak sanggupan itu ada yang nampak, namun ada yang tidak nampak. Semisal diserang batuk, itu adalah ketidak sanggupan yang kelihatan. Kalau mengeluarkan angin, wudhuk akan batal, shalatpun akan batal. Dan ini adalah ketidak bolehan memimpin shalat yang penyebabnya tidak dapat dipantau oleh makmun. Jadi etika kepemimpian menurut Islam seorang pemimpin akan dengan ikhlas menyingkir kalau sudah tidak sanggup atau tidak pantas lagi menjadi pemimpin, apakah ketidak sanggupan atau ketidak pantasan itu dapat dipantau atau tidak oleh para pengikutnya.
       
      Seorang imam yang melakukan kesalahan, salah bacaannya atau salah gerakannya wajib ditegur oleh makmun. Kalau yang menegur itu laki-laki ucapan teguran itu adalah kalimah subhanalLah, untuk gerakan yang salah, dan membacakan bacaan yang benar untuk
      membenarkan bacaan imam. Dan kalau yang menegur itu perempuan cukup dengan isyarat menepuk punggung tangan. Dan imam harus tunduk pada teguran, memperbaiki bacaannya atau memperbaiki gerakannya. Adapun nilai yang dapat disimak tentang kepemimpinan dan kepengikutan adalah seorang pengikut wajib menegur pemimpinnya. Namun cara menegur adalah harus sopan, tidak boleh brutal. Teguran dengan kalimah subhanalLah bermakna bahwa Allah Maha Suci, hanya Allah yang luput dari kesalahan. Adapun manusia itu tidak akan sunyi dari kesalahan. Pemimpin harus dengan ikhlas dan berlapang dada menerima teguran, karena teguran itu adalah untuk memperbaiki, bukan untuk menjatuhkan.
       
      Seorang makmun tidak boleh mendahului imam. Sebelum komando Allahu Akbar dikomandokan imam, makmun tidak boleh bergerak. Ini adalah ajaran kepengikutan menurut Islam, ketaatan pengikut kepada pemimpinnya.
       
      Demikianlah nilai-nilai yang dapat disimak dari shalat tentang hal kepemimpinan dan kepengikutan, khususnya etika kepemimpian dan etika kepengikutan dalam hal membina komuniksi yang baik dan terbuka antara pemimpin dengan pengikut. WaLlahu a'lamu bishshawab.
       
      *** Makassar, 10 Januari 1993
            [H. Muh.Nur Abdurrahman]
       

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.